Home » , , , » DENGAN IKHLAS KURAIH RIDHOMU

DENGAN IKHLAS KURAIH RIDHOMU

Posted by Kajian On Line Hamba اللَّهِ SWT on Wednesday, November 22, 2017

 Kajian Online WA  Hamba الله SWT

Senin, 30 Okitaober 2017
Rekapan Grup Bunda G5
Narasumber : Ustadzah Yeni/Lien
Tema : Kajian Umum
Editor : Rini Ismayanti



Dzat yang dengan Kebesaran-Nya, seluruh makhluk menyanjung dan mengagungkan-Nya...
Dzat yang dengan Keperkasaan-Nya, musuh-musuh dihinakan lagi diadzab-Nya...
Dzat yang dengan Kasih dan Sayang-Nya, kita semua mampu mengecap manisnya Islam dan indahnya ukhuwah di jalan-Nya, memadukan hati kita dalam kecintaan kepadaNya, yang mempertemukan kita dalam keta'atan kepadaNya, dan menghimpunkan kita untukuk mengokohkan janji setia dalam membela agamaNya.

AlhamduliLlah... tsumma AlhamduliLlah...

Shalawat dan salam semoga tercurah kepada tauladan kita, Muhammad SAW. Yang memberi arah kepada para generasi penerus yang Rabbaniyyah bagaimana membangkitkan ummat yang telah mati, memepersauntukan bangsa-bangsa yang tercerai berai, membimbing manusia yang tenggelam dalam lautan sayaahwat, membangun generasi yang tertidur lelap dan menuntukun manusia yang berada dalam kegelapan menuju kejayaan, kemuliaan, dan kebahagiaan.

Amma ba'd...
Ukhti fillah sekalian. Agar ilmunya barokah, maka alangkah indahnya kita awali dengan lafadz Basamallah

Bismillahirrahmanirrahim...                       

DENGAN IKHLAS KURAIH RIDHOMU

Sebuah kisah, ada seseorang yang selalu menunaikan shalat di shaf pertama. Suatu ketika ia terlambat dan ia shalat di shaf kedua. Lalu ia diliputi rasa malu karena dilihat orang banyak. Dari sini ia tahu bahwa selama ini ketenangan hatinya dalam melaksanakan shalat di shaf pertama selama ini disebabkan oleh pandangan orang-orang kepadanya.

"Dan mereka tidak disuruh kecuali supaya beribadah kepada Allah dengan memurnikan dien (agama) kepada-Nya, lagi bersikap lurus" (Q.S Al-Bayyinah:5)

Abu Umamah meriwayatkan, seseorang telah menemui Rasulullah shollallahu alaihi wasallam dan bertanya,

"Bagaimana pendapatmu tentang seseorang yang berperang untuk mendapatkan upah dan pujian? Apakah ia mendapatkan pahala? Rasulullah shallallahu alaihi wasallam menjawab, "Ia tidak mendapatkan apa-apa." Orang tadi mengulangi pertanyaannya tiga kali dan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam pun tetap menjawab, "Ia tidak mendapatkan apa-apa." Lalu beliau bersabda' "Sesungguhnya Allah subhanallah wa ta'ala tidak menerima suatu amal, kecualli jika dikerjakan murni karena-Nya dan mengharapkan wajah-Nya." (HR. Abu Dawud dan An-Nasa'i dengan sanad jayyid/bagus).


1. Apakah itu Ikhlas…?

Ikhlas artinya memurnikan tujuan bertaqarrub kepada Allah subhanallahu wa ta'ala dari hal-hal yang mengotorinya.
Ikhlas juga berarti menjadikan Allah Subhanallah wa ta'ala sebagai satu-satunya tujuan dalam segala bentuk ketaatan atau mengabaikan pandangan makhluk dengan cara selalu berorientasi hanya kepada Allah Subhanalah wa ta'ala. Hal ini hanya mampu dilakukan oleh seseorang yang mencintai Allah Subhanallahu wa ta'ala dan menggantung seluruh harapannya pada akhirat. Tidak tersisa tempat dihatinya untuk mencintai dunia. Seseorang yang dipenuhi oleh kecintaan kepada Allah Subhanallah wa ta'ala dan akhirat pasti seluruh akitaivitas hariannya mulai dari bangun tidur hingga ia tidur kembali merupakan cerminan dari cita-citanya untuk obsesi akhirat sehingga dilakukan dengan penuh keikhlasan.


Kemudian apa saja keutamaan Ikhlas…?

 Abu Sa'id Al-Khudriy radiyallahu anhu  meriwayatkan bahwa pada wakitau Haji wada', Rasulullah shollallahu alaihi wasallam bersabda:

"Semoga Allah mencerahkan orang yang mendengar kata-kataku lalu menjaganya. Betapa banyak orang yang membawa pemahaman, tetapi ia sendiri tidak paham. Tiga hal yang seorang mukmin tidak akan dengki terhadapnya; mengikhlaskan amal kepada Allah, memberikan loyalitas kepada para pemimpin kaum muslimin dan selalu bergabung dengan jamaah mereka." (HR. Al-Bazzar dengan isnad hasan dan Ibnu Hibban dalam kitab shahihnya).

Hadist diatas memberi pengarahan bahwa ketiga hal diatas dapat memperbaiki hati (menjauhkan dari sifat dengki). Barangsiapa menjadikan ketiganya sebagai akhlak, pasti hatinya akan bersih dari khianat maupun kerusakan. Seorang hamba hanya akan akan selamat dari godaan setan dengan keikhlasan. Allah subhanallahu wa ta'ala berfirman,  mengungkapkan pernyataan iblis,

"Kecuali hamba-hamba Mu yang selalu ikhlas" (Shad:83).   

Apabila suatu amal telah tercampuri oleh harapan-harapan duniawi yang disenangi diri dan hati manusia sedikit ataupun banyak maka kejernihan amal itu sendiri telah tercemari. Hilanglah pula keikhlasannya. Sulitnya ikhlas dalam setiap amalan atau ibadah digambarkan oleh sebuah pepatah,

"Barangsiapa yang sesaat dari umurnya telah dengan ikhlas, hanya mengharap wajah Allah Swt., pasti ia akan selamat


Apa Kunci Keikhlasan..?

Kunci keikhlasan adalah MEMUPUSKAN KESENANGAN TERHADAP DUNIA

Keikhlasan hanya bisa lahir dari hati yang selalu khusyu' dan menjadikan akhirat sebagai obsesi hidupnya. Segala kesenangan hawa nafsu serta ketamakan terhadap dunia dan segala perhiasannya harus dipupus untuk bisa memudahkan meraih makna keikhlasan.  Banyak orang yang telah bersusah payah mengorbankan banyak hal baik materi, tenaga maupun pikiran untuk beramal, menyangka telah melakukannya dengan keikhlasan karena Allah subhanallahu wa ta'ala. Padahal sesungguhnya ia telah tertipu. Adapun orang-orang yang lalai dari keikhlasan, kelak pada hari kiamat, mereka akan mendapati kebaikan-kebaikan mereka telah berubah menjadi keburukan.

Sebagaimana firman Allah subhanallah wa ta'ala:
"Dan (pada hari kiamat) jelaslah bagi mereka dari Allah apa-apa yang belum pernah mereka perkirakan. Dan jelaslah bagi mereka keburukan dari apa-apa yang telah mereka kerjakan. (Az-Zumar: 47-48)

"Katakanlah, "Maukah kalian kami kabari tentang orang yang paling merugi amalan mereka? Yaitu orang-orang yang telah sia-sia usaha mereka di dunia, sedangkan mereka menyangka telah mengerjakannya dengan sebaik-baiknya (Al-Kahfi: 103).


2.  Riya Kebalikan dari Ikhlas

Riya berasal dari kata rukyat yang berarti melihat. Asal muasalnya adalah mencari kedudukan atau kemasyuran agar hati orang -orang banyak terpengaruh lalu memujinya sebab telah banyak melihat kebaikan yang ada pada dirinya.

Ada beberapa tingkatan riya:

1. Tingkatan terberat adalah memamerkan keimanan sementara hatinya mendustai ucapannya.
2. Tingkatan berikutnya adalah orang yang melakukan shalat karena terpaksa dan takut diejek orang lain.
3. Tingkatan ketiga adalah memamerkan ibadah-ibadah sunah ketika berada didepan orang lain, padahal sebenarnya sangat malas melakukannya bila sendirian.
4. Tingkatan keempat adalah menyempurnkan sebuah amalan tetapi biasanya tidak demikian kalau tidak di muka orang lain.
5. Tingkatan riya terakhir adalah melakukan sesuatu yang sekalipun ditinggalkan juga tidak akan mengurangi segala sesuatu yang berhubungan dengan amalannya.

Apa saja bahaya Riya’..?

Bahaya riya’ sangat banyak, beberapa di antaranya:

1.Menghapus pahala amal
Orang yang riya’ pahala amalnya akan sia-sia dan tidak bernilai. Sebagaimana orang yang bersedekah, tetapi hanya mengharapkan pujian dari manusia sebagai orang yang dermawan.

2.Riya lebih berbahaya bagi manusia dari fitnah Dajjal.
Padahal fitnah dajjal merupakan fitnah yang besar, dan setiap nabi memperingatkan umatnya akan bahaya Dajjal

Dari Abu Sa’id Al Khudri, beliau berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah keluar Menemui kami dan kami sedang mengingatkan akan (bahaya) Al Masih Ad Dajjal. Lantas beliau bersabda,

 “Maukah kukabarkan pada kalian apa yang lebih aku takutkan bagi kalian menurutku dibanding dari fitnah Al Masih Ad Dajjal?” “Iya”, para sahabat berujar. Beliau pun bersabda, “Syirik khofi (syirik yang samar) di mana seseorang shalat lalu ia perbagus shalatnya agar dilihat orang lain.” (HR. Ibnu Majah. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa haditsnya hasan)

3. Riya bentuk syirik kecil.
Dosanya lebih besar dibandingkan dosa-dosa besar selain kesyirikan, sehingga pelakunya adalah orang yang pertama kali dimasukkan ke neraka.

Berikut hadits yang menceritakan bahwa orang yang berperang jihad karena riya’, menuntut ilmu dan mengajar agama karena riya’, dan sadaqah karena riya’, mereka pertama kali masuk neraka.

Dari Abi Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Sesungguhnya manusia pertama yang diadili pada hari kiamat adalah orang yang mati syahid di jalan Allah. Dia didatangkan dan diperlihatkan kepadanya kenikmatan-kenikmatan (yang diberikan di dunia), lalu ia pun mengenalinya.

Allah Swt. bertanya kepadanya : ‘Amal apakah yang engkau lakukan dengan nikmat-nikmat itu?’ Ia menjawab : “Aku berperang semata-mata karena Engkau sehingga aku mati syahid.’ Allah berfirman : “Engkau dusta! Engkau berperang supaya dikatakan seorang yang gagah berani. Memang demikianlah yang telah dikatakan (tentang dirimu).’ Kemudian malaikat diperintahkan agar menyeret orang itu atas mukanya (tertelungkup), lalu dilemparkan ke dalam neraka.

Berikutnya orang (yang diadili) adalah seorang yang menuntut ilmu dan mengajarkannya serta membaca Al Qur`an. Ia didatangkan dan diperlihatkan kepadanya kenikmatan-kenikmatannya, maka ia pun mengakuinya. Kemudian Allah menanyakannya: ‘Amal apakah yang telah engkau lakukan dengan kenikmatan-kenikmatan itu?’ Ia menjawab: ‘Aku menuntut ilmu dan mengajarkannya, serta aku membaca Al Qur`an hanyalah karena Engkau.’ Allah berkata : ‘Engkau dusta! Engkau menuntut ilmu agar dikatakan seorang ‘alim (yang berilmu) dan engkau membaca Al Qur`an supaya dikatakan (sebagai) seorang qari’ (pembaca Al Qur`an yang baik). Memang begitulah yang dikatakan (tentang dirimu).’ Kemudian malaikat diperintahkan agar menyeretnya di atas mukanya dan melemparkannya ke dalam neraka.

Berikutnya (yang diadili) adalah orang yang diberikan kelapangan rezeki dan berbagai macam harta benda. Ia didatangkan dan diperlihatkan kepadanya kenikmatan-kenikmatannya, maka ia pun mengenalinya (mengakuinya). Allah Swt. bertanya : ‘Apa yang engkau telah lakukan dengan nikmat-nikmat itu?’ Dia menjawab : ‘Aku tidak pernah meninggalkan shadaqah dan infaq pada jalan yang Engkau cintai, melainkan pasti aku melakukannya semata-mata karena Engkau.’ Allah Swt. berfirman : ‘Engkau dusta! Engkau berbuat yang demikian itu supaya dikatakan seorang dermawan (murah hati) dan memang begitulah yang dikatakan (tentang dirimu).’ Kemudian malaikat diperintahkan agar menyeretnya di atas mukanya dan melemparkannya ke dalam neraka."


3. Apa yang perlu di perhatikan agar bisa IKHLAS..?

Ada banyak hal yang dapat dilakukan agar bisa ikhlas, diantaranya:

1.Hendaklah tiap amalan yang dilakukan semata-mata mengharap ridha Allah. Hilangkanlah perasaan bahwa kita telah ikhlas melaksanakan suatu amalan karena hal ini dapat menjatuhkan kadar keikhlasan kita dihadapan Allah subhanallah wa ta'ala.

2.Setiap akitaivitas harus sesuai dengan tuntunan syariat. Hal ini merupakan rel dalam beramal atau beribadah. Sejauh apapun kereta kita bergerak, kita tidak akan pernah sampai ke tujuan kita.

3. Senantiasa ber-muhasabah (mengevaluasi diri). Apakah amalan-amalan yang dilakukan semata-mata hanya mengharapkan ridho-Nya atau masih menempel kepentingan-kepentingan lain yang menodai keikhlasan kita. Seringkali kita sulit untuk jujur terhadap diri sendiri sehingga kita lebih cenderung membela diri daripada menyalahkan diri sendiri.

4.Senantiasa waspada terhadap tipu daya setan yang senantiasa menjuruskan kita kepada sifat riya.

Kita harus menyadari bahwa setiap ikhtiar yang kita lakukan dalam menggapai keikhlasan, syetan tidak akan tinggal diam. Perbaharui niat dalam segala hal semata-mata untuk meraih ridho-Nya. Mohonlah perlindungan dari Allah subhanallah wa ta'ala agar dijauhkan dari godaan syetan.

5. Bertemanlah dengan orang-orang yang ikhlas dan mengikuti cara hidup mereka serta giat menuntut ilmu


Begitu besar ganjaran sebuah keikhlasan sampai Rasulullah tercinta mengatakan bahwa diterimanya amal anak adam sangat ditentukan oleh niatnya. Dan saking bencinya syetan terhadap keikhlasan hamba-Nya, dia selalu menggoda baik di awal, pertengahan maupun di akhir sebuah amal atau ibadah.

Diawal ketika ingin beramal kita digoda untuk berharap mendapatkan keuntungan lain selain dari Allah subhanallah wa ta'ala.

Ketika tengah beramal kita digoda untuk rajin berkeluh kesah dan...

Setelah selesai beramal kita dirayu agar menceritakan amal tersebut pada orang lain.

Mari kita mulai dan selalu mentarbiyah diri untuk menggapai derajat mukhlis, diantaranya dengan senantiasa menjaga dan memperbaharui keikhlasan dalam niat kita, 

Tentunya kedekatan kita pada Allah Subhanallah Wa ta'ala adalah keniscayaan terjaganya keikhlasan kita

Wallahu A’lam Bishawab


TANYA JAWAB

Q : Bunda...bagaimana kita merasakan kadar dari Ikhlas itu..?
A : Dimana kita ga merasa lagi atas apa yang dikeluarkan...ga sebut-sebut ga ingin dipuji

Q : Ustzh, bagaimana usaha kita untuk menghindari riya. Misalnya kita sudah ikhlas untuk berbuat suatu amalan, tetapi pas ada orang lain yang memuji, hati ini berbunga juga, nah itu kan berarti sudah ngak ikhlas lagi. Mohon pencerahannya unruk nenghilangkan sifat tsb
A : Iringi istighfar... karena disanalah peluang syetan menggoda sangat besar... pertarungan dihati terasa

Q : Subhanalloh..ternyata ikhlas itu sulit ya ustazdah. Bagaimana sekiranya ditengah perbuatan amal kita ada sedikit terbesit seperti riya yang awalnya kita itu. Mau mengharapkan ridho Alloh. Apa yang kita lakukan, sesegera mungkin utk menepis rasa itu ?
A : Itu tadi langsung istighfar... perbaiki niatnya...

Q : Apakah boleh ikhlasnya belakangan,kadang hati agak sedikit tidak rela memberikan sesuatu kpda orang lain(karena terpaksa) tetapi ketika di sadarkan oleh seseorang atau ada yang menasehati akhirnya kita bisa ikhlas juga,
A : Ikhlas itu diawal... ditengah dan diakhir.. maka kitaika mngeluarkan sesuatu ga ikhlas maka kita ga dapat apa-apa... hampa dan mngkin penyesalan. Jadi alangkah lebih baiknya bismilah ikhlaskan. Dan biasanya ujian ga berhenti tuuh... sudah mulai ikhlas... eeh taunya menyesal...
Duuh kenapa juga saya kasi dia yaa padahal saya lagi perlu juga inii. Intinya syetan ga akan berhenti sampai disitu

Q : Ustdzh klo kita lagi marahin anak..lalu kita sebut kebaikan kita sama anak kita..apakah itu termasuk kita Riya??ato kita seperti orang yang tidak Ikhlas
A : Kembali ke niatnya mb.. karena ikhlas itu masalah hati.. Dan ada baiknya ga diungkit sih

Q : Ikhlas luar biasa ya bunda bagi yang sudah bisa menjalankannya. Namanya manusia memang susah sekali dengan banyaknya godaan ini. Gimana bunda apakah Allah mau megampuni kita jika dimata Allah kita tidak termasuk orang yang ikhlas
A : Allah sungguh Maha Pengampun bagi hamba yang mau kembali padaNya. Intinya jangan rusak amal yang kita lakukan dengan hal-hal yang Allah ga suka..Riya…Sombong…Ujub…Dll

Q : Kalo kiat ikhlas menghadapi takdir Allah yang menurut kita kenapa ya,kenapa harus kita? Itu gimana bund untuk menghilangkan pertanyaan “kenapa” difikiran itu..tetap berhusnudzhan kepada allah..kok kayanya masih sulit..
A : Pertanyaan itu akan selalu ada... jadi segera tepis banyak istighfar karena semua diluar nalar pikir kita... akan lelah jika kita tanya kenapa... akan lebih baik itu menjadi bahan introspeksi diri kita tuk lebih baik lagi


Alhamdulillah, kajian kita hari ini berjalan dengan lancar. Semoga ilmu yang kita dapatkan berkah dan bermanfaat. Aamiin....

Segala yang benar dari Allah semata, mohon maaf atas segala kekurangan. Baiklah langsung saja kita tutup dengan istighfar masing-masing sebanyak-banyakanya dan do'a kafaratul majelis:


سبحانك اللهم وبحمدك أشهد ان لا إله إلا أنت أستغفرك وآتوب إليك

Subhanakallahumma wabihamdika asayahadu allaailaaha illa anta astaghfiruka wa atuubu ilaika


“Maha Suci Engkau ya Allah, dengan memuji-Mu aku bersaksi bahwa tiada sesembahan yang haq disembah melainkan diri-Mu, aku memohon pengampunan-Mu dan bertaubat kepada-Mu.”

Thanks for reading & sharing Kajian On Line Hamba اللَّهِ SWT

Previous
« Prev Post

0 comments:

Post a Comment

Ketik Materi yang anda cari !!

Kajian On Line Hamba اللَّهِ SWT