Ketik Materi yang anda cari !!

Home » , » JIKA ILMU MAKIN LUAS SIKAP MAKIN LUWES

JIKA ILMU MAKIN LUAS SIKAP MAKIN LUWES

Posted by Kajian On Line Hamba اللَّهِ SWT on Monday, March 20, 2017

Kajian Online WA  Hamba الله SWT

Senin, 20 Maret 2017
Rekapan Grup Nanda 2
Narasumber : Ustadz Doli
Tema : Kajian Umum
Editor : Rini Ismayanti



Dzat yang dengan Kebesaran-Nya, seluruh makhluk menyanjung dan mengagungakan-Nya...
Dzat yang dengan Keperkasaan-Nya, musuh-musuh dihinakan lagi diadzab-Nya...
Dzat yang dengan Kasih dan Sayang-Nya, kita semua mampu mengecap manisnya Islam dan indahanyaa ukhuwah di jalan-Nya, memadukan hati kita dalam kecintaan kepadaNya, yang mempertemukan kita dalam keta'atan kepadaNya, dan menghimpunkan kita untuk mengokohkan janji setia dalam membela agamaNya.

AlhamduliLlah... tsumma AlhamduliLlah...

Shalawat dan salam semoga tercurah kepada tauladan kita, Muhammad SAW. Yang memberi arah kepada para generasi penerus yang Rabbaniyyah bagaimana membangakitkan ummat yang telah mati, memepersatukan bangsa-bangsa yang tercerai berai, membimbing manusia yang tenggelam dlm lautan syahwat, membangun generasi yang tertidur lelap dan menuntun manusia yang berada dalam kegelapan menuju kejayaan, kemuliaan, dan kebahagiaan.

Amma ba'd...
Ukhti fillah sekalian. Agar ilmunya barokah, maka alangakah indahanyaa kita awali dengan lafadz Basmallah

Bismillahirrahmanirrahim...           

JIKA ILMU MAKIN LUAS SIKAP MAKIN LUWES
by AH-lc

Kalau pengamalan berdasarkan ilmu, wawasan jadi luas, sikap jadi luwes, kelakuan ga bikin gemes…..

Perhatikan pandangan Syaikhul Islam Ibnu Taimiah menyikapi sejumlah perbedaan pendapat…

وَكَذَلِكَ إذَا اقْتَدَى الْمَأْمُومُ بِمَنْ يَقْنُتُ فِي الْفَجْرِ , أَوْ الْوِتْرِ , قَنَتَ مَعَهُ . سَوَاءٌ قَنَتَ قَبْلَ الرُّكُوعِ , أَوْ بَعْدَهُ , وَإِنْ كَانَ لا يَقْنُتُ , لَمْ يَقْنُتْ مَعَهُ .
وَلَوْ كَانَ الإِمَامُ يَرَى اسْتِحْبَابَ شَيْءٍ , وَالْمَأْمُومُونَ لا يَسْتَحِبُّونَهُ , فَتَرَكَهُ لأَجْلِ الاتِّفَاقِ وَالائْتِلافِ : كَانَ قَدْ أَحْسَنَ .

مِثَالُ ذَلِكَ الْوِتْرُ فَإِنَّ لِلْعُلَمَاءِ فِيهِ ثَلاثَةَ أَقْوَالٍ : أَحَدُهَا : أَنَّهُ لا يَكُونُ إلا بِثَلَاثٍ مُتَّصِلَةٍ . كَالْمَغْرِبِ : كَقَوْلِ مَنْ قَالَهُ مِنْ أَهْلِ الْعِرَاقِ . وَالثَّانِي : أَنَّهُ لا يَكُونُ إلا رَكْعَةً مَفْصُولَةً عَمَّا قَبْلَهَا , كَقَوْلِ مَنْ قَالَ ذَلِكَ مِنْ أَهْلِ الْحِجَازِ . وَالثَّالِثُ : أَنَّ الأَمْرَيْنِ جَائِزَانِ , كَمَا هُوَ ظَاهِرُ مَذْهَبِ الشَّافِعِيِّ وَأَحْمَدَ وَغَيْرِهِمَا , وَهُوَ الصَّحِيحُ . وَإِنْ كَانَ هَؤُلاءِ يَخْتَارُونَ فَصْلَهُ عَمَّا قَبْلَهُ ,
فَلَوْ كَانَ الإِمَامُ يَرَى الْفَصْلَ , فَاخْتَارَ الْمَأْمُومُونَ أَنْ يُصَلِّيَ الْوِتْرَ كَالْمَغْرِبِ فَوَافَقَهُمْ عَلَى ذَلِكَ تَأْلِيفًا لِقُلُوبِهِمْ كَانَ قَدْ أَحْسَنَ ,

 كَمَا قَالَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم لِعَائِشَةَلَوْلا أَنَّ قَوْمَك حَدِيثُو عَهْدٍ بِجَاهِلِيَّةٍ لَنَقَضْت الْكَعْبَةَ , وَلأَلْصَقْتهَا بِالأَرْضِ ; وَلَجَعَلْت لَهَا بَابَيْنِ , بَابًا يَدْخُلُ النَّاسُ مِنْهُ , وَبَابًا يَخْرُجُونَ مِنْهُ  .

فَتَرَكَ الأَفْضَلَ عِنْدَهُ ; لِئَلا يَنْفِرَ النَّاسُ " اهـ .

Demikian pula halnya, jika makmum mengikuti imam yang qunut dalam shalat Fajar (Shubuh) atau Witir, hendaknya dia qunut bersamannya. Apakah qunutnya sebelum ruku atau sesudahnya. Jika imamnya tidak qunut, hendaknya dia tidak qunut sepertinya.

Seandainya imam berpendapat sunahnya sebuah amalan, sedangkan makmumnya berpendapat tidak sunah, meninggalkannya dengan tujuan untuk menyatukan hati dan persatuan adalah lebih baik. Misalnya adalah, para ulama memiliki tiga pendapat dalam shalat witir;

Pertama; Dilakukan tiga rakaat secara bersambung, seperti shalat Maghrib seperti pendapat warga Irak.

Kedua; Ada satu rakaat yang harus terpisah dari rakaat sebelumnya. Seperti pendapat penduduk Hijaz.

Ketiga; Kedua praktek tersebut dibolehkan, sebagaimana tampak dalam mazhab Syafii, Ahmad dan selain keduanya. Inilah yang benar.

Seandainya imam berpendapat shalat witir harus dipisah sementara para makmumnya berpendapat bahwa shalat Witir harus disambung seperti shalat Maghrib, lalu imam shalat sesuai pendapat mereka untuk menyatukan hati, maka dia telah bersikap baik.

 Sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam kepada Aisyah

لَوْلا أَنَّ قَوْمَك حَدِيثُو عَهْدٍ بِجَاهِلِيَّةٍ لَنَقَضْت الْكَعْبَةَ , وَلأَلْصَقْتهَا بِالأَرْضِ ; وَلَجَعَلْت لَهَا بَابَيْنِ , بَابًا يَدْخُلُ النَّاسُ مِنْهُ , وَبَابًا يَخْرُجُونَ مِنْهُ

Seandainya kaummu bukanlah orang yang baru meninggalkan jahiliah, niscaya Ka’bah akan aku bongkar dan akan aku tempelkan dengan bumi serta akan aku buat dua pintu, pintu yang satu untuk masuk dan yang lain untuk keluar.”

Beliau meninggalkan rencana tersebut agar orang-orang tidak menjauh darinya.

(Al-Fatawa Al-Kubro: 2/117)

TANYA JAWAB

Q : Pa ustad maaf pertanyaannya diluar tema,
1. Menggadai barang ke pegadaian apakah termasuk riba?
2. Seorang pegawai menerima fee dari klien padahal dia sudah diberi tau kalo klien itu curang sudah membuat  tandatangan dan stempel palsu perusahaan tempat dia bekerja padahal dia berjanji tidak akan mungkin bekerjasama lagi
A : 1. Pegadaian syariah bukan riba
2. Kalau melanggar peraturan perusahaan, alias kesepakatan pegawai dan perusahaan, tidak boleh

Q : Ust mau nanya, apa hukumnya apabila seorang makmum mengikuti imam tetapi dia meniatkan untuk keluar dalam shalat berjamaah hanya karena si imam tidak mengeraskan bacaan bismillah setelah surat al-fatihah..karena si makmum tsb barisannya diakhir sedangkan imam mengucapkan bismillah dalam hati
A : Tidak boleh. Imam harus diikuti. Kalau begitu tak bisa makmum sama imam shalat di makkah dan madinah dong, mereka semua sir bismillahnya

Alhamdulillah, kajian kita hari ini berjalan dengan lancar. Semoga ilmu yang kita dapatkan berkah dan bermanfaat. Aamiin....

Segala yang benar dari Allah semata, mohon maaf atas segala kekurangan. Baikloah langsung saja kita tutup dengan istighfar masing-masing sebanyak-banyakanya dan do'a kafaratul majelis:


سبحانك اللهم وبحمدك أشهد ان لا إله إلا أنت أستغفرك وآتوب إليك

Subhanakallahumma wabihamdika asyhadu allaailaaha illa anta astaghfiruka wa atuubu ilaika

“Maha Suci Engakau ya Allah, dengan memuji-Mu aku bersaksi bahwa tiada sesembahan yang haq disembah melainkan diri-Mu, aku memohon pengampunan-Mu dan bertaubat kepada-Mu.”



Thanks for reading & sharing Kajian On Line Hamba اللَّهِ SWT

Previous
« Prev Post

0 comments:

Post a Comment