Ketik Materi yang anda cari !!

Home » , » MENGUBAH PARADIGMA POLITIK

MENGUBAH PARADIGMA POLITIK

Posted by Kajian On Line Hamba اللَّهِ SWT on Thursday, April 13, 2017

 Kajian Online WA  Hamba الله SWT

Rabu, 12 April 2017
Rekapan Grup Bunda G5
Narasumber : Ustadz Ahabba
Tema : Kajian Islam
Editor : Rini Ismayanti



Dzat yang dengan Kebesaran-Nya, seluruh makhluk menyanjung dan mengagungkan-Nya...
Dzat yang dengan Keperkasaan-Nya, musuh-musuh dihinakan lagi diadzab-Nya...
Dzat yang dengan Kasih dan Sayang-Nya, kita semua mampu mengecap manisnya Islam dan indahnya ukhuwah di jalan-Nya, memadukan hati kita dalam kecintaan kepadaNya, yang mempertemukan kita dalam keta'atan kepadaNya, dan menghimpunkan kita untukuk mengokohkan janji setia dalam membela agamaNya.

AlhamduliLlah... tsumma AlhamduliLlah...

Shalawat dan salam semoga tercurah kepada tauladan kita, Muhammad SAW. Yang memberi arah kepada para generasi penerus yang Rabbaniyyah bagaimana membangkitkan ummat yang telah mati, memepersauntukan bangsa-bangsa yang tercerai berai, membimbing manusia yang tenggelam dalam lautan sayaahwat, membangun generasi yang tertidur lelap dan menuntukun manusia yang berada dalam kegelapan menuju kejayaan, kemuliaan, dan kebahagiaan.

Amma ba'd...
Ukhti fillah sekalian. Agar ilmunya barokah, maka alangkah indahnya kita awali dengan lafadz Basamallah

Bismillahirrahmanirrahim...                       

MENGUBAH PARADIGMA POLITIK

Melalui tulisan ini, saya hanya ingin berbagi ilmu yang telah saya pelajari. Mencoba mengajak untuk bersama mulai membangun kecerdasan politik, memahami arti politik yang sebenarnya, dan mengubah paradigma tentang politik itu sendiri.
“Politik itu kotor”, begitulah kebanyakan orang menilai politik. Bukan begitu??
Bahkan banyak umat muslim saat ini yang memiliki paradigma seperti itu, menganggap politik adalah sesuatu yang tidak diperlukan dalam agama. Perlu kita ketahui ternyata pemikiran “politik itu kotor” adalah sebuah mitos yang sengaja digembar-gemborkan untuk menghancurkan mentalitas politik umat Islam, sehingga kita umat Islam sendiri enggan untuk menjamahnya. Padahal politik adalah sarana dakwah, alat strategis untuk mewujudkan kepentingan-kepentingan umat.

Kekeliruan dalam menilai politik bisa jadi dikarenakan tidak luasnya pemahaman kita tentang politik itu sendiri. Dulu, saya pun tak mengerti jika bertemu kata “politik”, yang langsung terpikirkan hanyalah partai. Dan kebanyakan orang menganggap partai hanyalah tempat untuk memperebutkan kekuasaan semata. Namun setelah mempelajari lebih dalam tentang apa itu politik, akhirnya saya menyadari betapa sempit sekali pemikiran saya tentang politik.

Jadi, apa sebenarnya politik itu?

Politik secara bahasa artinya kebijaksanaan, siasat, atau cara bertindak. Sadar atau tidak, dalam setiap kehidupan, kita sedang berpolitik. Ketika kita sedang lapar lalu berusaha mendapatkan makanan dengan memasak, ketika kita sedang belajar bersama untuk ujian, ketika sebuah tim melakukan latihan untuk perlombaan, sesungguhnya saat itu kita sedang berpolitik, saat itu kita sedang bersiasat, bertindak, mengatur strategi untuk bisa mendapatkan apa yang diinginkan. Artinya bahwa sebenarnya kita semua adalah seorang politisi loh. Lebih tepatnya politisi dalam arti luas. Karena dalam arti sempit politisi memang dimaknai banyak orang adalah ketika seseorang mengikuti politik yang tersedia dalam institusi negara, seperti lewat partai politik, ormas, atau LSM.

Jadi, pada dasarnya setiap kita adalah politisi dalam arti luas. Pilihan-pilihan salurannya bisa berbeda-beda. Bisa di partai politik, LSM, ormas, bahkan mungkin hanya di arisan ibu-ibu, warung makan, kelompok belajar, atau Club olah raga.

Lalu, apa hubungan politik dengan dakwah Islam? Kenapa seorang muslim seharusnya “melek” dengan politik?
Jika di awal tadi saya menulis bahwa politik sebenarnya adalah sarana dakwah, alat strategis untuk mewujudkan kepentingan-kepentingan umat, maka inilah alasannya;

Dakwah adalah menyeru kepada kebajikan, dan mencegah keburukan. Lalu politik adalah kebijaksanaan, strategi atau cara bertindak. Dilihat dari artinya sendiri, antara dakwah dan politik tidak dapat dipisahkan. Dalam berdakwah pastinya dibutuhkan strategi. Untuk mengajak orang mengerjakan kebaikan, untuk menciptakan keadilan, untuk menjadikan musuh takluk, untuk memenangkan dakwah Islam dan membangun kembali kepemimpinan Islam itu semua membutuhkan cara, siasat, strategi agar semua itu dapat tercapai.

Pada masa Rasulullah pun terjadi perpolitikan. Setiap peperangan yang terjadi di masa itu, semua dilaksanakan dengan strategi, dengan politik. Masih ingatkah kisah perang Khandaq? Di mana pasukan musuh ketika itu berencana mengepung umat muslim di Madinah dan akan menyerang secara tiba-tiba. Namun, rencana itu terdengar oleh kaum muslimin, dan akhirnya Rasulullah bermusyawarah dengan para sahabat untuk mengatur strategi. Saat itu seorang sahabat yang bernama Salman Al-Farisi berkata “wahai Rasulullah dulu jika kami orang-orang Persia sedang dikepung musuh, maka kami membuat parit di sekitar kami”. Ini merupakan langkah yang bijaksana yang sebelumnya belum dikenal orang-orang Arab. Maka Rasulullah dan para sahabat segera melaksanakan rencana tersebut untuk menggali parit sepanjang empat puluh hasta. Itulah salah satu bentuk kebijaksanaan, strategi yang dilakukan Rasulullah dan para sahabat. Masih banyak lagi peperangan-peperangan dan aspek kehidupan di zaman Rasulullah yang tidak lepas dari politik. Seperti perang mu’tah, perjanjian Hudaibiyah dan lain lain, bisa lebih banyak lagi didapat kisah-kisahnya dengan membaca sirah nabawiyah.

Sekarang bagaimana dengan politik partai atau kekuasaan yang saat ini banyak diragukan dan enggan dijamah?

Perlu digaris bawahi bahwa politik Islam adalah berpihak pada kebenaran. Memang tak semua perpolitikan baik. Karena itu banyak ditemui hal-hal buruk mengenai politik kekuasaan ini. Nah, jika kita sudah melihat sendiri banyak di luar sana orang-orang yang mencari kepentingan di luar Islam untuk bisa menduduki kekuasaan, apakah kita akan diam saja? Apakah kita bisa mengubah kebijakan-kebijakan mereka dengan status “rakyat biasa”?
Jika memang politik partai dan kekuasaan adalah strategi dan cara yang harus diambil untuk mencapai kemenangan dakwah, untuk mewujudkan cita-cita umat, maka hal itu menjadi suatu yang wajib, sebagaimana menurut kaidah ushul fiqih: “apabila suatu kewajiban tidak dapat dilaksanakan secara sempurna tanpa adanya sesuatu yang lain, maka pelaksanaan sesuatu itu hukumnya juga wajib”. Karena mewujudkan cita-cita umat, menciptakan kemashlahatan umat adalah suatu kewajiban, maka cara politik partai dan kekuasaan menjadi wajib. Tanpa kita terjun ke pemerintahan, maka kita tidak bisa mengatur kebijakan dan hukum di negara kita ini.

Kita bisa lihat beberapa penjelasan beberapa Imam ulama tentang hal ini,
Menurut ibnu al Qayyim:
“Politik adalah aktivitas yang memang melahirkan maslahat bagi manusia dan menjauhkannya dari kerusakan, walau pun belum diatur oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan wahyu Allah pun belum membicarakannya.”

“Maka, tidaklah dikatakan, sesungguhnya politik yang adil itu bertentangan dengan yang dibicarakan syariat, justru politik yang adil itu bersesuaian dengan syariat, bahkan dia adalah bagian dari elemen-elemen syariat itu sendiri. Kami menamakannya dengan politik karena mengikuti istilah yang mereka buat. Padahal itu adalah keadilan Allah dan Rasul-Nya, yang ditampakkan tanda-tandanya melalui politik.”

Jadi, setiap cara apapun yang dapat melahirkan keadilan maka itu adalah bagian dari agama dan tidak bertentangan dengannya.
Menurut Imam Syahid Hasan Al-Banna:
“sesungguhnya seorang muslim tidak sempurna keislamannya kecuali jika ia politisi, pandangannya jauh ke depan terhadap persoalan umatnya, memperhatikan, dan menginginkan kebaikan.” Dengan kata lain, Syumuliatul Islam menuntut amal politik.
Dan pada intinya…

Seorang muslim harus “melek” politik. Jangan sampai terbawa mitos dan ragu terhadap politik, karena mitos itu bisa jadi sengaja dibuat agar umat muslim ragu untuk berpolitik. Mereka yang di luar Islam ingin membuat umat Islam tidak bekerja keras memikirkan masyarakat bahkan dirinya sendiri, menjadikan kita orang-orang yang menerima dan iya-iya saja terhadap kezhaliman, kepemimpinan yang tidak adil, dan ketertindasan yang menimpa kita.

Seorang muslim yang baik tidaklah memisahkan antara Islam dan politik. Ia tidak terdoktrin dengan mitos “politik itu kotor”. Karena sesungguhnya setiap kita adalah da’i dan setiap da’i adalah politisi. Kita dituntut terampil dalam mengatur strategi, cara dan metode yang tepat dalam menyampaikan kebaikan kepada seluruh lapisan masyarakat.
Wallahualam bisshawab…

Mungkin hanya sedikit pengetahuan yang saya miliki dari membaca buku, mengikuti kajian, dan pengalaman berorganisasi selama ini. Berharap dapat menjadi awal mula membuka wawasan kita terkait politik.
Semoga Bermanfaat…


Sumber: dakwatuna.com


TANYA JAWAB

Q : Ustadz mau tanya,,, bagaimana dengan suatu kaum yang anti politik tapi mau membuat suatu yang didalamnya memang memerlukan (politik),,,akankah bisa terlaksana cita-cita suatu kaum ini tanpa ber(politik)?
A : Kaidah ushul fiqih: “apabila suatu kewajiban tidak dapat dilaksanakan secara sempurna tanpa adanya sesuatu yang lain, maka pelaksanaan sesuatu itu hukumnya juga wajib”.
merujuk kaidah ini maka cita-citanya tidak akan bisa terlaksana. Sederhananya, tidak akan kenyang jika kita tidak mau makan

Q : Sepertinya hingga sekarang paradigma "politik itu kotor" sudah melekat ustdz
karena pada kenyataannya.. Masih banyak sekali kecurangan dan korupsi yang rela berbondong bondong menerima uang.. Bagaimana menyikapi Hal tersebut Ustdz..?
Apakah Kita turut berdosa padahal tidak memiliki mereka ?
A : Ini adalah hasil jika kita memahami dan membenarkan "politik itu kotor". karena akhirnya "orang baik" akan menghindar. maka jika bukan orang baik yang penjadi pemeran maka, orang-orang baik ini akan jadi penonton. yang sekarang barangkali sedang kita tonton.
Tidak berdosa jika orang yang kita pilih ternyata dikemudian hari korupsi, karena itu adalah dosa pribadi orang tersebut. Misal juga tidak berdosa setelah menunjuk imam dalam sholat, tetapi sang imam batal dalam sholat (kentut) tetapi tetap lajut sholatnya.

Q : Ustadz, mau nanya, di dalam Al Qur'an politiknya rasulullah yang saya tahu adalah dengan musyawarah. Nah bagaimana dengan kondisi sekarang ini yang menurut saya sudah kebablasan, musyawarah hampir tidak Ada, bahkan politik kita rasanya nyaris berkiblat di negara kapitalis. Bagaimana dengan itu semua ustadz, dan apa yang harus kami lakukan agar Islam tetap Jaya di Indonesia ini.
A : Maka jangan alergi dengan kata "politik" dan harus melek politik

Q : Kemarin sempat nonton tv. Ada statement dari calon yang itu tuh yang lagi heboh di DKI "jangan mencampuradukkan politik dengan agama" .
Padahal ideal nya segala urusan hidup harus diiringi nilai agama. Bagaimana menyikapi komentar orang di sekitar kita yang berpikir bahwa "benar juga tuh politik sama agama jangan digabung". Maksud hati mencoba meluruskan malah bisa jadi dibully kalau salah penggunaan kata yang pas dan tidak menyinggung dengan kata-kata yang bermaksud menggurui gitu ustadz.
#maafcurhat
A : Menyampaikannnya juga harus pake politi (dapat di artikan dengan cara yang baik/tepat) berhubung sedang membahas politik, jadi istilah politik dalam artian luas kita pakai saja. Sadarkan sejangkauan tangan yang bisa kita sadarkan. dan bolehjadi diamkan saja jika itu yang paling tepat untuk dilakukan.

Q : Ustadz...negara kita tidak bersyariat Islam, hukumnya pun bukan hukum Islam, walaupun penduduknya mayoritas Islam. Kalau kita bersikap apatis terhadap perpolitikan sekarang ini, bukankah kita bisa saja dipimpin orang sekuler, orang anti Islam bahkan orang kafir. Yang ujungnya orang2 tsb semakin menyudutkan Islam. lalu.. bagaimana seharusnya sikap dan tindakan kita dalam masalah ini Ustadz..?
A : Sepakat. Sekarang yang bisa kita lakukan adalah yuk melek politik, jangan alergi dengan kata politik.

Q : Meleknya politik gimana ustadz, wong sekarang aja kalo pileg sama pilkada banyakan "npwp " ( nomer piro wani piro ) alias  pakai duit
A : Ini salah satu ikhtiar kita. setelahnya pasrahkan semuanya pada Allah yang mengatur semua kejadian.
selektif dengan pilihan nomornya. dikasih duit ya diambil saja, dipilih atau tidak tetap harus di berdasarkan data yang sumbernya bisa dipercaya. intinya harus pakai politik (strategi) juga menghadapinya. tolak ukurnya, apakah bertentangan syariat atau tidak.
wallahu a'lam

Q : Bagaimana dengan merusak surat suara alias nyoblosin semuanya ustadz? Apakah itu termasuk golput juga ustadz?
A : Betul. Golput artinya tidak memilih salah satu paslon, mencoblos semua paslon dalam satu kertas suara menyebabkan surat suara dikategorikan rusak. Keduanya sama-sama tidak punya pengaruh terhadap terpilihnya di salah satu paslon.

Q : Jika pemimpin itu terbukti nyata mendzolimi rakyatnya apakah kita sbagai yang dipimpin boleh mengambil tindakan tegas untuk menghentikan kedzoliman tersebut ustadz?
A : Boleh,
Dari Abi Sa’id Al-Khudri –semoga Allah meridainya– ia mengatakan, aku mendengar Rasulullah saw. bersabda, “Siapa di antara kalian yang melihat kemungkaran maka ia harus mengubah dengan tangannya. Jika ia tidak bisa maka ia harus mengubah dengan lidahnya. Jika ia tidak bisa maka ia harus mengubah dengan hatinya. Dan itu adalah selemah-lemah iman.” (Diriwayatkan oleh Ahmad, Abu Dawud, dan lainnya.)

Q : Bingung ustazd....sekarang ini . Gimana caranya peran kami ibu-ibu ini agar bisa ikut berpolitik yang bisa mengangkat derajat ummat islam.
A : Ada banyak hal bisa dilakukan, berikan bekal kepada anak kita dirumah dengan pemahaman Islam secara utuh. Ikut berpolitik tidak melulu terlibat langsung dalam aktifitas politik praktis yg biasanya dilakukan 5 tahunan (pencoblosan). Memahamkan kepada anak untuk tidak golput dengan mendekatan nilai-nilai ajaran Islam. Peran ini sangat penting, jangan sampai lingkungan luar rumah lebih berpengaruh terhadap perkembangan anak daripada lingkungan luarnya (dalam konteks pengaruh buruk lingkungan luar)

Alhamdulillah, kajian kita hari ini berjalan dengan lancar. Semoga ilmu yang kita dapatkan berkah dan bermanfaat. Aamiin....

Segala yang benar dari Allah semata, mohon maaf atas segala kekurangan. Baiklooah langsung saja kita tutup dengan istighfar masing-masing sebanyak-banyakanya dan do'a kafaratul majelis:


سبحانك اللهم وبحمدك أشهد ان لا إله إلا أنت أستغفرك وآتوب إليك

Subhanakallahumma wabihamdika asayahadu allaailaaha illa anta astaghfiruka wa atuubu ilaika


“Maha Suci Engkau ya Allah, dengan memuji-Mu aku bersaksi bahwa tiada sesembahan yang haq disembah melainkan diri-Mu, aku memohon pengampunan-Mu dan bertaubat kepada-Mu.”

Thanks for reading & sharing Kajian On Line Hamba اللَّهِ SWT

Previous
« Prev Post

0 comments:

Post a Comment