Home » , » ISLAM DAN LINGKUNGAN HIDUP (SI Pekan 3 Agustus)

ISLAM DAN LINGKUNGAN HIDUP (SI Pekan 3 Agustus)

Posted by Kajian On Line Hamba اللَّهِ SWT on Friday, December 15, 2017

Image result for islam dan lingkungan
Rekap Kajian Ummi HA G-6 & G-7
Hari : Rabu, 16 Agustus 2017
Narasumber : Ustadz Trisatya Hadi & Ustadzah Tribuwhana
Materi : Syahsiyatul Islamiyah (SI) Pekan 3
Editor : Sapta
__________________________

ISLAM DAN LINGKUNGAN HIDUP
Oleh : Ustadz Abu Ihsan al-Atsari


Dien Islam yang kaffah ini telah melarang segala bentuk pengerusakan terhadap alam sekitar, baik pengerusakan secara langsung maupun tidak langsung. Kaum Muslimin, harus menjadi yang terdepan dalam menjaga dan melestarikan alam sekitar. Oleh karena itu, seyogyanya setiap Muslim memahami landasan-landasan pelestarian lingkungan hidup. Karena pelestarian lingkungan hidup merupakan tanggung jawab semua umat manusia sebagai pemikul amanah untuk menghuni bumi Allâh Azza wa Jalla ini.

Allah Subhanahu wa Ta’ala telah melarang perbuatan merusak lingkungan hidup karena bisa membahayakan kehidupan manusia di muka bumi. Karena bumi yang kita tempati ini adalah milik Allâh Azza wa Jalla dan kita hanya diamanahkan untuk menempatinya sampai pada batas waktu yang telah Allâh Azza wa Jalla tetapkan. Oleh karena itu, manusia tidak boleh semena-mena mengeksplorasi alam tanpa memikirkan akibat yang muncul.

Allâh Azza wa Jalla berfirman :

Itulah ayat-ayat Allah Azza wa Jalla. Kami bacakan ayat-ayat itu kepadamu dengan benar dan tiadalah Allâh berkehendak untuk menganiaya hamba-hambaNya. [Ali Imrân/3:108]

Allah Azza wa Jalla menciptakan alam ini bukan tanpa tujuan. Alam ini merupakan sarana bagi manusia untuk melaksanakan tugas pokok mereka yang merupakan tujuan diciptakan jin dan manusia. Alam adalah tempat beribadah hanya kepada Allâh semata. Allâh Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
(Yaitu) Orang-orang yang mengingat Allâh sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), “Ya Rabb kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka. "[Ali Imrân/3:191]

Syariat Islam sangat memperhatikan kelestarian alam, meskipun dalam jihâd fi sabîlillah. Kaum Muslimin tidak diperbolehkan membakar dan menebangi pohon tanpa alasan dan keperluan yang jelas.

Kerusakan alam dan lingkungan hidup yang kita saksikan sekarang ini merupakan akibat dari perbuatan umat manusia. Allâh Azza wa Jalla menyebutkan firmanNya :

"Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allâh merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)." [ar-Rûm/30:41]

Ibnu Katsîr rahimahullah mengatakan dalam tafsirnya, “Zaid bin Râfi’ berkata, ‘Telah nampak kerusakan,’ maksudnya hujan tidak turun di daratan yang mengakibatkan paceklik dan di lautan yang menimpa binatang-binatangnya.”

Mujâhid rahimahullah mengatakan, “Apabila orang zhâlim berkuasa lalu ia berbuat zhâlim dan kerusakan, maka Allâh Azza wa Jalla akan menahan hujan karenanya, hingga hancurlah persawahan dan anak keturunan. Sesungguhnya Allâh Subhanahu wa Ta’ala tidak menyukai kerusakan.” Kemudian Mujâhid rahimahullah membacakan ayat di atas.

Tapi, apakah kerusakan yang terjadi itu hanya disebabkan perbuatan manusia yang merusak lingkungan atau mengekplorasi alam semena-mena ataukah juga disebabkan kekufuran, syirik dan kemaksiatan yang mereka lakukan ? Jawabnya adalah kedua-duanya.

Ibnu Katsîr rahimahullah telah menjelaskan dalam tafsirnya: “Makna firman Allâh (yang artinya) “Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia,” yaitu kekurangan buah-buahan dan tanam-tanaman disebabkan kemaksiatan. Abul ‘Aliyah berkata, “Barangsiapa berbuat maksiat kepada Allâh di muka bumi, berarti ia telah berbuat kerusakan padanya. Karena kebaikan bumi dan langit adalah dengan ketaatan. Oleh karena itu apabila nabi ‘Isa turun di akhir zaman, beliau akan berhukum dengan syariat yang suci ini pada masa tersebut. Beliau akan membunuh babi, mematahkan salib dan menghapus jizyah (upeti) sehingga tidak ada pilihan lain kecuali masuk Islam atau diperangi. Dan di zaman itu, tatkala Allâh telah membinasakan Dajjal dan para pengikutnya serta Ya’jûj dan Ma’jûj, maka dikatakanlah kepada bumi, “Keluarkanlah berkahmu.” Maka satu buah delima bisa dimakan oleh sekelompok besar manusia dan mereka bisa berteduh di bawah naungan kulitnya. Dan susu unta mampu mencukupi sekumpulan manusia. Semua itu tidak lain disebabkan berkah penerapan syariat Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Maka setiap kali keadilan ditegakkan, akan semakin banyaklah berkah dan kebaikan. Karena itulah disebutkan dalam hadits shahih, yang artinya, “Sesungguhnya apabila seorang yang jahat mati, niscaya para hamba, kota-kota, pepohonan dan binatang-binatang melata merasakan ketenangan.”[1]

Salah satu bukti bahwa Islam sangat memperhatikan lingkungan alam sekitar adalah perintah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk menyingkirkan gangguan dari jalan yang beliau jadikan sebagai salah satu cabang keimanan, perintah beliau untuk menanam pohon walaupun esok hari kiamat. Disamping kita telah menjaga kehidupan manusia di sekitar kita. Bukankah satu pohon adalah jatah untuk dua orang ?

Dalam hal ini pemerintah berhak memerintahkan rakyat untuk menanam pohon. al-Qurthubi berkata dalam tafsirnya, “Bercocok tanam termasuk fardhu kifâyah. Imam (penguasa) berkewajiban mendesak rakyatnya untuk bercocok tanam dan yang semakna dengan itu, seperti menanam pohon.”[2]

Bahkan untuk memotivasi umat beliau agar gemar menanam pohon beliau bersabda :"Muslim mana saja yang menanam sebuah pohon lalu ada orang atau hewan yang memakan dari pohon tersebut, niscaya akan dituliskan baginya sebagai pahala sedekah.[3]"

Bahkan pohon itu akan menjadi asset pahala baginya sesudah mati yang akan terus mengalirkan pahala baginya.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : Tujuh perkara yang pahalanya akan terus mengalir bagi seorang hamba sesudah ia mati dan berada dalam kuburnya. (Tujuh itu adalah) orang yang mengajarkan ilmu, mengalirkan air, menggali sumur, menanam pohon kurma, membangun masjid, mewariskan mushaf atau meninggalkan anak yang memohonkan ampunan untuknya sesudah ia mati.[4]

Menebang pohon, menggunduli hutan, membuang limbah ke sungai, membakar areal persawahan dan lain-lainnya sudah jelas termasuk perbuatan merusak alam yang bisa mendatangkan bencana bagi umat manusia. Banjir bandang, kabut asap, pemanasan global adalah beberapa diantara akibatnya. Namun sadarkah kita, bahwa kerusakan alam bukan hanya karena faktor-faktor riil seperti itu saja. Kekufuran, syirik dan kemaksiatan juga punya andil dalam memperparah kerusakan alam. Bukankah banjir besar yang melanda kaum Nuh Alaihissallam disebabkan kekufuran dan penolakan mereka terhadap dakwah Nuh Alaihissallam ? Bukankah bumi dibalikkan atas kaum Luth sehingga yang atas menjadi bawah dan yang bawah menjadi atas disebabkan kemaksiatan yang mereka lakukan ?

Sebaliknya, keimanan, ketaatan dan keadilan juga berperan bagi kebaikan dan keberkahan bumi.

Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan, “Diantara pengaruh buruk perbuatan maksiat terhadap bumi adalah banyak terjadi gempa dan longsor di muka bumi serta terhapusnya berkah. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah melewati kampung kaum Tsamûd, beliau melarang mereka (para sahabat) melewati kampung tersebut kecuali dengan menangis. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga melarang mereka meminum airnya, menimba sumur-sumurnya, hingga beliau memerintahkan agar menggunakan air yang mereka bawa untuk mengadon gandum. Karena maksiat kaum Tsamûd ini telah mempengaruhi air di sana. Sebagaimana halnya pengaruh dosa yang mengakibatkan berkurangnya hasil panen buah-buahan.

Imam Ahmad telah menyebutkan dalam Musnadnya, ia berkata, “Telah ditemukan dalam gudang milik Bani Umayyah sebutir gandum yang besarnya seperti sebutir kurma. Gandum itu ditemukan dalam sebuah kantung yang bertuliskan, “Biji gandum ini tumbuh pada masa keadilan ditegakkan.” Kebanyakan musibah-musibah yang Allâh Azza wa Jalla timpakan atas manusia sekarang ini disebabkan perbuatan dosa yang mereka lakukan. Sejumlah orang tua di padang pasir telah mengabarkan kepadaku bahwa mereka pernah mendapati buah-buah yang ukurannya jauh lebih besar daripada buah-buahan yang ada sekarang.”[5]

Barangkali ada yang bertanya apakah maksiat yang tidak ada sangkut pautnya dengan alam bisa juga merusak alam ? Jawabnya, ya bisa. Bukankah Hajar Aswad menghitam karena maksiat yang dilakukan oleh manusia ? Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : "Hajar Aswad turun dari surga lebih putih warnanya daripada salju, lalu menjadi hitam karena dosa-dosa anak Adam".[6]

Begitulah pengaruh dosa dan maksiat! Hajar Aswad yang turun dari surga dalam keadaan berwarna putih bersih lebih putih dari salju bisa menghitam karena dosa. Ini membuktikan bahwa dosa dan maksiat juga memberikan pengaruh pada perubahan yang terjadi pada alam sekitar.

Apabila manusia tidak segera kembali kepada agama Allâh Azza wa Jalla , kepada sunnah Nabi-Nya, maka berkah itu akan berganti menjadi musibah. Hujan yang sejatinya, Allâh turunkan untuk membawa keberkahan dimuka bumi, namun karena ulah manusia itu sendiri, hujan justru membawa berbagai bencana bagi manusia. Banjir, tanah longsor dan beragam bencana muncul saat musim hujan tiba. Bahkan di tempat-tempat yang biasanya tidak banjir sekarang menjadi langganan banjir !

Tidakkah manusia mau menyadarinya? Atau manusia terlalu egois memikirkan diri sendiri tanpa mau menyadari pentingnya menjaga alam sekitar yang bakal kita wariskan kepada generasi mendatang !? Allâh Azza wa Jalla memberi manusia tanggung jawab untuk memakmurkan bumi ini, mengatur kehidupan lingkungan hidup yang baik dan tertata. Dan Allâh Subhanahu wa Ta’ala akan menuntut tanggung jawab itu di akhirat kelak. Oleh karena itu, kita sebagai umat muslim seharusnya memahami arti pentingnya menjaga kelestarian lingkungan hidup. Mereka punya kewajiban untuk melestarikan alam semesta.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman : "Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah (Allah) memperbaikinya. [al-A’râf/7:56]

Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan ayat ini sebagai berikut, “Firman Allâh Azza wa Jalla (yang maknanya-red), ‘Dan janganlah kamu berbuat kerusakan di muka bumi, sesudah (Allah) memperbaikinya.’ Allâh melarang tindakan perusakan dan hal-hal yang membahayakan alam, setelah dilakukan perbaikan atasnya. Sebab apabila berbagai macam urusan sudah berjalan dengan baik lalu setelah itu terjadi perusakan, maka hal itu lebih membahayakan umat manusia. Oleh karena itu, Allâh Azza wa Jalla melarang hal itu dan memerintahkan para hamba-Nya agar beribadah, berdoa, dan tunduk serta merendahkan diri kepada-Nya.”

Sesungguhnya dengan akal yang Allâh Azza wa Jalla anugerahkan, manusia lebihkan dari makhluk-makhluk lainnya. Kita lebih mulia dari hewan. Coba anda lihat, hewan saja memiliki kesadaran menjaga keseimbangan alam dan lingkungan hidup, lalu apakah kita selaku manusia justru menghancurkannya ? Janganlah kamu berbuat kerusakan sesudah Allâh memperbaikinya! Maka kita punya tanggung jawab besar untuk menjaga keseimbangan alam dan lingkungan hidup demi kesejahteraan hidup manusia di bumi ini. Bukankah Allâh Azza wa Jalla telah berfirman : "Dan Kami telah menghamparkan bumi dan menjadikan padanya gunung-gunung dan Kami tumbuhkan padanya segala sesuatu menurut ukuran". [al-Hijr/15:19]

Ya, semua sudah ada ukurannya, semua ada aturannya. Allâh Azza wa Jalla telah menciptakan semua itu dengan sangat detail dan teratur.

Ibnu Katsîr rahimahullah berkata, “Selanjutnya Allâh Azza wa Jalla menyebutkan bahwa Dia yang telah menciptakan bumi, membentangnya, menjadikannya luas dan terhampar, menjadikan gunung-gunung diatasnya yang berdiri tegak, lembah-lembah, tanah (dataran), pasir, dan berbagai tumbuh-tumbuhan dan buah-buahan yang sesuai. Ibnu ‘Abbâs Radhiyallahu anhu berkata tentang firman Allâh Azza wa Jalla “Segala sesuatu dengan ukuran” Mauzun artinya adalah diketahui ukurannya (proporsional dan seimbang).
Pendapat serupa juga dikemukakan oleh Sa’id bin Jubair, Ikrimah, Qatâdah dan ulama yang lainnya. Di antara para ulama ada yang mengatakan, “maksudnya ukuran yang telah ditentukan.” Sedang Ibnu Zaid mengatakan, “Maksudnya yaitu dari setiap sesuatu yang ditimbang dan ditentukan ukurannya.”

Dalam ayat lain Allâh Subhanahu wa Ta’ala menjelaskan tentang siklus hidrologi yang menjadi salah satu elemen terpenting bagi kelangsungan kehidupan makhluk di muka bumi.

Allâh Azza wa Jalla berfirman: "Allah, Dialah yang mengirim angin, lalu angin itu menggerakkan awan dan Allâh membentangkannya di langit menurut yang dikehendaki-Nya, dan menjadikannya bergumpal-gumpal; lalu kamu Lihat hujan keluar dari celah-celahnya, maka apabila hujan itu turun mengenai hamba-hamba-Nya yang dikehendakiNya, tiba-tiba mereka menjadi gembira." [ar-Rûm/30:48].

Begitulah proses perubahan diciptakan untuk memelihara keberlanjutan (sustainability) bumi. Proses ini dikenal sebagai siklus hidrologi, mencakup proses evaporasi, kondensasi, hujan dan aliran air ke sungai, danau dan laut.

Kewajiban ini kita laksanakan dengan menjalankan syariat Allâh Azza wa Jalla di muka bumi, memakmurkannya dengan tauhid dan sunnah. Sembari terus menumbuhkan kesadaran bahwa kita tidak sendiri hidup di muka bumi. Ada makhluk-makhluk Allâh Subhanahu wa Ta’alaainnya selain kita di sekitar kita.

Dan juga dengan menjauhi kekafiran, syirik dan maksiat. Karena dosa dan maksiat akan mendorong manusia untuk merusak dan mengotori alam ini dengan noda-noda maksiat mereka. Mereka inilah inilah yang sebenarnya tidak memahami tujuan penciptaan alam semesta ini.


Referensi:
1. al-Qur’ân al-Karîm.
2. Umdatut Tafsîr Ibnu Katsîr.
3. Tafsir ath-Thabari.
4. al-Fawâid, Ibnul Qayyim.
5. Shahîh al-Bukhâri.
6. Shahîh Muslim.
7. Riyadhus Shâlihîn, an-Nawawi.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 01/Tahun XIV/1431H/2010M]

Sumber: https://almanhaj.or.id/3456-islam-dan-lingkungan-hidup.html


&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&

TANYA JAWAB


(G6 ~ Ustadz Trisatya Hadi)
 
T : Ijin bertanya ustadz, yang menjadikan pahala yang terus mengalir itu apakah hanya yang menanam pohon kurma? jika buah yang lain bagaimana?
J : Sama berpahala


T : Assalamualaikum...ustadz, Mau tanya, Saya menanam pohon mangga samping rumah tapi dahannya suka ke tetangga juga kalau mangga tersebut berbuah, apa buahnya menjadi hak beliau dan tidak perlu ada ijin untuk memetiknya? Bagaimana kalau ada batang yang  tiba-tiba di potong tanpa ada pemberitahuan? (Motongnya tidak tanggung-tanggung dan ketika pohon tersebut sedang berbuah). Mohon pencerahannya ustadz ...karena saya paling tidak enak untuk ngomongnya.
J : Terkait dengan buah milik tetangga dihalaman kita jika ingin kita ambil dan kita makan tetap ijin terlebih dahulu, karena mengandung kebaikan, sebaliknya jika mengganggu kita boleh meminta tetangga sipemilik utk memotong/membersihkannya, jika sipemilik tidak mau/tidak sempat, kita bisa langsung memotongnya dan dibuang.
Syekh Abdurrahman as Sa’di mengatakan, “Jika dahan atau ranting pohon menjalar ke tanah atau udara orang lain, dan orang tersebut tidak merelakan keberadaan dahan tersebut, maka pemilik pohon diperintahkan untuk memangkas dahan tersebut. Jika dia tidak mau maka pemilik tanah menekuk dahan tersebut tanpa memotongnya, jika memungkinkan. Jika tidak bisa disingkirkan kecuali dengan dipotong maka pemilik tanah boleh memotongnya, dan dia tidak memiliki kewajiban untuk memberikan ganti, terkait pemotongan dahan tersebut.

Sebagian ulama berpendapat bahwa pemilik tanah tidak boleh mengharuskan pemilik pohon untuk menyingkirkan dahan tersebut, jika keberadaan dahan tersebut tidak mengganggu atau merugikan pemilik tanah. Membiarkan juluran dahan pohon itu lebih layak untuk diperbolehkan daripada kebolehan membuat atap dengan bertumpu pada tembok milik tetangga yang disebutkan dalam hadis.

Jika memang dahan tersebut mengganggu maka gangguan harus dihilangkan tanpa menimbulkan gangguan yang semisal (baca: dengan memberikan ganti rugi, pent.).” (Majmu’ Al-Fawaid wa Iqtinash Al-Awabid, hlm. 112–113)

Hadis yang dimaksudkan oleh Syekh Ibnu Sa’di adalah hadis berikut ini, Dari Abu Hurairah, Rasulullah bersabda, “Seorang tetangga, yang memiliki tembok, tidak boleh melarang tetangganya untuk meletakkan kayu di temboknya.” Kemudian, Abu Hurairah mengatakan, “Mengapa aku lihat kalian tidak mempraktikkan hadis di atas? Demi Allah, sungguh, akan aku bebankan hadis tersebut di pundak-pundak kalian!” (H.R. Bukhari no. 2331 dan Muslim, no. 136)


T : Ustadz, saya sering dikasih tanaman tapi lupa nanam dan merawat, akhirnya tanamannya bubar jalan. Itu bagaimana ustadz, berdosa tidak? soalnya banyakan tidak sempat merawat sih?!
J : Kalau lupa in syaa Allah tidak ada dosa. Tapi jangan menjadi kebiasaan.

=========
(G7 ~ Ustadzah Tribuwhana)

T : Bertanya ustadzah, apakah kejadian lumpur lapindo termasuk dalam musibah atau manusia yang membawa kerusakan di muka bumi?
J : Saya termasuk yang kurang paham atas kejadian lumpur lapindo, tapi bisa kita ambil hikmahnya bahwa jika manusia memutuskan sesuatu berdasarkan hawa nafsunya maka kerusakan bisa terjadi dimana-mana. Wallahu a'lam


T : Bertanya lagi ustadzah. Apakah semakin banyaknya perumahan dalam sebuah kota, berarti penduduk kota telah zhalim terhadap lingkungan, karena dengan banyaknya perumahan yang di buat...maka semakin tidak ada nampak pepohonan hijau di area itu?
J : Jika pembangunan perumahan diiringi dengan penyediaan lahan terbuka hijau yang banyak pohonnya insyaAllah tidak dzalim. Yang dzalim itu adalah jika pembangunan perumahan tersebut menghabiskan lahan hijau.


T : Nanya lagi ya bunda, agak mengganjal di hati setelah membaca pemaparan dari bunda. Dulu di tempat kami tinggal banyak pohon-pohon besar yang tumbuh disekitar tempat kami, sekarang semua sudah tidak nampak lagi, karena banyak sudah berdiri rumah-rumah baru buat penghuni baru, alias keluarga baru. Dampaknya suasana semakin panas, sudah tidak sejuk lag, pun sumber air mulai berkurang. Apakah kami termasuk orang yang zalim terhadap lingkungan?
J : Bisa jadi Bunda.


T : Kalau begitu yang tinggal di lingkungan itu berdosa ya ustadzah, bagaimana cara  memperbaiki semua itu? Punten banyak nanyanya.
J : Masalah dosa atau tidak yang menentukan adalah Allah, yang bisa dilakukan adalah memperbaiki lingkungan dan sadar bahwa merusak alam adalah bentuk kedzaliman


T : Assalamualaikum bunda, mau tanya..rumah saya di kontrakan nah di halaman belakangnya ada pohon belimbing, jeruk, dan lain-lain, nah waktu saya kontrakan semua pohon masih ada, setelah 2 tahun lahan itu malah di semen sama yang ngontrak, dengan alasan banyak lubang tikus. Kesel juga sih mereka bertindak tanpa seizin saya. Mereka bilang kan selama di kontrak sudah menjadi milik kami, jadi kalau ada yang tidak nyaman boleh kami perbaiki, apa bener seperti itu bunda?
J : Boleh banget, yang punya rumah kan bunda, jelaskan dengan baik agar tidak salah paham


T : Sebatas mana manusia boleh mengekploitasi alam, ustadzah? Merubah bentuk alam agar dapat lebih bermanfaat buat manusia bagaimana hukumnya? Misal merubah  kebun menjadi rumah dan lain-lain?
J : Sebatas yang dibutuhkan untuk keperluan primernya


T : Di perkotaan misalnya bunda, sawah yang diurug untuk dijadikan perumahan, apa itu kita tidak dzalim pada alam sekitar ?
J : Boleh mendirikan perumahan, tapi sediakan juga lahan untuk penghijauan. Karena kebutuhan rumah di perkotaan memang lebih tinggi dibanding di pedesaan


T : insyaallah dari konsep yang kami tawarkan tetap ada ruang hijau terbuka disetiap type rumah, tapi yang tidak enaknya banyak warga yang memyesalkan sawahnya diurug dan kami jadi kan perumahan, alasannya ya itu susah lihat sawah lagi di kota.
J : konsekuensi tinggal di kota. Alhamdulillah saya tiap hari masih melihat sawah, karena sekolah dan rumah dekat sawah.


T : Assalaamualaikum Ustadzah, mau tanya mengenai khasiat-khasiat dari beberapa tumbuhan. Pernah dengar kalau tumbuhan pring (bambu) kuning bisa menghalau makhluk halus, pohon bidara buat Ruqyah, dan lain-lain. Sejauh mana kita boleh percaya dengan khasiat-khasiat itu?
J : Pohon dan daun itu hanya sebagai sarana untuk ruqyah, tetap karena kehendak Allah orang sembuh.


T : Ustadzah mau tanya 1 lagi. Tanaman dan hewan kan termasuk makhluk hidup, pernah dengar kalau mereka sebenarnya juga bertasbih pada Allah SWT. Kemudian kalau tanaman-tanaman itu kita pangkas, atau hewan-hewan itu kita buru, apakah akan menjadi pemberat amal (baik atau buruk) bagi kita?
J : Tidak, jika maksudnya adalah untuk merapikan dan sebagainya, hikmahnya adalah setiap kali kita melakukan kegiatan atau memulai pekerjaan hendaknya membaca Basmallah.


T : Tanya ustadzah, kalau lahan ada tapi kita tidak mau menanam banyak pohon apakah juga termasuk dzolim?
J : Bisa jadi


~~~~~~~~~~~~~~~~
Selanjutnya, marilah kita tutup kajian kita dengan bacaan istighfar 3x
Doa robithoh dan kafaratul majelis

Astaghfirullahal' adzim 3x

Do'a Rabithah
Allahumma innaka ta'lamu anna hadzihil qulub,
qadijtama-at 'alaa mahabbatik,
wal taqat 'alaa tha'atik,
wa tawahhadat 'alaa da'watik,
wa ta ahadat ala nashrati syari'atik.
Fa watsiqillahumma rabithataha,
wa adim wuddaha,wahdiha subuulaha,wamla'ha binuurikal ladzi laa yakhbu,
wasy-syrah shuduroha bi faidil imaanibik,
wa jami' lit-tawakkuli 'alaik,
wa ahyiha bi ma'rifatik,
wa amitha 'alaa syahaadati fii sabiilik...
Innaka ni'mal maula wa ni'man nashiir.

Artinya :
Ya Allah, sesungguhnya Engkau mengetahui bahwa sesungguhnya hati-hati kami ini,
telah berkumpul karena cinta-Mu,
dan berjumpa dalam ketaatan pada-Mu,
dan bersatu dalam dakwah-Mu,
dan berpadu dalam membela syariat-Mu.
Maka ya Allah, kuatkanlah ikatannya,
dan kekalkanlah cintanya,
dan tunjukkanlah jalannya,
dan penuhilah ia dengan cahaya yang tiada redup,
dan lapangkanlah dada-dada dengan iman yang berlimpah kepada-Mu,
dan indahnya takwa kepada-Mu,
dan hidupkan ia dengan ma'rifat-Mu,dan matikan ia dalam syahid di jalan-Mu.
Sesungguhnya Engkau sebaik-baik pelindung dan sebaik-baik penolong.
Aamiin...    

DOA PENUTUP MAJELIS
سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوْبُ إِلَيْكَ

Subhanaka Allahuma wabihamdika asyhadu alla ilaha illa anta astaghfiruka wa atubu ilaik.Artinya:“Maha suci Engkau ya Allah, dan segala puji bagi-Mu. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan melainkan Engkau. aku mohon ampun dan bertaubat kepada-Mu.”
Aamiin ya Rabb.


======================
Website: www.hambaAllah.net
FanPage : Kajian On line-Hamba Allah
FB : Kajian On Line-Hamba Allah
Twitter: @kajianonline_HA
IG: @hambaAllah_official

Thanks for reading & sharing Kajian On Line Hamba اللَّهِ SWT

Previous
« Prev Post

0 komentar:

Post a Comment

Ketik Materi yang anda cari !!