Home » , , » 3 HAL YANG DI LAKUKAN NABI KETIKA DI MADINAH

3 HAL YANG DI LAKUKAN NABI KETIKA DI MADINAH

Posted by Kajian On Line Hamba اللَّهِ SWT on Tuesday, December 19, 2017

 Kajian Online WA  Hamba الله SWT

Senin, 2 Oktober 2017
Rekapan Grup Bunda G5
Narasumber : Ustadz Robin
Tema : Kajian Umum
Editor : Rini Ismayanti



Dzat yang dengan Kebesaran-Nya, seluruh makhluk menyanjung dan mengagungkan-Nya...
Dzat yang dengan Keperkasaan-Nya, musuh-musuh dihinakan lagi diadzab-Nya...
Dzat yang dengan Kasih dan Sayang-Nya, kita semua mampu mengecap manisnya Islam dan indahnya ukhuwah di jalan-Nya, memadukan hati kita dalam kecintaan kepadaNya, yang mempertemukan kita dalam keta'atan kepadaNya, dan menghimpunkan kita untukuk mengokohkan janji setia dalam membela agamaNya.

AlhamduliLlah... tsumma AlhamduliLlah...

Shalawat dan salam semoga tercurah kepada tauladan kita, Muhammad SAW. Yang memberi arah kepada para generasi penerus yang Rabbaniyyah bagaimana membangkitkan ummat yang telah mati, memepersauntukan bangsa-bangsa yang tercerai berai, membimbing manusia yang tenggelam dalam lautan sayaahwat, membangun generasi yang tertidur lelap dan menuntukun manusia yang berada dalam kegelapan menuju kejayaan, kemuliaan, dan kebahagiaan.

Amma ba'd...
Ukhti fillah sekalian. Agar ilmunya barokah, maka alangkah indahnya kita awali dengan lafadz Basamallah

Bismillahirrahmanirrahim...                       

3 HAL YANG DI LAKUKAN NABI KETIKA DI MADINAH

Materi kali ini saya ambilkan dari transkrip dakwah Tuan Guru Bajang, semoga dapat diambil hikmahnya

Ketika dulu nabi besar Muhammad saw berhijrah dari mekkah menuju madinah, ada tiga hal yang pertama kali dilakukan oleh nabi Muhammad saw. Pertama, Ia membangun Masjid. Kenapa nabi membangun masjid? Kenapa nabi tidak pertama kali membangun rumah? Kenapa nabi pertama kali tidak membangun gedung? Membangun istana? Membangun kantor? Sebagai lambang bahwa umat islam adalah umat yang selalu menyandarkan diri pada nilai-nilai keilahian. 

Dalam kaitannya dengan ini, saya berharap sebagaimana dahulu masjid difungsikan oleh nabi Muhammad saw bukan hanya tempat shalat, bukan hanya tempat berdzikir, tetapi juga markas untuk membangun islam. Tetapi juga tempat untuk memusyawarahkan segala perrmasalahan umat. Itulah sebabnya seluruh perkara-perkara yang timbul di tengah-tengah masyarakat islam di Madinah, dapat diselesaikan dengan baik karena berdasarkan musyawarah yang dibangun atas dasar ketakwaan kepada Allah swt.

Kedua, yang dibangun oleh nabi Muhammad saw ketika beliau berhijrah dari mekkah ke madinah adalah pasar. Kenapa nabi membangun pasar? Untuk menunjukkan kepada umat islam bahwa di dalam islam itu tidak ada pemisahan antara dunia dan akhirat. Islam tidak hanya mengajarkan kita untuk selamat nanti di surga, tetapi islam juga mengajarkan kita bagaimana selamat dzhohir dan bathin.

Itu sebabnya, di antara doa-doa yang ada di dalam al-Qur’an , ada satu doa yang disebut dengan doa sapu jagat, doa sapu jagat itu adalah doa yang berada pada ayat 201 dari surah al-Baqarah, apa bunyi doa sapu jagat?

   “dan di antara mereka ada orang yang bendoa: "Ya Tuhan Kami, berilah Kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah Kami dari siksa neraka"

Makna dari ayat ini adalah permohonan kepada Allah, ya Allah berikanlah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat. Maknanya, selain nanti di akhirat memperoleh surga, memperoleh kebaikan, memperoleh keselamatan, memperoleh kesukesan, maka mudah-mudahan begitu pula di dunia kita dapat hidup dengan sukses, dapat hidup dengan selamat, dapat membangun bumi Allah ini dengan sebaik-baiknya.

Ketiga, yang dilakukan oleh nabi ketika berhijrah ke madinah adalah mempersaudarakan antara orang Muhajirin dan orang Anshar. Orang Muhajirin datang dari Mekkah, termasuk masyarakat yang ahli di dalam perdagangan. Sementara Masyarakat Anshar adalah masyarakat yang tinggal di Madinah, ahli di dalam masalah pertanian. dipersaudarakan oleh nabi dari latarbelakang yang berbeda, suku yang berbeda, warna kulit yang berbeda, asal-usul yang berbeda, dan bukan menjadi sebab saling menjauhi. Bukan sebab saling terpecah belah.

Di dalam al-Qur’an surah al-Hujurat Allah berfirman;

“Hai manusia, Sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa - bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal.”

Beda asal-usul kita, beda suku kita, beda warna kulit kita, beda kampung kita, beda pulau kita, beda Negara kita, semua perbedaan itu bukan menjadi sebab kita saling memusuhi. Tetapi menjadi sebab untuk kita saling mengisi, saling membantu, saling ajak nasihat-menasihati, di dalam kebaikan, saling tolong-menolong, dan saling membantu di dalam amal shaleh. Itulah yang diajarkan oleh nabi kita Muhammad saw.

Suatu peradaban atau masyarakat akan mampu menjadi masyarakat yang maju kalau orang-orang yang tinggal di tempat itu terikat dengan mahabbah, mahabbah artinya rasa cinta-mencintai, saling sayang bukan saling benci, saling menasehati bukan saling mengumpat, kalau kita saling cinta, saling nasehat dan menasehati, maka akan tercipta peradaban yang maju. Itulah peradaban masyarakat yang diridhoi oleh Allah swt.

Tiga hal yang dilakukan oleh nabi besar Muhammad saw ini merupakan pelajaran bagi kita. Pertama nabi membangun masjid, maknanya kemuliaan umat islam bukan karena rumahnya yang besar, pangkatnya tinggi, bukan ukurannya kegagahan parasnya, dia gagah, dia cantik bukan itu ukurannya. Tetapi kemajuan umat islam tergantung sejauh mana umat islam dapat menghidupkan agama di dalam masyarakatnya, maka mari kita hidupkan tuntunan-tuntunan agama. Jangan kita hanya berislam di masjid saja. Kalau sudah keluar dari masjid lupa diri kita, kalau sudah di masjid sangat saleh, dzikir, shalat, menundukkan kepala, keluar dari masjid, pergi ke pasar, lupa tuntunan agama.

Ingat! Kita berislam tidak hanya di masjid, karena Allah selalu melihat kita, bukan hanya di masjid; dimana pun kita berada. Disebutkan hatta bersembunyi di bagian lapisan bumi yang paling dalam, semua berada dalam pengawasan Allah swt. kalau mau berislam, berislamlah di masjid, di rumah.

Berislam di rumah maksudnnya apa? Kita hidupkan rumah kita menjadi rumah yang diridhoi oleh Allah swt. Artinya apa? Nasihat- menasihati antar istri. Kalau kita cinta dengan istri kita, bukan membiarkannya berbuat maksiat, tapi kita cintai dengan memberikan nasihat.

Demikian pula sebagai istri, kita cinta kepada suami, bukan dengan mengiyakan apa yang diminta suami sekalipun berbuat maksiat. Kalau kita cinta kepada suami, maka ingatkan apabila suami khilaf dan keliru. Jadi, kita berislam dimanapun karena Allah selalu bersama kita dimanapun kita berada.

Kedua, nabi mendirikan pasar sebagai isyarat bahwa mulianya seorang hamba bukan tergantung karena rajinnya shalat atau puasa; tetapi tergantung juga bagaimana berusaha dan berikhtiar di atas dunia. Kalau ada orang yang sehat tetapi kerjaannya berdiri di perempatan minta uang itu adalah manusia yang hina di hadapan Allah. Walaupun shalatnya lima waktu, walaupun puasa Ramadhannya sempurna, tetapi dia tidak mau kerja, dia senang meminta-minta. Nabi Muhammad saw menyebutkan kalau ada orang yang suka meminta-minta di dunia, nanti dia akan menghadap Allah di hari kiamat, tidak ada kulit di mukanya, habis kulit mukanya, yang tersisa hanyalah tulang-belulang. Itulah orang yang hina karena di dunia tidak mau bekerja dan berikhtiar, hanya menggantungkan diri kepada orang lain.

Ketiga, nabi mempersaudarkan muhajirin dan anshar, bahwa masyarakat yang maju adalah masing-masing anggota masyarakat yang hidup di tempat itu saling cinta-mencintai di dalam kebaikan.


Selain hal2 tersebut di atas, ada bbrp hal yang dilakukan Nabi saw sbg pondasi peradaban Islam.

Namun kali ini kita fokus pada urgensi 3 pondasi peradaban yang disebut di atas;

1. Kekuatan Ruhiyah
2. Persatuan
3. Kekuatan Ekonomi.

Selanjutnya kita eksplor di tanya jawab ya.. tafadhdholuu disambi aktivitas pagi

TANYA JAWAB

Q : Semua kegiatan yang dilakukan nabi kita Muhammad saw...luar biasaa...dan kita sebagai umatnya ingin seperti itu....namun dengan adanya keterbatasan sebagai manusia biasa...apakah berkurang pahala kita jika tidak melakukan nya seperti yang dilakukan Beliau....
A : Pahala dihitung berdasarkan amal sholih, smakin banyak amal sholih kita, smakin besar pahala di sisi Allah, jika kita ikhlas. Yang banyak meniru Rasulullah, akan besar tabungan pahalanya, yang sdikit meniru Rasulullah akan sesuai dengan amal-amalnya. Semua dengan catatan; harus ikhlas.


Q : Ustdz...ummat Islam makin berlomba membangun mesjid yang besar dan megah,, miris sekali sama jamaahnya yang bisa dihitung jari,,, bahkan saya pernah mampir mesjid besar, mau sholat gak Bisa , karena mesjid itu dalam keadaan terkunci.. Miriss sedih.. Bagaimana menurut Pendapat Ustdz..?
A : Masjid yang penting bukan megahnya, tapi kemakmurannya.
Terkadang memang ada masjid yang dikunci, di satu sisi sulit disalahkan pengurusnya lgsg karena memang sbagian masyarakat juga ga peduli mencuri di masjid. tapi di sisi lain, masjid yang banyak dikunci menunjukkan kekurang makmurannya. klo makmur, maka masjid sering ramai, dan klo sering ramai maka tidak perlu dikunci.

Q : Bagaimana dengan baca yasin pas ada yang meninggal? Setau saya bid'ah. Afwan klu mlnceng dari materi, karena teman-teman masih banyak yang berdebat masalah ini.
A : Membaca Al-Quran untuk Orang Meninggal

Adapun membaca Al-Quran dengan niat agar pahalanya disampaikan kepada orang yang sudah wafat, memang menjadi perbedaan di kalangan para ulama. Bukan karena tidak ada dalilnya, namun karena dalil itu multi tafsir, bisa ditafsirkan dengan beragam versi. Di antaranya:

Dari Ma’qil bin Yasar ra. berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Bacakanlah surat Yaasiin atas orang yang meninggal di antara kalian.” (HR Abu Daud, An-Nasaa’i dan dishahihkan oleh Ibnu Hibban)

Jantungnya Al-Quran adalah surat Yaasiin. Tidak seorang yang mencintai Allah dan negeri akhirat membacanya kecuali dosa-dosanya diampuni. Bacakanlah (Yaasiin) atas orang-orang mati di antara kalian.” (ibnu Majah, Ibnu Hibban dan Al-Hakim)

Hadits ini dicacat oleh Ad-Daruquthuny dan Ibnul Qathan, namun Ibnu Hibban dan Al-Hakim menshahihkannya.

Dari Abi Ad-Darda’ dan Abi Dzar ra. berkata, “Tidaklah seseorang mati lalu dibacakan atasnya surat Yaasiin, kecuali Allah ringankan siksa untuknya.” (HR Ad-Dailami dengan sanad yang dhaif sekali)

Adalah Ibnu Umar ra. gemar membacakan bagian awal dan akhir surat Al-Baqarah di atas kubur sesudah mayat dikuburkan. (HR. Al-Baihaqi dengan sanad yang hasan).

Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT) di Jln. Gajah Semarang

Mereka yang menolak terkirimnya pahala bacaan untuk orang meninggal berargumen bahwa semua hadits tentang perintah Rasulullah SAW untuk membacakan Al-Quran atas orang meninggal itu harus dipahami bukan kepada orang meninggal, melainkan kepada orang yang hampir meninggal. Jadi menjelang kematiannya, bukan pasca kematiannya atau setelah dikuburkannya.

Namun argumentasi mereka dibantah oleh As-Syaukani, penyusun kitab Nailul Authar. Beliau mengatakan bahwa lafadz yang ada di dalam hadits itu jelas-jelas menyebutkan kepada orang yang meninggal. Kalau ditafsirkan kepada orang yang belum mati, mereka harus datang dengan qarinah. (Lihat Nailur Authar jilid 4 halaman 52)

Sedangkan Al-Imam An-Nawawi rahimahullah menuliskan dalam kitab Riyadhush-Shalihin dalam judul: Doa untuk mayyit setelah dikuburkan dan berdiri di kuburnya sesaat untuk mendoakannya dan memintakan ampunan untuknya serta membacakan Al-Quran, menyebutkan bahwa Al-Imam As-syafi’i rahimahullah berkata, “Sangat disukai untuk dibacakan atasnya Al-Quran. Kalau sampai bisa khatam, tentu sangat baik.”

Ibnu Qudamah dalam Al-Mughny halaman 758 menuliskan bahwa disunnahkan untuk membaca Al-Quran di kubur dan dihibahkan pahalanya.

Diriwayatkan bahwa Imam Ahmad pernah mengatakan bahwa hal itu bid’ah, namun kemudian beliau mengoreksi kembali pernyataannya.

Imam Abu Hanifah dan Imam Malik rahimahumallah berpendapat bahwa membacakan Al-Quran buat orang yang sudah wafat itu tidak ada dalam sunnah. Namun Al-Qarafi dari ulama kalangan mazhab Al-Malikiyah mengatakan yang berbeda dengan imam mazhabnya.

Jadi intinya, masalah ini memang khilaf di kalangan ulama. Sebagian mengakui sampainya pahala bacaan Al-Quran untuk orang yang telah meninggal, sedangkan sebagian lainnya tidak menerima hal itu. Dan perbedaan pendapat ini adalah hal yang amat wajar. Tidak perlu dijadikan bahan permusuhan, apalagi untuk saling menjelekkan satu dengan lainnya.

Wallahu a’lam bishshawab,

saya kutipkan dr Ustadz Ahmad Sarwat

Q : Ustadz mau tanya biar perasaan plong , saat para sahabat hijrah kmd dipersaudarakan dengann kaum anshar ada 1 peristiwa yang saya masih ngeganjel mohon dijelaskan karena ilmu saya masih cetek, saat itu abdurahman bin auf dipersaudarakan (saya lupa namanya) dari kaum anshar kemudian beliau ditawari harta termasuk memilih salah satu istrinya tapi abdurahman bin auf ra menolak dn meminta ditunjukkan pasar. di point nawarin istri kok saya jadi nyesek ya ust kalo jadi istrinya, mhn penjelasannya ust, jazakallah
A : Tidak perlu nyesek karena bunda bukan istri sahabat tersebut. Saya sndiri juga mungkin klo jadi suami seperti itu, ya ga mungkinlah nawarin istri sendiri.
Tapi itu kan saya, bukan sahabat tersebut. dan istri saya, bukan istri sahabat tersebut. dan saya hidup di zaman yang berbeda dengan zaman sahabat tersebut. Dengan kondisi masyarakat islam, yang berbeda dengan sahabat tersebut.

Sama seperti poligami. Bunda ga mau dipoligami, silahkan saja. Tapi misalnya istri Umar bin Khattab ridho dengan poligami mereka, ya kita tidak perlu komentari yang buruk-buruk Intinya, banyak perbedaan dari segi personal, zaman, lingkungan, dst. Jangan mudah memposisikan diri kita pada kondisi orang lain, karena seringnya tidak pas. Kita berhusnuzhon kepada para sahabat, bahwa apa yang mereka lakukan adalah sesuai syariah, di zaman, kondisi, dan lingkungan saat itu.

Q : Bisa minta tolong , di jelaskan bagaimanakah kita bisa memilih seorang guru yang benar ? Maaf saya ko bingung dengan kondisi sekarang ini ya ustadz.
A : Klo tidak punya bekal sama sekali akan sulit memilih guru. Seperti anak SD, apa yang disodorkan gurunya itulah kebenaran menurut dia. Tapi bisa jadi gurunya salah. Nah, kita yang sudah dewasa harus punya bekal juga. Guru yang mana saja insya Allah baik, klo kita melihatnya sebagai orang yang terbuka ajarannya (ga sembunyi2), apalagi klo dia berafiliasi dengan organisasi yang sudah dikenal, atau masyarakat umum menerima dia, dan kita melihat penjelasannya logis, dalil2nya selalu disebutkan dst. Maka insya Allah dia guru yang baik. Dan sebaiknya kita tidak memilih satu dua guru, tapi banyak guru, sehingga kita bisa memperluas wawasan dan klo ada satu guru yang tidak baik, dapat terkoreksi karena kita juga punya referensi lain.
Saran saya tuk belajar dr situs seperti dakwatuna.com, atau rumahfiqih.com, dst. dan ikuti channel ustadz yang sudah diketahui kebaikannya, seperti ust Abdullah Haidir, ust Oni Sahroni, ust Hepi Andi Bastoni (ada youtubenya juga)

Alhamdulillah, kajian kita hari ini berjalan dengan lancar. Semoga ilmu yang kita dapatkan berkah dan bermanfaat. Aamiin....

Segala yang benar dari Allah semata, mohon maaf atas segala kekurangan. Baiklah langsung saja kita tutup dengan istighfar masing-masing sebanyak-banyakanya dan do'a kafaratul majelis:


سبحانك اللهم وبحمدك أشهد ان لا إله إلا أنت أستغفرك وآتوب إليك

Subhanakallahumma wabihamdika asyhadu allaailaaha illa anta astaghfiruka wa atuubu ilaika


“Maha Suci Engkau ya Allah, dengan memuji-Mu aku bersaksi bahwa tiada sesembahan yang haq disembah melainkan diri-Mu, aku memohon pengampunan-Mu dan bertaubat kepada-Mu.”

Thanks for reading & sharing Kajian On Line Hamba اللَّهِ SWT

Previous
« Prev Post

0 komentar:

Post a Comment

Ketik Materi yang anda cari !!

Artikel Baru