Home » , , » BELAJAR SANTUN PADA DIRI SENDIRI

BELAJAR SANTUN PADA DIRI SENDIRI

Posted by Kajian On Line Hamba اللَّهِ SWT on Wednesday, December 20, 2017

Kajian Online WA  Hamba الله SWT

Senin, 4 Desember 2017
Rekapan Grup Nanda 1
Narasumber : Ustadzah Lien
Tema : Kajian Parenting
Editor : Rini Ismayanti




Dzat yang dengan Kebesaran-Nya, seluruh makhluk menyanjung dan mengagungkan-Nya...
Dzat yang dengan Keperkasaan-Nya, musuh-musuh dihinakan lagi diadzab-Nya...
Dzat yang dengan Kasih dan Sayang-Nya, kita semua mampu mengecap manisnya Islam dan indahnya ukhuwah di jalan-Nya, memadukan hati kita dalam kecintaan kepadaNya, yang mempertemukan kita dalam keta'atan kepadaNya, dan menghimpunkan kita untuk mengokohkan janji setia dalam membela agamaNya.

AlhamduliLlah... tsumma AlhamduliLlah...

Shalawat dan salam semoga tercurah kepada tauladan kita, Muhammad SAW. Yang memberi arah kepada para generasi penerus yang Rabbaniyyah bagaimana membangkitkan ummat yang telah mati, memepersatukan bangsa-bangsa yang tercerai berai, membimbing manusia yang tenggelam dalam lautan syahwat, membangun generasi yang tertidur lelap dan menuntun manusia yang berada dalam kegelapan menuju kejayaan, kemuliaan, dan kebahagiaan.

Amma ba'd...
Ukhti fillah sekalian. Agar ilmunya barokah, maka alangkah indahnya kita awali dengan lafadz Basmallah

Bismillahirrahmanirrahim... 


BELAJAR SANTUN PADA DIRI SENDIRI

“Barangsiapa yang memiliki rambut maka hendaklah dia memuliakannya.” (HR. Abu Dawud)

Santun pada diri sendiri artinya kita harus beretika, punya perasaan, mengenali apa yang menjadi hak kita dan apa yang menjadi kewajiban kita. Dengan itu kita akan mendapatkan gelar kemuliaan sebagai seorang manusia dalam pandangan Allah, dalam pandangan kita sendiri, dan juga dalam pandangan orang lain.

Allah sendiri telah berbuat santun pada kita, sebagaimana firman-Nya,

”Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan di lautan, Kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan.” (QS. Al-Isra’:70)

Ayat ini begitu lugas menceritakan, bahwa Allah ternyata tidak hanya membuat sempurna penciptaan-Nya atas diri kita. Tetapi juga memuliakan kita. Dia melebihkan kita atas makhluk-makhluk yang lain. Maka, adakah kita juga berbuat yang sama pada diri sendiri. Apakah kita memiliki sikap santun terhadapnya? Dan bagaimana seharusnya kita melakukan hal itu?

Menghargai Keindahan Peforma dan Penciptaan

Bentuk tubuh yang sempurna dan menawan yang Allah SWT berikan pada kita adalah salah satu keindahan dunia ini. Keindahan itu tentulah harus selalu dijaga sebagai bentuk rasa syukur kita kepada-Nya. Maka, merawat diri dengan senantiasa memperlihatkan penampilan menarik tidak hanya sekedar memenuhi anjuran agama, tetapi juga merupakan satu kesopanan dan penghargaan pada diri yang telah dicipta begitu menarik oleh Sang Al-Mushawwir.

Ibnu Handhaliyah menceritakan, bahwa Nabi SAW pernah bersabda kepada para sahabatnya ketika mereka hendak mendatangi saudara mereka,”Kalian akan mendatangi saudara-saudara kalian. Karenanya perbaikilah kendaraan kalian, dan pakailah pakaian yang bagus sehingga kalian menjadi seperti tahi lalat (yang indah) di tengah-tengah umat manusia. Sesungguhnya Allah tidak menyukai sesuatu yang buruk.”(HR. Abu Dawud dan Hakim).

Bukan hanya mandi dan memakai wewangian yang dianjurkan, tetapi terhadap hal-hal kecil pun perhatian Islam begitu besar. Memotong kuku, menipiskan kumis, mencabut bulu ketiak, yang mungkin sering kita abaikan, bahkan disebut sebagai fitrah.

Rasulullah SAW bersabda, 
”Lima hal yang termasuk fitrah (kesucian): mencukur bulu kemaluan, khitan, menipiskan kumis, mencabut bulu ketiak dan memotong kuku.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Kebersihan gigi dan mulut, yang dengannya kita berdzikir dan berkomunikasi dengan sesama, juga sangat diperhatikan.

 Tentang hal ini Rasulullah SAW bersabda,
”Barangsiapa makan bawang putih atau bawang merah, maka janganlah ia mendekati masjid kami dan hendaklah ia sholat dirumahnya, karena sesungguhnya malaikat itu juga terganggu dengan apa-apa yang mengganggu manusia.” (HR. Bukhari)

Islam juga menganjurkan kita untuk selalu merawat rambut karena dia adalah mahkota. Maka rambut hendaklah selalu dijaga kebersihannya, disisir, dirapikan serta diperindah bentuknya.

Maka perbaiki penampilan kita. Jaga dan tata peforma kita, karena tubuh kita adalah amanah yang keindahannya harus selalu dipelihara dengan baik. Dengan memperhatikan hal-hal ini sama artinya kita telah menjaga kesantunan pada diri sendiri.

Memberi Manfaat kepada Orang Lain

Memberi manfaat kepada orang lain, dengan cara apapun, juga merupakan bagian dari sikap santun kita pada diri sendiri. Maka, jangan pernah kita beranggapan bahwa apa yang kita lakukan untuk orang lain, manfaatnya hanya untuk orang lain. Sedangkan kita hanya merasakan keletihan, atau barangkali mengalami defisit harta jika yang kita lakukan adalah memberi bantuan materi.

Ketika kita berkontribusi untuk memberikan rasa gembira pada orang lain yang sedang kesusahan, menolong mereka dari kesulitan hidupnya, membuatnya tersenyum dari beban yang menghimpitnya, menuntunnya kepada jalan yang benar, mencegahnya dari perbuatan buruk, semua adalah bagian dari sikap santun kita pada diri sendiri. Sebab, semua itu merupakan sedekah bagi setiap ruas yang terdapat dalam tubuh kita.

Prinsip berbagi yang diajarkan Al-Qur’an kepada kita adalah, kebaikan yang dilakukan kepada orang lain, pada akhirnya akan kembali kepada pelakunya sendiri. Kitalah yang akan lebih banyak menerima manfaat daripada orang yang menerima pertolongan kita.

Allah SWT berfirman,

“Jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik bagi dirimu sendiri dan jika kamu berbuat jahat, maka (kejahatan) itu bagi dirimu sendiri.” (QS. Al-Isra’:7)

Telah banyak kisah yang pernah kita dengar tentang orang yang sembuh dari penyakitnya; tentang pedagang yang bertambah maju usahanya; tentang orang yang dalam situasi sulit yang menemukan kemudahan dalam urusannya, karena sedekah dan atau karena memberi pertolongan kepada orang lain, dalam bentuk apapun. Karena itu, bersikap santunlah kita pada diri sendiri dengan berbagi kepada sesama.

Memaksimalkan Fungsi Sumber Daya

Karunia Allah SWT yang terhimpun dalam struktur tubuh kita ini, adalah satu kesatuan yang memiliki potensi besar untuk melakukan hal-hal yang besar. Kaki, tangan, mulut, mata, hati, akal, dan seluruh anggota tubuh yang ada, dengan perannya masing-masing saling bersinergi untuk melahirkan daya cipta yang luar biasa, meski pada akhirnya hanya anggota tertentu yang terlihat dominan atas yang lain.

Ada orang yang dengan kemampuan olah kakinya, kemudian menjadi pesepak bola hebat. Ada yang dengan kelincahan tangannya mampu mengubah benda-benda rongsokan yang tak berharga, menjadi karya-karya seni yang indah nan bernilai tinggi. Ada pula orang dengan kelenturan lidahnya menjadi orator hebat, yang memesona dan menyihir orang dengan kata-katanya.
Ada banyak lagi orang dengan keahlian-keahlian tertentu yang memukau dan mengagumkan, begitu juga dengan kita yang mungkin sudah mencipta suatu karya yang berbeda.

Tetapi apapun keahlian itu, kita tak boleh lupa bahwa Allah-lah yang telah memberi kita sumber daya yang dahsyat, sehingga bisa bertahan hidup seperti sekarang. Maka siapakah di antara kita yang mau menjual sebelah tangannya, sebelah kakinya, atau sebelah matanya, lalu menukarnya dengan tangan, kaki, serta mata imitasi yang tak berfungsi. Tidak ada, kecuali orang yang terdapat gangguan di akalnya.

Allah SWT berfirman,

”…dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri kedalam kebinasaan, dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik.”(QS. Al-Baqarah:195)

Memelihara sumber  daya ini adalah bentuk sikap santun kita kepada diri sendiri. Karena, dengan diri yang kuat, Allah SWT akan menempatkan kekuasaan di tangan kita. 

“Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang shalih bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang yang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka tetap menyembah-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. Dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu,maka mereka itulah orang-orang yang fasik.” (QS.An-Nur:55)

Menciptakan Keseimbangan dalam Hidup

Dunia ini dan perputarannya diciptakan Allah SWT mengikuti sunnah-sunnah yang telah Dia tentukan. Sunnah-sunnah itu kokoh dan tak akan pernah berubah. Salah satunya adalah Sunnah keseimbangan, atau yang kita sebut dengan tawazun.

Jika di amati makhluk-makhluk yang ada di sekeliling kita,dari sungai, gunung, hewan dan tumbuh-tumbuhan, semua berjalan di atas sunnah keseimbangan itu. Baik secara fisik, kualitas, kuantitas hingga pada bagian-bagian terkecil dari tubuh makhluk-makhluk itu. Hanya kadang, manusia seringkali mengganggu keseimbangan itu dengan tingkah polahnya yang suka merusak dan mengeksploitasi lingkungan dan ekosistem.

Allah SWT menciptakan kita terdiri dari banyak unsur. Ada raga, hati, akal, dan ada jiwa. Semua unsur ini punya kebutuhan yang harus kita penuhi secara berimbang. Semua harus mendapatkan perhatian yang sama, juga hak-haknya mesti ditunaikan sesuai kebutuhannya.
Raga perlu diberi makan, hati dan akal serta jiwa pun juga perlu makan. Dengan mencukupi makan dan kebutuhan-kebutuhannya yang lain maka kita bias hidup dengan tenang dan damai.

Kita tidak boleh hanya memperhatikan makanan untuk fisik, sementara lupa memberi makan akal, hati dan jiwa kita. Tetapi semua harus berimbang. Keseimbangan itu terlihat dari sabda Rasulullah SAW,

”Manusia tidak mengisi suatu tempat yang lebih buruk daripada perutnya. Cukup baginya beberapa suapan sekedar menegakkan tulang sulbinya. Jika tidak mampu melakukannya, maka hendaknya ia jadikan sepertiga untuk makanan, sepertiga untuk minum dan sepertiga lagi untuk nafasnya.” (HR. Ahmad, Ibnu Majah dari Hakim)

Rasulullah juga memerintahkan kepada kita menjaga keseimbangan spiritual. Karenanya, ia menolak rencana tiga orang yang akan sholat malam selamanya, puasa selamanya, dan ketiga tidak akan menikahi wanita. Bahkan itu bentuk melanggar sunnahnya.

Tidak Mengabaikan Kekuatan Spiritual

Beribadah secara berlebih memang tidak dianjurkan. Tetapi minim ibadah lebih tidak dianjurkan. Sebab tidak ada keselamatan tanpa kekuatan spiritual. Dan kekuatan spiritual tak mungkin dicapai tanpa ibadah. Maka beribadah adalah bentuk kecintaan dan kasih saying kita kepada diri sendiri.

Rasanya tidak ada orang yang menginginkan raganya yang tampan dan mengagumkan di dunia, dibakar dan dihanguskan dengan api neraka di akhirat kelak. Kita semua ingin selamat, dan kunci keselamatan itu adalah kedekatan dengan Allah yang diperoleh melalui modal ruhiyah yang baik.

Secara umum, diri kita terbagi dua. Jasad dan ruh. Keberadaan ruh sangat menentukan hidup matinya jasad manusia. Tidak berfungsinya anggota badan manusia secara total (mati) adalah karena dicabutnya ruh dalam dirinya. Namun kita sering menyaksikan bahwa pembinaan ruhiyah terkadang kurang mendapat perhatian. Sementara pemenuhan terhadap kebutuhan jasmaniah yang bersifat materi, dengan berbagai cara, berusaha dipenuhi walaupun itu diluar kemampuan. 

Tanpa bekal kekuatan ruhiyah, seseorang akan berani melakukan perbuatan-perbuatan amoral.
Seseorang yang memiliki kekuatan ruhiyah yang baik, akan dengan cepat merespon keadaan yang tidak baik disekelilingnya. Dia akan memiliki sensitifitas yang tinggi terhadap lingkungan, kemudian melakukan usaha-usaha perbaikan agar dirinya tidak ikut binasa karena keadaan yang buruk itu.
Sedangkan ruhiyah yang lemah, akan memudahkan diri kita terpedaya oleh godaan dunia, gampang terperangkap ke dalam jebakan-jebakan syaithon, dan tentu saja cenderung menyimpang dari jalan yang benar.

Minim dalam ibadah sesungguhnya sama dengan menyiksa diri sendiri dan tidak menyayanginya. Dengan sebab itu, hati akan sering gelisah, gampang putus asa, dan banyak lagi efek negative yang bias muncul dari diri yang jauh dari Allah SWT.
Maka, sekali lagi, menyayangi diri harus pula dilakukan dengan selalu memberinya makanan rohani (ghiza’ruhiy) yang memadai, selain hal-hal yang lain.

Wallahu a’lam

TANYA JAWAB

Q : Waalaikumsalam war. Wb Bunda.. Mengenai menjaga keindahan tubuh..hukum memakai behel untuk estetika itu bagaimana ya Bun?
A : Tidak dibenarkan mb... akan dibenarkan jika untuk kesehatan. Allah sudah berikan yang terbaik untuk kita sesuai dengan diri kita


Alhamdulillah, kajian kita hari ini berjalan dengan lancar. Semoga ilmu yang kita dapatkan berkah dan bermanfaat. Aamiin....

Segala yang benar dari Allah semata, mohon maaf atas segala kekurangan. Baiklah langsung saja kita tutup dengan istighfar masing-masing sebanyak-banyakanya dan do'a kafaratul majelis:


سبحانك اللهم وبحمدك أشهد ان لا إله إلا أنت أستغفرك وآتوب إليك

Subhanakallahumma wabihamdika asayahadu allaailaaha illa anta astaghfiruka wa atuubu ilaika

“Maha Suci Engkau ya Allah, dengan memuji-Mu aku bersaksi bahwa tiada sesembahan yang haq disembah melainkan diri-Mu, aku memohon pengampunan-Mu dan bertaubat kepada-Mu.”



Thanks for reading & sharing Kajian On Line Hamba اللَّهِ SWT

Previous
« Prev Post

0 komentar:

Post a Comment

Ketik Materi yang anda cari !!

Artikel Baru