Home » , , , , » Tauladan Keluarga Nabi Ibrahim

Tauladan Keluarga Nabi Ibrahim

Posted by Kajian On Line Hamba اللَّهِ SWT on Thursday, December 7, 2017


Image result for tauladan nabi ibrahim

Rekap Kajian Online Hamba Allah Ummi G-2 & G-3Hari/Tgl : Senin/Selasa, 28 & 29 Agustus 2017
Materi : Tauladan Keluarga Nabi Ibrahim
Narasumber : ustadzah Lillah
Waktu kajian : jam  13.00 -selesai
Editor : Sapta
➖➖➖➖➖➖➖➖➖

 

Tauladan Keluarga Nabi Ibrahim

Setiap kali kita menunaikan ibadah kurban, senantiasa teringat kisah keteladanan keluarga Nabi Ibrahim As, sebagaimana telah difirmankan Allah Ta’ala:

"Sesungguhnya telah ada suri teladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia" (QS. Al Mumtahanah : 4).

Beliau bersama istrinya, Siti Hajar, dan anaknya Ismail, juga Siti Sarah dan anaknya Ishaq, adalah contoh keluarga yang berhasil membangun kehidupan atas dasar keyakinan kepada Allah SWT. Mereka juga dapat membangun idealisme dan cita-cita yang sangat tinggi disertai dengan pengorbanan yang tanpa mengenal pamrih, kecuali hanya mengharap ridha Allah SWT.

Ibrahim dan isterinya saling menjaga dan saling memelihara dalam ketaatan kepada Allah SWT.  Nabi Ibrahim sebagai suami dan ayah, sangat tekun menjalankan perintah Allah, berjalan ke berbagai pelosok negeri untuk menyebarkan risalah Allah SWT. Siti Hajar, sang istri, dengan ikhlas mendukung kegiatan ini sekaligus memberikan dorongan dan doa agar suaminya mendapatkan keberkahan Allah SWT.

“Dan Ibrahim berkata, "Sesungguhnya aku pergi menghadap kepada Tuhanku, dan Dia akan memberi petunjuk kepadaku” (Ash Shaaffaat : 99)

Keluarga Ibrahim As memberikan teladan kepada kita tentang kelembutan dan kehangatan dalam interaksi dalam keluarga. Lihatlah bagaimana Nabi Ibrahim memanggil putranya dengan sebutan lembut, “Ya bunayya”. Ia tidak memanggil dengan ungkapan “Ya Ismail”. Maka anaknya pun membalas dengan panggilan yang juga sangat lembut “Ya Abati”, bukan semata-mata “Ya Abi”. Ini adalah keteladanan yang besar dalam dunia kita sekarang, dimana telah banyak terjadi keretakan dan kehancuran keluarga.

Nabi Ibrahim As juga membiasakan keterbukaan dan musyawarah dalam keluarga sehingga timbul pemahaman dan pengertian yang baik. Sebagai contoh, ketika bermimpi untuk menyembelih anaknya --yang diyakininya sebagai perintah Allah SWT--- Nabi Ibrahim dalam implementasinya tetap berdialog dan berkomunikasi dengan anaknya. Lalu, keduanya melaksanakan ketentuan Allah SWT ini dengan penuh kesadaran dan keikhlasan.

“Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu. Ia menjawab: Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar" (Ash Shaaffaat : 102).

Luar biasa kehangatan cinta dan kasih sayang dalam keluarga Nabi Ibrahim, sebagai teladan untuk kita semua.

Sebagai Nabi, mudah saja bagi Ibrahim As untuk mengatakan, “Aku diperintahkan oleh Allah untuk menyembelihmu, dan aku akan mentaati perintah Tuhanku”. Dengan bahasa perintah seperti itu, pasti Ismail akan taat dan patuh. Namun, subhanallah, bukan itu bahasa yang beliau pilih. Ibrahim mengajarkan kepada kita pentingnya sikap qana’ah, sikap penerimaan yang tulus dalam melaksanakan perintah. Bukan sebuah keterpaksaan.

Maka, lihatlah betapa indah bahasa yang dipilih Ibrahim as untuk disampaikan kepada ananda tercinta, Ismail, "Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu...” Beliau hanya menyebut perintah Allah sebagai mimpi. Ibrahim tidak mengatakan penyembelihan Ismail sebagai sebuah perintah yang wajib dilaksanakan.

Kalimat musyawarah muncul dalam ungkapan Ibrahim as, “maka pikirkanlah apa pendapatmu....." Sungguh, beliau bisa saja mengatakan, “Engkau harus taat dan tidak boleh membantah. Ini perintah Allah !”  Beliau membahasakan perintah Allah dengan bahasa istisyarah(meminta pendapat), agar penerimaan Isma’il bisa lebih sempurna, bukan semata-mata karena melaksanakan kewajiban.

Dengan bentuk musyawarah seperti itu, lebih tampak kualitas kepribadian Ismail yang luar biasa. Ia sangat yakin, bahwa bapaknya adalah Nabi yang selalu berada dalam bimbingan Allah. Ismail tidak menyangsikan perkataan dan perbuatan bapaknya, karena selama ini ia mengetahui bahwa bapaknya sangat mentaati Allah. Dengan mudah Ismail memahami bahwa apa yang disebut sebagai mimpi oleh Ibrahim as, sesungguhnya adalah sebuah perintah dari Allah.

Nabi Ibrahim juga mengajarkan kepada kita pemilihan bahasa dan kehalusan perasaan. Ibrahim berbicara dengan bahasa hati yang tulus, maka langsung menyambung pula dengan hati Ismail yang halus. Mereka tidak perlu berdebat dan adu argumen. Mereka berbicara dengan kehalusan budi.

Lihatlah, betapa luar biasa jawaban Ismail :
"Hai  Ayahanda,  kerjakanlah  apa   yang   diperintahkan kepadamu; Insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk  orang-orang yang shabar" (Ash Shaffat: 102).

Inilah  perbincangan antara dua orang yang saling  mengasihi dalam mencintai Allah melebihi segala-galanya. Ungkapan mimpi yang disebutkan Ibrahim, dijawab Ismail dengan, "Hai  Ayahanda,  kerjakanlah  apa   yang   diperintahkan kepadamu...” Sangat peka hati Ismail, bahwa mimpi bapaknya bukanlah takhayul, namun sebuah perintah Allah.

Keduanya mampu menggunakan bahasa yang santun, bahasa yang halus dan lembut. Itu semua muncul karena kehalusan perasaan Ibrahim dan Ismail, yang telah ditempa dalam keimanan kepada Allah.

"Tatkala  keduanya telah berserah diri dan  Ibrahim  membaringkan anaknya atas pelipis(nya), (nyatalah keshabaran keduanya)"  (Ash Shaffat: 103).

Tentu saja, Allah tidak akan menyia-nyiakan pengorbanan keduanya. Ketaatan Ibrahim terhadap perintah Allah untuk menyembelih anak tercinta, membuahkan syariat kurban yang kita laksanakan hingga sekarang.

"Dan  Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan  yang  besar”  (Ash Shaffat: 107)
================
TANYA JAWAB

TJ G - 2 (28 Agustus 2017)

T : Hewan qurban bisa mencakup seluruh anggota keluarga, bagaimana dengan paradigma dimana dalam berqurban ini bergilir namanya setiap berqurban ustadzah? Misal : tahun ini atas nama bapaknya, tahun besok atas nama ibunya dan seterusnya, bergilir sampai anak yang paling bontot (balita misal). Mohon penjelasannya ya ustadzah, syukron katsir.
J : Ya, karena ada hadits tentang qurban akan menjadi hewan tunggangan kita di akhirat nanti, maka kemudian setiap anggota keluarga didaftarkan dan bergilir. Keluarga saya sejak dulu pun begitu. Baru lah ketika membaca hadits bahwa cukup nama kepala keluarga sudah mewakili seluruh anggota, ternyata jadi lebih mudah ya.

T : Menyambung pertanyaan di atas, apakah qurban sebaiknya setelah baligh?
J : Ya baiknya begitu

T : Mana yang lebih baik, qurban sapi di satu daerah, atau beberapa kambing di banyak daerah.. misal di kampung suami, kampung saya dan lain-lain?
J :  Tergantung kebutuhan mbak. Dari sisi agama tidak ada mana yang lebih baik. Sama saja.

T : Bagaimana kalau kita niat berkurban dengan uang hasil arisan, apakah diperbolehkan kan ustadz, soalnya saya dengar berkurban itu tidak boleh berhutang, terus apa hukumnya kalau kita berkurban dengan uang pinjaman?
J : Qurban boleh berhutang, sepanjang kita yakin terganti

T : Bagaimana hukumnya bila berqurban atas nama orangtua kita yang sudah meninggal? Karena kalau tidak salah banyak versi yang berbeda. Syukron
J : Tidak perlu, insyaallah pahala kebaikan sudah mengalir untuk orangtua

T : Kalau sudah berqurban dekat rumah apakah wajib berqurban di sekolah yang dimintai oleh pihak sekolah, biasanya di sekolah dikasih edaran berqurban sekian Rupiah atau uang sekian Rupiah, karena ada yang pernah mengatakan pada saya kalau sudah berqurban tidak wajib bayar di sekolah apa benar?
J : Yang di sekolah jatuhnya infaq karena tidak seharga hewan kan?

T : Assalamu'alaikum wr.wb, izin bertanya Ustadzah, bagaimana hukumnya jika seseorang yang niat berkurban tapi masih mempunyai hutang, misalkan angsuran kendaraan/ angsuran pada suatu bank?
J : Tidak masalah, mudah-mudahan kebaikan berqurban memancing rezeki yang banyak

T : Saya pernah mendengar selama masih memiliki barang berharga yang bisa dijual seharga seekor kambing, maka barang tersebut harus dijual untuk berkurban? Apakah benar ustadzah?
J : Menurut saya bukan menjual barang tersebut, tapi berarti kita masih mampu.

T : Berarti hukumnya wajib berqurban bagi yang bersangkutan karena mampu? Begitu kah ustadzah?
J : Tetap hukumnya Sunnah muakkadah

T : Pada hari tasyrik ke 3 biasanya harga kambing sudah murah ketimbang sebelum idul ada atau hari idul adha. Bolehkah kita menunggu hari kambing murah itu untuk tujuan berhemat? Atau untuk tujuan supaya dapat kambing yang besar dengan harga kambing yang kecil di hati-hati sebelumnya?
J : Boleh

`````````
TJ G -3 (29 Agustus 2017)

T : Terkesan dengan uraian diatas ustadzah, ijin bertanya. Bagaimana cara mendidik putra putri kita agar mendapat ketaattan seperti yang dimiliki nabi Ismail?
J : Pertanyaannya luar biasa. Mendidik anak-anak kita agar ketaatannya seperti Nabi Isma'il persiapannya dimulai semenjak memilih pasangan. Pilihlah dari keluarga yang benar-benar taat, menjalankan segala perintah Allah serta menjauhi segala larangannya. Setelah menemukan calon pasangan, maka segerakan menikah. Bentuklah keluarga yang benar-benar Islami, hindari harta syubhat apalagi yang riba, harta-harta yang haram jauhkan dari diri keluarga kita.
Jalankan segala perintah Allah jauhi segala larangan. Jadilah contoh yang baik bagi anak, bukan orang tua yang main perintah dalam beribadah, sedangkan mereka sendiri melalaikan ibadah. Membentuk pribadi yang baik pada anak juga bukan sulap, bukan sihir. Namun sedari awal, proses pembuatan, dalam kandungan, merawat dan membimbing mereka sedari kecil.
Setelah beranjak remaja/baligh itu adalah hasil yang kita petik, jika bibitnya bagus maka bagus pula hasilnya. Kalau bibitnya buruk, atau bibit bagus perlakuan buruk hasilnya tentu mengecewakan.
Jadi jangan pernah bermimpi mendapatkan anak yang taat, kalau keluarga mereka terlebih orang tua mereka adalah ahli maksiat.

T : Mau bertanya ustadzah, boleh kah kita berdoa agar anak-anak kelak bisa memberikan syafaat untuk kita orangtuanya di yaumil akhir?
J : Berdo'a silahkan saja. Namun jaga amal kita juga, anak termasuk titipan yang harus dipertanggungjawabkan di hadapan Allah. jangan hanya asik berdo'a kalau lalai mendidik dan mengarahkannya (anak). Dan jangan juga hanya asik berdo'a lalu ortunya malah ndak menjalankan kewajiban kepada Allah.


~~~~~~~~~~~~~~~~
Selanjutnya, marilah kita tutup kajian kita dengan bacaan istighfar 3x
Doa robithoh dan kafaratul majelis

Astaghfirullahal' adzim 3x

Do'a Rabithah
Allahumma innaka ta'lamu anna hadzihil qulub,
qadijtama-at 'alaa mahabbatik,
wal taqat 'alaa tha'atik,
wa tawahhadat 'alaa da'watik,
wa ta ahadat ala nashrati syari'atik.
Fa watsiqillahumma rabithataha,
wa adim wuddaha,wahdiha subuulaha,wamla'ha binuurikal ladzi laa yakhbu,
wasy-syrah shuduroha bi faidil imaanibik,
wa jami' lit-tawakkuli 'alaik,
wa ahyiha bi ma'rifatik,
wa amitha 'alaa syahaadati fii sabiilik...
Innaka ni'mal maula wa ni'man nashiir.

Artinya :
Ya Allah, sesungguhnya Engkau mengetahui bahwa sesungguhnya hati-hati kami ini,
telah berkumpul karena cinta-Mu,
dan berjumpa dalam ketaatan pada-Mu,
dan bersatu dalam dakwah-Mu,
dan berpadu dalam membela syariat-Mu.
Maka ya Allah, kuatkanlah ikatannya,
dan kekalkanlah cintanya,
dan tunjukkanlah jalannya,
dan penuhilah ia dengan cahaya yang tiada redup,
dan lapangkanlah dada-dada dengan iman yang berlimpah kepada-Mu,
dan indahnya takwa kepada-Mu,
dan hidupkan ia dengan ma'rifat-Mu,dan matikan ia dalam syahid di jalan-Mu.Sesungguhnya Engkau sebaik-baik pelindung dan sebaik-baik penolong.
Aamiin...    

DOA PENUTUP MAJELIS
سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوْبُ إِلَيْكَ
Subhanaka Allahuma wabihamdika asyhadu alla ilaha illa anta astaghfiruka wa atubu ilaik.Artinya:“Maha suci Engkau ya Allah, dan segala puji bagi-Mu. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan melainkan Engkau. aku mohon ampun dan bertaubat kepada-Mu.”
Aamiin ya Rabb.

======================
Website: www.hambaAllah.net
FanPage : Kajian On line-Hamba Allah
FB : Kajian On Line-Hamba Allah
Twitter: @kajianonline_HA
IG: @hambaAllah_official

Thanks for reading & sharing Kajian On Line Hamba اللَّهِ SWT

Previous
« Prev Post

0 comments:

Post a Comment

Ketik Materi yang anda cari !!

Kajian On Line Hamba اللَّهِ SWT