Tujuan utama dari pelaksanaan Grup ini, semata-mata hanya untuk mencari Ridho اللّهُ SWT. Terus semangat belajar dan berbagi ilmu sampai ke liang lahat demi menjadi Hamba Allah SWT yang Kaffah

BELANJA BARAKAH

 Kajian Online WA  Hamba الله SWT

Selasa, 7 Maret 2017
Rekapan Grup Bunda G5  (Sayda)
Narasumber : Ustadzah Lulu
Tema : Fiqh
Editor : Rini Ismayanti



Dzat yang dengan Kebesaran-Nya, seluruh makhluk menyanjung dan mengagungkan-Nya...
Dzat yang dengan Keperkasaan-Nya, musuh-musuh dihinakan lagi diadzab-Nya...
Dzat yang dengan Kasih dan Sayang-Nya, kita semua mampu mengecap manisnya Islam dan indahnya ukhuwah di jalan-Nya, memadukan hati kita dalam kecintaan kepadaNya, yang mempertemukan kita dalam keta'atan kepadaNya, dan menghimpunkan kita untukuk mengokohkan janji setia dalam membela agamaNya.

AlhamduliLlah... tsumma AlhamduliLlah...

Shalawat dan salam semoga tercurah kepada tauladan kita, Muhammad SAW. Yang memberi arah kepada para generasi penerus yang Rabbaniyyah bagaimana membangkitkan ummat yang telah mati, memepersauntukan bangsa-bangsa yang tercerai berai, membimbing manusia yang tenggelam dalam lautan sayaahwat, membangun generasi yang tertidur lelap dan menuntukun manusia yang berada dalam kegelapan menuju kejayaan, kemuliaan, dan kebahagiaan.

Amma ba'd...
Ukhti fillah sekalian. Agar ilmunya barokah, maka alangkah indahnya kita awali dengan lafadz Basmallah

Bismillahirrahmanirrahim...                       


BELANJA BARAKAH


Air, bila terlalu lama tergenang akan menimbulkan bau. Atau banyak kuman bersarang.

Demikian pula dengan uang. Ia ibarat air. Bila terlalu lama disimpan, akan menjamur. Atau akan menyebabkan sakit hati: hubbu al maal (cinta harta) dan bakhil.

Air yang mengalir dengan lancar tetap jernih. Potensi penyakit mengecil. Begitu pula dengan uang. Bila terus dialirkan akan menyehatkan. Itulah makna tadawul (perputaran) yang menjadi tujuan penciptaan harta.

Uang harus berputar (flow concept). Islam menetapkan aturan yang menjamin perputaran itu. Ada larangan dan ada perintah. Islam melarang segala perilaku yang menghambat perputaran uang. Dan Islam memerintah segala tindakan yang mendorong perputaran uang.

Islam melarang praktik kanz: menimbun, menarik uang dari peredaran, atau enggan mengeluarkan zakat (lihat Al Taubah: 34). Islam juga melarang praktik takatsur (menumpuk harta dan enggan membelanjakannya). Al Quran juga melarang praktik jama`a maalan wa `addadahu, yaitu mengumpulkan dan menghitung-hitung harta serta mengira harta akan mengekalkan hidupnya.

Islam mendorong konsumsi dalam batas-batas tertentu, karena konsumsi bisa memutar harta. Islam mewajibkan donasi (zakat) serta mendorong berderma secara suka rela (sunnah). Karena donasi, baik yang wajib atau sunnah, bisa memutar harta. Islam memerintah investasi untuk mengembangkan harta dan kekayaan.

Sebuah buletin lama pernah memuat cerita. Tentang seorang pedagang. Si pedagang tiap kali menerima pembayaran, ia memasukkannya ke dalam kaleng-kaleng yang berbeda. Saat ditanya mengapa uang-uang pembayaran dibedakan kalengnya?

Si pedagang menjawab: “Uang di kaleng 1 untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Di kaleng 2 akan diputar lagi untuk dagang. Di kaleng 3 untuk sedekah dan tabungan haji”.

Cerita di atas mirip dengan kisah dalam hadits shahih riwayat Muslim: “Seseorang berjalan di tempat sunyi. Tiba-tiba terdengar suara yang memerintah mendung agar mencurahkan hujan di ladang si fulan. Orang itu mengikuti gerakan mendung dan melihat hujan turun. Air mengalir di parit kecil menuju sebuah ladang. Ia melihat seorang peladang mengalirkan air ke tanaman-tanaman.

 Musafir: “Wahai hamba Allah, siapa nama anda?”

Peladang: “Nama saya fulan. Mengapa anda menanyakan nama saya?”

 Musafir: “Saya mendengar suara memerintah mendung mengguyurkan hujan di ladang anda. Apa rahasianya?”

Peladang: “Bila panen, saya membagi hasil panen menjadi tiga. Sepertiga saya gunakan untuk keperluan keluarga, sepertiga saya sedekahkan, dan sepertiga saya gunakan untuk mengelola ladang.”

Demikian belanja muslim. Belanja barakah dengan alokasi yang jelas. Ada belanja material untuk konsumsi keluarga. Ada belanja sosial berupa donasi bagi fuqara dan masakin. Ada belanja spiritual untuk biaya ibadah. Dan ada belanja investasi untuk memakmurkan bumi dan menggerakkan ekonomi.

Wallahu a`lam bissawab

TANYA JAWAB

Q : Ustadzah mau tanya,,,, yang kita ketahui Zakat ada 2 macam,,nah selain Zakat fitrah ad Zakat maal yang didalam Zakat maal ad salah satunya ada Zakat hasil tanaman/ tumbuh an,,
Pertanyaan nya,,,berapakah nisab untuk zakat Tanaman/ tumbuhan,,,,? Dihitung berdasarkan persentase pendapat atau dihitung nisab dalam  pertahun... Karena yang saya pahami selama ini yang banyak dilakukan itu Zakat profesi,,Zakat harta,,,...mhn pencerahannya Ustadzah.. jazakillah khairan katsir...
A : Landasan Hukum
Firman Allah:
“Dan Dialah yang menjadikan kebun-kebun yang berjunjung dan yang tidak berjunjung, pohon korma, tanam-tanaman yang bermacam-,macam buahnya, zaitun dan delima yang serupa (bentuk dan warnanya) dan tidak sama (rasanya) Makanlah dari buahnya (yang bermacam-macam itu) bila berbuah. Dan tunaikanlah haknya (zakatnya) di hari memetiknya”. (Q S, 6 : 141).

As Sunnah: Dari Jabir, Nabi bersabda:

“Yang diairi oleh sungai dan hujan 10% sedangkan yang diairi dengan pengairan 5 %”. Hasil ijma’  ulama.

Nishab dan Tarif

Dari Jabir, dari Rasulullah saw ” Tidak wajib bayar zakat pada kurma yang kurang dari 5 ausuqâ”(HR Muslim).

Dari hadist ini dijelaskan bahwa nishab zakat pertanian adalah 5 ausuq;Ausuq jamak dari wasaq, 1 wasaq = 60 sha’, sedangkan 1 sha’ = 2,176 kg, maka 5 wasaq adalah 5 x 60 x 2,176 = 652,8 kg.

Kadar zakat yang harus dikeluarkan:

jika diairi oleh hujan atau sungai 10 %, danjika diairi oleh pengairan 5 %

Zakat pertanian dikeluarkan saat menerima hasil panen.

Syarat Zakat Pertanian

Islam
Merdeka
Sempurna Milik
Cukup nisab
Tanaman tersebut adalah makanan asasi yang tahan disimpan lama.
Tanaman tersebut adalah hasil usaha manusia dan bukannya tumbuh sendiri seperti tumbuh liar, dihanyuntukan air dan sebagainya.

Nishab Hasil Bumi yang Tidak Diliter

Nishab 5 ausuq adalah bagi hasil bumi yang dapat diukur dengan takaran tersebut.Adapun bagi hasil bumi yang tidak dapat diliter, menurut Dari Yusuf Qordhowi, nishabnya sama dengan nilai 653 kg hasil bumi yang berharga (seperti padi atau gandum).


Q : Assalamualaikum ustadzah mau tanya zkat penghasilan...contoh saya belanja 500 ribu di jual ketengan menjadi 750 yang di keluarin zakat berapa ustadzah ?
A : Ada ulama yang mensyaratkan dari penghasilan kotor yaitu 750. Ada yang mensyaratkan dari penghasilan bersih. Untuk kehati-hatian dalam membersihkan harta dari penghasilan kotor lebih baik

Q : Bagaimana dengan gaji perbulan ustadzah? Haruskah keluarkan zakat? Lalu bagaimana dengan shodaqoh subuh yang dilakukan, dapatkah mengganti zakat penghasilan?
A : Bila gaji per bulan sudah mencapai nishob yaitu total pengasilan 1 th senilai 85 gr emas dan sudah sampai 1 th, maka setiap bulannya bisa langsung dipotong 2.5% nya. Shadaqah dan zakat secara hukum nya saj beda. Shadaqah hukumnya sunnah, zakat hukumnya wajib. Sehingga shadaqah tidak bisa menggantikan zakat

Q : Saya masih kurang paham dengan penjeladan ini ustzh, bisa dijeladkan lagi?
A : Zakat itu hukumnya wajib bila memenuhi syarat nishab (misal untuk zakat maal dan penghasilan sudah senilai 85gram emas) dan haul (sudah 1 th). Kalau sudah terpenuhi nishab dan haul, maka zakat wajib dikeluarkan, ga boleh tidak. Sementara shadaqah hukumnya sunnah. Ga harus keluar, tapi kalau kita keluarkan shadaqah maka mendapat pahala tsendiri dari Allah swt. Untuk shadaqah ga dibatasi jumlah dan waktu ....

Q : Tanya Ustadzah bila ada seseorang yang blum punya rumah dan masih memiliki utang apa boleh terima zakat ?sedangkan  penghasilan cukup/cukup buat makan sekluarga. kalau ada kelebihan cuma sedikit.
A : Jika memang dia memiliki banyak hutang, dan tidak bisa penuhi kebutuhan sehari-hari secara normal, maka dia termasuk dalam kategori berhak terima zakat. Tapi diingatkan, disupport, supaya dia tetap berupaya keras lunas hutang

Q : Assalamu'alaikum ustdazah  Tiap bulan, insyaalloh saya tlah membayar zakat ma'al (penghasilan dari profesi) sebesar 2,5 persen dari jumlah penghasilan saya. Lalu sisanya saya membeli emas, sedikit-sedikit setiap bulannya. Pertanyaan saya, apakah saya masih wajib membayar  zakat perhiasan, jika saya tlah membayar zakat ma'al profesi. Mohon pencerahannya ustadzah
A : Kalau emasnya dipake sbg perhiasan, dia sudah termasuk dalam zakat maal. Kalau disimpan berupa emas lantakan, maka wajib zakat kalau sudah 85 gram dan kepemilikannya sudah 1 th

Q : Bolehkah kita tidak memeberikan pinjaman uang kepada orang yang meminjam,..kalau kita tidak percaya kepadanya??
A : Boleh. Apalagi kalau memang tbukti dia tidak amanah. Akan tetapi bila kita tahu dia memang dalam kondisi sulit,  maka brg siapa yang meringankan beban saudaranya, Allah swt akan meringankan bebannya

Q : Bunda, bagaimana kiat menagih hutang? kadang pinjamnya gampang Tapi bayarnya susah...
A : Kiat tagih hutang :
1. Niatkan untuk meringankan orang yang berhutang. Karena bila ga ditagih, akan beratkan dia di akhirat
2. Liat waktu luang orang tsb. Luang dalam arti orangnya lagi senang, atau sdg dapat rejeki banyak, dll.
3. Apapun kondisinya, tetap gunakan bahasa yang baik
4. Bila sampai berkali-kali ditagih tidak mau bayar, maka lebih baik diikhlaskan saja dengan mengharap balasan dari Allah swt saja sembari.mendoakan orang yang berhutang semoga mendapat hidayah dari Allah swt
Tapi jangan sampai membuat kita pelit ya .... lakukan karena Allah swt saja

Q : ustadzah mau nanya, ada temen yang bpjs banget, jadi dia beli sesuatu bukan karena kebutuhan tapi karena keinginan. nah masalahnya, sampai dia hutang termasuk ke saya. janjinya setiap bulan dia mencicil, tapi kenyataan dan seringnya selalu telat. bahkan kadang saya yang nalangi dulu. dibelain buat perawatan, kawat gigi, beli ini beli itu tapi hutang dimana-mana. udah saya sarankan mbok mending ada yang dijual buat nutup hutangnya. dia jawab gak mau, karena gak enak, gengsi katanya. duhh...kalo saya mending hidup tenang ketimbang makan gengsi . saya sebagai temennya hrsnya gimana ustadzah ? gak enak tiap bulan disindir-sindir suami karena nalangi temen saya itu
A : Waduh, nalangin gaya hidup orang lain dunk !! Hati-hati suami ga ridlo. Jadi apa kita kalau suami ga ridlo ? Bilang saja amanah  suami untuk menagih supaya uangnya segera keluar. Kalau dia ngotot gengsi, bilang terang-terangan, situ yang punya gengsi kenapa orang lain jadi korban ? Sepertinya lebih mudah kondisikan suami. Minta maaf sama suami, ini adalah khilaf. Apakah yang dipinjamkan uang dari suami ? Apa sudah ijin ke suami ? Minta suami supaya bersabar. Minta suami ridlo kan kesalahan ibu, dan sampaikan apa jadinya kita bila ternyata Allah swt panggil kita dan suami ga ridlo ?
Q : Orangnya ndableg ustadzah, kadang gonduk juga. kalo diingatkan, awal bulan harus bayar, alasannya macem-macem, ada yang bapaknya sakit lah, ada yang anaknya ultah lah, dlsb. nah giliran punya uang malah buat foya-foya, sakit hati juga saya dikayak gituin
A : Sejak awal ibu sudah tahu kalau uangnya bukan untuk kebutuhan mendesak ?
Q : Kalo kata temen-temennya sih emg orang nya begitu, kerja aja disambi ustadzah sampai terakhir dipanggil sama atasannya karena sering keluar gak jelas. kalo waktu bilang ke saya karena hp nya rusak , jd buat beli hp
A : Bukan kebutuhan primer itu. Jadi bu, dijalani saja resikonya  tapi yang utama minta ridlo suami

Q : Ustdz, berapa nishabnya zakat maal? Apakah digabung dengan perhiasan yang dipakai sehari-hari?
A : Setara dengan 85 gram emas. Ya masuk dalam gabungan zakat maal. Tapi sebagian ulama mengisyaratkan perhiasan yang dipake tidak ada zakatnya. Kalau emas lantakan ada. Asal sudah haul 1 th ya. Untuk kehati2an masukkan zakat maal saja
Q : Pertahun ya, misal penghasilan 3 JT/bln , setelah dikurangi kebutuhan, atau gimana, klo untuk kebutuhan sehari-hari masih kurang, bolehkah zakatnya berhutang?
A : Yaa bu hitung 1 th. Misal harga emas sekarang 500rb. Kalikan 85gr. Jadinya 42.500.000. Kalau gaji per bulan 3jt, selama setahun masih belum mencapai nishob bu, 36jt. Jadi tidak wajib zakat. Akan tetapi boleh untuk melatih diri dikeluarkan shadaqah atau infak sejumlah zakat, 2.5%. Boleh lebih, boleh kurang. Kalau sudah mencapai nishob, lebih baik zakatnya dihitung sebelum dikurangi kebutuhan untuk lebih hati-hati. Karena kalau kebutuhan ga ada cukupnya ya bu ... nanti ga berzakat kita karena merasa kurang terus. Ga ada zakat hutang ya bu

Q : Saya pernah dengar, kalo harta yang nganggur itu harus dizakati dan zakatnya juga lebih besar daripd zakat usaha. nah, ayah saya islam tapi abangan, trus punya tanah lumayan luas yang harga jualnya sekarang sudah tinggi, itu gimana ya ustadzah, harus di zakati enggak ya?
kemudian, ibu saya , dia nasrani, punya rumah juga, dan rumah itu nganggur, gimana ya ustadzah, apakah perlu dizakati gak ya ?
A : Tanahnya wajib zakat. Bapak muslim to ?
Q : Iya ustadzah , trus kalo wajib zakat, hitungannya gimana ustadzah ? kalo yang rumah milik ibu saya , apakah wajib zakat juga ?
A :  Zakat atas tanah dikeluarkan oleh
 ketika tanahnya dijual. Tapi sepanjang masih belum dijual tidak wajib zakat. Q : Kalo buat usaha brati zakat usaha aja ya ustadzah ?
A : Zakat itu temasuk rukun islam. Jadi wajib bagi muslim. Jika rumah atas nama ibu yang non muslim, maka tidak wajib zakat. Jika sudah diambil alih oleh anak2nya yang muslim maka wajib dizakati bila.digunakan dalam aktivitas bisnis atau bila dijual..masuk zakat maal bisa juga

Q : Tanya ustadzah, bolehkah berqurban, tapi kondisi masih berhutang KPR?
A : Boleh. Tapi lebih utama hutang KPR nya dilunasi dulu. Biar hidup berkah

Q : Apa hukumnya membeli barang KW, seperti tas, onderdil kendaraan bermotor? Mubah atau bagaimana ustadzah?  KW maksudnya meniru label dagang perusahaan lain. Kan sekarang sedang marak tas tas berlabel merk terkenal yang harganya sampai jutaan, tapi ada yang jual harga ratusan ribu, produsennya lokal tapi pake merk dagang perusahaan lain. Gt ustadzah, gimana hukumnya membeli barang spt itu?
A : Gak cuma tas, ada juga kosmetik. Selama tidak diakui sebagai ori, silahkan saja. Dan tidak membahayakan kesehatan

Q : Dikantor ada program pentasyarufan zakat. zakatnya diambil dari pegawai seluruh kantor. nah, pada awal-awal, yang dapat bantuan emang benar-benar yang membutuhkan, jadi diseleksi beneran, trus kok makin lama makin membengkak. nah pada thn kemarin itu sampai bapak walikota bilang, kalo yang mendapatkan zakat tahun depan harus bisa lebih baik lagi sehingga tidak setiap tahun diberi zakat. tapi pada kenyataannya, seringkali pentasyarufan zakat itu seperti dijagakne, kebetulan saya juga ngurusin upz juga. nah pada tahun ini penerima zakatnya dibatasi, nah yang gak dapat pada protes, udah saya jelasin kalo zakat itu sifatnya membantu orang yang bener-bener gak mampu, lha kalo masih bisa kerja kan brati masih mampu kan ? tapi orangnya gak terima. kek gitu gimana ustadzah, apakah penerima zakat itu harusnya lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya , dan juga apakah benar tindakan jagakne zakat untuk sekolah anak itu ?
A : Ya yang terima zakat harus sesuai dengan kriteria yang berhak terima zakat seperti : fakir, miskin, yatim, amil, fii sabilillah dll ... ga boleh karena urusan suka atau tidak suka. Hati-hati, dosanya bisa jatuh pada yang terima zakat tapi ga berhak, dan pengelolanya juga..


Alhamdulillah, kajian kita hari ini berjalan dengan lancar. Semoga ilmu yang kita dapatkan berkah dan bermanfaat. Aamiin....

Segala yang benar dari Allah semata, mohon maaf atas segala kekurangan. Baikloah langsung saja kita tutup dengan istighfar masing-masing sebanyak-banyakanya dan do'a kafaratul majelis:


سبحانك اللهم وبحمدك أشهد ان لا إله إلا أنت أستغفرك وآتوب إليك

Subhanakallahumma wabihamdika asayahadu allaailaaha illa anta astaghfiruka wa atuubu ilaika


“Maha Suci Engkau ya Allah, dengan memuji-Mu aku bersaksi bahwa tiada sesembahan yang haq disembah melainkan diri-Mu, aku memohon pengampunan-Mu dan bertaubat kepada-Mu.”