ANTARA KEYAKINAN, LOGIKA, DAN RASA

Posted by Kajian On Line Hamba اللَّهِ SWT on Tuesday, October 10, 2017

Image result for keyakinan logika rasa
Rekap Kajian Online HA Ummi G-3
Hari/Tgl : Sabtu, 7 Oktober 2017
Materi  : Antara Keyakinan, Logika, dan Rasa
NaraSumber  : Ustadzah Lara Fridani
Waktu Kajian : 19.30-20.30
Editor : Sapta
■□■□■□■□■□■□■□

ANTARA KEYAKINAN, LOGIKA, DAN RASA

It' s about me time
Oleh Lara Fridani

Istilah ‘Me-time’ yang kembali  populer akhir-akhir ini khususnya di kalangan  para istri/ibu rumah tangga, memang bisa  dimaknakan berbeda oleh tiap keluarga. Banyak yang mengartikan Me-time sebagai waktu khusus yang diperuntukkan bagi diri sendiri, ya… semacam ‘alone time’. Memang tak bisa dipungkiri bahwa  para ibu (tanpa bermaksud mengecualikan kesibukan para bapak) mau tak mau banyak mendedikasikan waktunya  untuk banyak orang termasuk untuk suami, anak-anak, kegiatan sosial, kegiatan kuliah, dan pekerjaan kantor atau bisnis bagi ibu yang berkarir ganda di luar rumah.  Nah, ada kalanya rutinitas tersebut mencapai ‘puncak kelelahan’ dan berakhir ekstrim dengan keinginan untuk menghentikan segala ‘tuntutan’ yang ada. Saya teringat berbagai kasus seputar rumah tangga para keluarga muda di lingkungan sekitar saya yang sempat goncang karena masalah seputar ‘me-time’. Awalnya bermula dari kebutuhan para istri untuk terlepas sejenak dari rutinitas tugas di rumah tangga sehari-hari. Para  suami cukup bijak untuk memberikan ‘space’ bagi istrinya untuk bisa menyenangkan diri mereka barang sejenak. Ada yang pergi ke salon, membaca novel berjam-jam, menonton acara hiburan, menambah jam tidur lebih lama dari biasanya, chatting dengan fasilitas teknologi, hingga ketemuan langsung untuk janjian makan-makan sambil ngobrol-ngobrol dengan teman. Dalam situasi kejenuhan yang memuncak, tampaknya ‘me-time’ dapat membantu diri untuk merasa lebih relaks dan meringankan stress yang terjadi.

🌺🌺

Masalahnya adalah ketika kegiatan ‘me-time’ ini menjadi melebar ke segala penjuru. Kenikmatan meluangkan ‘waktu special’ di sela-sela kesibukan sehari-hari, berubah menjadi sebuah tuntutan rutin dan intens yang ingin segera dipenuhi. Pergi ke salon dilanjutkan dengan acara  window shopping menjadi agenda rutin; kegiatan makan-makan dan ngobrol bareng di pusat perbelanjaan menjadi agenda minggu yang lain; membaca novel menjadi agenda seminggu sekali; plus menonton acara hiburan seminggu dua kali; penambahan jam tidur (bangun siang)  tiap hari sabtu dan minggu, bahkan chatting tanpa tujuan jelas menjadi agenda tiap hari. ‘Kapan nih bu, kita barengan ke salon lagi?’ ‘Sudah pernah coba makanan di restoran yang baru itu belum? ayo dong sekalian kita kumpul-kumpul!’ ‘Wah…rugi bu kalau belum pernah shopping di sana, barangnya murah-murah lho, unik-unik dan kualitasnya oke!’ ‘Ooooh begitu ya bu caranya minta sama suami, saya mau protes juga aaaah …….’

Kalau kesibukan tanpa tujuan jelas  seperti ini semakin intens, tentu dampaknya berpengaruh terhadap stabilitas rumah tangga. Para anak mulai menggerutu atau memilih kesibukannya sendiri, para suami mulai marah dan ada yang bersikap keras melarang istrinya berpergian lagi atau sekedar chatting dengan teman-temannya. Bahkan ada yang ‘ekstrim’, sang istri merubah haluan untuk bekerja di luar dengan alasan butuh uang tambahan karena merasa banyak keinginannya yang tak terpenuhi. Penyelesaiannya untuk menuju  ‘harmony’, sama sekali tidak mudah, apalagi jika kedua belak pihak bersikeras mempertahankan ego-nya. Sekedar nasehat dari psikolog untuk salah seorang pasangan,  bahkan untuk kedua pasangan  secara bersamaan pun, terkadang hanya efektif  ‘setengah jalan’.  ‘Kepercayaan diri ‘ masing-masing  karena merasa dalam ‘posisi yang benar’ menjadi standar yang bias. Keluhan sang istri tak ditanggapi secara serius oleh suami karena dianggap ‘lebay’. Teguran sang suami tak berdampak bagi istri karena merasa suaminya bukanlah pemberi tauladan , tapi ‘hanya bisa bicara saja’, sedangkan action-nya nomor sekian.

Saya teringat saat kegiatan kunjungan ke suatu daerah dimana para ustadzah di sana cukup berperan dan memiliki kepedulian yang besar terhadap kondisi masyarakat sekitarnya. Segala permasalahan termasuk urusan ‘emansipasi’  para ibu untuk ber‘me-time’ yang  sempat bergejolak di sana, dikembalikan kepada ajaran agama sebagai rujukannya.  Para ustadzah tidak melarang kegiatan ‘me-time’ jika dilakukan dalam batas yang wajar. Namun dalam berbagai kesempatan para ibu ini diajak  pula mengenal  adanya sifat itsar di dalam ajaran Islam (mendahulukan kepentingan orang lain, khususnya dalam hal duniawi ). Salah satu sikap itsar adalah senang menolong dan bersikap murah hati pada orang lain, termasuk pada keluarga sendiri. Dengan demikian, muslimah yang baik  tidak akan menjadikan konsep ‘me-time’  sebagai acuan ,tanpa menyeleksi apakah ada hal-hal yang tak sesuai dengan ajaran Islam.

🌺🌺

Para ustadzah yang saya temui meyakini bahwa berbagai kegiatan keagamaan yang mereka fasilitasi dalam bentuk ta’lim (pengajaran), maupun tarbiyah (pendidikan) adalah suatu hal yang penting untuk membina keluarga menjadi sakinah mawadah warahmah.  Para ibu khususnya dibimbing untuk mempelajari  Al-Quran dan dijelaskan tentang nilai-nilai luhur dalam ajaran Islam. Ada pula yang secara intensif dibimbing dalam kelompok-kelompok kecil (agar lebih efektif) untuk membedah  buku-buku agama dipandu oleh sang ustadzah. Kegiatan tersebut sepertinya bisa menjadi salah satu alternatif ‘solusi’ bijak  bagi para ibu dalam memanfaatkan ‘me-time’ nya. Dengan meluangkan ‘me-time’ nya untuk belajar ilmu agama, para ibu menjadi paham tentang fiqih wanita. Bahasan tentang akhlak  muslimah sebagai kunci dari kebaikan umat juga menjadi ‘kurikulum’ tersendiri.

Para  ustadzah juga sempat bercerita bahwa tantangan untuk keberlangsungan kegiatan ini tentu saja ada, mulai dari mereka yang berguguran datang ke forum ini karena memiliki kesibukan lain,  mereka yang mundur karena merasa ilmunya ustadzah kurang ‘up to date ‘ dengan zaman sekarang,  mereka yang lebih memilih untuk ikut acara bernuansa hiburan dan bisnis, dan sebagainya. Belum lagi dengan tantangan eksternal  segelintir ibu-ibu yang terkadang menonjolkan prasangka buruknya , bahkan ada pula yang memprovokasi ibu-ibu lainnya untuk ‘berhati-hati’ dengan kegiatan religius semacam ini. Dengan  adanya  tujuan yang jelas saat berkumpul bersama, yaitu sebagai sarana ibadah, mencari ilmu,  dan memperbaiki diri,  tentu berlebihan kiranya jika masih ada yang beranggapan bahwa ‘me-time’ versi para ibu tersebut lebih patut untuk dikhawatirkan. Subhanallah.

➖➖➖➖➖➖➖➖
REKAP TANYA JAWAB

T : Anne ijin tanya ustadzah, sebagai seorang ummahat, kita punya peran ganda antara mengabdi pada suami dan menjadi majlis ilmu untuk generasi penerus kita/anak. Bagaimana kita bisa mengatur waktu dan mengatur diri secara efektif untuk ‘me time’ yang tidak mengganggu tugas itu dan tidak terbawa oleh trend atau gaya gayaan? Apakah upgrade keilmuan bisa cukup dari buku, mengingat keterbatasan waktu?
J : Kegiatan apa pun yang kita lakukan sebagai istri, harus dengan izin dan ridho suami. In shaa Allah ketika suami ridho, dan kita mendahulukan kegiatan yang wajib, urusan kita yang lain dimudahkan. Untuk up grade keilmuan, idealnya memang didampingi guru, tetapi jika belum memungkinkan, kita sesuaikan dengan yang sesuai keterbatasan waktu kita

T : Jazakillah khairan ilmunya ustadzah, ijin bertanya, sering banyak kasus, jika si istri mengisi waktu 'me time' dengan memperdalam ilmu agama, dia merasa jadi lebih shalih dari suaminya (jika suaminya tidak ikut taklim juga), bagaimana menyiasatinya ustadzah?
J : Perlu banyak istighfar. Seharusnya ketika ilmu agama bertambah, maka tambah tawadhu, bukan merasa lebih baik dari orang lain atau suami. Walaupun kenyataan demikian, namun hati tetap harus dijaga

T : Jika suami istri sibuk. Namun sang suami lebih diberikan banyak waktu untuk menyeimbangkan kebutuhan untuk akhiratnya dibandingkan istri. Sebaikanya jalan bagaimana yang harus ditempuh agar sang istri pun bisa memenuhi kebutuhan akhiratnya sepeti sang suami. Misal sang suami pun tidak memberikan motivasi yang setara kepada istrinya untuk semangat dalam mengerjakan tugas rumahtangga, karier dan kebutuhan akhirat istrinya ? *kalau sang istri curhat ke suami disangkanya ngeluh. Jazaakillahu khairon katsiroo ustadzah
J : Sebaiknya istri mengurangi kesibukannya, dan bisa menentukan prioritas yang ke arah akhirat. Menjadi ibu peran ganda tak mudah, banyak hal yang akan dikorbankan. Lebih baik prioritas yang wajib dulu

T : Afwan terlambat bertanya, ustadzah, bukunya bisa dipesan dimana? Terima kasih
J : In shaa Allah bisa hubungi saya saja mbak..nanti saya minta marketing yang kirimkan.. Jazakillah khair.

🔚🔚🔚🔚🔚🔚🔚🔚

DOA PENUTUP MAJELIS
سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوْبُ إِلَيْكَ

Subhanaka Allahuma wabihamdika asyhadu alla ilaha illa anta astaghfiruka wa atubu ilaik.Artinya:“Maha suci Engkau ya Allah, dan segala puji bagi-Mu. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan melainkan Engkau. aku mohon ampun dan bertaubat kepada-Mu.”
Aamiin ya Rabb.

======================
Website: www.hambaAllah.net
FanPage : Kajian On line-Hamba Allah
FB : Kajian On Line-Hamba Allah
Twitter: @kajianonline_HA

Thanks for reading & sharing Kajian On Line Hamba اللَّهِ SWT

Previous
« Prev Post

0 comments:

Post a Comment

Ketik Materi yang anda cari !!

Kajian On Line Hamba اللَّهِ SWT