Ketik Materi yang anda cari !!

Home » » Akhlak Bertetangga

Akhlak Bertetangga

Posted by Kajian On Line Hamba اللَّهِ SWT on Tuesday, April 18, 2017


Image result for tetangga

Rekapan Kajian Online Hamba Allah Ummi G-1
Selasa/18 April 2017, Pukul : 10.00
Pemateri : Ust. Hizbullah Zein
Tema : Akhlak Bertetangga
Editor : Sapta
=============================

Bismillahi wassalatu wassalam ala Rasulillah, allahumma allimna bima yanfauna wan'fana bima Allamtana.

Kajian kali ini merupakan pembahasan yang sangat penting. Sebab, betapa banyak muslim yang rajin solat, menjaga puasa, rajin qiyamullail, gemar bersedakah, berhaji lebih sekali, umroh tak terhitung  orang-orang takjub dengan ibadahnya tapi ternyata pahala yang mereka berguguran dimata Allah, dan dia akhirnya dicampakkan dalam neraka karena melalaikan perkara penting ini.

Dalam hadis yang diriwayatkan oleh iman Ahmad
عَن أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَجُلٌ يَا رَسُوْلَ اللَّهِ إِنَّ فُلَانَةَ يُذْكَرُ مِنْ كَثْرَةِ صَلَاتِهَا وَصِيَامِهَا وَصَدَقَتِهَا غَيْرَ أَنَّهَا تُؤْذِي جِيرَانَهَا بِلِسَانِهَا قَالَ هِيَ فِيْ النَّارِ
Dari Abu Hurairah beliau berkata seseorang berkata kepada Rasulullah: fulanah diceritakan memiliki shalat, puasa dan shodaqoh yang banyak, tetapi dia mengganggu tetangganya dengan lisannya. Beliau menjawab: dia di neraka.

Dalam lanjutan hadis di sahabat bercerita lagi.
قَالَ يَا رَسُوْلَ اللَّهِ فَإِنَّ فُلَانَةَ يُذْكَرُ مِنْ قِلَّةِ صِيَامِهَا وَصَدَقَتِهَا وَصَلَاتِهَا وَإِنَّهَا تَصَدَّقُ بِالْأَثْوَارِ مِنَ الْأَقِطِ وَلَا تُؤْذِي جِيرَانَهَا بِلِسَانِهَا قَالَ هِيَ فِيْ الْجَنَّةِ
Lala berkata  lagi: wahai Rasulullah si fulanah diceritakan memiliki puasa dan shodaqoh serta shalat sedikit. Dia bershodaqoh sedikit dari tepung gandum dan tidak mengganggu tetangganya dengan lisannya. Beliau menjawab: dia di syurga.

Hadis diatas menjelaskan kepada kita bahwa kesolehan pribadi tidak cukup tanpa dibarengi kesolehan sosial. Seorang wanita yang dikagumi oleh para sahabat karena ibadahnya akhirnya dimasukkan dalam neraka karena prilakunya yang buruk kepada tetangga.

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassallam bersabda,
مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلَا يُؤْذِ جَارَهُ
“Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari Akhir maka janganlah dia menyakiti tetangganya’”(HR. Bukhari)

Betapa pentinganya perkara ini sehingga Malaikat Jibril berulang-ulang kali menasehatkan Rasulullah agar berbuat baik kepada tetangga.

“Jibril senantiasa bewasiat kepadaku agar memuliakan (berbuat baik) kepada tetangga, sampai-sampai aku mengira seseorang akan menjadi ahli waris tetangganya” (HR. Al Bukhari).

Dalam Alquran dijelaskan,
“Beribadahlah kepada Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apapun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu bapak, karib kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh.” (QS. An Nisa: 36).

Batasan disebut tetangga?

Dalam fathul Baarii imam Ibnu Hajar menjelasaka: Para ulama berbeda pendapat tentang batasan tetangga. Sebagian mengatakan tetangga adalah orang-orang yang shalat subuh bersama kita.  Pendapat lain mengatakan ’40 rumah dari setiap sisi (kiri kanan depan belakang), dan ada yang berpedapta 10 rumah dari tiap sisi’ dan beberapa pendapat lainnya.
Syaikh Al-Albani rahimahullah bahwa batasan tetangga adalah sesuai ‘urf atau sesuai adat masyarakat setempat.

Jenis-jenisTetangga:

Dalam Islam ada tiga jenis tetangga:
Pertama tetangga yang memiliki tiga hak dari kita.
Kedua tetangga yang memilik dua hak dari kita dan
Ketiga tetangga yang memilika satu hak dari kita.

Tetangga yang memiliki tiga hak adalah: tetangga Dari Kerabat yang Muslim. Mereka memiliki hak sebagai Tetangga diwaktu yang sama memilik hak sebagai keluarga atau kerabat dan juga hak sesama muslim

Tetangga yang memiliki dua hak adalah: adalah tetangga muslim yang bukan kerabat. Mereka memiliki hak sebagai tetangga dan juga sebagai saudara seislam.

Adapun tetangga yang memiliki satu hak adalah: tetangga yang non Muslim: mereka meiliki hak sebagai tetangga. Seorang muslim tetap dianjurkan berbuat baik kepada tetangga meski kepada non muslim.

Tetangga adalah ‘cermin’

Jika seorang muslim ingin melihat seberapa baik kualitas dirinya maka lihatlah penilaian para tetangga terhadap dirinya. Rasulullah shallallahu'alahi wa sallam bersabda:
إِذَا قَالَ جِيرَانُكَ: قَدْ أَحْسَنْتَ، فَقَدْ أَحْسَنْتَ، وَإِذَا قَالُوا: إِنَّكَ قَدْ أَسَأْتَ، فَقَدْ أَسَأْتَ
“Jika tetanggamu berkomentar, kamu orang baik maka berarti engkau orang baik. Sementara jika mereka berkomentar, engkau orang tidak baik, berarti kamu tidak baik.” (HR. Ahmad, dan dishahihkan Al-Albani).

HAK-HAK TETANGGA

  1. Berbuat baik kepada mereka
Rasulullah shallallahu'alahi wa sallam bersabda:
مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيُحْسِنْ إِلَى جَارِهِ
“Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaknya ia berbuat baik kepada tetangganya.” (HR. Muslim)

  1. Mendahulukan yang lebih dekat dalam memberi hadiah
Aisyah radhiyallahu'anha berkata:
يَا رَسُوْلَ اللَّهِ إِنَّ لِيْ جَارَيْنِ فَإِلَى أَيِّهِمَا أُهْدِيْ قَالَ إِلَى أَقْرَبِهِمَا مِنْكِ بَابًا
Wahai Rasulullah saya memiliki dua tetangga lalu kepada siapa dari keduanya aku memberi hadiah? Beliau menjawab: kepada yang pintunya paling dekat kepadamu.” (HR. Al-Bukhari#)

  1. Menutup Aib tetangga
Nabi shallallahu'alahi wa sallam, bersabda:
وَمَنْ سَتَرَ مُسْلِماً سَتَرَهُ اللَّهُ يَومَ القِيَامَةِ
Barangsiapa yang menutupi aib seorang muslim maka akan Allah tutupi (aibnya) pada hari kiamat.” (Muttafaq ‘alaihi)

  1. Tidak mengganggu tetangga
Dari Abu Hurairah radhiyallahu'anhu, Nabi shallallahu'alahi wa sallam bersabda,
لاَ وَاللَّهِ لاَ يُؤْمِنُ لاَ وَاللَّهِ لاَ يُؤْمِنُ لاَ وَاللَّهِ لاَ يُؤْمِنُ قَالُوا وَمَنْ ذَاكَ يَا رَسُوْلَ اللَّهِ قَالَ جَارٌ لاَ يَأْمَنُ جَارُهُ بَوَائِقَهُ
“Tidak demi Allah tidak beriman, tidak, demi Allah tidak beriman, tidak, demi Allah tidak beriman para sahabat bertanya: siapakah itu wahai Rasulullah? beliau menjawab: orang yang tetangganya tidak aman dari kejahatannya.” (Muttafaq ‘alaihi)

لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ لَا يَأْمَنُ جَارُهُ بَوَائِقَهُ
“Tidak akan masuk surga, orang yang tetangganya tidak merasa aman dari gangguannya.” (HR. Muttafaq ‘alaihi)

  1. Meringankan kesulitan tetangga
Dan dalam Ash-Shohihain dari hadits Ibnu Umar radhiyallahu'anhuma dari Nabi shallallahu'alaihi wa sallam, beliau bersabda:
الْمُسْلِمُ أَخُو الْمُسْلِمِ لَا يَظْلِمُهُ وَلَا يُسْلِمُهُ مَنْ كَانَ فِيْ حَاجَةِ أَخِيهِ كَانَ اللَّهُ فِيْ حَاجَتِهِ وَمَنْ فَرَّجَ عَنْ مُسْلِمٍ كُرْبَةً فَرَّجَ اللَّهُ عَنْهُ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ
“Seorang muslim adalah saudara bagi muslim lainnya, ia tidak boleh mendzoliminya dan menyerahkannya (kepada musuh), barangsiapa menolong kebutuhan saudaranya maka Allah akan memenuhi kebutuhannya, Barangsiapa yang meringankan dari seorang mukmin satu kesulitan dan kesulitan-kesulitan dunia, maka Allah akan ringankan untuknya satu kesulitan dari kesulitan-kesulitan Hari Kiamat. Barangsiapa yang menutupi aib seorang muslim maka akan Allah tutupi (aibnya) pada hari kiamat.” (Muttafaq ‘alaihi)

  1. Tidak membiarkan tetangga dalam kekurangan dan kelaparan
Dari Ibnu Abbas radhiyallahu'anhuma, bahwa Rasulullah shallallahu'alaihi wa sallam  bersabda,
لَيْسَ الْمُؤْمِنُ الَّذِي يَشْبَعُ وَجَارُهُ جَائِعٌ إِلَى جَنْبِهِ
“Bukanlah mukmin sejati, orang yang kenyang, sementara tetangga di sampingnya kelaparan.” (HR. Al-Baihaqi, dishahihkan Al-Albani)

Al-Albani rahimahullah mengatakan, dalam hadits ini terdapat dalil yang tegas, bahwa haram bagi orang yang kaya untuk membiarkan tetangganya dalam kondisi lapar. Karena itu, dia wajib memberikan makanan kepada tetangganya yang cukup untuk mengenyangkannya. Demikian pula dia wajib memberikan pakaian kepada tetangganya jika mereka tidak punya pakaian, dan seterusnya, berlaku untuk semua kebutuhan pokok tetangga.

Allah melipat gandakan dosa orang yang menyakiti tetangga:

Dari Miqdad bin Aswad radhiyallahu'anhu, Nabi shallallahu'alaihi wa sallam  bersabda,
لَأَنْ يَزْنِيَ الرَّجُلُ بِعَشْرَةِ نِسْوَةٍ، أَيْسَرُ عَلَيْهِ مِنْ أَنْ يَزْنِيَ بِامْرَأَةِ جَارِهِ لَأَنْ يَسْرِقَ الرَّجُلُ مِنْ عَشْرَةِ أَبْيَاتٍ، أَيْسَرُ عَلَيْهِ مِنْ أَنْ يَسْرِقَ مِنْ جَارِهِ
“Seseorang yang berzina dengan 10 wanita, dosanya lebih ringan dibandingkan dia berzina dengan satu orang istri tetangganya… seseorang yang mencuri 10 rumah, dosanya lebih besar dibandingkan dia mencuri satu rumah tetangganya.” (HR. Ahmad, dishahihkan Al-Albani dalam Ash-Shahihah: 65)

Hadis ini bukan berarti memberi ‘lampu hijau’ untuk berbuat buruk kepada selain tetangga tetapi ingin menegaskan bahwa menjaga harga diri, perasaan harta benda tetangga sangat tinggi kedudukannya dimata Allah.

Tetangga yang baik adalah nikmat yang besar.

Rasulullah shallallahu'alaihi wa sallam bersabda:
أَرْبَعٌ مِنَ السَّعَادَةِ: الْمَرْأَةُ الصَّالِحَةُ، وَالْمَسْكَنُ الْوَاسِعُ، وَالْجَارُ الصَّالِحُ، وَالْمَرْكَبُ الْهَنِيءُ؛ وَأَرْبَعٌ مِنَ الشَّقَاءِ: الْجَارُ السُّوْءُ، وَالْمَرْأَةُ السُّوْءُ، وَالْمَرْكَبُ السُّوْءُ، وَالْمَسْكَنُ الضَّيِّقُ
“Empat hal yang termasuk kebahagiaan seseorang: istri yang shalihah, tempat tinggal yang luas, tetangga yang baik, dan kendaraan yang nyaman. Dan empat hal yang termasuk kesengsaraan seseorang: tetangga yang jelek, istri yang jelek, kendaraan yang jelek, dan tempat tinggal yang sempit.” (HR. Ibnu Hibban dalam Shahih-nya. Dishahihkan Al-Albani)

Maka hendaknya seorang mukmin hadir ditengah masyarakat sebagai nikmat besar bagi tetangganya. Dan semoga Allah membalas dengan menganugrahkan tetangga yang baik.

Bagaimana bermuamalah dengan tetangga yang tidak baik?
Sebelum memilih rumah maka lihatlah dengan siapa akan bertetangga. Sebab, tetangga yang baik akan memberikan kenyamanan hidup, keharmonisan sosial dan mengurangi tingkat stress. Dan mohonlah perlindungan kepada Allah dari tetangga yang buruk.
Dari Abu Hurairah rahhiyallahu'anhu, Nabi shallallahu'alaihi wa sallam berpesan,
تَعَوَّذُوا بِاللَّهِ، مِنْ جَارِ السَّوْءِ فِيْ دَارِ الْمُقَامِ
“Mintalah perlindungan kepada Allah dari tetangga yang buruk di tempat tinggal menetap.” (HR. Nasa’i  dan dishahihkan Al-Albani).

Jika terlanjur dapat tetangga yang buruk maka bersabarlah:
Rasulullah shallallahu'alaihi wa sallam  bersabda dalam hadits Abu Dzar radhiyallahu'anhu:
ثَلَاثَةٌ يُحِبُّهُمُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ رَجُلٌ غَزَا فِيْ سَبِيلِ اللَّهِ فَلَقِيَ الْعَدُوَّ مُجَاهِدًا مُحْتَسِبًا فَقَاتَلَ حَتَّى قُتِلَ وَرَجُلٌ لَهُ جَارٌ يُؤْذِيهِ فَيَصْبِرُ عَلَى أَذَاهُ وَيَحْتَسِبُهُ حَتَّى يَكْفِيَهُ اللَّهُ إِيَّاهُ بِمَوْتٍ وَرَجُلٌ يَكُونُ مَعَ قَوْمٍ فَيَسِيرُونَ حَتَّى يَشُقَّ عَلَيْهِمُ الْكَرَى أَوِ النُّعَاسُ فَيَنْزِلُونَ فِيْ آخِرِ اللَّيْلِ فَيَقُومُ إِلَى وُضُوئِهِ وَصَلَاتِهِ
“Tiga orang yang Allah cintai, seorang yang berjumpa musuhnya dalam keadaan berjihad dan mengharap pahala Allah, lalu berperang sampai terbunuh dan seseorang memiliki tetangga yang mengganggunya lalu ia sabar atas gangguan tersebut dan mengharap pahala Allah sampai Allah cukupkan dia dengan meninggal dunia serta seseorang bersama satu kaum lalu berjalan sampai rasa capai atau kantuk menyusahkan mereka, kemudian mereka berhenti di akhir malam, lalu dia bangkit berwudhu dan shalat.” (HR Ahmad)

Semoga Allah menjadikan kita anugrah besar ditengah masyarakat dengan menjadikan kita sebagai orang yang baik kepada tetangga dan semoga Allah menganugrahkan kepada kita tetangga yang baik.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
TANYA JAWAB


T : Ijin bertanya ustadz Hiz, Adakah doa yang khusus untuk orang-orang yang didzalimi tetangganya supaya sama mereka sadar ustadz? Karena berbagai cara ditegur duluan, dibaikin, dikasih hadiah, kita tetap didzalimi. Afwan ustadz atas kekurangan ilmu saya.
J : ana belum tahu lafaz doa khusus, tetapi mendo’akan kebaikan untuk tetangga bisa dengan dengan kalimat kita sendiri dan bahasa kita.

T : izin bertanya ustadz, tetangga depan rumah saya nasrani, suka memberi makanan matang kepada tetangga-tetangga. Apakah boleh menolak makanan yang dberikan olehnya mengingat mereka suka memasak daging babi?
J : jika ragu kehalalannya maka boleh menolak dengan cara yang baik. Jita bisa memberikan penjelasan tentang aturan makanan dalam agama. dan dijelaskan sebijak mungkin agar tidak ada ketersingunggungan, karena bagaimana pun kita berprasangka baik bahwa tetangga tetangga membagi makanan kepada kita dengan niat yang baik ingin menyambung silaturahmi namun tidak paham aturan makanan dalam agama kita

T : Ustadz, kami punya tetangga baru, tapi sudah berbulan-bulan malah sudah mau setahun dia tidak menunjukkan ingin bergaul/berhubungan dengan kami. Selalu menutup diri dan menutup rapat pintunya. Kalau keluar hanya untuk antar jemput anaknya yang jauh dari komplek. Kalau belanja juga keluar dari komplek. Kita sudah sempatkan menyapa, mengajak ngaji. Tapi tetep aja jaga jarak. Harus bagaimana sikap kami? Mendiamkan juga kah?
J : kalau kita sudah berusaha menyambung silaturhmi maka kita telah menyelesaikan kewajiban kita sebagai tetangga meskipun tidak ada respon baik dari tetangga. tugas kita adalah berusaha menunaikan anjuran Rasul untuk berbuat baik kpd tetangga dan tetp menjalin silaturahmi. jika ada respon baik dari tetangga Alhamdulillah, jika belum direspon secara baik, Alhamdulillah.  Allah ingin kita lebih bersabar dalam berdakwa ke tetangga

T : Bismillaah ustadz, afwan izin bertanya apa benar mengganggu tetangga itu halal untuk dilaknat? Mohon penjelasannya. Jazakalloh khoiron
J : dulu ada sahabat yang suka diganggu oleh tetangganya. dan setiap diganggu oleh tetangga dia mengadu kepada Rasulullah. Rasulullah menasehati untuk bersabar. Hal itu terus berulang hingga akhirnya Rasulullah memerintahkan sang sahabat untuk mengeluarkan semua barang-barangnya dari rumah sebagai bentuk ejekan terhadap perilaku tetangga. Sang sahabat melakukan perintah, ketika tetangganya melihat hal itu iya jadi merasa bersalah dan akhirnya meminta maaf dan berjanji tidak mengulangi perilakunya.
dari sini ada yang berpendapat bahwa tetangga yang buruk prilakunya terhadap tetangganya yang lain boleh untuk dihina dan diejek. Wallaahu a'lam.


~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
PENUTUP

DOA PENUTUP MAJELIS
سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوْبُ إِلَيْكَ
Subhanaka Allahuma wabihamdika asyhadu alla ilaha illa anta astaghfiruka wa atubu ilaik. Artinya:“Maha suci Engkau ya Allah, dan segala puji bagi-Mu. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan melainkan Engkau. aku mohon ampun dan bertaubat kepada-Mu.”
Aamiin ya Rabb.

======================
Website: www.hambaAllah.net
FanPage : Kajian On line-Hamba Allah
FB : Kajian On Line-Hamba Allah
Twitter: @kajianonline_HA
IG: @hambaAllah_official

Thanks for reading & sharing Kajian On Line Hamba اللَّهِ SWT

Previous
« Prev Post

0 comments:

Post a Comment