Ketik Materi yang anda cari !!

Home » , , , , » ISLAM DAN POLITIK KEPEMIMPINAN; SENYAWA TAK TERPISAHKAN

ISLAM DAN POLITIK KEPEMIMPINAN; SENYAWA TAK TERPISAHKAN

Posted by Kajian On Line Hamba اللَّهِ SWT on Friday, April 7, 2017

 Kajian Online WA  Hamba الله SWT

Rabu, 5 April 2017
Rekapan Kajian Link Grup Bunda, Nanda, Ikhwan
Narasumber : Ustadz Farid Nu'man
Tema : Politik dan Pemerintahan
Editor : Rini Ismayanti



Dzat yang dengan Kebesaran-Nya, seluruh makhluk menyanjung dan mengagungkan-Nya...
Dzat yang dengan Keperkasaan-Nya, musuh-musuh dihinakan lagi diadzab-Nya...
Dzat yang dengan Kasih dan Sayang-Nya, kita semua mampu mengecap manisnya Islam dan indahnya ukhuwah di jalan-Nya, memadukan hati kita dalam kecintaan kepadaNya, yang mempertemukan kita dalam keta'atan kepadaNya, dan menghimpunkan kita untukuk mengokohkan janji setia dalam membela agamaNya.

AlhamduliLlah... tsumma AlhamduliLlah...

Shalawat dan salam semoga tercurah kepada tauladan kita, Muhammad SAW. Yang memberi arah kepada para generasi penerus yang Rabbaniyyah bagaimana membangkitkan ummat yang telah mati, memepersauntukan bangsa-bangsa yang tercerai berai, membimbing manusia yang tenggelam dalam lautan sayaahwat, membangun generasi yang tertidur lelap dan menuntukun manusia yang berada dalam kegelapan menuju kejayaan, kemuliaan, dan kebahagiaan.

Amma ba'd...
Ukhti fillah sekalian. Agar ilmunya barokah, maka alangkah indahnya kita awali dengan lafadz Basamallah

Bismillahirrahmanirrahim...                       

ISLAM DAN POLITIK KEPEMIMPINAN; SENYAWA TAK TERPISAHKAN

Defisi As Siyasah (Politik)

Secara bahasa (lughatan), As Siyasah berasal dari kata سَاسَ yang artinya  mengatur, memimpin, dan memerintah. ساس القوم  (Saasa Al Qauma): mengatur, memimpin, dan mengatur kaum itu.  السائس (As Saa –is): pengatur, pemimpin, manajer, administrator.   (Ahmad Warson, Al Munawwir, Hal. 677).

 Sedangkan السياسة (As Siyaasah) artinya: administrasi, manajemen.  (Ibid, Hal. 678)

  Dikatakan  سَاسَ الرَّعِيّة يَسُوسها سِيَاسَة (Saasa Ar Ra’iyyah yasuusuha siyasatan): mengatur  rakyat dengan siyasah (politik).  (Zainudddin Ar Razi, Al Mukhtar Ash Shihah, 1/154).

 Dikatakan pula  ساسَ وسِيسَ عليه (Saasa wa siisa ‘alaih): mendidik dan dididik.  (Fairuzzabadi, Qamus Al Muhith, 2/89)

  Jadi, dari sisi bahasa, mana politik adalah berputar pada mengatur, mengurus, memerintah, memimpin, dan mendidik. Seluruhnya adalah makna positif dan mulia, tidak ada cela dengan definisi politik.

Definisi Secara Terminologis (Sayaar'an)

Makna secara syariat (syar’an), telah didefinisikan secara brilian oleh Imam Ibnu Aqil Al Hambali Rahimahullah , sebagaimana dikutip oleh Imam Ibnul Qayyim Rahimahullah sebagai berikut:

السِّيَاسَةُ مَا كَانَ مِنْ الْأَفْعَالِ بِحَيْثُ يَكُونُ النَّاسُ مَعَهُ أَقْرَبَ إلَى الصَّلَاحِ وَأَبْعَدَ عَنْ الْفَسَادِ ، وَإِنْ لَمْ يُشَرِّعْهُ الرَّسُولُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَلَا نَزَلَ بِهِ وَحْيٌ ؛ فَإِنْ أَرَدْتَ بِقَوْلِكَ " لَا سِيَاسَةَ إلَّا مَا وَافَقَ الشَّرْعَ " أَيْ لَمْ يُخَالِفْ مَا نَطَقَ بِهِ الشَّرْعُ فَصَحِيحٌ ، وَإِنْ أَرَدْتَ مَا نَطَقَ بِهِ الشَّرْعُ فَغَلَطٌ وَتَغْلِيطٌ لِلصَّحَابَةِ ؛ فَقَدْ جَرَى مِنْ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ مِنْ الْقَتْلِ وَالْمَثْلِ مَا لَا يَجْحَدُهُ عَالِمٌ بِالسِّيَرِ ، وَلَوْ لَمْ يَكُنْ إلَّا تَحْرِيقُ الْمَصَاحِفِ كَانَ رَأْيًا اعْتَمَدُوا فِيهِ عَلَى مَصْلَحَةٍ ، وَكَذَلِكَ تَحْرِيقُ عَلِيٍّ كَرَّمَ اللَّهُ وَجْهَهُ الزَّنَادِقَةَ فِي الْأَخَادِيدِ ، وَنَفْيُ عُمَرُ نَصْرَ بْنَ حَجَّاجٍ .

  “As Siyaasah (politik) adalah aktifitas yang memang  melahirkan maslahat bagi manusia dan menjauhkannya dari kerusakan (Al fasad), walau pun belum diatur oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan wahyu Allah pun belum membicarakannya. Jika yang Anda maksud “politik harus sesuai syariat” adalah politik tidak boleh bertentangan dengan nash (teks) syariat, maka itu benar.  Tetapi jika yang dimaksud adalah politik harus selalu sesuai teks syariat, maka itu keliru dan bertentangan dengan yang dilakukan para sahabat. Para khulafa’ur rasyidin telah banyak  melakukan kebijaksanaan sendiri yang tidak ditentang oleh para sahabat nabi lainnya, baik kebijakan dalam peperangan atau penentuan jenis hukuman. Pembakaran mushhaf (kecuali mushhaf Utsmani, pen) yang dilakukan oleh Utsman semata-samata pertimbangan akal demi tercapainya maslahat. Demikian pula Ali bin Abi Thalib yang membakar orang zindiq di Akhadid. Umar bin Al Khathab juga pernah mengasingkan Nashr bin Hajjaj." (I'lamul Muwaqi'in, 6/26)

Al ‘Allamah Ibnul Qayyim Rahimahullah juga berkata:

فَلَا يُقَالُ : إنَّ السِّيَاسَةَ الْعَادِلَةَ مُخَالِفَةٌ لِمَا نَطَقَ بِهِ الشَّرْعُ ، بَلْ هِيَ مُوَافِقَةٌ لِمَا جَاءَ بِهِ ، بَلْ هِيَ جُزْءٌ مِنْ أَجْزَائِهِ ، وَنَحْنُ نُسَمِّيهَا سِيَاسَةً تَبَعًا لِمُصْطَلَحِهِمْ ، وَإِنَّمَا هِيَ عَدْلُ اللَّهِ وَرَسُولِهِ ، ظَهَرَ بِهَذِهِ الْأَمَارَاتِ وَالْعَلَامَاتِ .

  “Maka, tidaklah dikatakan, sesungguhnya politik yang adil itu bertentangan dengan yang dibicarakan syariat, justru politik yang adil itu bersesuaian dengan syariat, bahkan dia adalah bagian dari elemen-elemen syariat itu sendiri. Kami menamakannya dengan politik karena mengikuti istilah yang mereka buat. Padahal itu adalah keadilan Allah dan RasulNya, yang ditampakkan tanda-tandanya melalui politik.” (Ibid)

Apa yang diulas Imam Ibnul Qayyim ini adalah benar, sebab Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam telah bersabda:

كَانَتْ بَنُو إِسْرَائِيلَ تَسُوسُهُمْ الْأَنْبِيَاءُ

  “Adalah Bani Israil, dahulu mereka di-siyasah-kan oleh para nabi.”  (HR. Muttafaq ‘Alaih)

  Maka, politik yang adil merupakan perilaku para nabi terhadap umatnya terdahulu, dengan kata lain politik adalah salah satu warisan para nabi.

  Imam An Nawawi Rahimahullah mengomentari hadits ini, katanya:

أَيْ : يَتَوَلَّوْنَ أُمُورهمْ كَمَا تَفْعَل الْأُمَرَاء وَالْوُلَاة بِالرَّعِيَّةِ ، وَالسِّيَاسَة : الْقِيَام عَلَى الشَّيْء بِمَا يُصْلِحهُ .

  “Yaitu: mereka (para nabi) mengurus urusan mereka (Bani Israil) sebagaimana yang dilakukan para pemimpin (umara’) dan penguasa terhadap rakyat.  As Siyasah: adalah melaksanakan sesuatu dengan apa-apa yang membawa maslahat.” (Al Minhaj Sayaarh Shahih Muslim, 6/316)

  Al Hafizh  Ibnu Hajar Rahimahullah memberikan sayaarah (penjelasan) sebagai berikut:

وَفِيهِ إِشَارَة إِلَى أَنَّهُ لَا بُدّ لِلرَّعِيَّةِ مِنْ قَائِم بِأُمُورِهَا يَحْمِلهَا عَلَى الطَّرِيق الْحَسَنَة وَيُنْصِف الْمَظْلُوم مِنْ الظَّالِم .
 
  “Dalam hadits ini terdapat isayaarat, bahwa adanya keharusan bagi rakyat untuk memiliki pemimpin yang akan mengurus urusan mereka dan membawa mereka kepada jalan kebaikan, dan menyelamatkan orang yang dizalimi dari pelaku kezaliman.”  (Fathul Bari, 6/497)

  Demikianlah hakikat As Siyasah Asy Sayaar’iyyah yang dipaparkan oleh para ulama kredibel berdasarkan pemahamannya terhadap kesucian syariat Islam. Politik –pada dasarnya – adalah mulia, penuh keadilan, memiliki maslahat, mengurangi mafsadat, jauh dari kekotoran hawa nafsu dunia; intrik, menghalalkan segala cara, tipu menipu, dan saling sikut. Dengan kata lain, politik merupakan salah satu bentuk amal shalih bagi manusia, baik laki-laki atau perempuan. Namun, penyikapan dan penilaian manusia terhadap politik telah berubah seiring perubahan realita politik itu sendiri, setelah diracuni oleh pemikiran Nicolo Machiaveli, yakni tubarrirul wasilah (menghalalkan segala cara). Politik hari ini telah jauh dari dasar-dasar syariat, melainkan berkiblat kepada politik kezaliman yang dikembangkan oleh para tiran. Hingga akhirnya seorang reformis seperti Sayaaikh Muhammad Abduh pun berkata: aku berlindung kepada Allah dari politik, politikus, kajian politik, dan membicarakan politik.

 Demikianlah kabut yang telah menutupi wajah politik sejak berabad-abad lamanya hingga  hari ini. Tetapi, realita hari ini bukanlah hakikat politik itu sendiri, melainkan lebih tepat disebut sebuah kejahatan yang berdiri sendiri atau ‘penumpang gelap’ dalam dunia politik.

Selanjutnya ...

Urgensi Kepemimpinan dan Kekuasaan Dalam Islam

 Sayaaikhul Islam Ibnu Taimiyah Rahimahullah, beliau berkata:

يجب أن يعرف أن ولاية أمر الناس من أعظم واجبات الدين بل لا قيام للدين ولا للدنيا إلا بها . فإن بني آدم لا تتم مصلحتهم إلا بالاجتماع لحاجة بعضهم إلى بعض ، ولا بد لهم عند الاجتماع من رأس حتى قال النبي صلى الله عليه وسلم : « إذا خرج ثلاثة في سفر فليؤمّروا أحدهم » . رواه أبو داود ، من حديث أبي سعيد ، وأبي هريرة .
وروى الإمام أحمد في المسند عن عبد الله بن عمرو ، أن النبي صلى الله عليه وسلم قال : « لا يحل لثلاثة يكونون بفلاة من الأرض إلا أمروا عليهم أحدهم » . فأوجب صلى الله عليه وسلم تأمير الواحد في الاجتماع القليل العارض في السفر ، تنبيها بذلك على سائر أنواع الاجتماع . ولأن الله تعالى أوجب الأمر بالمعروف والنهي عن المنكر ، ولا يتم ذلك إلا بقوة وإمارة . وكذلك سائر ما أوجبه من الجهاد والعدل وإقامة الحج والجمع والأعياد ونصر المظلوم . وإقامة الحدود لا تتم إلا بالقوة والإمارة ؛ ولهذا روي : « إن السلطان ظل الله في الأرض » ويقال " ستون سنة من إمام جائر أصلح من ليلة واحدة بلا سلطان " . والتجربة تبين ذلك . ولهذا كان السلف - كالفضيل بن عياض وأحمد بن حنبل وغيرهما- يقولون : لو كان لنا دعوة مجابة لدعونا بها للسلطان

            “Wajib diketahui, bahwa kekuasaan kepemimpinan yang mengurus urusan manusia termasuk kewajiban agama yang paling besar, bahkan agama dan dunia tidaklah tegak kecuali dengannya. Segala kemaslahatan manusia tidaklah sempurna kecuali dengan memadukan antara keduanya (agama dan kekuasaan),  di mana satu sama lain saling menguatkan. Dalam perkumpulan seperti inilah diwajibkan adanya kepemimpinan, sampai-sampai Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengatakan: “Jika tiga orang keluar bepergian maka hendaknya salah seorang mereka menjadi pemimpinnya.” Diriwayatkan Abu Daud dari Abu Said dan Abu Hurairah.  

            Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Musnadnya dari Abdullah bin Amru, bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: “Tidak halal bagi tiga orang yang berada di sebuah tempat di muka bumi ini melainkan mereka menunjuk seorang pemimpin di antara mereka.”

Rasulullah mewajibkan seseorang memimpin sebuah perkumpulan kecil dalam perjalanan, demikian itu menunjukkan juga berlaku atas  berbagai perkumpulan lainnya. Karena Allah Ta’ala memerintahkan amar ma’ruf dan nahi munkar, dan yang demikian itu tidaklah sempurna melainkan dengan kekuatan dan kepemimpinan.

Demikian juga kewajiban Allah lainnya seperti jihad, menegakkan keadilan, haji, shalat Jumat hari raya, menolong orang tertindas, dan menegakkan hudud. Semua ini tidaklah sempurna kecuali dengan kekuatan dan imarah (kepemimpinan). Oleh karena itu diriwayatkan: “Sesungguhnya sultan adalah naungan Allah di muka bumi.”

 Juga dikatakan: “Enam puluh tahun bersama pemimpin zalim masih lebih baik disbanding semalam saja tanpa pemimpin.” Pengalaman membuktikan hal itu. Oleh karena itu, para salaf – seperti Al Fudhail bin ‘Iyadh dan Ahmad bin Hambal serta yang lain- mengatakan: “Seandainya kami memiliki doa yang mustajab, niscaya akan kami doakan pemimpin.” (Sayaaikhul Islam Ibnu Taimiyah, As Siyasah Asy Sayaar’iyyah, Hal. 169. Mawqi’ Al Islam)

Kekuasaan dan Agama adalah Saudara Kembar

Hujjatul Islam, Imam Al Ghazali Rahimahullah berkata:

فإن الدنيا مزرعة الآخرة، ولا يتم الدين إلا بالدنيا. والملك والدين توأمان؛ فالدين أصل والسلطان حارس، وما لا أصل له فمهدوم، وما لا حارس له فضائع، ولا يتم الملك والضبط إلا بالسلطان

“Sesungguhnya dunia adalah ladang bagi akhirat, tidaklah sempurna agama kecuali dengan dunia. Kekuasaan dan agama adalah saudara kembar; agama merupakan  pondasi dan penguasa adalah penjaganya. Apa saja yang tidak memiliki pondasi akan hancur, dan apa saja yang tidak memiliki penjaga akan hilang. Dan tidaklah sempurna kekuasaan dan hukum kecuali dengan adanya pemimpin.” (Imam Al Ghazali, Ihya ‘Ulumuddin, 1/17. Mawqi’ Al Warraq)

Maka, ide pemisahan Islam dengan politik, pemisahan Islam dengan kekuasaan, pemisahan Islam dengan kepemimpinan, adalah ide rusak yang meracuni sebagian politisi muslim, yang asasnya adalah sekulerisme. Wallahul Musta'an

Farid Nu'man Hasan
Join Telegram: bit.ly/1Tu7OaC

TANYA JAWAB

PERTANYAAN GRUP BUNDA
G 7
Q : Sehubungan dengan memimpin dan dipimpin oleh seorang kepala dalam negara rumah tangga : dimana bisa mempelajari ilmu kepemimpinan yang islami dengan menetralisir EGO (jika tidak mau dikategorikan menurunkan ego). Ngakunya kepala rumah tangga, tapi tidak bisa mengambil keputusan untuk kemaslahatan anak istri kalo didiskuaikan untuk meluruskan jalur, katanya tanggung jawab dia adalah urusannya dengan Allah saja ...
A : Politik dengan makna dasarnya yang asli, yaitu mengatur, mengurus, memenej, tentu ada dibebagai sisi hidup kita, termasuk rumah tangga.
Suami dengan segala macam tugasnya di rumah, maka dia telah berpolitik. Begitu pula istri.
Suami memang pemimpin, tapi tidak semua pemimpin memiliki jiwa dan karakter pemimpin. Ke-qawwam-an laki-laki terhadap wanita di rumah tgga, bukan hanya given, dan status fungsional dari syariat, tapi juga sesuatu yang nurture/mesti dibentuk dan diupayakan oleh lingkungannya.

Oleh karena itu, suami harus mujahadah/sungguh2 untuk mnjadi pemimpin, istri membantunya, mensugesti suami bahwa dia bisa menjadi pemimpinnya, tidak melemahkan dan menjatuhkannya.

Wallahu a'lam

G 7
Q : Saya yakin dulu ulama kita menyadari betul tentang ilmu siyasah ini sehingga dibentuklah oranganisasi yang dapat mendukung perjuangan ulama ini, namun kenyataan sekarang justru pengaburan ilmu siyasah juga dilakukan oleh para ulama modern lalu bagaimana menurut pendapat ustadz. Jazakallah khoir
A : Perlu disadari, bahwa politik secara value dan normatif memang mulia, seperti yang saya jelaskan dalam artikel ...

Tapi, secara waqi'/realita, banyak pelaku politik yang brutal dan jahat .. shgga realita inilah yang dijadikan standar untuk menilai politik, termasuk dalam penilaian cendekiawan muslim, sehingga merekaa antipati dengan politik, hopeless, bahkan menggagas pemisahan agama dan politik.
Jelas itu sikap yang tidak tepat, walau kita paham kenapa mereka seperti itu. Sebab, menilai sebuah konsep harus dari konsep itu sendiri, bukan dari prilaku oknum-oknumnya. Wallahu a'lam

G 2
Q : assalamualaikum ustadz, mhn penjelasannya Apa yang d makasd dengan : Kejahatan yang brdiri sendiri atau penumpang gelap dalam dunia politik? Sayaukron
A : Wa'alaikumussalam, yaitu .. orang yang mengotori politik dengan cara politik yang jahat. Politik itu ibaratnya gerbong yang mengantarkan pada tujuan baik, tapi gerbong tersebut diisi oleh penumpang yang merusaknya. Jadi bukan gerbongnya yang salah tapi penumpangnya. Wallahu a'lam

G-5
Q : Saat ini partai politik identik dengan ‘hanya’ concern terhadap urusan kekuasaan, lalu bagaimana dalam Islam apakah peran partai politik di tengah umat memang seperti itu atau bagaimana
A : Masalah kekuasaan hanyalah potongan dari politik Islam. Sejatinya politik Islam itu pelayanan kepada umat agar umat semakin dekat dengan kebaikan dan jauh dari keburukan. Kekuasaan hanyalah salah satu instrumen, dan berpenting sebagai alat pukul kemungkaran. Seharusnya partai-partai Islam bisa mendidik umat secara konfrenhensif, tidak melulu kekuasaan. Wallahu a'lam

G-5
Q : Bagaimana deskripsi aktualisasi politik Ulama’ saat ini?
A : Ulama saat ini, kinteks Indonesia,  masih belum signifikan perannya, kecuali dimanfaatkan pada masa election saja untuk menarik masa dan pemilih. Sharusnya tidak seperti itu. Ulama mesti menjadi tempat bertanya, berdiskusi, bahkan bisa berperan langsung, agar politik itu santun dan  bermoral. Maka, anjuran dari orang sekuler "ulama sebaiknya mengurus pesantren aja" adalah anjuran beracun, yang dapat membuat leluasa penjahat politik. Wallahu a'lam

G-2
Q : Sekarang ini banyak sekali olok-olok seperti,  surga ditentukan nomor pilihan PILKADA dan sejenisnya. Apakah ada yang salah dalam penjelasan tentang larangan pemimpin kafir? Ataukah memang mereka hobby menjadi kan kita bahan olokan? Bagaimana sikap yang tepat untuk olok2 tsb? jika hukum di negara ini tidak bisa dipercaya lagi, apa yang bisa kita lakukan ustadz?
A : Tidak ada yang salah dari ketetapan haramnya memikih orang kafir sebagai pemimpin daerah atau negara. Istiqamahlah dalam hal itu.
Ada pun olok-olok itu, merupakan kebiasaan yang sudah sama-sama diketahui. Allah pun menceritakan bahwa orang kafir dan munafik suka istihza/olok-olok terhadap kaum muslimin dan Islam. Jadi kita sadar betul begitulah mereka. Wallahu a'lam

G 5
Q : Ustadz bagaimana cara menjawab "yang penting itu daulah berdiri dulu, klo daulah tegak semua masalah insayaaAllah beres". Tapi sepemahaman teman saya, bukankah membina individu itu urgent, tegaknya daulah tanpa individu yang komitment apa mungkin mnjadi lebih baik? Ini jujur buat saya jadi bingung. Bisa tolong bantu jelaskan ustadz
A : Semuanya penting, tidak ada yang dianaktirikan dalam perjuangan. Secara abjadiyah perjuangan mebina pribadi Islami memang didahulukan dibanding negara Islami. Sebab bagaimana mungkin 10 km bisa diraih kalau 1 m belum dimulai.  Tapi, dari sisi urgensitas, semuanya penting dan vital. Dakwah kultural di masyarakat agar terwujud clean society dan dakwah struktural di lembaga pemerintahan agar twujud clean goverment. Paduan keduanya itulah maayarakat Islami bisa terwujud.

Wallahu a'lam                       

G-3
Q : Ustadz..pro dan kontra dalam demokrasi banyak terjadi... yang mau saya tanyakan,, dlu di tahun 2008 saya daftar haji,,dan Alhamdulillah 1 tahun saya dftar brgkt, langsung dapat Porsi,, nah pada wktu itu banyak yang Demo ke ke Ged. Sate bandung.. tadinya saya gk mau ikut Demo, karena saya blum pernah,, tapii rekan mengajak untuk Demo karena kuota haji jawa barat di batasin,, dengan alasan solidaritas sesama teman...dan katanya ini bukan demons kekerasan,,  tapii baik...Amar ma'ruf Nahi munkar.. Afwan sekali lagi ,itu gimana Ustd Farid... mohon tausiahnya...
Q : Bagaimana dengan Demo dalam pandangan Islam...? Karena terkadang  ada yang demo kekerasan,dan jatuh korban yang tidak berdosa... baik nyawa... mau pun Luka-luka....
A : Ini tidak bisa dipukul rata. Masalah demonstrasi, jika aksinya anarkis, bakar-bakaran, mencaci maki sesama muslim .. tentu haram.

Ada pun muzhaharah saliimah/demonstrasi damai, untuk menyampaikan sebuah pendapat, menekan kezaliman, atau membela muslim tertindas, maka para ulama berbeda pendapat.

Di Antara yang melarang, seperti Sayaaikh bin Baaz, Sayaaikh Utsaimin (beliau membolehkan jika dinegeri non muslim), Sayaaikh Shalih Fauzan, dll.

Di antara yang membolehkan, seperti Sayaaikh Wahbah Az Zuhaili, Sayaaikh Al Qaradhawi, Sayaaikh Abdullah Al Faqih, Sayaaikh Abu Sayauja Al Azhari, dan umumnya ulama Al Azhar, dll.

Lengkapnya silahkan buka: bit.ly/1Tu7OaC

Wallahu A'lam                       

Q : Bagaimana dengan politik memilih wakil rakyat atau presiden di tanah air ini apa sudah sesuai syari..Sedang tidak di contoh kan pada jaman Rasul
A : Bukan hanya pemilu yang tidak ada di zaman nabi, hampir mungkin 90 persen hal-hal yang baru kita lakukan dan nikmati juga tidak ada pada masa nabi. Tapi, apakah lantas langsung dikatakan terlarang?
Dalam urusan duniawi, termasuk tata cara memilih pemimpin, berbeda dengan masalah ibadah ritual yang memang mesti ada ctahunya. Dalam maslh ini "apakah ada ctahunya?" , tapi "apakah ada larangannya?"

Oleh karena itu para ulama kibar memandang tidak masalah pemilu.

Silahkan lihat ini
Majelis Indahnya Berbagi:
Fatwa-fatwa Ulama Tentang Pemilu

1. Asyh Syeikh Dr. Abdullah Al-Faqih Hafizhahullah

Beliau ditanya tentang hukum mencalonkan diri dalam parlemen untuk maslahat kaum muslimin, dan hukum memilih partai sekuler, Beliau menjawab:

فإنه لا يجوز التعاون مع الأحزاب العلمانية والشيوعية، لما تعتقده من أفكار إلحادية، فإن الترجمة الصحيحة للعلمانية هي: اللادينية أو الدنيوية، ومدلول العلمانية المتفق عليه يعني عزل الدين عن الدولة وحياة المجتمع، كما أن معنى الشيوعية يقوم على أساس تقديس المادة، وأنها أساس كل شيء،