Home » , , , , » SABAR, SYUKUR DAN ISTIGFAR

SABAR, SYUKUR DAN ISTIGFAR

Posted by Kajian On Line Hamba اللَّهِ SWT on Tuesday, January 10, 2017

Rekap Materi HA M08
Hari Rabu, 23 Desember 2015
Tema   : Sabar, Syukur dan Istigfar
Nasum: Ustadz Abdul Rahman Wahid
Editor : Sapta

~~~~~~~~~~~
Dalam mukaddimah kitab Al Waabilush Shayyib, Imam Ibnul Qayyim mengulas tiga hal di atas dengan sangat mengagumkan. Beliau mengatakan bahwa kehidupan manusia berputar pada tiga poros: Syukur, Sabar, dan Istighfar. Seseorang takkan lepas dari salah satu dari tiga keadaan:

1 - Ia mendapat curahan nikmat yang tak terhingga dari Allah, dan inilah mengharuskannya untuk bersyukur. Syukur memiliki tiga rukun, yang bila ketiganya diamalkan, berarti seorang hamba dianggap telah mewujudkan hakikat syukur tersebut, meski kuantitasnya masih jauh dari ‘cukup’. Ketiga rukun tersebut adalah:

Mengakui dalam hati bahwa nikmat tersebut dari Allah.
Mengucapkannya dengan lisan.
Menggunakan kenikmatan tersebut untuk menggapai ridha Allah, karena Dia-lah yang memberikannya.
Inilah rukun-rukun syukur yang mesti dipenuhi

2 - Atau, boleh jadi Allah mengujinya dengan berbagai ujian, dan kewajiban hamba saat itu ialah bersabar. Definisi sabar itu sendiri meliputi tiga hal:

Menahan hati dari perasaan marah, kesal, dan dongkol terhadap ketentuan Allah.
Menahan lisan dari berkeluh kesah dan menggerutu akan takdir Allah.
Menahan anggota badan dari bermaksiat seperti menampar wajah, menyobek pakaian, (atau membanting pintu, piring) dan perbuatan lain yang menunjukkan sikap ‘tidak terima’ terhadap keputusan Allah.
Perlu kita pahami bahwa Allah menguji hamba-Nya bukan karena Dia ingin membinasakan si hamba, namun untuk mengetes sejauh mana penghambaan kita terhadap-Nya. Kalaulah Allah mewajibkan sejumlah peribadatan (yaitu hal-hal yang menjadikan kita sebagai abdi/budak-nya Allah) saat kita dalam kondisi lapang; maka Allah juga mewajibkan sejumlah peribadatan kala kita dalam kondisi sempit.

Banyak orang yang ringan untuk melakukan peribadatan tipe pertama, karena biasanya hal tersebut selaras dengan keinginannya. Akan tetapi yang lebih penting dan utama adalah peribadatan tipe kedua, yang sering kali tidak selaras dengan keinginan yang bersangkutan.

Ibnul Qayyim lantas mencontohkan bahwa berwudhu di musim panas menggunakan air dingin; mempergauli isteri cantik yang dicintai, memberi nafkah kepada anak-isteri saat banyak duit; adalah ibadah. Demikian pula berwudhu dengan sempurna dengan air dingin di musim dingin dan menafkahi anak-isteri saat kondisi ekonomi terjepit, juga termasuk ibadah; tapi nilainya begitu jauh antara ibadah tipe pertama dengan ibadah tipe kedua. Yang kedua jauh lebih bernilai dibandingkan yang pertama, karena itulah ibadah yang sesungguhnya, yang membuktikan penghambaan seorang hamba kepada Khaliqnya.

Oleh sebab itu, Allah berjanji akan mencukupi hamba-hamba-Nya, sebagaimana firman Allah,

أَلَيْسَ اللَّهُ بِكَافٍ عَبْدَهُ

“Bukankah Allah-lah yang mencukupi (segala kebutuhan) hamba-Nya?” (QS. Az Zumar: 36).

Tingkat kecukupan tersebut tentulah berbanding lurus dengan tingkat penghambaan masing-masing hamba. Makin tinggi ia memperbudak dirinya demi kesenangan Allah yang konsekuensinya harus mengorbankan kesenangan pribadinya, maka makin tinggi pula kadar pencukupan yang Allah berikan kepadanya. Akibatnya, sang hamba akan senantiasa dicukupi oleh Allah dan termasuk dalam golongan yang Allah sebutkan dalam firman-Nya:

إِنَّ عِبَادِي لَيْسَ لَكَ عَلَيْهِمْ سُلْطَانٌ وَكَفَى بِرَبِّكَ وَكِيلًا

“(Sesungguhnya, engkau (Iblis) tidak memiliki kekuasaan atas hamba-hamba-Ku, dan cukuplah Rabb-mu (Hai Muhammad) sebagai wakil (penolong)” (QS. Al Isra’: 65).

Hamba-hamba yang dimaksud dalam ayat ini adalah hamba yang mendapatkan pencukupan dari Allah dalam ayat sebelumnya, yaitu mereka yang benar-benar menghambakan dirinya kepada Allah, baik dalam kondisi menyenangkan maupun menyusahkan. Inilah hamba-hamba yang terjaga dari gangguan syaithan, alias syaithan tidak bisa menguasai mereka dan menyeret mereka kepada makarnya, kecuali saat hamba tersebut lengah saja.

Sebab bagaimana pun juga, setiap manusia tidak akan bebas 100% dari gangguan syaithan selama dia adalah manusia. Ia pasti akan termakan bisikan syaithan suatu ketika. Namun bedanya, orang yang benar-benar merealisasikan ‘ubudiyyah (peribadatan) kepada Allah hanya akan terganggu oleh syaithan di saat dirinya lengah saja, yakni saat dirinya tidak bisa menolak gangguan tersebut… saat itulah dia termakan hasutan syaithan dan melakukan pelanggaran.

dengan demikian, ia akan beralih ke kondisi berikutnya:

3 - Yaitu begitu ia melakukan dosa, segera lah ia memohon ampun (beristighfar) kepada Allah. Ini merupakan solusi luar biasa saat seorang hamba terjerumus dalam dosa. Bila ia hamba yang bertakwa, ia akan selalu terbayang oleh dosanya, hingga dosa yang dilakukan tadi justeru berdampak positif terhadapnya di kemudian hari. Ibnul Qayyim lantas menukil ucapan Syaikhul Islam Abu Isma’il Al Harawi yang mengatakan bahwa konon para salaf mengatakan: “Seseorang mungkin melakukan suatu dosa, yang karenanya ia masuk Jannah; dan ia mungkin melakukan ketaatan, yang karenanya ia masuk Neraka”. Bagaimana kok begitu? Bila Allah menghendaki kebaikan atas seseorang, Allah akan menjadikannya terjerumus dalam suatu dosa (padahal sebelumnya ia seorang yang shalih dan gemar beramal shalih). Dosa tersebut akan selalu terbayang di depan matanya, mengusik jiwanya, mengganggu tidurnya dan membuatnya selalu gelisah. Ia takut bahwa semua keshalihannya tadi akan sia-sia karena dosa tersebut, hingga dengan demikian ia menjadi takluk di hadapan Allah, takut kepada-Nya, mengharap rahmat dan maghfirah-Nya, serta bertaubat kepada-Nya. Nah, akibat dosa yang satu tadi, ia terhindar dari penyakit ‘ujub (kagum) terhadap keshalihannya selama ini, yang boleh jadi akan membinasakan dirinya, dan tersebab itulah ia akan masuk Jannah.

Namun sebaliknya orang yang melakukan suatu amalan besar, ia bisa jadi akan celaka akibat amalnya tersebut. Yakni bila ia merasa kagum dengan dirinya yang bisa beramal ‘shalih’ seperti itu. Nah, kekaguman ini akan membatalkan amalnya dan menjadikannya ‘lupa diri’. Maka bila Allah tidak mengujinya dengan suatu dosa yang mendorongnya untuk taubat, niscaya orang ini akan celaka dan masuk Neraka.

Demikian kurang lebih penuturan beliau dalam mukaddimah kitab tadi, semoga kita terinspirasi dengan tulisan yang bersahaja ini.

Agar kita selalu menjadi orang yang ikhlas, bersyukur, dan tidak sering mengeluh dalam setiap keadaan, ada beberapa hal yang harus diperhatikan.
1.    Ingatlah segala kenikmatan yang Allah sudah berikan kepada kita;
2.    Lakukan segala kewajiban hanya karena dan untuk menggapai ridha-Nya, bukan karena sesuatu, bukan karena takut atasan, atau untuk dipuji oleh orang lain;
3.    Selalu melihat pada orang-orang yang lebih menderita dan kurang beruntung dari kita;
4.    Mengakui dalam hati bahwa nikmat yang kita terima adalah dari Allah dan akan kembali kepada-Nya;
5.    Selalu mengikuti kajian keagamaan, bisa melalui televisi, radio, atau pengajian-pengajian.
Insya Allah, jika ikhlas dan syukur sudah tertanam dalam hati kita, serta tidak ada lagi kata-kata mengeluh, tidak akan ada lagi kesedihan dan penderitaan yang menimpa diri kita. Wallahu a’lam.


TANYA JAWAB
 
T : Tanya Ustadz, seringkali ketika kita dihadapkan pada situasi yang tidak kita inginkan hati kita sedih dan resah, lisan sudah berucap ikhlas untuk menerima agar hati bisa ikut selaras. Namun kadang kali tetap saja hati masih sedih dan resah. Bagaimana ya Ustadz caranya untuk menentramkan hati? Sehingga lisan yang terucap benar-benar meresap kedalam hati untuk menerima apa yang menjadi kehendak Allah SWT
J : Agar hati tentram
1. Banyak berdoa
2. Banyak dzikir dan baca Alquran
3. Membaca kisah kisah orang sholeh

T : Ustadz apabila kita menjadi korban dari orang yang tidak bisa menahan hati, lisan maupun anggota badannya, apa yang harus kita lakukan ustadz? dan cara menasehatinya bagaimana ustadz? sabar menerima segala perlakuannya atau seperti apa ustadz?
J : Shabar dan ikhlash, serta berusaha mengingatkan teman tersebut. Cara menasihati setiap orang dan kondisi akan berbeda. Iya sabar atas perilakunya.

T : Ustad minta doa untuk hati biar tetap ikhlas, syukur, tidak mengeluh dan terpelihara dari hal yang dilakukan selain karena Allah.
J : Doanya bebas bunda..                      

T : Afwan ustadz, ada pendapat bahwa sabar itu juga harus tegas, maksudnya bagaimana aplikasinya? Afwan ustadz, dalam menyampaikan kebenaran, dimana letak kesabaran dan ketegasannya? Jazakumullah.
J : Betul harus tegas, bila ada hak yang di ambil maka harus tegas mengambil hak kita,  tetapi tidak menghilangkan sabarnya. Sabar atas pribadi pelaku dan yang menimpa kita.. Tegas dalam mengingatkan dia, tapi dengan cara yg baik. Jadi sabar bukan berarti tidak tegas atau tegas bukan berarti tidak sabar.
Contoh dalam mendidik anak, kita sabar dalam mengajarkan anak kebaikan, tapi kita juga tegas dalam menegur ketika salah.

T : Ustadz mau nanya, terkadang saat orang berkeluh kesah, kemudian kita cerita bila kita dulu juga pernah seperti yang orang itu alami, tapi dengan bersabar dan ikhlas menerima semuanya sambil berusaha mengoreksi diri in syaa Allah semua terasa ringan, apakah jawaban kita tersebut termasuk ujub ustadz? Terimakasih
J : Ujub itu urusannya dengan hati masing-masing, dengan ucapan saja tidak bisa dikatakan ujub..

T : Assalamualaikum wr wb ustadz, bagaimana kita menghilangkan rasa jengkel dan marah terhadap sikap seseorang yang tidak pernah berubah kepada kita agar hidup kita hanya berisi kebaikan, jujur karena rasa jengkel tersebut tanpa sadar muncul juga sikap tidak baik kita ke orang tersebut. Apakah ada doa khusus untuk menghilangkan rasa jengkel dan marah itu ustadz? jazakillah khair.
J : Ingat kebaikan yang pernah dia lakukan, ingat pahala mengampuni dan sabar, kemudian kalau khawatir jengkel maka kurangi berinteraksi dengan orang tersebut, tetapi jangan lupa doakan.
Wallahu alam saya kurang tahu doa khusus. Tapi yang jelas dalam hadist, marah itu dari syetan, maka jika marah ambil wudhu

T : Apabila jengkelnya kepada suami apa juga mengurangi interaksi dengan orang tersebut ustadz? Bila suami yang tidak bisa menahan anggota badan dari bermaksiat seperti yang ustadz contohkan diatas, apa kita tetap diam dan sabar menerimanya  ustadz?
J : Bila sama suami nasihatin dan terbuka dan kekurangan suami adalah ladang amal buat istri. Biasanya jengkel sama suami karena tidak terbuka.Kalau maksiat ya ingetin, kan kewajiban seorang muslim kalau melihat maksiat di ingatkan.

Alhamdulillah, kajian kita hari ini berjalan dengan lancar. Semoga ilmu yang kita dapatkan berkah dan bermanfaat. Aamiin....

Segala yang benar dari Allah semata, mohon maaf atas segala kekurangan. Baiklah langsung saja kita tutup dengan istighfar masing-masing sebanyak-banyakanya dan do'a kafaratul majelis:


سبحانك اللهم وبحمدك أشهد ان لا إله إلا أنت أستغفرك وآتوب إليك

Subhanakallahumma wabihamdika asyhadu allaailaaha illa anta astaghfiruka wa atuubu ilaika

“Maha Suci Engkau ya Allah, dengan memuji-Mu aku bersaksi bahwa tiada sesembahan yang haq disembah melainkan diri-Mu, aku memohon pengampunan-Mu dan bertaubat kepada-Mu.”

Thanks for reading & sharing Kajian On Line Hamba اللَّهِ SWT

Previous
« Prev Post

0 comments:

Post a Comment

Ketik Materi yang anda cari !!