Ketik Materi yang anda cari !!

Home » , , » Hikmah Qurban

Hikmah Qurban

Posted by Kajian On Line Hamba اللَّهِ SWT on Monday, November 13, 2017

Image result for idul adha
Rekap Kajian Online Hamba Allah Ummi G-7
Hari/Tgl : Jumat, 11 Agustus 2017
Materi : Idul Adha
Narasumber : Ustadz Undang Suherlan
Waktu kajian : bada maghrib sampai selesai
Editor : Sapta
➖➖➖➖➖➖➖➖➖

Idul Adha selalu identik dengan menyembelih hewan qurban.
Ada nilai historis tentang cinta dan perjuangan seorang ayah kepada anaknya dalam Idul Adha.
Saat Nabi Ibrahim AS mendapat wahyu untuk menyembelih putranya sendiri, Ismail.
Ibrahim dihadapkan pada pilihan untuk melaksanakan perintah Allah SWT atau mempertahankan anak yang dicintainya.
Pilihan yang sangat dilematis. Namun, atas dasar taqwa dan cinta Allah SWT yang melebihi segalanya, Ibrahim siap tunaikan perintah menyembelih putranya sendiri. Hingga akhirnya, Ismail digantikan dengan seekor domba.
Hikmahnya, untuk meraih ridho Allah SWT dibutuhkan pengorbanan.

Berkorban harus jadi sikap dasar manusia, yang diwujudkan dengan memberikan sesuatu yang dimilikinya kepada orang lain yang membutuhkan. Menyembelih hewan Qurban lalu bagikan dagingnya kepada fakir miskin dan orang-orang yang membutuhkan. Qurban juga jangan dari hasil perbuatan korupsi sekecil apapun. Sungguh, qurban tak sebatas menyembelih hewan. Ada pelajaran penting di dalamnya.
Dengan ber-qurban, kita tidak hanya sekedar melaksanakan perintah Allah SWT tetapi juga diberi kesempatan untuk memanifestasikan rasa solidaritas sosial sebagai simbol ketaqwaan. Qurban harus dapat meningkatkan kualitas ketaqwaan manusia mampu menghadapi segala cobaan dan rintangan dalam hidup.

Melalui qurban, kita belajar untuk istiqomah dalam menebarkan kepedulian sosial. Wajib bagi orang yang kuat membantu orang yang lemah. Di dekat kita, masih banyak orang yang belum tentu dapat menikmati lezatnya daging. Anak-anak yatim, fakir miskin, kaum dhuafa lain. Sementara kita, kapanpun ingin makan daging dapat membelinya. Jika perlu masuk restoran dengan bayaran ratusan ribu rupiah. Jadi, qurban itu dapat menjadi janji kesetiaan kita dalam mengorbankan dan menyembelih sifat egois kita, sikap tidak mementingkan diri sendiri, tidak rakus, dan serakah atas dasar cinta kepada Allah SWT. Kita harus hidupkan solidaritas dan kepedulian sosial yang lebih nyata, bukan hanya retorika yang terlalu sering didiskusikan.

Berikan qurban kita kepada fakir miskin, baik yang meminta maupun yang tidak meminta.
Qurban jangan dinikmati kita sendiri atau komunitas sosial yang punya euforia nyate bareng-bareng walau tidak ada yang melarang. Kapan lagi kita ikut menggembirakan mereka yang memang perlu. Qurban tidak hanya simbol kesolehan ritual, tetapi juga realisasi kesolehan sosial. Qurban adalah sedekah dari yang mampu kepada yang tidak mampu. Qurban bukan hadiah dari yang mampu kepada yang mampu. Niat kita masih perlu diluruskan dalam konteks ini, hati-hati.

Qurban tak sebatas menyembelih hewan.Karena dengan ber-qurban, kita juga BELAJAR akan makna yang patut kita renungkan dalam hidup yang tersisa. Belajar untuk menjadi insan yang lebih baik di sisa umur kita:
  • Belajar untuk tetap rendah hati atau tawadhu
  • Belajar untuk tidak gila pujian, hanya Allah SWT yang berhak dipuji
  • Belajar untuk tidak membedakan status dan kelas sosial, semua sama di hadapan Allah SWT
  • Belajar untuk memiliki jiwa dan perilaku kepedulian sosial Belajar untuk siap berkorban dalam ketaqwaan
  • Belajar untuk mencintai Allah SWT diikuti amal soleh.
  • Belajar untuk bersyukur atas apa yang sudah kita miliki
  • Belajar untuk berbuat baik secara individu maupun kolektif
  • Belajar untuk berbaur dengan masyarakat dalam kebersamaan
  • Belajar untuk menyelaraskan ego diri dengan orang lain

Qurban bisa dimaknakan agar kita tetap BELAJAR. Belajar dari masa lalu dan hiduplah untuk masa depan. Bukan menyesali apa yang sudah terjadi. Tapi berpikir dan bertindak optimis untuk masa datang yang lebih baik. Sungguh, qurban tak sebatas menyembelih hewan.

Idul Adha, ber-qurban adalah simbol. Bahwa dalam hidup perlu timbal balik. Apa yang kamu berikan akan kembali, apa yang kamu tanam akan tumbuh, dan apa yang kamu korbankan akan berbuah. Hidup, tak perlu mencari kesalahan orang lain. Tak perlu juga membuka aib saudara kita. Karena QURBAN adalah pertanda cinta, cinta kepada sang Khalik dan cinta kepada sesama.
Sungguh indah, di saat ber-qurban saja kita tetap tidak berhenti untuk belajar. Belajar menjadi lebih baik dari waktu ke waktu. Belajar memperbaiki pemahaman qurban kita, bahkan belajar meningkatkan kualitas taqwa kita kepada-Nya. Ber-qurbanlah yang tak hanya sebatas menyembelih hewan.

Demikian paparan dari ana malam ini. Yang benar datang nya dari Alloh. Yang salah dari setan, karena ana tak salah apa apa.
Wallahu muwafiq ....

السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖
TANYA - JAWAB

T : Tentang belajar berqurban di sekolah bagaimana ustadz? Bila menolak tidak ikut urunan nanti di diskualifikasi, tapi bila bayar sekarang iurannya mahal, per anak Rp. 50.000,- buat beras bisa seminggu. Afwan jadi kelihatan tidak ikhlasnya. Afwan yang fakir ini ustadz.
J : Bagus tuh kenapa kita harus merasa berat dengan harta yang kita dapat? Bagaimana kalau uang tersebut malah jatuh atau hilang kan tidak jadi apa-apa. Belajar berquban di sekolah bukan hanya masalah memberikan edukasi qurban kepada anak-anak kita tapi kita belajar ikhlas menyisihkan "hanya sebagian" harta kita. Untuk sebuah kebaikan kedepannya. Kita mau kan anak-anak kita anak sholeh/ah? Wallahu a'lam

T : Betulkah kurban itu cukup atas nama kepala keluarga saja? Dan betulkah bila qurban sapi tidak boleh atas nama 7orang? Hasil kurban 1/3 nya boleh dihadiahkan untuk yang mampu, apa benar? Dan bila berqurban, misalnya seekor  kambing, saat disebutkan atas nama kepala keluarga dan keluarganya atau atas nama sendiri?
J : Hadits dari Abu Ayyub radhiyallahu’anhu yang mengatakan,

كَانَ الرَّجُلُ يُضَحِّي بِالشَّاةِ عَنْهُ وَعَنْ أَهْلِ بَيْتِهِ
”Pada masa Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam seseorang (suami) menyembelih seekor kambing sebagai kurban bagi dirinya dan keluarganya.” (HR. Tirmidzi, ia menilainya shahih, Minhaajul Muslim, Hal. 264 dan 266).

Oleh karena itu, tidak selayaknya seseorang mengkhususkan kurban untuk salah satu anggota keluarganya tertentu. Misalnya, kurban tahun ini untuk bapaknya, tahun depan untuk ibunya, tahun berikutnya untuk anak pertama, dan seterusnya. Sesungguhnya karunia dan kemurahan Allah sangat luas maka tidak perlu dibatasi.

Bahkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkurban untuk dirinya dan seluruh umatnya. Suatu ketika rasulullah hendak menyembelih kambing kurban, sebelum menyembelih rasulullah mengatakan,

اللّهُمّ هَذَا عَنِّي، وَعَمَّنْ لَـمْ يُضَحِّ مِنْ أُمَّتِي
“Ya Allah ini –kurban– dariku dan dari umatku yang tidak berkurban.” (HR. Abu Daud, no.2810 dan Al-Hakim 4:229 dan dishahihkan Syekh Al-Albani dalam Al Irwa’ 4:349).

Berdasarkan hadits ini, Syekh Ali bin Hasan Al-Halaby mengatakan, “Kaum muslimin yang tidak mampu berkurban, mendapatkan pahala sebagaimana orang berkurban dari umat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (Ahkamul Idain, Hal. 79)

Adapun yang dimaksud: “…kambing hanya boleh untuk satu orang, sapi untuk tujuh orang, dan onta 10 orang…” adalah biaya pengadaannya. Biaya pengadaan kambing hanya boleh dari satu orang, biaya pengadaan sapi hanya boleh dari maksimal tujuh orang dan kurban unta hanya boleh dari maksimal 10 orang.
Wallahu a’lam.

T : Ustadz, ada yang bilang qurban ibarat kendaraan yang akan kita tumpangi ketika di akherat nanti, makanya tiap tahun kita bergantian atas namanya. Apakah benar pendapat itu ustadz? Mohon penjelasannya, terimakasih.
J : Dalil yang dimaksud, :
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : اسْتَفْرِهُوا ضَحَايَاكُمْ ، فَإِنَّهَا مَطَايَاكُمْ عَلَى الصِّرَاطِ
Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:
‘Perbaguslah hewan qurban kalian, karena dia akan menjadi tunggangan kalian melewati shirath‘”
Derajat hadits, Riwayat ini sangat lemah, karena adanya beberapa perawi yang lemah

T : Assalamualaikum, punten ustadz lebih didahulukan mana membayar hutang atau berqurban jika hutang tersebut tidak ada jatuh temponya?
J : Lebih baik bayar hutang dan berqurban. Tak apa berqurban dulu

T : Assalamualaikum, ustadz jika kita belum aqiqahan dulu waktu kecilnya sama orangtua karena faktor ekonomi, boleh tidak kurban?
J : Aqiqah di sunah kan buat orang tua. Aqiqah itu keharusan orang tua jika mampu bukan keharusan kita berqurban lah

T : ustadz, bila kita tidak tahu orangtua sudah di aqiqahkan atau belum. Jika sudah di aqiqahkan tapi kita aqiqahkan lagi bolehkah jadi 2 kali?
J : Boleh saja niatkan sebagai sedekah kita kepada sanak saudara dan fakir miskin. Berhubungan dengan mengaqiqahi orang yang sudah meninggal, mengaqiqahi seorang manusia yang telah meninggal. Jika ada seseorang yang meninggal dan dia semasa hidupnya belum diakikahi, maka tidak disyariatkan bagi ahli warisnya untuk mengakikahinya. Allohu A’lam.

T : Kalo kitanya belum aqiqah bagaimana ustadz, sedangkan saya sudah berkeluarga?
J : Tidak ada perintahnya untuk aqiqah diri sendiri

T : Ustadz, ada sebuah lembaga yang menerima kurban tapi nantinya dibagikannya dalam bentuk kalengan (kayak kornet), bagaimana hukumnya ustadz? Saya sempet ikut tapi waktu itu ditegur sama saudara katanya itu bukan kurban tapi sedekah karena tidak memenuhi syarat. Jadi bagaimana ya ustadz?
J : Ada beberapa pendapat ulama yang memperbolehkan yang penting ketika memotongnya sesuai yang di syariatkan. Tapi memang lebih afdol kita yang memotong sendiri hewan qurban itu. Wallahu a'lam

~~~~~~~~~~~~~~~~
Selanjutnya, marilah kita tutup kajian kita dengan bacaan istighfar 3x
Doa robithoh dan kafaratul majelis

Astaghfirullahal' adzim 3x

Do'a Rabithah
Allahumma innaka ta'lamu anna hadzihil qulub,
qadijtama-at 'alaa mahabbatik,
wal taqat 'alaa tha'atik,
wa tawahhadat 'alaa da'watik,
wa ta ahadat ala nashrati syari'atik.
Fa watsiqillahumma rabithataha,
wa adim wuddaha,wahdiha subuulaha,wamla'ha binuurikal ladzi laa yakhbu,
wasy-syrah shuduroha bi faidil imaanibik,
wa jami' lit-tawakkuli 'alaik,
wa ahyiha bi ma'rifatik,
wa amitha 'alaa syahaadati fii sabiilik...
Innaka ni'mal maula wa ni'man nashiir.

Artinya :
Ya Allah, sesungguhnya Engkau mengetahui bahwa sesungguhnya hati-hati kami ini,
telah berkumpul karena cinta-Mu,
dan berjumpa dalam ketaatan pada-Mu,
dan bersatu dalam dakwah-Mu,
dan berpadu dalam membela syariat-Mu.
Maka ya Allah, kuatkanlah ikatannya,
dan kekalkanlah cintanya,
dan tunjukkanlah jalannya,
dan penuhilah ia dengan cahaya yang tiada redup,
dan lapangkanlah dada-dada dengan iman yang berlimpah kepada-Mu,
dan indahnya takwa kepada-Mu,
dan hidupkan ia dengan ma'rifat-Mu,dan matikan ia dalam syahid di jalan-Mu.Sesungguhnya Engkau sebaik-baik pelindung dan sebaik-baik penolong.
Aamiin...    

DOA PENUTUP MAJELIS
سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوْبُ إِلَيْكَ
Subhanaka Allahuma wabihamdika asyhadu alla ilaha illa anta astaghfiruka wa atubu ilaik.Artinya:“Maha suci Engkau ya Allah, dan segala puji bagi-Mu. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan melainkan Engkau. aku mohon ampun dan bertaubat kepada-Mu.”
Aamiin ya Rabb.

======================
Website: www.hambaAllah.net
FanPage : Kajian On line-Hamba Allah
FB : Kajian On Line-Hamba Allah
Twitter: @kajianonline_HA
IG: @hambaAllah_official

Thanks for reading & sharing Kajian On Line Hamba اللَّهِ SWT

Previous
« Prev Post

0 comments:

Post a Comment