Tujuan utama dari pelaksanaan Grup ini, semata-mata hanya untuk mencari Ridho اللّهُ SWT. Terus semangat belajar dan berbagi ilmu sampai ke liang lahat demi menjadi Hamba Allah SWT yang Kaffah

Menghakimi

Image result for menghakimi
KAJIAN ONLINE HAMBA اَللّهُSWT UMMI G-2
Hari / Tanggal : Kamis, 5 Oktober 2017
Narasumber    : Ustadzah Lilis Nuraeni
Tema : Menghakimi (Seri Motivasi)
Notulen : yuniboo
Editor : Sapta
➿➿➿➿➿➿➿➿

بِسْــــــــــــــــــــــمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيِْ

Assalamualaikum,
Seringkali ketika kita temui seseorang yang suka sekali menghakimi orang lain.

Ketika bertemu dgn orang sakit dia berkata ", kamu sering sakit karena banyak dosa!".

Ketika bertemu dengan orang miskin dia berkata ", kamu miskin terus karena salah hidup!".

Ketika bertemu dgn orang kena musibah dia berkata", nah lo ,kamu dihukum Alloh karena tidak taat pada Alloh!".

    Sebegitu mudahnya seseorang menghakimi kehidupan orang lain. Dia bicara seolah tahu banyak hal kehidupan orang lsin, penuh suudzon dan bicara mendahului Alloh.
Ucapannya menyakiti orang-orang dekatnya,karena ia merasa dirinya paling baik,kelebihan harta dan kekuasaannya membuat lisannya bak pedang yg siap membunuh karakter banyak orang di sekelilingnya.
    Dia melihat kehidupan ini bgt sempit dan sederhana.   Mengukur orang lain dari dirinya sendiri.Dan menilai-nilai.

Ada sebuah nasihat bijak :
~ Jika orang yang mulia itu orang kaya,maka Qorun lebih mulia dari nabi Isa
~ Jika yang sehat itu lebih mulia dari yg sakit,maka Nabi Ayublah yang banyak dosanya

    Kita tidak bisa memandang kehidupan ini dgn sederhana dan sempit.Hidup ini penuh rahasiah. Kita harus hati-hati terhadap kehidupan orang lain. Alloh sendiri mengingatkan :

Jangan mengolok-olok karena boleh jadi yang diolok- olok lebih baik dari yg mengolok-olok. (Qs.49 :11.)

Kadangkala kekayaan yg dimiliki kita sesungguhnya bukan kebaikan,tp istidraj dari Alloh. Atau pahala yg disegerakan di dunia,dan disisakan sedikit untuk di akhirat
Hidup ini ujian bagi orang beriman.QS 2:156.  

Bukankah ujian yg paling berat adalah para nabi,lalu sahabat,lalu tabiin dst.....hingga orang beriman sesuai kadar keimanannya.
Boleh jadi ujian-ujian berat sesrorang karena Alloh anggap ia cukup kuat dan layak diuji dgn ujian2 berat.Bukan karena hukuman.
Nabi Ayub hidupnya penuh ujian,sakit,habis harta dan jatuh miskin,ditinggal isteri-isterinya.


Jika seseorang tampak miskin mungkin karena ia sedikit mencintai dunia,dan cintanya pada Alloh lebih tinggi sehingga hartanya habis karena dakwah dan jihad,atau sedekah, sedekahnya seperti Abu Bakar seorang milyarder yg memilih hidup zuhud.

    Perlu diwaspadai,lisan yg tajam terhadap orang sakit,lemah dan tak berdaya,bisa jadi akan mengundang petaka karena do'a-do'a mereka yg tanpa hijab,langsung di dengar oleh Alloh.

    Jagalah hati kita dari suudzon terhadap orang lain dan lisan dari menyakiti orang lain.Pelajari dulu motif-motif dibalik apa yg tampak dengan mata kita. Jangan mudah menghakimi
Siapa tahu ia lebih mulia di mata Alloh dibanding kita.

Kesabarannya lebih dari kita.
Kezuhudannya lebih dari kita.
Perjuangannya lebih dari kita.
Sedekahnya lebih dari kita.

Hapus kesombongan iblish dari diri kita.
Karena boleh jadi Alloh menganggap kita tidak layak diuji dgn ujian para mujahid dan muwahid.

Rosululloh awalnya kaya,tetapi setelah masuk Islam hartanya habis untuk perjuangan, sehingga Khodijah (miyarder) tidur beralas daun.
Nabi Isa juga miskin.
Haruskah kekayaan kita menyakiti kawan-kawan kita ?

STOP MENGHAKIMI ! Anda belum tentu lebih baik.


Semoga bisa menambah ilmu dan keimanan kita
Jazakumullah khairan khatsiran
Assalamuallaikum warahmatullah wabarokatuh

🌸🌼🌸🌼🌸🌼🌸🌼

TANYA JAWAB

T : Bila ngomongnya dibelakang bagaimana ya ustadzah, misalnya seperti ustadzah bilang, kalau si bapak itu sekarang sakit-sakitan karena dulu suka nyusahin orang dan lain-lain, Bagaimana sikap kita? soalnya jadi ikut-ikutan mengiyakan walaupun dalam hati.
J : Tetap suudzon. Ketika bisikan hati ke arah negatif, arahkan ke positif. Mungkin Alloh ingin sakitnya bersihkan dosa-dosa dia, saking sayangnya.

T : Ustdzah, jika orang lain sering membicarakan kita dan membuat berita bahwa kita melakukan hal-hal yang tidak benar, padahal kita tidak melakukan hal yang dituduhkan itu, kita harus bagaimana? apakah harus selalu meluruskan atau diam dan biar waktu yang membuktikannya?
J : Tabayun dan Islah. Selebihnya serahkan pada Alloh

T : Ustadzah mau tanya nih, kalau menghakimi diri sendiri boleh tiak ? Untuk diri sendiri kan kita lebih tahu jalan hidup kita dan yang pernah terjadi dengan diri kita. Apakah itu termasuk muhasabah? Misalnya sakitnya kita karena tidak berbuat baik kepada orang tua, pernah dapat nasehat kali rejeki kita agak seret barangkali kita belum mencium tangan ibu (berbuat baik pada orang tua).
J : Menghakimi diri sendiri berarti suudzon sama Alloh. Khusnuzon saja,mungkin kita kurang ilmu, sehingga kurang faham masalah pribadi kita. Muhasabah tak sama dengan menghakimi sendiri. Muhasabah juga harus dengan ilmunya supaya tidak tersesat. Coba silaturahim dengan kyai atau ulama supaya dapat pencerahan.

T : Ustadzah, saya punya ABK, seringkali setiap ketemu orang mereka selalu bilang banyak istigfar, bertaubat, anakmu begini biasanya itu karena dosa orang tuanya. Dulu sih saya marah, tapi sekarang saya biasa saja, kadang happy juga, bila Allah menghukum saya karena dosa saya dengan mahluk seganteng ini.. why not? Benarkah sikap saya itu ustadzah? Apa tidak membuat saya jadi ujub, takabur?
J : Yang jelas,untuk orang-orang yang beriman semua yang terjadi karena kasih sayang Alloh. Mungkin yang dimaksud adalah kafarat, bukan hukuman. Orang beriman itu beruntung, sakitnya pahala, kafarat dan pengingat. Tidak ada dosa turunan.

T : Tanya ya bun, jika kita memprediksi satu kejadian berdasarkan tanda-tanda yang terdapat dalam al quran (mengait-ngaitkan) apakah termasuk menghakimi? Misal: daerah A baru saja tertimpa bencana gempa bumi, dan ternyata daerah tersebut diketahui banyak dilakukan/terdapat kemaksiatan kronis oleh masyarakatnya.  Kemudian masyarakat lain di luar daerah tersebut langsung "menduga" musibah tersebut karena azab dari Allah seperti dalam Al quran.
J : Boleh. Karena ada banyak contoh dalam Qur'an dan diasumsikan, sebagai pelajaran saat ini.
Itu tidak mengenai diri sendiri, tapi suatu kaum, berdasar akhlak dan karakter mereka. Tapi harus hati-hati, ilmunya harus lengkap tentang itu. Ilmu Qur'an Hadistnya.


~#~#~#~#~#~#~#~

Jazakallah khayron katsier Ustadzah Lilis  yang  telah berbagi ilmu dan meluangkan waktu bersama Ummahat d G-2. Barakallahufikum ummahat kita telah menyimak dan mengikuti kajian pada pagi hingga siang hari ini,semoga Ilmu yg telah d berikan oleh ustadz dapat bermanfaat dlm kehidupan kita sehari-hari. Atas nama Admin G-2 yg bertugas mohon maaf lahir bathin bila kami kurang maksimal  memandu kajian hari ini

Marilah kita tutup acara kajian sore ini dgn membaca istighfar, hamdallah serta do'a kafaratul majelis
الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِين

dan istighfar

أَسْتَغفِرُ اَللّهَ الْعَظيِمْ

Doa penutup majelis :
سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوْبُ إِلَيْكَ ٭
Artinya:
“Maha suci Engkau ya Allah, dan segala puji bagi-Mu. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan melainkan Engkau. aku mohon ampun dan bertaubat kepada-Mu.”

Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuhu


Website: www.hambaAllah.net  
FanPage : Kajian On line-Hamba Allah
FB : Kajian On Line-Hamba Allah
Twitter: @kajianonline_HA
IG: @hambaAllah_official