Tujuan utama dari pelaksanaan Grup ini, semata-mata hanya untuk mencari Ridho اللّهُ SWT. Terus semangat belajar dan berbagi ilmu sampai ke liang lahat demi menjadi Hamba Allah SWT yang Kaffah

Etika Berbisnis Dalam Islam


 Image result for etika ekonomi syariah

Notulensi Kajian Online Hamba Allah G-5 Ummahat
Hari/ Tgl : Senin, 09 Oktober 2017
Materi : Etika Ekonomi Syariah
Narasumber   : Ustadz Asyari Suparmin, MA
Asmin G-5   : Saydah Nining
Notulensi.  : Saydah
Editor : Sapta
==================================

بسم الله الرحمن الر حيم

Assalamualaikum Ummahat, mari kita simak materi berikut ini,

Etika Berbisnis Dalam Islam

Kegiatan bisnis (usaha) dalam kacamata Islam, bukanlah kegiatan yang boleh dilakukan dengan serampangan dan sesuka hati. Islam memberikan rambu-rambu pedoman dalam melakukan kegiatan usaha, mengingat pentingnya masalah ini juga mengingat banyaknya manusia yang tergelincir dalam perkara bisnis ini. Fakta nya terdapat ancaman keras bagi pelaku bisnis yang tidak memperdulikan etika, tetapi juga janji berupa keutamaan yang besar bagi mereka yang benar-benar menjaga dirinya dari hal-hal yang diharamkan.

  1. Niat yang Ikhlas.

Keikhlasan adalah perkara yang amat menentukan. Dengan niat yang ikhlas, semua bentuk pekerjaan yang berbentuk kebiasaan bisa bernilai ibadah. Dengan kita lain aktivitas usaha yang kita lakukan bukan semata-mata urusan harta an perut tapi berkaitan erat dengan urusan akhirat.

Contoh niat yang ikhlas dalam usaha bisa berlaku dlam lingkup pribadi maupun sosial. Dalam lingkup pribadi misalnya meniatkan usaha yang halal untuk menjaga diri dari memakan harta dengan cara haram, memelihara diri dari sikap meminta-minta, untuk mendukung kesempurnaan ibadah kepada Allah I, menjaga silaturrahim dan hubungan kerabat dan motivasi positif lainya

  1. Akhlaq yang Mulia

Menjaga sikap dan perilaku dalam berbisnis adalh prinsip penting bagi seorang pebisnis muslim. Ini karena Islam sangat menekankan perilaku (aklhaq) yang baik dalam setiap kesempatan, termasuk dala berbisnis. Sebagaimana sabda Rasulullah saw “….dan pergaulilah manusia dengan akhlaq yang baik” (Sahihul Jami’ No 97).

Akhlaq mulia dalam berbisnis ditekankan oleh Rasulullah e dalam sabdanya “Seorang pedagang yang jujur dan dapat dipercaya akan dikumpulkan bersama para nabi para shiddiq dan oarang-orang yang mati syahid. Dalam kesempatan lain Rasulullah e bersabda “Semoga Allah memberi rahmatNya kepada orang yang suka memberi kelonggaran kepada orang lain ketika menjual, membeli atau menagih hutang” (Shahih Bukhari No.2076). Di antara akhlaq mulia dalam berbisnis adalah menepati janji, jujur, memenuhi hak orang lain, bersikap toleran dan suka memberi kelonggaran.

  1. Usaha yang halal

Rasulullah e bersabda : “Setiap daging yang tumbuh dari barang haram maka neraka lebih berhak baginya” (Shahihul Jami’ No. 4519)

  1. Menunaikan Hak

Seorang pebisnis muslim selayaknya bersegera dalam menunaikan haknya, seprti hak aryawannya mendapat gaji, tidak menunda pembayaran tanggungan atau hutang, dan yang terpenting adalah hak Allah I dalam soal harta seperti membayar zakat yang wajib. Juga, hak-hak orang lain dalam perjanjian yang telah disepakati.Dalil yang menunjukkan hal ini adalh peringatan Rasulullah e kepada oarang mampu yang menunda pembayaran hutangnya “Orang kaya yang memperlambat pembayaran hutang adalah kezaliman” (HR Bukhari, Muslim dan Malik)

  1. Menghindari riba dan segala sarananya

Soerang muslim tentu meyakini bahwa riba termasuk dosa besar, yang sangat keras ancamannya. Maka pebisnis muslim akan berusaha keras untuk tidak terlibat sedikitpun dalam kegiatan usaha yang mengandung unsur riba. Ini mengingat ancaman terhadap riba bukan hanya kepada pemakannya tetapi juga pemberi, pencatat, atau saksi sekalipun disebutkan dalam hadits Jabir bin Abdillah bahwa Rasulullah e melaknat mereka semuanya dan menegaskan bahwa mereka semua sama saja (Shahih Muslim No. 1598)

  1. Tidak memakan harta orang lain dengan cara bathil

”Dan janganlah sebahagian kamu memakan harta sebahagian yang lain di antara kamu dengan jalan yang bathil dan kamu membawa harta itu kepada hakim, supaya kamu dapat memakan sebahagian daripada harta benda orang lain itu dengan dosa, padahal kamu mengetahui”.(QS Al Baqarah 188)

  1. Komitmen terhadap peraturan dalam bingkai syari’at

pebisnis muslim tidak akan membiarkan dirinya terkena sanksi hukuman undang-undang hukum positif yang berlaku di tenagh masyarakat. Misalnya dalam hal pajak, rekening membenahi sistem akuntansi agar tidak terkena sangsi karena melanggar hukum. Hal itu dilakukannya bukan untuk menetapkan adanya hak membyuat hukum ekpada manusia, tetapi semata-mata untuk mengokohkan kewajiban yang diberikan Allah I padanya dan mencegah terjadinya keruskan yang mungkin timbul

  1. Tidak membahayakan/merugikan orang lain

“ Tidak dihalalkan melakukan bahaya atau hal yang membahayakan orang lain (Irwa’ul Ghalil No 2175)”. Termasuk katagori membahayakan orang lain adalah menjual barang yang mengancam kesehatan orang lain seperti obat-obatan terlarang, narkotika, makanan yang kedaluwarsa. Seorang pebisnis muslim hendaknya bersikap fair dalam berkompetisi, dan tidak melakukan usaha yang mengundang bahaya bagi dirinya maupun orang lain.

  1. Loyal terhadap orang beriman

Pebisnis muslim sekaliber apapun tetaplah bagian dari umat Islam. Sehingga sudah selayaknya ia melakukan hal-hal yang membantu kokohnya pilar-pilar masyarakat Islam dalam skala interasional, regional maupun lokal. Tidak sepantasnya ia bekerjasama dengan pihak yang nyata-nyata menampakkan permusuhannya terhadap umat Islam. Ini merupakan bagian dari prinsip Al Wala’ (Loyalitas) dan Al Bara’ (berlepas diri) yang merupakan bagian dari aqidah Islam. Sehingga ketika melaksanakan usahanya, seorang muslim tetap akan mengutamakan kemaslahatan bagi kaum muslimin dimanapun ia berada. Allah I berfirman : “Janganlah orang-orang mu’min mengambil orang-orang kafir menjadi wali dengan meninggalkan orang-orang mu’min. Barang siapa berbuat demikian, niscaya lepaslah ia dari pertolongan Allah, kecuali karena memelihara diri dari sesuatu yang ditakuti dari mereka. Dan Allah memperingatkan kamu terhadap diri -Nya. Dan hanya kepada Allah kembali.” (QS Ali Imran 28)

  1. Jujur di dalam Bisnisnya,

Kejuran adalah syarat fundamental dalam berbisnis yang di lakukkan oleh RasullAllah Muhammad SAW. Beliau pernah melarang para pedagang untuk meletakkan barang Busuk/jelek di dalam dagangannya. dan beliau selalu memberikan barang sesuai dengan seadannya dan terbaik bagi Konsumennya.

  1. Keadilan dan Keseimbangan
Keadilan dan keseimbangan sosial, bukan hanya keuntungan semata tetapi Kemitraan/bantu membantu di dalam bisnisnya (Win-Win-Solution)

  1. Tidak hanya mengejar keuntungan, dan berorientasi untuk menolong orang lain, Atau WIN Win Solution.

  1. Branding/Menjaga nama baik,

Rasulullah selalu menggunakan cara ini sebagai Modal Utama, Track Record sebagai orang Terpercaya (Al Amin), Justru paling di cari dan siapapun ingin bekerja sama dengannya.

Salam Sukses Selalu

=====================
TANYA JAWAB


T : Ustadz, bagaimana sebaiknya membagi antara keuntungan untuk tambahan modal, sosial, dan pribadi?
J : Di buat program atau di rencanakan dari keuntungan 2.5 % zakat. 40 untuk operasional . Pengembangan 30%  pribadi 20  sedekah dll, 7.5 tidak ada ketentuan pasti tapi harus di buat

T : Assalamualaikum, mau bertanya apakah ada batasannya untuk mengambil keuntungan dalam berjualan?
J : Wassalam, hukum figh tidak mengatur secara rinci. Ketentuannya wajar dan saling ridho

T : Tanya ustadz apakah dasar hukum Etika bisnis dalam Ekonomi Islam?
J : Dasar hukum Al Quran, Sunnah,  ijtihat ulama, boleh juga urf yang tidak bertentangan dengan syariah

T : Ustadz tanya lagi, bolehkah kita menjual satu barang dimana dibedakan harga kontan dan kredit?
J : Prinsipnya boleh tapi tidak boleh dua akad, jadi tidak bisa kalau cash sekian kredit sekian, pastikan satu cash yang ini harga sekian, kredit yang ini harga sekiaaan

T : Ustadz tanya lagi bagaimana aturan bagi hasil dalam perdagangan? apakah akadnya hutang dengan pemilik modal? bagaimana jika tidak menghasilkan atau buruk lagi bankrut?
J ; Bisnis haruz jelaz perhitungan nya dan konsekuensi. Dalam syirkah harus di sepakati kalau untung juga rugi bila rugi sebagai resiko binis harus di tanggung bersama

T : Ustadz, jika seumpama kita kreditin barang-barang tersebut kita kreditin 2 kali lipat harga pembelian, apakah termasuk Riba ustadz?
J : Tidak termasuk riba yang penting saling ridho

T : Kalau hutang barang tidak dibayar bayar bagaimana ustadz? kita wajib menagih terus (capek juga) atau ikhlaskan aja demi menghindari permusuhan, kan jadi dosa, solusi terbaik nya dalam islam hal seperti ini bagaimana?
J : Coba tabayun  dulu kenapa  belum bayar. Kalau memang kondisi bisa di tangguhkan atau cara bayarnya kalu memang tidak mampu ikhlaskan mudah mudahan di ganti lebih baik

T : Ustadz  bagaimana hukumnya dengan usaha warnet Dan Play station, kadang di Warnet itu ada yang buka situs porno, dan di play station ada yang taruhan, (walaupun tidak semuanya yang datang ke warnet buka situs porno dan yang datang ke Play station itu taruhan?
J : Hukumnya jelas di larang menjual, menyediakan barang haram. Kecuali hanya yang halal boleh.