Ketik Materi yang anda cari !!

Home » , » SYAHWATUL KALAM

SYAHWATUL KALAM

Posted by Kajian On Line Hamba اللَّهِ SWT on Tuesday, October 24, 2017


 Image result for menahan berkata yang tidak baik

Kajian Online HA Ummi G-3 
Selasa, 1 Agustus 2017, Jam : 12.30 - selesai
Narsum : Ustadz Ruly
Tema : Syahwatul Kalam
Editor : Sapta
➖➖➖➖➖➖➖➖➖

SYAHWATUL KALAM

Apakah ada kaitannya antara tema “Syahwatul Kalam” bila di kaitkan dgn ibadah *Puasa Sunah* yang sedang kita jalani?
Puasa secara etimologi berarti menahan diri

3 hal yang harus ditahan oleh orang yang berpuasa :
  1. Syahwatul Buthun ( menahan diri dari makan & minum )
  2. Syahwatul Farj ( menahan diri dari melakukan hubungan suami isteri )
  3. Syahwatul Kalam (menahan diri dari perkatan yang tidak baik & sia-sia)

Dari ketiga syahwat tadi sering kali kita tidak bisa menahan diri dari Syahwatul Kalam sehingga kita sering mengucapkan kata-kata yang bisa menghilangkan pahala puasa seperti menggunjing, mengadu domba, dusta, kata-kata jorok dan sebagainya.

Padahal Rasulullah SAW telah mengingatkan melalui sabdanya :
  1. ليس الصيام عن الأكل و الž8;رب و إنما الصيام عن اللغو و الرفث.
  2. من لم يدع قول الزور و العمل به فليس لله حاجة في أن يدع طعامه و شرابه
Oleh karena itu agar puasa kita tidak menjadi sia-sia gara-gara ketidakmampuan kita dalam menjaga lidah kita, sebagaimana yang diingatkan oleh Rasulullah melalui sabdanya:
كم من صائم ليس له من صيامه إلا الجوع و العطش
maka kita harus mengetahui bahaya apa sajakah yang dapat ditimbulkan oleh lidah kita untuk kita jauhi yang sejauh-jauhnya.

Apakah ada pernyataan/ungkapan yang menunjukkan *bahwa lidah itu bisa menimbulkan bahaya yang besar apabila tidak dikendalikan dengan baik?
Ya ada, diantaranya: اللسان جرمه صغير و جرمه كبير

Ketika Rasulullah ditanya tentang perbuatan yang menyebabkan masuk surga, Rasul menjawab : *“Bertaqwa kepada Allah dan akhlaq mulia”*. Dan ketika ditanya tentang penyebab masuk neraka, Rasul menjawab : *“dua lubang, yaitu mulut dan kemaluan”*(HR. At Tirmidziy)

Kalau begitu, lantas bagaimana caranya agar kita bisa selamat dari bahaya lidah ini?
Dengan mengamalkan sabda Rasulullah SAW : من كان يؤمن بالله و اليوم الآخر فليقل خيرا أو ليصمت.

Makna hadits di atas menurut Al-Imam Asy-Syafi’i adalah: *”Jika seseorang hendak berbicara, maka hendaknya ia memikirkan terlebih dahulu manfaat dan madhorot dari pembicaraannya. Jika mendatangkan manfaat silahkan berbicara, tetapi jika mendatangkan madhorot lebih baik tidak berbicara.”*

Agar bisa mengamalkan pesan Rasulullah SAW di atas, dalil-dalil yang berkaitan dengan keutamaan-keutamaan dalam menjaga lidah.

Banyak sekali dalil-dalil yang menjelaskan tentang keutamaan-keutamaan dalam menjaga lidah, antara lain:

Syaikh Abdul Muhsin Bin Hamd Al-‘Abbad Al-Badr

Allah berfirman :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًايُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ وَمَن يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا
“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu sekalian kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar, niscaya Allah memperbaiki amalan-amalanmu dan mengampuni dosa-dosamu. Barangsiapa mentaati Allah dan RasulNya, maka sesungguhnya ia telah mendapat kemenengan yang besar” [Al-Ahzab : 70-71]

Dalam ayat lain disebutkan.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِّنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ ۖ وَلَا تَجَسَّسُوا وَلَا يَغْتَب بَّعْضُكُم بَعْضًا ۚ أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَن يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ تَوَّابٌ رَّحِيمٌ
“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan berprasangka, karena sesungguhnya sebagian tindakan berprasangka itu adalah dosa. Janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah kamu sebahagian kamu menggunjing sebahagian yang lain. Sukakah salah seorang diantara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati ? Tentu kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang” [Al-Hujurat : 12]

Allah juga berfirman.

وَلَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنسَانَ وَنَعْلَمُ مَا تُوَسْوِسُ بِهِ نَفْسُهُ ۖ وَنَحْنُ أَقْرَبُ إِلَيْهِ مِنْ حَبْلِ الْوَرِيدِ إِذْ يَتَلَقَّى الْمُتَلَقِّيَانِ عَنِ الْيَمِينِ وَعَنِ الشِّمَالِ قَعِيدٌ مَّا يَلْفِظُ مِن قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ
“Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya dari pada urat lehernya, (yaitu) ketika dua orang malaikat mencatat amal perbuatannya, seorang duduk disebelah kanan dan yang lain duduk disebelah kiri. Tiada suatu ucapan pun yang diucapkannya melainkan di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadirs” [Qaf : 16-18]

Begitu juga firman Allah Ta’ala.

وَالَّذِينَ يُؤْذُونَ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ بِغَيْرِ مَا اكْتَسَبُوا فَقَدِ احْتَمَلُوا بُهْتَانًا وَإِثْمًا مُّبِينًا
“Dan orang-orang yang menyakiti orang-orang mu’min dan mu’minat tanpa kesalahan yang mereka perbuat, maka sesunguhnya mereka telah memikul kebohongan dan dosa yang nyata” [Al-Ahzab : 58]

Dala kitab Shahih Muslim hadits no. 2589 disebutkan.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ قَالَ : أَتَدْرُونَ مَا الْغِيبَةُ قَالُوا اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ قَالَ : ذِكْرُكَ أَخَأكَ بِمَا يَكْرَهُ قِيلَ اَفَرَاَيْتَ إِنْ كَانَ فِي أَخِي مَا أَقُولُ قَالَ إِنَّ كَانَ فِيْهِ مَا تَقُولُ فَقَدِاغْتَبْتَهُ وَإِنْ لَمْ يَكُنْ فِيْهِ فَقَدْ بَهَتَهُ
“Diriwayatkan dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bertanya kepada para sahabat, “Tahukah kalian apa itu ghibah ?” Para sahabat menjawab, “Allah dan RasulNya yang lebih mengetahui. “Beliau berkata, “Ghibah ialah engkau menceritakan hal-hal tentang saudaramu yang tidak dia suka” Ada yang menyahut, “Bagaimana apabila yang saya bicarakan itu benar-benar ada padanya?” Beliau menjawab, “Bila demikian itu berarti kamu telah melakukan ghibah terhadapnya, sedangkan bila apa yang kamu katakan itu tidak ada padanya, berarti kamu telah berdusta atas dirinya”

Allah Azza wa Jalla berfirman.

وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ ۚ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَٰئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا
“Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang tidak kamu ketahui. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan dimintai pertanggungjawaban” [Al-Israa : 36]

Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

إِنَّ اللَّهَ يَرْضَى لَكُم ثَلاَثًا وَيَكْرَهُ لَكُمْ ثَلاَثًا فَيَرضَى لَكُمْ أَنْ تَعْبُدُوهُ وَلاَ تُشْرِكُوا بِهِ سَيْئًا وَأَنْ تَعتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلاَ تَفَرَّ قُواوَيَكْرَهُ لَكُمْ قِيْلَ وَقَالَ وَكَشْرَةَ السُّؤَالِ وَإِضَاعَةِ الْمَالِ
“Sesungguhnya Allah meridhai kalian pada tiga perkara dan membenci kalian pada tiga pula. Allah meridhai kalian bila kalian hanya menyembah Allah semata dan tidak mempersekutukannya serta berpegang teguh pada tali (agama) Allah seluruhnya dan janganlah kalian berpecah belah. Dan Allah membenci kalian bila kalian suka qila wa qala (berkata tanpa berdasar), banyak bertanya (yang tidak berfaedah) serta menyia-nyiakan harta” [1]

Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

كُتِبَ عَلَى ابْنِ آدَمَ نَصِيْبُهُ مِنَ الزِّنَا، مُدْرِكُ ذَلِكَ لاَمَحَااَةَ، فَالْعَيْنَانِ زِيْنَا هُمَا النَّظَرُ، وَاْلأُذُنَانِ زِيْنَا هُمَا الاسْتِمَاعُ، وَاللِّسَانُ زِيْنَاهُ الْكَلاَمُ، وَالْيَدُ زِيْنِاهَا الْبَطْشُ، وَالرِّجْلُ زِيْنَاهَا الْخُطَا، وَالْقَلْبُ يَهْوِى وَيَتَمَنَّى، وَيُصَدِّقُ ذَلِكَ الْفَرْجُ وَيُكَذِّ بُهُ
“Setiap anak Adam telah mendapatkan bagian zina yang tidak akan bisa dielakkannya. Zina pada mata adalah melihat. Zina pada telinga adalah mendengar. Zina lidah adalah berucap kata. Zina tangan adalah meraba. Zina kaki adalah melangkah. (Dalam hal ini), hati yang mempunyai keinginan angan-angan, dan kemaluanlah yang membuktikan semua itu atau mengurungkannya” [2]

Diriwayatkan oleh Bukhari dalam kitab Shahihnya hadits no.10 dari Abdullah bin Umar Radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

الْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ
“Seorang muslim adalah seseorang yang orang muslim lainnya selamat dari ganguan lisan dan tangannya”

Hadits di atas juga diriwayatkan oleh Muslim no.64 dengan lafaz.

إِنَّ رَجُلاً سَأَلَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيِّ الْمُسْلِمِيْنَ خَيْرً قَالَ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ
“Ada seorang laki-laki yang bertanya kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Siapakah orang muslim yang paling baik ?’Beliau menjawab, “Seseorang yang orang-orang muslim yang lain selamat dari gangguan lisan dan tangannya”.

Hadits diatas juga diriwayatkan oleh Muslim dari Jabir hadits no. 65 dengan lafaz seperti yang diriwayatkan oleh Bukhari dari Abdullah bin Umar.

Kisah Luqman Al-Hakim dengan tuannya yang menyuruhnya untuk menyembelih seekor kambing kemudian memintanya untuk mengambilkan bagian yang terbaik dari kambing itu pada hari itu, dan mengambilkan bagian yang terjelek dari kambing lainnya pada keesokan harinya.

Ternyata yang diambil adalah *hati dan lidahnya*. Ketika tuannya meminta penjelasan maksud dari semua itu maka Luqman Al-Hakim berkata:
إنه ليس من شئ أطيب منهما إذا طابا و لا أخبث منهما إذا خبثا
Artinya : Luqman pun berkata,”wahai tuanku kalaulah lidah dan hati ini baik maka itu lebih bermanfaat dan apabila lidah dan hati ini jelek maka itu lebih jelek dan akan menimbulkan kerusakan.

Sabda Nabi SAW: “Barangsiapa menjaga lidahnya, maka Allah akan menutupi aibnya.”

Berkata Abu Darda’: “Aktifkan kedua telingamu dari pada mulutmu, karena engkau diberi dua telinga dan satu mulut dengan tujuan agar engkau lebih banyak mendengar dari pada berbicara.”.

Ketika ada seseorang yang bertanya kepada Luqman: “Mengapa engkau bisa mendapatkan hikmah dari Allah wahai Luqman?” Jawabnya: *“Aku tidak akan menanyakan sesuatu yang kuanggap telah cukup dan aku tidak akan mengatakan sesuatu yang tidak ada perlunya.”* Lebih lanjut Luqman mengatakan: “Diam itu hikmah, namun sedikit orang yang melakukannya.”

Pernah ditanyakan kepada seseorang: “Mengapa engkau selalu memilih diam?” Ia menjawab: “Sebab aku belum pernah menyesal atas sikap diamku, sementara itu aku telah menyesal berulang-ulang atas ucapanku.”

Abul Qosim A`l-Qusyairi berkata: “Diam pada waktunya adalah sifat lelaki, sebagaimana berbicara pada tempatnya merupakan bagian dari sifat yang paling terpuji.”

Ia mengatakan pula: “Aku pernah mendengar Abu Ali Ad-Daqqaq mengatakan: “Barangsiapa yang diam dari kebenaran, maka ia adalah setan bisu.”

Diriwayatkan dari Ali bin Abi Thalib, ia pernah mengatakan melalui bait syairnya:

Pemuda bisa mati karena lidahnya terpeleset
Namun seseorang tidak sampai mati bila kakinya terpeleset
Keterpelesetan mulutnya bisa membuat kepalanya terlempar
Sedang keterpelesetan kakinya bisa dihindari dengan berjalan pelan

Ada pula yang mengatakan: “Seharusnya manusia itu tidak mengeluarkan ucapannyaa1 kecuali sesuai kebutuhan, sebagaimana pula ia tidak perlu menafkahkan sebagian hasil usahanya kecuali sesuai dengan kebutuhan.”

Demikianlah kajian kita pada Siang ini....
Semoga menjadi penyebab penambah kebaikan kita...
الْحَقُّ مِنْ رَبِّكَ فَلاَ تَكُونَنَّ مِنَ الْمُمْتَرِيْنَ
“Kebenaran itu datang dari Rabb mu, maka janganlah sekali-kali kamu termasuk orang yang ragu.” (Q.S Al-Baqarah : 147)

=================
TANYA JAWAB

T : Insya Alloh mengerti semua, alhamdulillah semua menjadi tamparan buat saya, numpang cerita, akhir-akhir ini saya ada rekan kerja luar biasa tingkahnya sampai-sampai saya berkata kasar, tapi memang saya ingin meluapkan isi hati saya. Ustadz, apa yang saya harus lakukan ketika ada temen kerja yang memang harus di tegor (menurut saya), atau apa kita biarkan? saking sudah kesel melihat orang itu saya diemkan, saya cemberutin dari pada saya salah lagi bicara.
J : Fashbir Shobrun Jamila (Al Ma'arij ayat : 5), Sabarlah Sepanjang Waktu. Kata-kata ini mungkin sudah tidak asing lagi ditelinga kita atau mungkin diantara kita pernah ada yang mengatakannya, "Sabar itu ada batasnya". Itu salah besar.. kata-kata ini sebaiknya tidak kita katakan. Bukankah ALLAH telah berfirman :

ﻭَﺃَﻃِﻴﻌُﻮﺍْ ﺍﻟﻠّﻪَ ﻭَﺭَﺳُﻮﻟَﻪُ ﻭَﻻَ ﺗَﻨَﺎﺯَﻋُﻮﺍْ ﻓَﺘَﻔْﺸَﻠُﻮﺍْ ﻭَﺗَﺬْﻫَﺐَ ﺭِﻳﺤُﻜُﻢْ ﻭَﺍﺻْﺒِﺮُﻭﺍْ ﺇِﻥَّ ﺍﻟﻠّﻪَ ﻣَﻊَ ﺍﻟﺼَّﺎﺑِﺮِﻳﻦَ ﴿٤٦
_“Dan bersabarlah. Sesungguhnya ALLAH beserta orang-orang yang sabar.”_ (QS.Al Anfaal:46)

Jika sabar itu ada batasnya, maka kita telah membatasi kebersamaan kita terhadap ALLAH SWT. Subhanallaahu wa ta’ala. Bukan ini kan yang kita mau..!
Pastinya kita semua ingin selalu bersama Allah di sepanjang waktu, maka dari itu, mari kita jadikan dan katakan: "Sabar itu Sepanjang Waktu"
Agar kebersamaan kita terhadap ALLAH SWT.  tak kan pernah ada batasnya.

ﻭَﻣَﺎ ﻟَﻨَﺎ ﺃَﻻَّ ﻧَﺘَﻮَﻛَّﻞَ ﻋَﻠَﻰ ﺍﻟﻠّﻪِ ﻭَﻗَﺪْ ﻫَﺪَﺍﻧَﺎ ﺳُﺒُﻠَﻨَﺎ ﻭَﻟَﻨَﺼْﺒِﺮَﻥَّ ﻋَﻠَﻰ ﻣَﺎ ﺁﺫَﻳْﺘُﻤُﻮﻧَﺎ ﻭَﻋَﻠَﻰ ﺍﻟﻠّﻪِ ﻓَﻠْﻴَﺘَﻮَﻛَّﻞِ ﺍﻟْﻤُﺘَﻮَﻛِّﻠُﻮﻥَ ﴿١٢
_“Mengapa kami tidak akan bertawakal kepada ALLAH padahal Dia telah menunjukkan jalan kepada kami dan kami sungguh-sungguh akan bersabar terhadap gangguan-gangguan yang kamu lakukan kepada kami. Dan hanya kepada ALLAH SWT. saja orang-orang yang bertawakal itu berserah diri.”_  (QS.Ibrahim: 12)

Keep Hamasah wa istiqomah, *Nasehatilah Dia dgn Baik dan Santun...!!

T : Ustadz bagaimana cara menasehati atau mengingatkan orangtua kita agar beliau tidak tersinggung, yang kadang suka su'udzon sama org lain, dan sering membicarakan keburukan orang lain. Kadang memang agak susah untuk tidak membicarakan orang lain termasuk diri saya pribadi, bila sudah ngobrol-ngobrol ujung-ujungnya ngomongin orang
J : Memang Birrul Walidain itu Wajib. Seperti tersurat dalam surat al-Israa’ ayat 23-24, Allah Ta’ala berfirman:

وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا ۚ إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِنْدَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلَاهُمَا فَلَا تَقُلْ لَهُمَا أُفٍّ وَلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَهُمَا قَوْلًا كَرِيمًا وَاخْفِضْ لَهُمَا جَنَاحَ الذُّلِّ مِنَ الرَّحْمَةِ وَقُلْ رَبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا
“Dan Rabb-mu telah memerintahkan agar kamu jangan beribadah melainkan hanya kepada-Nya dan hendaklah berbuat baik kepada ibu-bapak. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah engkau membentak keduanya, dan ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang baik. Dan rendahkanlah dirimu terhadap keduanya dengan penuh kasih sayang dan ucapkanlah, ‘Ya Rabb-ku, sayangilah keduanya sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku pada waktu kecil.’” [Al-Israa’ : 23-24]

Perintah birrul walidain juga tercantum dalam surat an-Nisaa’ ayat 36:

وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا ۖ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا وَبِذِي الْقُرْبَىٰ وَالْيَتَامَىٰ وَالْمَسَاكِينِ وَالْجَارِ ذِي الْقُرْبَىٰ وَالْجَارِ الْجُنُبِ وَالصَّاحِبِ بِالْجَنْبِ وَابْنِ السَّبِيلِ وَمَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ ۗ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ مَنْ كَانَ مُخْتَالًا فَخُورًا
“Dan beribadahlah kepada Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun. Dan berbuat baiklah kepada kedua orang tua, karib kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga dekat, tetangga jauh, teman sejawat, ibnu sabil [1], dan hamba sahaya yang kamu miliki. Sungguh, Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membanggakan diri.” [An-Nisaa’ : 36]

Dalam surat al-‘Ankabuut ayat 8, tercantum larangan mematuhi orang tua yang kafir jika mereka mengajak kepada kekafiran:

وَوَصَّيْنَا الْإِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ حُسْنًا ۖ وَإِنْ جَاهَدَاكَ لِتُشْرِكَ بِي مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ فَلَا تُطِعْهُمَا ۚ إِلَيَّ مَرْجِعُكُمْ فَأُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ
“Dan Kami wajibkan kepada manusia agar (berbuat) kebaikan kepada kedua orang tuanya. Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan Aku dengan sesuatu yang engkau tidak mempunyai ilmu tentang itu, maka janganlah engkau patuhi keduanya. Hanya kepada-Ku tempat kembalimu, dan akan Aku beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.” [Al-‘Ankabuut (29): 8]
Bisa melakukan trik sebagai berikut:
~ Ajak bicara tentang Cucu-nya.
~ Bila mulai ghibah alihkan kembali bisa tentang penciptaan alam raya
~ Ajak diskusi tentang mendidik anak yg baik
~ dan seterusnnya

T : Ustadz, bagaimana cara menasehati orang yang keras dan ber-ego tinggi. Dia ibadahnya rajin tapi begitu marah sama kata-katanya kasar banget, bahkan dengan istri.
J : Sifat dan cara berfikir yang berbeda lazim dimiliki setiap orang. Hal inilah yang sering menjadi pemicu kesalah pahaman. Keadaan akan semakin rumit bila kita bertemu dengan seseorang yang memiliki watak keras kepala.

Karena orang berwatak keras kepala adalah orang yang berpegang teguh pada prinsipnya.
Apabila belum mampu memahami jalan pikirannya, mereka akan mudah tersinggung dan marah kepada kita. Orang keras kepala pada dasarnya memiliki emosi yang meledak-ledak. Ini terjadi karena mereka bersikeras akan prinsip yang dipegangnya. Sayangnya sifat seperti ini akan memicu keegoisan sehingga mereka terlihat lebih mementingkan diri sendiri.  
Kesabaran jadi kunci utama jika berhadapan dengan mereka yang keras kepala. Selain itu masih ada cara lain untuk menghadapi mereka, antara lain :
  1. Menenangkan Diri
    Saat mereka melontarkan kata-kata yang sekiranya menyinggung perasaan kita, abaikan saja. Kita tidak perlu membuang-buang waktu untuk berdebat ataupun membela diri. Karena mereka seperti itu bukan karena menghina kekurangan kita, namun mereka sedang membicarakan kelemahan mereka sendiri.
  2. Memahami Mereka.
    Saat dia berbicara panjang lebar di depan kita, cukup dengarkan saja. Terkadang mereka hanya ingin mencurahkan curahan hatinya. Cari tahu apa yang mereka butuhkan dan apa yang tidak mereka inginkan.
  3. Menghargai Pendapatnya
    Mengungkapkan bahwa dirinya kerasa kepala bukanlah solusi yang tepat, sebab dia justru bertambah keras serta tidak mau mengubah sikapnya itu. Dia akan semakin mempertahankan sikapnya atau bertambah egois dan mementingkan dirinya sendiri. Keras kepala membuatnya merasa selalu disalahkan, dia akan memilih untuk diam tak mau bicara dengan kita lagi nantinya. Dia merasa tak ada orang yang mau mendengarkannya maupun menghargai pendapatnya. Pemahaman seperti itulah yang ada di hati orang keras kepala, sehingga hindari menghakimi dia maupun menyalahkannya. Pokoknya jangan sampai si keras kepala emosi lalu berbuat sesuatu yang merugikan dirinya sendiri dan banyak orang.
  4. Memberikan Rasa Humor
    Humor ringan bisa saja mencairkan suasana dan menghibur mereka. Ini juga merupakan cara terbaik untuk meredakan dan menghadapi mereka.
  5. Mencoba Empati
    Tak semua orang berwatak keras kepala itu buruk. Terkadang, di balik jiwa yang keras bisa saja lantaran mereka terluka dan butuh kasih sayang. Jadi hadapi mereka dengan lembut dan penuh perhatian.
  6. Mencari Kesamaan
    Setiap orang setidaknya memiliki kesamaan. Cari tahu apa kesamaan atau bidang yang mungkin sama-sama disukai, mungkin hobi, olahraga, tempat liburan dan genre film. Gunakan ini sebagai cara aman untuk melakukan percakapan.
  7. Mempertahankan Pandangan Positif
    Semakin sering kita bergaul dengan mereka, tidak menutup kemungkinan kita akan terbawa dengan mereka. Jangan biarkan sikap antagonis orang lain melekat pada diri kita. Tetap pertahankan pandangan positif yang kita miliki.
  8. Menyikapi dengan Tegas
    Ketegasan kadang diperlukan untuk menghadapi orang keras kepala, alasan orang bersikap keras kepala karena orang disekitar lebih memilih mengalah kepada mereka. Jika orang tersebut mulai menunjukkan kemarahannya bersikaplah tenang dan utarakan alasan logis dan rasional mengapa ide kita penting. Saat mengutarakan alasan kita, hindari menyebutkan nama dan berkata-kata dengan suara keras.
  9. Menggabungkan Pendapat
    Setelah masing-masing ide diutarakan, mungkin kita belum mendapatkan sepenuhnya apa yang menjadi ide terbaik kita namun dengan begitu kita sudah mendapatkan jalan tengah. Dengan kompromi dan negosiasi ide masing-masing pihak bisa dikolaborasikan.
  10. Meninggalkan Mereka
    Tidak semua orang dapat kita hadapi. saat kita sudah tidak mampu lagi mengatasi mereka, itu artinya kita perlu menjauh dan berhenti berhubungan dengan mereka sampai akhirnya mereka menyadari bahwa dirinya memang keras kepala.
Begitulah 10 Tips/Cara ampuh Menghadapi Orang yang Berwatak Keras Kepala.

Apabila dia tidak ada hubungan secara dalam dengan kita, cukup menghiraukannya saja. Namun, bagaimana kalau itu ayah, ibu, pasangan, keluarga, saudara, sahabat, atasan dan kaitan penting lainnya dengan kita. Apakah tetap kita tinggalkan saja orang itu? Tentu tidak bukan? Kita perlu menghadapinya dgn cara yg baik.

T : Ustad ada seorang teman setiap kali bertemu pasti menceritakan orang lain padahal dia ibadah nya rajin, mungkin tidak menyadari kalau itu ghibah, bagaimana cara mengingatkan karena beliau lebih tua? Terimakasih
J : Memang ada saja orang yang rajin Sholat. Bukan cuma sholat Wajib dan sholat sunat rawatib. Tapi juga sholat Duha, Sholat Tahajjud, Sholat Safar, dsb. Rajin puasa. Bukan cuma Ramadhan, tapi Syawal, puasa tengah bulan, Senin-Kamis, bahkan Puasa Daud (sehari puasa sehari buka). Kemudian rajin bayar zakat dan sedekah.
Tapi di hari kiamat, ternyata pahalanya diambil Allah dan diberikan kepada orang2 yang dia zalimi. Orang2 yang dia katai. Orang2 yang dia hina. Dia pukul. Bahkan bunuh.
Saat pahalanya habis dan dosanya masih banyak karena dia menghina orang setiap hari. Memfitnah orang setiap hari, dsb, maka dosa orang2 yang dia zalimi ditimpakan ke dia.
Akhirnya meski amal ibadahnya banyak, bukannya masuk surga, malah masuk neraka. Mudah2an kita terhindar dari hal seperti itu.

أتَدْرُونَ ما المُفْلِسُ ؟ قالوا : المفْلسُ فينا من لا درهم له ولا متاع. قال : إن المفْلسَ مَنْ يأتي يوم القيامة بصلاة وصيام وزكاة ، ويأتي قد شَتَمَ هذا ، وقذفَ هذا ، وأكل مال هذا ، وسفك دم هذا ، وضرب هذا ، فيُعطَى هذا من حسناته ، وهذا من حسناته ، فإن فَنيَتْ حَسَناتُهُ قبل أن يُقْضى ما عليه ، أُخِذَ من خطايهم فطُرِحَتْ عليه ، ثم يُطْرَحُ في النار
Tahukah kamu siapa orang yang bangkrut? Para sahabat menjawab, “Allah dan rasulNya lebih mengetahui.” Nabi Saw lalu berkata, ” Sesungguhnya orang yang bangkrut dari umatku ialah (orang) yang datang pada hari kiamat dengan membawa amalan puasa, shalat dan zakat, tetapi dia pernah mencaci-maki orang ini dan menuduh orang itu berbuat zina. Dia pernah memakan harta orang itu lalu dia menanti orang ini menuntut dan mengambil pahalanya (sebagai tebusan) dan orang itu mengambil pula pahalanya. Bila pahala-pahalanya habis sebelum selesai tuntutan dan ganti tebusan atas dosa-dosanya maka dosa orang-orang yang menuntut itu diletakkan di atas bahunya lalu dia dihempaskan ke api neraka.” (HR. Muslim)

Alangkah baiknya orang-orang yang sibuk meneliti aib diri mereka sendiri dengan tidak mengurusi (membicarakan) aib-aib orang lain. (HR. Ad-Dailami)

Jangankan menzalimi orang. Sekedar ghibah/membicarakan aib/keburukan orang saja meski benar, dosanya seperti memakan mayat saudaranya sendiri:

“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), karena sebagian dari purba-sangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.” [Al Hujuraat 12]

Di satu hadits seorang sahabat berkata, “Tapi ini benar ya Rasul”
Kata Nabi, “Kalau benar, itu namanya Ghibah/Menggunjing. Kalau tidak benar, namanya FITNAH. Dosanya lebih besar lagi”.

Jangankan Ghibah atau ngomongin orang. Sekedar Zhon/Menduga saja sudah dosa: Berhati-hatilah terhadap buruk sangka. Sesungguhnya buruk sangka adalah ucapan yang paling bodoh. (HR. Bukhari).
Orang yang paling dibenci Allah ialah yang bermusuh-musuhan dengan keji dan kejam. (HR. Bukhari)
Sesungguhnya Allah membenci orang yang keji, yang berkata kotor dan membenci orang yang meminta-minta dengan memaksa. (AR. Ath-Thahawi)
Barangsiapa mengintai-ngintai (menyelidiki) keburukan saudaranya semuslim maka Allah akan mengintai-intai keburukannya. Barangsiapa diintai keburukannya oleh Allah maka Allah akan mengungkitnya (membongkarnya) walaupun dia melakukan itu di dalam rumahnya. (HR. Ahmad)
Sesungguhnya bila kamu mengintai-intai keburukan orang maka kamu telah merusak mereka atau hampir merusak mereka. (HR. Ahmad)

Kelak akan menimpa umatku penyakit umat-umat terdahulu yaitu penyakit sombong, kufur nikmat dan lupa daratan dalam memperoleh kenikmatan. Mereka berlomba mengumpulkan harta dan bermegah-megahan dengan harta. Mereka terjerumus dalam jurang kesenangan dunia, saling bermusuhan dan saling iri, dengki, dan dendam sehingga mereka melakukan kezaliman (melampaui batas). (HR. Al Hakim)

“Kebanyakan hal yang memasukkan manusia ke dalam surga adalah taqwa kepada Allah dan ahlak yang baik, dan kebanyakan hal yang memasukkan manusia ke dalam neraka adalah mulut dan kemaluan”. [HR Tirmidzi].

“Orang yang menutupi aib orang lain di dunia, niscaya Allah akan menutup aibnya kelak di hari kiamat.” [HR Muslim].

Rasulullah SAW bersabda: “Sibuk mencari keburukan atau aib orang lain adalah salah satu dari 6 perkara yang bisa merusak amal kebaikan, 5 perkara lainnya adalah keras hati, terlalu cinta dunia, sedikit mempunyai rasa malu, panjang khayalan dan kedzaliman yang tidak pernah berhenti”. [HR Ad-Dailami].
“Dan janganlah kamu ikuti setiap orang yang mudah bersumpah lagi hina. Yang banyak mencela, serta penyebar fitnah”. [Al Qalam (68): 10-11].
Rasulullah SAW bersabda: “Tidak akan masuk surga orang yang suka menghambur fitnah. [HR Hudzaifah].

Jadi ada baiknya kita tidak terlalu mengurusi amal ibadah orang lain. Tapi fokus pada diri kita. Dakwah dilakukan dengan cara yang baik dan hikmah. Jangan sampai lidah kita penuh dengan berbagai kata keji saat berdakwah.
T : Ustadz mau nimbrung nanya atuh ustadz : saya pernah dengar hadist yang artinya: kalau kita melihat satu kemungkaran ,maka cegahlah dng tanganmu ,kalau tidak sanggup maka tegur dng lisanmu,kalau tidak sanggup maka dengan hatimu ,dan itu adalah selemah-lemahnya iman, dan saya lebih suka mencegah dengan hati ustadz, jadi saya termasuk orang yg lemah " imankah" ustadz? Mohon penjelasannya ustadz ,syukron
J : Ya tidak mengapa. Semua tergantung Kadar & Tingkat Keimanannya masing-masing Pribadi..!

T : Tanya ustadz, Kalau ada orang yang merasa sakit hati oleh kita padahal kita tidak merasa melakukannya, dan kita sudah minta maaf, tapi orangnya malah jacuh ke kita. Bagaimana menyikapinya ustadz? Jazakallah
J : Orang yang bersalah kepada saudaranya (baik itu dengan sengaja atau tidak) perlu untuk melaksankan hal-hal berikut:
  1. Ikhlas kepada Allah ta’ala dalam permintaan maafnya kepada orang yang menjadi objek kesalahannya.
  2. Jujur dalam meminta maaf
  3. Memilih waktu yang tepat untuk meminta maaf kepada saudaranya
  4. Memilih kata-kata yang tepat untuk meminta maaf.
  5. Lebih baik lagi jika ia memberikan hadiah saat meminta maaf. Jika ia tidak mampu memberikan itu maka hendaklah dia banyak memuji saudaranya itu dan mendoakannya (ketika saudaranya itu ada ataupun tidak)

Jika seseorang melakukan kesalahan kepada orang lain dengan tidak sengaja kemudian ia meminta maaf maka permintaan maaf itu sama dengan bentuk klarifikasi dari perbuatannya.
Jika kemudian ia tidak dimaafkan maka itu bukanlah masalah baginya dan ia pun tidak dicela.
Dan memberikan maaf termasuk perbuatan yang terpuji, dan bagian dari prinsip mulia Islam dalam etika berhubungan sosial dengan sesama makhluk terutama dengan seorang muslim.

Diantara keutamaan memaafkan adalah:

  1. Memaafkan = Mendapat Ampunan Allah Ta’ala
    Memaafkan seseorang yang pernah berbuat kezhaliman kepada kita, apapun bentuk kezhalimannya, adalah merupakan syariat Islam dan sesuatu yang diperintahkan di dalam Alquran yang mulia serta dicontohkan di dalam hadits Nabi Muhammad ﷺ yang agung. Memang berat, tapi ganjaran pahalanya juga sangat besar, yaitu diampuni Allah Ta’ala dosa-dosanya.

    Mari kita perhatikan ayat dan hadits mulia berikut:

وَلَا يَأْتَلِ أُولُو الْفَضْلِ مِنْكُمْ وَالسَّعَةِ أَنْ يُؤْتُوا أُولِي الْقُرْبَى وَالْمَسَاكِينَ وَالْمُهَاجِرِينَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَلْيَعْفُوا وَلْيَصْفَحُوا أَلَا تُحِبُّونَ أَنْ يَغْفِرَ اللَّهُ لَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ .. النور: 22
“Dan janganlah orang-orang yang mempunyai kelebihan dan kelapangan di antara kamu bersumpah bahwa mereka (tidak) akan memberi (bantuan) kepada kaum kerabat (nya), orang-orang yang miskin, dan orang-orang yang berhijrah pada jalan Allah, dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin bahwa Allah mengampunimu? Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. An Nur: 22).

Namun Memaafkan Harus Dibarengi dengan Perasaan Lapang Dada. Kesempurnaan sikap memaafkan adalah jika dibarengi dengan perasaan lapang dada, yang menganggap seakan tidak pernah terjadi apa-apa sebelumnya. Sebagian mungkin bisa memaafkan tetapi tidak bisa lapang dada, contohnya:
Si A telah memaafkan B, orang yang pernah berbuat salah kepadanya tetapi:
– si A tidak ingin lagi bertemu dengan si B,
– si A malas untuk berkumpul bersama dengan si B lagi,
– si A masih selalu mengungkit kesalahan si B,
– si A tidak mau lagi berurusan dengan si B,
– si A tidak lagi mau menolong si B, jika si B membutuhkan pertolongan,
dan contoh-contoh yang lain masih banyak. Mungkin bisa cari sendiri.

Padahal, kalau kita perhatikan ayat-ayat suci Alquran, maka seorang muslim diperintah untuk memaafkan dengan dibarengi lapang dada, mari kita perhatikan:

وَلْيَعْفُوا وَلْيَصْفَحُوا [النور: 22]
“…dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada…” (QS. An Nur: 22).

Di dalam ayat yang mulia ini terdapat pelajaran yaitu: Perintah untuk memaafkan dan lapang dada, walau apapun yang didapatkan dari orang-orang yang pernah menyakiti.
(Lihat Tafsir al Karim Ar Rahman fi Tafsir Al Kalam Al Mannan, karya As Sa’di rahimahullah).

فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاصْفَحْ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ [المائدة: 13]
“…maka maafkanlah mereka dan lapangkanlah dada, sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Al Maidah: 13).

Ayat yang mulia ini memberi beberapa pelajaran:
  • Sikap memaafkan yang dibarengi dengan perasaan lapang dada adalah sifatnya seorang muhsin.
  • Seorang muhsin keutamaannya adalah dicintai Allah Ta’ala.

    Dan keutamaan orang yang dicintai Allah Ta’ala adalah:

  1. Memaafkan = Masuk surga.
    Dari Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu dia berkata,

جَاءَ رَجُلٌ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ ﷺ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَتَى السَّاعَةُ قَالَ « وَمَا أَعْدَدْتَ لِلسَّاعَةِ ». قَالَ حُبَّ اللَّهِ وَرَسُولِهِ قَالَ « فَإِنَّكَ مَعَ مَنْ أَحْبَبْتَ »

“Seorang lelaki pernah datang kepada Rasulullah ﷺ dan bertanya, “Wahai Rasulullah, kapan hari kiamat?” Beliau menjawab, “Apa yang telah kamu siapkan untuk hari kiamat?” Lelaki itu menjawab, “Kecintaan kepada Allah dan Rasul-Nya.” Rasulullah ﷺ bersabda, “Maka sungguh kamu akan bersama yang kamu cintai.” (HR. Bukhari dan Muslim).

  1. Memaafkan = Diharamkan oleh Allah Ta’ala untuk masuk neraka.
    Dari Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu dia berkata, Nabi Muhammad ﷺ bersabda,

« والله, لاَ يُلْقِى اللَّهُ حَبِيبَهُ فِى النَّارِ »
“Demi Allah, tidak akan Allah melemparkan orang yang dicintai-Nya ke dalam neraka.” (HR. Ahmad dan dishahihkan di dalam kitab Silsilat Al Ahadits Ash Shahihah, no. 2047).
  1. Memaafkan = Dicintai oleh seluruh malaikat ‘alaihimussalam dan diterima oleh penduduk bumi:
    Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu dia berkata, Rasulullah ﷺ bersabda,

« إِنَّ اللَّهَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى إِذَا أَحَبَّ عَبْدًا نَادَى جِبْرِيلَ إِنَّ اللَّهَ قَدْ أَحَبَّ فُلاَنًا فَأَحِبَّهُ فَيُحِبُّهُ جِبْرِيلُ ، ثُمَّ يُنَادِى جِبْرِيلُ فِى السَّمَاءِ إِنَّ اللَّهَ قَدْ أَحَبَّ فُلاَنًا فَأَحِبُّوهُ ، فَيُحِبُّهُ أَهْلُ السَّمَاءِ وَيُوضَعُ لَهُ الْقَبُولُ فِى أَهْلِ الأَرْضِ »

“Jika Allah Tabaraka wa Ta’ala mencintai seorang hamba, maka Allah Ta’ala memanggil Jibril: “Sesungguhnya Allah telah mencintai si fulan maka cintailah fulan”, maka Jibril pun mencintainya, kemudian Jibril menyeru di langit: “Sesungguhnya Allah telah mencintai si fulan maka cintailah kalian fulan”, maka penduduk langit pun mencintainya dan baginya pun penerimaan/rasa simpatik penduduk bumi”. (HR. Bukhari).

Mudah-mudahan Allah menjadikan kita semua termasuk golongan orang-orang yang pemaaf, yang mudah memaafkan. Wallaahu a’lam.

T : Ustadz, setelah membaca materi di atas, kita tersadar akan kesalahan-kesalahan lisan kita selama ini. Banyak sekali tanpa sadar kita melakukannya. Bagaimana caranya supaya kita istiqomah menjauhi bahaya lisan ustadz? Tidak hanya pada saat ini saja, tapi untuk seterusnya. Syukron ustadz.
J : Bisa melakukan hal-hal sebagai berikut:
1. Perbanyaklah Shaun Sunah
2. Bergaul dgn Ahli Zikir
3. Perbanyak Tilawah Qur'an

~~~~~~~~~~~~~~~~
Selanjutnya, marilah kita tutup kajian kita dengan bacaan istighfar 3x
Doa robithoh dan kafaratul majelis

Astaghfirullahal' adzim 3x

Do'a Rabithah
Allahumma innaka ta'lamu anna hadzihil qulub,
qadijtama-at 'alaa mahabbatik,
wal taqat 'alaa tha'atik,
wa tawahhadat 'alaa da'watik,
wa ta ahadat ala nashrati syari'atik.
Fa watsiqillahumma rabithataha,
wa adim wuddaha,wahdiha subuulaha,wamla'ha binuurikal ladzi laa yakhbu,
wasy-syrah shuduroha bi faidil imaanibik,
wa jami' lit-tawakkuli 'alaik,
wa ahyiha bi ma'rifatik,
wa amitha 'alaa syahaadati fii sabiilik...
Innaka ni'mal maula wa ni'man nashiir.

Artinya :
Ya Allah, sesungguhnya Engkau mengetahui bahwa sesungguhnya hati-hati kami ini,
telah berkumpul karena cinta-Mu,
dan berjumpa dalam ketaatan pada-Mu,
dan bersatu dalam dakwah-Mu,
dan berpadu dalam membela syariat-Mu.
Maka ya Allah, kuatkanlah ikatannya,
dan kekalkanlah cintanya,
dan tunjukkanlah jalannya,
dan penuhilah ia dengan cahaya yang tiada redup,
dan lapangkanlah dada-dada dengan iman yang berlimpah kepada-Mu,
dan indahnya takwa kepada-Mu,
dan hidupkan ia dengan ma'rifat-Mu,dan matikan ia dalam syahid di jalan-Mu.Sesungguhnya Engkau sebaik-baik pelindung dan sebaik-baik penolong.
Aamiin...    

DOA PENUTUP MAJELIS
سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوْبُ إِلَيْكَ
Subhanaka Allahuma wabihamdika asyhadu alla ilaha illa anta astaghfiruka wa atubu ilaik.Artinya:“Maha suci Engkau ya Allah, dan segala puji bagi-Mu. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan melainkan Engkau. aku mohon ampun dan bertaubat kepada-Mu.”
Aamiin ya Rabb.

======================
Website: www.hambaAllah.net
FanPage : Kajian On line-Hamba Allah
FB : Kajian On Line-Hamba Allah
Twitter: @kajianonline_HA
IG: @hambaAllah_official

Thanks for reading & sharing Kajian On Line Hamba اللَّهِ SWT

Previous
« Prev Post

0 comments:

Post a Comment

Terbaru