Ketik Materi yang anda cari !!

KENAIKAN HARGA

Posted by Kajian On Line Hamba اللَّهِ SWT on Tuesday, January 10, 2017

Kajian Online WA  Hamba الله SWT

Selasa, 10 Januari 2017
Rekapan Grup Bunda G5
Narasumber : Ustadzah Lulu
Tema : Kajian Umum
Editor : Rini Ismayanti



Dzat yang dengan Kebesaran-Nya, seluruh makhluk menyanjung dan mengagungkan-Nya...
Dzat yang dengan Keperkasaan-Nya, musuh-musuh dihinakan lagi diadzab-Nya...
Dzat yang dengan Kasih dan Sayang-Nya, kita semua mampu mengecap manisnya Islam dan indahnya ukhuwah di jalan-Nya, memadukan hati kita dalam kecintaan kepadaNya, yang mempertemukan kita dalam keta'atan kepadaNya, dan menghimpunkan kita untuk mengokohkan janji setia dalam membela agamaNya.

AlhamduliLlah... tsumma AlhamduliLlah...

Shalawat dan salam semoga tercurah kepada tauladan kita, Muhammad SAW. Yang memberi arah kepada para generasi penerus yang Rabbaniyyah bagaimana membangkitkan ummat yang telah mati, memepersatukan bangsa-bangsa yang tercerai berai, membimbing manusia yang tenggelam dlm lautan syahwat, membangun generasi yang tertidur lelap dan menuntun manusia yang berada dalam kegelapan menuju kejayaan, kemuliaan, dan kebahagiaan.

Amma ba'd...
Ukhti fillah sekalian. Agar ilmunya barokah, maka alangkah indahnya kita awali dengan lafadz Basmallah

Bismillahirrahmanirrahim...                       

KENAIKAN HARGA

Harga-harga naik. Para sahabat gelisah. Di antara mereka ada yang mendatangi Nabi –shallallahu `alaihi wa sallama- dan mengadu:

يا رسول الله سعّر! فقال: (بل ادعو الله) ثم جاء آخر، فقال: يا رسول الله سعّر! فقال: بل الله يخفض ويرفع، وإنّي لأرجو أن ألقى الله وليس لأحد عندي مظلمة.

“Ya Rasulallah, tetapkanlah harga! Nabi menjawab, “Berdoalah”. Sahabat lain datang dan memohon, “Ya Rasulallah, tetapkanlah harga!” Nabi pun menjawab, “Allah yang menurunkan dan menaikkan harga. Sungguh saya berharap kelak bila menghadap Allah, tidak ada kedhaliman yang aku lakukan pada seorangpun.” (Sunan Abi Daud)

Bagi para sahabat, Rasulullah adalah pemimpin. Mereka paham bahwa Rasulullah itu rujukan dalam urusan duniawi-ukhrawi. Sehingga persoalan harga pun mereka mengadu kepada Rasulullah.
Hadits di atas oleh ulama tidak dipahami secara tekstual. Mereka melihat konteks, mengapa Rasulullah menolak menetapkan harga? Bukan berarti pasar bukan urusan Nabi, sebab dijumpai riwayat-riwayat lain yang menyebuntukan bahwa Rasulullah mendirikan dan mengawasi jalannya pasar.

Ibnu Taimiyah –rahimahullah- dalam Al Hisbah dan Ibnu Al Qayyim –rahimahullah- dalam Al Thuruq al Hukmiyah- berpendapat bahwa penolakan Nabi dalam menetapkan harga bukan sebagai kaidah umum. Tetapi keputusan yang bersifat kondisional. Rasulullah menolak karena pasar berjalan normal. Tidak ada kedhaliman atau kecurangan. Harga tinggi secara natural yang disebabkan oleh penawaran dan permintaan yang tidak seimbang (natural inflation).

Bagi Nabi, solusi yang tepat menghadapi kondisi seperti ini bukan dengan mematok harga, tapi dengan melakukan operasi pasar, menambah pasokan barang yang dibutuhkan masyarakat, guna menyeimbangkan antara permintaan dan penawaran.

Akan tetapi, bila terjadi pelanggaran dan kedhaliman hingga berakibat kelangkaan komoditas di pasar yang berujung kenaikan harga (human error inflation), maka kata Ibnu Taimiyah, pemimpin harus hadir menetapkan harga dan menghukum pihak-pihak yang melakukan kedhaliman pasar.

Baik kondisi natural inflation maupun human error inflation pemerintah harus hadir, dengan kebijakan dan langkah yang sesuai. Dan secara umum, bila harga meningkat, maka di antara yang dilakukan adalah:

a.     Mencegah ihtikar, yaitu praktik menimbun barang yang bertujuan menaikkan harga sebagai akibat kelangkaan.
b.     Menghindari pajak tinggi, biaya layanan masyarakat yang tinggi, dan pungli, karena pengusaha akan mengalihkan biaya-biaya itu  pada harga.
c.      Mendorong al jalb, mendatangkan barang, agar tercipta keseimbangan penawaran dan permintaan dengan memerhatikan potensi produksi lokal.
d.      Mencegah perilaku curang, seperti manipulasi kualitas, kuantitas dan harga, minimnya informasi harga, propaganda yang menipu, yang berakibat naiknya harga.
e.     Membangun budaya ‘belanja sehat’: tidak israf, memerhatikan prioritas, menghindari konsumerisme.
f.        Pengawasan pasar secara efektif
g.     Menyediakan kebutuhan yang menguasai hajat hidup orang banyak.
h.     Mendorong lembaga-lembaga sosial dan filantropi turut mengembangkan ekonomi masyarakat.

Wallahu a`lam bisshawab

Rekap pertanyaan

Q : Ustadzh , bagaimana dengan spekulan yang menyebabkan harga-harga naik. Mereka menahan barang, setelah naik baru di keluarkan. Adakah di jaman rasulullah spekulan semacam itu ? dan adakah hukumnya ?
A : Di jaman Rasulullah saw pernah ada spekulan seperti itu. Dan rasulullah saw pada saat itu langsung menegur. Pada hakikatnya rasulullah saw seperti yang sudah saya paparkan di atas sangat concern terhadap kondisi umat termasuk kondisi ekonomi global. Bahkan tidak diperbolehkan kita kenyang sementara tetangga kanan kiri dalam kondisi lapar. Sebagaimana juga dilarang menumpuk barang dengan tujuan memperoleh keuntungan yang berlipat tanpa memperhatikan kondisi umat.

Wallahu a'lam bish shawab

Q : Jika kita belanja, melihat banyak diskonan di Giant misalnya, terus kita beli untuk stok padahal di rumah persediaan masih ada. Apa itu termasuk berlebihan? Terimakasih
A : Stok untuk apa ? Kalau untuk kebutuhan pribadi, tentunya stoknya juga ga terlalu banyak ya ... seperlunya saja. Kalau untuk dijual kembali, dengan harapan pas kondisi kosong harga bisa amat sangat tinggi, itu namanya spekulasi.

Q : Ustadzah.. bagaimana hukumnya para tengkulak yang dengan sengaja membeli harga dari petani dengan harga rendah.. di jual kembali dipasaran dengann harga yang tinggi.. bahkan dengan sengaja di timbun supaya laba nya dapat banyak..
A : Sama ya bu ... hukumnya spekulasi.
Ibu2 yang dirahmati Allah swt, Allah swt menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Akan tetapi jual beli tersebut juga ada syaratnya :
1. Penjual dan pembeli sama-sama mukallaf
2. Barang yang diperjualbelikan nyata
3. Tdk ada unsur riba
4. Tdk unsur penipuan
5. Tdk ada unsur untung-untungan (spekulasi)
6. Penjual dan pembeli sama-sama ridlo
Wallahu a'lam bish shawab

Q : Ustadzah...berapa persen boleh kita mengambil keuntungan dari suatu barang yang kita jual?
A : Tidak ada nash yang qath'i tentang besaran keuntungan yang bisa ditetapkan. Sepanjang penjual dan pembeli sama-sama ridlo ya silahkan saja. Wallahu a'lam bish shawab

Q : Klo kita jual barang kita kasih harga cash sama nyicil beda klo cash  murah klo nyicil lebih mahal itu bagaimana hukumnya?
A : Sepanjang ada keridloan antar keduanya dan selisih antara cicil dan cash bukan dimaksud riba, in shaa Allah gpp. Walaupun ada sebagian ulama yang mengharamkan, karena menurut ulama ini harusnya antara cicil dan cash itu tidak boleh ada beda harga, khawatir jatuh ke riba. Dan juga khawatir terjebak pada konsep time value of money yang melibatkan unsur bunga. Tapi hukum ekonomi syariah kontemporer mensyariatkan demikian. Tdk ada unsur riba dan dua-duanya ridlo.

Q : Kalau jualan online gmna ustadzah? Barangnya kan juga gak nyata
A : Tapi kan ada gambarnya ya bu, bisa juga dengan video. In shaa Allah kecanggihan teknologi memunkinkan kita untuk mengetahui bagaimana kondisi barang. Yang jelas baik penjual dan pembeli ga boleh ada niat tipu

Wallahu a'lam bish shawab

Q :  Tanya lagi ustdzh klo kita kreditin barang tapi yang mo kredit ambil uangnya (dia mo beli sendri ) bukan barang itu gimana ustdzh dibolehkan gak ?
A : Ini ada unsur berupaya mengelabui sistem. Seperti orang mau ambil kredit di bank, lalu oleh pihak bank 'dibantu'dengan mengakui sesuatu yang sebenarnya ga ada .... jatuhnya tipu-tipu. Saya pernah mendapati kasus macam ini. Bu, ini barangnya yaa sudah saya serahkan ke ibu, ibu tinggal cicil. Yang terima barang bilang, ya bu, saya jual kembali ke ibu .... hati-hati, jatuhnya ke riba  mengelabui sistem. Kenapa ga sekalian saja pinjam uang gitu .... dan bagi yang meminjami uang mendapat pahala karena meringankan beban saudaranya dengan membantu kesulitannya ...

Wallahu a'lam bish shawab

Alhamdulillah, kajian kita hari ini berjalan dengan lancar. Semoga ilmu yang kita dapatkan berkah dan bermanfaat. Aamiin....

Segala yang benar dari Allah semata, mohon maaf atas segala kekurangan. Baiklah langsung saja kita tutup dengan istighfar masing-masing sebanyak-banyakanya dan do'a kafaratul majelis:


سبحانك اللهم وبحمدك أشهد ان لا إله إلا أنت أستغفرك وآتوب إليك

Subhanakallahumma wabihamdika asyhadu allaailaaha illa anta astaghfiruka wa atuubu ilaika

“Maha Suci Engkau ya Allah, dengan memuji-Mu aku bersaksi bahwa tiada sesembahan yang haq disembah melainkan diri-Mu, aku memohon pengampunan-Mu dan bertaubat kepada-Mu.”


Thanks for reading & sharing Kajian On Line Hamba اللَّهِ SWT

Previous
« Prev Post

0 comments:

Post a Comment