Tujuan utama dari pelaksanaan Grup ini, semata-mata hanya untuk mencari Ridho اللّهُ SWT. Terus semangat belajar dan berbagi ilmu sampai ke liang lahat demi menjadi Hamba Allah SWT yang Kaffah

Menggapai Barokah di Rumah Tangga


Image result for image rumah tangga sakinah

KAJIAN UMMI HAMBA ALLAH G-3
Selasa, 10 Januari 2017
Narsum : Ustadzah Kharis
Tema : Menggapai Barokah di Rumah Tangga
Editor : Sapta
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Menggapai Barokah di Rumah Tangga

Bunda bunda Sholihah, malam ini kita akan bersama mengingat kembali pernikahan kita. Sudahkah penuh dengan barokah, sesuai dengan doa doa yang terpanjang ketika kita menikah?
Barokallohu laka wa barokah alaika wa jama'a bainakuma fie Khoirin.

Awal kita menikah, doa yang di panjatkan adalah agar pernikahan kita berkah dan agar kita di kumpulkan dalam keberkahan dan kebaikan. Namun kenyataannya banyak fenomena yang menunjukkan tidak adanya keberkahan hidup berumah tangga setelah menikah, baik di kalangan masyarakat umum maupun du'at.
Wujudnya adalah dari banyak sisi yang bersifat materi maupun yang tidak materi. Munculnya konflik sehingga tidak harmonis. Dari waktu ke waktu. Dampaknya sampai ke anak anak yang akhirnya menjadi korban broken home. Salah pergaulan, yang akhirnya mendatangkan ketidak berkahan.
Jika sudah begitu apa yang harus kita lakukan? Kita lakukan muhasabah terhadap diri diri kita. Apakah kita konsisten memegang teguh rambu rambu agar mendapatkan keberkahan?

Rambu rambu agar mendapatkan keberkahan dalam meniti hidup berumah tangga

  1. Meluruskan niat/motivasi
Motivasi menikah merupakan salah satu tanda kebersihan Allah sebagaimana di ungkap dalam Alqur'an (Qs. ArRum:21) sehingga bernilai sakral dan signifikan. Nikah merupakan sunah rasul, maka selayaknya proses menuju pernikahan, tata cara pernikahan dan bahkan kehidupan pasca pernikahan harus mencontoh Rasulullah

  1. Sikap saling terbuka
Secara fisik suami istri telah dihalalkan oleh Allah untuk saling terbuka saat jima' (bersenggama), maka hakekatnya keterbukaan itupun harus di wujudkan dalam interaksi kejiwaan, pemikiran, dan sikap serta tingkah laku, sehingga masing-masing dapat secara utuh mengenal hakekat kepribadian suami istri dan dapat memupuk sikap saling tsiqoh diantara keduanya.

  1. Komunikasi (musyawarah)
Tersumbatnya saluran komunikasi antara suami istri akan menjadi awal kehidupan rumah tangga yang tidak harmonis.komunikasi sangat penting untuk meningkatkan jalinan cinta kasih dan juga menghindari salah faham.
Bagaimana caranya?
💓Dengan memberikan perhatian
💓 Kesediaan untuk mendengar
💓memberikan respon

  1. Sabar dan syukur
Semua yang di berikan Alloh adalah paket yang harus di syukuri dengan kelebihan dan kekurangannya, dari suami maupun anak.
Ada ungkapan bijak :
" Pernikahan adalah fakultas kesabaran dari universitas kehidupan....Mereka yang lulus dari fakultas kesabaran akan meraih banyak keberkahan...

Bunda Sholihah, itu rambu-rambu yang harus kita lakukan, Insyaallah akan membawa keberkahan hidup kita.
Wallahu a'lam bishowwab.

➰➰➰➰➰➰➰➰➰

TANYA JAWAB

T : Bagaimana kalau dalam pernikahan terdapat perbedaan dalam menjalankan agama, misalnya masalah shalat kalau suami malas menjalankan shalat, meski sudah diingatkan, berdosakah jika istri berpikir untuk berpisah dari  suami?

J : Justru ini ladang dakwah dan ujian kesabaran bagi istrinya. Kita memohon kepada Allah agar menakdirkan kebaikan bagimu, memantapkan langkah-langkahmu, dan memberikan ilham kepada kita semua kepada petunjuk dan melindungi kita dari keburukan jiwa-jiwa kita dan dari kejelekan amAl-amal kita. Selamat datang di majalah kita ini, kami sangat bergembira dengan perhatianmu terhadap suami. Ini adalah termasuk akhlakmu yang baik dan harta simpananmu yang berharga.

Tidak diragukan lagi bahwa hidup bersama dengan seorang suami yang tidak shalat adalah sebuah petaka damn kemungkaran yang tidak diperbolehkan secara syari, apalagi anda telah bersabar selama ini dalam masa yang panjang. Shalat memang perkara berat kecuali bagi orang-orang yang khusyuk. Shalat adalah hubungan langsung antara seorang hamba dengan Rabb-nya. Shalat adalah amal yang pertama kali akan dihisab. Shalat adalah timbangan yang dengannya kita bisa mengetahui agama dan kebaikan seseorang. Barangsiapa menjaganya, maka dia memiliki cahaya, bukti dan keselamatan pada hari kiamat. Dan barangsiapa tidak menjaganya maka dia tidak memiliki cahaya, bukti dan keselamatan pada hari kiamat, dan akan dikumpulkan bersama Fir’aun, Haman, Qorun dan Ubay ibn Khalaf.

Shalat adalah sebuah kewajiban yang tidak akan gugur dari seorang manusia selagi dia bernafas dan punya ingatan, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda kepada ‘Imran ibn Husain radhiallahu ‘anhu:

صَلِّ قَائِمًا فَإِنْ لَمْ تَسْتَطِعْ فَقَاعِداً، فَإِنْ لَمْ تَسْتَطِعْ فَعَلىَ جَنْبٍ
“Shalatlah dalam keadaan berdiri, jika anda tidak mampu maka dengan duduk, jika tidak mampu maka dengan (berbaring) di atas lambung.” (Al-Bukhari, 1006)

Jika hal demikian diperuntukkan bagi si sakit, maka bagaimana pula dengan orang-orang yang sehat? Bagaimana pula dengan seorang laki-laki yang selayaknya menjaga shalat berjama’ah? Ibnu Mas’ud radhiallahu ‘anhu telah berkata:

إِنَّ اللهَ شَرَعَ لِنَبِيِّكُمْ سُنَنَ الْهُدَى، وَإِنَّ مِنْ سُنَنِ الْهُدَى الصَّلاَةَ فِيْ جَمَاعَةٍ، وَلَوْ أَنَّكُمْ صَلَّيْتُمْ فِيْ بَيْتِكُمْ كَمَا يُصَلِّيْ هَذَا الْمُنَافِقُ فِيْ بَيْتِهِ لَتَرَكْتُمْ سُنَّةَ نَبِيِّكُمْ، وَلَوْ تَرَكْتُمْ سُنَّةَ نَبِيِّكُمْ لَضَلَلْتُمْ، وَلَقَدْ رَأَيْتُنَا عَلىَ عَهْدِ رَسُوْلِ اللهِ  وَمَا يَتَخَلًَّفُ عَنِ الصَّلاَةِ فِيْ جَمَاعَةٍ إِلاَّ مُنَافِقٌ مَعْلُوْمُ النِّفَاقِ، وَلَقَدْ كَانَ الرَّجُلُ يُؤْتٰى بِهِ يُهَادَى بَيْنَ الرَّجُلَيْنِ حَتَّى يُقَامَ فِي الصَّفِّ

“Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mensyari’atkan kepada nabi kalian sunnah-sunnah petunjuk, dan sesungguhnya termasuk sunnah-sunnah petunjuk adalah shalat berjama’ah. Dan seandainya kalian shalat di rumah kalian sebagaimana orang munafik ini shalat di dalam rumahnya maka sungguh kalian telah meninggalkan sunnah nabi kalian, dan seandainya kalian meninggalkan sunnah nabi kalian maka pastilah kalian tersesat. Sungguh aku telah melihat kami di zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, tidak ada seorangpun yang meninggalkan shalat berjama’ah melainkan orang munafik yang jelas-jelas munafik. Sungguh ada seorang laki-laki yang didatangkan dengan dipapah di antara dua orang laki-laki hingga diberdirikan di dalam barisan.” (H.r. Ahmad, 3616)

Sungguh perhatian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam terhadap shalat telah mencapai derajat yang agung hingga beliau ingin membakar rumah orang-orang yang tidak mengikuti shalat berjama’ah. Beliau tidak mengurungkan keinginan tersebut kecuali adanya para wanita, gadis pingitan dan anak-anak di dalam rumah-rumah mereka.
Bersamaan dengan itu, kami berharap kepadamu untuk memberikan kesempatan terakhir kepada suamimu agar dia beristiqamah, jika tidak maka perceraian adalah lebih utama dikarenakan dengan hal tersebut telah jelaslah kekufuran dan kesengajaannya meninggalkan shalat. Kami akan membantu anda dengan izin Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan beberapa perkara yang membantumu untuk memperbaikinya.

Di antara hal-hal tersebut adalah sebagai berikut:

1. Menyandarkan diri kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, tunduk kepada-Nya demi hidayah kepada laki-laki tersebut, dan yang benar adalah kita berdo’a untuk seseorang di waktu malam, dan mendakwahinya di waktu siang, sesuai dengan kadar keikhlasan dan kejujuran kita, maka kebaikan dan pengabulan akan datang.

2. Mengambil jalan masuk yang baik menasihatinya, mengetengahkan kata-kata yang indah, memilih waktu-waktu yang sesuai, dan sebutkanlah kebaikan-kebaikan serta sifat-sifatnya yang baik. Dan berusahalah membantunya untuk mempersiapkan kepercayaan dirinya dengan mengatakan, misalnya: “Anda alhamdulillah adalah seorang yang baik, anda bertanggung jawab, dan manusia menyebutmu dengan kebaikan, dan akan sangat bagus lagi kalau anda konsisten mengerjakan shalat lima waktu. Karena sesungguhnya aku senang melihat suamiku keluar seperti laki-laki lain bersama keluarganya menuju rumah-rumah Allah.”

3. Mendorong orang-orang shalih dari mahrammu untuk menziarahinya dan mengajaknya shalat tanpa dia merasa bahwa hal tersebut adalah sebuah kesepakatan di antara kalian. Dan lebih memilih waktu-waktu shalat dalam ziarah hingga dia bisa pergi ke masjid bersama mereka.

4. Membeli kaset-kaset, dan buku-buku kecil yang menjelaskan hukum orang yang meninggalkan shalat, serta hukuman orang yang meremehkan pelaksanaan shalat pada waktunya, dan meletakkan kaset-kaset serta buku-buku kecil tersebut pada tempat yang biasa dia jangkau dengan tangannya.

5. Berambisi agar dia konsisten dalam mengerjakan shalat lima waktu untuk pertama kalinya, kemudian mendakwahinya agar mendirikannya dengan kekhusyu’annya, rukuknya dan tumakninahnya. Dan hal yang demikian tidak akan terjadi kecuali dengan rutin mengerjakan shalat. Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memuji orang-orang yang khusyuk dalam shalatnya dengan berfirman:
“Dan orang-orang yang memelihara sembahyangnya.” (Q.s. Al-Mukminun: 9)

Dikarenakan rutin dan menjaga shalat akan menghantarkan kepada kekhusyukan, dan shalat tidak akan bermanfaat kecuali dengan khusyuk.

6. Jadikanlah waktu-waktu makan setelah waktu-waktu shalat.

7. Menjelaskan bahayanya meninggalkan shalat tepat pada waktunya. Mush’ab ibn Sa’d ibn Abi Waqqash radhiallahu ‘anhu pernah berkata kepada bapaknya saat membaca firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
“Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya,” (QS. Al-Ma’un: 5)

Dia berkata, “Wahai bapakku, apakah mereka adalah orang-orang yang tidak shalat?” Maka berkatalah Sa’d: “Tidak, seandainya mereka meninggalkan shalat, maka mereka telah kafir, akan tetapi mereka adalah orang-orang yang mengakhirkan (menunda)nya dari waktunya.” (H.r. Al-Bazzar 1145, dan Thabarani dalam Al-Aushath 2276)

8. Menggunakan sarana-sarana dan senjata berpengaruh yang dimiliki oleh seorang wanita untuk memaksanya agar rutin mengerjakan shalat, seperti menolak makan bersamanya, duduk dengannya, serta menolak tidur di pembaringan, dan tidak ada larangan menyampaikan keinginan cerai jika dia tidak menjaga pelaksanaan shalat.

Sumber: https://konsultasisyariah.com/7929-suami-malas-shalat.html

T : Tanya, ada kasus, bagaimana jika istri kerja dan suami kerja, tapi suami seperti mewajibkan istri membantu mencukupi kebutuhan sedang sebenarnya uang suami cukup untuk mencukupi kebutuhan keluarga? Istri kadang harus hutang. Tapo uang suami sering disimpan sendiri, tidak terbuka pada istri.
J : Ini berawal dari paradigma si suami tentang fungsi dan peran istri. Jika, dia faham bahwa wanita itu tdiak wajib kerja dan tidak sunah kerja, hanya boleh saja, itu pun bersyarat. Yang wajib itu laki-laki, karena sebagai penanggungjawab dunia dan akhirat. Tapi, ahsannya memang dikomunikasikan juga ke suaminya, apa sih targetnya sampai kok kesannya istri setengah dipaksa untuk kerja. Mau apa? Apa tujuannya? Ini penjelasan dari suami mesti ada agar tidak salah paham juga. Wallahu a'lam

T : Mau tanya ustadzah, bagaimana cara agar kita bisa lebih lagi meningkatkan rasa syukur kita, khususnya tentang rizqi. Jazakillah khair ustadzah.
J : Tingkatkan syukur dengan banyak melihat ke kondisi orang-orang di bawah kita. Lihat orang-orang yang rumahnya lebih jelek daripada rumah kita, yang untuk makan sehari-hari saja kadang susah, yang tidak punya waktu luang seperti kita yang mungkin masih sempat ngobrol dengan teman via WA dan lain-lain. Dan berdoa kepada Allah agar kita dijadikan hamba-Nya yang mudah bersyukur. Nabi saw menyuruh Abu Dzar ra mengamalkan doa ini setiap habis solat fardhu:
Allahumma a`inni `ala dzikrika wa syukrika wa husni 'ibadatik
Ya Allah tolonglah aku untuk mengingatMu, bersyukur kpd Mu dan beribadah kepadaMu dg baik.

Lihat yang bawah, sebagaimana hadits nabi:
انظروا إلى من هو أسفل منكم ، ولا تنظروا إلى من هو فوقكم
Lihatlah kepada manusia yang di bawahmu, jangan lihat kepada orang yang di atasmu. (Hr. Muslim)

Obsesi duniawi kita biasanya menggebu-gebu saat bersama orang-orang yang juga menggebu duniawinya. Rumah, kendaraan, perhiasan, dan lain-lain, padahal kita sudah banyak harta yang tak ternilai. Nabi menasihati Umar untuk mencari harta berupa:
قلبا شاكرا و لسانا ذاكرا زوجة مؤمنة تعيين احدكم فى امر الاخرة
Hati bersyukur, lisan berzikir, dan pasangan beriman yang menolong urusan akhirat.
Inilah kekayaan kita. Benar kata Imam Syafi'i,  Jika engkau punya hati yang puas maka engkau dan raja dunia adalah sama. Wallahu a'lam

T : Ustadzah maaf mau tanya, ketika menikah dengan ijab qobul islam tapi setelah punya anak dua sang suami pindah agama keluar dari islam, kembali agamanya ke agama sebelum nikah. Bagaimana hukum nikahnya jika suami istri itu tetap hidap bersama bertahun-tahun padahal beda agama?
J : Jika suami pindah agama setelah menikah, maka pernikahan tersebut batal saat itu juga, dan secara otomatis istri tersebut menjadi janda, sang suami menjadi duda. Tidak halal segala hubungan setelah itu. Maka sebaiknya sang istri berpisah dari suaminya tersebut.
T : Apa yang harus di lakukan anak anaknya karena ketika di ingatkan ayahnya marah? Jazakumullah khairon katsir ustadzah.
J : Sebaiknya bersabar, dan cukup dipergauli ayahnya dengan normal. Tidak perlu diikuti kekafirannya. Banyak berdoa kepada Allah semoga ayahnya diberi hidayah.

T : Bagaimana menghadapi jika ada suami yang suka su’udzon pada istri menuduh istri selingkuh, bahkan hal-hal sepele dicurigai, dan kata-katanya sering menyakiti, padahal si istri tidak termasuk istri yang macam-macam tingkah, jujur, terbuka. sudah coba dijelaskan tapi tetap si suami curiga dan cari-cari kesalahan sampai kadang si istri emosi karena kata-kata suami sering ngawur. Bagaimana agar istri juga tetap sabar dengan tuduhan-tuduhan yang tanpa dasar itu?
J : Menuduh selingkuh (baca: zina) tanpa bukti, maka penuduhnya mesti diberikan hukuman. Biasanya suami mencari-cari kesalahan istri yang baik adalah cara lain dari menutupi aib sndiri, kadang sebagai cari-cari alasan untuk bisa menceraikannya.
Kuncinya komunikasi dg sabar. Buka dialog, saling mendengar, bukan saling membela diri. Coba cari waktu yg nyaman, sdg tdk emosi, sdg santai, tuk dialog pelan2, saling mendengar. Jika sudah saling mendengar, lanjutkan diskusi tuk solusi, bagaimana agar bisa saling memahami, bukan memaksakan pikiran pribadi, baik istri maupun suami.
Terkadang kita merasa tidak melakukan hal salah, merasa jujur, merasa baik dan seterusnya, tapi pasangan kita belum tentu melihat kita seperti itu. Karena itu perlu saling mendengar. Iringi dengan perbanyak doa dan kuatkan istighfar, karena bisa jadi masalah timbul karena dosa-dosa kita di masa lalu. Tetap istiqamah, tegar, sabar, jangan henti jelaskan bahwa itu adalah zhan buruk, serta doakan suami agar dapat hidayah. Wallahu a'lam

T : Boleh bertanya ya ustadzah, bagaimana menghadapi mertua dan ipar yang selalu menjelekkan istri di depan suaminya dan suami tidak terbuka pada istri jika sering memberi pada adik dan ibunya. Padahal istri suka jika suaminya memberi kepada ibu dan adiknya dan istri ini sangat ingin suaminya terbuka perihal ini dan berusaha untuk mendekatkan antara keluarga mertua dan keluarganya sendiri supaya rukun. Tetapi mertua dan adik iparnya tidak mau seperti itu. Apa yang harus di lakukan si istri?
J : Suami harus berinisiatif mencairkan itu. Dia punya power untuk membuka hubungan antara istrinya ke orangtua dan saudaranya. Agar istrinya bisa berhubungan normal dengan mertua dan iparnya.
Suami memberikan uang ke ipar dan ibunya memang haknya dan kewajibannya, boleh tersembunyi atau terbuka. Tapi, komunikasi adalah sarana menghilangkan syak wasangka. Maka, terbuka lebih baik, sisi lain istri pun jangan sampai marah kalau suami melakukan itu, karena memang anak laki-laki ada kewajiban kepada orangtuanya, atau saudaranya yang tidak mampu. Wallahu a'lam

T : Setelah menikah ibadah si suami dan istri semakin malas, apakah itu salah satu tidak berkahnya pernikahan? Lalu bagaimana solusinya? Karena banyak dampak buruk dengan iman yang semakin tipis. Jazakillahu khoir
J : Kemalasan ibadah bisa terjadi kepada salah satunya atau keduanya, baik kepada gadis atau perjaka, bahkan ulama, shalihin. Sebabnya beragam, bisa karena kejenuhan, masalah hidup sehari-hari, kesibukan dan ketidakmampuan mengatur waktu, bisa juga maksiat yang kita lakukan, sehingga waktu yang ada terbuang sia-sia dan menjadi tidak berkah.
Solusinya :
* Perbanyak istighfar, perkuat doa, jaga amal-amal sunnah, dan jaga makanan/harta jangan sampai disisipi yang haram.
* Cari pergaulan dengan orang-orang yang baik dan soleh, baik dunia maya dan nyata. Insya Allah tertular kesholihan.
* Harus memaksa diri membuat program kebaikan dan ibadah, mulai dari yang kecil dan diri sendiri, lalu ajak suami
Wallahu a'lam

T : Ustadzah mau tanya, selain dzikir & tilawah apakah ruqyah juga dapat membantu menenangkan hati ?
J : Ruqyah isinya adalah ayat quran dan dzikir. Jadi intinya sama saja. cukuplah dzikir dan quran, sambil direnungi makna-maknanya. Wallahu a'lam

T : Tanya ustadzah, apabila selama ini peran dalam mendidik anak dalam ibadah lebih dominan si ibu dan ayah kurang berperan dan tidak memberi contoh pada anak. (misal ayah jarang sholat di masjid.  Tapi anak tetap rajin sholat di masjid atas suruhan si ibu. Ayah jarang tilawah tapi si anak rajin tilawah karena melihat ibunya tilawah dirumah)
Apakah nanti di akherat si ayah ini masih dimintai pertanggungjawaban sama Allah atau kah sudah gugur kewajiban dalam mendidik anak karena sudah dilaksananakan si ibu?
Apakah ibu juga nanti di mintai pertanggungjawaban yang sama dengan ayah dalam hal mendidik anak? Syukron Ustadzah.
J : ayah dan ibu akan dimintai tanggungjawab atas amanah anak yang diberikan. Tidak gugur hanya karena dilakukan orang lain, apalagi tidak ada kontribusi sama sekali. Wallahu a`lam.

T : Assalamualaikum ustadzah, saya mau tanya dari kemaren bertanya belum dapat jawaban, kalau cara meruqyah diri sendiri bagaimana ya ustadzah?
J : Wa'alaykumussalam wrwb, ruqyah silahkan dilakukan jika memang benar-benar ada gangguan jin tertentu. Jika tidak ada bukti jelas, cukuplah dengan memperbanyak tilawah dan dzikir. Dalam hadits shahih diceritakan setan yang takut dengan ayat kursi, atau dalam hadits lain disebutkan setan tidak akan memasuki rumah yang dibacakan al baqarah. Dan banyak hadits tentang keutamaan quran dan dzikir sebagai benteng umat islam.

T : Bunda, saya dicurhatin teman saya seperti ini, istri merasa suami tidak menghargai usahanya untuk selalu patuh pada suami, termasuk secara finansial istri membantu banyak ke suami padahal gaji suami cukup besar (istri bekerja), ketika suami disinggung mengapa jarang membelikan sesuatu ke istri jawab suami karean istri suka tidak nurut suami, karena suami agak jengkel ketika istrinya jatuh dibiarin saja padahal suami ini dari pandangan orang adalah suami yang baik. Dan memang secara umum suaminya adalah suami yang baik. Teman saya ini sekarang sangat sakit hati ke suaminya tapi tidak berdaya apa-apa karena dia ingin mengikuti ajaran agama dimana istri harus baik kepada suami, apa yang harus dilakukan saya bunda, jazakillah.
J : Kuncinya pada komunikasi dan kesabaran. dengarkan apa sebenarnya yang ada dalam hati suami. jangan-jangan suami tidak suka istrinya bekerja, dan sebagainya. Coba saling mendengar pernikahan adalah menyatukan 2 jiwa, 2 kehendak, 2 pemikiran. tidak mungkin semuanya sama, pasti ada yang berselisih, yang berselisih perlu dicarikan jalan tengahnya.
Jalan tengah mungkin tidak ditemukan dalam 1-2x komunikasi, karena itu perlu kesabaran. Dan bisa jadi suaminya juga tidak seburuk yang dipikirkan, buktinya di pertanyaan disebutkan bahwa "Dan memang secara umum suaminya adalah suami yang baik"
Perbanyak istighfar dan doa kepada Allah sebagai pengiring usaha kebaikan kita.

T : Apakah kita tetap harus berbakti sama suami yang malas shalat?
J : Ya, selama tidak menyuruh kita dlm kemaksiatan. Wallahu a'lam


~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوْبُ إِلَيْكَ

“Subhanakallahumma wabihamdika asyhadu allailahailla anta astaghfiruka wa’atubu ilaik”

Artinya : “Maha Suci Engkau ya Allah, dengan memuji-Mu aku bersaksi bahwa tiada tiada Tuhan melainkan Engkau, aku memohon pengampunan-Mu dan bertaubat kepada-Mu.” (HR. Tirmidzi, Shahih)