Home » , , » Muqaddimah Waris dan Masalah Yang Terjadi

Muqaddimah Waris dan Masalah Yang Terjadi

Posted by Kajian On Line Hamba اللَّهِ SWT on Friday, February 10, 2017

Image result for image hukum waris
KAJIAN ONLINE HAMBA اَللّهُSWT UMMI G-2/G-4
Selasa, 24 Januari 2017
Narasumber : Ustadz Abdurrahman Wahid
Tema : Muqaddimah waris dan masalah Yang terjadi
Notulen : yuniboo/laela
Editor : Sapta
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Assalamuallaikum warahmatullah wabarokatuh

بِسْــــــــــــــــــــــمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْ
ِ
Definisi Ilmu Waris

Ilmu al-faraidh adalah: “Ilmu yang dengannya dapat diketahui siapa yang berhak mewarisi dengan (rincian) jatah warisnya masing-masing dan diketahui pula siapa yang tidak berhak mewarisi.”

Keutamaan mempelajarinya
أَبِي هُرَيْرَةَ t قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِr: « يَا أَبَا هُرَيْرَةَ تَعَلَّمُوا الْفَرَائِضَ وَعَلِّمُوهَا فَإِنَّهُ نِصْفُ الْعِلْمِ وَهُوَ يُنْسَى وَهُوَ أَوَّلُ شَيْءٍ يُنْزَعُ مِنْ أُمَّتِي » رواه ابن ماجه والدار قطني والحاكم والبيهقي، وضعفه الذهبي وابن الملقن والألباني.
Dari Abi Hurairoh, Rasululloh saw bersabda: pelajarilah ilmu faroidh (waris), dan ajarkanlah ilmu itu, karena sesungguhnya ilmu faroidh itu separuh ilmu, dan ilmu faroidh itu akan dilupakan. Ilmu itulah yang pertama kali akan tercabut dari umatku. (H.R.Ibnu Majah).

Hak hak berkenaan dengan harta warisan
  1. Semua keperluan dan pembiayaan pemakaman pewaris, dengan tidak berlebihan.
  2. Hendaklah utang piutang ditunaikan terlebih dahulu, sabda Rasulullah saw.:"Jiwa (ruh) orang mukmin bergantung pada utangnya hingga ditunaikan.“
  3. Wajib menunaikan wasiat pewaris selama tidak melebihi sepertiga harta peninggalannya.
  4. Dibagi waris sesuai aturan syariat Islam

Sebab sebab pewarisan
  1. Kerabat hakiki (yang ada ikatan nasab), seperti kedua orang tua, anak, saudara, paman, dan seterusnya.
  2. Pernikahan, yaitu terjadinya akad nikah secara legal (syar'i) antara seorang laki-laki dan perempuan, sekalipun belum atau tidak terjadi hubungan intim (bersanggama) antar keduanya.
  3. Al-Wala, yaitu kekerabatan karena sebab hukum. Disebut juga wala al-'itqi dan wala an-ni'mah. Yang menjadi penyebab adalah kenikmatan pembebasan budak yang dilakukan seseorang

Rukun Waris
  1. Pewaris, yakni orang yang meninggal dunia, dan ahli warisnya berhak untuk mewarisi harta peninggalannya.
  2. Ahli waris, yaitu mereka yang berhak untuk menguasai atau menerima harta peninggalan pewaris dikarenakan adanya ikatan kekerabatan (nasab) atau ikatan pernikahan, atau lainnya.
  3. Harta warisan, yaitu segala jenis benda atau kepemilikan yang ditinggalkan pewaris, baik berupa uang, tanah, dan sebagainya

Syarat pembagian waris
  1. Meninggalnya seseorang (pewaris) baik secara hakiki maupun secara hukum (misalnya dianggap telah meninggal).
  2. Adanya ahli waris yang hidup secara hakiki pada waktu pewaris meninggal dunia.
  3. Seluruh ahli waris diketahui secara pasti, termasuk jumlah bagian masing-masing.

Penghalang hak waris
  1. Kafir / Murtad
Rasululloh bersabda, "seorang muslim tidak mewarisi orang kafir dan orang kafir tidak mewarisi seorang muslim"(HR Bukhori)
  1. Pembunuh
Rasululloh SAW bersabda:"barang siapa yang membunuh seseorang korban, maka, ia tidak dapat mempusakainya, walaupun sikorban tidak mempunyai pewaris selainnya dan jika sikorban itu bapaknya atau anaknya, maka bagi pembunuhan tidak berhak menerima harta peninggalan"(HR Ahmad)
  1. Perbudakan

Permasalahan Waris di Masyarakat Kita
  1. Hak Waris Laki2 Perempuan disamakan
يُوصِيكُمُ اللّهُ فِي أَوْلاَدِكُمْ لِلذَّكَرِ مِثْلُ حَظِّ الأُنثَيَيْنِ فَإِن كُنَّ نِسَاء فَوْقَ اثْنَتَيْنِ فَلَهُنَّ ثُلُثَا مَا تَرَكَ وَإِن كَانَتْ وَاحِدَةً فَلَهَا النِّصْف
Allah mensyariatkan bagimu tentang (pembagian pusaka untuk) anak-anakmu : bagian seorang anak lelaki sama dengan bagian dua orang anak perempuan; dan jika anak itu semuanya perempuan lebih dari dua, maka bagi mereka dua pertiga dari harta yang ditinggalkan; jika anak perempuan itu seorang saja, maka ia memperoleh separuh harta. (QS. An-Nisa' : 11).
  1. membagi warisan ketika masih hidup
Padahal secara syariah, tidak ada pembagian harta warisan selama pemilik harta itu masih hidup. Sebab salah satu syarat dalam pembagian waris adalah matinya pewaris. Kalau pewarisnya masih hidup, maka tidak ada urusan dengan pembagian waris. Yang bisa dilakukan hanyalah hibah atau wasiat, tetapi bukan bagi waris.
  1. Harta suami dan Istri
Di dalam sistem syariah Islam, prinsipnya bahwa semua harta suami tetap selalu menjadi harta suami. Dan bahwa semua harta istri juga akan tetap selalu harta milik istri sepenuhnya.
Namun sebagian dari harta suami, memang ada yang menjadi hak istri, tetapi harus lewat akad yang jelas, misalnya lewat pemberian mahar, atau nafkah yang memang hukumnya wajib, atau lewat hibah, atau hadiah. Tanpa penyerahan yang menggunakan akad yang pasti, harta suami tidak secara otomatis jadi harta istri.
  1. Hak almarhum dikuasi suami atau Istri
وَلَهُنَّ الرُّبُعُ مِمَّا تَرَكْتُمْ إِن لَّمْ يَكُن لَّكُمْ وَلَدٌ فَإِن كَانَ لَكُمْ وَلَدٌ فَلَهُنَّ الثُّمُنُ مِمَّا تَرَكْتُم مِّن بَعْدِ وَصِيَّةٍ تُوصُونَ بِهَا أَو
Para istri memperoleh seperempat harta yang kamu tinggalkan jika kamu tidak mempunyai anak. Jika kamu mempunyai anak, maka para istri memperoleh seperdelapan dari harta yang kamu tinggalkan sesudah dipenuhi wasiat yang kamu buat atau (dan) sesudah dibayar utang-utangmu. (QS. An-Nisa' : 12)
  1. menunda nunda pembagian warisan
Dr. Shiddiq al-Gharyani dalam bukunya ‘Fatawa Muamalat asy-Syariah’ berkata, ‘Menunda dan memperlama proses pembagian harta warisan akan mengakibatkan kelupaan, keteledoran, dan kehilangan, atau terjadi pemanfaatan harta warisan oleh mereka yang tidak berhak, juga berarti memakan harta dengan cara yang bathil, atau menyia-nyiakan harta dan meremehkan hak orang lain. Ini semua merupakan persoalan yang perlu diwaspadai, sebab seringkali menimbulkan persoalan serius seperti konflik, permusuhan, dan putusnya tali persaudaraan …’
  1. Bukan ahli waris meramaikan
Anak Angkat dst, Anak tiri dst, Mantan suami / istri, Bukan Ahli Waris secara hukum, Ahli Waris tapi Terhijab / Terhalang
  1. pembagian berdasarkan kesepakatan
Kesalahan yang paling fatal dalam pembagian harta waris adalah pembagian berdasarkan kesepakatan dengan sesama ahli waris, tanpa mengindahkan ketentuan yang ada di dalam Al-Quran, As-Sunnah dan juga apa yang telah ditetapkan syariah Islam. Alasan yang biasanya digunakan adalah asalkan para pihak sama-sama ridha dan tidak menuntut apa-apa. Sehingga dianggap sudah tidak perlu lagi dibagi berdasarkan ketentuan syariah.
  1. pembagian berdasarkan adat
وَمَن يَعْصِ اللّهَ وَرَسُولَهُ وَيَتَعَدَّ حُدُودَهُ يُدْخِلْهُ نَارًا خَالِدًا فِيهَا وَلَهُ عَذَابٌ مُّهِينٌ
Dan siapa yang mendurhakai Allah dan Rasul-Nya dan melanggar ketentuan-ketentuan-Nya (hukum waris), niscaya Allah memasukkannya ke dalam api neraka sedang ia kekal di dalamnya; dan baginya siksa yang menghinakan. (QS. An-Nisa' : 14)
9.  Ahli waris pengganti
Istilah ahli waris pengganti yang dimaksud adalah bila seorang anak yang seharusnya menjadi ahli waris, meninggal lebih dulu sebelum ayahnya yang menjadi pewaris wafat.  Dalam syariat Islam, yang namanya bagi waris itu hanya terbatas memindahkan harta warisan dari pewaris yang wafat kepada ahli waris yang syaratnya adalah orang yang masih hidup.
****************
TANYA JAWAB G-2

T : Ustadz, saya mau tanya, keluarga besar saya ada 9 orang, bapak saya sudah meninggal jadi tinggal ibu dan 9 anaknya, semua anaknya sudah menikah. Bapak ada peninggalan rumah dan rumah itu dijual sama ibu sepengetahuan anak-anaknya, bagaimana pembagiannya?
Setengah dari penjualan rumah dibagi sama ibu ke 9 anak-anaknya rata dan sisanya dibelikan rumah sama ibu tapi nama rumah itu ibu atas namakan salah satu anaknya karena ibu merasa dia tidak mampu dan suaminya juga tidak ada apakah boleh begitu ustadz, pada waktu itu ibu saya masih sehat. nah sekarang ibu sudah tua dan pikun, yang jadi masalah ada salah satu dari kakak saya yang tidak terima ibu mengatasnamakan rumah itu kepada yang ibu saya berikan rumah itu dan mempermasalahkan minta di bagi rata lagi. Bagaimana itu hukumnya ustadz, sedangkan ibu saya sekarang sudah pikun dan tidak bisa apa-apa lagi, maaf ustadz kepanjangan ceritanya.
J : Pembagian warisannya
Ibu (istri bapak) ⅛. Sisanya buat anak-anak, dengan bagian 1 laki-laki mendapatkan 2 bagian perempuan. Dan yang dibagikan menjadi warisan adalah murni harta ayah saja. Di bagi rata tidak boleh. Lihat di materi. Warisan itu buat semua ahli waris yang berhak mendapatkan warisan.. tidak boleh untuk orang-orang tertentu

T : Jadi bagaimana dengan status rumah yang sekarang diributkan? apa sudah sah buat anak yang ibu saya atas namakan?
J : Rumah itu harta warisan atau bukan? Kalau warisan ya berarti harus di bagikan. Makanya nurut dr awal, seperti diatas. Bagikan harta peninggalan bapak, 1/8 buat ibu, sisanya buat anak-anak

T : Assalamu'alaikum ustadz, Ijin bertanya, seandainya kita sudah menjelaskan kepada ahli waris yang lain bahwa harta warisan harus dibagi sesuai syariat islam tetapi ahli waris tersebut tetap tidak mau dengan alasan repot, dan lain-lain. Itu bagaimana ya ustadz? Mohon penjelasannya, Jazakallah khairon.
J : Kewajiban kita selesai, jika ada kelebihan harta di kita kembalikan.
Contoh warisan laki2 disamakan dengan wanita, maka wanita yang tahu cukup ambil jatahnya saja

T : Ustadz bagaimana jika dibagi sesuai aturan islam dahulu, kemudian masing-masing ahli waris membagikan haknya kepada yang wanita sehingga jumlahnya sama dengan yang laki-laki?
J : Asal jangan disyaratkan dari awal. Kalau setelah di bagi terus laki-laki memberikan jatahnya kepada saudara wanita boleh. Tapi bukan syarat atau paksaan, itu pemberian saja

T : Assalamualaikum ustadz, dulu sebelum bapak mertua saya wafat sempat bilang, tanah yang lokasi di atas ada 800 meter/persegi ingin beliau wariskan kepada anak 1,2 dan ke 3. Ibu mertua saya mendengar juga perkataan almarhum suaminya. Tahun 2013 bapak mertua wafat dan tanah belum di bagi, tahun 2014 suami saya menanyakah soal tersebut dan ibu mertua marah bersumpah tidak pernah dengar ucapan suaminya, suami saya pulang dengan kecewa, suami saya wafat tahun 2015 dan sebelumnya bilang ke anak sulung untuk ambil.haknya. Pertanyaan saya apa hak waris suami saya akan turun pada anak saya? Catatan suami saya anak ke-3 dari 6 saudara  dan laki-laki satu-satunya. Sedang anak saya dan suami ada 3 orang anak laki-laki, mohon penjelasannya.
J : Iya jatah suami ibu menjadi hak ahli waris berikutnya. Yaitu istri, ibu dan anak2nya. Jika ada istri dan ibu. Jadi harta warisan suami buat ahli warisnya. Harta dr ayahnya plus harta hasil usahanya.

T : Bagaimana jika orangtua mewasiatkan bahwa harta waris harus dibagi sama rata untuk semua anaknya, baik laki-laki ataupun perempuan? Haruskah diubah? Apakah hibah hitungan nya sama dengan waris?
J : Iya harus di rubah, karena wasiatnya bertentangan dengan alquran, saya tidak paham maksudnya apa. Hibah adalah memberikan sesuatu ketika masih hidup. Maka berbeda dengan waris baik hitungan maupun pembagiannya. Kalau hibah terserah pemilik barangnya mau memberikan berapa.

T : Bagaimana jika harta waris adalah harta produktif yang saat ini, atas kemurahan hati orang tua 50% hasilnya untuk satu anaknya yang kurang beruntung. Jika orangtua meninggal,  menginginkan si anak itu tetap mendapat bagian yang sama, 50%, sisanya baru dibagi untuk yang lain, apakah boleh seperti itu ustadz ?
J : Kalau orang tua sudah meninggal dunia maka harta berpindah kepemilikan dari yang meninggal kepada ahli waris. Kenapa orang tua tidak menghibahkan saja sebelum wafat.

T : Apakah benar, harta warisan itu tidak boleh atau pamali kalau dijual? Misal ingin punya rumah di kota B, jadi warisan (di kota W) dijual untuk beli rumah di kota B.
J : Boleh asal memang jatahnya.

T : Assalamualaikum, ada juga  yang memberikan harta waris dibagi rata sama. Katanya supaya adil. Bagaimana hukumnya seperti itu, apakah boleh pembagian waris tidak memakai perhitungan secara Islam?
J : Lihat di materi, tidak boleh karena bertentangan dengan alquran dan as-sunnah. Lihat QS. An-nisa ayat 11, 12, 13, 14 dan 176

T : Ustadz, apabila semasa hidup tidak memiliki anak kemudian  mengangkat seorang anak laki-laki, kemudian ketika suami meninggal dunia harta otomatis dikuasai istri dan memberikan sebagian kepada anak angkatnya, bolehkah seperti itu ustadz?
J : Anak angkat tidak mendapatkan warisan tapi boleh mendapatkan hibah atau wasiat. Harta suaminya bukan punya dia semua kalau suaminya meninggal. Maka ada hak saudara-saudaranya suami atau orang tuanya suami.

T : Kalau orang tua suami sudah meninggal semua ustadz dan saudara-saudara suami seolah tidak memperdulikan / tidak mencampuri soal warisan bagaimana ustadz??Dan si istri juga langsung bertindak cepat dengan membalikkan nama semua aset sepeninggal suami atas nama si istri?
J : Tetap aja istri hanya dapat 1/4 dari total harta suami setelah di kurangi biaya pengurusan jenazah, hutang, dan wasiat. Masalah balik nama hanya legalitas negara, tetapi yang namanya hak warisan tetap menjadi hak ahli waris. Jatah istri itu kalau ada anak ⅛, kalau tidak ada anak ¼, sisanya buat ahli waris yang lain

T : Kalau saudara suami tidak ada yang menuntut dan juga tidak ada wasiat dari mendiang suami, dan pula tidak ada yang membenarkan soal hukum-hukum warisan ustadz bagaimana? Apakah didiamkan saja atau harus dibawa kemana agar benar menurut islam?
J : Tidak menuntutnya karena apa? Jatah istri itu kalau ada anak ⅛, kalau tidak ada anak ¼, sisanya buat ahli waris yang lain, urus sesuai syariat islam.

T : Ustadz, tetangga saya barusan meninggal suaminya, hartanya diminta oleh seluruh keluarga suami 1/8  dari harta yang sekarang istrinya miliki, apakah itu benar ustadz? Apakah harta itu bukan hak istri sepenuhnya ustadz?
J : Kalau tidak punya anak jatah istri ¼, sisanya buat ahli waris yang lain. Tapi hanya suami ya yang di bagikan / menjadi warisan. Kalau seandainya sebagian sudah dihibahkan kepada istri maka dikurangi hibah.

T : Izin bertanya ustadz, apabila ada seorang suami/istri wafat dengan ahli waris istri/suami, anak (laki-laki dan perempuan) apakah adik dari suami/istri mendapat bagian?
J : Tidak karena terhalang oleh anak laki-laki.

T : Izin bertanya ustadz, apabila warisan peninggalan orangtua berupa sebuah rumah sudah disertipikatkan, tapi oleh bibi atau adik ayah setelah meninggal di akui bahwa sebagian ada tanah miliknya dan tanah bibi-bibi yang lain belum sertifikat jadi kalau mau dijual bagaimana solusi biar tidak terjadi keributan, afwan terlalu panjang.
J : Yang di bagikan adalah harta warisan almarhum, kalau di akui sama orang lain kalau memang harta almarhum ya ambil saja.

T : Maksudnya untuk sisa ahli waris yang lain itu apakah keluarga dari suami ustadz?
J : Kalau yang meninggal suami ya keluarga suami.

T : Ustadz bagaimana jika rumah warisan ayah sebagian ada tanah yang diberikan oleh orang tua kakak ipar saya, karena waktu itu menikah dengan kaka saya yang laki-laki tapi sekarang sudah bercerai, bolehkah tanah itu dikatakan hibah karena yang membuat batas almarhum ayah mantan kakak ipar saya?
J : Harta yang di bagikan adalah harta almarhum. Kalau sudah di bagikan atau diberikan berarti bukan harta almarhum.

T : Afwan ustadz, ibu bapak masih ada, cuma sudah cerai, rumah tanah yang di tempati ibu itu ada niat untuk di jual, dengan tujuan mumpung ibu masih ada, biar anak-anak yang 4 itu bisa buat modal atau untuk keperluan mereka begitu ustadz. Yang ditanyakan keluarga itu anak 4, dua laki-laki dan 2 perempuan, kalau masih ada dua-duanya dan di jual kemudian di bagikan ke anak-anaknya, apakah di samakan itu merupakan hak waris atau bagaimana? Dan ibunya, apakah disamakan dengan anak-anak atau ⅛ nya.? Atau boleh kah disamakan dengan anak-anaknya yang laki dua perempuan ustadz?
J : Kalau masih ada bukan warisan. Silahkan, terserah orangtua mau di apakan hartanya.

T : Ustadz bagaimana bila seseorang yang sudah meninggal meninggalkan amanah kepada salah satu anaknya (a) agar mendapatkan haknya dalam warisan, akan tetapi anaknya yang lain malah menguasai seluruh harta warisan tersebut, salahkah bila si anak (a)mengiklaskan hak warisnya demi menjaga tali persaudaraan?
J : Bagikan sesuai syariat, jadi warisan itu proses berpindahnya harta dari yang wafat kepada ahli warisnya yang masih hidup. Kalau orangtua masih hidup atau pemilik harta masih hidup bukan warisan. Coba baca ulang di materi

T : Assalamualaikum pak ustadz, saya mau bertanya, orangtua teman saya yaitu bapaknya sudah meninggal tapi almarhum bapaknya sebelum meninggal sudah bercerai dengan istrinya yang pertama dan meninggalkan mereka demi menikah lagi dengan perempuan lain. Dan almarhum bapak teman saya mempunyai anak lak- laki 2, 1 dari istri ke 2 dan 1 dari istri ke-3, statusnya dari istri ke-2 pun sudah bercerai, kecuali istri ke-3, adapun harta atau peninggalan dari keluarga orangtua bapaknya masih ada dan sekarang yang memegang semua (usaha serta tanah-tanahnya, dan lain-lainnya) di pegang oleh pamannya, karena nenek dan kakeknya sudah lama meninggal. Adapun yang masih hidup paman dan bibinya, saya ingin bertanya apakah ada hak waris almarhum bapak teman saya untuk anak-anaknya? kalau ada bagaimana perhitungannya menurut hukum islam pembagian harta waris yang benar?  terimakasih pak ustadz.
J : Warisannya, buat istri ke 3 ⅛ dan sisanya buat anak-anaknya.

T : Apabila semuanya dikuasai oleh pamannya apakah berdosa, sampai sekarang ada hak-hak yang lainnya yang belum pamannya bagikan? seperti hak waris anak-anaknya bibinya, bibinya sudah lama meninggal, anak-anaknya masih ada, apakah pamannya berdosa? terimakasih atas penjelasannya ustadz.
J : Silahkan baca di materi bu, ada 9 hal yang menjadi masalah di masyarakat. Salah satunya warisan di kuasai oleh istri atau suami, apalagi sama paman.

T : Ustadz mau bertanya, pembagian harta waris untuk ahli waris yang nikah tanpa dikaruniai anak bagaimana cara pembagiannya dan  masing-masing kebagian berapa?
J : Suami ¼  jika istrinya punya anak dan ½  jika istrinya tidak punya anak. Istri ⅛ jika suami tidak punya anak dan ¼ jika suami punya anak.

T : Ustadz bila harta warisan berupa tanah dari kakek untuk ayah dan bibi belum jelas pembagiannya bagaimana solusinya, ayah saya sebagai laki-laki yang tertua sudah lama meninggal yang mengatur bibi?
J : Tinggal di hitung saja, ketika kakek meninggal siapa saja ahli waris yang ada, kemudian bagikan sesuai aturan syariat yang ada.

T : Waktu ayah sudah meninggal, tanahnya sudah dibuatkan surat untuk bagian ayah atau sudah dipecah tapi yang milik bibi-bibi yang lain belum. Jadi sulit buat dijualnya karena tanah warisan itu sudah dibangun rumah-rumah yang menyatu rumah ayah saya jadi baiknya bagaimana ustadz, apa minta ke bibi hitung ulang?
J : Tinggal di hitung saja bagian masing-masing berapa meter. Kalau sudah jadi rumah yang mengambil hak saudaranya bisa membayar atau rumahnya di kurangi sesuai tanah miliknya.
Coba lihat di materi, salah satu kesalahan yang banyak terjadi adalah membagikan warisan ditunda-tunda. Akhirnya sudah lama jadi bingung mana jatah masing-masing.

T : Ustadz kalau tanah yang sudah di hibahkan oleh ibu untuk anak-anak terus setelah ibu meninggal tanah yang di hibahkan diminta lagi oleh bapak, itu hukumnya bagaimana?
J : Karena tanah punya ibu bapak tidak boleh meminta lagi, alasannya buat apa? Tetapi anak harus berbuat baik sama bapak dan seandainya tidak mampu maka harus memberikan kecukupan kepada bapaknya.

T : Ustadz apakah salah jika istri mengingatkan suami agar segera menyelesaikan soal warisannya?
J : Tidak salah, justru kita diwajibkan amar ma'ruf nahi munkar.

T : Ustadz, saya minta saran agar tidak terjadi salah faham apa yang harus saya katakan kepada bibi mengenai kejelasan warisan yang ditinggalkan ayah saya mengingat ada persoalan lama yang enggan diungkap.
J : Ingatkan firman Allah surat Annisa ayat 13 dan 14 tentang ancaman yang tidak membagikan warisan secara syar'iat. Kemudian ingatkan juga ayat 10 dr surat annisa..

T : Ustadz, jika orangtua masih hidup dan hartanya mau dibagi, boleh dibagi sama rata ya? Karena berarti tidak dihitung seperti warisan, yang tersisa ketika beliau wafat baru dibagi sesuai hukum waris? Begitu boleh kah ustadz?
J : Iya, kalau dibagikan masih hidup berarti hibah atau hadiah, kalau masih ada sisa wafat berarti waris

T : Ustadz, kalau rumah dibangun dengan harta istri dan suami, lalu istri meninggal dan suami nikah lagi, apakah istri kedua tersebut berhak mendapat warisan atas rumah tersebut?
J : Dapat warisan jika suami meninggal, dan warisannya hanya harta suaminya saja. Lihat materi sebab mendapatkan warisan karena pernikahan.


T : Assalamualaikum, Ustadz bagaimana kalau kita punya hutang pada seseorang yang sudah meninggal? Beliau tidak punya anak, suaminya juga meninggal, yang ada tinggal keponakanya dan cucu dari adik laki-lakinya, siapa yang lebih berhak?
J : Berikan kepada ahli waris yang masih hidup karena itu hak mereka. Cucu dr adik laki-laki. Karena dia furu waris, kalau keponakan hawasyi, dan hawasyi terhalang sama furu.

T : kalau ada sebagian harta warisan ayah yang meninggal yang belum dibagikan, kemudian salah satu anak laki-lakinya meninggal meninggalkan istri tanpa anak, apakah istrinya itu masih mendapatkan hak waris dari harta waris yang belum dibagikan? istrinya saat ini belum menikah lagi. jazakallah khoir.
J : Iya dapat

T : Apakah wanita bisa memilih warisannya ? Misal pengen kebagian rumah tidak mau lahan?
J : Disepakati saja dengan ahli waris yang lain, asal bagiannya tidak melebihi dari jatah.

T : ustadz, kalau kedua orangtua kita cerai, kemudian ibu menjual rumah tanahnya, kalau ibu msh ada, uang di bagi rata antara ibu. saudara laki-laki dan perempuan di samakan boleh ga? Itu bukan buka waris, kalau buka waris orangtua kita sudah meninggal. Apa boleh tidak di samaratakan? Dan satu lagi, awal pisah ibu dan bapak nya..setelah harta yang di ibu di jual, bapak minta dan sama anak-anak boleh seridhonya kasih ke bapak, begitu ustdaz.
J : Boleh, terserah pemilik harta mau diapakan kalau masih hidup. Minta kesiapa? Namanya minta terserah yang punya harta mau dikasih atau tidak. Tapi kalau ternyata di rumah yang di jual ibu ada punya bapak ya tidak usah diminta harusnya dikasihkan.

T : Assalamualaikum, bertanya ustadz, mohon penjelasan tentang al wala,contohnya seperti apa ustadz?
J : Jika ada yang memerdekan budak, kemudian mantan budak tadi wafat maka yang memerdekakan dapat warisan.

T : Kalau di jaman sekarang berarti sudah tidak ada budak ya ustadz?
J : Iya, tapi bisa jadi kalau kasusnya ada tetap berlaku.

T : Satu lagi ustadz, apabila dalam pembagian waris atas kesepakatan semua ahli waris ada sebagian harta (misalnya rumah/sebidang tanah) yang tidak ikut dalam hitungan pembagian dengan tujuan untuk di pakai bersama.apakah di perbolehkan seperti itu?
J : Pokoknya ketika seseorang wafat maka yang dibagikan semua harta warisan orang tersebut baik dari warisan, investasi, hasil usaha dan lain-lain. Maka ketika sudah dibagikan ternyata masih ada harta almarhum maka bagikan lagi sesuai bagian masing-masing.

T : melanjutkan.pertanyaan tadi ustadz, jadi pembagian harta warisnya bagaimana ya? apa bagian suami yang meninggal dipisahkan dulu kemudian bagian itu dibagi lagi ke istri, ibu dan saudara laki-laki dan perempuan suami yang meninggal tadi?
J : Sekarang contoh real saja langsung. Suami meninggal siapa saja ahli waris yang ada. Ketika mertua meninggal siapa saja ahli warisnyg ada. Yang jelas ketika suami meninggal maka semua harta almarhum itu yang di bagikan termasuk jika ada warisan dari orang tuanya.

T : Yang meninggal.masih ada ibunya, istrinya tanpa anak, saudara perempuan 3 , saudara laki-laki 1 ustadz?
J : Ibu ⅙, Istri ¼, sisa buat saudara.

T : Jazakallah khoir ustadz jawabannya. Kalau boleh tanya 1 lagi, kalau seandainya istrinya itu punya anak, ibu suami dan saudara-saudara suami yang meninggal itu tidak menjadi ahli waris ya ustadz? karena terhalang anak? afwan maksudnya anak istri dan suami yg meninggal itu perempuan ustadz
J : Itu anak hasil pernikahan dengan suaminya atau anak bawaan istri? Jika anak bawaan istri bukan hasil pernikahan dan suami tidak punya anak maka anak tersebut tidak dapat warisan., (anak tiri bagi suaminya). Jika ada anak hasil pernikahan atau suami punya anak dari istri sebelumnya, Anak perempuan ½, Ibu ⅙, Istri ⅛, saudara-saudara sisa.

T : Ustadz, kalo tiap bulan istri nabung dari penghasilan suami, disisihkan dimasukkan dalam tabungan istri, apakah itu termasuk dalam harta suami yang harus diwariskan? sementara penghasilan suami sudah diserahkan ke istri
J : Tanya saja sama suami, ketika menyerahkan itu maksudnya apa.

T : ya nafkah buat kebutuhan sehari-hari ustadz, tapi diusahakan ditabung sebagian untuk kebutuhan masa depan anak dan lain-lain. Apakah kalau suami meninggal jadi termasuk harta waris yang dibagikan?
J : Tanyakan saja sama suami kalau ada sisa bagaimana apakah buat istri atau harus dikembalikan kepada suami. Suaminya masih ada kan, kalau kata suami buat istri berarti punya istri.

T : Jika suami meninggal ada istri, 1 anak laki-laki. 1 anak perempuan, 1 adik perempuan, 2 adik laki-laki dan ibu ayah masih lengkap. Bagaimana bagi warisnya ustadz?
J : Istri ⅛, Ayah ⅙, Ibu ⅙, Anak laki-laki dan perempuan sisa, Adik-adik tidak dapat

T : Berarti 1/3 utk orang tua ya ustadz?
J : Masing-masing ayah dan ibu ⅙, jangan di bilang ⅓, karena itu harta menjadi hak masing-masing.

T : Mau nanya lagi, kalau istri yang meninggal, pembagiannya sama dengan kalo suami meninggal ya ustadz? istri kan punya harta sendiri, kalau meninggal, apakah orangtua istri juga mendapat warisan?
J : Yang mendapatkan harta warisan itu karena hubungan nasab. Dan namanya hubungan nasab sama mau istri yang wafat atau suami yang wafat maka orangtua masing-masing dapat warisan dari anak-anaknya. Lihat QS. Annisa 11,12 176

T : Ustadz ijin bertanya, Suami kan suka merokok, sehari sebungkus anggap aja 20 ribu, itu kan kebutuhan pribadi ya, nah kemudian saya berniat nabung 20 ribu sehari, hitung-hitung uang rokok yang dibakar suami. Apakah itu bisa jadi milik istri?
J : Tanya suami saja, uang yang dikasih statusnya bagaimana.

T : afwan ustadz ada pertanyaan lagi, kakak saya laki-laki istrinya meninggal punya anak perempuan satu 10 tahun dan tinggal sama kakak saya. Selama menikah punya rumah tapi yang bekerja hanya suaminya saja (kakak saya) istrinya tidak bekerja. Apakah rumah itu sebagian menjadi warisan istri yang harus dibagikan? selama ini tidak pernah ada omongan dari suami ke istri bahwa ini uang untuk kamu pribadi seperti itu, karena kurang faham/ilmu.
J : Tanyakan sama kakaknya, rumah ini punya siapa? Jika punya istri bagikan, jika punya suami karena yang meninggal istri jangan dibagikan. Sederhananya warisan itu adalah harta almarhum yang di bagikan. Coba baca ulang materi point harta gono gini.

T : Afwan dalam hal hutang mayit, dilunasi atau di bayarnya kapan ustadz? Sebelum dimakamkan atau setelahnya? Mengingat begitu riskannya hutang ini bagi mayit.
J : Kalau bisa sebelum bagus, kalau tidak yang penting ahli waris akan bertanggung jawab melakukan pembayaran hutang.


****************
TANYA JAWAB G-4 (Selasa 02 Mei 2017)

Tanya : Tanya Ustadz, bagaimana memberi pengertian supaya tidak tersinggung? berdosakah dia kepada ibunya itu?
Jawab : Kasih tahu kalau warisan nunggu wafat dulu pemilik harta. Jika masih hidup namanya minta hibah atau hadiah.

Tanya : Ustadz, Saya ada kasus nomor 2 ustadz, yang mana semua harta bapak/ibu  mertua sudah di bagi2 kelima anaknya, mertua masih hidup,  karena semua anaknya merantau, tetap yang ngurusi ya mertua, bahkan bagian suami sudah di balik nama sama mertua atas nama suami, yang jd pertanyaan apa kelak itu bisa disebut warisan, atau nanti di bagi-bagi lagi?
Jawab: Bagikan sesuai harga yang ada. Urusan di alam kubur wallahi alam. Yang jelas jika ada hutang maka terhambat. Pelajaran buat kita namanya hutang catat, lihat al-baqarah 282. Kasih tahu kalau warisan nunggu wafat dulu pemilik harta, jika masih hidup namanya minta hibah atau hadiah. Bayar hutang walau sama bapak jadi warisan. Bagikan warisan sesuai ketentuan yang ada, biaya ibu mungkin di ambil dari harta anak-anak.

Tanya: Bagaimana jika kita mengusulkan pembagian warisan secara islam kepada keluarga, tapi pihak keluarga tidak setuju karena mereka berpikir pembagian secara islam tidak adil,  bagaimna cara menyikapinya ustad?
Jawab: Ingatkan kalau Allah tidak adil siapa yang lebih adil dari Allah. Yang menentukan pembagian warisan adalah Allah SWT, lihat ayat 11, 12 dan 176

Tanya: Apakah diperlukan pihak ke-2 (misal ustadz yang ahli ilmu al-faraidh) untuk membantu pembagiannya?
Jawab: Teknis itu,  jika diperlukan penengah silahkan.

Tanya : Ya ustadz, tapi yang sudah terjadi di generasi ibu saya bagaimana? Yang digenerasi saya Insya Allah bisa sesuai syariat.
Jawab : yang lalu biarlah berlalu, yang  jelas jika ada harta ibu yang bukan haknya kembalikan.

Tanya: Yang dimaksud harta suami istri terpisah itu bagaimana? Kalau suami kerja dan kasih nafkah lalu sisa dibelikan emas misalnya, itu harta bersama? Kalau yang kerja istrinya bagaimana ustadz? Harta yang dibeli itu juga yang nanti diwariskan?
Jawab: baca materi bu point ke 3 masalah yang terjadi di  masyarakat. Pokoknya warisan itu adalah 100 persen harta almarhum jangan ada harta orang lain yang di bagikan

Tanya: Afwan Ustadz Izin bertanya, apabila Bapak meninggalkan istri dan anak-anak dari beberapa istri, apakah anak-anak dari istri yang terdahulu ikut menjadi ahli waris? sementara warisan yang di tinggal adalah hasil  istri yang sekarang? Warisan yang di tinggalkan atas nama ibu semua. Mohon penjelasannya Ustadz.
Jawab: coba baca di materi, bahwa yang menyebabkan warisan hubungan nasab, jadi asal anak dan ada hubungan nasab dapat warisan, masalah atas nama kan hanya legalitas saja.

Tanya: Bukan kah harta istri dan suami itu terpisah ustadz? Harta yang ada bukan harta suami, tetapi harta istri yang terakhir ustadz?
Jawab: jika tidak ada hubungan nasab maka tidak dapat warisan.

Tanya: Apakah bila seseorang akan menikah lagi karena cerai mati, harta waris dari pasangannya yang sudah meninggal tersebut harus diselesaikan dulu? Karena bisa saja pasangan barunya tinggal di rumah yang sudah ada, padahal disitu ada hak waris dari anak dan istri/suami yang ditinggalkan?bagaima jika mereka masih ngotot ustadz, apakah kewajiban kita sudah gugur untuk mengingatkannya?
Jawab: Warisan itu bukan karena nikah lagi. Segera bagikan karena itu hak ahli waris. Jika ngotot tugas kita selesai, dan kita hanya mengambil hak kita saja jangan lebih.

Tanya: Kalau uang takziah apa termasuk warisan juga Ustadz? Bapak saya meninggal di kampung, jogja, tetangga komplek temen kantor juga pada melayat di rumah saya tangerang, bagaimana hukum uangnya dari para tetangga ini ustadz?
Jawab : Disepakati saja apakah warisan atau bukan. Karena aslinya tidak ada pembahasan


********************************
Selanjutnya, marilah kita tutup kajian kita dengan bacaan istighfar 3x
Doa robithoh dan kafaratul majelis

Astaghfirullahal' adzim 3x

Do'a Rabithah
Allahumma innaka ta'lamu anna hadzihil qulub,
qadijtama-at 'alaa mahabbatik,
wal taqat 'alaa tha'atik,
wa tawahhadat 'alaa da'watik,
wa ta ahadat ala nashrati syari'atik.
Fa watsiqillahumma rabithataha,
wa adim wuddaha,wahdiha subuulaha,wamla'ha binuurikal ladzi laa yakhbu,
wasy-syrah shuduroha bi faidil imaanibik,
wa jami' lit-tawakkuli 'alaik,
wa ahyiha bi ma'rifatik,
wa amitha 'alaa syahaadati fii sabiilik...
Innaka ni'mal maula wa ni'man nashiir.

Artinya :
Ya Allah, sesungguhnya Engkau mengetahui bahwa sesungguhnya hati-hati kami ini,
telah berkumpul karena cinta-Mu,
dan berjumpa dalam ketaatan pada-Mu,
dan bersatu dalam dakwah-Mu,
dan berpadu dalam membela syariat-Mu.
Maka ya Allah, kuatkanlah ikatannya,
dan kekalkanlah cintanya,
dan tunjukkanlah jalannya,
dan penuhilah ia dengan cahaya yang tiada redup,
dan lapangkanlah dada-dada dengan iman yang berlimpah kepada-Mu,
dan indahnya takwa kepada-Mu,
dan hidupkan ia dengan ma'rifat-Mu,dan matikan ia dalam syahid di jalan-Mu.Sesungguhnya Engkau sebaik-baik pelindung dan sebaik-baik penolong.
Aamiin...    

DOA PENUTUP MAJELIS
سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوْبُ إِلَيْكَ
Subhanaka Allahuma wabihamdika asyhadu alla ilaha illa anta astaghfiruka wa atubu ilaik.Artinya:“Maha suci Engkau ya Allah, dan segala puji bagi-Mu. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan melainkan Engkau. aku mohon ampun dan bertaubat kepada-Mu.”
Aamiin ya Rabb

Thanks for reading & sharing Kajian On Line Hamba اللَّهِ SWT

Previous
« Prev Post

0 comments:

Post a Comment

Ketik Materi yang anda cari !!