Home » , » KEUTAMAAN/KEINDAHAN BULAN DZULHIJJAH

KEUTAMAAN/KEINDAHAN BULAN DZULHIJJAH

Posted by Kajian On Line Hamba اللَّهِ SWT on Thursday, December 7, 2017

Image result for keutamaan bulan dzulhijjah
Rekap Kajian Ummi HA G 5
Hari : Senin, 21 agustus 2017
Jam : 13.00
Narasumber : Bunda Malik
Tema : Keutamaan Bulan Dzulhijah
Editor : Sapta
_________________________
KEUTAMAAN BULAN DZULHIJJAH

Bila kita berada di taman yang indah..
Terlihat bunga-bunganya yang bermekaran, tumbuhannya yang hijau, rasanya hati kita senang sekali..
Berada di sebuah taman yang indah..
Namun tak kalah indahnya yaitu bulan Dzulhijjah.

Bulan Dzulhijjah juga adalah merupakan bulan yang indah bagi orang-orang yang ada di dalam hatinya Iman dan Islam, bagi orang-orang yang menginginkan kehidupan akhirat.
Apa keindahan bulan Dzulhijjah?
Tentu keindahan yang dimaksud di sini adalah indahnya dan lezatnya beribadah kepada Allāh Subhānahu wa Ta'āla.


Keindahan Pertama

Allāh menjadikan Bulan Dzulhijjah adalah bulan Haram. Dan bulan Haram adalah bulan yang harus kita hormati. Allāh Subhānahu wa Ta'āla berfirman:

إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِندَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ۚ ذَالِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ ۚ فَلَا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنفُسَكُمْ ۚ
"Sesungguhnya jumlah bulan ketika Allāh menciptakan langit dan bumi adalah 12 bulan, diantaranya bulan-bulan Haram. Itulah agama Allāh yang lurus. Jangan kalian menzhalimi diri kalian di bulan-bulan tersebut.". (At Taubah: 36)

4 bulan Haram itu adalah Dzulqa'dah, Dzulhijjah, Muharram dan Rajab. Dan bulan Dzulhijjah termasuk bulan Haram. Perbuatan zhalim di bulan itu adalah sangat dilipatgandakan dosanya oleh Allāh Subhānahu wa Ta'āla. Demikian pula perbuatan amalan shālih, dilipatgandakan oleh Allāh.

Keindahan Kedua

Terlebih di awal Dzulhijjah (10 hari awalnya), ini adalah hari yang paling utama untuk beramal shālih melebihi amalan di bulan Ramadhān. Allāh berfirman:   
وَالْفَجْرِ وَلَيَالٍ عَشْرٍ
"Demi waktu fajar dan demi sepuluh malam.". (QS. Al Fajr: 1 - 2)

Kebanyakan ulama tafsir berkata: "10 malam yang dimaksud yaitu di 10 awal bulan Dzulhijjah." Juga Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam mengabarkan:

مَا مِنْ أَيَّامٍ الْعَمَلُ الصَّالِحُ فِيهَا أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنْ هَذِهِ الأَيَّامِ. يَعْنِى أَيَّامَ الْعَشْرِ.
“Tidak ada hari-hari yang amalan shalih lebih dicintai oleh Allāh kecuali di 10 awal bulan Dzulhijjah.” (HR. Al Bukhari (no. 926), Abu Dawud (no. 2438), At Tirmidzi (no. 757) dan Ibnu Majah (no. 1727). Dan ini lafazh Abu Dawud, dari shahābat Ibnu 'Abbas radhiyallāhu 'anhu)

Subhanallāh!

Keindahan Ketiga

Disana ada ibadah yang agung yaitu ibadah haji ke Baitullāh. Anda pernah berhaji? Siapapun yang pernah berhaji dia akan merasakan betapa syahdunya dan nikmatnya ketika berhaji. Di saat wuqūf di 'Arafah, di saat melempar jumrah, di saat bermalam Muzdalifah. Sebuah kenangan-kenangan yang indah di saat kita berhaji. Dan itu merupakan amalan yang agung di sisi Allāh, dimana dia adalah merupakan salah satu dari Rukun Islām yang ke-5.
Keindahan yang berikutnya,

Keindahan Keempat

Disana ada ibadah bagi mereka yang tidak haji, yaitu berqurban dan berpuasa di tanggal 9 bulan Dzulhijjah. Maka pada waktu itu kesempatan emas untuk kita beramal shālih. Dengan berpuasa pada tanggal 9 bulan Dzulhijjah, bisa digugurkan dosa kita tahun yang lalu dan tahun yang akan datang, jata Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam. Kemudian juga, beramal ibadah qurban, dimana kita menyembelih hewan qurban.
Allāh mengatakan:    لَن يَنَالَ اللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَاؤُهَا وَلَٰكِن يَنَالُهُ التَّقْوَىٰ مِنكُمْ
"Tidak akan sampai kepada Allāh, darah dan tidak pula dagingnya. Akan tetapi yang sampai kepada Allāh adalah ketaqwaan di antara kalian." (QS. Al Hajj : 37)

Dimana kaum Muslimīn semuanya bersuka cita dengan menikmati daging hewan qurban tersebut.

Kemudian, keindahan selanjutnya,

Keindahan Kelima

Di sana ada:    أَيَّامُ التَّشْرِيق (ayyāmut tasyrīq).
Yang disebutkan Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam sebagai:    أَيَّامُ أَكْلٍ وَشُرْبٍ  (ayyāmu aklin wa syurbin), hari makan dan minum.

Allāh berfirman:    وَاذْكُرُوا اللَّهَ فِي أَيَّامٍ مَعْدُودَاتٍ
"Berdzikirlah kalian kepada Allāh di hari-hari yang telah ditentukan (yaitu di hari-hari Tasyriq)." (Al Baqarah: 203)

Disitu Allāh menyebutkan di hari-hari Tasyrīq kita disuruh banyak berdzikir kepada Allāh. Sementara mereka yang berhaji, mereka melontar jumrah selama 3 hari (11, 12, 13), melontar Jumrah 'Ūlā, Wustha dan 'Aqabah.
Subhanallāh!

Itu adalah hari-hari yang penuh dengan ibadah. Terasa indah bagi mereka yang beriman kepada Allāh dan kehidupan akhirat, yā Ukhī..
Maka dari itulah, betapa indahnya bulan Dzulhijjah itu bagi mereka orang yang betul-betul berlomba dalam kebaikan. Mari kita songsong bulan Dzulhijjah dengan penuh kegembiraan.

Allāh berfirman:    قُلْ بِفَضْلِ اللَّهِ وَبِرَحْمَتِهِ فَبِذَلِكَ فَلْيَفْرَحُوا هُوَ خَيْرٌ مِمَّا يَجْمَعُونَ
"Katakan dengan karunia Allāh dan rahmat-Nya lah hendaknya mereka bergembira, itu lebih baik dari pada apa yang mereka kumpulkan dari kehidupan dunia." (Yūnus: 58)

Disini Allāh menyuruh kita bergembira, dengan apa? Dengan nikmat hidayah, dengan nikmat iman. Itulah rahmat haqiqi yang Allāh berikan.

Lalu Allāh mengatakan: "Itu lebih baik daripada apa yang mereka kumpulkan daripada kehidupan dunia."

Maka kita gembira dengan datangnya bulan Dzulhijjah. Kenapa? Karena ini kesempatan emas kita mendulang pahala yang besar dan mendapatkan ampunan dari Allāh.
Semoga kita diberi kekuatan untuk senantiasa beramal shālih di hari-hari itu.
وبالله التوفيق
سُبْحَانَكَ وَبِحَمْدِكَ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ، أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ
والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
==============
TANYA JAWAB


T : Bunda, yang shohih puasanya tanggal 9 nya saja ya?
J : Ada yang puasa tanggal 8 dan 9 , ada juga yang puasa dari tanggal 1. Berikut penjelasannya.
Awal Dzulhijjah, Waktu Utama Beramal Shalih
Intinya, awal Dzulhijjah adalah waktu utama untuk beramal shalih. Di antaranya dengan banyak dzikir, bertakbir, dan termasuk pula berpuasa. Di antara yang menunjukkan keutamaan sepuluh hari pertama bulan Dzulhijah adalah hadits Ibnu ‘Abbas, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

« مَا مِنْ أَيَّامٍ الْعَمَلُ الصَّالِحُ فِيهَا أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنْ هَذِهِ الأَيَّامِ ». يَعْنِى أَيَّامَ الْعَشْرِ. قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَلاَ الْجِهَادُ فِى سَبِيلِ اللَّهِ قَالَ « وَلاَ الْجِهَادُ فِى سَبِيلِ اللَّهِ إِلاَّ رَجُلٌ خَرَجَ بِنَفْسِهِ وَمَالِهِ فَلَمْ يَرْجِعْ مِنْ ذَلِكَ بِشَىْءٍ ».
“Tidak ada satu amal sholeh yang lebih dicintai oleh Allah melebihi amal sholeh yang dilakukan pada hari-hari ini (yaitu 10 hari pertama bulan Dzul Hijjah).” Para sahabat bertanya: “Tidak pula jihad di jalan Allah?” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: “Tidak pula jihad di jalan Allah, kecuali orang yang berangkat jihad dengan jiwa dan hartanya namun tidak ada yang kembali satupun.” (HR. Abu Daud no. 2438, At Tirmidzi no. 757, Ibnu Majah no. 1727, dan Ahmad no. 1968, dari Ibnu ‘Abbas. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih sesuai syarat Bukhari-Muslim)

Puasa di Awal Dzulhijjah
Adapun dalil yang menunjukkan istimewanya puasa di awal Dzulhijjah karena dilakukan pula oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sebagaimana diceritakan dari Hunaidah bin Kholid, dari istrinya, beberapa istri Nabishallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan,
كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَصُومُ تِسْعَ ذِى الْحِجَّةِ وَيَوْمَ عَاشُورَاءَ وَثَلاَثَةَ أَيَّامٍ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ أَوَّلَ اثْنَيْنِ مِنَ الشَّهْرِ وَالْخَمِيسَ.
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa berpuasa pada sembilan hari awal Dzulhijah, pada hari ‘Asyura’ (10 Muharram), berpuasa tiga hari setiap bulannya, …” (HR. Abu Daud no. 2437. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)

Di antara sahabat yang mempraktekkan puasa selama sembilan hari awal Dzulhijah adalah Ibnu ‘Umar. Ulama lain seperti Al Hasan Al Bashri, Ibnu Sirin dan Qotadah juga menyebutkan keutamaan berpuasa pada hari-hari tersebut. Inilah yang menjadi pendapat mayoritas ulama. (Latho-if Al Ma’arif, hal. 459)

Nabi Tidak Melakukan Puasa Awal Dzulhijjah, Benarkah? Ada sebuah riwayat dari ‘Aisyah yang menyebutkan,  
مَا رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- صَائِمًا فِى الْعَشْرِ قَطُّ
“Aku tidak pernah melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berpuasa pada sepuluh hari bulan Dzulhijah sama sekali.” (HR. Muslim no. 1176).

Mengenai riwayat di atas, para ulama memiliki beberapa penjelasan.

Ibnu Hajar Al Asqolani mengatakan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam meninggalkan puasa ketika itu –padahal beliau suka melakukannya- karena khawatir umatnya menganggap puasa tersebut wajib. (Fathul Bari, 3: 390, Mawqi’ Al Islam)

Imam Ahmad bin Hambal menjelaskan bahwa ada riwayat yang menyebutkan hal yang berbeda dengan riwayat ‘Aisyah di atas. Lantas beliau menyebutkan riwayat Hafshoh yang mengatakan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallamtidak pernah meninggalkan puasa pada sembilan hari awal Dzulhijah. Sebagian ulama menjelaskan bahwa jika ada pertentangan antara perkataan ‘Aisyah yang menyatakan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah berpuasa sembilan hari Dzulhijah dan perkataan Hafshoh yang menyatakan bahwa beliau malah tidak pernah meninggalkan puasa sembilan hari Dzulhijah, maka yang dimenangkan adalah perkataan yang menetapkan adanya puasa sembilan hari Dzulhijah.

Namun dalam penjelasan lainnya, Imam Ahmad menjelaskan bahwa maksud riwayat ‘Aisyah adalah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak berpuasa penuh selama sepuluh hari Dzulhijah. Sedangkan maksud riwayat Hafshoh adalah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berpuasa di mayoritas hari yang ada. Jadi, hendaklah berpuasa di sebagian hari dan berbuka di sebagian hari lainnya. (Latho-if Al Ma’arif, hal. 459-460)

Inti dari penjelasan ini, boleh berpuasa penuh selama sembilan hari bulan Dzulhijah (dari tanggal 1 sampai 9 Dzulhijah) atau berpuasa pada sebagian harinya saja. Bisa diniatkan dengan puasa Daud atau bebas pada hari yang mana saja, namun jangan sampai ditinggalkan puasa Arafah. Karena puasa Arafah akan menghapuskan dosa selama dua tahun.

Hal ini berdasarkan hadits Abu Qotadah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
صِيَامُ يَوْمِ عَرَفَةَ أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِى قَبْلَهُ وَالسَّنَةَ الَّتِى بَعْدَهُ وَصِيَامُ يَوْمِ عَاشُورَاءَ أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِى قَبْلَهُ
“Puasa Arofah dapat menghapuskan dosa setahun yang lalu dan setahun akan datang. Puasa Asyuro (10 Muharram) akan menghapuskan dosa setahun yang lalu.” (HR. Muslim no. 1162).

Hanya Allah yang memberi taufik.


T : Mengapa di bilang bulan "haram"? Haram yang ada dalam kepala saya artinya tidak boleh, kotor, najis?
J : DZULHIJJAH, MENGAPA DISEBUT BULAN HARAM?

Pada 12 bulan hijriah terdapat 4 bulan yang ditetapkan oleh Allah sebagai bulan terhormat, Al-Qur’an menyebutnya haraam atau hurum. Allah berfirman:
إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ فَلَا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنْفُسَكُمْ وَقَاتِلُوا الْمُشْرِكِينَ كَافَّةً كَمَا يُقَاتِلُونَكُمْ كَافَّةً وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ مَعَ الْمُتَّقِينَ
“Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram (terhormat). Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu, dan perangilah kaum musyrikin itu semuanya sebagaimana merekapun memerangi kamu semuanya, dan ketahuilah bahwasanya Allah beserta orang-orang yang bertakwa.” QS. At-Taubah:36

Bulan haram yang dimaksud adalah bulan Dzulqa`dah, Dzulhijjah, Muharram dan Rajab. Keagungan keempat bulan itu diakui oleh hampir seluruh masyarakat Arab sebelum Islam. Sedemikian besar pengagungan mereka sampai walau seseorang menemukan pembunuh ayah, anak atau saudaranya pada salah satu dari empat bulan, ia tidak akan mencederai musuhnya kecuali setelah berlalu bulan haram itu. Tiga bulan di antara keempat bulan haram itu mereka sepakati, yaitu Dzul Qa’dah, Dzul Hijjah, dan Muharram. Adapun yang keempat, yakni Rajab, ini dianut keharamannya oleh mayoritas suku-suku masyarakat Arab, sedang suku Rabi’ah menganggap bulan haram yang keempat adalah Ramadhan. Islam melalui Rasul saw. menegaskan keempat bulan haram sesuai dengan anutan mayoritas masyarakat Arab itu. Rasululullah saw. bersabda:
إِنَّ الزَّمَانَ قَدِ اسْتَدَارَ كَهَيْئَتِهِ يَوْمَ خَلَقَ اللَّهُ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضَ السَّنَةُ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ثَلَاثٌ مُتَوَالِيَاتٌ ذُو الْقَعْدَةِ وَذُو الْحِجَّةِ وَالْمُحَرَّمُ وَرَجَبُ مُضَرَ الَّذِي بَيْنَ جُمَادَى وَشَعْبَانَ
“Sesungguhnya zaman telah berputar seperti keadaannya semula pada hari diciptakankan-Nya langit dan bumi. Satu tahun adalah 12 bulan, di antaranya terdapat 4 bulan haram; yaitu 3 bulan berurutan: Dzulqa’dah, Dzulhijjah, dan Muharram serta Rajab Mudhar yang terletak antara 2 Jumadi (Jumadil Ula-Jumadis Tsaniah) dan Sya’ban.” HR. Al-Bukhari, Muslim, dan Ahmad. [1]

Nabi saw. menyandarkan (idhaafat) kata Rajab kepada Mudhar, salah satu kabilah Arab, guna mengukuhkan kebenaran sikap kabilah Mudhar yang tidak mengubah posisi bulan Rajab di antara Jumadis Tsaniah dan Sya’ban. Pada saat yang sama, penyandaran ini mengisyaratkan kekeliruan kabilah Rabi’ah yang mengubah bulan itu dari posisi yang seharusnya.[2]

Penggalan firman Allah :   إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ …
“Sesungguhnnya jumlah bulan pada sisi Allah adalah dua belas menurut ketetapan Allah sejak hari diciptakannya langit dan bumi…” QS. At-Taubah: 36

Dalam bahasa astronomi, bermakna Allah telah menetapkan bahwa peredaran bumi mengitari matahari yang mendefinisikan batasan waktu ‘tahun’ setara dengan dua belas kali lunasi (datangnya hilal) yang mendefinisikan batasan waktu ‘bulan’. Satu tahun syamsiah adalah 365,2422 hari, sedangkan satu bulan qamariyah adalah 29,5306 hari. Jadi satu tahun qamariyah berjumlah 354 hari, sebelas hari lebih pendek daripada kalender syamsiah.

Ayat berikutnya, At-Taubah: 37, mengecam praktek Annasiy, yaitu mengulur atau menambah bulan yang hanya akan menambah kekafiran, pengingkaran kepada Allah. Bulan terhormat yang telah disepakati bersama (Rajab, Dzulqaidah, Dzulhijjah, dan Muharam) bisa tergeser karenanya. Sesudah Dzulhijjah ada bulan ketiga belas sehingga menggeser bulan Muharram.

Penambahan bulan itu untuk menyesuaikan dengan musim, tetapi dilakukan sepihak sehingga bisa mengacaukan kesepakatan yang telah ada. Dalam prakteknya, annasiy bisa dilakukan dengan menambah satu bulan tambahan setiap tiga tahun untuk menggenapkan selisih tahunan yang 11 hari itu.

Makna Penghormatan (Haraam)

Penghormatan terhadap keempat bulan di atas tentu saja menunjukkan adanya sesuatu yang istimewa di situ. Untuk menggali nilai keistimewaan di balik makna haraam bulan-bulan itu kita dapat merujuk kepada penjelasan sejumlah pakar tafsir, antara lain:

Pakar tafsir, Abu Jafar Muhammad bin Jarir At-Thabari (224-310 H), atau yang lebih popular dengan sebutan Imam At-Thabari, di dalam kitab tafsirnya Jâmi’ Al-Bayân ‘an Ta`wîl âyi Al-Qurân,popular dengan sebutan Tafsîr at-Thabarî, sebagai kitab tafsir klasik yang banyak dirujuk oleh para mufassir berikutnya, menyebutkan bahwa empat bulan itu disebut haram, karena diagungkan dan dihormati oleh orang-orang jahiliyyah dan mereka mengharamkan peperangan atau pembunuhan pada bulan-bulan itu, sampai walau seseorang menemukan pembunuh ayahnya pada salah satu dari empat bulan, ia tidak akan mencederainya. [3]

Syekh Ahmad Mushthafa al-Maraghi, di dalam kitab tafsirnya Tafsîr Al-Maraghî, menyebutkan bahwa kata hurum merupakan bentuk jamak dari kata haram. Berasal dari kata hurmah, yang bermakna mengagungkan (ta’zhiim). Keempat bulan itu telah ditetapkan kehormatannya oleh Allah dan Allah mengharamkan peperangan atau pembunuhan pada bulan-bulan itu melalui lisan Ibrahim dan Ismail. Selanjutnya, dari mereka berdua, keagungan keempat bulan itu terus dipelihara secara turun temurun oleh seluruh masyarakat Arab sebelum Islam, baik secara lisan maupun perbuatan, meskipun terkadang ada di antara sebagian kabilah Arab yang melanggarnya karena mengikuti hawa nafsu. [4]

Penjelasan senada disampaikan pula oleh Dr. Muhammad Mahmud Hijaziy, di dalam kitab tafsirnya at-Tafsîr Al-Waadhih. Hanya saja beliau memberikan catatan tambahan bahwa pengharaman perang atau pembunuhan pada bulan-bulan itu dalam rangka memberikan perlindungan dan kenyamanan bagi orang-orang yang hendak menjalankan ibadah haji ke Baitullah, karena tidak diragukan lagi bahwa perjalanan haji galibnya dimulai dari bulan Dzulqa’dah hingga berakhir di bulan Muharram. Sementara Rajab yang berposisi di pertengahan tahun merupakan bulan gencatan senjata untuk rehat dan memberi kemudahan bagi orang yang hendak melaksanakan umrah.[5]

Sementara dalam pandangan Syekh Muhammad Ali as-Sayis, keempat bulan itu dinyatakan terhormat karena pada bulan-bulan itu terdapat pengharaman bagi sebagian perkara yang dibolehkan pada bulan-bulan lainnya. Atau dapat dimaknai pula bahwa keempat bulan itu memiliki keagungan yang membedakannya dari bulan-bulan lain, sehingga sanksi kemaksiatan pada bulan-bulan itu lebih berat daripada bulan lain. Demikian pula ketaatan yang dilakukan pada bulan-bulan itu lebih besar pahalanya dibanding pada bulan lain. [6]

Penjelasan Syekh Muhammad Ali as-Sayis di atas dapat difahami mengingat sejumlah fakta khabar Syar’i (dalil-dalil syariat), terutama pada bulan Dzulhijjah,  bahwa pada bulan ini Allah Swt. telah menyediakan beragam lahan amal shaleh dan “fasilitas ibadah”, selain ibadah haji, sebagai tiket bagi orang beriman menuju surga.

Secara umum, ragam amal shaleh pada bulan Dzulhijjah, meliputi:  Shaum Arafah, takbiran Iedul Adha, tidak memotong rambut dan kukubagi calon qurbani, shalat Iedul Adha, serta pelaksanaan qurban. Penjelasan ragam ibadah itu secara terperinci akan disampaikan dalam makalah terpisah.
~~ By Amin Muchtar, sigabah.com/beta ~~

[1]Lihat, Shahih Al-Bukhari, Juz 4, hlm. 1712, No. Hadis 4385; Shahih Muslim, Juz 3, hlm. 1305, No. 1679; Musnad Ahmad, Juz 5, hlm. 37, No. 20.402.
[2]Lihat, Umdah al-Qari Syarh Shahih al-Bukhari, Juz 18, hlm. 266; Masyariq al-Anwar ‘ala Shihah al-Atsar, Juz 1, hlm. 553.
[3]Lihat, Tafsîr at-Thabarî, Juz 11, hlm. 440.
[4]Lihat, Tafsîr Al-Maraghî, Juz 10, hlm. 114.
[5]Lihat, at-Tafsîr Al-Waadhih, Juz 1, hlm. 881.
[6]Lihat, Tafsir Aayaat al-Ahkaam, hlm. 452-453.


T : Tanya Bunda, apakah benar disyariatkan untuk banyak bertakbir mulai dari awal bulan Dzulhijjah hingga akhir hari-hari tasyriq? Apa yang dimaksud dengan takbir mutlak dan muqayyad serta pelaksanaannya?
J : Takbir mutlak adalah bertakbir kapan saja selain seusai shalat dan di mana saja selain tempat yang terlarang (toilet/WC). Takbir muqayyad adalah bertakbir setelah shalat lima waktu (termasuk shalat Jum’at). Bertakbir di malam dan hari ‘Idul Adha (10 Dzulhijjah), hal itu adalah ijma’ (kesepakatan) ulama. Adapun disyariatkan takbir mutlak pada tanggal 1—9 Dzulhijjah adalah menurut mazhab Ahmad. Pendapat ini yang dirajihkan (dikuatkan) oleh Ibnu Qudamah, Ibnu Taimiyah, Ibnu Baz, dan al-‘Utsaimin. Yang masyhur pada mazhab Hanbali, disyariatkan bertakbir meskipun seseorang tidak melihat hewan-hewan kurban yang akan disembelih.
Syariat bertakbir dari malam 1—10 Dzulhijjah, hal itu masuk dalam keumuman makna dua dalil berikut:
  1. Firman Allah : “Supaya mereka (jamaah haji) menyaksikan berbagai manfaat bagi mereka dan berzikir membesarkan nama Allah pada hari-hari yang telah diketahui (ditentukan) atas rezeki yang Allah telah berikan kepada mereka berupa hewan-hewan ternak (penyembelihan hewan kurban).” (al-Hajj: 27—28)
    Menurut salah satu tafsiran ayat ini, hari-hari yang telah diketahui (ditentukan) tersebut adalah sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah. Ini adalah tafsiran Ibnu ‘Abbas c.

  1. Hadits Ibnu ‘Abbas c,

مَا مِنْ أَيَّامٍ الْعَمَلُ الصَّالِحُ فِيهَا أَحَبُّ إِلَى اللهِ مِنْ هِذِهِ اْلأَيَّامِ -يَعْنِي أَيَّامَ اْلعَشْرِ-. قَالُوا: يَا رَسُولَ اللهِ، وَلاَ الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللهِ؟ قَالَ: وَلاَ الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللهِ، إِلاَّ رَجُلٌ خَرَجَ بِنَفْسِهِ وَمَالِهِ فَلَمْ يَرْجِعْ مِنْ ذَلِكَ بِشَيءٍ.
“Tidak ada hari-hari yang amal saleh di dalamnya lebih dicintai oleh Allah daripada hari-hari ini—yaitu sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah.”
Mereka bertanya, “Wahai Rasulullah, begitu pula halnya dibandingkan dengan jihad di jalan Allah?” Beliau menjawab, “Begitu pula halnya dibandingkan dengan jihad di jalan Allah, selain seorang mujahid yang keluar berjihad di jalan Allah dengan jiwa raga dan hartanya, lalu dia tidak kembali dengan sesuatu pun darinya (gugur sebagai syahid).” (HR. al-Bukhari, Ahmad, at-Tirmidzi, Abu Dawud, Ibnu Majah, dan lainnya)2
Bertakbir termasuk amalan saleh yang dicintai oleh Allah yang masuk dalam keumuman makna hadits ini. Keumuman makna dua dalil ini dikuatkan dengan dua dalil khusus berikut.

  1. Hadits Muhammad bin Abi Bakr ats-Tsaqafi
    Ia bertanya kepada Anas z ketika bersama dengannya dari Mina ke Arafah, “Apa amalan kalian pada hari ini bersama Rasulullah ?” Anas z menjawab,
    كَانَ يُلَبِّي الْمُلَبِّي فَلاَ يُنْكَرُ عَلَيْهِ، وَيُكَبِّرُ الْمُكَبِّرُ فَلاَ يُنْكَرُ عَلَيْهِ.
    “Ada yang membaca talbiyah dan tidak diingkari. Ada pula yang bertakbir dan tidak diingkari.” (Muttafaq ‘alaih)
    Hadits ini menunjukkan disyariatkannya bertakbir pada hari-hari itu.

  1. Atsar Ibnu ‘Umar dan Abu Hurairah
    كَانَ ابْنُ عُمَرَ وَأَبُو هُرَيْرَةَ يَخْرُجَانِ إِلَى السُّوقِ فِيْ أَيَّامِ الْعَشْرِ يُكَبِّرَانِ، وَيُكَبِّرُ النَّاسُ بِتَكْبِيرِهِمَا.
    “Adalah Ibnu ‘Umar dan Abu Hurairah g keluar ke pasar pada sepuluh hari awal Dzulhijjah dengan bertakbir, dan kaum muslimin ikut bertakbir bersama keduanya.” (Dikeluarkan oleh al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab al-’Idain, pada Bab “Fadhlu al-’Amal fi Ayyam at-Tasyriq” secara ta’liq/tanpa penyebutan sanad dengan shigat periwayatan yang tegas)4
Takbir mutlak ini terus berlanjut hingga hari-hari tasyriq (11, 12, dan 13 Dzulhijjah) dan berakhir dengan tenggelamnya matahari di akhir hari tasyriq. Ini menurut pendapat yang rajih yang dipilih Ibnu Qudamah, Ibnu Baz, dan Ibnu ‘Utsaimin. Dalilnya adalah:

  1. Firman Allah, “Dan hendaklah kalian berzikir (menyebut Allah) pada hari-hari berbilang.” (al-Baqarah: 203)
    Hari-hari berbilang adalah hari-hari tasyriq.
  2. Sabda Rasulullah,   أَيَّامُ التَّشْرِيقِ أَيَّامُ أَكْلٍ وَشُرْبٍ وَذِكْرٍ لِلهِ.
    “Hari-hari tasyriq adalah hari-hari untuk makan, minum, dan berzikir kepada Allah.” (HR. Muslim no. 1141 dari Nubaisyah al-Hudzali x)
Terdapat beberapa atsar yang mendukung pendapat ini. Atsar-atsar itu disebutkan oleh al-Bukhari secara mu’allaq (tanpa penyebutan sanad) dengan shigat periwayatan yang tegas, yaitu:

  1. Atsar ‘Umar bin al-Khaththab z,
كَانَ عُمَرُ z يُكَبِّرُ فِي قُبَّتِهِ بِمِنًى فَيَسْمَعُهُ أَهْلُ الْمَسْجِدِ، فَيُكَبِّرُونَ وَيُكَبِّرُ أَهْلُ اْلأَسْوَاقِ، حَتَّى تَرْتَجَّ مِنًى تَكْبِيرًا.
“Adalah ‘Umar bin al-Khaththab z bertakbir di kubahnya di Mina5 hingga didengar oleh penghuni masjid, sehingga mereka dan kaum muslimin yang ada di pasar-pasar pun ikut bertakbir hingga Mina bergelora dengan takbiran.”
Ibnu Hajar t menyatakan, “Atsar ini dikeluarkan oleh Sa’id bin Manshur dengan sanad yang bersambung.”

  1. Atsar Ibnu ‘Umar c,
كَانَ ابْنُ عُمَرَ يُكَبِّرُ بِمِنًى تِلْكَ الْأَيَّامَ وَخَلْفَ الصَّلَوَاتِ، وَعَلَى فِرَاشِهِ، وَفِي فُسْطَاطِهِ، وَمَجْلِسِهِ وَمَمْشَاهُ تِلْكَ الْأَيَّامَ جَمِيعًا.
“Adalah Ibnu ‘Umar bertakbir di Mina pada hari-hari itu6; bertakbir di belakang shalat-shalatnya, di atas kasurnya, di dalam kemahnya, di majelisnya (tempat duduknya), dan di jalan yang dilaluinya, pada hari-hari itu seluruhnya.”
Ibnu Hajar t mengatakan, “Atsar ini dikeluarkan dengan sanad yang bersambung oleh Ibnul Mundzir dan al-Faqihi dalam kitab Akhbar Makkah.”

Adapun takbir muqayyad (takbir terikat), terjadi silang pendapat di antara para ulama mengenai waktu pelaksanaannya. Yang terkuat adalah pendapat yang mengatakan bahwa takbir muqayyad dimulai dari usai shalat subuh tanggal 9 Dzulhijjah (hari Arafah) hingga diakhiri dengan takbir muqayyad seusai shalat ashar tanggal 13 Dzulhijjah. Ini adalah mazhab al-Imam Ahmad, sebagaimana disebutkan dalam al-Mughni dan al-Inshaf, yang dipilih oleh Syaikhul Islam, asy-Syaikh Ibnu Baz, dan Ibnu ‘Utsaimin rahimahumullah.
Ini pula salah satu pendapat asy-Syafi’i, yang dipilih oleh Ibnul Mundzir, al-Baihaqi, dan an-Nawawi rahimahumullah, sebagaimana dalam al-Majmu’. Terdapat beberapa atsar dari sahabat yang mendukung pendapat ini. Adapun hadits dari Rasulullah n dalam masalah ini, tidak ada yang sahih.

Dalam Fathul Bari (Kitab al-’Idain pada Bab “At-Takbir Ayyama Mina”), Ibnu Hajar t berkata, “Tidak ada hadits yang tsabit (tetap) dari Nabi n. Adapun atsar dari sahabat yang paling sahih dalam masalah ini adalah atsar ‘Ali dan atsar Ibnu Mas’ud bahwa (takbir muqayyad) dimulai dari subuh hari Arafah hingga akhir hari tasyriq.”

Lafadz Atsar ‘Ali bin Abi Thalib z adalah sebagai berikut.
أَنَّهُ كَانَ يُكَبِّرُ بَعْدَ صَلاَةِ الْفَجْرِ يَومَ عَرَفَةَ إِلَى صَلاَةِ الْعَصْرِ مِنْ آخِرِ أَيَّامَ التَّشْرِيقِ وَيُكَبِّرُ بَعْدَ الْعَصْرِ.
“Sesungguhnya ‘Ali pernah bertakbir seusai shalat subuh pada hari Arafah hingga shalat ashar pada akhir hari-hari tasyriq dan bertakbir seusai shalat ‘ashar.” (Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah, al-Hakim, dan al-Baihaqi)

Atsar Ibnu Mas’ud z serupa dengan atsar ‘Ali, dikeluarkan oleh al-Hakim. Atsar yang serupa dari Ibni ‘Abbas juga dikeluarkan oleh al-Baihaqi. Ketiga atsar ini dinyatakan sahih oleh al-Albani dalam al-Irwa’ (3/125).
Ibnu ‘Umar c juga melakukan takbir muqayyad di hari-hari tasyriq, sebagaimana pada atsar Ibnu ‘Umar yang telah kami sebutkan sebelumnya. Al-Hafizh Ibnu Hajar t dalam Fathul Bari (Kitab al-’Idain pada Bab “At-Takbir Ayyama Mina”) mengatakan, “Atsar-atsar yang disebutkan oleh al-Bukhari t tersebut menunjukkan adanya takbir pada hari-hari tersebut (‘Idul Adha dan hari-hari tasyriq) seusai shalat dan selainnya.

Dalam masalah ini terdapat perbedaan pendapat di antara ulama pada beberapa hal. Di antara mereka ada yang mengkhususkan takbir hanya di belakang shalat saja (tidak ada takbir mutlak). Ada juga yang mengkhususkan takbir muqayyad hanya di belakang shalat lima waktu, tidak di belakang shalat sunnah. Ada yang mengkhususkannya untuk kaum lelaki saja dan tidak bagi kaum wanita, di belakang shalat lima waktu secara berjamaah dan tidak bagi yang shalat sendiri, yang dilaksanakan pada waktunya dan tidak untuk yang diqadha (di luar waktu), yang bermukim dan tidak bagi musafir, penduduk perkotaan dan tidak bagi penduduk perdesaan. Tampaknya, yang dipilih oleh al-Imam al-Bukhari t adalah bahwa syariat bertakbir mencakup semuanya, dan atsar-atsar yang disebutkannya mendukungnya.”
Atsar-atsar tersebut adalah:
1. Atsar ‘Umar z yang telah kami sebutkan sebelumnya.
2. Atsar Ibnu ‘Umar c yang juga telah kami sebutkan sebelumnya.
3. Atsar Maimunah x,
كَانَتْ مَيْمُونَةُ تُكَبِّرُ يَوْمَ النَّحْرِ
“Adalah Maimunah bertakbir pada Hari Raya ‘Idul Kurban.” (Al-Hafizh Ibnu Hajar t tidak menemukan siapa yang mengeluarkannya dengan sanad yang bersambung)
4. Atsar:
كُنَّ النِّسَاءُ يُكَبِّرْنَ خَلْفَ أَبَانَ بْنِ عُثْمَانَ وَعُمَرَ بْنِ عَبْدِ الْعَزِيزَ لَيَالِيَ التَّشْرِيقِ مَعَ الرِّجَالِ فِيْ الْمَسْجِدِ
“Adalah kaum muslimat bertakbir di belakang Aban bin ‘Utsman9 dan di belakang ‘Umar bin ‘Abdil ‘Aziz pada malam-malam tasyriq bersama kaum muslimin di masjid.”
Ibnu Hajar t berkata, “Dikeluarkan dengan sanad yang bersambung oleh Ibnu Abi ad-Dunya dalam Kitab al-’Idain.”
Masalah ini seperti kata al-Imam Ibnu ‘Utsaimin t dalam Majmu’ ar-Rasail (16/263), “Semestinya diketahui bahwa tidak ada nash yang sahih dan gamblang dari Rasulullah n yang menetapkan adanya takbir muqayyad. Yang ada adalah beberapa atsar dari sahabat dan ijtihad sebagian ulama. Maka dari itu, terdapat kelonggaran dalam masalah ini. Meskipun seseorang meninggalkannya sama sekali dan mencukupkan diri dengan zikir setelah shalat, hal itu tidak mengapa, karena semuanya merupakan zikir kepada Allah k.”

Kesimpulan
Tersimpulkan dari pembahasan di atas hal-hal berikut ini.
  1. Takbir mutlak berlangsung mulai dari malam hari tanggal 1 Dzulhijjah dan berakhir dengan terbenamnya matahari 13 Dzulhijjah yang mengakhiri hari-hari tasyriq.
  2. Takbir muqayyad berlangsung sejak usai shalat subuh hari Arafah 9 Dzulhijjah dan berakhir dengan takbir muqayyad seusai shalat ashar pada 13 Dzulhijjah.
    Alhasil, sejak 1 Dzulhijjah hingga subuh 9 Dzulhijjah hanya terdapat takbir mutlak tanpa takbir muqayyad. Sejak usai shalat subuh 9 Dzulhijjah hingga 13 Dzulhijjah terdapat takbir mutlak dan takbir muqayyad.10
Adapun tata cara pelaksanaan takbir muqayyad di belakang shalat lima waktu (termasuk shalat Jum’at), terdapat beberapa pendapat, di antaranya:
  1. Setelah imam salam, terlebih dahulu ia beristighfar dan membaca: اللَّهُمَّ أَنْتَ السَّلاَمُ …. الخ
    Allahumma antas salam …. dst.
    Setelah itu, ia bergeser dari arah kiblat kemudian bertakbir. Hal ini karena kedua zikir tersebut lebih melekat dengan shalat daripada takbir.
    Pendapat ini yang dipilih oleh Ibnu ‘Utsaimin. Inilah pendapat terkuat, insya Allah.
  2. Setelah imam salam, ia langsung bertakbir dengan tetap menghadap ke kiblat. Setelah itu baru ia membaca zikir shalat tersebut.
  3. Jika imam telah salam, ia langsung bergeser dari arah kiblat kemudian bertakbir. Setelah itu ia baru membaca zikir shalat tersebut.11
Inilah yang dapat kami terangkan dalam masalah ini, wallahu a’lam. Semoga Allah k memberi kita hidayah dan taufik untuk mengetahui al-haq serta mengamalkannya.

Catatan Kaki:
  1. Lihat kitab al-Mughni (3/287), Syarhu Muslim lin-Nawawi (6/Kitab Shalatul ‘Idain pada Bab “Dzikri Ibahati Khuruji an-Nisa’ fil ‘Idain”), Majmu’ al-Fatawa (24/221), dan Tafsir Ibni Katsir (pada tafsir al-Baqarah: 185)
  2. Lihat kitab Irwa’ al-Ghalil no. 953.
  3. Pada sebagian jalan riwayat hadits ini ada tambahan lafadz:
    فَأَكْثِرُوا فِيهِنَّ التَّهْلِيلَ وَالتَّحْمِيدَ وَالتَّكْبِيرَ.
    “Maka dari itu, perbanyaklah membaca tahlil, tahmid, dan takbir di hari-hari itu!”
    Namun, tambahan riwayat ini dha’if (lemah), dinyatakan lemah oleh al-Hafizh Ibnu Hajar t dalam Fathul Bari (2/Kitab al-‘Idain pada Bab “Fadhli al-‘Amal fi Ayyam at-Tasyriq”) dan al-Muhaddits al-Albani t dalam Dha’if at-Targhib wat Tarhib no. 735.
  4. Ibnu Hajar tidak menemukan riwayat maushul (sanad yang bersambung) dalam periwayatan atsar ini. Al-Albani menyatakannya sahih dalam al-Irwa’ no. 651. Wallahu a’lam.
  5. Yaitu hari ‘Idul Adha dan hari-hari tasyriq.
  6. Yaitu hari ‘Idul Adha dan hari-hari tasyriq.
  7. Adapun hadits Jabir bin ‘Abdillah c yang menyebutkan bahwa seusai Nabi n melaksanakan shalat subuh di hari Arafah, beliau menghadap kepada para sahabat dan bertakbir hingga akhir hari tasyriq, tidak bisa dijadikan hujjah sama sekali. Hadits tersebut diriwayatkan oleh ad-Daraquthni dan lainnya, dihukumi dha’if jiddan (sangat lemah) oleh al-Albani. Pada sanadnya terdapat rawi bernama ‘Amr bin Syamr dari kalangan orang-orang yang rusak (binasa), haditsnya sangat lemah dan munkar (keliru/ganjil). Bahkan, ada yang menjarahnya sebagai penyeleweng dan pendusta. Selain itu, pada sanadnya ada Jabir al-Ju’fi yang juga lemah. Lihat al-Irwa’ no. 653.
  8. Lihat kitab Fathul Bari (2/Kitab al-‘Idain pada Bab “At-Takbir Ayyama Mina”).
  9. Amir (gubernur) Madinah pada masa pemerintahan Abdul Malik bin Marwan, sebagaimana dalam Fathul Bari.
  10. Adapun pendapat yang mengatakan bahwa takbir mutlak hanya sampai imam selesai dari khutbah ‘Idul Adha dan setelahnya yang ada hanyalah takbir muqayyad, ini adalah pendapat yang marjuh (lemah).
    Lihat kitab al-Mughni (3/291—292, 294) terbitan Dar ‘Alam al-Kutub, al-Majmu’ (5/39—45, 46—47), Majmu’ al-Fatawa (24/220, 225—228), Fathul Bari (2/Kitab al-‘Idain pada Bab “Fadhli al-‘Amal fi Ayyam at-Tasyriq” dan Bab “At-Takbir Ayyama Mina”), al-Inshaf (2/435—437), Majmu’ Fatawa Ibni Baz (13/18—19), asy-Syarh al-Mumti’ (5/215—216, 222) terbitan Muassasah Asam.
  11. Lihat kitab al-Inshaf (2/437) dan asy-Syarh al-Mumti’ (5/216).


T : Bunda, mengapa pada hari  tasyrik kita dilarang berpuasa ?
J : baca kembali artikel diatas

T : izin bertanya ustazah. Misalnya kita punya rizki tapi punya anak yang belum aqiqah, mana yang sebaiknya di dahulukan berqurban atau aqiqah? Mengingat kalau untuk qurban nantinya tidak cukup untuk aqiqah. Sunnahnya aqiqah kan tanggal 7,14, 21 ya ustadzah tapi waktu tinggal tersebut belum ada rizkinya. Mohon pencerahannya ustazah? jazakillah.
J : keduanya adalah kebaikan tidak usah dibenturkan kalau belum aqiqah lakukan aqiqah bila ada kelebihan rizki berikutnya baru berqurban



~~~~~~~~~~~~~~~~
Selanjutnya, marilah kita tutup kajian kita dengan bacaan istighfar 3x
Doa robithoh dan kafaratul majelis

Astaghfirullahal' adzim 3x

Do'a Rabithah
Allahumma innaka ta'lamu anna hadzihil qulub,
qadijtama-at 'alaa mahabbatik,
wal taqat 'alaa tha'atik,
wa tawahhadat 'alaa da'watik,
wa ta ahadat ala nashrati syari'atik.
Fa watsiqillahumma rabithataha,
wa adim wuddaha,wahdiha subuulaha,wamla'ha binuurikal ladzi laa yakhbu,
wasy-syrah shuduroha bi faidil imaanibik,
wa jami' lit-tawakkuli 'alaik,
wa ahyiha bi ma'rifatik,
wa amitha 'alaa syahaadati fii sabiilik...
Innaka ni'mal maula wa ni'man nashiir.

Artinya :
Ya Allah, sesungguhnya Engkau mengetahui bahwa sesungguhnya hati-hati kami ini,
telah berkumpul karena cinta-Mu,
dan berjumpa dalam ketaatan pada-Mu,
dan bersatu dalam dakwah-Mu,
dan berpadu dalam membela syariat-Mu.
Maka ya Allah, kuatkanlah ikatannya,
dan kekalkanlah cintanya,
dan tunjukkanlah jalannya,
dan penuhilah ia dengan cahaya yang tiada redup,
dan lapangkanlah dada-dada dengan iman yang berlimpah kepada-Mu,
dan indahnya takwa kepada-Mu,
dan hidupkan ia dengan ma'rifat-Mu,dan matikan ia dalam syahid di jalan-Mu.Sesungguhnya Engkau sebaik-baik pelindung dan sebaik-baik penolong.
Aamiin...    

DOA PENUTUP MAJELIS
سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوْبُ إِلَيْكَ
Subhanaka Allahuma wabihamdika asyhadu alla ilaha illa anta astaghfiruka wa atubu ilaik.Artinya:“Maha suci Engkau ya Allah, dan segala puji bagi-Mu. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan melainkan Engkau. aku mohon ampun dan bertaubat kepada-Mu.”
Aamiin ya Rabb.

======================
Website: www.hambaAllah.net
FanPage : Kajian On line-Hamba Allah
FB : Kajian On Line-Hamba Allah
Twitter: @kajianonline_HA
IG: @hambaAllah_official

Thanks for reading & sharing Kajian On Line Hamba اللَّهِ SWT

Previous
« Prev Post

0 comments:

Post a Comment

Ketik Materi yang anda cari !!

Kajian On Line Hamba اللَّهِ SWT