Home » , , » MENGAMBIL HIKMAH DARI SYARI’AT IED ADHA

MENGAMBIL HIKMAH DARI SYARI’AT IED ADHA

Posted by Kajian On Line Hamba اللَّهِ SWT on Thursday, December 7, 2017

Image result for hikmah syariat idul adha
Notulensi Kajian Online Hammba Allah G-5
Hari/tgl : Selasa, 29 Agustus 2017
Materi : Hikmah Idul Adha
Narasumber : Ustadz Doli
Admin :Saydah,Nining Hangesti
Notulen :Saydah
Editor : Sapta
_______________________________

MENGAMBIL HIKMAH DARI SYARI’AT IED ADHA


Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar… Wa Lillahil-hamd
Hadirin, jamaah Iedul Adha yang dimuliakan Allah,
Panggilan Allah telah menyapa,………. Kalimat talbiyah terus bergema,
Takbir, tahmid dan tahlil tak henti membahana…. Memuji kesucian dan ketinggian-Nya.

Segala puji hanya layak kita panjatkan untuk-Nya, zat yang menguasai kerajaan langit dan bumi. Dialah Allah yang hanya kepada-Nya segala ketinggian cinta dan pengorbanan kita persembahkan.

Hari ini milyaran umat Islam di seluruh dunia merayakan hari yang agung, hari raya Iedul Adha 1438 H. Dan di saat yang sama, lebih dari 2 juta umat Islam dari segala penjuru dunia berkumpul di Makkah Al-Mukarramah untuk memuji kebesarannya dalam upaya menunaikan suatu kewajiban sebagaimana yang difirmankan Allah SWT:

Artinya: “Dan Allah mewajibkan atas manusia haji ke Baitullah bagi orang yang mampu mengerjakannya”. (QS.Ali ‘Imran: 97)

Suara tangis haru dan ta’zhim ketika menatap ka’bah turut menghiasi kalimat-kalimat talbiyah para jamaah haji. Bagi kita yang belum merasakan suasana haji, seolah tak kuasa membendung air mata dan ingin segera merasakan betapa indahnya getar kerinduan ketika berada di Raudhah, makam nabi kita nabiyyullah Muhammad SAW. Kalimat talbiyah itupun seakan-akan terdengar sampai di tempat ini dan terus menggugah keimanan kita untuk ikut merengkuh mabrur di tanah suci Makkah.


Jama’ah Iedul Adha rahimakumullah,

Idul Adha sesungguhnya adalah momentum bagi setiap pribadi muslim untuk mengambil hikmah atas syari’at haji yang telah diwariskan oleh Nabi Ibrahim AS. Khususnya saat ini, di kala umat Islam sedang mengalami berbagai problematika kekinian, maka patutlah kiranya kita melakukan napak tilas kembali dengan harapan dapat diwujudkan dalam kehidupan kita.

Setidaknya ada 3 (tiga) hikmah yang bisa kita ambil dari syari’at haji.


Ukhuwah Islamiyah (Persaudaraan Islam)

Kaum muslimin yang menunaikan ibadah haji di tanah suci diwajibkan mengenakan pakaian ihram tanpa jahitan. Nuansa putih yang mendominasi pemandangan selama di Mekkah menjadi fenomena yang khas dalam ritual ibadah haji. Saat di miqat, di tempat dimana ritual ibadah haji dimulai, perbedaan dan pembedaan pakaian harus ditanggalkan. Semua memakai pakaian yang sama. Pengaruh-pengaruh psikologis dari pakaian harus ditanggalkan, hingga semua merasa dalam satu kesatuan dan persamaan. Tak ada lagi perbedaan dari sisi penampilan antara pejabat dan rakyat, antara raja dan jelata, antara si kaya dan miskin. Semuanya terlihat setara dengan pakaian yang tidak lagi menjadi simbol status sosial. Raja yang biasa mengenakan mahkotanya, harus menanggalkannya. Pejabat yang selalu memakai jas, tak lagi dapat mengenakannya. Si kaya yang biasanya mengenakan pakaian yang mahal, tak dapat lagi memakainya dengan kebanggaannya.

Dengan mengenakan dua helai pakaian berwarna putih-putih, seorang yang melaksanakan ibadah haji akan merasakan jiwanya dipengaruhi oleh pakaian ini. Ia akan selalu merasakan kelemahan dan keterbatasannya, serta pertanggungjawabannya kelak di hadapan Allah SWT. Ihram dapat disimbolkan sebagai bentuk persamaan derajat kemanusiaan. Persamaan dan kesetaraan itulah yang menumbuhkan semangat persaudaraan umat Islam. Tak ada sekat-sekat pemisah yang kerap menjadi hambatan bagi terwujudnya persatuan dan persaudaraan kaum muslimin. Faktor jabatan, kekayaan, perbedaan organisasi, perbedaan suku, dan status sosial lainnya yang tidak disadari, terkadang mampu menumbuhkan sikap superior dan inferior di kalangan umat Islam, hal ini tidak dikenal saat berhaji.

Dalam kehidupan umat Islam dewasa ini terkadang begitu sulit untuk menghindarkan diri dari perbedaan amal peribadatan kita. Perbedaan paham yang kerap terjadi di kalangan umat Islam telah menjadi sebuah keniscayaan yang telah lama dikabarkan oleh Rasulullah, namun perbedaan itu tidak boleh menghancurkan sendi-sendi persaudaraan kita sebagai sesama muslim. Perbedaan adalah sebuah keniscayaan yang harus disikapi secara bijak berdasarkan Alquran dan sunnah nabi SAW.

Allah SWT berfirman dalam QS. Huud ayat 118-119 yang artinya: “Jikalau Tuhanmu menghendaki, tentu Dia menjadikan manusia umat yang satu, tetapi mereka senantiasa berselisih pendapat, kecuali orang-orang yang diberi rahmat oleh Tuhanmu”.

Mereka yang mampu menjaga sikapnya sebagai seorang muslim dalam menghadapi perbedaan di antara umat Islam, merekalah yang berhak meraih rahmat atau kasih sayang Allah seperti yang terkandung dalam ayat tersebut. Namun sebaliknya mereka yang menjadi pemicu percerai-beraian karena sikap sentimen yang tidak terkendali hingga saling menyesatkan bahkan mengkafirkan, mereka inilah yang menjadi sumber masalah di tengah umat Islam. Kita tidak boleh terjebak dalam sikap dan tindakan yang ‘maunya menang sendiri’, merasa benar sendiri dan orang lain salah, tapi justru karena meyakini kebenaran mutlak hanya milik Allah SWT maka harusnya yang muncul adalah sikap saling menghargai. Mari kita bekerjasama, bergandeng-tangan pada hal yang kita sepakati dan mari kita saling menghormati jika ada yang berbeda diantara kita.

Kita tidak boleh pula terseret oleh arus perpecahan, tetapi justru harus menguatkan persaudaraan dengan menghargai pendapat yang berbeda serta menghormati dan mencintai saudara kita yang tidak sependapat khususnya dalam wilayah khilafiyah fiqhiyah ijtihadiyah.

Simaklah dan renungkan firman Allah SWT: “Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai….” (QS.Ali Imran (3): 103)

Jadi dalam Islam TEGAS, bahwa bersatu adalah WAJIB hukumnya dan berpecah belah, bercerai-berai, HARAM hukumnya. Dalam masalah khilafiyah, kita harus saling menghargai untuk menjadikan perbedaan itu menjadi sebuah rahmat, tetapi pada perkara yang prinsip dalam Islam tentang masalah aqidah, maka kita harus tegas, menolak sesuatu yang telah nyata sesat aqidahnya, siapapun pelakunya.

Allahu Akbar 3x Walillahilhamdu…
Jama’ah Iedul Adha rahimakumullah,

Mujahadah bisy-Syari’ah (Kesungguhan dalam Bersyariat)

Pelaksanaan ibadah haji diawali dengan ihram dan diakhiri dengan melakukan tahallul. Ini membawa pesan penting dalam kehidupan kita bahwa seorang muslim harus senantiasa berkomitmen sungguh-sungguh dalam batasan-batasan syar’i khususnya pada perkara al-halal wal haram. Oleh karenanya pengetahuan tentang ilmu syariah menjadi perkara yang wajib dimiliki oleh setiap muslim. Tidak dibenarkan bagi setiap muslim hidup tanpa batas dengan mengabaikan pokok dan prinsip hukum syariah. Sama halnya dengan seorang yang beribadah haji ketika dia sedang ihram, maka tidak dibenarkan untuk melakukan hal-hal yang dilarang, bahkan perkara yang mubah pun menjadi larangan yang tidak boleh dilanggar seperti mengenakan penutup kepala bagi laki-laki dan mengenakan cadar bagi perempuan. Itulah konsekuensi dari pakaian ihram yang dikenakan. Demikian pula seorang muslim harus tunduk dan patuh terhadap setiap perkara yang diharamkan dan hanya beramal dengan apa yang dihalalkan Allah dalam kehidupan ini.

Dari An Nu’man bin Basyir radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata bahwa ia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda yang artinya:

“Sesungguhnya yang halal itu jelas dan yang haram pun jelas. Di antara keduanya terdapat perkara syubhat -yang masih samar- yang tidak diketahui oleh kebanyakan orang. Barangsiapa yang menghindarkan diri dari perkara syubhat, maka ia telah menyelamatkan agama dan kehormatannya. Barangsiapa yang terjerumus dalam perkara syubhat, maka ia bisa terjatuh pada perkara haram...” (HR. Bukhari – Muslim)

Potret wajah negeri kita menunjukkan bahwa betapa masih sulit bagi umat ini untuk menegakkan nilai-nilai syar’i dan bersikap tegas dalam perkara halal dan haram. Padahal penduduk negeri ini mayoritas sebagai muslim, meski semakin lama jumlahnya semakin berkurang. Mudah sekali kita menemukan perilaku-perilaku yang tidak syar’i dalam kehidupan umat Islam bahkan tidak mempedulikan lagi status halal-haramnya. Pergaulan bebas, kumpul kebo’, kos-kosan mesum yang tidak mempedulikan batasan syar’i yang berpotensi terjadinya pembauran antara laki-laki dan perempuan hingga perzinahan masih mudah ditemukan dimana-mana. Budaya malu sudah mulai luntur. Kejahatan lingkungan marak terjadi di mana-mana hingga menimbulkan dampak sosial yang kian hari kian parah. Narkoba tetap menjadi ancaman serius bagi anak-anak kita yang harus terus kita perangi. Dalam mencari nafkah pun terkadang kita masih sering melihat segelintir orang yang menggunakan cara-cara yang batil seperti mengurangi takaran, penipuan, hingga melakukan korupsi. Mereka berprinsip, mencari yang haram saja susah apalagi yang halal. Fenomena ini sudah dikabarkan oleh Rasulullah SAW dalam sabdanya:

“Akan datang suatu zaman dimana manusia tidak peduli apakah hartanya diperoleh dengan jalan halal atau haram.” (HR Bukhari)

Kesadaran tentang pentingnya kesungguhan dalam bersyariat harus terus kita bangun. Pembinaan umat harus terus digalakkan. Mari kita tegakkan revitalisasi gerakan hidup halal untuk masyarakat berkah.


Harakah Nahdhawiyah (Gerakan Kebangkitan)

Pelaksanaan ibadah haji begitu sarat dengan pergerakan. Dari satu tempat menuju ke tempat yang lain, dari satu rukun ke rukun haji yang lain. Sejak para jamaah haji mengawali memasuki miqat, dibarengi dengan mengenakan pakaian ihram, menuju Mekkah untuk melakukan thawaf, di bukit Shafa dan Marwah berlari-lari kecil untuk sa’i. Selanjutnya menuju Arafah untuk wukuf, kemudian mabit di Muzdalifah, dilanjutkan ke Mina untuk melontar jumroh dan kembali ke Mekkah untuk melakukan thawaf.

Begitulah prosesi ibadah haji yang begitu sarat dengan aktivitas yang dinamis sambil memperbanyak dzikir kepada Allah. Salah satu contoh ritual ibadah haji yang sarat makna itu adalah sa’i sebagai napak tilas apa yang pernah dilakukan oleh Hajar dalam kesulitannya menemukan sumber air di antara bukit Shafa dan Marwah. Hajar tidak duduk termangu menunggu keajaiban dari langit. Ia berlari ke sana ke mari dari satu bukit tandus ke bukit tandus lainnya mencari air. Ia tidak duduk termenung dan menangis tanpa daya. Ia gunakan segenap harapannya, kekuatannya, dan pikirannya dengan terus mencari, bergerak, dan berjuang tanpa henti. Sehingganya sa’i dapat disimbol-kan sebagai jiddiyah yaitu semangat perjuangan tanpa henti dan tak kenal lelah. Sedangkan thawaf merupakan simbolisasi ke-Ilahi-an yang universal. Jumroh merupakan simbolisasi perlawanan terhadap kebatilan dan wukuf di Arafah merupakan simbolisasi kearifan manusia.

Seperti halnya dinamika prosesi dalam ibadah haji maka seperti itu pula perjuangan umat Islam untuk mewujudkan khairu umat (umat terbaik). Cita-cita ini menjadi satu rangkaian utuh bersama terwujudnya kebangkitan Islam yang akan meneteskan embun-embun kebaikan dan kasih sayang di setiap jengkal bumi Allah. Islam yang kelak akan menjadi lokomotif bagi peradaban bangsa-bangsa di dunia. Itulah spirit moral yang harus terus tumbuh dan menjadi energi maknawi bagi setiap muslim sejati.

“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma`ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah…” (QS.Ali Imran (3): 110)

Langkah terpenting dari sebuah gerak kebangkitan adalah memulai dari diri sendiri (ishlahu fardu), lalu keluarga dan masyarakat. Kemudian, menyadari persoalan pokok umat saat ini yaitu kejahiliyahan yang melanda umat Islam dan marodhunnafs yakni aspek mentalitas kaum muslimin yang mengalami pelemahan potensi seperti melemahnya keberanian, melemahnya komitmen terhadap Islam, dan melemahnya ketaatan kepada Allah. Maka sudah sepatutnya setiap kita harus memiliki peran dan bergerak aktif di semua lini kehidupan, baik itu di lini pemerintahan, lembaga legislatif, ormas dan yayasan, maupun lembaga-lembaga pendidikan untuk melakukan perbaikan umat menuju transformasi peradaban yang menjadi cita-cita kita bersama.

Masih banyak anggota keluarga muslim yang buta terhadap ajaran agamanya sendiri, banyak pula kaum muslimin yang terperangkap dalam kubangan gaya hidup hedonis dan sekuler hingga membuat gerak kebangkitan ini terus mengalami pelambatan. Tak ada cara selain terus memacu dan memicu gerak kebangkitan kita agar terus melaju tanpa henti.

“Dan katakanlah: Bekerjalah kalian, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mu’min akan melihat pekerjaanmu itu…” (QS.At-Taubah: 105)

Allahu Akbar 3X, walillahilhamdu
Jama’ah ‘ied rahimakumullaah,

Itulah setidaknya, 3 (tiga) hikmah dari syari’at haji yang tentunya kita harapkan dapat terpateri secara implementatif dalam kehidupan keluarga dan masyarakat muslim. Iedul Adha adalah momentum terbaik untuk membangun semangat berkurban. Bahwa untuk menjadi pribadi yang bertaqwa maka untuk mencapainya perlu dengan pengorbanan. Bahkan surga, hanya dijanjikan oleh Allah SWT bagi hamba-hambaNya yang siap mengorbankan harta dan dirinya (QS.At-Taubah (9) ayat 111).

Oleh karena itu, agar ketiga pesan moral di atas tidak terhenti hanya pada simbolisasi tanpa implementasi, dan menjadikan kita umat mayoritas tapi tidak berkualitas, maka kesemuanya tentu harus bermuara pada sebuah pengorbanan nyata.

➔ Akankah kita siap mengorbankan keakuan dan sikap ashabiyyah (sentimen kelompok) kita demi terwujudnya ukhuwah islamiyah hingga sampai pada derajat itsar yakni mendahulukan saudara kita di atas segala kepentingan pribadi dan kelompok atau jamaah kita?

➔ Akankah juga kita siap mengorbankan syahwat hewaniyah kita demi sebuah ketaatan yang tanpa syarat terhadap segala perintah dan larangan Allah SWT kemudian mempertegas kembali pemahaman dan sikap kita terhadap perkara halal dan haram?

➔ Akankah juga kita siap berkorban untuk meninggalkan zona kenyamanan kita selama ini kemudian bergerak menuju pada sebuah sikap kepedulian terhadap urusan agama ini, mengorbankan sebagian waktu kita untuk berfikir dan bekerja demi kembalinya izzatul Islam wal muslimin?
Jika kita siap, maka itulah sesungguhnya hakekat qurban yang bernilai tinggi di sisi Allah SWT.
Allahu akbar walillaahil hamd!

Semoga Allah tidak hanya memudahkan jalan kita untuk menunaikan syariat haji ke tanah suci Makkah, namun sekaligus menuntun kita dengan taufiq-Nya agar dapat merekonstruksi hikmah qurban dan nilai-nilai ibadah haji dalam kehidupan kita.

Akhirnya marilah di akhir khutbah ini, dengan kerendahan hati kita doakan negeri ini beserta pemimpin dan rakyatnya agar senantiasa berada dalam naungan dan bimbingan Allah SWT.

===============
TANYA JAWAB

T : Apa wanita juga disuruh berpakaian dua helai saja Ustadz?
J : wanita tidak

T : Assalaamu'alaikum ustadz mau nanya, kalau kita mau ngorban, apa kita harus aqiqah dulu ustadz?
J : tidak, silakan qurban, titip kami juga boleh hehe, lebih utama sembelih sendiri.

T : Izin bertanya Pak Ustad. Apa sajakah syarat orang yang mau berkurban. Misalnya, bagi perempuan. Apa harus puasa tarwiyah & arofah, bagaimana jika karena kondisi tentu tidak bisa puasa?
J : Tidak ada syarat khusus untuk berqurban, beli hewan qurban yang terbaik yang kita bisa. Puasa Arafah adalah sunnah yang penting, jangan ditinggalkan, demikian juga qurban.

T : Ustadz mau tanya, bila kita sedang merantau ke luar negeri, ingin melakukan ibadah qurban, qurbannya itu d negara sendiri atau di luar negeri?
J : Paling utama adalah menyembelih sendiri. Namun menitipkan pada orang atau lembaga terpercaya juga boleh.

T : Ustadz mau nanya ya, apakah kurban satu kambing bisa untuk atas nama bapak ibu anak anak?
J : Fiqih Kurban (3): Penyembelihan, Pemanfaatan dan Distribusi Daging Kurban
Pada kajian kali ini kita akan mebahas tentang perkara yang terkait dengan penyembelihan hewan kurban, pemanfaatan dan distribusinya.
Sebelum itu perlu diketahui, ada sunah khusus bagi mereka yang sudah niat berkurban apabila masuk awal Dzulhijah hingga hewan kurban disembelih.
Yaitu dilarang memotong rambut dan kukunya. Hal ini berdasarkan hadits shahih “Jika masuk 10 hari pertama Dzulhijah, sedangkan...ada di antara kalian yang hendak berkurban, maka jangalah dia memotong rambut dan kukunya.” (HR. Muslim)

Para ulama berbeda pendapat tentang larangan ini, sebagian berpendapat sebagai perkara haram, sebagian lagi nyatakan makruh dan makruh lit tanzih. Makruh lit tanzih adalah makruh tapi lebih dekat kepada kebolehan daripada keharaman. Namun demikian, ditinggalkan lebih baik dan lebih hati-hati. Jika sudah masuk waktu penyembelihan, bagi pekurban yang mampu menyembelih, sebaiknya dia menyembelih sendiri hewan kurbannya.

Dalam riwayat shahih Rasulullah salallaahu ‘alaihi wa sallam berkurban dan beliau menyembelih langsung hewan kurbannya, beliau letakkan kakinya di atas hewan tersebut. Lalu menyembelihnya seraya mmbaca tasmiyah dan takbir; Bismillah Allahu Akbar. Namun jika tidak mampu menyembelih dapat diwakilkan orang yang mampu. Jika pekurban tidak dapat menyembelihnya para ulama menyatakan tetap disunahkan ikut menghadiri penyembelihan dan makan daging kurban bersama-sama.

Dalam proses penyembelihan hendaknya dipakai adab-adab yang disyariatkan. Pisau harus tajam, dilakukan secepat mungkin pada bagiannya. Jika hewannya banyak, hendaknya hewan yang lain yang belum disembelih tidak ditempatkan di tempat yang sama, atau setidaknya tidak melihatnya. Perlakukan hewan dengan sebaik mungkin, jangan berlaku kasar kepadanya, jangan menyakitinya. Pelajari teknik terbaik dalam masalah ini.

Setelah hewan disembelih, hendaknya biarkan dia sampai benar-benar jelas kematiannya dan darahnya telah keluar sebanyak-banyaknya. Tindakan yang kurang baik adalah jika hewan langsung dikuliti tanpa menunggu kematian sempurna dari hewan tersebut. Tunggu hingga mati sempurna. Bahkan ada juga yang langsung memotong kakinya atau memotong kulit kakinya dengan alasan tidak kabur, ini keliru. Setelah hewan kurban disembelih, dikuliti dan dipotong-potong, maka daging kurban siap dibagikan. Tidak ada aturan baku dalam masalah ini.

Kami ingatkan lagi, inti kurban adalah ibadah dan penghambaan kepada Allah dalam bentuk menyembelih hewan karena Allah, dia bukan seperti zakat. Maksudnya bagian dari hewan kurban, dapat dimakan sendiri, dapat disimpan, dapat juga dibagikan, baik dalam bentuk sadaqah atau hadiah. Bahkan para ulama membolehkan memberikan bagian dari daging kurban kepada orang kafir, selama dia tidak memusuhi kaum muslimin.

Para ulama, berdasarkan sejumlah riwayat yang ada, menganjurkan membagi daging kurban menjadi tiga bagian; Sepertiga untuk dimakan, Sepertiga lagi untuk disedekahkan dan sepertiga lagi untuk dihadiahkan. Ada juga yang mengatakan sepertiga untuk disimpan sebagai ganti dihadiahkan. Namun hal ini tidak baku sifatnya. Jika pekurban menyerahkan seluruh kurbannya untuk disedekahkan, atau mengambil sedikit saja, itu baik.

Karenanya jika ada pengelola hewan kurban ada yang mengolahnya sebagai produk kalengan, hal tersebut tidak mengapa, selama tidak dikomersilkan. Mengenai teknis pembagian dapat diatur sedemikin rupa oleh pekurban atau panitia yang mengelolanya, upayakan diatur sebaik mungkin. Yang harus dihindari dalam masalah distribusi hewan kurban adalah tidak boleh ada bagian dari hewan kurban sebagai upah untuk pemotong atau dijual. Hal tersebut jelas-jelas dinyatakan terlarang dalam sebuah hadits yang shahih riwayat Bukhari Muslim, apalagi jika tujuannya bersifat komersialisasi.

Maka memang sebaiknya disiapkan anggaran khusus di luar kurban untuk biaya pemotongan atau pengelolaannya, tentu yang sewajarnya. Jika setelah diberikan upahnya lalu tukang potongnya dibagi bagian dari kurban, sebagaimana dibagikan kepada yang lainnya; Tidak mengapa. Adapun masalah menjualnya, yang paling besar kemungkinan adalah kulitnya, yang lebih hati-hati adalah tetap membagikannya seperti bagian lainnya. Perkara setelah itu orang yang dibagikan tersebut menjualnya ke pihak pengolah atau tengkulak, hal itu tidaklah mengapa, karena sudah jadi miliknya.

Ada memang sebagian ulama yang membolehkan menjual kulitnya lalu uangnya disadaqahkan. Namun mayoritas ulama tetap menolaknya. Pendapat yang membolehkan ini dapat diambil jika ternyata tidak ada yang bersedia menerima kulit. Maka panitia dapat menjualnya dan uangnya disadaqahkan
Wallahu a’lam, sampai di sini  bahasan kita tentang kurban, semoga bermanfaat. Kalau ada yang keliru mohon dikoreksi. Baarokallahu fiikum.

Untuk satu orang, namun dia dapat menyertakan keluarganya dalam niatnya.


~~~~~~~~~~~~~~~~
Selanjutnya, marilah kita tutup kajian kita dengan bacaan istighfar 3x
Doa robithoh dan kafaratul majelis

Astaghfirullahal' adzim 3x

Do'a Rabithah
Allahumma innaka ta'lamu anna hadzihil qulub,
qadijtama-at 'alaa mahabbatik,
wal taqat 'alaa tha'atik,
wa tawahhadat 'alaa da'watik,
wa ta ahadat ala nashrati syari'atik.
Fa watsiqillahumma rabithataha,
wa adim wuddaha,wahdiha subuulaha,wamla'ha binuurikal ladzi laa yakhbu,
wasy-syrah shuduroha bi faidil imaanibik,
wa jami' lit-tawakkuli 'alaik,
wa ahyiha bi ma'rifatik,
wa amitha 'alaa syahaadati fii sabiilik...
Innaka ni'mal maula wa ni'man nashiir.

Artinya :
Ya Allah, sesungguhnya Engkau mengetahui bahwa sesungguhnya hati-hati kami ini,
telah berkumpul karena cinta-Mu,
dan berjumpa dalam ketaatan pada-Mu,
dan bersatu dalam dakwah-Mu,
dan berpadu dalam membela syariat-Mu.
Maka ya Allah, kuatkanlah ikatannya,
dan kekalkanlah cintanya,
dan tunjukkanlah jalannya,
dan penuhilah ia dengan cahaya yang tiada redup,
dan lapangkanlah dada-dada dengan iman yang berlimpah kepada-Mu,
dan indahnya takwa kepada-Mu,
dan hidupkan ia dengan ma'rifat-Mu,dan matikan ia dalam syahid di jalan-Mu.Sesungguhnya Engkau sebaik-baik pelindung dan sebaik-baik penolong.
Aamiin...    

DOA PENUTUP MAJELIS
سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوْبُ إِلَيْكَ
Subhanaka Allahuma wabihamdika asyhadu alla ilaha illa anta astaghfiruka wa atubu ilaik.Artinya:“Maha suci Engkau ya Allah, dan segala puji bagi-Mu. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan melainkan Engkau. aku mohon ampun dan bertaubat kepada-Mu.”
Aamiin ya Rabb.

======================
Website: www.hambaAllah.net
FanPage : Kajian On line-Hamba Allah
FB : Kajian On Line-Hamba Allah
Twitter: @kajianonline_HA
IG: @hambaAllah_official

Thanks for reading & sharing Kajian On Line Hamba اللَّهِ SWT

Previous
« Prev Post

0 comments:

Post a Comment

Ketik Materi yang anda cari !!

Kajian On Line Hamba اللَّهِ SWT