Home » » ADABUL IKHTILAF-ETIKA BERSELISIH PENDAPAT

ADABUL IKHTILAF-ETIKA BERSELISIH PENDAPAT

Posted by Kajian On Line Hamba اللَّهِ SWT on Wednesday, March 15, 2017

Kajian Online WA  Hamba الله SWT

Rabu, 15 Maret 2017
Rekapan Grup Nanda 2
Narasumber : Ustadz Farid
Tema : Kajian Umum
Editor : Rini Ismayanti



Dzat yang dengan Kebesaran-Nya, seluruh makhluk menyanjung dan mengagungakan-Nya...
Dzat yang dengan Keperkasaan-Nya, musuh-musuh dihinakan lagi diadzab-Nya...
Dzat yang dengan Kasih dan Sayang-Nya, kita semua mampu mengecap manisnya Islam dan indahanyaa ukhuwah di jalan-Nya, memadukan hati kita dalam kecintaan kepadaNya, yang mempertemukan kita dalam keta'atan kepadaNya, dan menghimpunkan kita untuk mengokohkan janji setia dalam membela agamaNya.

AlhamduliLlah... tsumma AlhamduliLlah...

Shalawat dan salam semoga tercurah kepada tauladan kita, Muhammad SAW. Yang memberi arah kepada para generasi penerus yang Rabbaniyyah bagaimana membangakitkan ummat yang telah mati, memepersatukan bangsa-bangsa yang tercerai berai, membimbing manusia yang tenggelam dlm lautan syahwat, membangun generasi yang tertidur lelap dan menuntun manusia yang berada dalam kegelapan menuju kejayaan, kemuliaan, dan kebahagiaan.

Amma ba'd...
Ukhti fillah sekalian. Agar ilmunya barokah, maka alangakah indahanyaa kita awali dengan lafadz Basmallah

Bismillahirrahmanirrahim...           

ADABUL IKHTILAF-ETIKA BERSELISIH PENDAPAT

Tema ini begitu krusial hari ini bagi umat Islam, sebagai upaya menekan potensi konflik, khususnya sesama ahlus sunnah wal jamaah ..

kita tidak pernah takut dengan segala rongrongan kaum kuffar terhadap Islam dan kaum muslimin, sebab itu merupakan watak pertarungan abadi antara haq dan batil, kita sudah mempersiapkan diri dengan jihad ..

Tapi, yang justru lebih dikhawatirkan adalah kemunduran dan kehncuran umat ini dari dalam, yaitu ketika kita tidak bisa memanajemen konflik atau potensi konflik sesama kita. Maka, umat Islam, apalagi aktifisnya mesti benar-benar memahami bagaimana "etika berbeda" dengan sesama muslim ..

Ada beberapa point yang mesti di pegang teguh ..

1. Hendaknya Ikhlas dalam menyatakan pendapat kita.

Bukan dalam rangka jago-jagoan, untuk menunjukkan kita lebih hebat, lebih faqih, atau merendahkan sauadara kita

betul, bahwa ikhlas urusan pribadi dan hanya Allah Ta'ala yang tau, tapi kita bisa merasakan "masalah dalam niat" dari gelagatnya

yaitu ketika seseorg merasa sakit hati, sempit dada, dan tidak suka, ktika kawannya, lawannya bicara dan diskusinya, tidak sependapat dengannya ..

Maunya dia, semua org selalu setuju dan meng-aminkan dirinya ... maka, itu tanda dia mencari ridha makhluk, bukan mencari ridha Allah Ta'ala

Bagi yang mncari ridha Allah, tidak akan peduli orang lain mau setuju atau tidak, yang penting dia suda menyampaikan apa yang diyakini, selanjutnya serahkan kepada Allah .. fa dzakkir innama anta mudzakkir lasta 'alaihim bimushaythir - berilah peringatan, tigasmu hanya memberikan peringatan, kamu tidak berkuasa untuk memaksa mereka

Dan, Ikhlas merupakan salah satu syarat diterimanya amal shalih. maka, sayang2 jika suda berhujjah dengan argumentasi yang bagus, bhs yang indah, dan retorika yang enak .. tp tujuannya mencari perhatian manusia ..

Kita renungkang hadits berikut ....., Dari Ibnu Umar Radhiallahu 'Anhuma, bahwa Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam bersabda:

Barangsiapa yang menuntut ilmu untuk mendebat orang bodoh, atau berbangga di depan ulama, atau mencari perhatian manusia kepadanya, maka dia di neraka.

(HR. Ibnu Majah No. 253. At Tirmidzi No. 2654. Dihasankan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih wa Dhaif Sunan Ibni Majah No. 253, Shahih wa Dhaif Sunan At Tirmidzi No. 2654, Misykah Al Mashabih No. 225, 226, Shahihul Jami' No. 6382)

Al ‘Allamah Syaikh Yusuf al Qaradhawy Hafizhahullah berkata: “Kita mengetahui bahwa niat yang ikhlas saja tidak cukup untuk diterimanya amal, selama tidak sesuai dengan syara’ dan sunah, sebagaimana amal yang sesuai syara’ juga tidak mencapai derajat diterima, selama di dalamnya tidak ada ikhlas dan tajarrud (dedikasi) hanya untuk Allah ‘Azza wa Jalla semata.”  (Yusuf al Qaradhawy, Hawla Rukn al Ikhlash, hal. 12. 1993M. Dar at Tauzi’ wa an Nasyr al Islamiyah )

قال الفضيل بن عياض رحمه الله  :
 "إن العمل إذا كان خالصاً ولم يكن صواباً لم يقبل وإذا كان صواباً ولم يكن خالصاً لم يقبل حتى يكون خالصاً صواباً والخالص أن يكون لله والصواب أن يكون على السنة".

Al Fudhail bin ‘Iyadh Rahimahullah: “Sesungguhnya amal itu jika ikhlas tapi tidak benar tidak akan Allah terima, jika benar tapi tidsk benar, juga tidak diterima. Sampai amal itu ikhlas dan benar. Ikhlas itu menjadikan amal hanya untuk Allah, dan benar itu aml yang sejalan dengan sunnah.
(Imam Ibnu Taimiyah, Al Fatawa Al Kubra, 2/46)

Demikian adab yang pertama ...

2. Memahami betul bahwa perbedaan adalah kehendak Allah Ta'ala

Allah berfirman:

وَلَوْ شَاءَ رَبُّكَ لَجَعَلَ النَّاسَ أُمَّةً وَاحِدَةً وَلَا يَزَالُونَ مُخْتَلِفِينَ (118) إِلَّا مَنْ رَحِمَ رَبُّكَ وَلِذَلِكَ خَلَقَهُمْ وَتَمَّتْ كَلِمَةُ رَبِّكَ لَأَمْلَأَنَّ جَهَنَّمَ مِنَ الْجِنَّةِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ (119)

Dan seandainya Tuhanmu kehendaki, niscaya Dia jadikan manusia itu umat yang satu, tetapi mereka senantiasa berselisih, kecuali yang dirahmati Tuhanmu, dan untuk itulah Dia menciptakan mereka” (QS. Hud: 118-119)

Ayat ini menerangkan salah satu masyiah(kehendak)Nya yaitu Dia ciptakan perbedaan di antara manusia. Baik perbedaan bahasa, warna kulit, watak, suku bangsa, agama, kebiasaan, pemahaman, madzhab pemikiran, dan sebagainya. Seandainya Allah   berkehendak tentu  mudah saja Dia jadikan  manusia sebagai umat yang satu.

Imam Ibnu Katsir Rahimahullah mengatakan:
ولا يزال الخُلْفُ بين الناس في أديانهم واعتقادات مللهم ونحلهم ومذاهبهم وآرائهم.

Senantiasa terjadi perselisihan di antara manusia pada agama mereka, keyakinan, millah, ajaran, madzhab, dan pendapat mereka. (Tasir Al Quran Al ‘Azhim, 4/361)

Bahkan menurut Imam Hasan Al Bashri, bahwa Allah menciptakan manusia untuk berbeda. Beliau –Rahimahullah- mengatakan:
وللاختلاف خَلَقهم
Dan untuk berselisih Allah menciptakan mereka. (Ibid, 4/362)

Maka, hakikat ini menunjukkan bahwa pemaksaan manusia atas manusia lainnya untuk mengikuti sebuah pemahaman, selera, pendapat fiqih, dan semisalnya, lalu bersikap keras terhadap adanya perbedaan tersebut, adalah bertentangan dengan sunatullah kehidupan yang Allah ciptakan atas makhlukNya. Selain hal itu juga bertentangan dengan prinsip da’wah Islam; sampaikan, jangan memaksa.

Allah berfirman:
أَفَأَنْتَ تُكْرِهُ النَّاسَ حَتَّى يَكُونُوا مُؤْمِنِينَ
    Maka apakah kamu (hendak) memaksa manusia, supaya mereka menjadi orang-orang  beriman semuanya ? (QS. Yunus: 99)

Bukan hanya manusia yang berbeda-beda dan berselisih, tapi juga makhluk Allah Ta'ala yang lain. Seperti para malaikat misalnya, bahkan para nabi, para sahabat, apalagi para ulama.

Perselisihan pendapat malaikat bisa kita lihat dalam Shahih Bukhari, pada zaman Bani Israel dulu ada pemuda yang membunuh 99 orang, lalu dia datang ke sebuah kampung untuk bertobat, lalu bertanya kepada penduduk setempat apakah ada orang yang bisa diajak konsultasi? maka dia ditunjukkan ke seorg ulama Bani Israel, lalu dia bertanya: "saya telah membunuh 99 org, apakah saya masih bisa diterima tobatnya?" Ulama itu menjawab: :Tidak!" Maka, marahlah pemuda itu dan dia bunuh itu ulama. daaaaann seterusnya ... pada tahu kan kisahnya? capek ngetik nih

Akhir kisah itu ada perselisihan malaikat azab dan malaikat rahmat, ttg masa depan pemuda itu surg atau neraka setelah perjalanan tobat dan menuju kampung org baik ..

jadi, kalo malaikat aja bisa berselisih apalagi, pengurus DKM, sidang itsbat, dll ..

Para nabi juga berselisih, baik dalam surat Thaha, al Baqarah, kisah perselisihan pendapat antara Nabi Musa dan Nabi Harun, juga Nabi Musa dan Nabi Khidr .. dst

Para sahabat nabi juga berselisih pendapat .. sangat banyak ..

Umar bin Abdul Aziz memiliki pandangan brilian tentang hal ini.
  “ما يسرني أن أصحاب رسول الله صلى الله عليه وسلم لم يختلفوا ، لأنهم لو لم يختلفوا لم يكن لنا رخصة .
  “Tidaklah membahagiakanku kalau para sahabat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tidak berbeda pendapat, karena jika mereka tidak berbeda, maka bagi kita tidak ada rukhshah (keringanan/kemudahan).” (Dr. Umar bin Abdullah Kamil, Ibid, hal. 38. Mauqi’ Al Islam)

Dalam Majmu’ Al Fatawa-nya Imam Ibnu Taimiyah, ucapan Umar bin Abdul Aziz agak lebih panjang, yakni ada tambahan:
لِأَن هُمْ إذَا اجْتَمَعُوا عَلَى قَوْلٍ فَخَالَفَهُمْ رَجُلٌ كَانَ ضَالًّا وَإِذَا اخْتَلَفُوا فَأَخَذَ رَجُلٌ بِقَوْلِ هَذَا وَرَجُلٌ بِقَوْلِ هَذَا كَانَ فِي الْأَمْرِ سَعَةٌ
Karena jika  mereka  bersepakat atas suatu pendapat, maka orang yang  berselisih dengan mereka akan tersesat. Namun jika mereka berbeda pendpat, lalu ada orang yang mengambil pendapat ini, ada orang lain yang mengambil pendapat yang lain. Maka ini adalah urusan yang sangat luas.” (Imam Ibnu Taimiyah, Majmu’ Al Fatawa, 30/80)

Ya, jika para sahabat selalu sepakat dalam segala hal, maka tidak tersisa peluang bagi generasi selanjutnya untuk berfikir sesuai zamannya. Sebab, mereka adalah teladan, namun kita akan kesulitan jika harus sama dengan mereka dalam segala hal. Dengan adanya perbedaan di antara sahabat, maka mereka telah menanamkan dan mencontohkan pemikiran dinamis bagi generasi selanjutnya.

Contoh:

1. Perbedaan dalam menyikapi tawanan perang badar. Abu Bakar berpendapat bebaskan saja dan minta uang tebusan, sedangkan Umar bin Khathab berpendapat bunuh saja. Padahal mereka sahabat nabi yang pali utama, dan berguru kepada "Guru Ngaji" yang sama, maka apalagi kita yang guru ngajinya beda-beda .. lebih mungkin terjadi perbedaan pendapat.

2. Perbedaan dalam memaknai pesan Nabi, "Jangan shalat ashar sebelum sampai di kampung yahudi Bani Quraidhah."

3. Perbedaan antara Abu Bakar dan Umar tentang witir, tidur dulu atau tidak. Umar memilih tidur dulu, sedangkan Abu Bakar tidak, dan keduanya dipuji oleh Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam.

dan masih banyak lagi

Belum lagi perbedaan yang dialami para ulama ... Imam Ibnul Mundzir mengatakan, ada 20 lebih pendapat tentang berapa jarak bolehnya shalat di qashar

Imam Ibnu Hajar mngatakan ada 15 pendapat berapa jumlah minimal jamaah shalat jumat baru bisa dijalankan

Imam Ibnu Hajar juga menjelaskan ada 40an pendapat tentang kapan datangnya "lailatul qadar", padahal malam bulan ramadhan hanya 29-30!!

Imam Ibnu Hajar Al Haitami dalam Kafur Ri'a menyebuntukan ada 11 pendapat tentang hukum nyanyian dan musik

Imam Ibnu katsir menyebuntukan ada 4 pendapat ttg wanita hamil/menyusui, fidyah atau qadha?

dan masih banyak lagi ..

tapiiii ...

Pembicaran ini bukan berarti kita membenarkan semua bentuk dan jenis perbedaan

karena perbedaan ada 2 macam, sebagaimana kita ambil pelajaran dr generasi salaf

1. Ikhtilaf tanawwu', perselisihan variatif, yaitu perbedaan dalam masalah cabang2 agama, atau rincian kaifiyat ibadah, kalau ini .. sikap kita toleran, menghargai, dan menghormati.

Imam Abu Nu’aim mengutip ucapan Imam Sufyan Ats Tsauri, sebagai berikut:
سفيان الثوري، يقول: إذا رأيت الرجل يعمل العمل الذي قد اختلف فيه وأنت ترى غيره فلا تنهه.
Jika engkau melihat seorang melakukan perbuatan yang masih diperselisihkan, padahal engkau punya pendapat lain, maka janganlah kau mencegahnya.” (Imam Abu Nu’aim Al Asbahany, Hilyatul Auliya’, 3/133)

ambil yang kita yakini, tapi jangan ingkari sauadara kita yang berbeda ..

Syaikh Dr. Umar bin Abdillah Kamil berkata:

لقد كان الخلاف موجودًا في عصر الأئمة المتبوعين الكبار : أبي حنيفة ومالك والشافعي وأحمد والثوري والأوزاعي وغيرهم . ولم يحاول أحد منهم أن يحمل الآخرين على رأيه أو يتهمهم في علمهم أو دينهم من أجل مخالفتهم .
Telah ada perselisihan sejak lama pada masa para imam besar panutan: Abu Hanifah, Malik, Asy Syafi’i, Ahmad, Ats Tsauri, Al Auza’i, dan lainnya. Tak satu pun mereka memaksa yang lain untuk mengubah agar mengikuti pendapatnya, atau melemparkan tuduhan terhadap keilmuan mereka, atau terhadap agama mereka, lantaran perselisihan itu.” (Dr. Umar bin Abdullah Kamil, Adab Al Hiwar wal Qawaid Al Ikhtilaf, hal. 32. Mauqi’ Al Islam)

Kita akan dapati, ternyata para Imam Ahlus Sunnah sangat bijak dalam menyikapi perbedaan produk ijtihad mereka. Baik ijtihad dalam masalah-masalah baru (ijtihad insya’i) atau dalam mentarjih yang sudah ada dari warisan fiqih Islam (ijtihad intiqa’i). Ada sebagian kecil kalangan yang bersikap keras terhadap masyarakat yang berbeda dengan pendapat dan pemahaman mereka.  Mereka posisikan diri dan pemahamannya sebagai standar kebenaran, sedangkan pendapat selain mereka adalah terdakwa yang mesti dihukum; salah, sesat, bid’ah, bahkan kafir. Padahal bisa jadi itu merupakan zona debatable para ulama Islam sejak masa salaf. Tapi disebabkan kekurangan referensi, serta kurang adab, membuat mereka bersikap keras, lidahnya menjulur melebihi akalnya. Akhirnya terjadilah fitnah di tengah manusia.

Imam An Nawawi memiliki pandangan yang jitu dalam menyikapi perbedaan di antara ulama, mana yang mesti disikapi keras dan mana yang ditolerir. Berkata Imam an Nawawi Rahimahullah:

وَمِمَّا يَتَعَلَّق بِالِاجْتِهَادِ لَمْ يَكُنْ لِلْعَوَامِّ مَدْخَل فِيهِ ، وَلَا لَهُمْ إِنْكَاره ، بَلْ ذَلِكَ لِلْعُلَمَاءِ . ثُمَّ الْعُلَمَاء إِنَّمَا يُنْكِرُونَ مَا أُجْمِعَ عَلَيْهِ أَمَّا الْمُخْتَلَف فِيهِ فَلَا إِنْكَار فِيهِ لِأَنَّ عَلَى أَحَد الْمَذْهَبَيْنِ كُلّ مُجْتَهِدٍ مُصِيبٌ . وَهَذَا هُوَ الْمُخْتَار عِنْد كَثِيرِينَ مِنْ الْمُحَقِّقِينَ أَوْ أَكْثَرهمْ . وَعَلَى الْمَذْهَب الْآخَر الْمُصِيب وَاحِد وَالْمُخْطِئ غَيْر مُتَعَيَّن لَنَا ، وَالْإِثْم مَرْفُوع عَنْهُ
Dan Adapun yang terkait masalah ijtihad, tidak mungkin orang awam menceburkan diri ke dalamnya, mereka tidak boleh mengingkarinya, tetapi itu tugas ulama. Kemudian, para ulama hanya mengingkari dalam perkara yang disepati para imam. Adapun dalam perkara yang masih diperselisihkan, maka tidak boleh ada pengingkaran di sana. Karena berdasarkan dua sudut pandang setiap mujtahid adalah benar. Ini adalah sikap yang dipilih olah mayoritas para ulama peneliti (muhaqqiq). Sedangkan pandangan lain mengatakan bahwa yang benar hanya satu, dan yang salah kita tidak tahu secara pasti, dan dia telah terangkat dosanya.” (Al Minhaj Syarh Shahih Muslim,  1/131. Mawqi’ Ruh Al Islam)

Jadi, yang boleh diingkari hanyalah yang jelas-jelas bertentangan dengan nash qath’i dan ijma’. Adapun zona debatable, maka tidak boleh saling menganulir.

Ketika membahas kaidah-kaidah syariat, Imam As Suyuthi berkata dalam kitab Al Asybah wa An Nazhair:
الْقَاعِدَةُ الْخَامِسَةُ وَالثَّلَاثُونَلَا يُنْكَرُ الْمُخْتَلَفُ فِيهِ ، وَإِنَّمَا يُنْكَرُ الْمُجْمَعُ عَلَيْهِ
Kaidah yang ke-35, “Tidak boleh ada pengingkaran terhadap masalah yang masih diperselisihkan. Seseungguhnya pengingkaran hanya berlaku pada pendapat yang bertentangan dengan ijma’ (kesepakatan) para ulama.” (Imam As Suyuthi, Al Asybah wa An Nazhair, Juz 1, hal. 285)

Saya benar-benar kagum dengan ulasan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berikut ini ... silahkan simak baik-baik

Pokok-pokok dari Al-Qur’an, As-Sunnah dan Ijma’ adalah seperti kedudukan agama yang dimiliki oleh para nabi. Tidak seorangpun yang boleh keluar darinya, dan barangsiapa yang masuk ke dalamnya maka ia tergolong kepada ahli Islam yang murni dan mereka adalah Ahlu Sunnah wal Jama’ah. Adapun bervariasinya amal dan perkataan dalam syariat adalah seperti keragaman syariat diantara masing-masing Nabi. Perbedaan ini terkadang bisa pada perkara yang wajib, terkadang bisa juga pada perkara yang sunnah.”

Beliau Rahimahullah berkata: “Sesungguhnya masalah-masalah rinci dalam perkara ushul tidak mungkin disatukan di antara kelompok orang. Karena bila demikian halny tentu tidak mungkin para sahabat, tabi’in, dan kaum salaf berselisih.” (Imam Ibnu Taimiyah, Majmu’ Al Fatawa,  6/ 56)

Katanya lagi: “Ketika perluasan aktifitas dan penganekaragaman furu’nya semakin dituntut maka sebagai akibatnya adalah munculnya perselisihan pendapat sesuai yang cocok jiwa masing-masing pembelanya.” (Imam Ibnu Taimiyah, Ibid, 6/58)

Ia juga berkata: “Adapun manusia yang cenderung kepada pendapat salah seorang imam atau syaikh sesuai ijtihadnya. Sebagaimana perbedaan mana yang lebih afdhal antara adzan dengan tidak adzan, dalam qamat ifrad (dibaca sekali) atau itsna (dibaca dua kali), shalat fajar itu di akhir malam atau di saat fajar, qunut subuh atau tidak, bismillah dikeraskan atau dipelankan, dan seterusnya, adalah merupakan masalah ijtihadiyah yang juga diperselisihkan para imam-imam salaf. Dan masing-masing mereka menetapkan keputusan ijtihad yang lain.” (Imam Ibnu Taimiyah, Ibid, Juz, 20./292)

Beliau juga berkata: “Ijtihad para ulama dalam masalah hukum itu seperti ijtihadnya orang yang menentukan arah kiblat. Empat orang melaksanakan shalat dan masing-masing orang menghadap kea rah yang berbeda dengan lainnya dan masing-masing meyakini bahwa kiblat ada di arah mereka. Maka shalat keempat orang itu benar adanya, sedangkan shalat yang tepat mengahdap kiblat, dialah yang mendapat dua pahala.” (Imam Ibnu Taimiyah, Ibid, Juz, 20/224)
Dia juga berkata: “Sedangkan perkataan dan amal yang tidak diketahui secara pasti (qath’i) bertentangan dengan Kitab dan Sunnah, namun termasuk lingkup perbincangan ijtihad para ahli ilmu dan iman, bisa jadi dianggap qath’i oleh sebagian yang lain yang telah mendapat cahaya petunjuk dari Allah Ta’ala. Namun demikian dia tidak boleh memaksakan pendapatnya itu kepada orang lain yang belum mendapatkan apa yang dia inginkan itu.” (Imam Ibnu Taimiyah, Ibid, 1/383-384)
Jadi, setelah anda mengakui satu pendapat fiqih yang benar, maka peganglah baik-baik, namun jangan paksakan kepada orang lain. Karena masalah ini sangat luas dan lentur terjadi perbedaan:
Sesungguhnya perbedaan mengenai pendalilan dari sebuah lafal dan penetapan salah satunya itu bagaikan samudera yang luas.” (Imam Ibnu Taimiyah, Raf’ul Malam, hal. 25)

kita lihat beberapa contoh sikap bijak para ulama Ahlus Sunnah ya ..

Imam Adz Dzahabi  Rahimahullah berkata tentang Yahya bin Ma’in:
قال ابن الجنيد: وسمعت يحيى، يقول: تحريم النبيذ صحيح، ولكن أقف، ولا أحرمه، قد شربه قوم صالحون بأحاديث صحاح، وحرمه قوم صالحون بأحاديث صحاح.

Berkata Ibnu Al Junaid: “Aku mendengar Yahya bin Ma’in berkata: “Pengharaman nabidz (air perasan anggur) adalah benar, tetapi aku no coment, dan aku tidak mengharamkannya. Segolongan orang shalih telah meminumnya dengan alasan hadits-hadits shahih, dan segolongan orang shalih lainnya mengharamkannya dengan dalil hadits-hadits yang shahih pula.” (Imam Adz Dzahabi, Siyar A’lam an Nubala, Juz. 11, Hal. 88. Mu’asasah ar Risalah, Beirut-Libanon. Cet.9, 1993M-1413H)

Diceritakan dari Imam Ahmad bin Hambal tentang shalat sunah setelah Ashar, beliau berkata:
لا نفعله ولا نعيب فاعله
Kami tidak melakukannya tapi kami tidak juga menilai aib orang yang melakukannya. (Al Mughni, 2/87, Syarhul Kabir, 1/802)

Ingat ya .. yang kita bahas bukan mana pendapat yang paling kuat, .. tapi adab dan etika dalam menyikapi perbedaan pendapat itu

Dalam masalah qunut subuh ..Imam Ahmad bin Hambal termasuk yang membid’ahkan qunut dalam subuh, namun Beliau memiliki sikap yang menunjukkan ketajaman pandangan, keluasan ilmu, dan kedewasaan bersikap. Hal ini dikatakan oleh Al ‘Allamah Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin Rahimahullah sebagai berikut:
فقد كان الإمام أحمدُ رحمه الله يرى أنَّ القُنُوتَ في صلاة الفجر بِدْعة، ويقول: إذا كنت خَلْفَ إمام يقنت فتابعه على قُنُوتِهِ، وأمِّنْ على دُعائه، كُلُّ ذلك مِن أجل اتِّحاد الكلمة، واتِّفاق القلوب، وعدم كراهة بعضنا لبعض.
Adalah Imam Ahmad Rahimahullah berpendapat bahwa qunut dalam shalat fajar (subuh) adalah bid’ah. Dia mengatakan: “Jika aku shalat di belakang imam yang berqunut, maka aku akan mengikuti qunutnya itu, dan aku aminkan doanya, semua ini lantaran demi menyatukan kalimat, melekatkan hati, dan menghilangkan kebencian antara satu dengan yang lainnya.” (Syaikh Ibnu ‘Utsaimin, Syarhul Mumti’, 4/25. Mawqi’ Ruh Al Islam)

Imam Sufyan Ats Tsauri Radhiallahu ‘Anhu, sebagaimana dikutip Imam At Tirmidzi sebagai berikut:
قَالَ سُفْيَانُ الثَّوْرِيُّ إِنْ قَنَتَ فِي الْفَجْرِ فَحَسَنٌ وَإِنْ لَمْ يَقْنُتْ فَحَسَنٌ
Berkata Sufyan Ats Tsauri: “Jika berqunut pada shalat subuh, maka itu bagus, dan jika tidak berqunut itu juga bagus.” (Lihat Sunan At Tirmidzi, keterangan hadits No. 401)

Syaikh Ibnu Al ‘Utsaimin Rahimahullah ditanya:
عندنا إمام يقنت في صلاة الفجر بصفة دائمة فهل نتابعه ؟ وهل نؤمن على دعائه ؟
Kami memiliki imam yang berqunut pada shalat subuh yang melakukannya secara terus menerus, apakah kami mesti mengikutinya? Dan apakah kami mesti mengaminkan doanya?
Beliau menjawab:
من صلى خلف إمام يقنت في صلاة الفجر فليتابع الإمام في القنوت في صلاة الفجر ، ويؤمن على دعائه بالخير ، وقد نص على ذلك الإمام أحمد رحمه الله تعالى
Barangsiapa yang shalat di belakang imam yang berqunut pada shalat subuh, maka hendaknya dia mengikuti imam berqunut pada shalat subuh, dan mengaminkan doanya dengan baik. Telah ada riwayat seperti itu dari Imam Ahmad Rahimahullah. (Syaikh Ibnu Al ‘Utsaimin, Majmu’ Fafatwa, 14/177)

dan masih banyak lainnya ...

Perbedaan jenis kedua adalah ikhtilaf tadhdhadh (perselisihan kontradiktif atau antagonis) ..

apa itu? perselisihan dalam perkara ushuluddin .. dasar2 agama

seperti masalah ketuhanan, kenabian, al quran, rukun Islam, rukun Iman, syahadat .. maka jika ada yang menyelisihi ini, maka ini perbedaan tercela yang mesti disikapi tegas, iqamatul hujjah agar mereka kembali ke jalan yang benar ..

seperti dengan Ahmadiyah, Inkar sunnah, Rafidhah, dan semisalnya ..

Meyakini Al Quran dari Allah Ta'ala adalah prinsip aqidah, rukun iman ke 3, .. tapi tidak meyakini BIsmillahirrahmanirrahim sebagai bagian dari Al Fatihah adalah Fiqih ..., di mana ada 3 pendapat fuqaha dalam masalah ini

Toyyib, segini dulu ya ... cukup 2 point aja: 1. ikhlas dalam bependapat, 2. meyakini perbedaan pasti ada, dan derivat pembahasannya tadi.

wallahul Hadi ilaa sawaa as sabil ...

Ada 7 point sebnernya, tapi ini suda cukup ... cukup melelahkan juga ..

Farid Nu'man Hasan

TANYA JAWAB

Q : Ust. Bagaimana dengan tipe orang yang mengajak diskusi tapi tidak memberi kesempatan teman diskusinya untuk sekedar meluruskan apa yang salah dari pemahaman orang tsb? Sehingga ia hanya mengutarakan kekesalan pada hal-hal yang ia belum tentu ada kebenarannya..padahal yang namanya diskusi kan saling mendengarkan dan memberi kesempatan temannya untuk berbicara
A : Manusia memang beragam dalam berdiskusi. Ada yang saling berbagi ilmu dan lapang dada. Ada yang hanya bisa menyalahkan, dan mngkritik, tp tidak mau disalahkan dan dikritik.
Al Quran mengajarkan jika menghadapi orang keras kepala:
Lana a'maluna wa lakum a'malukum la hujjata nainana wa bainakum laa nabtaghil jaahiliin - amal saya milik saya, amal anda milik anda, di antara saya dan anda tidak ada permusahan, dan saya tidak butuh org2 bodoh
Jadi, tinggalkan saja jika berdiskusi dengan orang yang keras kepala. Wallahu a'lam

Q : Ust, bagaimana menghadapi karakter teman yang sering "membunuh karakter" di depan forum jika kita menyampaikan pandangan lain dalam hal yang sudah dia sampaikan sebelumnya. Sebagai contoh: waktu itu si A mengajak acara ruqyah dalam grup. kemudian si B lainnya hanya menyampaikan artikel kajian orang mengenai ruqyah tersebut, yakni lebih baik dihindari kecuali memang ada sebab-sebab syar'i seperti sakit. Tetapi si A langsung mengkonfrontasi di depan forum. Dan dalam kasus lainnya juga demikian padahal tujuan teman bisa saja adalah untuk menambah wawasan dan pandangan, supaya lebih berilmu dlm beramal.  Bagaimana adabnya sebaiknya jika berada dlm situasi ini ya ustadz?
A : Dalam hidup berkomitas, ada 3 sikap yang mesti kita siapkan:
1. Memahami mereka
2. Memaklumi mereka
3. Memaafkan mereka
Di mana pun kita berada, tanpa ada 3 sikap ini, pasti tidak ada yang betah dan cocok. Maka kitalah yang menyesuaikan idealita menjadi realita.
Termasuk dengan orang-orang yang senang menshare hal-hal sensitif, lalu ada tanggapan skeptis, yang akhirnya debat tak berujung. Berikan lapang dada yang luas kepada saudara kita dengan model seperti ini. Klarifikasi secukupnya. Tinggalkan jika komennya semakin panas.

Wallahu a'lam


Alhamdulillah, kajian kita hari ini berjalan dengan lancar. Semoga ilmu yang kita dapatkan berkah dan bermanfaat. Aamiin....

Segala yang benar dari Allah semata, mohon maaf atas segala kekurangan. Baikloah langsung saja kita tutup dengan istighfar masing-masing sebanyak-banyakanya dan do'a kafaratul majelis:


سبحانك اللهم وبحمدك أشهد ان لا إله إلا أنت أستغفرك وآتوب إليك

Subhanakallahumma wabihamdika asyhadu allaailaaha illa anta astaghfiruka wa atuubu ilaika

“Maha Suci Engakau ya Allah, dengan memuji-Mu aku bersaksi bahwa tiada sesembahan yang haq disembah melainkan diri-Mu, aku memohon pengampunan-Mu dan bertaubat kepada-Mu.”



Thanks for reading & sharing Kajian On Line Hamba اللَّهِ SWT

Previous
« Prev Post

0 comments:

Post a Comment

Ketik Materi yang anda cari !!