Ketik Materi yang anda cari !!

Home » , » TAWADHU’ (RENDAH HATI) (Tema SI Pekan 2 Agustus 2017)

TAWADHU’ (RENDAH HATI) (Tema SI Pekan 2 Agustus 2017)

Posted by Kajian On Line Hamba اللَّهِ SWT on Friday, October 20, 2017

Image result for image
REKAP KAJIAN ONLINE HAMBA ALLAH G4, G5, G7hari/tgl : Rabu 09 Agustus 2017
Narsum: Ustzh. Riyanti (G4), Ustdz Kaspin (G5), Ustadzah Tribuwhana (G7)
Tema.   :SI Tawadhu
Editor : Sapta
➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖

TAWADHU’ (RENDAH HATI)

    Pengertian Tawadhu’ adalah rendah hati,  tidak sombong. Pengertian yang lebih dalam adalah kalau kita tidak melihat diri kita memiliki nilai lebih dibandingkan hamba Allah yang lainnya.  Orang yang tawadhu’  adalah orang  menyadari bahwa semua kenikmatan yang didapatnya bersumber dari Allah SWT.  Yang dengan pemahamannya tersebut maka tidak pernah terbersit sedikitpun dalam hatinya kesombongan dan merasa lebih baik dari orang lain, tidak merasa bangga dengan potrensi dan prestasi yang sudah dicapainya. Ia tetap rendah diri dan selalu menjaga hati dan niat segala amal shalehnya dari segala sesuatu selain Allah. Tetap menjaga keikhlasan amal ibadahnya hanya karena Allah.

    Tawadhu ialah bersikap tenang, sederhana dan sungguh-sungguh menjauhi perbuatan takabbur (sombong), ataupun sum’ah ingin diketahui orang lain amal kebaikan kita.

    Tawadhu merupakan salah satu bagian dari akhlak mulia jadi sudah selayaknya kita sebagai umat muslim bersikap tawadhu, karena tawadhu merupakan salah satu akhlak terpuji yang wajib dimiliki oleh setiap umat islam. Perhatikan sabda Nabi SAW berikut ini :

~ Rasulullah SAW bersabda: yang artinya “Tiada berkurang harta karena sedekah, dan Allah tiada menambah pada seseorang yang memaafkan melainkan kemuliaan. Dan tiada seseorang yang bertawadhu’ kepada Allah, melainkan dimuliakan (mendapat ‘izzah) oleh Allah. (HR. Muslim).

~ Iyadh bin Himar ra. berkata: Bersabda Rasulullah SAW: “Sesungguhnya Allah SWT telah mewahyukan kepadaku: “Bertawadhu’lah hingga seseorang tidak menyombongkan diri terhadap lainnya dan seseorang tidak menganiaya terhadap lainnya.(HR. Muslim).

~ Rasulullah SAW  bersabda, “Sombong adalah menolak kebenaran dan meremehkan manusia.” (HR. Muslim)

~ Ibnu Taimiyah, seorang ahli dalam madzhab Hambali menerangkan dalam kitabnya, Madarijus Salikin bahwa tawadhu ialah menunaikan segala yang haq dengan bersungguh-sungguh, taat menghambakan diri kepada Allah sehingga benar-benar hamba Allah, (bukan hamba orang banyak, bukan hamba hawa nafsu dan bukan karena pengaruh siapa pun) dan tanpa menganggap dirinya tinggi.


    Tanda orang yang tawadhu’ adalah disaat seseorang semakin bertambah ilmunya maka semakin bertambah pula sikap tawadhu’ dan kasih sayangnya. Dan semakin bertambah amalnya maka semakin meningkat pula rasa takut dan waspadanya. Setiap kali bertambah usianya maka semakin berkuranglah ketamakan nafsunya. Setiap kali bertambah hartanya maka bertambahlah kedermawanan dan kemauannya untuk membantu sesama. Dan setiap kali bertambah tinggi kedudukan dan posisinya maka semakin dekat pula dia dengan manusia dan berusaha untuk menunaikan berbagai kebutuhan mereka serta bersikap rendah hati kepada mereka* .. Ini karena orang yang tawadhu menyadari akan  segala nikmat yang didapatnya adalah dari Allah SWT, untuk mengujinya apakah ia bersykur atau kufur.

    Perhatikan  firman Allah berikut ini : “Ini termasuk kurnia Tuhanku untuk mencoba aku apakah aku bersyukur atau mengingkari (akan nikmat-Nya). Dan barangsiapa yang bersyukur maka sesungguhnya dia bersyukur untuk (kebaikan) dirinya sendiri dan barangsiapa yang ingkar, maka sesungguhnya Tuhanku Maha Kaya lagi Maha Mulia.” (QS. An Naml: 40).”

Berikut beberapa ayat-ayat Al Quran yang menegaskan perintah Allah SWT  untuk senantiasa bersikap tawadhu’ dan menjauhi sikap sombong, sebagai berikut :

”Dan janganlah kalian berjalan di atas bumi ini dengan menyombongkan diri, karena kalian tidak akan mampu menembus bumi atau menjulang setinggi gunung” (QS al-Isra-37).

Firman Allah SWT lainnya:  ”Negeri akhirat itu Kami jadikan untuk orang-orang yang tidak menginginkan kesombongan di muka bumi dan kerusakan di (muka) bumi. Dan kesudahan (yang baik) itu adalah bagi orang-orang yang bertakwa (QS al-Qashshash-83.)

Dan hamba-hamba Tuhan yang Maha Penyayang itu (ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata (yang mengandung) keselamatan.(QS. Al Furqaan: 63)

Tidak diragukan lagi bahwa Sesungguhnya Allah mengetahui apa yang mereka rahasiakan dan apa yang mereka lahirkan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong. (QS: an-Nahl: 23)

Sesungguhnya orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami dan menyombongkan diri terhadapnya, sekali-kali tidak akan dibukakan bagi mereka pintu-pintu langitdan tidak (pula) mereka masuk surga, hingga unta masuk ke lubang jarum. Demikianlah Kami memberi pembalasan kepada orang-orang yang berbuat kejahatan. (QS: al-A’raf: 40)

Dan apabila dikatakan kepadanya: “Bertakwalah kepada Allah”, bangkitlah kesombongannya yang menyebabkannya berbuat dosa. Maka cukuplah (balasannya) neraka Jahannam. Dan sungguh neraka Jahannam itu tempat tinggal yang seburuk-buruknya. (QS.Al-Baqarah : 206)

Berikut  beberapa contoh Ketawadhu’an Rasulullah SAW
  1. Anas ra jika bertemu dengan anak-anak kecil maka selalu mengucapkan   salam pada mereka, ketika ditanya mengapa ia lakukan hal tersebut ia menjawab: Aku melihat kekasihku Nabi SAW senantiasa berbuat demikian. (HR Bukhari, Fathul Bari’-6247).

  1. Dari Anas ra berkata: Nabi SAW memiliki seekor unta yang diberi nama al-’adhba` yang tidak terkalahkan larinya, maka datang seorang ‘a’rabiy dengan untanya dan mampu mengalahkan, maka hati kaum muslimin terpukul menyaksikan hal tersebut sampai hal itu diketahui oleh nabi SAW, maka beliau bersabda: Menjadi haq Allah jika ada sesuatu yang meninggikan diri di dunia pasti akan direndahkan-Nya. HR Bukhari (Fathul Bari’-2872).

  1. Abu Said al-Khudarii ra pernah berkata: Jadilah kalian seperti Nabi SAW, beliau SAW menjahit bajunya yang sobek, memberi makan sendiri untanya, memperbaiki rumahnya, memerah susu kambingnya, membuat sandalnya, makan bersama-sama dengan pembantu-pembantunya, memberi mereka pakaian, membeli sendiri keperluannya di pasar dan memikulnya sendiri ke rumahnya, beliau menemui orang kaya maupun miskin, orang tua maupun anak-anak, mengucapkan salam lebih dulu pada siapa yang berpapasan baik tua maupun anak, kulit hitam, merah, maupun putih, orang merdeka maupun hamba sahaya sepanjang termasuk orang yang suka shalat.

    Dan beliau SAW adalah orang yang sangat rendah hati, lembut perangainya, dermawan luar biasa, indah perilakunya, selalu berseri-seri wajahnya, murah senyum pada siapa saja, sangat tawadhu’ tapi tidak menghinakan diri, dermawan tapi tidak berlebih-lebihan, mudah iba hatinya, sangat penyayang pada semua muslimin. Beliau SAW datang sendiri menjenguk orang sakit, menghadiri penguburan, berkunjung baik mengendarai keledai maupun berjalan kaki, mengabulkan undangan dari para hamba sahaya siapapun dan dimanapun. Bahkan ketika kekuasaannya SAW telah meliputi jazirah Arabia yang besar datang seorang ‘A’rabiy menghadap beliau SAW dengan gemetar seluruh tubuhnya, maka beliau SAW yang mulia segera menghampiri orang tersebut dan berkata: Tenanglah, tenanglah, saya ini bukan Raja, saya hanyalah anak seorang wanita Quraisy yang biasa makan daging kering. (HR Ibnu Majah-3312 dari abu Mas’ud al-Badariiy)

Berbicara lebih jauh tentang tawadhu’, sebenarnya tawadhu’ sangat diperlukan bagi siapa saja yang ingin menjaga amal shaleh atau amal kebaikannya, agar tetap tulus ikhlas, murni dari tujuan selain Allah.  Karena  memang tidak mudah menjaga keikhlasan amal shaleh atau amal kebaikan kita agar tetap murni, bersih dari tujuan selain Allah.  Sungguh sulit menjaga agar segala amal shaleh dan amal kebaikan yang kita lakukan tetap bersih dari tujuan selain mengharapkan ridha-Nya. Karena sangat banyak godaan yang datang, yang selalu berusaha mengotori amal kebaikan kita. Apalagi disaat pujian dan ketenaran mulai datang menghampiri kita, maka terasa semakin sulit bagi kita untuk tetap bisa menjaga kemurnian amal shaleh kita, tanpa terbesit adanya rasa bangga dihati kita. Disinilah sangat diperlukan tawadhu’ dengan menyadari sepenuhnya, bahwa sesungguhnya segala amal shaleh, amal kebaikan yang mampu kita lakukan, semua itu adalah karena pertolongan dan atas ijin Allah SWT.

    Tawadhu’ juga mutlak dimiliki bagi para pendakwah yang sedang berjuang meninggikan Kalimatullah di muka bumi ini, maka sifat tawadhu’ mutlak diperlukan untuk kesuksesan misi dakwahnya. Karena bila tidak, maka disaat seorang pendakwah mendapatkan pujian, mendapatkan banyak jemaah, dikagumi orang dan ketenaran mulai menghampirinya, tanpa ketawadhu’an, maka seorang pendakwah pun tidak akan luput dari berbangga diri atas keberhasilannya.

Sumber: https://jalandakwahbersama.wordpress.com

➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖
 TANYA JAWAB

G4 ( Ustadzah Riyanti)
 T : Kalau tawadhu itu kan rendah hati, bagaimana dengan rendah diri? Kadang ada rasa rendah alias tidak pede ketika bertemu dengan orang-orang yang bisa beribadah dengan lancar. Bisa dhuha, tilawah sekian juz,dan lain-lain sedangkan saya mau menyelesaikan tilawah 1 lembar butuh perjuangan, trus jadinya iri dengan orang-orang tersebut. Bagaimana ini ya ustadzah?
J : iri dengan orang saleh boleh, tapi jangan berhenti iri saja. Kita bisa menambah amalan secara bertahap. Sedikit demi sedikit sambil mohon kepada Allah minta kita istiqomah kan.
T : Kadang di lingkungan kita bertemu dengan orang-orang yang ingin diakui kelebihannya. Entah itu dari segi harta, jabatan, keilmuan atau pemahaman agamanya. bagaimana menghadapi orang-orang seperti ini terutama kalau orang yang dihadapi lebih tua/sepuh?
J : Dihormati sewajarnya saja. Tidak perlu berlebih-lebihan. Sesuaikan dengan adab etika yang berlaku di masyarakat tersebut

T : Bagaimana agar kita bisa menghindari dari perasaan merasa lebih dari orang lain? Kadang karena takut dianggap orang sombong jadinya kita malas menasehati orang yang jelas berbuat kesalahan?
J : Sombong dengan malas menasehati itu hal yang berbeda. Kita perlu berhati-hati tentang rasa kuatir sombong ini. Justru riya itu adalah membatalkan suatu amal karena kuatir penilaian manusia terhadap amalan kita. Bila kita yakin, amalan kita karena untuk Allah dan benar secara syariat jangan takut penilaian orang. Nanti kita malah mandeg. Hati hati hal seperti ini sudah termasuk was was dari setan

T : Tanya ustadzah, bagaimana sikap kita apabila ada orang yang memuji tentang ibadah/kebaikan kita? Syukron.
J : Ucapkan Alhamdulillah, Segala puji hanya milik Allah SWT



~~~~~~~~~~~~~~~

G5 (ustadz Kaspin)

T : Bagamana caranya agar kita bisa selalu tawadhu, karena sering terbesit rasa bangga karena harta, fisik, atau anak-anak yang berprestasi, atau prestasi kita misalnya?
J : Ya, ikuti manajemen qolbu a’a Gym

T : Apa perbedaan antara tawadhu atau kerendahan hati dan perasaan hina? Apakah berendah diri akan mencegah pengokohan kepercayaan diri dan kemuliaan seseorang..?
J : Rendah hati dan rendah diri beda ya.

T : Bagaimana batasan ber-socmed agar postingan kita tetep bernilai tawadhu atau yang kita lihat terhindar dari ujub, sum'ah, dan takabur?
J : pilih kata kata yang baik dan perbaiki niat

T : Abah, bagaimana cara kita mengingatkan orang tua  yang sukanya menyombongkan dirinya?
J : Ngomong yang baik-baik, nurut, jangan membantah, jangan su’udon

T : Tawadhu tapi tidak menghinakan diri itu bagaimana?
J : Dalam penampilan tidak rudin

T : Assalamu'alaikum  abah, bagaimana saya harus bersikap sama orang yang kita tuakan padahal saya sudah meminta maaf bila saya punya salah, sudah bermaafan tapi sikapnya malah jadi berbeda bah, saya berusaha untuk huznuzon tapi kadang suka rada nyereset kana manah bah pami cicing wae teh, Afwan sedikit roaming ya bunda.
J : Ya gapapa jangan baper. Husnudzhon saja.

~~~~~~~~~~~~~~~

G7 (ustadzah Tribuwhana)

T : Ustadzah izin nanya, apakah ada doa supaya kita selalu niat karena ALLAH tehindar dari sombong dan tetap tawadhu?
J : Ada di dzikir al-ma'tsurat yg biasa kita baca :
اَللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوْذُ بِكَ أَنْ نُشْرِكَ بِكَ شَيْئاً نَعْلَمُهُ وَ نَسْتَغْفِرُكَ لِمَا لاَ نَعْلَمُهُ

T : Apa perbedaan antara tawadhu atau kerendahan hati dan perasaan hina? Apakah berendah diri akan mencegah pengokohan kepercayaan diri dan kemuliaan seseorang?
J : Antara tawadhu' dan rendah diri beda sekali. Tawadhu' masih memiliki 'izzah, tapi kalau rendah diri seperti tidak memiliki izzah.

T : Bertanya ustadzah, tawadhu tapi tidak menghinakan diri itu bagaimana?
J : Maksudnya tetap tawadhu tapi tidak merendahkan diri, jika kita punya alphard ya ga usah malu memakainya kemana-mana.

T : Lalu apakah tawadhu dan rendah diri itu hampir sama, apa perbedaannya? Terimakasih ustadzah.
J : Tidak sama, rendah hati tidak sama dengan rendah diri.

T : Bagaimana batasan ber-socmed agar postingan kita tetep bernilai tawadhu atau yang kita lihat terhindar dari ujub, sum'ah, dan takabur?
J : Sampaikanlah hanya kebenaran dan yang benar saja, insyaAllah akan terhindar dari sifat ujub, sum'ah dan takabur

T : Iya betul, saya denger bila sombong didepan orang sombong itu dibolehkan
J : Bismillah, teks kalimatnya adalah, التكبر على المتكبر صدقة
“Bersikap sombong kepada orang yang sombong adalah sedekah.”

Dalam keterangan yang lain, التكبر على المتكبر حسنة
“Bersikap sombong kepada orang yang sombong adalah perbuatan baik.”

Penyataan di atas bukanlah hadis, melainkan hanya perkataan manusia yang banyak tersebar di masyarakat, sebagaimana yang dijelaskan oleh Al-Ajluni dalam kitabnya, Kasyful Khafa, dengan menukil keterangan dari Al-Qari. Kemudian, Al-Qari mengatakan, “Hanya saja, maknanya sesuai dengan keterangan beberapa ulama.”

Penulis kitab Bariqah Mahmudiyah mengatakan, “Bersikap sombong kepada orang yang sombong adalah sedekah, karena jika kita bersikap tawadhu di hadapan orang sombong maka itu akan menyebabkan dirinya terus-menerus berada dalam kesesatan. Namun, jika kita bersikap sombong maka dia akan sadar. Ini sesuai dengan nasihat Imam Syafi’i, ‘Bersikaplah sombong kepada orang sombong sebanyak dua kali.’ Imam Az-Zuhri mengatakan, ‘Bersikap sombong kepada pecinta dunia merupakan bagian ikatan Islam yang kokoh.’ Imam Yahya bin Mu’adz mengatakan, ‘Bersikap sombong kepada orang yang bersikap sombong kepadamu, dengan hartanya, adalah termasuk bentuk ketawadhuan.'”

Sementara, ulama yang lain mengatakan, “Terkadang bersikap sombong kepada orang yang sombong, bukan untuk membanggakan diri, termasuk perbuatan terpuji. Seperti, bersikap sombong kepada orang yang kaya atau orang bodoh (yang sombong).”

Allahu a’lam.
 

➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖
Kita akhiri majlis hari ini dengan membaca :  

🔊 ucap syukur : الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِين

🔊 dan istighfar : أَسْتَغفِرُ اَللّهَ الْعَظيِمْ
🔊 serta
Doa Kafaratul majelis : سبحانك اللهم وبحمدك أشهد ان لا إله إلا أنت أستغفرك وآتوب إليك َ

Subhanakallahumma wabihamdika asyhadu allaailaaha illa anta astaghfiruka wa atuubu ilaika

✒ “Maha Suci Engkau ya Allah, dengan memuji-Mu aku bersaksi bahwa tiada sesembahan yang haq disembah melainkan diri-Mu, aku memohon pengampunan-Mu dan bertaubat kepada-Mu.”

[In Syaaa ALlaah]  إِنْ شَاءَ الله  
kebersamaan malam inih bermanfaat dan barokah.

أٰمِيْنَ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْن
[aamiin yaa Rabbal 'aalamiiiin]


و‌َالسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ


======================
Website: www.hambaAllah.net
FanPage : Kajian On line-Hamba Allah
FB : Kajian On Line-Hamba Allah
Twitter: @kajianonline_HA
IG: @hambaAllah_official

Thanks for reading & sharing Kajian On Line Hamba اللَّهِ SWT

Previous
« Prev Post

0 comments:

Post a Comment