Ketik Materi yang anda cari !!

Home » , , , » HALAL HARAM KEHIDUPAN

HALAL HARAM KEHIDUPAN

Posted by Kajian On Line Hamba اللَّهِ SWT on Tuesday, February 28, 2017

 Kajian Online WA  Hamba الله SWT

Jumat, 3 Februari 2017
Rekapan Grup Bunda G5 (Bun Saydah)
Narasumber : Ustadz Undang
Tema : Kajian Umum
Editor : Rini Ismayanti



Dzat yang dengan Kebesaran-Nya, seluruh makhluk menyanjung dan mengagungkan-Nya...
Dzat yang dengan Keperkasaan-Nya, musuh-musuh dihinakan lagi diadzab-Nya...
Dzat yang dengan Kasih dan Sayang-Nya, kita semua mampu mengecap manisnya Islam dan indahnya ukhuwah di jalan-Nya, memadukan hati kita dalam kecintaan kepadaNya, yang mempertemukan kita dalam keta'atan kepadaNya, dan menghimpunkan kita untukuk mengokohkan janji setia dalam membela agamaNya.

AlhamduliLlah... tsumma AlhamduliLlah...

Shalawat dan salam semoga tercurah kepada tauladan kita, Muhammad SAW. Yang memberi arah kepada para generasi penerus yang Rabbaniyyah bagaimana membangkitkan ummat yang telah mati, memepersatukan bangsa-bangsa yang tercerai berai, membimbing manusia yang tenggelam dalam lautan syahwat, membangun generasi yang tertidur lelap dan menuntukun manusia yang berada dalam kegelapan menuju kejayaan, kemuliaan, dan kebahagiaan.

Amma ba'd...
Ukhti fillah sekalian. Agar ilmunya barokah, maka alangkah indahnya kita awali dengan lafadz Basmallah

Bismillahirrahmanirrahim...                       

HALAL HARAM KEHIDUPAN

يَا أَيُّهَا النَّاسُ كُلُوا مِمَّا فِي الْأَرْضِ حَلَالًا طَيِّبًا وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ ۚ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ
إِنَّمَا يَأْمُرُكُمْ بِالسُّوءِ وَالْفَحْشَاءِ وَأَنْ تَقُولُوا عَلَى اللَّهِ مَا لَا تَعْلَمُونَ

Al Baqarah
168. Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan; karena sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagimu.
169. Sesungguhnya syaitan itu hanya menyuruh kamu berbuat jahat dan keji, dan mengatakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui.

Melalui ayat ini, Allâh Azza wa Jalla mengingatkan mereka akan anugerah berupa perintah kepada mereka untuk memakan apa saja yang ada di bumi, baik yang berupa biji-bijian, sayuran, dan buah-buahan, serta daging hewan dan binatang dengan dua kriteria:

حَلاَلاً 
(yang dihalalkan bagi mereka),

bukan barang yang diharamkan atau didapatkan melalui cara yang haram seperti ghashab, mencuri dan lainnya.

Kedua,
طَيَّباً 
(yang baik),

maksudnya bukan barang yang khabîts (buruk) seperti bangkai, darah, daging babi dan barang-barang bersifat buruk lainnya. Maksud sesuatu yang halal adalah segala yang diizinkan oleh Allah. 

Sementara makna thayyib, yaitu segala yang suci, tidak najis dan tidak menjijikkan yang dijauhi jiwa manusia. 

Dengan demikian, dzat makanan (dan minuman) tersebut baik, tidak membahayakan tubuh dan akal mereka. Pada ayat lain, Allâh Azza wa Jalla mengarahkan perintah semakna secara khusus kepada kaum Mukminin semata dengan berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُلُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْ وَاشْكُرُوا لِلَّهِ إِنْ كُنْتُمْ إِيَّاهُ تَعْبُدُونَ
“Hai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rezeki yang baik-baik yang Kami berikan kepadamu dan bersyukurlah kepada Allah, jika benar-benar hanya kepada-Nya kamu menyembah.  (Al Baqarah 172)

Sementara makna thayyib, yaitu segala yang suci, tidak najis dan tidak menjijikkan yang dijauhi jiwa manusia. 
Dengan demikian, dzat makanan (dan minuman) tersebut baik, tidak membahayakan tubuh dan akal mereka. Di sini, Allâh Azza wa Jalla mengarahkan perintah ini secara khusus kepada kaum Mukminin karena mereka sajalah pada hakekatnya yang dapat mengambil manfaat dari perintah-perintah dan larangan-larangan-Nya, didorong keimanan mereka kepada-Nya. Allâh Azza wa Jalla memerintahkan mereka untuk mengkonsumsi yang baik-baik dari rezeki yang diberikan kepada mereka dan bersyukur kepada Allâh Azza wa Jalla atas kenikmatan yang tercurahkan dengan cara mempergunakannya dalam ketaatan kepada Allâh Azza wa Jalla dan bekal untuk tujuan itu.

Bila pandangan kita arahkan pada ayat ini, perintah mengkonsumsi makanan yang tertuang di dalamnya hanya mempersyaratkan makanan yang baik-baik saja, tidak menyinggung status halalnya. Hal ini dikarenakan keimanan yang tertanam pada kalbu seorang Mukmin akan menghalanginya mengambil sesuatu yang tidak halal. Demikianlah semestinya seorang Mukmin, selalu memastikan apa yang masuk ke perutnya adalah barang-barang halal, menghindari sesuatu yang masih meragukan dan mencurigakan agar terhindar dari yang diharamkan Allâh Azza wa Jalla.

Dan jangan pernah berpikir untuk memakan makanan haram atau mencarinya dengan cara-cara yang terlarang. 

Syaikh Abu Bakar Jâbir al-Jazâiri berpesan,
“(Ayat ini menunjukkan) kewajiban (seorang Mukmin) mencari rezeki halal dan membatasi diri dengannya saja dalam hidup meskipun dalam kondisi sulit”. Dengan rahmat dan kasih-Nya

Allâh Azza wa Jalla memberi ruang gerak yang lebih luas bagi manusia untuk memilih makanan dan minuman. Ini lantaran makanan yang diharamkan jauh lebih sedikit ketimbang yang dihalalkan. 

Di pasar tradisional misalnya, bila dibandingkan jumlah dagangan yang halal dengan jualan yang dilarang, tentu lebih banyak yang pertama, bahkan jauh lebih banyak.

Syariat Islam dalam menghalalkan dan mengharamkan makanan selalu mempertimbangkan kemaslahatan dan madharat (bahaya).

Segala yang diharamkan pastilah mengandung seratus persen bahaya atau memuat unsur bahaya yang dominan.

Demikianlah diantara keistimewaan syariat Islam, karena bersumber dari Allâh Azza wa Jalla , Dzat Yang Maha Bijaksana (al-Hakîm) dan Maha Mengetahui (al-‘Alîm) akan segala kemaslahatan bagi hamba. Allâh Azza wa Jalla berfirman:

اللَّهُ الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ الْأَرْضَ قَرَارًا وَالسَّمَاءَ بِنَاءً وَصَوَّرَكُمْ فَأَحْسَنَ صُوَرَكُمْ وَرَزَقَكُمْ مِنَ الطَّيِّبَاتِ
Allah lah yang menjadikan bumi untukmu sebagai tempat menetap dan langit sebagai atap, dan membentukmu lalu memperindah rupamu serta memberimu rezeki dari yang baik-baik. (Al-Mukmin : 64)

وَيُحِلُّ لَهُمُ الطَّيِّبَاتِ وَيُحَرِّمُ عَلَيْهِمُ الْخَبَائِثَ
...dan menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk... (Al-a’raf : 157)

‘Setiap barang yang thâhir (suci lawan dari najis), yang tidak mengandung bahaya sama sekali, seperti biji-bijian, buah-buahan, hewan-hewan hukumnya halal. Dan setiap barang najis, seperti bangkai dan darah, atau barang yang mutanajjis (terkena najis) dan setiap barang yang mengandung madharat (bahaya) semisal racun dan lainnya hukumnya haram (dikonsumsi)’ Tampak bahwa yang halal adalah hal-hal yang baik, dan yang diharamkan adalah hal-hal yang buruk dan berbahaya.

Dalil yang menunjukkan diperhitungkannya kesucian (tidak najisnya) barang yang dikonsumsi firman Allâh Azza wa Jalla:

حُرِّمَتْ عَلَيْكُمُ الْمَيْتَةُ وَالدَّمُ وَلَحْمُ الْخِنْزِيرِ
Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi (Al-Maidah : 3)

Bangkai darah dan daging babi merupakan barang najis secara dzat, dan barang najis adalah khabîts (buruk).[6] Sementara di antara dalil yang mengharuskan bebasnya barang konsumsi dari unsur yang berbahaya firman Allâh Azza wa Jalla.

وَلَا تُلْقُوا بِأَيْدِيكُمْ إِلَى التَّهْلُكَةِ
Dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan (Al-Baqarah : 195)

Allâh Azza wa Jalla berfirman:
وَلَا تَقْتُلُوا أَنْفُسَكُمْ
Dan janganlah kamu membunuh dirimu (An-Nisa : 29)

Sebab secara prinsip, penetapan halal dan haram adalah hak Allâh Azza wa Jalla . Barang siapa mengharamkan yang halal dan menghalalkan yang haram pada hakekatnya telah memposisikan diri sebagai sekutu Allâh Azza wa Jalla dalam hak tasyrî’ (penetapan syariat). 
Karenanya, Allâh Azza wa Jalla mencela kaum Yahudi dan Nasrani karena ketaatan mereka yang berlebihan terhadap para pemuka agama mereka, sampai menghalalkan dan mengharamkan apa yang dikatakan oleh pemuka agama mereka. Dengan ini, mereka telah menjadikan para pendeta itu sebagai tandingan-tandingan Allâh. Konsumsi barang halal dan baik berpengaruh positif pada kejernihan hati dan dikabulkannya doa dan diterimanya ibadah oleh Allâh Azza wa Jalla.

Sebaliknya, makanan haram akan menghalangi diterimanya doa dan ibadah.

Allâh berfirman : {“Hai rasul-rasul, makanlah dari makanan yang baik-baik, dan kerjakanlah amal yang saleh. Sesungguhnya Aku Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan”} 
(al-Mukminûn:51). 

Allâh berfirman: 
{“Hai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rezki yang baik-baik yang Kami berikan kepadamu”} . Selanjutnya, beliau menceritakan seorang lelaki yang menempuh perjalanan jauh, dalam keadaan rambut acak-acakan, berdebu, ia menengadahkan dua tangannya ke arah langit (seraya berdoa) ya rabbi, ya rabbi, ya rabbi, sementara makanannya haram, minumannya haram, dan pakaiannya haram serta dirinya dinutrisi dengan haram, bagaimana doanya dikabulkan?”. 
HR. Muslim Syaikh ‘Abdur Rahmân as-Sa’di rahimahullah mengajak kita sekalian untuk melakukan introspeksi diri. Setelah menyebutkan bahwa Allâh Azza wa Jalla hanya memerintahkan kepada keadilan, kebaikan, dan memberi kaum kerabat dan melarang dari perbuat keji, mungkar dan kezhaliman beliau berkata, 
“Hendaknya seseorang melihat dirinya, apakah ia mengikuti seruan Allâh yang menghendaki kebaikan dan kebahagiaan abadi bagi dirinya di dunia dan akherat, atau mengikuti ajakan setan yang merupakan musuh manusia yang hanya menginginkan keburukan baginya dan berusaha dengan sekuat tenaganya untuk membinasakannya di dunia dan akherat? ” 

Kewajiban mencari rezeki halal dan membatasi diri dengannya saja dalam hidup.

Hukum asal makanan dan minuman adalah ibâhah (diperbolehkan) untuk dikonsumsi maupun dimanfaatkan, sampai ada larangan khusus.

Yang halal adalah segala yang dihalalkan oleh Allâh Azza wa Jalla dan yang haram adalah yang diharamkan oleh Allâh Azza wa Jalla. Dalam masalah ini, akal tidak berperan sama sekali.

barang haram ada dua jenis: barang yang memang diharamkan dzatnya, sesuatu yang khabiits (jelas keburukannya), lawan dari thayyib, atau diharamkan karena berhubungan dengan pelanggaran terhadap hak Allâh Azza wa Jalla karena didapatkan melalui cara yang haram atau melanggar hak sesama manusia karena diambil dari orang lain dengan paksa misalnya.

Wajib menjauhi segala hal yang buruk dan keji yang dibisikkan oleh setan.

Haramnya mengikuti langkah-langkah setan yang mencakup setiap keyakinan, perbuatan dan perkataan yang dilarang syariat.

TANYA JAWAB

Q : Kalo beli ayam misalnya di pasar tradisional..  Kadang mereka si penjual juga beli ayam potong nya yang sudah di sembelih..  Ga tau yang nyembelih muslim apa ngga..  Pke bissmillah apa ngga... Yang jual muslim..  Ini hukumnya apa? Syukron..
A : Sebenarnya lebih baik motong sendiri kalau bisa atau kita lihat proses potong ayam nya... Kalau tak bisa kita lihat dulu yang jualan muslim atau bukan ?
Kalau muslim InsyaAlloh akan menyediakan makanan yang halal lagi toyib 
Dan seandainya ketika di potong tidak pakai Asma Alloh dan kita tidak tahu, tidak apa-apa tidak jadi dosa. Berkhusnuzon lah kita terhadap sesama muslim

Q : 1. Setiap kali membuka amplop gaji suami, selalu ada kelebihan yang digenapkan, misal: seharusnya ada recehan di gaji suami saya seperti Rp. 100, atau 200 dst. tetapi di fisiknya selalu dibulatkan menjadi Rp. 2.000, apakah kelebihan ini halal kami konsumsi Ustadz?
2. Jika seseorang marah pada sebuah produk yang halal, misal: Indomie,  lalu dia bersumpah, "mulai hari ini saya haramkan saya dan keluarga memakan Indomie. " apakah jika dikemudian hari dia tetap tidak boleh mengkonsumsinya Ustadz? Atau berlaku hukum, "tidak syah mengharamkan sesuatu yang halal?". Terimakasih.
A : 1. Jangan di konsumsi sebaiknya di kembalikan karena itu bukan hak kita . Tapi seandainya kita segan mengembalikan nya infakkan saja ke sarana fasilitas umum yang tidak di konsumsi semisal untuk pengecoran jalan dsb.
2. Jangan bilang merk ya mie instan halal tapi kurang toyib untuk tubuh mau tahu ?
Mie instan yang Anda makan tidak langsung tercerna, bahkan berjam-jam setelah proses pencernaan terjadi. Bahkan setelah lewat dua jam, mie instan tetap utuh, berbeda dengan mie yang dibuat sendiri tanpa proses kimiawi. Hal ini cukup mengkhawatirkan, mengingat tekanan yang mungkin diterima oleh sistem pencernaan Anda akibat konsumsi mie instan, yang memaksa kerja pencernaan hingga berjam-jam untuk memproses makanan yang banyak mengandung bahan kimia dan sedikit sekali serat. Akhirnya, proses penyerapan nutrisi bagi tubuh pun terganggu, apalagi ditambah dengan kadar nutrisi dalamnya yang sangat sedikit untuk tubuh, digantikan dengan bahan penambah rasa, pengawet beracun jenis tertiary-butyl hydroquinone (TBHQ) yang dapat tinggal di dalam perut dalam waktu yang lama tanpa bisa diketahui dampaknya bagi kesehatan dalam jangka panjang. Adanya kandungan TBHQ dalam jumlah yang tinggi dapat berpotensi membahayakan nyawa seseorang
TBHQ sendiri merupakan ampas dari hasil pengolahan petroleum dan biasanya dicantumkan dalam kemasan makanan sebagai antioksidan. TBHQ sebenarnya adalah bahan kimia sintetis dengan kandungan antioksidan, bukan antioksidan alami yang dibutuhkan tubuh. Bahan kimia ini akan mencegah oksidasi lemak dan minyak, sehingga awet disimpan dalam waktu yang lama sekalipun. Selain dalam makanan instan dan makanan cepat saji, TBHQ dapat pula ditemukan dalam produk-produk pestisida dan pelapis kayu, serta kosmetik dan parfum untuk mengawetkannya saat pemakaian.
Sama dengan rokok hukum awalnya mubah tapi ketika kita mengharamkannya ketika kita melaksanakan nya akan menjadi haram buat kita
Wallahu alam

Q : Ustadz terkait dengan rejeki yang halal, bagaimana dengan honor yang ada di kantor dan juga sisa pungutan pajak ? Apakah itu boleh kita terima ? Karena dilematis, diterima, itu diwilayah abu2, gak diterima, nanti jadi masalah, karena teman2 nerima semua
A : Kalau honor itu hak kita sebagai hadiah dari pekerjaan yang kita lakukan, kalau sisa-sisa kutipan pajak sebaiknya kalau segan mengembalikan nya di infakkan untuk fasilitas umum non konsumsi seperti pengerasan jalan

Q : Ustad ...kalo ada non muslim yang kasi uang ke temennya yang muslim. dan dia suruh temennya itu pergi umroh ? apakah halal ustad ?
A : Pada prinsipnya boleh
Ali bin Abi Thalib RA meriwayatkan, bahwa Kisra [Raja Persia] pernah memberi hadiah kepada Rasulullah SAW lalu beliau menerimanya. Kaisar [Raja Romawi] pernah pula memberi hadiah kepada Rasulullah SAW lalu beliau menerimanya. Para raja (al-muluuk) juga memberi hadiah kepada beliau lalu beliau menerimanya. (HR Ahmad dan At-Tirmidzi, dan dinilai hadits hasan oleh Imam At-Tirmidzi) (Imam Syaukani, Nailul Authar, hal. 1172).
Rasulullah SAW pernah menerima hadiah dari para raja non muslim. Antara lain dari Raja Dzi Yazan (HR Abu Dawud), dari Akidar pemimpin Dumatul Jandal (HR Bukhari dan Muslim), dari Farwah al-Judzamiy (HR Muslim), dan sebagainya. (Imam Syaukani, ibid.)
Selain hadits-hadits tersebut, kebolehannya juga didasarkan pada hukum umum bolehnya muslim bermuamalah dengan non muslim. Nabi SAW pernah menggadaikan baju besinya kepada seorang Yahudi. Berdasarkan hadits ini, Imam Ibnu Qayyim al-Jauziyah berkata,”Dalam hadits ini ada kebolehan bermuamalah dengan mereka [non muslim]…”
Hadits-hadits ini menunjukkan bolehnya seorang muslim menerima sumbangan dari non muslim.
Namun demikian, jika sumbangan non muslim itu menjadi sarana untuk memperkokoh atau menyebarkan kekufuran mereka, atau menjadi sarana untuk mengagungkan syiar-syiar agama mereka, maka hukumnya haram (Imam Ibnu Qayyim al-Jauziyah, Ahkam Ahl Adz-Dzimmah, Juz I hal. 224).
Wallahu a'lam

Q : Assalamualaikum usatdz, kemarin teman saya cerita dia diajak makan bos nya di restoran jepang, teman saya ikut aja karena menjamu klien...memang makan ada  minuman ga ada yang beralkohol. Begitu sampe rumah dia cerita sama suaminya dan kata suaminya resto itu tidak ada sertifikasi halalnya.. teman saya kaget karena bos nya pun muslim yang taat ...apa yang harus di lakukan menanggapi kasus seperti ini?
A : Kalau kita di beritahu setelah terjadi tak apa-apa introspeksi buat kita. Selanjutnya sarankan ke bosnya kalau menjamu tamu cari yang benar kita yakin kehalalan nya , jelaskan juga ketamunya bahwa kita muslim yang senantiasa menjaga diri dari makanan yang tidak halal baik bahan makanan nya maupun proses nya. Insyaallah tamu akan paham dan menghormati prinsip itu

Q : Halalkah uang hasil kerja pada tempat & pemimpin kerja non muslim..  Meski di gedung itu di izinkan beribadah.. Punya ruang sendiri untuk yang muslim beribadah.. Kerjaanya umum..  Namun milik non muslim.
A : Halal karena kita di perbolehkan bermuamalah dengan non muslim

Q : Satu lagi...  Ada beberapa teman muslim yang "terpaksa" kerja di tempat katakanlah fasilitas umum milik non muslim tapi harus mengikut peraturan tempat tsb..  Misal ga boleh pke hijab..  Harus pke seragam yang sama..  Nah itu gajinya halal kah?  Tetep boleh ibadah sesuai syariat kecuali itu tadi soal pakaian?
A : Gajinya halal tapi kita jadi tidak bisa melaksanakan apa yang di syariatkan 
Menutup aurat itu wajib , aurat wanita itu seluruh badan kecuali muka dan telapak tangan . Keluar saja dari tempat yang melarang kita untuk melaksanakan hal2 yang wajib dalam agama karena ibadah dalam islam bukan hanya sholat

Q : halal atau haramkah klo pmberian barang / makanan dari orang yang ternyata mengaharapkan anak gadis saya, padahal saya dan anak gadisku tidak suka , kita sudah menyampaikan ketidaksukaan dengan cara halus tapii baik ortu maupun ybs nya keukeuh berusaha mndekati kami dengan berbagai cara  ..trus apakah pemberian tsb pantas dikembalikan secara kami takut lebih menyinggung perasaan mereka ....bgaimna pa ustadz , trimakasih solusinya ...
A : Tetap sabar, Tolak secara halus kalau keukeuh terima saja terus kasih lagi ke orang yang butuh syukur-syukur dia tahu barang nya di kasihkan lagi ke orang lain 
Atau gunakan orang ketiga yang dia segani suruh menasehati nya

Q : Ustadz, jika kita berkunjung ke rumah saudara dekat yang noni, jika disuguhi makanan gimana yaa sikap kita? nolak takut tersinggung karena  berkali-kali nolak. makan juga takut peralatan makannya yang biasa mereka pake buat makan makanan tidak halal..
A : Bilang saja lagi lagi saum (dari makanan yang abu-abu). Kalau kita ragu makan dulu di rumah baru berkunjung jika di suguhi bilang masih kenyang rebes kan

Q : Ustadz kalo ayam & daging yang dijual di giant/hipermarket terjamin ga ya kehalalannya ?
A : Ana ragu makanya ana tak pernah beli ana beli langsung ke kandang nya 
Kalau kita ragu kita hindari atau kalau mau tanyakan ada sertifikat halal bea untuk ayam yang di jual 

Q : Kan udah bukan rahasia lagi yaa untuk memuluskan jadi PNS ato apalah...kadang pake "pelicin" biar keterima... itu masuk ranah suap kan ya..
Lalu status harta yang dia dapat dari pekerjaan tersebut gimana tadz?
A : Pelicin kata lain dari suap. Sesuatu yang baik didapatkan nya juga dengan cara yang baik baik. Afwan kalau pegawai negri di dapatkan dengan cara seperti itu lebih baik jadi pekerja luar negari (swasta) saja dan terjamin kehalalan nya

Q : Ustadz saya ingat 10 tahun lalu di kampung halaman suami ada yang bangun mesjid megah banget, yang bangun tinggal di jakarta, belio terkenal sangat dermawan...nah 1 tahun kemudian ternyata belio kena  kasus hukum yaitu korupsi..nah kita dengar uang yang di pake sumbangan dan bangun mesjid adalah uang panas  yaitu hasil korupsi klo kasus seperti itu gimana ustadz ? itu semacam money laundry kan?
A : Iya termasuk money laundry. Sesuatu yang terjadi sebelum kita mengetahui nya tak apa-apa sekarang tinggal minta keikhlasan dari orang-orang terkait yang uangnya di korupsi kalau mereka tidak mengikhlaskan nya kembalikan 
Insyaallah akan ada solusi terbaik

Alhamdulillah, kajian kita hari ini berjalan dengan lancar. Semoga ilmu yang kita dapatkan berkah dan bermanfaat. Aamiin....

Segala yang benar dari Allah semata, mohon maaf atas segala kekurangan. Baiklah langsung saja kita tutup dengan istighfar masing-masing sebanyak-banyakanya dan do'a kafaratul majelis:


سبحانك اللهم وبحمدك أشهد ان لا إله إلا أنت أستغفرك وآتوب إليك

Subhanakallahumma wabihamdika asayahadu allaailaaha illa anta astaghfiruka wa atuubu ilaika


“Maha Suci Engkau ya Allah, dengan memuji-Mu aku bersaksi bahwa tiada sesembahan yang haq disembah melainkan diri-Mu, aku memohon pengampunan-Mu dan bertaubat kepada-Mu.”

Thanks for reading & sharing Kajian On Line Hamba اللَّهِ SWT

Previous
« Prev Post

0 comments:

Post a Comment