Ketik Materi yang anda cari !!

Home » , , » TAK CUKUP HANYA MENJADI ORANGTUA BAIK

TAK CUKUP HANYA MENJADI ORANGTUA BAIK

Posted by Kajian On Line Hamba اللَّهِ SWT on Tuesday, January 10, 2017

Image result for pict orang tua muslim
KAJIAN ONLINE HAMBA ALLAH UMMI M3
Senin, 7 Desember 2015
Tema: Parenting
Narasumber: Ustadzah Tribuwhana
Waktu: ba'da dzuhur
Admin: Dany dan Ika
Notulen: Dany
Editor : Sapta 
 

اسلا م عليكم و رحمت الله و بر كاته

بسم الله الرحمن الرحيم
إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهْ وَنَسْتَهْدِيْه
ِ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَهَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ الله وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنِ اهْتَدَى بِهُدَاهُ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ.

Segala puji bagi Allah, kita memuji-Nya dan meminta pertolongan, pengampunan,dan petunjuk-Nya. Kita berlindung kepada Allah dari kejahatan diri kita dan keburukan amal  kita. Barang siapa mendapat dari petunjuk Allah maka tidak akan ada yang menyesatkannya, dan barang siapa yang sesat maka tidak ada pemberi petunjuknya baginya. Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan bahwa Muhammad adalah hamba dan Rasul-Nya. Ya Allah, semoga doa dan keselamatan tercurah pada Muhammad dan keluarganya, dan sahabat dan siapa saja yang mendapat petunjuk hingga hari kiamat.

Tak Cukup Hanya Menjadi Orangtua Baik

Apa bunda pernah mendengar kalimat "Jangan merasa cukup hanya menjadi orang BAIK, tapi juga harus menjadi orang yang ber-ILMU..." (dan tentu saja beriman). Kalimat ini lah yang akan penulis jadikan sebagai bahan perenungan bersama.

Kita semua, pasti tidak akan menyangkal bahwa keteladanan adalah metode yang paling efektif dalam pendidikan. Namun, perlu kita ingat juga, bahwa keteladanan pun butuh penjelasan, butuh arahan, butuh pemahaman. Apalagi terhadap anak kecil, amat penting bagi orang tua untuk menjelaskan alasan dari setiap tindakan.

Mengapa begini, mengapa harus begitu, dsb. Hanya saja, terkadang orang tua tidak cukup shabar untuk menjawab berbagai pertanyaan yang dilontarkan oleh putera-puteri kecilnya. Pada akhirnya, kondisi seperti ini amat memungkinkan mematikan rasa ingin tahu anak-anak kita yang begitu besarnya.

Beberapa kali ditemukan kasus serupa. Keteladanan tanpa dipahamkan. Atau, semacam kebaikan yang tidak "diwariskan". Suatu perbuatan baik, yang sudah dilakukan oleh orang tua, namun “lupa” untuk mentransformasikannya kepada anak-anak mereka. Walhasil, keluarga seperti ini cenderung akan seragam kondisinya. Pihak orang tua akan lebih sering menjadi "pemeran utama". Sedangkan anak-anak, hanya figuran yang lambat laun tersisihkan perannya.

Bisa jadi atas dasar sayang, bisa jadi atas dasar tidak tega, bisa saja karena orang tua merasa "masih kuat dan masih bisa", dsb. Misalnya: orang tua rajin shalat, tapi anaknya tak dibangunkan untuk shalat shubuh, karena khawatir istirahat sang anak terganggu. Atau, sang ortu amat exist, banyak peran dan kontribusinya di masyarakat.

Tapi di sisi lain, lupa untuk mengajarkan anaknya untuk bisa percaya diri... bahkan sekadar menyambut tamu yang datang ke rumah. Seorang ibu yang jago masak dan menata rumah, namun tidak memberikan kesempatan pada anaknya untuk memiliki keterampilan yang sama. Yang ada, sang ibu lebih memilih sibuk sndiri daripda dibantu oleh anaknya, karena khawatir hasilnya tak sesuai dengan standar yang sang ibu punya (sebab, orang tua kadang menuntut kesempurnaan dari anaknya).

Contoh di atas, hanya secuil dari kenyataan di lapangan. Hal-hal seperti inilah yang dinamakan "kebaikan yang menjerumuskan." Orang tua sibuk berbuat kebaikan, namun tidak memberikan anak-anaknya sebuah pembelajaran, pendidikan. Jadi, yang ingin penulis tekankan disini adalah: "saat orang tua baik, anaknya belum tentu baik juga." Orang tua dengan sikap-sikap yang penulis contohkan sebelumnya, memanglah orang tua yang baik, namun bisa jadi belum cukup ilmu. Yup, bisa saja orang tua berpendidikan tinggi, berpengetahuan agama banyak, namun ternyata belum mempunyai cukup ilmu perihal mendidik anak-anak mereka. Istilah kerennya, ilmu parenting.

Bagi kita sebagai umat Islam, akan cenderung memilih islamic parenting. Sebab, bagaimana pun syariat Islam (yang ada pada Al-Qur’an, hadist/ sunnah, shiroh) itu adalah "induk" dari setiap ilmu. Ilmu masa kini hanyalah hasil pengembangannya. Inti dan awal dari islamic parenting sendiri adalah menanamkan AQIDAH kepada anak-anak kita. Buatlah anak-anak paham bahwa Allah segalanya. Bahkan cinta Allah itu lebih besar daripda cinta orang tua kepada anaknya. Tanamkan rasa cinta dan rasa takut yang karenaNya.

Anak-anak itu butuh dididik serta diberikan pemahaman. Iman saja tidak bisa "sekonyong-konyong" diwariskan.. begitupun dengan kebaikan. Sebab, ada suatu proses yang harus dijalankan. Anak dari nabi Nuh atau anak nabi Luth, apakah mereka otomatis mewarisi keimanan ayahnya? Tidak! Namun, untuk kisah ini, para nabi tersebut bukan tidak bisa mendidik anak mereka, upaya maksimal pun telah dilakukan. Faktor penentu lainnya adalah di karenakan anak para nabi tersebut telah dewasa, maka kisah ini masuk pada ranah "pilihan hidup".

So, ternyata menjadi orang tua yang baik (untuk diri sendiri) saja tidak cukup. Jadilah orang tua yang mampu mentransfer kebaikan itu kepada anak-anak kita, dengan mendidik mereka juga. Bila kebingungan bagaimana caranya, tandanya ilmu kita yang memang masih harus di up-grade.. Gali dan pelajari kembali ilmu tentang pengasuhan anak, PARENTING... agar keteladan kita tak tersia dan menghasilkan jejak yang nyata.

"Janganlah engkau meninggalkan GENERASI yang LEMAH di belakangmu."

Sumber : ummionline.com

TANYA JAWAB

T : Ustadzah, tak sedikit kita sebagai orangtua disadarkan oleh anak-anak kita, kita banyak belajar dari mereka, apakah itu bukti KEGAGALAN KITA dalam pola mendidik?
J : bukan gagal bunda, tapi hanya belum paham, dan sebaiknya sebagai orangtua kita harus terus belajar sepanjang masa bagaimana mendidik anak dengan baik dan sesuai syari'at agama. Yang terpenting adalah sebagai orangtua kita sadar akan kesalahan kita dan segera memperbaikinya

T : Asalamualaikum ustadzah bagaimana menghadapi dan memberikan pengertian yang mampu di mengerti sang kaka yang senang sekali meledek adiknya hingga menangis?
J : kakak yang sayang adiknya. Berikan waktu khusus pada kakak dan ajaklah ngobrol dan dialog. Selipkan nasehat-nasehat yang bisa dimengerti kakak, jelaskan juga bahwa menyayangi adik selain membahagiakan adik juga membahagiakan semua orang dirumah. Karena pada dasarnya kakak berbuat seperti itu karena ingin perhatian dari ayah bundanya, sehingga ketika dia jahili adiknya, ayah atau bundanya akan bereaksi dan memperhatikan dia. Maka berikanlah waktu khusus kepada kakak ya bunda, biar kakak tidak cemburu terus kepada adiknya.

T : Ustadzah, anak-anak saya sudah besar-besar, suatu saat dia update profil di medsos yang intinya tentang akherat, misal "orang cerdas adalah orang yang memikirkan dan mempersiapkan kematian atau selama akherat masih dibayangan mata semangat masih terus menyala-nyala", dan  karena saya merasa update itu bagus saya kasih respons "updatemu bagus mas". Yang saya tanyakan :
1. Apakah itu pertanda si anak sudah punya aqidah yang baik?
2. Bagaimana caranya agar aqidah anak kita terus terjaga karena terus terang saya sering khawatir dengan adanya banyak aliran bila aqidah anak-anak lemah apalagi anak-anak karena tuntunan mencari ilmu dan kesibukannya harus jauh dari orangtua.
NB: perlu diketahui dominasi pendidikan anak-anak mulai kecil ada pada ibunya, mungkin karena saya sangat menyayangi mereka jadi sampe dewasapun saya masih selalu mengingatkan.
Terimakasih ustdzah
J : InsyaAllah betul bunda, barakallah sudah dikaruniai anak-anak yang sholih. Sebagai orangtua kewajiban menasehati anak sampai mereka dewasa bunda, tapi tentu dengan cara yang berbeda.

T : Ustadzah Tri smoga tidak bosen ketemu saya disana sini. Ingin bertanya, mengenai menjadi orang tua yang baik (untuk diri sendiri) tidak lah cukup. Sering, kita orang tua merasa, saya sudah melakukan yang baik-baik, sudah belajar sana sini, ikut taklim sana sini, pengajian sana sini, insya allah yakin paham agama, tapi.. LUPA sharing dan educate sama anak-anaknya. Pingin anaknya hafidz, tapi LUPA mensupport proses menuju hafidz, misal merasa sudah cukup dengan mendatangkan guru ngaji kerumah atau nganterin anak ngaji di masjid aja. Pingin anaknya mandiri, tapi LUPA mendidik anak supaya mandiri, misal pingin anak bisa mengurus diri dengan baik tapi baju masih di cucikan (u.anak diatas 12th). Nah, ngingetin teman-teman yang seperti itu, gimana yaa..? Buat reminder diri sendiri juga nih. Syukron
J : insyaAllah tidak bosan bunda zee. Ya biar tidak kaburo maqtan, sebelum menyuruh, kita duluan yang harus mengerjakan. Harus ada tekad yang kuat dan lingkungan yang mendukung untuk mewujudkan impian-impian kita tersebut. Kuncinya adalah komunikasi dan kerjasama yang baik antar semua pihak. Nyolek temen-teman ya dengan diajak belajar bersama, dikomporin terus menerus agar tidak bosan belajar.

T : Ustadzah mau nanya, Anak saya umur 15 tahun, laki-laki dia tidak nakal, cuma saya susah mengaturnya, disuruh sholat dan belajar suka mmbantah. Saya merasa kesabaran saya cukup di uji, saya suka marah kepadanya karena kebiasaannya. Dia selalu sering membuat saya sedih dan marah, saya sering kasih pandangan tentang kehidupan di luar, bagaimana bersyukur, mensyukuri apa yang ada. Bagaimana ya ustadzah menghadapinya, sikap saya ke dia, syukron ustadzah atas jawabannya.
J : pembiasaan ibadah memang sebaiknya dilakukan pada waktu anak-anak masih kecil, sehingga ketika kelak mereka sudah baligh mereka tidak susah kalo disuruh beribadah. Yang bisa dilakukan bunda sekarang adalah dengan terus mengajaknya dengan cara yang baik, dan yang penting jg adalah kita menjadi contoh bagi mereka dalam hal beribadah, jangan sampai kita menyuruh mereka beribadah tapi kita tidak melaksanakannya, dan yang terpenting adalah berdoa kepada Allah agar membukakan pintu hatinya. Jadi pembiasaan waktu kecil itu penting ya bund, jangan beranggapan ntar aja deh ngajarinnya kalo sudah besar.

T : Saya lagi ngasih les anak-anak. Semua ibu pasti ingin mendidik anaknya dengan baik agar mreka emnjadi anak yang sholeh sholehah. Bagaimana jika pndidikan yang kita lakukan (melihat ajaran rosul) tidak sesuai dengan hasilnya? Contoh, si ibu ingin anaknya hafal ngaji alquran, tapi anaknya justru ingin/suka nyanyi. Jazakillah bunda.
J : berarti anak-anak perlu diajak dialog tentang keinginan ibunya dan tentang keinginan anaknya yang tidak sesuai dengan ibunya. Jarang sekali cita-cita anak kecil itu serius, biasanya dia hanya ngikut temannya atau menonton tayangan di televisi. Orangtua juga harus selektif dalam hal tontonan yang dilihat anak. Sehingga antara harapan dan kenyataan bisa seiring sejalan. Jangan sampai kita bercita-cita anak kita ingin menjadi seorang yang hafidz/hafidzah tapi tiap hari diperbolehkan nonton tv berjam-jam. Bagaimana akan terwujud cita-cita menjadi seorang penghapal qur'an?

T : Ustadzah saya mau bertanya kalau anak berjuang untuk memperbaiki diri dan berusaha untuk selalu mendekatan diri kepada Allah, namun mengalami kesusahan mengajak orangtua untuk melakukan perbaikan dalam ibadah, apa yang harus diperbuat oleh sang anak? Jazakillah ustadzah
J : tidak ada yang bisa diperbuat kecuali mendoakan kedua orangtuanya agar segera mendapat hidayah dan tetap berlaku santun terhadap orangtuanya. Karena hidayah itu hak Allah sepenuhnya

T : Ustadzah, bagaimana memberi pemahaman kepada anak laki-laki tentang perilaku keseharian yang kurang baik sebagai laki-laki, sementara lingkungannya (misalnya ayahnya) tidak mencontohkan dalam berperilaku yang pantas sebagai imam. Contohnya kalo ada masalah awalnya marah  teriak-teriak dulu menuding  dulu, kadang main fisik, kaalo sudah puas marahnya baru bertanya alasan. Apakah ini akan jadi trauma ke anak? Efek kejiwaannya nanti bagaimana? Mohon pencerahannya syukron.
J : betul sekali, apa yang dilakukan orangtua akan terekam dalam memori anak sehingga akan ditiru. Sebaiknya ayah dinasihati untuk belajar menjadi orangtua yang bijak. Tidak usah gengsi mengakui kesalahan.

T : Ustadzah,bagaimana caranya untuk mensupport anak supaya istiqomah baca qur 'an, saya sudah tauladanin dengan saya ikut odoj,  tapi mereka bilang ibu mah punya banyak waktu kalau kita mah banyak urusan ya sekolah ya kerja ya pr dan lain-lain. Mohon solusi ustadzah, syukron.
J : Kalau tidak bisa satu hari satu juz mungkin bisa dicoba yang sehari setengah juz, atau sehari tilawah satu lembar. Memang tidak sama kemauan tiap anak, jadi agar tidak memberatkan anak istiqomah dulu sehari satu lembar, nanti setelah rutin ditambah satu hari 2 lembar dan seterusnya.


Marilah kita tutup majelis ilmu kita hari ini dgn membaca istighfar, hamdallah serta do'a kafaratul majelis
الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِين

dan istighfar
أَسْتَغفِرُ اَللّهَ الْعَظيِمْ

: Doa penutup majelis :
سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوْبُ إِلَيْكَ ٭
Artinya:
“Maha suci Engkau ya Allah, dan segala puji bagi-Mu. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan melainkan Engkau. aku mohon ampun dan bertaubat kepada-Mu.”

Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Thanks for reading & sharing Kajian On Line Hamba اللَّهِ SWT

Previous
« Prev Post

0 comments:

Post a Comment