Tujuan utama dari pelaksanaan Grup ini, semata-mata hanya untuk mencari Ridho اللّهُ SWT. Terus semangat belajar dan berbagi ilmu sampai ke liang lahat demi menjadi Hamba Allah SWT yang Kaffah

MENANAMKAN TAUHID PADA ANAK

Image result for image tauhid ke anak 
Kajian Online Hamba Allah Ummi G-2
Senin 9 Januari 2017
Materi : menanamkan tauhid pada anak
Narasumber : Ustadzah Lillah
Editor : Sapta
➖➖➖➖➖➖➖➖➖

Muqadimah
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته...

بسم الله الرحمن الرحيم
الحمد لله الذي أرسل رسوله بالهدى ودين الحق ليظهره على الدين كله ولو كره المشركون
أشهد أن لا اله الا الله وحده لا شريك له وأشهد أن محمدا عبده ورسوله. أما بعد

Lantunan syukur mari kita ucapkan kepada Allah Azza wa Jalla...
Dzat yang dengan Kebesaran-Nya, seluruh makhluk menyanjung dan mengagungkan-Nya...
Dzat yang dengan Keperkasaan-Nya, musuh-musuh dihinakan lagi diadzab-Nya...
Dzat yang dengan Kasih dan Sayang-Nya, kita semua mampu mengecap manisnya Islam dan indahnya ukhuwah di jalan-Nya, memadukan hati kita dalam kecintaan kepadaNya, yang mempertemukan kita dalam keta'atan kepadaNya, dan menghimpunkan kita untuk mengokohkan janji setia dalam membela agamaNya.

AlhamduliLlah... tsumma AlhamduliLlah...

Shalawat dan salam semoga tercurah kepada tauladan kita, Muhammad SAW. Yang memberi arah kepada para generasi penerus yang Rabbaniyyah bagaimana membangkitkan ummat yang telah mati, memepersatukan bangsa2 yang tercerai berai, membimbing manusia yg tenggelam dlm lautan syahwat, membangun generasi yg tertidur lelap dan menuntun manusia yang berada dalam kegelapan menuju kejayaan, kemuliaan, dan kebahagiaan.

Amma ba'd...
Ukhti fillah sekalian. Telah hadir ditengah2 kita Ustadz Herman yg akan berbagi ilmu pada kita semua. Sebelum itu alangkah indahnya jika kita awali dgn lafadz Basmallah

Bismillahirrahmanirrahim

Kepada Ustadzah Lillah waktu dan tempat kami persilahkan

السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهْ وَنَسْتَهْدِيْهِ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ الله وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنِ اهْتَدَى بِهُدَاهُ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ. أَمَّا بَعْدُ؛


Segala puji bagi Allah, kita memuji-Nya dan meminta pertolongan, pengampunan, dan petunjuk-Nya. Kita berlindung kepada Allah dari kejahatan diri kita dan keburukan amal kita. Barang siapa mendapat dari petunjuk Allah maka tidak akan ada yang menyesatkannya, dan barang siapa yang sesat maka tidak ada pemberi petunjuknya baginya. Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan bahwa Muhammad adalah hamba dan Rasul-Nya. Ya Allah, semoga doa dan keselamatan tercurah pada Muhammad dan keluarganya, dan sahabat dan siapa saja yang mendapat petunjuk hingga hari kiamat

Mudah-mudahan kita semua senantiasa dlm lindungan Allah SWT dan berkelimpahan nikmatNya
Aamiin

Berbicara soal aqidah, maka kita dihadapkan pada sejarah luar biasa dimana Rasulullah menggembleng aqidah para sahabat selama 13 tahun tanpa kenal lelah.

Aqidah yang merupakan pondasi ummat Islam, yang tetap dan tak boleh berubah hingga kapan pun.

Yang atas dasarnya semua umat Islam bersikap

Dalam masalah pendidikan, Islam meletakkan pendidikan akidah di atas segala-galanya. Dan, itulah yang Allah tekankan dengan menggambarkan betapa getolnya Nabi Ya’kub dalam masalah ini. Sampai ketika anak-anaknya pun dewasa, pertanyaan beliau adalah masalah akidah.

أَمْ كُنتُمْ شُهَدَاء إِذْ حَضَرَ يَعْقُوبَ الْمَوْتُ إِذْ قَالَ لِبَنِيهِ مَا تَعْبُدُونَ مِن بَعْدِي

“Adakah kamu hadir ketika Ya’qub kedatangan (tanda-tanda) maut, ketika ia berkata kepada anak-anaknya: “Apa yang kamu sembah sepeninggalku?” (QS. Al-Baqarah [2]: 133).

Dalam tafsirnya, Ibn Katsir menjelaskan bahwa kewajiban orangtua adalah memberi wasiat kepada anak-anaknya untuk senantiasa beribadah kepada Allah semata.

Hal ini memberikan petunjuk penting bahwa kewajiban utama orangtua terhadap anak-anaknya adalah tertanamnya akidah dalam sanubarinya, sehingga tidak ada yang disembah melainkan Allah Ta’ala semata.

Lantas, bagaimana cara kita menanamkan pendidikan akidah pada anak di zaman seperti sekarang ini?

Pertama, dekatkan mereka dengan kisah-kisah atau cerita yang mengesakan Allah Ta’ala.

Terkait hal ini para orangtua sebenarnya tidak perlu bingung atau kehabisan bahan dalam mengulas masalah cerita atau kisah. Karena, Al-Qur’an sendiri memiliki banyak kisah inspiratif yang semuanya menanamkan nilai ketauhidan.

Akan tetapi, hal ini tergantung pada sejauh mana kita sebagai orangtua memahami kisah atau cerita yang ada di dalam Al-Qur’an. Jika kita sebagai orangtua ternyata tidak memahami, maka meningkatkan intensitas atau frekuensi membaca Al-Qur’an sembari memahami maknanya menjadi kebutuhan yang tidak bisa ditunda.

Kalaupun dengan cara membaca ternyata masih belum bisa. Kita bisa menyiasatinya dengan membeli buku-buku kisah dalam Al-Qur’an. Jadi, orangtua jangan pernah membelikan anak-anaknya buku cerita, novel atau kisah apapun yang tidak mengandung nilai akidah. Lebih-lebih yang mengandung unsur mitos dan pluralisme-liberalisme.

Mengapa demikian? Orangtua mesti sadar bahwa anak-anak kita saat ini adalah target dari upaya sekulerisme peradaban Barat. Untuk itu, sejak dini, anak-anak kita sudah harus memiliki kekuatan akidah sesuai dengan daya nalar dan psikologis mereka.

Oleh karena itu, tahapan dalam menguatkan akidah anak harus benar-benar kita utamakan. KH. Zainuddin MZ berpesan dalam salah satu pencerahannya, “Didik mereka dengan jiwa tauhid yang mengkristal di dalam batinnya, meresap sampai ke tulang sumsumnya, yang tidak akan sampaipun nyawa berpisah dari badannya, akidah itu tidak akan terpisah dari hatinya. Bahkan dia sanggup dengan tegar berkata, ‘Lebih baik saya melarat karena mempertahankan iman dari pada hidup mewah dengan menjual akidah.”

Kedua, ajak anak mengaktualisasikan akidah dalam kehidupan sehari-hari.

Setelah langkah di atas, selanjutnya tugas kita sebagai orangtua adalah mengajak mereka untuk mengaktualisasikan akidah dalam kehidupan sehari-hari.

Apabila anak kita belum baligh, maka aktualisasi akidah ini bisa dilakukan dengan mengajak anak ikut mendirikan sholat. Sesekali kita kenalkan dengan masjid, majelis taklim, dan sebisa mungkin ajak mereka untuk senantiasa mendengar bacaan Al-Qur’an dari lisan kedua orangtuanya.

Apakah tidak boleh dengan murottal melalui alat elektronik? Jika tujuan kita adalah mengajak, maka keteladanan jauh lebih efektif.

Adapun kala anak kita sudah baligh maka orangtua harus tegas dalam masalah akidah ini. Jika anak sudah berusia 10 tahun dan enggan mendirikan sholat, maka memberi hukuman dengan memukul sekalipun, itu dibolehkan.

Apabila anak kita perempuan, maka mewajibkan mereka berjilbab menjadi satu keniscayaan. Dan, itu adalah bagian dari aktualiasi akidah.

Dengan demikian, sejatinya tugas orangtua dalam masalah akidah ini benar-benar tidak mudah. Sebab selain mengajak, orangtua juga harus senantiasa melakukan kontrol akidah anak-anaknya. Terlebih pengaruh budaya saat ini, seringkali menggelincirkan kaum remaja pada praktik kehidupan yang mendangkalkan akidah.

Ketiga, mendorong anak-anak untuk serius dalam menuntut ilmu dengan berguru pada orang yang kita anggap bisa membantu membentuk frame berpikir islami pada anak.

Orangtua tidak boleh merasa cukup dengan hanya menyekolahkan anak. Sebab akidah ini tidak bisa diwakilkan kepada sekolah atau universitas. Untuk itu, orangtua mesti memiliki kesungguhan luar biasa dalam hal ini.

Dengan cara apa? Di antaranya adalah dengan mencarikan guru yang bisa menyelamatkan dan menguatkan akidah mereka.

Dorong anak-anak kita untuk bersilaturrahim, berkunjung ke pengasuh pesantren agar belajar, diskusi atau sharing masalah akidah. Dorong mereka untuk mendatangi majelis-majelis ilmu yang diisi oleh guru, ustadz, ulama atau pun figur publik Muslim yang terbukti sangat baik dalam menguatkan akidah anak.

Mengapa kita sebagai orangtua merasa ringan mengeluarkan biaya untuk kursus ini, kursus itu, sementara untuk akidah yang super penting, bahkan untuk masalah surga dan neraka kita sendiri, kita sebagai orangtua justru tidak mempedulikannya.

TANYA JAWAB

T : Ustadzah, anak-anak saya yang usia sekolah usia 6 dan 7 tahun, ketika tontonan anak-anak saat ini jauh dari nilai islami. Tokoh-tokoh kartun yang seakan manusia super yang jauh dari logika bisa diterima. Bagaimana seharusnya kita mendampingi anak, kalau tidak di izinkan nonton tv, anak-anak malah izin bermain ke rumah teman yang disana malah nonton tv. Kita sadari tontonan-tontonan itu menjauhkan anak dari aqidah yang benar.
J : Ya betul, upayakan tetap disampaikan baik-baik kepada anak-anak bahwa tokoh kartun itu hanya ciptaan manusia. Ciptaan Allah, jauh lebih hebat dan super. Sebisa mungkin dikurangi jam menonton, jika pun blm bisa memberhentikan sama sekali.

T : Afwan ustadzah, saya punya anak umur 7 tahun, kalau diajak mengaji dan sholat itu masih ada kendala, meski tidak banyak. Apakah umuran segitu harus sudah digembleng untuk wajib sholat 5 waktu, atau diajarin untuk bisa dulu? Syukron wa jazakillahu khoir atas jawabannya.
J : Sudah mulai diajarkan tata cara sholat dan pembiasaan lima waktu. Namun jika masih meninggalkan belum ada konsekuensi. Lakukan dengan cara mengajak, tauladan dilakukan bersama-sama.

T : Afwan ustadzah, bagaimana hukumnya mengganti akta kelahiran anak dengan mengubah nama orangtuanya, apakah itu termasuk yang memutus nasab anak? Bagaimana solusinya agar anak tersebut bisa masuk dalam kartu keluarga kita. Syukran jazakillah khairan katsiro u jawabannya
J : Lewat pengadilan dengan pengajuan adopsi. Nanti akan dihadirkan orangtua asli dan saksi. Akta kelahiran tetap atas nama orangtua asli, tapi dibuatkan lampiran bahwa secara hukum, anak tersebut adalah anak pengadopsi.

T : Afwan ustadzah, orangtua asli sudah tidak diketahui kabarnya, saat penyerahan mereka menyertakan akta kelahiran dan surat pernyataan bermaterai tentang penyerahan anak saja
J : Coba tanya ke pengadilan baiknya bagaimana, karena untuk masuk kartu keluarga bisa saja, dianggap kerabat

T : Ustadzah, anak  laki laki saya yang kedua, umur 8 tahun, kalo shalat bareng saya di rumah suka pingin jadi imam, saya bilang iya saja supaya dia senang, tapi pas shalatnya saya niatnya ga makmum tapi munfarid saja, sebaiknya bagaimana ya ?
J : Tidak apa-apa Bu, hargai keinginannya. Karena madzhab Syafii berpendapat, anak mumayiz boleh menjadi imam bagi orang baligh, baik dalam shalat wajib maupun shalat sunah. Terutama ketika anak mumayiz ini lebih banyak hafalan Al-Qurannya, dan lebih bagus gerakan shalatnya dibandingkan jamaahnya yang sudah baligh.
Anak yang telah mencapai usia tamyiz disebut mumayiz. Diantara ciri anak yang mumayyiz : dia bisa membedakan antara yang baik dan yang tidak baik, dia sudah merasa malu ketika tidak menutup aurat, dia mengerti shalat harus serius, dst. yang menunjukkan fungsi akalnya normal.
Umumnya, seorang anak menjadi mumayiz ketika berusia 7 tahun.

T : Maksud saya, anak saya usia 7 tahun, anak laki-laki kan beda dengan anak perempuan, jadi kalau ke mesjid ngaji cuma sebentar, saya simpan pelajaran-pelajaran agama dalam Tablet (hpnya dia). Jadi kalau dia main game mau belajar, surat-surat pendek dan doa-doa gitu ustadzah. Apakah salah upaya kita supaya anak mau belajar di samping main game? Itu ustadzah.afwan y
J ; Saya pribadi tidak menganjurkan anak sebelum usia 17 tahun sudah punya gadget sendiri. Walau bagaimana pun memberikan gadget kepada anak, sama dengan memberinya pisau. Yang bisa jadi bermanfaat tapi juga merusak. Secara kesehatan, anak-anak yang memakai gadget sejak dini menjadi anak-anak yang matanya malas, geraknya malas.
Dan secara psikologis mereka tumbuh menjadi anak yang tidak peduli sekitar. Belajar agama lebih baik kita yang mengalami lansung bunda. Ini hanya saran saya.

T : Ustadzah bagaimana dengan perayaan tahun baru Masehi yang sering dilakukan masyarakat sekarang, apakah salah jika kita tanamkan dengan anak untuk tidak meniru agama lain dalam hal perayaan seperti meniup terompet, membakar kembang api dan lain-lain, karena kalau kita meniru agama lain kita termasuk ke dalam golongan mereka, termasuk juga perayaan Ulang Tahun dan lain-lain. Itu bagaimana ustadzah?
J : Kenapa salah? Malah benar itu


Kita akhiri majlis hari ini dengan membaca :  

ucap syukur : الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِين
dan istighfar أَسْتَغفِرُ اَللّهَ الْعَظيِمْ
serta
Doa Kafaratul majelis

سبحانك اللهم وبحمدك أشهد ان لا إله إلا أنت أستغفرك وآتوب إليك َ
Subhanakallahumma wabihamdika asyhadu allaailaaha illa anta astaghfiruka wa atuubu ilaika

“Maha Suci Engkau ya Allah, dengan memuji-Mu aku bersaksi bahwa tiada sesembahan yang haq disembah melainkan diri-Mu, aku memohon pengampunan-Mu dan bertaubat kepada-Mu.”

[In Syaaa ALlaah]  إِنْ شَاءَ الله  
kebersamaan malam ini bermanfaat dan barokah.

أٰمِيْنَ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْن
[aamiin yaa Rabbal 'aalamiiiin]


و‌َالسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ