Ketik Materi yang anda cari !!

Home » » Ilmu Harta

Ilmu Harta

Posted by Kajian On Line Hamba اللَّهِ SWT on Tuesday, May 30, 2017


Image result for ilmu harta

KAJIAN ONLINE HAMBA اَللّهُSWT UMMI G~2
Kamis, 18 Mei 2017
Narasum :  Ustadzah Lulu Maslucha
Notulen : yuniboo
Editor : Sapta
------------------------

Assalamuallaikum warahmatullah wabarokatuh

بِسْــــــــــــــــــــــمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيِْ

~ ILMU HARTA ~

Pentingkah harta? Dalam Al Qur`an kata maal (amwal, harta) dan yang terkait dengannya disebutkan 86 kali. Sedangkan dalam hadits, dijumpai banyak hadits yang berbicara tentang harta. Bahkan Shahih Bukhari yang dianggap kitab hadits yang paling shahih, hampir separo kandungannya memuat masalah harta dan hal-hal terkait dengannya.

Perhatian Al Qur`an dan hadits pada harta ini menunjukkan bahwa harta itu penting. Apalagi bila dikaitkan dengan pertanggungjawaban. Bahwa kelak pada hari kiamat, manusia akan ditanya tentang hartanya: "bagaimana memperolehnya, mengelolanya dan membelanjakannya". (HR. Turmudzi)

Bagaimana respon muslim? Barangkali resep Umar bin Khatthab –radlaiyallahu `anhu- berikut bisa menjadi bahan renungan:
( لَا يَبِعْ فِيْ سُوْقِنَا إلَّا مَنْ فَقِهَ وَإِلَّا أَكَلَ الرِبَا شَاءَ أَمْ أَبَى )

“Tidak boleh berjualan di pasar kami kecuali (pedagang) yang berilmu (fiqih), karena (bila tidak berilmu) dikhawatirkan ia akan memakan riba, sengaja atau tidak”.

Berilmu menjadi kunci. Berilmu tentang harta sebagai bekal pertanggungjawaban. Berilmu dengan memahami hakikat harta, bagaimana mendapat harta, bagaimana mengelola harta, dan bagaimana membelanjakan harta.

Ketidaktahuan akan harta akan berakibat seperti yang dikatakan oleh Al Raghib al Ashfihani –rahimahullah, ”Uang adalah pelayan, bukan majikan.  Tapi, dikarenakan ketidaktahuan, banyak orang yang menjadikan dirinya sebagai pelayan dan budak harta. Bahkan ada yang menjadikan dirinya budak yang hina bagi harta.”

Harta itu ziinah (perhiasan).
Harta digemari karena menjadikan hidup terasa lebih indah. Meskipun keindahan harta bukan karena semata memiliki, tetapi tergantung pula oleh siapa yang memiliki.

Dikisahkan bahwa Nabi Sulaiman -`alaihi salam- menyukai harta, maka ia berkata: "Sesungguhnya aku menyukai kesenangan terhadap barang yang baik (kuda) sehingga aku lalai mengingat Tuhanku sampai kuda itu hilang dari pandangan". (Shad: 32)

Di ayat yang lain disebutkan, “Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia tetapi amalan-amalan yang kekal lagi saleh adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapan.” (Al Kahfi: 46)

Harta itu imtihan (ujian).
Kata Nabi –shallallahu `alaihi wa sallam- dalam hadits yang shahih, “Sungguh tiap ummat ada ujiannya, dan ujian ummatku adalah harta”. Sebagai ujian, kata Ibnu Taimiyah –rahimahullah, dinar dan dirham bukanlah tujuan, tapi sarana yang digunakan menjalani kehidupan.
Karena harta adalah ujian dan sarana, maka setiap orang terikat oleh batasan dalam mencari, mengelola, dan memanfaatkan harta.
Batasan itu adalah: Profesi dan pekerjaan yang ditekuni bukanlah pekerjaan yang haram atau mengandung unsur haram. Pekerjaan yang ditekuni tidak membuat lalai pada kewajiban kepada Allah.

Rasulullah –shallallahu `alahi wa sallam- bersabda:

لَا يَكْسِبُ عَبْدٌ مَالًا حَرَامًا فَيَتَصَدَّقَ مِنْهُ فَيُقْبَلَ مِنْهُ، وَلَا يُنْفِقُ مِنْهُ ; فَيُبَارَكَ لَهُ فِيْهِ، وَلَا يَتْرُكُهُ خَلْفَ ظَهْرِهِ إِلَّا كَانَ زَادُهُ إِلَى النَّارِ

“Tidaklah seseorang mendapat harta yang haram, bila ia menyedakahkannya maka (tidak) diterima. Bila ia membelanjakannya ia tidak diberkahi. Dan bila ia mewariskannya, maka akan mengantarkannya ke neraka.” (HR. Ahmad)

Al Qur`an menyebutkan kata maal (amwal) yang berarti harta. Tapi Al Qur`an tidak menyebutkan definisi tentang harta. Kalau dalam hadits dan ungkapan para shahabat, maal identik dengan kebun, lahan, baju, perhiasan, dan makanan.
Seperti disebutkan dalam riwayat-riwayat berikut:

عَنْ أَنَسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : كَانَ أَبُو طَلْحَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَكْثَرَ الْأَنْصَارِ بِالمَدِيْنَةِ مَالاً مِنْ نَخْلٍ، وَكَانَ أَحَبُّ أَمْوَالِهِ إِلَيْهِ بَيْرَحَاءَ ....

Dari Anas –radliyallahu `anhu- berkata, “Abu Thalhah termasuk kaum Anshar di Madinah yang terbanyak hartanya, terdiri dari kebun kurma. Di antara harta-hartanya itu yang paling dicintai olehnya ialah kebun kurma Bairuha' (HR. Al Bukhari dan Muslim)

قال عمر  رَضِيَ اللهُ عَنْهُ : إِنِّي أَصَبْتُ أَرْضًا بِخَيْبَرَ لَمْ أُصِبْ مَالًا قَطُّ أَنْفَسَ عِنْدِي مِنْهُ، فَمَا تَأْمُرُ بِهِ؟ قَالَ: إِنْ شِئْتَ حَبَسْتَ أَصْلَهَا وَتَصَدَّقْتَ بِهَا. قَالَ: فَتَصَدَّقَ بِهَا عُمَرُ ...

Umar –radliyallahu ‘anhu- berkata, “Aku mendapat bagian tanah di Khaibar. Aku tidak pernah memperoleh lahan yang sangat aku cintai melebihi tanah ini. (Wahai Nabi), apa yang engkau perintahkan kepadaku dengan tanah ini? Nabi menjawab, “Jika engkau menghendaki, engkau wakafkan tanah itu dan engkau sedekahkan hasilnya.” Lalu Umar mewakafkan tanahnya …” (HR. Al Bukhari dan Muslim)

🔆 عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ: خَرَجْنَا مَعَ رَسُولِ اللهِ صلى الله عليه وسلم يَوْمَ خَيْبَرَ فَلَمْ نَغْنَمْ ذَهَبًا ، وَلاَ فِضَّةً إِلاَّ الأَمْوَالَ وَالثِّيَابَ وَالْمَتَاعَ  ...

Dari Abu Hurairah –radliyallahu `anhu- berkata, "Kami pulang dari Khaibar bersama Rasulullah –shallallahu `alaihi wa sallam. Kami tidak mendapat ghanimah berupa emas dan perak, kecuali  beberapa harta, pakaian, dan barang-barang berharga … (HR. Al Bukhari)

Dari Abu Hurairah, ia berkata bahwa Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda:

يَقُولُ الْعَبْدُ: مَالِى مَالِى، إِنَّمَا لَهُ مِنْ مَالِهِ ثَلاَثٌ: مَا أَكَلَ فَأَفْنَى أَوْ لَبِسَ فَأَبْلَى أَوْ أَعْطَى فَاقْتَنَى وَمَا سِوَى ذَلِكَ فَهُوَ ذَاهِبٌ وَتَارِكُهُ لِلنَّاسِ.

“Hamba berkata, “Harta-hartaku.” Bukankah hartanya itu hanyalah tiga: yang ia makan kemudian habis, yang ia kenakan kemudian usang, yang ia beri yang sebenarnya harta yang ia kumpulkan. Harta selain itu akan sirna dan ditinggalkan pada orang-orang (setelahnya).” (HR. Muslim)

Syara` tidak menetapkan definisi khusus tentang harta. Berbeda dengan iman, shalat, zakat, yang oleh syara` telah ditetapkan hakikatnya.
Dengan demikian, pengertian harta diserahkan kepada adat dan kebiasaan masyarakat. Karena itu para ahli bahasa ketika menyebutkan harta mereka berkata, “Al maalu ma`ruuf’.
Meskipun pengertian harta sudah dipahami, para ulama madzhab berusaha mendefinisikan apa itu maal. Dan dijumpai dua pendapat tentang harta.

Apakah harta hanya berupa benda yang dikumpulkan dan dapat disimpan❓
Atau harta memiliki makna lebih luas, tidak sebatas benda, tapi mencakup manfaat, hak dan sebagainya. Pemahaman tentang makna harta ini penting, sebab harta menjadi objek transaksi yang dewasa ini tidak hanya berupa benda.

Wallahu a`lam bisshawab
****************************

TANYA JAWAB

Tanya: izin bertanya ustadzah, Mana yang lebih ahsan, sedekah ke anak yatim tapi kaya atau sedekah yang fakir /miskin ? Ini baik ke saudara sendiri maupun orang lain. Syukron atas jawabanya.
Jawab : Utamakan yang lebih membutuhkan bunda.

Tanya : Assalamu'alaikum ustadzah.mau tanya, apabila seorang suami bekerja di bengkel dan kadang-kadang ada penghasilan tambahan (istilahnya borongan kerja di luar), apa uang yang di dapat itu haram atau halal ustadzah?
Jawab: Saya tidak melihat unsur haramnya bunda. Mungkin bisa lebih detil.ceritanya?

Tanya : Afwan ustadzah, saya pernah baca di sebuah artikel bahwa seorang suami itu harus membedakan pemberian untuk keluarga dan untuk istrinya. Bagaimana kalau suami tidak memberikan hal tersebut? Misal begini, setiap hari saya di beri jatah suami 60-70ribu/hari, karena tidak ada akad dari suami, ini untuk keluarga berapa dan untuk ke saya berapa, jadi sama saya yang 20ribu di tabung ke sekolahnya anak. Suatu hari saya tanya ke suami, ini uang tabungan menjadi hak siapa? Dan di jawab, itu haknya anak-anak. Bagaimana itu ustadzah? Padahal saya sudah bilang ke suami untuk bisa memisahkan harta pemberian antara untuk keluarga dan saya?!
Jawab : Itulah mengapa harta disebut imtihan (ujian). Karena jika cara mendapatkan dan mendistribusikannya tidak benar, maka manusia akan mendapat bencananya. Dalam kasus bunda, menurut saya hanya perlu dikomunikasikan saja bunda, dan istri jangan cepat bilang tidak ridlo ya. Karena ridlo dan tidak ridlo bukan hanya masalah feeling atau rasa. Bagaimanapun juga suami juga punya kewajiban kepada ibu dan saudara perempuan yang belum menikah. Jika suami sudah memberikan bagian istri dan anak, walaupun sedikit, jika istri ridlo, in shaa Allah berbuah pahala shadaqah bagi istri dan membawa berkah

Tanya : harta yang haram bila diwariskan akan membawa ke neraka. Ahli waris atau yang diwarisi yang masuk neraka?
Jawab : Yang mewariskan harta. Bila ahli waris tahu hendaknya memperlakukan harta tersebut sesuai haknya. Misal bila jalan datangnya harta itu dari hasil korupsi, maka kembalikan kepada yang berhak. Jika dari menipu, maka kembalikan kepada yang berhak.

Tanya: "Laki-laki juga punya kewajiban kepada ibu dan saudara perempuan yang belum menikah" ya?, tapi kalau saudara perempuannya itu pernah menikah (sudah bercerai) apakah suami kita tetap harus menafkahi saudara perempuan nya tersebut?
Jawab : Saudara perempuan yang janda menjadi tanggungan mahrom (laki-laki)

Tanya: Kalau ibunya berkecukupan apakah perlu anak laki-lakinya memberi nafkah kepada ibunya?
Jawab : Perlu tanpa melalaikan kewajibannya untuk anak istrinya. Jika ibunya paham maka seharusnya disedekahkan entah kembali kepada anaknya ataupun kepada orang lain.

Tanya: Jadi kalau mau disalurkan kepada paman atau lebih baik lewat ibunya ya ustadzah? Agar ibunya tidak tersinggung jika kita memberikan langsung?
Jawab : Ya kalau bisa langsung ya langsung saja, ini masalah teknis sih. Kalau orangtua orangnya sensitif ya sampaikan ke orangtua.

Tanya: Kalau kita di dzolimi bagaimana seharusnya ustazah? Urusan nafkah oleh suami. Nafkah kurang atau tidak diberi?
Jawab : Kurang itu relative ya bunda. Kalau tidak diberi ya itu baru namanya di dzolimi. Bila kondisi demikian bunda, maka di satu sisi bunda harus bersyukur dapat ujian ini agar ditambah nikmat Allah pada bunda. Doa bunda menjadi doa yang makbul. Dan d sisi lain bunda kudu optimis melihat hidup ini agar solusi selalu tersedia. Alih-alih merutuki keadaan, biarkan mereka yang dzolim kepada bunda menjada urusan Allah SWT.

Tanya: Ustadzah izin bertanya, kebetulan kasus dari saudara. Singkat cerita saudara saya dan suaminya sama-sama bekerja, semua penghasilan dari suami maupun istrinya dikelola sama suaminya. Namun ketika penggunaan harta tersebut tidak terbuka kepada istri, seringkali berbohong dan ketahuan lewat pesan singkat dari HP suaminya. Apakah salah jika si istri ingin suaminya terbuka, istri tidak mempermasalahkan suaminya mengeluarkan untuk apapun baik itu pembelian barang, pemberian kepada orang tuanya dan saudaranya asalkan terbuka. Bagaimana hak istri dalam hal ini ustadzah, karena istri merasa tidak dihargai oleh suami. Terima kasih ustadzah sebelumnya.
Jawab: Ya wajar kalau istri ingin ada keterbukaan. Karena ada penghasilan istri di dalamnya yang 100% menjadi hak istri yang bila diganggu gugat oleh suami tanpa izin istri, dzolim jadinya. Dan dalam penghasilan suami ada hak istri pula walau tidak 100%. Suami dalam hal ini perlu diingatkan karena telah berlaku dzalim. Seharusnya penghasilan tidak digabung ya. Jika istri ingin membantu suami, maka bantuannya bernilai shadaqah.
Saran saya komunikasikan secara terbuka dengan suami. Jika kita tidak bisa, mungkin minta bantuan pihak ke-3 untuk nasehati suami lebih baik. Wallahu a'lam bishawab


~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Kita akhiri majlis hari ini dengan membaca :  

🔊 ucap syukur : الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِين
🔊 dan istighfar أَسْتَغفِرُ اَللّهَ الْعَظيِمْ

[In Syaaa ALlaah]  إِنْ شَاءَ الله  
kebersamaan ini bermanfaat dan barokah.

أٰمِيْنَ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْن
[aamiin yaa Rabbal 'aalamiiiin]

و‌َالسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ


~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
PENUTUP

DOA PENUTUP MAJELIS
سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوْبُ إِلَيْكَ
Subhanaka Allahuma wabihamdika asyhadu alla ilaha illa anta astaghfiruka wa atubu ilaik. Artinya:“Maha suci Engkau ya Allah, dan segala puji bagi-Mu. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan melainkan Engkau. aku mohon ampun dan bertaubat kepada-Mu.”
Aamiin ya Rabb.

======================
Website: www.hambaAllah.net
FanPage : Kajian On line-Hamba Allah
FB : Kajian On Line-Hamba Allah
Twitter: @kajianonline_HA
IG: @hambaAllah_official

Thanks for reading & sharing Kajian On Line Hamba اللَّهِ SWT

Previous
« Prev Post

0 comments:

Post a Comment