Tujuan utama dari pelaksanaan Grup ini, semata-mata hanya untuk mencari Ridho اللّهُ SWT. Terus semangat belajar dan berbagi ilmu sampai ke liang lahat demi menjadi Hamba Allah SWT yang Kaffah

MUSLIMAH BIJAK TERHADAP DIRINYA SENDIRI

 Kajian Online WA  Hamba الله SWT

Selasa, 14 Maret 2017
Rekapan Grup Bunda G5  
Narasumber : Ustadzah Endria
Tema : Ekonomi islam
Editor : Rini Ismayanti



Dzat yang dengan Kebesaran-Nya, seluruh makhluk menyanjung dan mengagungkan-Nya...
Dzat yang dengan Keperkasaan-Nya, musuh-musuh dihinakan lagi diadzab-Nya...
Dzat yang dengan Kasih dan Sayang-Nya, kita semua mampu mengecap manisnya Islam dan indahnya ukhuwah di jalan-Nya, memadukan hati kita dalam kecintaan kepadaNya, yang mempertemukan kita dalam keta'atan kepadaNya, dan menghimpunkan kita untukuk mengokohkan janji setia dalam membela agamaNya.

AlhamduliLlah... tsumma AlhamduliLlah...

Shalawat dan salam semoga tercurah kepada tauladan kita, Muhammad SAW. Yang memberi arah kepada para generasi penerus yang Rabbaniyyah bagaimana membangkitkan ummat yang telah mati, memepersauntukan bangsa-bangsa yang tercerai berai, membimbing manusia yang tenggelam dalam lautan sayaahwat, membangun generasi yang tertidur lelap dan menuntukun manusia yang berada dalam kegelapan menuju kejayaan, kemuliaan, dan kebahagiaan.

Amma ba'd...
Ukhti fillah sekalian. Agar ilmunya barokah, maka alangkah indahnya kita awali dengan lafadz Basmallah

Bismillahirrahmanirrahim...                       

MUSLIMAH BIJAK TERHADAP DIRINYA SENDIRI

Wanita Muslimah yang bijak memahami bahwa dirinya mengemban tanggung jawab dari Allah untuk membawa dirinya menjadi seorang hamba yang taqwa kepadaNya.

Ia selalu sadar bahwa dirinya memiliki kwajiban untuk berpikir dan bertingkah bijak terhadap dirinya sendiri - sebagai bukti penjagaan amanah tersebut.

Untuk meniti langkah menjadi Muslimah yang bijak terhadap dirinya sendiri, amanah dan bertanggung jawab, berikut runutan pola pikir dan arahan langkah yang harus diambil oleh seorang Muslimah.

Pertama
Muslimah harus memahami bahwa dirinya merupakan ciptaan Allah yang terdiri dari 3 unsur utama, yakni Jasad, Akal, Ruh.

Ketiga unsur tersebut harus diterimanya sebagai sebuah amanah pokok yang harus dijaga, dipelihara, dan dipenuhi haknya masing-masing secara proporsional. Harus seimbang dan sesuai arahan syari'at Islam sebagai penuntun jalan keselamatan dirinya.


Kedua
Muslimah harus bersikap bijak terhadap Jasadnya.

Hendaknya seorang Muslimah selalu memperhatikan kondisi kesehatan dan keseimbangan tubuhnya dengan memberi asupan makanan yang halal dan baik (memberi manfaat). Tidak berlebihan dalam makan, cukup baginya sekedar yang dibutuhkan. Berolah raga agar terjaga vitalitas tubuhnya sehingga mampu beribadah dengan giat dalam kondisi fisik yang selalu prima.

Muslimah harus rajin menjaga kebersihan tubuhnya termasuk menjaga kebersihan dan kesehatan giginya. Memperhatikan penampilannya. Tidak bersolek. Berpakaian yang layak dan memenuhi ketentuan Syari'at.
Catatan penting yang harus diperhatikan adalah menghindari berdandan serta tidak berlebihan dalam memakai perhiasan.

Ketiga
Muslimah harus bersikap bijak terhadap Akalnya.

Muslimah yang cerdas juga tidak pernah lalai dalam merawat akalnya. Menjaga kesehatan akal adalah sesuatu yang sangat penting, karena dengan akal yang sehat akan mengangkat derajad kemuliaan dirinya.

Hal-hal yang berkaitan dengan upaya merawat akal adalah :

1. Selalu bersemangat dalam membekali dirinya dengan ilmu pengetahuan.

Seorang Muslimah hendaknya menyadari bahwa harga dirinya dapat diukur dari hati dan lisannya, karena harga diri merupakan pancaran akal, pikiran, dan ucapan seseorang. Dengan menuntut ilmu akan memperkuat akal dan memperkaya pengetahuan yang bermanfaat baik bagi dirinya maupun orang yang berinteraksi dengannya.

Hal-hal yang harus dipelajari oleh seorang Muslimah :

1. Kitabullah - Al Qur'anul Karim.
Muslimah tidak boleh buta baca Al Qur'an.

Seorang Muslimah yang bijak harus giat belajar membaca Al Qur'an agar dapat membacanya sesuai dengan kaidah tajwid dan mampu menafsirkannya walaupun sekedar dalam ungkapan yang sederhana, yang penting tidak melenceng dari substansi penafsiran yang shohih. Karena itu ia harus belajar (mengkaji) dengan mengikuti majelis tafsir yang ada disekitar tempat tinggalnya secara rutin.

2. Hadits Nabi Sholallahu 'alaihi wasallam.

Dengan mempelajari hadits, seorang Muslimah akan mendapat jaminan ilmu yang sangat bermanfaat dalam mengemban amanah kehidupan ini, karena ia akan mendapatkan ilmu fiqh, yang sangat penting sebagai landasan dirinya dalam melaksanakan ibadah. Selain itu, banyak pendidikan akhlaq serta ilmu pembangun keimanan yang diajarkan oleh Rasulullah .

3. Mempelajari Siroh Nabi shalallahu 'alaihi wasallam, kisah para Tokoh Sahabiyah dan Wanita Tabi'in.

Langkah ini sangat penting karena darinya akan memperkaya wawasan keislaman serta prilaku teladan yang dapat membentuk kepribadiannya.

4. Mempelajari ilmu yang berkenaan dengan tugas utamanya dalam kehidupan, yaitu: memelihara rumahnya, melayani suaminya, serta merawat dan mendidik anak-anaknya.

Sebab dirinya diciptakan oleh Allah dalam design khusus untuk mengemban tugas sebagai sumber kasih sayang dan kedamaian, penghias keindahan, pencetus kegembiraan, sumber kebahagiaan utama bagi suaminya dan anak-anaknya.

Muslimah harus sadar betul bahwa dirinya telah dipilih oleh Islam untuk mengemban tanggung jawab besar dalam membangun generasi yang taqwa, mencetak para Tokoh Pejuang Peradaban yang mengemban tugas kekhalifahan manusia sebagaimana yang telah dicontohkan oleh Rasulullah dan para Sahabat yang setia kepada beliau.

5. Update terhadap perkembangan ilmu pengetahuan dan tehnologi yang sedang menghiasi zamannya, sehingga ia dapat mengambil manfaat dari ilmu tersebut untuk menunjang semua tugas dan perannya secara proporsional.

Muslimah tentu saja dibolehkan untuk mengambil kesempatan belajar ilmu pengetahuan yang diminatinya sepanjang tidak merusak tabiat serta menodai martabat kewanitaannya. Dan juga, jika hal itu menambah kecerdasan akalnya, mempertajam perasaannya, serta menambah kematangan iman dan taqwanya kepada Allah .

Adapun untuk menjaga akalnya, seorang Muslimah harus menjauhkan diri dari keyakinan dan prilaku khufarat, karena itu ia harus belajar Aqidah Islam yang lurus, dari sumber yang shohih dan guru yang sholih agar tidak jatuh pada pemikiran dan keyakinan yang tidak benar seperti para wanita yang jahil (bertentangan dengan syariat Islam).

Oleh karena itu, proses belajar bagi seorang muslimah tidak boleh sampai berhenti atau terputus sehingga ia dapat menjaga keislamannya dengan baik

Keempat
Muslimah harus bersikap bijak terhadap Ruhiyahnya.

Kecerdasan seorang Muslimah dapat dilihat dari kecakapannya dalam menyelaraskan potensi jasad, akal, dan ruhiyahnya. Ketiga unsur tersebut harus selalu berada dalam kondisi yang seimbang, sehingga ia tampil menjadi pribadi yang kokoh, lurus, matang, terbuka, dan selalu mengedepankan Syariat Allah dalam menjalani tapakan kehidupannya.

Hal-hal yang terkait dengan sikap Muslimah yang seharusnya dilakukan terhadap ruhiyahnya, adalah :

▪1) Konsisten dalam melaksanakan Ibadah & Tazkiyatun Nafs.

Muslimah yang matang akalnya akan selalu memperhatikan hak-hak jiwanya (ruhiyahnya) agar tetap suci dengan cara melazimkan ibadah yang ikhlas, menjaga kebersihan, kesucian, kedamaian serta ketenangan hatinya sehingga selalu siap setiap menyerap hidayah Allah yang diturunkan kepadanya.
Khususnya saat melaksanakan ibadah sholat, hendaknya ia laksanakan dengan jiwa yang tenang dan pikiran yang jernih, sehingga dirinya mudah menyerap nilai dan makna ayat Al Qur'an dan tasbih yang diucapkannya.

▪2) Mencari Teman yang Baik.

Seorang muslimah harus pandai mencari teman yang bertaqwa, berjiwa bersih, dan berakhlak baik. Teman yang tulus mencintainya, yang selalu menasihatinya, dan tidak menipunya dalam setiap interaksi dan perkataan. Teman yang baik akan memberi dampak besar terhadap konsistensi seorang Muslimah dalam menjalani kehidupan yang seimbang.

▪3) Rajin Menghadiri Majelis Ilmu.

Aktivitas menuntut ilmu agama secara rutin harus menjadi agenda seorang Muslimah dalam siklus kehidupannya.
Tidak selayaknya ia sibuk dengan segala aktifitas duniawinya sedang urusan perbekalan akhiratnya dilalaikannya. Persiapan bekal akhirat harus diutamakan dengan membangun konsistensi mengikuti majelis-majelis ilmu seperti, taklim, kajian ilmu tafsir, ilmu fiqh, siroh nabawiyah, dauroh Qur'an dst.

Aktivitas tersebut diatas akan sangat bermanfaat dalam mengkondisikan ruhiyahnya menjadi seorang hamba yang khusyu' dan penuh dengan motivasi akhirat dalam langkah dan pikirnya.

▪4) Membiasakan Berdzikir & Membaca Doa yang Ma'tsur.

Seorang muslimah juga harus memiliki waktu khusus untuk taqorrub (mendekatkan diri) kepada Allah
apakah dengan dzikirnya - apakah dengan qiamul lailnya, tilawah Qur'annya, maupun bacaan dzikirnya diwaktu pagi dan petang.

Kebiasaan dzikir ini harus akrab pada diri seorang Muslimah, karena dengan penjagaan dzikir tersebut akan terjaga kebersihan hatinya serta membuat tenang jiwanya. Segala problema kehidupannya mampu ia hadapi dengan rasa tawakal yang tinggi karena keyakinan serta kedekatan hubungan kedekatan dengan Allah .


Kesimpulan :

"Muslimah yang bijak terhadap dirinya sendiri selalu berusaha mengutamakan apa saja yang memberi manfaat dan mendukung tugas serta tanggung jawab yang melekat pada dirinya. Selalu taat mengikuti petunjuk Agamanya, menjaga kelurusan Aqidahnya, meneliti setiap langkah hidupnya serta memperbanyak amal kebaikannya, sehingga hatinya selalu tenang, damai dan optimis menjalani berbagai riak kehidupan dunia ini, karena ia yakin telah berada diatas jalan yang benar, penuh harapan keselamatan dan kebahagiaan yang abadi di Akhirat."


Wallahu a'lam bishowwab

TANYA JAWAB

Q : Mohon penjelasanya  tentang harta bersama antara suami dan istri dalam pandangan kacamata syariat Islam. Bagaimana ketentuannya, apakah setiap harta yang dimiliki oleh suami secara otomatis juga jadi harta milik istri?
A : Dalam Islam ada pemisahan harta antara suami dan istri, dimana harta suami adalah harta suami, tetapi dia mempunyai tanggung jawab menafkahkan istri dan anaknya. Begitu juga harta istri adalah harta istri.

Q : Ataukah harta suami tidak secara otomatis menjadi harta istri, kecuali setelah suami memberikannya dengan akad yang jelas?
A : Benar, harta suami tetap menjadi harta suami, kecuali setelah dia memberikan kepada istrinya atau anaknya, baik itu merupakan kewajiban nafkah maupun berupa hibah atau hadiah.

Q : Lalu bagaimana dengan harta istri sendiri, misalnya dia punya harta warisan atau punya penghasilan sendiri, apakah suaminya otomatis juga berhak atas harta itu? Ataukah harta istri 100% menjadi milik istri dan suami tidak punya hak sama sekali, kecuali kalau istri memberikannya?
Q : Harta istri adalah harta istri yang menjadi hak miliknya sendiri baik itu berupa harta warisan atau penghasilannya sendiri. Tetapi istri boleh memberikan hartanya kepada suaminya dengan kerelaannya.
Waallahu a'lam bishowwab.

Q : Wanita itu suka berhias dan berdandan. Lalu apa hukumnya wanita muslimah mewarnai kukunya sebagai salah satu bentuk berhias? Apakah hal itu termasuk yang dilarang? Kalau memang dilarang, adakah dalil yang melarangnya?
A : Ukhti penanya, berikut saya cuplikan jawaban dari seorang Ulama Sholih. Semoga fatwa beliau terkait pertanyaan anti dapat menjadi pelajaran bagi kita semua.
Pertanyaan.Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin ditanya : Apakah hukum wudhunya orang yang menggunakan kutek pada kuku-kukunya ?
Jawaban.Sesungguhnya kutek itu tidak boleh dipergunakan wanita jika ia hendak shalat, karena kutek tersebut akan menghalangi mengalirnya air dalam bersuci (pada bagian kuku yang tertutup oleh kutek itu), dan segala sesuatu yang menghalangi mengalirnya air (pada bagian tubuh yang harus disucikan dalam berwudhu) tidak boleh dipergunakan oleh orang yang hendak berwudhu atau mandi, karena Allah Subhanahu wa Ta’ala telah berfirman.
‎فَاغْسِلُوا وُجُوهَكُمْ وَأَيْدِيَكُمْ
“Artinya : Maka basuhlah mukamu dan tanganmu”. [Al-Maidah : 6]
Jika wanita ini menggunakan kutek pada kukunya, maka hal itu akan menghalangi mengalirnya air hingga tidak bisa dipastikan bahwa ia telah mencuci tanganya, dengan demikian ia telah meninggalkan satu kewajiban di antara beberapa yang wajib dalam berwudhu atau mandi.
Adapun bagi wanita yang tidak shalat, seperti wanita yang mendapat haidh, maka tidak ada dosa baginya jika ia menggunakan kutek tersebut, akan tetapi perlu diketahui bahwa kebiasaaan-kebiasaan tersebut adalah kebiasaan wanita-wanita kafir, dan menggunakan kutek tersebut tidak dibolehkan karena terdapat unsur menyerupai mereka.
[Fatawa wa Rasa’il Asy-Syaikh Ibnu Utsaimin, 4/148].

Q : Saya kan termasuk orang yang suka bersolek /dandan bahkan klo ga dandan suami suka komen ko ga pake bedak bu, setiap beraktifitas misal anter anak sekolah saya selalu rapi dan berdandan apakah itu dosa??atau pun berlebihan mohon pencerahannya?? Bahkan dandan bisa di katakan hobi.
A : Sesungguhnya jika boleh saya menyampaikan apa yang bunda jadikan hobi tersebut ... Yakni berdandan.  Ini berarti kita sedang membahas tentang tabarruj.

Apa itu tabarruj ?

Penjelasan ini tidak bisa singkat. InsyaAllah saya akan jawab semampu saya dan tentu jika terkait fatwa saya harus mengambil dari pendapat ulama.

Pertama mari kita fahami makna dari tabarruj.
Kata tabarruj Allah sebutkan dalam al-Quran di surat al-Ahzab,

‎وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلَا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الْأُولَى

"Hendaklah kalian (para wanita) tetap di rumah kalian dan janganlah kalian bertabarruj dan seperti tabarruj orang-orang Jahiliyah yang dahulu…” (QS. Al-Ahzab: 33)

Berdasarkan penjelasan Ulama :

Al-Qurthubi menjelaskan makna at-tabarruj secara bahasa, beliau mengatakan,

‎وَالتَّبَرُّجُ: التَّكَشُّفُ وَالظُّهُورُ لِلْعُيُونِ، وَمِنْهُ: بُرُوجٌ مُشَيَّدَةٌ. وَبُرُوجُ السَّمَاءِ وَالْأَسْوَارِ، أَيْ لَا حَائِلَ دُونَهَا يَسْتُرُهَا

Tabarruj artinya menyingkap dan menampakkan diri sehingga terlihat pandangan mata. Contohnya kata: ’buruj musyayyadah’ (benteng tinggi yang kokoh), atau kata: ’buruj sama’ (bintang langit), artinya tidak penghalang apapun di bawahnya yang menutupinya. (Tafsir al-Qurthubi, 12/309).

Sementara makna tabbaruj seperti yang disebutkan dalam ayat, Ibnul Jauzi dalam tafsirnya menyebutkan dua keterangan ulama tentang makna tabarruj,
Pertama, Abu Ubaidah,

‎التبرُّج: أن يُبْرِزن محاسنهن

“Tabarruj: wanita menampakkan kecantikannya (di depan lelaki yang bukan mahram).”

Kedua, keterangan az-Zajjaj,

‎التبرُّج: إِظهار الزِّينة وما يُستدعى به شهوةُ الرجل

"Tabarruj: menampakkan bagian yang indah (aurat) dan segala yang mengundang syahwat lelaki (non mahram).”
[Zadul Masir fi Ilmi at-Tafsir, 3/461].

Berdasarkan penjelasan di atas maka kita bisa simpulkan bahwa sesungguhnya segala upaya wanita saat ia ingin menampakkan kecantikannya di depan lelaki lain yang bukan mahram, itu termasuk bentuk tabarruj yang dilarang dalam ayat di atas.

Oleh karena itu, memakai bedak, lipstik, mengenakan pakaian ketat, transparan, atau menutup sebagian aurat ketika keluar rumah, semuanya termasuk bentuk tabarruj yang dilarang dalam syariat.

Bunda sayang...
tentu kita semua setuju kalau kecantikan wanita bukan untuk diumbar, sehingga bisa dinikmati banyak mata lelaki yang bukan mahram kita. Kecantikan kita adalah menjadi hak suami, sang imam bagi istrinya. Boleh kita berdandan dihadapan suami kita, jadi kita niat dandan untuk membahagiakan suami kita. Akan tetapi tidak boleh kita keluar rumah dalam keadaan berdandan.

Hal ini juga sebaiknya dijelaskan kepada suami kita, agar beliau faham dan menempatkan syariat pada tempatnya.

Seorang suami, hendaknya memiliki rasa cemburu terhadap istrinya ketika sang istri dilihat oleh laki-laki lain dalam keadaan berdandan, karena itu bukti bahwa suami mencintai istri dalam makna sejati, menjaga martabat kewanitaannya, serta melindunginya dari bermaksiat terhadap hukum (syariat) Allah .

Q : Jika kita sebagai seorang suami, kepentingan ibu(orang tua) dulu apa kepentingan anak kita dulu?
A : Perlu kita fahami baik-baik bahwa, jika seorang anak perempuan menikah, maka ia akan menjadi hak suami. Ayah dan Ibunya tidak lagi memiliki hak atas perempuan tersebut. Namun, bagi anak laki-laki, kewajiban berbakti kepada ibu tidak akan hilang. Sehingga meski sudah memiliki istri Ia tetap menjadi hak Ibunya.
Secara khusus atau dengan sangat istimewa, Islam menekankan hak ibu kepada anak laki-laki kandungnya. Mengapa terhadap anak perempuan kandungnya tidak? Karena anak perempuan dilepas setelah diperistri seseorang. Sedangkan anak laki-laki tidak bisa lepas, walaupun ia sudah beristri.
Dengan demikian, pengabdian anak laki-laki kepada ibu kandungnya tidak putus. Tetapi pengabdian anak perempuan putus dan beralih kepada suaminya. Karena itu, anak laki-laki lebih terikat kepada ibunya. Sementara anak perempuan terlepas ikatan pengabdiannya kepada ibunya sendiri.
Lantas, bagaimana jika kebutuhan istri dan kebutuhan ibu bersamaan waktunya? Bila kepentingan makan dan minum istri sudah terpenuhi, lalu istri punya keperluan lain yang tidak pokok, maka yang wajib didahulukan adalah kepentingan ibu.
Demikianlah hak ibu kepada anak laki-laki kandungnya. Jadi istri harus menyadari bahwa kepentingan ibu kandung suaminya adalah kepentingan yang hampir mutlak kepada si anak. Karena suami masih memiliki kewajiban kepada ibunya.
Jika seorang istri tidak menyadari aturan Islam seperti ini, maka hubungan suami dan istri biasanya akan mudah timbul kinflik dah tidaj berjalan tidak baik. Oleh sebab itu, disarankan kepada para istri untuk memahami ilmu agama. Ketika melihat suaminya begitu taat kepada ibu kandungnya, seorang istri harus meridhoinya.
Keistimewaan seorang ibu juga tergambar dari hadist Rasulullah SAW. Dari Abu Hurairah r.a. berkata, Ada seseorang yang datang menghadap Rasulullah dan bertanya:
“Ya Rasulallah, siapakah orang yang lebih berhak dengan kebaikanku?” Jawab Rasulullah, “Ibumu.” Ia bertanya lagi, “Lalu siapa?” Jawabnya, “Ibumu.” Ia bertanya lagi, “Lalu siapa?” Jawabnya, “Ibumu.” Ia bertanya lagi, “Lalu siapa?” Jawabnya, “Ayahmu.” (Bukhari, Muslim, dan Ibnu Majah).

Demikian pejelasan ini semoga ada yang dapat diambil manfaatnya.

Q : Bolehkah apabila kita abis mandi trus langsung melakukan sholat wajib,tidak mengenakan pakaian terlebih dahulu,hanya memakai mukena saja dalam sholat nya..?
A : Salah satu syarat sah sholat adalah menutup aurat, Dalam masalah menutup tidak dikhususkan hanya dengan pakaian, tetapi menggunakan apa saja yang mampu berfungsi untuk menyembunyikan aurat asalkan suci dan mampu mencegah terlihatnya warna kulit (tidak transparan). Dengan demikian jika hanya menggunakan mukena saja tanpa berpakaian didalamnya,dan mukera tsb sudah mencakup persyaratan bahan penutup aurat maka sah sholatnya. Demikian ukhti ...

Q : Ketika disuatu acara umum,,, hidangan banyak macamnya,,,kursi ga ada,,dan berkhalwat antara laki-laki dan perempuan,,, sebenarnya,,,was-was sudah ketika mau hadir,,,rasa was-was ini datangnya dari mana? Kalau ga hadir itu undangan ..
A : Kalau was-was memang datang dari syetan. Akan tetapi jika terkait memenuhi perintah agama (menghadiri undangan) tentu seharusnya tidak perlu mengikuti perasaan was-was tersebut. Karena bisa jadi syetan memang menghalangi manusia untuk melakukan apa yang diperintahkan oleh agama, dengan membuat hati ragu dan merasa berat tanpa alasan yang kuat.
Adapun setelah kita sampai pada perjamuan dimana terjadi percampuran antara laki-laki dan perempuan, sebagaimana yang masih sering terjadi di masyarakat kita, hendaknya kita yang sudah faham tetap menjaga apa yang harus kita jaga. Lakukan semaksimal yang kita bisa untuk tetap taat kepada perintah agama pada saat seperti itu dan juga pada saat dan kondisi yang lain. Karena bertaqwa itu harus dilakukan dimana saja kita berada dan dalam kondisi apapun.
Dengan upaya kita Allah pasti akan menilai dan memberikan kebijaksanaan kepada kita. Namun demikian hendaknya kita tetap terus beristighfar untuk menjaga kesucian diri kita dari bermaksiat kepada-Nya. Dengan harapan istighfar kita Allah hapus salah dan dosa kita karena tidak sempurna dalam memenuhi perintah dan menjaga larangan-Nya.

Alhamdulillah, kajian kita hari ini berjalan dengan lancar. Semoga ilmu yang kita dapatkan berkah dan bermanfaat. Aamiin....

Segala yang benar dari Allah semata, mohon maaf atas segala kekurangan. Baikloah langsung saja kita tutup dengan istighfar masing-masing sebanyak-banyakanya dan do'a kafaratul majelis:


سبحانك اللهم وبحمدك أشهد ان لا إله إلا أنت أستغفرك وآتوب إليك

Subhanakallahumma wabihamdika asayahadu allaailaaha illa anta astaghfiruka wa atuubu ilaika


“Maha Suci Engkau ya Allah, dengan memuji-Mu aku bersaksi bahwa tiada sesembahan yang haq disembah melainkan diri-Mu, aku memohon pengampunan-Mu dan bertaubat kepada-Mu.”