Home » , » MENGHINDARI DIRI DARI MUNAFIK

MENGHINDARI DIRI DARI MUNAFIK

Posted by Kajian On Line Hamba اللَّهِ SWT on Tuesday, November 21, 2017

 Kajian Online WA  Hamba الله SWT

Jumat, 27 Oktober 2017
Rekapan Grup Bunda G5
Narasumber : Ustadz Syahrowi
Tema : Kajian Umum
Editor : Rini Ismayanti



Dzat yang dengan Kebesaran-Nya, seluruh makhluk menyanjung dan mengagungkan-Nya...
Dzat yang dengan Keperkasaan-Nya, musuh-musuh dihinakan lagi diadzab-Nya...
Dzat yang dengan Kasih dan Sayang-Nya, kita semua mampu mengecap manisnya Islam dan indahnya ukhuwah di jalan-Nya, memadukan hati kita dalam kecintaan kepadaNya, yang mempertemukan kita dalam keta'atan kepadaNya, dan menghimpunkan kita untukuk mengokohkan janji setia dalam membela agamaNya.

AlhamduliLlah... tsumma AlhamduliLlah...

Shalawat dan salam semoga tercurah kepada tauladan kita, Muhammad SAW. Yang memberi arah kepada para generasi penerus yang Rabbaniyyah bagaimana membangkitkan ummat yang telah mati, memepersauntukan bangsa-bangsa yang tercerai berai, membimbing manusia yang tenggelam dalam lautan sayaahwat, membangun generasi yang tertidur lelap dan menuntukun manusia yang berada dalam kegelapan menuju kejayaan, kemuliaan, dan kebahagiaan.

Amma ba'd...
Ukhti fillah sekalian. Agar ilmunya barokah, maka alangkah indahnya kita awali dengan lafadz Basamallah

Bismillahirrahmanirrahim...                       

MENGHINDARI DIRI DARI MUNAFIK

Ciri orang munafik,  sesuai sabda Rasulullah SAW : 

آيَةُ الْمُنَافِقِ ثَلَاث إِذَا حَدَّثَ كَذَبَ، وَ إِذَا وَعَدَ أَخْلَفَ، وَ إِذَا اؤْتُمِنَ خَانَ

“Tanda orang munafik itu tiga; apabila ia berucap berdusta, jika membuat janji diingkari, dan jika dipercayai mengkhianati.” (HR.Bukhari).

Hadits ini umumnya tidak digali dengan penalaran yang memadai, cukup diarahkan kepada siapa saja yang memang secara tersurat dinilai memenuhi tiga kriteria tersebut dan itu pasti berurusan dengan orang lain.

Lantas, apakah itu tidak mungkin terjadi di dalam hati kita sendiri? Di sinilah setiap Muslim perlu berani mengevaluasu kondisi hatinya. Apakah dalam setiap gerakan niat, besitan kata dan lintasan kalimat yang muncul adalah murni demi maslahah umat dan karena Allah atau jangan-jangan terselip hawa nafsu diri untuk memperoleh kepentingan pribadi?

Tentunya kita berdoa kepada Allah agar terhindar dari sifat munafik ini karena ancaman dari Allah sangat dahsyat.  Sebab itu ada beberapa cara agar iman kita terhindar dari sifat munafik. 

Cara pertama untuk menjaga hati dari kemunafikan adalah dengan komitmen kepada iman, dan siap mempertahankannya apapun resiko yang mesti dihadapi.

Kedua, jangan memberi dengan harapan mendapat balasan lebih  وَلَا تَمۡنُن تَسۡتَكۡثِرُ  yang artinya, Dan janganlah kamu memberi (dengan maksud) memperoleh (balasan) yang lebih banyak. (QS. Al-Mudatstsir [74]: 6).

Tentunya sebagai Muslim, kita mesti waspada, jangan sampai dalam setiap kebaikan yang dilakukan terbersit keinginan mendapat imbalan lebih banyak, lebih besar, lebih terhormat dan lain sebagainya.

Jika ini terjadi dalam sebuah tim kerja maka orang yang gagal mewaspadai hal tersebut akan banyak merapat pada atasan dan menganggap dirinya orang penting. Pada saat yang sama terhadap sesamanya ia merendahkan. Pekerjaannya hanya mengoreksi kinerja orang, menyalahkannya dan kemudian memberikan banyak komentar dan semua itu dilakukan dengan bahasa yang boleh jadi sangat lembut dan ‘mempesona.’

Terhadap sifat-sifat yang demikian, seorang guru pernah berkata kepada muridnya, “Jangan pernah sekali-kali kamu mempergunakan kedudukanmu, kebaikanmu apalagi kecerdasanmu untuk mendapat keuntungan pribadi, lebih-lebih dengan cara-cara yang curang, meski yang di atasmu adalah orang yang sangat dekat denganmu.”

Ketiga, memohon kepada Allah agar hati ini tidak cenderung pada ketidakbaikan dan ketidakbenaran.

Nabi Yusuf bisa selamat dari kemunafikan karena beliau berdoa kepada Allah.  Ibnu Katsir menguraikan hal ini dalam tafsirnya.

“Dan jika Engkau tidak hindarkan (menjauhkan) tipu daya mereka dariku, tentu aku cenderung untuk (memenuhi keinginan mereka),” maksudnya, jika Rabb menyerahkan hal itu kepada diriku, pasti aku tidak mampu dan aku tidak dapat mengendalikan apa yang dapat merugikan dan berguna bagi diriku kecuali dengan daya—Mu dan kekuatan-Mu. Engkaulah Al-Musta’an (tempat kami meminta pertolongan) dan kepada-Mu lah kami bertawakkal, maka janganlah Engkau serahkan (urusan) diriku kepadaku sendiri.

Pada akhirnya semua kembali pada diri kita masing-masing sebagai Muslim. Tetapi, yang pasti kemunafikan tidak akan mendatangkan kebahagiaan. Sebab kemunafikan sandarannya pada keuntungan yang direkayasa rasio sementara ketulusan, keikhlasan adalah keuntungan yang sandarannya adalah Allah. 

Dan, Allah mustahil tidak memberikan kebahagiaan kepada Muslim-Muslimat yang dengan susah payah menjaga hatinya dari noda kemunafikan. 

Wallahu a’lam

TANYA JAWAB

Q : Ustdz... Jika ada salah 1 di antara ciri-ciri orang munafik dalam diri seseorang, sementara dia itu termasuk orang baik dalam hal lainnya.. Apa tetap disamakan kah..?
A : Memahami hadist ini, bukan ketiganya harus ada pada 1 orang,  tetapi salah satu ciri pun yang melekat pada seseorang,  misal : sering berkata dusta,  maka dia tergolong orang munafik.  
wallahu'alam

Q : Untuk mencapai yang di inginkan, kadang ada yang memang mencari cari kesalahan orang lain supaya dia dipercaya dan naik jabatan ini termasuk munafik juga ya Ustdz..?
A : Jika ini dimaknai berkhianat,  artinya tidak amanah dengan janji dan sumpahnya sehingga merugikam orang lain,  sehingga menimbulkan buruk sangka terhadap orang lain,  maka ini termasuk juga ciri orang munafik
Wallahu'alam


Q : Ustdz.. Jika kita diminta berjanji tuk hadiri acara... Kita sudah bilang 
"in syaa ALLAH saya usahakan datang". Dan pada saat nya tiba ternyata tidak bisa datang.. Apa termasuk ciri orang munafik?
A : Sebenarnya insyaAllah adalah 'mengiyakan untuk memenuhi undangan', selebihnya terserah Allah,  karena hanya Allah yang tau apa yang terjadi dimasa depan.  Jika ternyata Allah menghendaki lain,  dan ada urusan lain yang sangat penting tanpa direncanakan,  maka kalimat insyAllah sudah menggugurkan 'janji' tsb.  Sebab tidak ada kata memastikan 100 persen.  Kalimat insyaAllah,  artinya jika Allah menghendaki.  Hanya Allah yang bisa menentukan 100 persen.  
Wallahu'alam


Q : Salah satu ciri orang munafiq adalah perbuatan dan ucapan berbeda ya? Misalnya kita kesel sama orang karna dengan alasan apapun, tapi kita berusaha menjaga hubungan baik dengan dia, tidaki menunjukkan kekesalan kita ke orang tsb, apa itu termasuk munafiq juga?
A : Kalau untuk menjaga silaturahim,  tanpa ada niat untuk berdusta,  maka ini tidak termasuk tanda-tanda munafik

Q : Orang kafir ingkar Tuhan, sedangkan orang munafik per­caya adanya Tuhan. Tapi mengapa umat Islam sepakat bahwa orang munafik lebih berbahaya terhadap Islam dibanding orang kafir?
A : Orang kafir identitasnya jelas,  sedang orang munafik kadang tidak tampak, karena masih bagian dari golongan muslim,  padahal dianya ingin merongrong umat islam

Q : Bila kita tak sengaja lupa dengan janji kita pada orang lain apa termasuk munafik ustad setelah ingat baru di laksanakan bagaimana menurut ustadz..?
A : Lupa itu adalah salah satu kekhilafan manusia yang Allah ampuni,  jadi bukan bagian dari ciri-ciri orang munafik

Q : Ustaadz apakah penyakit munafik itu bisa disembuhkan??atau memang udah darisononyaaa
A : Sifat-sifat munafik itu adalah pemicu dosa.  Tentu kita bisa taubat dari dosa.

Q : Ustd mau tanya apakah bohong sama anak termasuk munafik musalkan bohong mau dibelikan hadiah/mainan biar anaknya mau belajar/ngaji tapi kenyataannya ga biar anak mau belajar.
A : Tidak boleh sebenarnya berbohong pada anak,  karena akan berpengaruh pada psikologisnya.  Jika memang belum bisa beli yang dijanjikan,  di beri tahu saja.  Dan sebaiknya kita sebagai ortu,  jujur saja kepada anak.

Q : Ustaz tanya... Bagaimana kah caranya untuk menjaga hati ini agar tidak cenderung pada ketidakbaikan dan ketidakbenaran?
A : Hatinya dirawat dengan baik,  karena baiknya hati akan membuat baiknya jasad dan amal.  hati adalah raja,  yang mengatur irama amak dari jasad.  Makanya ada hadist shahih yang disampaikan Rasululah,  " Allah tidak melihat pada jasad dan penampilan kalian,  tetapi Allah melihat pada hati-hati kalian".  Merawat hati adalah dengan memberikan asupan yang baik,  banyak tilawah,  puasa,   suka silaturahim,  banyak berdoa,  suka bersedekah,  tidak ghibah,  suka menolong dan menabung 


Q : Ustdz mau tanya bagaimana kalu ada teman yang waktu pemilihan gubernur memilih bukan non muslim apakah termasuk munafik,dan bagaimana kalau mau bertaubat apa yang harus dilakukan...
A : Faktornya banyak,  ini sebenarnya tugas kita menyadarkan mereka agar memahami konsep islam secara utuh,  karena bisa jadi sebagian besar yang memilih non muslim sebagai pemimpin karena kurangnya pemahaman dan ilmu.  Tapi jika memang dia sengaja memilih non muslim dengan dan dia tau itu sebenarnya salah,  maka bisa jadi dia termasuk dalam golongan munafikun karena mengingkari imannya dan janjinya kepada Allah.  Wallahu'alam

Q : Ustadz, apakah hasad termasuk dalam kriteria orang munafik? Bagaimana menjaga diri dari sikap hasad ?
A : Hasad adalah penyakit hati.  Hasad juga bisa berakibat fatal karena bisa jadi pemicu dosa yang lebih besar karena jika seseorang hasad,  maka ia senang melihat orang lain menderita, ingin nikmat yang ada pd orang lain pindah padanya,  tidak senang melihat orang lain bahagia.  Hasad ini penyakit hati yang harus dikikis habis karena dampaknya luar biasa.  Supaya tidak hasad, biasakan besikap qona'ah,  selalu bersyukur dengan pemberian Allah,  tidak iri atas nikmat yang ada pd orang lain.


Alhamdulillah, kajian kita hari ini berjalan dengan lancar. Semoga ilmu yang kita dapatkan berkah dan bermanfaat. Aamiin....

Segala yang benar dari Allah semata, mohon maaf atas segala kekurangan. Baiklah langsung saja kita tutup dengan istighfar masing-masing sebanyak-banyakanya dan do'a kafaratul majelis:


سبحانك اللهم وبحمدك أشهد ان لا إله إلا أنت أستغفرك وآتوب إليك

Subhanakallahumma wabihamdika asayahadu allaailaaha illa anta astaghfiruka wa atuubu ilaika


“Maha Suci Engkau ya Allah, dengan memuji-Mu aku bersaksi bahwa tiada sesembahan yang haq disembah melainkan diri-Mu, aku memohon pengampunan-Mu dan bertaubat kepada-Mu.”

Thanks for reading & sharing Kajian On Line Hamba اللَّهِ SWT

Previous
« Prev Post

0 comments:

Post a Comment

Ketik Materi yang anda cari !!

Kajian On Line Hamba اللَّهِ SWT