Home » , , » Kelekatan Ibu (Bonding Attachment) Mempengaruhi Tumbuh Kembang Anak

Kelekatan Ibu (Bonding Attachment) Mempengaruhi Tumbuh Kembang Anak

Posted by Kajian On Line Hamba اللَّهِ SWT on Friday, December 29, 2017



Image result for bounding attachment
Kajian Online Hamba Alloh Ummi G-2, G-1
Hari/tgl : Senin, 4, 11 September 2017
Materi   : Mendidik Anak Sholeh Seperti Nabi Ismail
NaraSumber : ustadzah Azzam
Waktu Kajian : 08.00 – selesai
Editor : Sapta
■□■□■□■□■□■□■□■□■□■□■□■□■□■□■




Kelekatan Ibu (Bonding Attachment) Mempengaruhi Tumbuh Kembang Anak
(Ikhtisar Seminar Parenting RKI Jatiluhur 1-Jatiasih, Ahad, 27 Agustus 2017, Disampaikan oleh: Nur Indah Harahap, SSi, SKomp.)


Teori mengenai bonding attachment banyak dikembangkan oleh dunia barat. Jika proses kelekatan berhasil, akan muncul jiwa-jiwa yang sehat. Jika proses kelekatan tidak berhasil, akan memunculkan jiwa yang tidak sehat. Akan tetapi bonding attachment tdk selalu harus antara ibu dan anak. Dapat digantikan oleh pengasuh. Contoh: Rasulullah setelah lahir diasuh oleh Halimatus Sa'diyah. Beliau tumbuh menjadi jiwa yang mulia, walau pengasuh utama bukan ibunya.

Pada penelitian terhadap anak-anak yg bermasalah, ditemukan bahwa pada anak yang bermasalah, masa kecilnya gagal dalam kelekatan.

Ciri-ciri gagalnya kelekatan anak dengan ibu/pengasuh:

1.    Menghindari kontak mata
2.    Diajak tersenyum oleh ibu/pengasuh, dia tdk tersenyum
3.    Tidak minta digendong terutama pada usia batita
4.    Rewel, tantrum (susah didiamkan)
5.    Santai/cuek bila ditinggal sendirian
6.    Pada bayi, tidak mengoceh/mengikuti gerakan orang sekitar
7.    Tidak tertarik dg permainan
8.    Selalu mengerakkan badan tanpa tujuan
9.    Sering menunjukkan perilaku mem-bully
10.  Pura-pura2 bersahabat
11.  Bersifat bossy
12.  Senang berdebat
13.  Terlalu banyak bergerak
14.  Agresif
15.  Tidak bertanggungjawab
16.  Tidak menyesal bila berbuat salah
17.  Menganggap org lain sbg ancaman
18.  Perasaan berubah-ubah/moody
19.  Pola makan abnormal
20.  isolasi diri/ menghindari kontak fisik

Bila ada gejala-gejala di atas tapi muncul terus menerus/dominan, maka itu tanda-tanda kegagalan dalam kelekatan.

Proses kelekatan dimulai sejak pra kehamilan. Harus siap untuk hamil, karena akan mempengaruhi sikap-sikap selanjutnya. Setelah lahir juga bisa  mempengaruhi. Misal: proses SC membuat ibu merasa gagal. Maka akan bisa berakibat kurang baik (ibu kecewa, sedih --> kelekatan dengan anak menurun).
Contoh lain adalah ibu yang tidak siap merawat anak ( bangun malam, menyusui, repot mengurus anak). Maka ciptakan rasa bahagia selalu, untuk membentuk rasa nyaman bagi ibu dan anak.

Ahli psikolog mengatakan bahwa kelekatan ibu dan anak akan mempengaruhi suatu bangsa. Karena mempengaruhi individu-individu di dalam bangsa tersebut. Setelah lahir, bayi belajar. Jika dia haus, lalu dibiarkan oleh orang sekitar (1000x pengalaman mengecewakan berulang-ulang) maka muncul ketidakpercayaan pada orang sekitar.

Di barat, anak bayi mulai disatukan dengan ibunya. Tidak dipisahkan. Untuk bayi kurang dari 3 bulan, saat anak menangis harus segera dipenuhi kebutuhannya. Berikan kehangatan maka bonding attachment akan terbentuk. Karakter anak dapat dilihat di usia 7 tahun ke atas. Dimulai dari bayi, berikan kelekatan (berikan kasih sayang yang berlimpah. Penuhi kebutuhan-kebutuhan anak dengan sebaik-baiknya). Supaya tidak terlambat.


4 jenis kelekatan, terutama dapat dilihat pada anak usia 3 bulan – 5 tahun


1.    Securely attach (aman)
Bila ada anak main, ditinggal ibunya, maka anak akan menangis. Ketika ibu hadir, maka anak akan jadi tenang

2.    Insecurely attach (tdk aman)
Bila anak main lalu ditinggal ibunya, anak diam tidak menangis.  ATAU Bila anak main ditinggal ibunya, dia menangis. Saat ibunya datang dia tetap menangis atau memukul2 ibunya

3.    Ragu2 (Insecurely attach ambivalent)
Dalam keramaian, anak menempel terus pada ibunya dan tdk mengeksplorasi sekitar. Terjadi pada ibu2 yg tidak konsisten menyayangi anaknya (ibu2 moody)

4.    Insecurely attach disorder
Dalam keramaian, anak justri duduk/mendekat pada org asing

Kemandirian dilatih secara bertahap. Bila kemandirian dilakukan terlalu dini akan:

1.    Melahirkan karakter yg apatis (hanya tahu waktu), seperti robot
2.    Melahirkan karakter yg kaku & kasar

Tahap-tahap kelekatan pada anak:
1.    Usia 0-3 bulan: Bayi yang baru lahir akan melekat pada siapapun

2.    Usia 3-6 bulan : Bayi mulai tahu orang-orang yang paling dekat dengannya. Bayi masih mau digendong oleh siapa saja
3.    Usia 6-12 bulan : Hanya memilih orang-orang dekat. Curiga dengan orang asing. Takut bila ditinggal orang terdekat
4.    Usia 1 tahun ke atas : Mulai bisa melekat dengan beberapa orang

Ciri kelekatan berhasil:

-       makin besar, anak akan semakin mandiri
-       menjadi anak yg percaya diri

Jangan sampai ibu selalu ada di sekitar anak untuk memgasuh tapi tidak mengasihi (sibuk dengan kegiatan sendiri. Misal gadget).
Hindari terlalu sering melarang anak. Karena akan menyebabkan ketidakpercayaan diri. Selalu minta dibimbing.
Kelekatan ibu jangan dirusak dengan membentak/menyalahkan anak
Anak-anak di bawah 5 tahun sebaiknya jangan dipisahkan dengan ibu. Jadi sekolah > 5 tahun

Bagaimana bila karakter anak bermasalah dan kita baru menyadari bahwa kelekatan anak buruk?

1.    Bertaubat pada Allah
2.    Membayar hutang
-       Kita siap-siap untuk berusaha lebih keras membentuk kelekatan --> berusaha 2-3 x lipat.
-       Siap memproses. Jangan terlalu fokus ke hasil
3.    Minta maaf ke anak
-       Minta maaf sesuai dengan perbuatan kita yang menyakiti anak
-       Menjalin komunikasi dengan hati

 
Semoga kita menjadi org tua yg dpt memberikan kelekatan terbaik untuk anak-anak kita.
Wallahu a'lam bishawab
Notulen Ikhtisar :
dr.Erlina Wijayanti, MPH


■□■□■□■□■□■□■□■□
TANYA JAWAB

TJ G-2

T : Assalamualaikum bunda, saya mau Tanya, bagaimana membentuk kelekatan di saat masih mengandung?
J : Setiap kita akan aktivitas, kita elus perut, katakana, "Dede...ibu/bapak sekarang mau sholat/masak/ngaji/ngajar/kerja dll…. dede baik-baik ya, kan dede anak sholih... dengarkan ya ibu mau ngaji nih... dede ikut sholat yukk... " dan lain sebagainya.
Jika dengar azan, elus perut sambil katakan, “dede itu sudah azan waktunya kita sholat. Biar kita sll disayang Allah...ibu wudhu dulu yaa...”
Bayangkan jika itu dilakukan dari mulai ketahuan hamil smpai detik terakhir mau lahiran. Dede akan hafal suara ibu dan ayahnya. Dan tidak rewel saat ditinggal sholat, tilawah, atau bekerja.


T : 'Afwan bagaimana supaya anak kita jangan jadi anak yang penakut, misal ketika sekolah nanti ~ takut kalau disuruh guru, takut naik ketinggian dan lain-lain. Kan suka ada anak yang penakut seperti itu?
J : Menyiapkn anak mesuk sekolah itu gampang-gampang susah. Kalau mau masukin umur 5 tahun, mulai kenalkan apa itu sekolah di usia 4 tahun. Bacakan tentang sekolah di buku-buku cerita full colour. Katakan enaknya main bareng teman dll. Itu yang saya lakukan pada 3 anak saya. Kebetulan TK-nya dekat rumah, sembari belanja sayur saya ajak ke TK dan lihat betapa riang anak-anak sekolah. Kalau ada yang nangis jelaskan kenapa kaka itu menangis, mungkin kaka baru jatuh, takut ditinggal ibunya (kita jelaskan nanti dede tidak usah nangis, kan jam 11 sudah boleh pulang, bisa ketemu ibu lagi). 
Kemudian tunjukkan, “lihat tuh kaka yang itu, dia hebat bapak ibunya tidak ada tapi tetap bermain dan sekolah. Tunjukkan hal-hal positif, kalau bunda, azzam TK kenalin sama bu guru yang ngajar, "Bu guru maaf, ini azzam nanti mau sekolah di sini, ayo azzam salim sama bu guru". Dan hari pertama sekolah saya diusir suruh pulang. Kata azzam, “kan yang sekolah azzam bukan ibu..”


T : Ustadzah, saya single parent, karena kondisi pekerjaan harus meninggalkan kedua buah hati tinggal sama nenek kakeknya jauh beda pulau, apakah bisa mempengaruhi bonding attachment dengan putra saya yah, saat ini kalau saya telpon masih semangat cerita ke saya?!
J : Alhamdulillah ya, kita sama. Bunda juga single parent. Jika kondisi menyebabkan anak-anak harus sama nenek, maka buat kesepakatan bersama tentang aturan bersama. Misal, jangan makan indomi, coklat, permen, minuman kaleng terlalu sering, bolehnya sebulan berapa kali hari apa misalnya. Untuk mncegah sakit. Kemudian bikin aturan-aturan lain. Yang membuat anak tetap patuh aturan. Beri kesepakatan kapan ibu call, dan bangun bonding saat call.


T : Apa saja yang harus dilakukan agar anak lekat dengan kita?
J : Yang harus dilakukan adalah banyak mendengar dan membangun komunikasi yang efektif. Gali hal-hal positif yang dia suka, kalau suka baca sering-sering ajak ke toko buku. Sebenarnya efektif hal-hal kebaikan itu bukan hanya lewat cerita tapi contoh nyata.
Bunda selalu mengajak anak-anak menyampaikan zakat pada kaum dhuafa. Itu untuk membentuk karakter empatynya tinggi. Sambil ditaujih, kelak kalau kaka sudah kaya, jangan lupakan orang seperti mereka, karena dalam harta kita ada hak mereka.


T : Ustadzah, apakah alasannya anak mulai masuk sekolah di usia 5 tahun? Karena saat ini sedang trend anak yang bahkan usia 2 tahun sudah disekolahkan. Dan mulai usia berapa anak-anak mulai bisa didekatkan dengan ayahnya? Agar membentuk bonding juga. Syukran
J : Kalau ditanya alasan kenapa sekolah 5 tahu, ini mah tergantung keluarga masing-masing ya. Karena tiap keluarga punya tujuan beda-beda. Kalau saya sendiri 5,5 tahun baru sekolah. Tapi Fauzan umur 4,5 tahu sudah bisa baca lancar, izzadudin 5 tahun, azzam 5,5 tahun. Sudah bisa iqra, berhitung sambil main, pengurangan alhamdulillah sudah bisa. Jadi di sekolah full beneran main.
Kalau ditanya mulai kapan bonding dengan ayah? Dari kandungan harusnya. Coba baca ulang jawaban bunda diatas.


T : Bagaimana cara mengingatkan anak (kelas 5), tentang beda komunikasi antar teman-temannya dengan anak ke orang tua / yang lebih tua, karena kadang-kadang dia lupa bicaranya seperti ke temennya, sehingga jadi kurang sopan?!
J : Terus ingatkan dan latih kepekaan. Itu sebenarnya akan sama jika kita biarkn dia makan pake tangan kiri kita tidak tegur, maka akan terus dilakukan. Bikin aturan, jika sampai mama 3 kali menegur dalam sehari dengan kesalahan sama (ini kan menyangkut adab dan akhlak) maka tegas katakan “hak kaka akan bunda cabut” (misal tidak ada acara main keteman, nonton kartun kesayangan, potong uang saku, tidak ada hp di tangan, tidak boleh main sepeda). Persilakan anak milih konsekwensinya. Jadi ketika ia hendak bicara akan mikir dengan siapa dia bicara, biar tidak salah dan biar dia tidak kehilangan haknya.


T : Berkaitan dengan bonding...apakah kitanya yang harus menyesuaikan berkomunikasi dengan anak remaja dengan menggunakan gaya komunikasi dan bahasanya?
J : Berkomunukasi yang nyaman dengan anak yang paling paham adalah kita dan anak. Tapi ingatkan anak-anak ini hanya antara ibu/bapak dan kalian dan dipakai hanya di dalam lingkungan rumah kita. Nanti kalau kita di rumah paman, nenek, di luar rumah pakai bahasa yang terdengar santun buat orang-orang sekitarnya. Sehigga kita tidak dianggap orangtua yang salah didik anak. Jadi anak-anak paham kapan saat menggunakan bahasa gaul dengan orangtua dan kapan menjadi bahasa yang lazim jika ada di keramaian orang.


T : Tanya Ustadzah, bagaimana caranya agar anak selalu mau terbuka dengan orangtua, karena terkadang anak-anak tidak mau bercerita kalau dia merasa melakukan kesalahan?
J : Biasanya anak yang tidak cerita ketika dia salah bisa jadi karena pernah mengaku salah dan kita merespon kejujurannya "kurang tepat". Entah kita menjadi marah, tidak percaya, melotot, mentertawakan, atau menganggap dia bodoh sekali saat melakukan itu. Nah kejadian itu yang terekam oleh anak dan ia menjadi traumatis.
Jika terjadi seperti itu, maka segera perbaiki, jika kita dapat surat dari guru, keluhan orangtua temannya, atau info dari temannya maka siapkan mental untuk mengajak dia bicara, menjadi pendengar, dan mintalah maaf. Bisa jadi kesalahannya karena kita orangtuanya tidak mengajarin, tidak ngingetin, jurang kontrol dan lain-lain. Jangan hakimi, tapi coba mengerti. Dia mau jujur saja itu sudah modal yang besar untuk dia tegar dengan hidupnya.


T : Ijin tanya ustadzah, bagaimana caranya biar anak bisa bangun pagi, sebab jika dibangunin susah, sudah di coba dengan segala cara mulai dengan mencium sampai memarahi nya masih susah aja?
J : Ini pembiasaan, anaknya umur berapa? Kalau saya punya 3 anak, setiap malam semua saya persiapankan, "Kakak, gimana ada tugas dan surat dari wakel tidak, tolong siapkan buku untuk besok,… besok mau sarapan apa? Ibu hanya punya telur dan bayam,.. besok kita bangun sebelum subuh, kalau lelet ditinggal jemputan, dan ibu tidak mau antar, jadi kalian tidak sekolah dengan absensi A karena tidak sakit dan tidak ijin"..
Sebelum itu, saat mereka saya ceritain sebelum tidur kita kasih tahu kalau siswa tidak akan naik kelas jika ketahuan bolos ada sekian kali. Dan ini ampuh, mereka tidak mau di alpa. Saya juga bilang, jika besok bangun tidak rewel uang saku ditambah, atau makan siang boleh request mau apa. Dan lain-lain.


T : Ijin tanya ustadzah, Saya jg seorang single parents, setelah pisah sama suami, saya tinggal sama kakak dan sebelum itu anak selalu sama saya hampir tidak pernah jauh dengan saya. setelah pisah saya harus bekerja, tapi dengan keadaan seperti ini anak saya merasa kurang perhatian, saya memahami hal itu. Oleh karena itu anak saya cari perhatian kadang yang bikin emosi saya dan membuat marah, dan sekarang dia terlalu manja dan tidak bisa mandiri lagi. Anak saya usia 6 tahun, kalau saya kerja dia ikut budhe nya, nah kadang cara mendidik kami juga lain. Mohon pencerahannya, terima kasih sebelumnya.
J : Ini pentingnya komunikasi, seperti yang saya ungkap untuk jawaban yang anaknya tinggal dengan nenek. Buat aturan-aturan dimana anak juga merasa, kalau aku tidak manut ibu maka aku tidak akann dapat apa yang aku ingin. Ini seni tarik ulur dengan anak.


T : Mana yang terbaik untuk anak dalam memilih sekolah, SDIT atau pesantren? Kalau masuk pesantren bagaimana cara mempertahankan bonding dengan anak? Seakan-akan anak "dibuang"?!
J : Punten, kalau anak-anak saya masuk pesantren setelah lulus dari SDIT. Dan saya sangat tidak setuju dengan anggapan sepertinya anak di buang. Dibuang?? Yang real saya alami setelah mereka mondok, bonding mereka makin kuat dengan saya. Bahkan jadi semakin merasakan bahwa apa yang ibunya lakukan selama ini tuh luar biasa buat dia, yang dia tidak temui selama di pondok.

Ini barusan azzam call, kenapa saya belum jawab pertanyaan-pertanyaan di sini. Azzam di pondok, 2 hari kemarin dia sakit, dia call nangis-nangis cerita banyak hal. Intinya mellow. Sebagai ibu saya harus bijak, tetap mengontrol sakitnya melalui ustadznya, memintanya ke klinik pondok, meminta ijin agar azzam tidak ikut muqayyam qur'an sehari. Alhamdulillah barusan call sudah sembuh, dan bisa setor 3 surat di juz 29 yg dia hafal 2 bulan ini. Terakhir dia tutup dengan kata-kata, "Ibu...telponnya sudah dulu ya...aku harus siap-siap ke masjid, jangan lupa doain aku selalu ya bu, tanggal 9 aku UTS". "Ibu akan selalu doain adik, tolong jaga hafalan adik untuk abi di sana ya nak...jadilah anak sholih ibu...".

Alhamdulillah...semua akan baik-baik saja jika kita tetap menjaga bonding. Sekarang saya tanya mana ada sih institusi yang sempurna 100% perlakuannya pada anak-anak kita? Semua plus minus. Karena pendidikan utama itu ada ditangan orangtua. Sekolah hanya bisa mengoptimalkan hal-hal positif yang dibawa dari rumah.

~~~~~~~

TJ G - 1



T : Bun.azzam, Ana bertanya, kalau melihat karakter anak laki-laki, apa identik kaku ya kalau bantu urusan rumah? Apa memang bawaan hormone atau tergantung sifat ayahnya?
Kan ada anak laki-alaki yang gampang cekatan kalau disuruh emaknya, langsung jalan, tapi ada yang tidak mau sama sekali?!
J : Ini lebih pada hanya pada pembiasaan, dan cara kita meminta tolong, bunda punya 3 anak beda-beda tuh. Salah cara menyuruh juga bisa tidak terlaksana. So, latih cara komunikasi bagaimana meminta anak melakukan perintah kita.
Anak-anak yang terbiasa kita sampaikan tentang hadist ibumu, ibumu, ibumu baru ayahmu. Akan sulit menolak perintah ibunya. Sering ceritain kisah-kisah ketaatan seorang anak pada ibunya, dan keberkahan apa yang dia dapat.


T : bunda, ijin bertanya.. saya single parent, anak pertama ikhwan mau unas, tapi dia mengetahui konflik saya dengan ayahnya. Anak mulai kecil tahu kerja keras saya, sedang ayahnya bekerja tapi jarang memberi nafkah. Saya berusaha meredam emosi anak agar fokus dengan unas-nya kelak. Salahkah bunda, jika saya dan anak-anak sementara tidak berkomunikasi dengan ayahnya mengingat anak selama ini sudah mengetahui orang tuanya seperti apa, dimana keseharian dia tahu ibunya seperti apa dan ayahnya seperti apa melalui FB dan medsos lain? Afwan yang fakir ini bunda.
J : Ahsan saja jika memang itu membuat anak lebih terjaga emosinya. Tapi bagaimanapun ia tetap ayahnya, yang menyebabkan dia ada di bumi ini. Tetap beri pengertian sampai ia paham bahwa jodoh boleh berakhir karena perceraian tapi tidak dengan hubungan darah.


T : Assalamu'alaikum bunda Azzam, ijin bertanya, bila anak kurang kelekatannya pada ibunya, apakah pengaruh teman yang kurang baik bisa sangat membekas ke anak?
J : Dalam banyak seminar selalu di singgung betapa peran lingkungan, peer grup akan sangat mempengaruhi karakter anak.  Itu kenapa kita harus aware dengan siapa anak kita bergaul. Perumpamaan yang sering kita dengar, bertemanlah dengan penjual minyak wangi, maka akan ketularan wangi. Jangan dengan tukang las akan kena percikn api. Hadist kalau mau lihat akhlak seseorang lihatlah siapa teman ya. Tanpa membangun kedekatan dengan anak bagaimana nanti kalau kita sudah renta?!


T : Bunda izin Tanya, usia anak yang pas untuk masuk sekolah itu berapa tahun ya? karena saat ini banyak sekali anak umur 1 tahun sudah disekolahkan sama ortunya.
J : Perlu dipahami bahwa sekolah itu sarana untuk membentuk karakter anak bisa interaksi sosial dengan sekitar, bukan tempat utama pembentukan karakter sakhsiyah islamiyah. So tetap ibu adalah peletak pertama kaidah-kaidah syariah dan kekuatan akidah. Keluarga tempat menggembleng karakter positif, ibu harus bisa paham mana potensi-potensi yang harus dikembangkan dan mana hal negatif yang harus segera di rem.
Sekolah secara umum 5 tahun usia untuk bisa anak paham aturan main di dunia luar. Jika kurang dari itu hati-hati khawatir ada jiwa anak yang terluka karena perlakuan yang kurang baik dari orang dewasa disekelilingnya.


T : Bunda, kalau malah sebaliknya terlalu lekat sampai-sampai anak terlalu manja apakah itu karena pola asuh yang salah? Dan bagaimana memperbaikinya, mengingat usianya yang sudah menginjak dewasa kira-kira 13 tahun an, tidurpun kalau pulang dari pondok masih tetap belum mau terpisah?
J : Kalau sudah mondok berarti sudah mandiri dong, kan emaknya tidak ikutan tidur dipondok. Wajarlah kalau pulang-pulang kangen tidur sama emak. Azzam anak bunda juga bobo sama bunda kalau dikunjungi.


T : Ijin bertanya lagi, masih boleh kah? Bagaimana memperbaiki kelekatan anak pertama, sedangkan kini sudah sibuk dengan ketiga adiknya? Apakah hal itu bisa jadi penyebab tidak mau mengalahnya?
J : Tetap bisa dibangun kedekatan, sediakan waktu khusus hanya dengannya, contoh, ajak pergi berdua saja, adik tinggal atau titip sama ayah, turuti keinginan positifnya. Misal ke toko buku, ajak diskusi isi bukunya, pokoknya “hanya kamu dan aku aja”, jangan membahas hal-hal yang membuat dia tersudut, tidak nyaman, interogasi dan lain-lain. Pahami apa yang dia ungkapkan. Diskusikan minatnya.


T : Ustadzah apa yang harus dilakukan sebagai orangtua bila proses bonding attachment ini terlambat.  Anaknya sudah terlanjur besar-besar?!
J : Jika sudah kadung besar? Usia berapa? Kalau masih usia sekolah/kuliah masih tetap bisa kok bonding di lakukan. Yang paling penting kesediaan meminta maaf atas ke"salahan" lalai membangun bonding saat mereka kecil, mulai belajar mendengarkan mereka, jangan terus bertentangan dengan anak.
Terus dengar dan dengar, katakan "boleh ibu kasih saran atas hal yang kakak/adik sampaikan? Kalau ada manfaat ambil, kalau tidak maka mungkin ada yang lebih baik". Jujur bunda juga merasakan kurang bonding dengan anak tgh. Tapi terus berupaya membangun komunikasi itu.



🔚🔚🔚🔚🔚🔚🔚🔚🔚🔚

Selanjutnya, marilah kita tutup kajian kita dengan bacaan istighfar 3x
Doa robithoh dan kafaratul majelis

Astaghfirullahal' adzim 3x

Do'a Rabithah
Allahumma innaka ta'lamu anna hadzihil qulub,
qadijtama-at 'alaa mahabbatik,
wal taqat 'alaa tha'atik,
wa tawahhadat 'alaa da'watik,
wa ta ahadat ala nashrati syari'atik.
Fa watsiqillahumma rabithataha,
wa adim wuddaha,wahdiha subuulaha,wamla'ha binuurikal ladzi laa yakhbu,
wasy-syrah shuduroha bi faidil imaanibik,
wa jami' lit-tawakkuli 'alaik,
wa ahyiha bi ma'rifatik,
wa amitha 'alaa syahaadati fii sabiilik...
Innaka ni'mal maula wa ni'man nashiir.

Artinya :
Ya Allah, sesungguhnya Engkau mengetahui bahwa sesungguhnya hati-hati kami ini,
telah berkumpul karena cinta-Mu,
dan berjumpa dalam ketaatan pada-Mu,
dan bersatu dalam dakwah-Mu,
dan berpadu dalam membela syariat-Mu.
Maka ya Allah, kuatkanlah ikatannya,
dan kekalkanlah cintanya,
dan tunjukkanlah jalannya,
dan penuhilah ia dengan cahaya yang tiada redup,
dan lapangkanlah dada-dada dengan iman yang berlimpah kepada-Mu,
dan indahnya takwa kepada-Mu,
dan hidupkan ia dengan ma'rifat-Mu,dan matikan ia dalam syahid di jalan-Mu.
Sesungguhnya Engkau sebaik-baik pelindung dan sebaik-baik penolong.
Aamiin...    

DOA PENUTUP MAJELIS
سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوْبُ إِلَيْكَ

Subhanaka Allahuma wabihamdika asyhadu alla ilaha illa anta astaghfiruka wa atubu ilaik.Artinya:“Maha suci Engkau ya Allah, dan segala puji bagi-Mu. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan melainkan Engkau. aku mohon ampun dan bertaubat kepada-Mu.”
Aamiin ya Rabb.

======================
Website: www.hambaAllah.net
FanPage : Kajian On line-Hamba Allah
FB : Kajian On Line-Hamba Allah
Twitter: @kajianonline_HA
IG: @hambaAllah_official

Thanks for reading & sharing Kajian On Line Hamba اللَّهِ SWT

Previous
« Prev Post

0 komentar:

Post a Comment

Kajian On Line Hamba اللَّهِ SWT

Ketik Materi yang anda cari !!