Home » , » DI MANA POSISI KITA SAAT BERIBADAH

DI MANA POSISI KITA SAAT BERIBADAH

Posted by Kajian On Line Hamba اللَّهِ SWT on Thursday, November 23, 2017

 Kajian Online WA  Hamba الله SWT

Senin, 18 September 2017
Rekapan Grup Bunda G5
Narasumber : Ustadzah Lien
Tema : Kajian Umum
Editor : Rini Ismayanti



Dzat yang dengan Kebesaran-Nya, seluruh makhluk menyanjung dan mengagungkan-Nya...
Dzat yang dengan Keperkasaan-Nya, musuh-musuh dihinakan lagi diadzab-Nya...
Dzat yang dengan Kasih dan Sayang-Nya, kita semua mampu mengecap manisnya Islam dan indahnya ukhuwah di jalan-Nya, memadukan hati kita dalam kecintaan kepadaNya, yang mempertemukan kita dalam keta'atan kepadaNya, dan menghimpunkan kita untukuk mengokohkan janji setia dalam membela agamaNya.

AlhamduliLlah... tsumma AlhamduliLlah...

Shalawat dan salam semoga tercurah kepada tauladan kita, Muhammad SAW. Yang memberi arah kepada para generasi penerus yang Rabbaniyyah bagaimana membangkitkan ummat yang telah mati, memepersauntukan bangsa-bangsa yang tercerai berai, membimbing manusia yang tenggelam dalam lautan sayaahwat, membangun generasi yang tertidur lelap dan menuntukun manusia yang berada dalam kegelapan menuju kejayaan, kemuliaan, dan kebahagiaan.

Amma ba'd...
Ukhti fillah sekalian. Agar ilmunya barokah, maka alangkah indahnya kita awali dengan lafadz Basamallah

Bismillahirrahmanirrahim...                       

DIMANAKAH POSISI KITA DALAM BERIBADAH

Renungan malam yang membuat hati tersentak

Saat Kajian online yang cukup membuat berkaca diri tentang motivasi apa yang selama ini dicantumkan dalam beribadah...

Berkali-kali kita mendengar para mubaligh, ustadz, khatib dan kyai dalam ceramah mereka, dan membaca tulisan para penulis yang menyatakan dengan tegas bahwa tujuan hidup kita (umat manusia ini) hanya untuk beribadah kepada Allah. Karena Allah telah menciptakan diri kita dengan tujuan utama: “untuk hanya beribadah” kepada-Nya. Selaras dengan firman Allah,

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالإِنسَ إِلاَّ لِيَعْبُدُونِ.

 “Dan tidak Aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku” (QS adz-Dzâriyât/51: 56).

Ibadah yang dimaksud dalam ayat di atas mencakup pengertian (ibadah) mahdhah (ibadah khusus yang terstruktur, yang tata caranya sudah ditentukan oleh Allah dan atau Rasul-Nya) dan yang ghairu mahdhah (mustafâdah), yaitu: “setiap perbuatan baik yang bermanfaat dan diniatkan semata karena dan untuk Allah”

Sayid Quthb dalam tafsir Fî Zhilâl al-Qurân (VI/3387) menyatakan, bahwa ibadah merupakan al-Wadhîfah al-Ilâhiyyah, tugas yang diembankankan Allah kepada manusia. 

Jadi, ketika manusia menjalankan ibadah, maka ia telah memfungsikan hakikat penciptaannya. 

Sebaliknya, manusia yang melalaikan ibadah, berarti telah mendisfungsikan hakikat penciptaanya. 

Seperti lampu yang dibeli untuk tujuan penerangan, ketika lampu itu tidak bisa lagi menerangi, berarti telah mengalami disfungsi. Itulah analogi bagi manusia yang enggan untuk beribadah. 

Dan oleh karena itu, setiap manusia harus selalu melakukan tajdîd an-niyyah ( pembaruan niat atau motivasi ), agar dirinya tidak mengalami disorientasi di dalam hidupnya. Motivasi (niat) setiap orang akan selalu menjadi unsur penentu dalam membangun ibadahnya. Dan motivasi setiap orang dalam beribadah ternyata tidak pernah sama, berkaitan dengan pengalaman dan tantangan kehidupan masing-masing yang pernah dialaminya.


Mengenal Ragam Tingkatan Motivasi dalam Beribadah

Para ulama membagi kualitas motivasi ibadah pada diri manusia beberapa tingkatan.

Pertama Ibâdah al-Mukrahîn (Ibadah Orang-orang yang Terpaksa). 
Ini adalah tingkat motivasi terendah. Pada tingkat ini, ibadah hanya dipahami sebagai kewajiban.
Melaksanakan ibadah karena ia takut dosa apabila dia tidak mengerjakannya. Dampak motivasi pertama ini adalah seseorang menganggap ibadah ini hanya sebagai beban , ia melakukannya hanya karena untuk menggugurkan kewajibannya. 
Motivasi ini ibaratnya seperti seorang budak, ketika dia disuruh, baru dia mengerjakannya.

Beribadah bukan didorong dari dalam dirinya, melainkan karena paksaan dari luar. Malah seringkali sekadar untuk memelihara kepantasan. Sebagaimana yang tersebut di dalam firman Allah,

 “Dan tidak ada yang menghalangi mereka untuk diterima dari mereka nafkah-nafkahnya melainkan karena mereka kafir kepada Allah dan RasulNya dan mereka tidak mengerjakan shalat, melainkan dengan malas dan tidak (pula) menafkahkan (harta) mereka, melainkan dengan rasa enggan.” (QS at-Taubah/9: 54)

Kedua 'Ibâdah at-Tujjâr (Ibadah Para Pedagang). 

Inilah ibadah cara pedagang. Ibadahnya semata karena tergiur imbalan lebih besar.
Melaksanakan ibadah karena ia mengharapkan pahala dari apa yang ia kerjakan. Dampak motivasi kedua ini adalah seseorang melakukan ibadah hanya pada waktu tertentu saja, contohnya di Bulan Ramadhan yang dijanjikan berkali-kali lipat pahalanya, ketika bulan Ramadhan telah lewat, maka ia mengurangi ibadahnya, bahkan meninggalkannya naudzubillah.. 

Motivasi ini ibaratnya seperti seorang anak-anak, yang ketika mengerjakan sesuatu, pasti ingin mendapatkan imbalan.

Ketiga Ibâdah al-Muthî’în (Ibadah Orang-orang yang Taat). 

Kualitasnya lebih bagus dari tiga tingkat sebelumnya. Motivasi ibadah pada tingkat ini adalah ketundukan kepada Allah. Ibadah bukan lagi karena paksaan dari luar, melainkan sudah tumbuh dari dalam. Bukan karena takut ancaman atau mengharap imbalan, melainkan karena ingin “balas jasa” atas segala nikmat dan karunia Allah kepada dirinya. Juga didorong keyakinan bahwa hikmah dan manfaat ibadah akan kembali kepada diri manusia. Ikrar hatinya,

قُلْ إِنَّ صَلاَتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ.

 “Katakanlah (hai Muhammad): “Sungguh shalatku, ibadahku, hidupku, dan matiku hanya untuk Allah, Tuhan sekalian alam.” (QS al-An’âm/6: 162).

Mereka melaksanakan ibadah karena mereka mengharapkan ridha Allah SWT. 

Apa itu ridha?

Ridha artinya rela, mengharapkan Ridha Allah SWT artinya kita mencari apa yang membuat Allah SWT rela kepada kita. Seseorang yang memiliki motivasi ini memiliki semangat untuk menjamin kualitas ibadahnya, bukan kuantitas. Ia mencoba untuk merenungi setiap makna dari ibadah, apa makna setiap gerakan dalam shalat, apa makna setiap bacaan Al Qur’an. Banyak saudara kita yang hanya membaca Al Qur’an tanpa memahami atau bahkan tidak mengetahui apa artinya (memang benar, membaca saja kita sudah mendapatkan pahala). Tetapi, implementasi atau pengaplikasian dalam kehidupan sehari lah yang seharusnya kita tanamkan dalam diri kita melalui pemahaman ibadah-ibadah yang kita lakukan setiap hari.

Keempat, Ibâdah al-Mutaladzidzîn (Ibadah Para Penikmat Ibadah)

Inilah puncak motivasi ibadah seorang hamba. Pada tingkat ini, ibadah tidak lagi untuk “balas jasa” apalagi karena tergiur pernik-pernik dunia. Ada kelezatan ibadah yang tiada tara. Sekejap saja waktu senyap dari ibadah, muncullah gemuruh rindu dan cinta yang menyesakkan dada. Ia telah keranjingan untuk beribadah kepada Sang Maha Segalanya.

Sesungguhnya ibadah itu memiliki rasa nikmat, kebahagiaan dan ketenteraman yang hanya bisa diketahui oleh orang yang merasakannya. Bahkan, kesempurnaan ibadah seseorang ditandai kalau dia bisa merasakan bahwa ibadah itu nikmat. Karenanya, ia akan mengesampingkan segala kenikmatan dunia seisinya untuk mencapai kenikmatan tersebut.

Kenikmatan ibadah merupakan buah dari keimanan yang menancap kuat dalam diri seorang hamba, lalu dibuktikannya dengan melaksanakan amal shalih. Maka dalam ibadah yang didasari iman dan muncul dari keimanan, akan selalu bisa melahirkan kenikmatan dan kelezatan serta kebahagiaan.

Nabi SAW pernah bersabda berkaitan dengan kenikmatan ibadah ini,

ذَاقَ طَعْمَ الإِيمَانِ مَنْ رَضِىَ بِاللَّهِ رَبًّا وَبِالإِسْلاَمِ دِينًا وَبِمُحَمَّدٍ رَسُولاً.

“Pasti akan merasakan manisnya iman orang yang ridha terhadap Allah sebagai Rabb, Islam sebagai dîn/aturan hidup, dan Muhammad s.a.w. sebagai rasul.” (HR. Muslim dari al-‘Abbas bin ‘Abdul Muthallib, Shahîh Muslim, I/46, 160).

Yang paling utama adalah seseorang beribadah karena ia cinta kepada Allah SWT dan agama yang di ridhoi-Nya, agama Islam. Seseorang yang cinta pada sesuatu pasti akan melakukan segala sesuatu demi apa yang dicintainya. Begitu pun seseorang yang beribadah karena cinta kepada Allah SWT dan Islam, ia melakukannya karena pikiran dan tubuhnya tergerak oleh yang namanya cinta. 
Inilah yang dilakukan oleh para Rasul dan Nabi serta para Sahabat..

Inilah yang dirasakan Rasulullah SAW, Beliau sudah dijamin oleh Allah.
Allah akan masuk surga, tetapi beliau secara terus-menerus melaksanakan shalatnya dengan kesungguhan yang tinggi, sampai dikisahkan oleh para sahabatnya bahwa pernah kaki beliau bengkak karena terlalu lama melaksanakan shalat. 

Hal ini juga terjadi pada Ali bin Abi Thalib yang karena begitu menikmati shalatnya, sampai pernah minta agar anak panah yang menancap di badannya dicabut ketika sedang melaksanakan shalat. 

Sementara itu, Abdurrahman bin Auf, saudagar kaya, sekaligus satu dari sepuluh sahabat yang mendapat "garansi" surga dari Rasulullah SAW, bahkan dengan ikhlas membagikan tiga "kantung" berisi uang hasil keuntungan dagangnya kepada mereka yang membutuhkan.

Orang miskin di dunia adalah orang yang belum pernah merasakan cinta kepada Allah dan nikmatnya beribadah kepada-Nya. 

Ibnul Qayim bercerita tentang gurunya, Ibnu Taimiyah: “sungguh aku pernah mendengar Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata, “sesungguhnya di dalam dunia ada sebuah surga. Barangsiapa yang tidak memasukinya, maka ia tidak akan bisa memasuki surga akhirat.”

Perlu diingat Sahabatfillah...
Allah akan memberikan sendiri penilaianNya.
Asalkan ibadah kita jika tidak disertai dengan Riya.
Karena apapun motivasi ibadah jika disertai Riya maka akan sia-sia.

Wallahu A'lam bishawab


TANYA JAWAB

Q : Apakah jika kita sudah termasuk dalam bagian dari kelompok ibadah Mutaladzidzin...penikmat ibadah...apakah masih boleh untuk memohon permintaan kepada Allah apa yang kita inginkan dan harapkan.....bukan jadi berlebihan bunda jadinya?atau otomatis Allah akan memberikan semua yang terbaik tanpa kita memohon....begitu bunda....terimakasih
A : Apapun kondisi kita berdo'a itu tetap harus ada mb. Rasulullah dan para sahabat yg sudah dijamin masuk syurga tetap ikhtiar berdoa dan ibadah.. pa lagi kita yg blm ada jaminan tiket ke syurga
Q : Baik bunda terimakasih ....kapanpun berdoa itu penting ya bun....jadi jangan GR bakal dapat tiket surga belum tentu juga
A : Iya mb... mau kaya or miskin doa itu senjatanya orang mukmin

Q : Bunda agaimana membiasakan ikhlas dalam memaksimalkan ibadah? Apakah kalau misalnya ingin membiasakan sedekah yang agak banyak tetapi dalam hati ada rasa berat, akan merusak pahala sedekah kita? Dan bagaimana kalau ingin membuka sedekah kita agar saudara2 kita merasa tergugah untuk sedekah
A : Ikhlas itu proses mb... ga bisa spontan karena ikhlas godaannya gedee... syetan ga tinggal diam.. perlu ekstra kerja hati. Klo sedekah besar tapi hati berat... pahala dapat tapi ga full seperti klo sedekah ikhlas.. Ga apa sedekah besar dimulai dulu.. lama-lama akan terbiasa. Sebenarnya klo ga ikhlas yang rugi kita juga jadi mendingan ikhlas dapat pahala juga pertolongan.. double. Sedekah terang-terangan ga apa klo niat ingin mngajak orang lain ikutan sedekah.. yang pnting niatnya baik..

Q : Bunda ada yg berkata "Ridho manusia adalah sesuatu yang tidak mungkin engkau raih".... terus jika dikaitkan dengan "ridho Allah tergantung ridho orang tua bagaimana? kan orang tua juga manusia
A : Konteksnya beda mb... Ini terkait bakti seorang anak pada ortunya.. Bukan seorang karyawan pada atasannya atau pembantu pada majikannya. Karena ikatan darah tadi maka Allah memuliakan yang namanya orang tua..Namun jika ia posisi sebagai istri maka posisinya ridho suami dlu..Jadi liat konteksnya mb

Alhamdulillah, kajian kita hari ini berjalan dengan lancar. Semoga ilmu yang kita dapatkan berkah dan bermanfaat. Aamiin....

Segala yang benar dari Allah semata, mohon maaf atas segala kekurangan. Baiklah langsung saja kita tutup dengan istighfar masing-masing sebanyak-banyakanya dan do'a kafaratul majelis:


سبحانك اللهم وبحمدك أشهد ان لا إله إلا أنت أستغفرك وآتوب إليك

Subhanakallahumma wabihamdika asayahadu allaailaaha illa anta astaghfiruka wa atuubu ilaika


“Maha Suci Engkau ya Allah, dengan memuji-Mu aku bersaksi bahwa tiada sesembahan yang haq disembah melainkan diri-Mu, aku memohon pengampunan-Mu dan bertaubat kepada-Mu.”

Thanks for reading & sharing Kajian On Line Hamba اللَّهِ SWT

Previous
« Prev Post

0 comments:

Post a Comment

Ketik Materi yang anda cari !!

Kajian On Line Hamba اللَّهِ SWT