Home » » Haji dan Umroh

Haji dan Umroh

Posted by Kajian On Line Hamba اللَّهِ SWT on Thursday, December 7, 2017

Image result for umroh
REKAP KAJIAN ONLINE HAMBA ALLAH G4
Hari/tgl : Selasa 29 Agustus 2017
Narsum: Ust. Abdullah
Tema.   : Umroh
Admin   : Sugi, Rahmi, Delia
Notulen: Laela
Editor : Sapta
➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖

 
Haji Dan Umroh Tanpa Biaya Dan Tak Terganjal Kouta


مَنْ صَلَّى الْغَدَاةَ فِي جَمَاعَةٍ ثُمَّ قَعَدَ يَذْكُرُ اللَّهَ حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ ثُمَّ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ كَانَتْ لَهُ كَأَجْرِ حَجَّةٍ وَعُمْرَةٍ تَامَّةٍ تَامَّةٍ تَامَّةٍ
“Barangsiapa yang melaksanakan shalat Subuh dengan berjama’ah kemudian duduk berdzikir mengingat Allah hingga matahari terbit, setelah itu ia shalat dua raka’at, maka baginya seperti pahala haji dan umrah secara sempurna, sempurna, sempurna.” (HR. Tirmidzi).

Setiap orang yang jujur dengan keimanannya, tulus dalam azamnya, pasti mendamba dapat mengunjungi rumah kekasihnya, Allah swt. Seberapapun jarak yang harus ditempuhnya. Seberapapun biaya yang harus dikeluarkannya. Seberapapun waktu yang harus dihabiskannya.
Bersimpuh di Baitullah (rumah Allah), merupakan cita-cita terbesar umat Islam di belahan bumi manapun. Baik di Timur maupun Baratnya. Terlebih bagi kita yang mendapat keluasan rezki dan memiliki fisik yang prima. Sebab ibadah haji merupakan jalan pintas menuju surga. Haji dan umrah bukan sekadar paket rihlah ruhani biasa. Tapi, ia bergaransi surga dan pelebur kesalahan dan dosa.
Rasulullah saw bersabda, “Antara satu umrah ke umrah berikutnya sebagai penebus dosa di antara keduanya. Dan haji yang mabrur itu tidak ada balasannya kecuali surga.” (H.R; Bukhari).
Berapa banyak air mata yang tertumpah, karena harapan mengunjungi Ka’bah al Musyarrafah tak kunjung terwujud di alam realita. Mungkin karena biaya yang dibutuhkan belum terkumpul. Atau lantaran kondisi fisik yang sering didera sakit parah. Atau terganjal kuota, di mana kita harus menunggu sepuluh tahun untuk dapat berangkat ke sana jika tahun ini kita baru mendaftarkan diri.
Adakah di antara kita yang tak ingin masuk surga dan terhapus kesalahan dan dosa-dosanya? Tentu tidak ada. Selama ada iman di dada kita walaupun hanya setebal kulit ari. Dan semua kita pun sadar, bahwa tidak mudah masuk ke dalam surga. Karena surga merupakan barang dagangan Allah yang tak murah harganya. Dan tak mudah untuk menggapainya.
Jika kita termasuk mereka yang bersedih, karena belum mampu mengunjungi baitullah, maka kita tak perlu berlama-lama larut dalam kesedihan. Jangan kita biarkan hati kita gelisah dan khawatir berlebihan menunggu panggilan-Nya yang masih sayup-sayup terdengar di telinga kita.
Selama kita berupaya maksimal mencari jalan menuju ke rumah-Nya. Selama semangat kita mengunjungi baitullah tetap membara dan menggelora. Tak lapuk ditelan masa. Tak sirna termakan usia. Maka jalan menuju ke sana terbentang luas di hadapan kita. Bahkan kita dapat mengunjungi baitullah setiap hari, jika kita mau. Tidak menunggu waktu sampai satu tahun. Dan tak perlu mengeluarkan biaya puluhan juta rupiah. Tak tersandung kuota. Berbahagialah bagi kita yang mampu memaksimalkan peluang ini.
Syekh Muhammad Jam’ah al Halbusi, menyebutkan dalam salah satu artikelnya bahwa ada beberapa amalan yang pahalanya sebanding ibadah haji atau umrah. Di antaranya:
Pertama, berniat dengan sungguh-sungguh untuk mengunjungi baitullah.
Dengan niatan yang tulus suci akan mengelompokan kita dalam kafilah haji dan umrah walaupun kita tidak berada di tengah-tengah mereka. Karena ada uzur yang membatasi keinginan kita.
Imam Bukhari meriwayatkan, bahwa sekembalinya Nabi saw dari perang Tabuk dan Madinah sudah berada di depan mata, beliau bersabda kepada para sahabatnya, “Sesungguhnya di Madinah ada orang-orang, yang kalian tidak menempuh sebuah perjalanan dan tidak melewati sebuah lembah; melainkan mereka bersama-sama kalian, mereka terhalangi udzur berupa sakit” dan dalam riwayat yang lain, “Melainkan mereka berkongsi dengan kalian dalam pahala”, (H.R Bukhari).

Karena niat yang ikhlas dan tulus disertai dengan kesungguhan usaha maksimal, sebagian sahabat mendapatkan pahala berjihad di jalan Allah. Walaupun jasad mereka tidak bersama para mujahidin. Namun hati dan semangatnya selalu menyertai mereka. Sakit dan uzur lainnya yang menghalangi mereka tidak berangkat ke Tabuk. Dan bukan karena malas atau takut berjihad seperti yang diperbuat oleh kaum munafikin.
Demikian pula dengan ibadah haji. Selama niat yang menggelora telah menghujam di dada. Do’a kepada yang di atas telah ditengadahkan. Usaha maksimal telah dilakukan. Namun karena ada uzur yang melekat di tubuh kita, baik karena biaya maupun uzur lain seperti sakit dan yang senada dengan itu. Insyaallah, kita tercatat di sisi-Nya sebagai orang yang berhaji di jalan Allah swt.

Kedua; Melaksanakan shalat sunnah dua raka’at di waktu syuruq (terbit matahari), yang di awali dengan shalat Subuh berjama’ah di masjid lalu duduk berzikir kepada Allah.
Rasulullah saw bersabda, “Barangsiapa shalat Subuh berjama’ah kemudian duduk berdzikir mengingat Allah hingga matahari terbit, setelah itu ia shalat dua raka’at, maka baginya seperti pahala haji dan umrah secara sempurna, sempurna, sempurna.” (HR. Tirmidzi).
Ada pertanyaan yang menggelayut di benak kita, apakah Nabi saw biasa melakukan shalat syuruq ini? Tentu saja, karena beliau adalah suri tauladan kita di semua lini kehidupan kita.
Imam Thabrani meriwayatkan dari Ibnu Umar ra berkata, “Adalah Nabi saw selepas shalat Subuh, beliau tidak meninggalkan majlisnya sehingga beliau melakukan shalat. Beliau bersabda, “Siapa yang shalat Subuh (di masjid), lalu ia tetap duduk di majlisnya sehingga ia menunaikan shalat (sunnah), maka amalannya itu sebanding dengan haji dan umrah yang maqbul (diterima).”
Ketiga; Menghadiri majlis ilmu di masjid.
Imam Thabrani dan Hakim meriwayatkan dari Abu Umamah dari Nabi saw bersabda, “Siapa yang bergegas pergi ke masjid. Tujuannya tidak lain kecuali untuk mempelajari kebaikan atau mengajarkannya kepada orang lain, maka pahalanya seperti orang yang melaksanakan haji secara sempurna.”
Namun ironinya, banyak masjid yang megah dan mentereng di sekitar kita, tapi di dalamnya sepi dari majlis ilmu. Seolah-olah masjid dibangun hanya sekadar untuk pelaksanaan shalat lima waktu belaka.
Padahal di zaman Nabi saw, masjid selain sebagai tempat ibadah. Ia juga berperan sebagai madrasah tempat menimba ilmu. Sebagai markas pengkaderan para sahabat. Menyelesaikan persoalan masyarakat dan umat. Membahas strategi perang dan seterusnya.
Keempat, Keluar menuju masjid dalam keadaan suci untuk menunaikan shalat fardhu dan shalat dhuha.
Abu Umamah ra meriwayatkan, bahwa Nabi saw bersabda, ”Barangsiapa bersuci dari rumahnya, kemudian ia keluar menuju masjid untuk menunaikan shalat fardhu, maka pahalanya seperti pahala seorang haji dalam keadaan ihram. Dan barangsiapa yang menunaikan shalat dhuha, maka pahalanya seperti pahala orang yang menunaikan ibadah umrah.” (H.R; Abu Daud).
Kelima, melaksanakan umrah di bulan Ramadhan.
“Umrah di bulan Ramadhan sebanding haji bersamaku.” Demikian sabda Nabi saw dalam riwayat Muttafaq alaih.
Keenam, Berbakti kepada kedua orang tua.
Rasulullah saw pernah berwasiat kepada salah seorang sahabat untuk berbakti kepada ibu (karena tinggal ibunya yang masih hidup), lalu beliau bersabda, ”Bertakwalah kepada Allah dengan cara berbakti kepada ibumu. Jika engkau lakukan yang demikian itu, maka engkau seperti orang yang menunaikan haji, umrah, dan orang yang berjihad”. (H.R; Thabrani dan Baihaqi).
Itulah beberapa amalan yang pahalanya setara dengan pahala orang yang sedang berhaji dan berumrah. Dan ini merupakan bukti kemurahan Islam. Di mana semua umat Islam, bisa meraih pahala haji dan umrah. Yang dapat dikejar oleh siapa saja. Bahkan oleh orang yang tak berharta. Tak memiliki jabatan. Tua renta. Dan siapa saja. Dimanapun dan bagaimanapun keadaannya.
Namun yang perlu kita pahami. Bahwa amal-amal ini tidak menggugurkan kewajiban berhaji dan berumrah. Orang-orang yang telah mengerjakan amal-amal ini tetap wajib melaksanakan ibadah haji dan umrah. Tentu bagi mereka yang mampu dan mendapat kelapangan rezki.
Selanjutnya terserah kita. Apakah kita ingin meraih pahala haji dan umrah yang terbentang di hadapan kita. Atau kita membiarkan diri kita tertinggal jauh dari orang-orang yang Allah beri keluasan harta terhadap mereka. Di mana mereka bisa mengunjungi baitullah kapan mereka mau. Sementara kita hanya mampu meneteskan air mata kesedihan.

Jika kita tak mampu melakukan amal-amal di atas yang pahalanya sebanding haji dan umrah. Memang kita layak untuk menangis. Menangisi kelemahan azam dan kerapuhan semangat ubudiyah kita. Menangisi diri kita yang telah mati. Meskipun nafas masih di kandung badan.
Yah, kita telah mengalami kematian hati dan semangat. Di mana hati kita tak lagi dapat menggerakkan anggota tubuh kita untuk mendaki puncak ubudiyah. Dan membiarkannya terlempar ke jurang kemalasan dan keringkihan ruhani. Wallahu a’lam bishawab.
Sumber : ust firadi nasrudin. www.manhajuna.com

==============
TANYA JAWAB


T :  Assalamualaikum ustadz, Ijin bertanya, Yang wajib berjamaah di masjid adalah kaum laki-laki, apkh bisa untuk kaum wanita melaksanakan sholat sunat di waktu syuruq dikerjakan dirumah?
J : Shalat Isyraq untuk Wanita
Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Baz rahimahullah sebagai mufti Kerajaan Saudi Arabia di masa silam berkata, “Jika wanita duduk di tempat shalatnya setelah shalat Shubuh lalu berdzikir pada Allah, membaca Al-Qur’an, sampai matahari meninggi, lalu ia melaksanakan shalat dua raka’at, maka ia mendapatkan pahala yang dijanjikan dalam shalat isyroq, yaitu akan dicatat mendapatkan pahala haji dan umrah yang sempurna.”
Ulama lain seperti Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin menyatakan wanita yang shalat di rumah tidak mendapatkan pahala yang dijanjikan, namun yang dilakukan dinilai baik. (Lihat Fatwa Islamweb)

T : Benarkah kewajiban sholat jum'at gugur jika hari raya bertepatan dengan sholat idhul adha?
J : Bukan hanya idul adha tapi idul fitri juga.
Shalat Jumat Saat Hari Raya, Ada atau Tiada?
Bismillah wal Hamdulillah wash Shalatu was Salamu 'Ala Rasulillah wa ba'd:

Banyak yang bertanya tentang ini, sudah sejak bertahun-tahun yang lalu. Jika hari raya (Adha dan Fithri) jatuh di hari Jumat.  Apakah shalat Jumat gugur bagi orang yang sudah shalat Id?
Berikut ini hadits-haditsnya:

  1. Dari Zaid bin Arqam Radhiallahu 'Anhu, bahwa Muawiyah bin Abi Sufyan Radhiallahu 'Anhuma bertanya kepadanya:

هل شهدت مع رسول الله عيدين اجتمعا في يوم واحد؟ قال: نعم، قال: كيف صنع؟ قال: صلى العيد ثم رخص في الجمعة، فقال: (من شاء أن يصلي فليصل)
Apakah kamu pernah mengalami dua hari raya di hari Jumat bersama Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam? Zaid menjawab: "Ya." Muawiyah bertanya lagi: "Apa yang dilakukannya?" Zaid menjawab: "Beliau shalat 'Id, dan memberikan keringanan atas shalat Jumat. Siapa yang mau melakukannya, silahkan dia shalat."
(HR. Ahmad, Abu Daud, An Nasa'i, Ibnu Majah, Ad Darimi. Al Hakim berkata dalam Al Mustadrak: "Shahih sanadnya tapi tidak diriwayatkan oleh Bukhari - Muslim, hadits ini memiliki penguat yang sesuai standar Imam Muslim."  Disepakati Imam Adz Dzahabi. Imam An Nawawi berkata dalam Al Majmu': isnadnya jayyid.)

  1. Dari Abu Hurairah Radhiallahu 'Anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam bersabda:
قد اجتمع في يومكم هذا عيدان، فمن شاء أجزأه من الجمعة، وإنا مجمعون
Telah berkumpul pada hari ini dua hari raya kalian,  maka barang siapa yang mau maka shalat 'Idnya itu sudah cukup, dan kami akan melakukan shalat Jumat juga." (HR. Al Hakim, Abu Daus, Ibnu Majah, Al Baihaqi, dll)

  1. Dari Abdullah bin Umar Radhiallahu 'Anhuma, dia berkata:

اجتمع عيدان على عهد رسول الله فصلى بالناس ثم قال: (من شاء أن يأتي الجمعة فليأتها ، ومن شاء أن يتخلف فليتخلف).
Pada masa Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam berkumpul dua hari raya, lalu Beliau shalat 'Id  bersama manusia. Kemudian bersabda: "Barang siapa yang mau shalat Jumat silahkan dia shalat Jumat, barangsiapa yang tidak mau mengerjakannya silahkan dia tinggalkan." (HR. Ibnu Majah)

  1. Dari Ibnu Abbas Radhiallahu 'Anhuma, bahwa Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam bersabda:
اجتمع عيدان في يومكم هذا فمن شاء أجزأه من الجمعة ، وإنا مجمعون إن شاء الله
Telah berkumpul dua hari raya pada hari ini, maka siapa yang shalat 'Id maka itu sudah cukup baginya untuk tidak shalat Jumat, sedangkan kami akan shalat Jumat. (HR. Ibnu Majah, Al Bushiri berkata: isnadnya shahih, para perawinya terpercaya)

  1. Hadits mursal, dari Dzakwan bin Shalih, dia berkata:

اجتمع عيدان على عهد رسول الله يوم جمعة ويوم عيد فصلى ثم قام، فخطب الناس، فقال: (قد أصبتم ذكراً وخيراً وإنا مجمعون، فمن أحب أن يجلس فليجلس -أي في بيته- ومن أحب أن يجمع فليجمع).
Telah berkumpul pada masa Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam antara hari Junat dan hari raya, Beliau shalat 'Id lalu bangun dan berkhutbah:

"Kalian telah mendapatkan dzikir dannkebaikan, kami akan melaksanakan shalat Jumat. Barang siapa mau di rumah saja silahkan dia duduo di rumah saja, siapa yang shalat Jumat maka silahkan shalat."  (HR. Al Baihaqi dalam As Sunan Al Kubra)

  1. Dari Atha bin Abi Rabah Rahimahullah, dia berkata:

صلى بنا ابن الزبير في يوم عيد في يوم جمعة أول النهار ثم رحنا إلى الجمعة فلم يخرج إلينا، فصلينا وحداناً، وكان ابن عباس بالطائف فلما قدمنا ذكرنا ذلك له، فقال : (أصاب السنة).
Ibnuz Zubeir shalat bersama kami pada hari 'Id di hari Jumat di awal siang (pagi), lalu kami keluar untuk shalat Jumat, tapi Ibnuz Zubeir tidak keluar lalu kami shalat dan dia shalat sendiri. Saat kami berjumpa Ibnu Abbas di Thaif, kami ceritakan itu kepadanya, dan dia berkata: "Dia telah sesuai sunnah." (HR. Abu Daud, dan Ibnu Khuzaimah dengan lafaz berbeda dan ada tambahan di akhirnya: Ibnuz Zubeir berkata: "Aku lihat Umar bin Al Khathab jika berkumpul dua hari raya, dia melakukan seperti itu")

  1. Dari Abu Ubaid, pelayan Ibnu Azhar, dia berkata:
شهدت العيدين مع عثمان
بن عفان، وكان ذلك يوم الجمعة، فصلى قبل الخطبة ثم خطب، فقال: (يا أيها الناس إن هذا يوم قد اجتمع لكم فيه عيدان، فمن أحب أن ينتظر الجمعة من أهل العوالي فلينتظر، ومن أحب أن يرجع فقد أذنت له).
"Aku mengalami dua hari raya bersama Utsman bin 'Affan, saat itu di hari Jumat, lalu dia shalat sebelum khutbah, kemudian dia berkhutbah:
"Wahai manusia, sesungguhnya hari ini telah dikumpulkan bagi kalian dua hari raya, barang siapa yang mau menunggu shalat Jumat maka hendaknya dia tunggu, barang siaapa yang ingin pulang maka aku telah mengizinkannya." (HR. Bukhari)

  1. Dari Ali bin Abi Thalib Radhiallahu 'Anhu, dia berkata saat dua hari raya berkumpul dalam satu hari:
(من أراد أن يجمع فليجمع، ومن أراد أن يجلس فليجلس). قال سفيان: يعني : يجلس في بيته.
"Barang siapa yang mau shalat jumat hendaknya dia shalat Jumat, dan barang siapa yang ingin duduk saja maka hendaknya dia dusuk saja." Sufyan berkata: yaitu duduk si rumahnya. (HR. Abdurrazaq dalam Al Mushannaf, juga Ibnu Abi Syaibah dalam Al Mushannaf)


Bagaimana menjelaskan riwayat-riwayat di atas? Berikut kami sampaikan penjelasan Al Lajnah Ad Daimah:

وبناء على هذه الأحاديث المرفوعة إلى النبي ، وعلى هذه الآثار الموقوفة عن عدد من الصحابة ، وعلى ما قرره جمهور أهل العلم في فقهها، فإن اللجنة تبين الأحكام الآتية:

1- من حضر صلاة العيد فيرخص له في عدم حضور صلاة الجمعة، ويصليها ظهراً في وقت الظهر، وإن أخذ بالعزيمة فصلى مع الناس الجمعة فهو أفضل.

2- من لم يحضر صلاة العيد فلا تشمله الرخصة، ولذا فلا يسقط عنه وجوب الجمعة، فيجب عليه السعي إلى المسجد لصلاة الجمعة، فإن لم يوجد عدد تنعقد به صلاة الجمعة صلاها ظهراً.

3- يجب على إمام مسجد الجمعة إقامة صلاة الجمعة ذلك اليوم ليشهدها من شاء شهودها ومن لم يشهد العيد ، إن حضر العدد التي تنعقد به صلاة الجمعة وإلا فتصلى ظهرا.

4- من حضر صلاة العيد وترخص بعدم حضور الجمعة فإنه يصليها ظهراً بعد دخول وقت الظهر.

5- لا يشرع في هذا الوقت الأذان إلا في المساجد التي تقام فيها صلاة الجمعة، فلا يشرع الأذان لصلاة الظهر ذلك اليوم.

6- القول بأن من حضر صلاة العيد تسقط عنه صلاة الجمعة وصلاة الظهر ذلك اليوم قول غير صحيح، ولذا هجره العلماء وحكموا بخطئه وغرابته، لمخالفته السنة وإسقاطه فريضةً من فرائض الله بلا دليل، ولعل قائله لم يبلغه ما في المسألة من السنن والآثار التي رخصت لمن حضر صلاة العيد بعدم حضور صلاة الجمعة، وأنه يجب عليه صلاتها ظهراً .
والله تعالى أعلم. وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم.
اللجنة الدائمة للبحوث العلمية والإفتاء

Berdasarkan hadits-hadits marfu' (sampai) kepada Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam dan atsar-atsar mauquf dari sejumlah sahabat Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam. Serta ketetapan mayoritas ulama dalam fiqihnya, maka Al Lajnah memberikan penjelasan sebagai berikut:

  1. Siapa yang shalat Id maka diberikan keringanan baginya untuk tidal shalat Jumat, tapi wajib baginya shalay zhuhur di waktu zhuhur. Jika dia mau ambil hukum dasar ('azimah) yaitu shalat Jumat, maka itu lebih utama.
  2. Bagi yang tidak shalat 'Id, maka dia tidak termasuk yang mendapatkan keringanan, kewajiban shalat Jumat tidak gugur baginya, maka wajib baginya melaksanakan shalat Jumat. Namun, jika dia tidak mendapatkan jumlah manusia cukup untuk shalat Jumat, maka dia shalat zhuhur.
  3. Wajib bagi Imam masjid untuk mendirikan shalat Jumat di hari itu,  diperuntukan bagi mereka yang mau menjalankannya dan mereka yang belum shalat 'Id, itu jika dia
    mendapatkan jumlah manusia cukup untuk shalat Jumat, jika tidak maka dia shalat zhuhur.
  4. Bagi yang ikut shalat 'Id diberikan keringanan baginya untuk tidak shalat Jumat, tp dia shalat zhuhur jika telah masuk waktunya.
  5. Tidak disyariatkan azan zhuhur kecuali di masjid yang diadakan shalat Jumat di dalamnya. Tidak disyariatkan azan zhuhur dihari itu.
  6. Pendapat yang mengatakan bagi yang sudah shalat 'Id maka gugurlah shalat Jumat dan shalat zhuhur sekaligus, adalah pendapat yang tidak benar. Para ulama telah menilainya keliru dan aneh, dan bertentangan dengan sunnah. Sebab telah menggugurkan kewajiban di antara kewajiban-kewajiban dari Allah tanpa dalil.
    Barangkali pihak yang berpendapat seperti itu belum dapat dalilnya baik dari hadits dan atsar, bahwa orang yang sudah shalat 'Id diberikan keringanan untuk tid
    ak Shalat Jumat namun tetap wajib zhuhur.
    Wallahu Ta'ala A'lam
Wa Shallallahu 'Ala Nabiyyina Muhammadin wa 'Ala Aalihi wa Shahbihi wa Sallam
(Fatawa Al Lajnah Ad Daimah Lil Buhuts wal Ifta)


T : Maaf nanya.Ciri ciri haji yang mabrur itu yang bagaimana ya, jika di lihat dari kehidupan sehari-harinya apa ada perbedaan dengan yang tidak mabrur?
J : Wallahu alam. Saya tidak tahu

================
Kita akhiri majlis hari ini dengan membaca :  

🔊 ucap syukur :   الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِين

🔊 dan istighfar  :   أَسْتَغفِرُ اَللّهَ الْعَظيِمْ
🔊 serta
Doa Kafaratul majelis

سبحانك اللهم وبحمدك أشهد ان لا إله إلا أنت أستغفرك وآتوب إليك َ

Subhanakallahumma wabihamdika asyhadu allaailaaha illa anta astaghfiruka wa atuubu ilaika

✒ “Maha Suci Engkau ya Allah, dengan memuji-Mu aku bersaksi bahwa tiada sesembahan yang haq disembah melainkan diri-Mu, aku memohon pengampunan-Mu dan bertaubat kepada-Mu.”

[In Syaaa ALlaah]  إِنْ شَاءَ الله  
kebersamaan malam inih bermanfaat dan barokah.

أٰمِيْنَ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْن
[aamiin yaa Rabbal 'aalamiiiin]


و‌َالسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ


======================
Website: www.hambaAllah.net
FanPage : Kajian On line-Hamba Allah
FB : Kajian On Line-Hamba Allah
Twitter: @kajianonline_HA
IG: @hambaAllah_official

Thanks for reading & sharing Kajian On Line Hamba اللَّهِ SWT

Newest
You are reading the newest post

0 comments:

Post a Comment

Ketik Materi yang anda cari !!

Kajian On Line Hamba اللَّهِ SWT