Home » , , » MAKNA NIFAS (SI Pekan 4 Agustus)

MAKNA NIFAS (SI Pekan 4 Agustus)

Posted by Kajian On Line Hamba اللَّهِ SWT on Saturday, December 16, 2017

Image result for nifas
REKAP MATERI KAJIAN ONLINE HAMBA ALLAH LINK G1&G2
Hari/Tgl : 23 Agustus 2017
Materi : NIFAS
Narsum :Ustadzah RINI
Editor : Sapta

-----------------------------------

MAKNA NIFAS


Nifas ialah darah yang keluar dari rahim disebabkan kelahiran, baik bersamaan dengan kelahiran itu, sesudahnya atau sebelumnya (2 atau 3 hari) yang disertai dengan rasa sakit.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan: “Darah yang dilihat seorang wanita ketika mulai merasa sakit adalah nifas.” Beliau tidak memberikan batasan 2 atau 3 hari. Dan maksudnva yaitu rasa sakit yang kemudian disertai kelahiran. Jika tidak, maka itu bukan nifas.

Para ulama berbeda pendapat tentang apakah masa nifas itu ada batas minimal dan maksimalnya. Menurut Syaikh Taqiyuddin dalam risalahnya tentang sebutan yang dijadikan kaitan hukum oleh Pembawa syari’at, halaman 37 Nifas tidak ada batas minimal maupun maksimalnya. Andaikata ada seorang wanita mendapati darah lebih dari 40,60 atau 70 hari dan berhenti, maka itu adalah nifas. Namun jika berlanjut terus maka itu darah kotor, dan bila demikian yang terjadi maka batasnya 40 hari, karena hal itu merupakan batas umum sebagaimana dinyatakan oleh banyak hadits.”

Atas dasar ini, jika darah nifasnya melebihi 40 hari, padahal menurut kebiasaannya sudah berhenti setelah masa itu atau tampak tanda-tanda akan berhenti dalam waktu dekat, hendaklah si wanita menunggu sampai berhenti. Jika tidak, maka ia mandi ketika sempurna 40 hari karena selama itulah masa nifas pada umumnya. Kecuali, kalau bertepatan dengan masa haidnya maka tetap menunggu sampai habis masa haidnya. Jika berhenti setelah masa (40 hari) itu, maka hendaklah hal tersebut dijadikan sebagai patokan kebiasaannya untuk dia pergunakan pada masa mendatang.

Namun jika darahnya terus menerus keluar berarti ia mustahadhah. Dalam hal ini,hendaklah ia kembali kepada hukum-hukum wanita mustahadhah yang telah dijelaskan pada pasal sebelumnya. Adapun jika si wanita telah suci dengan berhentinya darah berarti ia dalam keadaan suci, meskipun sebelum 40 hari. Untuk itu hendaklah ia mandi, shalat, berpuasa dan boleh digauli oleh suaminya.Terkecuali, jika berhentinya darah itu kurang dari satu hari maka hal itu tidak dihukumi suci. Demikian disebutkan dalam kitab Al-Mughni.

Nifas tidak dapat ditetapkan, kecualijika si wanita melahirkan bayi yang sudah berbentuk manusia. Seandainya ia mengalami keguguran dan janinnya belum jelas berbentuk manusia maka darah yang keluar itu bukanlah darah nifas, tetapi dihukumi sebagai darah penyakit. Karena itu yang berlaku baginya adalah hukum wanita mustahadhah.

Minimal masa kehamilan sehingga janin berbentuk manusia adalah 80 hari dihitung dari mulai hamil, dan pada umumnya 90 hari. Menurut Al-Majd Ibnu Taimiyah, sebagaimana dinukil dalam kitab Syarhul Iqna’: “Manakala seorang wanita mendapati darah yang disertai rasa sakit sebelum masa (minimal) itu, maka tidak perlu dianggap (sebagai nifas). Namun jika sesudahnya, maka ia tidak shalat dan tidak puasa. Kemudian, apabila sesudah kelahiran temyata tidak sesuai dengan kenyataan maka ia segera kembali mengerjakan kewajiban; tetapi kalau tidak teryata demikian, tetap berlaku hukum menurut kenyataan sehingga tidak pedu kembali mengerjakan kewajiban”

HUKUM-HUKUM NIFAS

Hukum-hukum nifas pada prinsipnya sama dengan hukum-hukum haid, kecuali dalam beberapa hal berikut ini:

  1. Iddah. dihitung dengan terjadinya talak, bukan dengan nifas. Sebab, jika talak jatuh sebelum isteri melahirkan iddahnya akan habis karena melahirkan bukan karena nifas. Sedangkan jika talak jatuh setelah melahirkan, maka ia menunggu sampai haid lagi, sebagaimana telah dijelaskan.   
  2. Masa ila’. Masa haid termasuk hitungan masa ila’, sedangkan masa nifas tidak. Ila’ yaitu jika seorang suami bersumpah tidak akan menggauli isterinya selama-lamanya, atau selama lebih dari empat bulan. Apabila dia bersumpah demikian dan si isteri menuntut suami menggaulinya, maka suami diberi masa empat bulan dari saat bersumpah. Setelah sempurna masa tersebut, suami diharuskan menggauli isterinya, atau menceraikan atas permintaan isteri. Dalam masa ila’ selama empat bulan bila si wanita mengalami nifas, tidak dihitung terhadap sang suami, dan ditambahkan atas empat bulan tadi selama masa nifas. Berbeda halnya dengan haid, masa haid tetap dihitung terhadap sang suami. 
  3. Baligh. Masa baligh terjadi dengan haid, bukan dengan nifas. Karena seorang wanita tidak mungkin bisa hami sebelum haid, maka masa baligh seorang wanita terjadi dengan datangnya haid yang mendahului kehamilan. 
  4. Darah haid jika berhenti lain kembali keluar tetapi masih dalam waktu biasanya, maka darah itu diyakini darah haid. Misalnya, seorang wanita yang biasanya haid delapan hari, tetapi setelah empat hari haidnya berhenti selama dua hari, kemudian datang lagi pada hari ketujuh dan kedelapan; maka tak diragukan lagi bahwa darah yang kembali datang itu adalah darah haid. 
  5. Adapun darah nifas, jika berhenti sebelum empat puluh hari kemudian keluar lagi pada hari keempat puluh, maka darah itu diragukan. Karena itu wajib bagi si wanita shalat dan puasa fardhu yang tertentu waktunya pada waktunya dan terlarang baginya apa yang terlarang bagi wanita haid, kecuali hal-hal yang wajib. Dan setelah suci, ia harus mengqadha’ apa yang diperbuatnya selama keluarya darah yang diragukan, yaitu yang wajib diqadha’ wanita haid. Inilah pendapat yang masyhur menunut para fuqaha ‘ dari Madzhab Hanbali.
Yang benar, jika darah itu kembali keluar pada masa yang dimungkinkan masih sebagai nifas maka termasuk nifas. Jika tidak, maka darah haid. Kecuali jika darah itu keluar terus menerus maka merupakan istihadhah. Pendapat ini mendekati keterangan yang disebutkan dalam kitab Al-Mughni’ bahwa Imam Malik mengatakan: “Apabila seorang wanita mendapati darah setelah dua atau tiga hari, yakni sejak berhentinya, maka itu termasuk nifas. Jika tidak, berarti darah haid.” Pendapat ini sesuai dengan yang dipilih oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah.

Menurut kenyataan, tidak ada sesuatu yang diragukan dalam masalah darah. Namun, keragu-raguan adalah hal yang relatif, masing-masing orang berbeda dalam hal ini sesuai dengan ilmu dan pemahamannya. Padahal Al-Qur’an dan Sunnah berisi penjelasan atas segala sesuatu.

Allah tidak pernah mewajibkan seseorang berpuasa ataupun thawaf dua kali, kecuali jika ada kesalahan dalam tindakan pertama yang tidak dapat diatasi kecuali dengan mengqadha’. Adapun jika seseorang dapat mengerjakan kewajiban sesuai dengan kemampuannya maka ia telah terbebas dari tanggungannya. Sebagaimana firman Allah:

لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا

“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupan.. ” [Al-Baqarah/2: 286]

فَاتَّقُوا اللَّهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ

“Maka bertakwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu …” [At-Taghabun/64: 16]
  
6.     Dalam haid, jika si wanita suci sebelum masa kebiasaannya, maka suami boleh dan tidak terlarang menggaulinya. Adapun dalam nifas, jika ia suci sebelum empat puluh hari maka suami tidak boleh menggaulinya, menurut yang masyhur dalam madzhab Hanbali. 
Yang benar, menurut pendapat kebanyakan ulama, suami tidak dilarang menggaulinya. Sebab tidak ada dalil syar’i yang menunjukkan bahwa hal itu dilarang, kecuali riwayat yang disebutkan Imam Ahmad dari Utsman bin Abu Al-Ash bahwa isterinya datang kepadanya sebelum empat puluh hari, lalu ia berkata: “Jangan kau dekati aku !”.

Ucapan Utsman tersebut tidak berarti suami terlarang menggauli isterinya karena hal itu mungkin saja merupakan sikap hati-hati Ustman, yaknik hawatir kalau isterinya belum suci benar, atau takut dapat mengakibatkan pendarahan disebabkan senggama atau sebab lainnya.

Wallahu a ‘lam.


==============

TANYA JAWAB


T : Assalamu'alaykum Ustadzah syukron katsir atas ilmunya. Izin bertanya di saat wanita mau melahirkan suka terjadi pendarahan dahulu, menurut materi di atas termasuk darah rusak, bagaimana dengan sholat dan puasanya jika kebetulan itu di bulan Ramadhan?
J : Wa'alaykumussalam, Jika keluarnya darah diiringi rasa sakit,biasanya mendekati lahiran 2/3 Hari saat mulai Ada kontraksi maka sudah bisa disebut darah nifas. Jika sudah terhitung nifas,maka terhalang shalat Dan puasanya sebagaimana hukum yang berlaku terhadap haid(rukhsoh)


T : Waktu nifas kemarin.. nifas saya selang seling.. Kadang bersih di celana, tapi ketika diperiksa dalam pakai kapas masih ada bercak coklat. Kadang hanya ada setetes lendir coklat.., karena keluarnya tidak tentu dalam sehari. Bagaimana cara kita mengatur waktu mandi? Bolehkah menunggu sampai sore atau malam untuk.memastikan bersih dan tidaknya?
J : Kalau masih belum 40 hari, sebaiknya dengan yang selang seling tersebut bersabar Bunda, bersabar menunggu benar-benar bersih karena mandi jugà mempengaruhi keluarnya darah, setelah mandi biasanya peredaran darah lebih lancar. Jadi jika belum benar-benar selesai masa haid maupun nifas maka biasanya darah akan keluar kembali. Sambil kita perhatikan kebiasaan masing masing menurut hitungan hari (ini jugà berlaku ketika haid, supaya tidak sering bingung).


T : Assalamualaikum ustadzah izin bertanya, pasca lahiran kemarin saya dapat buku panduan mendidik anak dari RS, ada bab tentang nifas,  disitu dijelaskan bahwa masa nifas 40 hari jika masih keluar darah lebih dari itu maka disebut istihadhoh dan wajib sholat. Sedangkan saya ragu ustadzah, saya sudah mandi saat 40 hari kemudian keluar darah lagi hingga hari ke 55. itu gimana ya ustadzah? apa saya dosa karena saya tidak sholat setelah hari ke 40 itu? Lalu setelah benar-benar bersih saya suci di hari ke 55 ustadzah,  seminggu saya sudah sholat,  ehh kemudian keluar darah lagi,  asumsi saya itu darah haid tapi kok tidak seperti biasanya keluar darahnya,  apa betul itu haid ustadzah? dan apakah ada pengaruh dari masa nifas ya sehingga darah haid saya tidak sebanyak sebelum saya melahirkan?
J : Wa'alaykumussalam. Dari materi diatas, disampaikan bahwa nifas bisa Sampai 70 hari, akan tetapi kebiasaan umum yang terjadi pada wanita dan jumhur ulama menyatakan bahwa batasan 40 hari adalah yang paling pas. Jika lebih dari itu, kemungkinan lanjut haid, tinggal melihat kuantitas dan warnanya. Biasanya semakin mendekati 40 hari darah yang keluar semakin sedikit, jika setelah itu banyak lagi maka kemungkinan lanjut hair. Asalkan warnanya sama seperti darah haid/nifas. Bunda sekalian sudah mengenali warnanya bukan? Wallahua'lam


T : Ustadzah bila kita mengalami masa istihadhah sudah boleh melaksanakan sholat tidak?
J : Istihadah tidak menghalangi seseorang untuk melaksanakan kewajiban fardhu


T : Menyambung Ustadzah apakah yang sedang istihadah bila mau solat harus mandi hadas dahulu?
J : Karena istihadhah keluarnya tidak bisa ditentukan kecuali setelah diobati maka cukup dengan membasuhnya setiap kali hendak sholat, berwudhu dan mengantisipasi dengan memberikan pelapis. Wallahua'lam.
Dalilnya, dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata: ‘Fatimah binti Abi Hubaisy datang kepada Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam seraya berkata: ‘Ya Rasulullah, sesungguhnya aku adalah wanita yang selalu haid, maka aku tidak pernah suci, apakah aku harus meninggalkan shalat?
Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda: ‘Tidak, sesungguhnya itu adalah urat (pembuluh darah), bukan haid. Oleh karena itu bila tiba masa haidmu maka tinggalkanlah shalat, dan apabila berlalu (masa haidmu) maka bersihkanlah darah darinya, kemudian berwudhu untuk setiap shalat sampai datang waktu itu (tiba masa kebiasaan haid)” (HR. al-Bukhari 320, 325, 331 dan Muslim 333)


T : Afwan ustadzah, jika wanita dalam keadaan nifas mengingat lamanya masa nifas tersebut, bagaimana agar tetap melaksanakan beribadah seperti berqurban, berhaji atau moment ibadah lain yang spesial? jazakillah ustadzah
J : Untuk ibadah Qurban masih bisa dilaksanakan meskipun dalam kondisi tersebut Bunda. yang tidak boleh terkait ibadah wajibnya. Jika tetap ingin beribadah, banyak ibadah-ibadah yang sunnah yang masih bisa dilkukan, dzikir, sedekah dan lain-lain. In syaa Allah jika dilakukan dengan ikhlas, akan menjadi pemberat Timbangan amal


T :
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته, Ustadzah bila haid sampai 21 hari lamanya darah keluar apakah itu normal? Dan dari hari pertama haid di bulan ini ke ke bulan berikutnya (siklus) 35 hari. Apakah juga normal? Dan berapa harikah lama darah keluar itu yang normal? Dan siklus normalnya berapa hari?
J : Pendapat yang rajih Masa haid +-15 hari, Akan tetapi jika kondisi yang Bunda alami sudah menjadi kebiasaan Bunda maka asih terhitung darah haid. Yang paling penting, kita harus bisa mengenali bagaimana darah haid itu, warna, bau dan kebiasaan. Karena darah istihadah berbeda dengan darah haid, warna serta baunya jugà berbeda. Wallahua'lam


T : Kalau darah normal memamg tidak berbau ya ustadzah, warnanya merah segar, sedangkan darah mens atau nifas memang cenderung kehitaman, berbau dan lama-lama berwarna coklat?
J : Jika Kita mengenali darah yang kluar dari tubuh kita, in syaa Allah kita akan bisa membedakan apakah kita sedang haid, nifas, ataupun istihadhah.


T : Ustadzah, darah nifas apa juga dialami wanita yang keguguran di awal-awal kehamilan? hukum dan tata caranya berlaku pula seperti nifas nya wanita yang melahirkan ya?
J : Tidak sama. Dihukumi darah nifas jika janin sudah berbentuk manusia (>80 Hari dalam proses perkembangan janin). Wallahua'lam.


T : ijin bertanya ustadzah.. titipan dari adik saya disini yang tidak mau disebut namanya. Beliau masih belum menikah. Haid normal seperti umumnya kita 7-8 hari, tapi setelah haid timbul bercak hitam diluar masa haid sampai 2 bulan tidak berhenti. Kalau masa haid darah normal berwarna merah kecoklatan atau merah segar, bagaimana beliau harus bersuci jika kondisinya demikian ustadzah? jazakillah khoyir ustadzah.
J : Jika lebih 15 Hari apalagi bulanan sebaiknya segera diperiksa ke dokter karena termasuk darah istihadhah. Lebih baik segera ditangani secara medis juga meningkatkan ruhiyah (dzikir, ruqyah pribadi, tilawah dan lain-lain). Seperti yang saya sampaikan sebelumnya bersuci ketika selesai haid setelah itu basuh dan antisipasi dengan pelapis sebelum shalat. Wallahua'lam
Rukhsoh untuk tidak melaksanakan ibadah wajib hanya jika ada penyebab yang mengharukan untuk meninggalkannya, selanjutnya menjalankan kewajiban seperti biasa. Normalnya kan 7-8 hari, setelah bersuci meskipun ada bercak hitam setiap harinya tetap harus melakukan sholat 5 waktu dengan cara yang sudah disampaikan sebelumnya. Wallahua'lam.

Baiklah bunda, ustadzah, mohon kiranya kami diberikan sedikit nasehat agar sll semangat tholabul ilmi tak kenal lelah.

 
Kesimpulan :
Thoyyib. Allah yang Maha memberi rizki telah memberikan banyak nikmat kepada kita, melihat, mengunyah, berkedip, berbicara dan masih banyak nikmat lain yang Allah berikan sebagai wujud kasih sayangNya kepada kita. Jangan sampai kita "menukar" sayang Allah dengan sekedar menurutkan hawa nafsu (senda gurau, santai, ghibah, banyak makan dan lain-lain). Tingkatkan kualitas syukur dengan memperbanyak amal. Amal tidak akan bertambah jika ilmu tidak bertambah dalam diri kita. Semoga Bunda-bunda Shalihah senantiasa Allah berikan kelapangan Hati Dan waktu untuk senantiasa memahami ilmu ilmuNya.


~~~~~~~~~~~~~~~~

Selanjutnya, marilah kita tutup kajian kita dengan bacaan istighfar 3x
Doa robithoh dan kafaratul majelis

Astaghfirullahal' adzim 3x

Do'a Rabithah
Allahumma innaka ta'lamu anna hadzihil qulub,
qadijtama-at 'alaa mahabbatik,
wal taqat 'alaa tha'atik,
wa tawahhadat 'alaa da'watik,
wa ta ahadat ala nashrati syari'atik.
Fa watsiqillahumma rabithataha,
wa adim wuddaha,wahdiha subuulaha,wamla'ha binuurikal ladzi laa yakhbu,
wasy-syrah shuduroha bi faidil imaanibik,
wa jami' lit-tawakkuli 'alaik,
wa ahyiha bi ma'rifatik,
wa amitha 'alaa syahaadati fii sabiilik...
Innaka ni'mal maula wa ni'man nashiir.

Artinya :
Ya Allah, sesungguhnya Engkau mengetahui bahwa sesungguhnya hati-hati kami ini,
telah berkumpul karena cinta-Mu,
dan berjumpa dalam ketaatan pada-Mu,
dan bersatu dalam dakwah-Mu,
dan berpadu dalam membela syariat-Mu.
Maka ya Allah, kuatkanlah ikatannya,
dan kekalkanlah cintanya,
dan tunjukkanlah jalannya,
dan penuhilah ia dengan cahaya yang tiada redup,
dan lapangkanlah dada-dada dengan iman yang berlimpah kepada-Mu,
dan indahnya takwa kepada-Mu,
dan hidupkan ia dengan ma'rifat-Mu,dan matikan ia dalam syahid di jalan-Mu.
Sesungguhnya Engkau sebaik-baik pelindung dan sebaik-baik penolong.
Aamiin...    

DOA PENUTUP MAJELIS
سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوْبُ إِلَيْكَ

Subhanaka Allahuma wabihamdika asyhadu alla ilaha illa anta astaghfiruka wa atubu ilaik.Artinya:“Maha suci Engkau ya Allah, dan segala puji bagi-Mu. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan melainkan Engkau. aku mohon ampun dan bertaubat kepada-Mu.”
Aamiin ya Rabb.

======================
Website: www.hambaAllah.net
FanPage : Kajian On line-Hamba Allah
FB : Kajian On Line-Hamba Allah
Twitter: @kajianonline_HA
IG: @hambaAllah_official

Thanks for reading & sharing Kajian On Line Hamba اللَّهِ SWT

Previous
« Prev Post

0 komentar:

Post a Comment

Ketik Materi yang anda cari !!

Artikel Baru