Tujuan utama dari pelaksanaan Grup ini, semata-mata hanya untuk mencari Ridho اللّهُ SWT. Terus semangat belajar dan berbagi ilmu sampai ke liang lahat demi menjadi Hamba Allah SWT yang Kaffah

TAWAZUN

Rekapan Kajian HA Grup Ummi M4
Kamis, 24 Desember 2015
Narasumber : Ustadzah Ida
Judul Kajian : Tawazun
Editor : Sapta




Tawazun dalam rumah tangga.

Menjadi istri adalah profesi sepanjang usia pernikahan. Adapun menjadi ibu, adalah profesi sejak memiliki anak hingga ajal menjemput. Tetapi sebagai diri pribadi hamba Allah, adalah kemestian dunia akhirat.
Ketika ketiganya beririsan, bagaimana meletakkan takarannya?
Apalagi dalam konteks bermasyarakat, ada juga kewajiban kita terhadap masyarakat. Istilah tawazun berasal dari bahasa Arab: tawaazana asy-syaiaani artinya adalah berimbang, atau sama beratnya atau timbangannya.

Maksudnya adalah mengukur, menakar dengan cara membandingkan sesuatu barang dengan timbangan atau suatu alat ukur agar nilainya sama atau seimbang. Tidak berat sebelah.

Jika didekatkan dengan kata wazana, ada beberapa makna  dalam beberapa surat Alqur"an.diantaranya dalam
1. surat assyu'ara ayat 182
2. Surat al-isra ayat 35
3. Surat Al muthofifin ayat 3
4. Surat al-a'raf ayat 8-9
5. Surat Al-a'raf ayat 85
6. Surat Arrahmaan ayat 7.
7. Surat hud ayat 84-85
8. Surat al Hadid ayat 25
9. Surat anbiya ayat 47
10. Alqoriah ayat 6-7
Carilah ayat tersebut diatas dan perhatikan artinya.
Apa hubungannya dengan diri kita dan rumah tangga?

Perintah menegakkan timbangan tidak hanya berlaku dalam jual beli, tetapi juga dalam menakar semua perkara. Termasuk dalam rumah tangga.

Kecerdasan dan kepekaan kita dituntut agar dapat berlaku seimbang kepada semua yang memiliki hak atas diri kita.

Pertama menunaikan hak Allah. Dengan berbagai kewajiban agama dan menjadikan niatan ibadah dalam setiap hal.

Kedua hak orang tua,.sekalipun telah berkeluarga, tetap saja ada kewajiban berbakti dan taat pada orang tuandan juga mertua.

Ketiga kepada suami. Ketaatan dalam pirsi yang besar selama tidak memerintahkan pada makahiyat.

Keempat anak-anak kita. Mereka adalah titipan Allah yabg harus kita rawat, jaga dan didik agar menjadi pengemban risalah dan jalan surga kita.

Kelima adalah hak diri kita sendiri. Jangan lalaikan kita punya hak pada badan kita,,akal kita dan juga ruh.

Keenam adalah hak pada masyarakat bangsa dan negara untuk menunaikan kewajiban amar makruf nahi munkar dan taawun dalan kebaikan dan taqwa.

Ketujuh adalah pada agama. Kewajiban menegakkan syariat dan manhaj pada semua sisi kehidupan. Menurut kemampuan dan potensi yang kita miliki.  Lebih spesifik karena mengemban misi sebagai khalifatullah.

Dalam sekala rt, ketika terkumpul 7 hal tersebut, milikilah seni untuk mengatur waktu. Dahulukan kewajiban daripada yang lainnya. Berikan secara proporsional pada waktunya masing-masing. Keseimbangan akan selalu bergeser seirinf dengan situasi yang melingkupi.
Diskusikan dengan suami agar tidak mendzolimi. Jika anak telah beranjak besar dan dapat diajak dialog, anak pun dapat diajak bermusyawarah.

Bagaimana kita memberikan porsi dan prioritas, jika sudah merupakan hasil musyawarah keluarga, semoga itu yang terbaik dan membawa keberkahan.

SKALA PRIORITAS

* Seorang guru besar di depan audiens nya memulai materi kuliah dengan menaruh topless yg bening & besar di atas meja.
* Lalu sang guru mengisinya dengan bola tenis hingga tidak muat lagi.
Beliau bertanya : "Sudah penuh?"
* Audiens menjawab: "Sdh penuh".
* Lalu sang guru mengeluarkan kelereng dari kotaknya & memasukkan nya ke dlm topless tadi.
Kelereng mengisi sela2 bola tenis hingga tdk muat lagi. Beliau bertanya : "Sdh penuh?"
* Audiens mjwb : "Sdh penuh".
* Setelah itu sang guru mengeluarkan pasir pantai & memasukkan nya ke dlm topless yg sama. Pasir pun mengisi sela2 bola & kelereng hingga tdk bisa muat lagi.
Semua sepakat kalau topless sdh penuh & tdk ada yg bisa dimasukkan lg ke dalamnya.
* Tetapi terakhir sang guru menuangkan secangkir air kopi ke dalam toples yg sdh penuh dgn bola, kelereng & pasir itu.
Sang Guru kemudian menjelaskan bahwa :
"Hidup kita kapasitasnya terbatas spt topless.
Masing2 dari kita berbeda ukuran toplesnya :
- Bola tenis adalah hal2 besar dlm hidup kita, yakni tanggung-jawab thdp Tuhan, orang tua, istri/suami, anak2, serta makan, tempat tinggal & kesehatan.
- Kelereng adalah hal2 yg penting, spt pekerjaan, kendaraan, sekolah anak, gelar sarjana, dll.
- Pasir adalah yg lain2 dlm hidup kita, seperti olah raga, nyanyi, rekreasi, Facebook, BBM, WA, nonton film, model baju, model kendaraan dll.

- Jika kita isi hidup kita dgn mendahulukan pasir hingga penuh, maka kelereng & bola tennis tdk akan bisa masuk. Berarti, hidup kita hanya berisikan hal2 kecil.
Hidup kita habis dgn rekreasi dan hobby, sementara Tuhan dan keluarga terabaikan.
- Jika kita isi dgn mendahulukan bola tenis, lalu kelereng dst seperti tadi, maka hidup kita akan lengkap, berisikan mulai dr hal2 yg besar dan penting hingga hal2 yg menjadi pelengkap.

Karenanya, kita harus mampu mengelola hidup secara cerdas & bijak.
Tahu menempatkan mana yg prioritas dan mana yg menjadi pelengkap.
Jika tidak, maka hidup bukan saja tdk lengkap, bahkan bisa tidak berarti sama sekali".

* Lalu sang guru bertanya : "Adakah di antara kalian yg mau bertanya?"
Semua audiens terdiam, karena sangat mengerti apa inti pesan dlm pelajaran tadi.
* Namun, tiba2 seseorang nyeletuk bertanya : "Apa arti secangkir air kopi yg dituangkan tadi....?"
* Sang guru besar menjawab sbg penutup : "Sepenuh dan sesibuk apa pun hidup kita, jgn lupa masih bisa disempurnakan dgn bersilaturahim sambil "minum kopi" ..... dgn tetangga, teman, sahabat yg hebat. Jgn lupa sahabat lama !!"
Saling bertegur sapa, saling senyum bila berpapasan..... betapa indahnya hidup ini..!!

Terima kasih silaturahminya.semoga kita tetap bisa bersilaturahmi tidak cuma di dunia maya, tetapi juga di dunia nyata. Barakallahu fikum.


سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوْبُ إِلَيْكَ
“Subhanakallahumma wabihamdika asyhadu allailahailla anta astaghfiruka wa’atubu ilaik”

Artinya : “Maha Suci Engkau ya Allah, dengan memuji-Mu aku bersaksi bahwa tiada tiada Tuhan melainkan Engkau, aku memohon pengampunan-Mu dan bertaubat kepada-Mu.” (HR. Tirmidzi, Shahih)