Home » , » 6 Kewajiban kepada Anak

6 Kewajiban kepada Anak

Posted by Kajian On Line Hamba اللَّهِ SWT on Wednesday, January 17, 2018



Image result for kewajiban kepada anak
Rekap Kajian Online HA Ummi G-1, G-2
Hari/Tgl : Selasa, 12, 19 September 2017
Materi : 6 Kewajiban kepada Anak
Narasumber : Ustadz Kaspin Nur
Waktu kajian : 05.00-15.00
Notulen : yuniboo
Editor : Sapta
🎋🍁🎋🍁🎋🍁🎋🍁🎋🍁

6 Kewajiban kepada Anak

Banyak juga orang yang salah kaprah, menyangka putra-putrinya adalah miliknya, sehingga bebas diperlakukan sesuka hati.
Padahal sebenarnya anak hanyalah titipan Allah yang sewaktu-waktu akan kembali pada Allah. Dan sebagai titipan, tentu saja kita yang diberi amanah memiliki kewajiban dalam menjaganya.

“Kamu sekalian adalah pemimpin dan kamu akan ditanya tentang kepemimpinanmu… Orang laki-laki (suami) adalah pemimpin dalam keluarganya dan akan ditanya tentang kepemimpinannya. Isteri adalah pemimpin dalam rumah tangga suaminya dan akan ditanya tentang kepemimpinannya… [HR Bukhari juz 1, hal. 215]

Sahabat abah, inilah 6 kewajiban orangtua pada anak yang perlu kita tanyakan ke diri sendiri sebagai bahan introspeksi, sudahkah kita melakukannya:


1.   Memilihkan ayah dan ibu yang baik untuk anak (sebelum menikah)

Pada suatu kesempatan, Amirul Mukminin Umar bin Khaththab kehadiran seorang tamu lelaki yang mengadukan kenakalan anaknya, “Anakku ini sangat bandel.” tuturnya kesal.

Amirul Mukminin berkata, “Hai Fulan, apakah kamu tidak takut kepada Allah karena berani melawan ayahmu dan tidak memenuhi hak ayahmu?”

Anak yang pintar ini menyela. “Hai Amirul Mukminin, apakah orang tua tidak punya kewajiban memenuhi hak anak?”

Umar ra menjawab, “Ada tiga, yakni: pertama, memilihkan ibu yang baik, jangan sampai kelak terhina akibat ibunya. Kedua, memilihkan nama yang baik. Ketiga, mendidik mereka dengan al-Qur’an.”

Dari kisah Umar bin Khaththab tersebut, kita bisa mengetahui bahwa ketika hendak menikah, jangan hanya memilih calon suami atau istri, tapi juga memilih calon ayah dan calon ibu yang baik untuk anak kita kelak.

Jika kita tidak bersungguh-sungguh dalam mencarikan calon orangtua terbaik untuk anak kita kelak, sama saja kita telah melanggar hak anak untuk dilahirkan dari rahim seorang ibu yang baik, dan hak anak untuk mendapatkan pendidikan yang terbaik dari sang ayah.


2.   Memberinya nama yang bagus dan berarti baik

 “Sesungguhnya kamu sekalian akan dipanggil pada hari kiamat dengan nama-nama kamu sekalian, maka perbaguslah nama kalian.” (HR.Abu Dawud)

Pemberian nama yang baik untuk anak bisa dilakukan sambil melaksanakan aqiqah.

Dari Samurah bin Jundab, ia berkata : Rasulullah SAW bersabda, “Anak itu tergadai dengan aqiqahnya, disembelih sebagai tebusannya pada hari ketujuh dan diberi nama pada hari itu serta dicukur kepalanya". [HR. Tirmidzi juz 3, hal. 38]

“Rasulullah Saw. Diketahui telah memberi perhatian yang sangat besar terhadap masalah nama. Kapan saja beliau menjumpai nama yang tidak menarik (patut) dan tak berarti, beliau mengubahnya dan memilih beberapa nama yang pantas. Beliau mengubah macam-macam nama laki-laki dan perempuan.Seperti dalam hadis yang disampaikan oleh aisyah ra.bahwa Rasulullah Saw. Biasa merubah nama-nama yang tidak baik.” (HR Tirmidzi)

Sahabat abah yg baik, memberikan nama dengan arti buruk untuk anak sama saja berbuat durhaka pada anak kita. Misalnya memberi nama anak kata-kata yang ada dalam Al Quran, tapi ternyata artinya adalah nama neraka, atau nama setan, atau yang berarti buruk lainnya.


3.   Memberi anak air susu ibu

“Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan pernyusuan.” (al-baqarah: 233)

Banyak penelitian ilmiah dan penelitian medis yang membuktikan bahwa masa dua tahun pertama sangat penting bagi pertumbuhan anak secara alami dan sehat, baik dari sisi kesehatan maupun kejiwaan.

Ibnu sina, seorang dokter kenamaan, menegaskan urgensi penyusuan alami dalam pernyataannya, “Bahwasanya seorang bayi sebisa mungkin harus menyusu dari air susu ibunya. Sebab, dalam tindakannya mengulum puting susu ibu terkandung manfaat sangat besar dalam menolak segala sesuatu yang rentan membahayakan dirinya.”

Jika memang air susu ibu tidak keluar, maka carikanlah ibu susu dengan akhlak yang baik sebagaimana ibunda nabi Muhammad shalallaahu alaihi wassalaam melakukannya.


4.   Mengajarkan Al Quran

Diriwayatkan oleh Al Baihaqi dari kakek Ayub Bin Musa Al Quraisy dari Nabi saw bersabda, “Tiada satu pemberian yang lebih utama yang diberikan ayah kepada anaknya selain pengajaran yang baik.”
Thabrani meriwayatkan dari Jabir Bin Samurah bahwa Rasulullah saw bersabda, “Bahwa salah seorang di antara kalian mendidik anaknya, itu lebih baik baginya dari pada menyedekahkan setengah sha’ setiap hari kepada orang-orang miskin.”

Mengajarkan anak ayat dan juga akhlak alquran ini adalah kewajiban ibu dan bapak.

Hadits Rasulullah yang diriwayatkan oleh Ali ra, “ Ajarkanlah tiga hal kepada anak-anak kalian, yakni mencintai nabi kalian, mencintai keluarganya dan membaca al-qur’an.

Sebab, para pengusung al-qur’an berada di bawah naungan arsy Allah pada hari dimana tidak ada naungan kecuali naunganNya, bersama para nabi dan orang-orang pilihanNya. Dan, kedua orang tua yang memperhatikan pengajaran al-qur’an kepada anak-anak mereka, keduanya mendapatkan pahala yang besar.”

“Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rizki kepadamu, Kamilah yang memberi rizki kepadamu. Dan akibat (yang baik) itu adalah bagi orang yang bertaqwa.” (QS. 20:132)
Membiasakan berakhlak Islami dalam bersikap, berbicara, dan bertingkah laku, sehingga semua kelakuannya menjadi terpuji menurut Islam (H.R Turmuzy dari Jaabir bin Samrah)

Selain itu, orangtua juga perlu mengajarkan rasa malu sedini mungkin pada anak-anak.
Menanamkan etika malu pada tempatnya dan membiasakan minta izin keluar/masuk rumah, terutama ke kamar orang tuanya, teristimewa lagi saat-saat zhaiirah dan selepas shalat isya’.(Al-qur’an surat Annuur ayat 56)

Di dalam hadist yang diriwayatkan oleh Ahmad dan Abu Daud, Rasulullah saw bersabda, “ perintahkanlah anak anak kalian untuk mengerjakan sholat ketika berusia tujuh tahun, dan pukullah agar mereka menunaikannya ketika berusia sepuluh tahun, serta pisahkanlah tempat tidur mereka.”


5.   Memberi nafkah dan makanan halal

Memberi nafkah hanya dengan harta yang baik dan dari mata pencaharian yang halal adalah kewajiban seorang bapak.

Berdasarkan sabda Rasul saw: “Kedua kaki seorang hamba tidak akan bergeser pada hari kiamat hingga ia ditanya tentang empat perkara; tentang umurnya untuk apa ia habiskan, tentang ilmunya apa yang ia kerjakan dengannnya, tentang hartanya dari mana ia mendapatkan dan untuk apa ia belanjakan, dan tentang tubuhnya untuk apa ia pergunakan.” (H.R. Turmudzi)

Dan makanan yang diberikan kepada anak -anak hendaknya Makanan yang halal. Ini berdasarkan sabda Rasulullah saw kepada Sa’ad Bin Abi Waqhas, “Baguskanlah makananmu, niscaya doamu akan dikabulkan.” Karenanya, anak dibiasakan untuk mengkonsumsi makanan yang halal, mencari penghasilan yang halal dan membelanjakan kepada yang halal, sehingga ia tumbuh dalam sikap sederhana dan pertengahan, terjauh dari sikap boros dan pelit.

Rasulullah Saw. Pernah mengajarkan sejumlah anak untuk berpesan kepada orang tuanya di kala keluar mencari nafkah “Selamat jalan ayah! Jangan sekali-kali engkau membawa pulang kecuali yang halal dan thayyib saja! Kami mampu bersabar dari kelaparan, tetapi tidak mampu menahan azab Allah Swt. (H.R Thabraani dalam Al-Ausaath)


6.   Menikahkan anak dengan calon suami/istri yang baik

Bila anak telah memasuki usia siap nikah, maka nikahkanlah. Jangan biarkan mereka terus tersesat dalam belantara kemaksiatan. Do’akan dan dorong mereka untuk hidup berkeluarga, tak perlu menunggu memasuki usia senja.

Bila muncul rasa khawatir tidak mendapat rezeki dan menanggung beban berat kelurga, Allah berjanji akan menutupinya seiring dengan usaha dan kerja keras yang dilakukannya, sebagaimana firman-Nya, “Kawinkanlah anak-anak kamu (yang belum kawin) dan orang-orang yang sudah waktunya kawin dari hamba-hambamu yang laki-laki ataupun yang perempuan. Jika mereka itu orang-orang yang tidak mampu, maka Allah akan memberikan kekayaan kepada mereka dari anugerah-Nya.” (QS. An-Nur:32)

Semoga info mengenai kewajiban orangtua pada anak ini bermanfaat dan dapat menjadi bahan evaluasi untuk rumah tangga kita.

*Dari berbagai sumber

=========
TANYA JAWAB

TJ G-1
 
T : Bah, saya lagi bingung. Gimana pilihin istri buat anak. Banyak calon tapi dia tidak sreg semua. Padahal sholehah-sholehah. Dia malah mengharap yang lain. Yang saya merasa tidak jelas. Kata dia sih sholehah. Kumaha atuh bah?! Saya bilang kita pasrahkan urusan ini sama Allah. Dan kita minta ikhlas/tawakal dengan hasilnya.
J : Iya, tawakal. Yang penting ibu sudah berusaha. Insya Allah doakan saja yang terbaik dan keep husnudzhon kepada pilihannya.


T : Assalamualaikum abah ustadz, bagaimana caranya memilihkan ayah baru buat anak-anak yang beranjak besar? Apakah itu juga masih kewajiban orang tua ke anak ya abah? tentunya tidaklah mudah mencarikan ayah yang lebih baik dari sebelumnya?!
J : manusia ini terkena sifat berubah bunda, kita tidak tahu yang terbaik, tapi bila merasa ada kecocokan hati ya menikahlah. Yang kurang-kurang diperbaiki.


T : Mau titip pertanyaan, ketika memilih calon suami atau calon istri yang baik bagaimana cara melihat yang tulus dan yang modus, bagaimana cara menjelaskan kepada orangtua dan keluarga bahwa sang calon belum baik agamanya sedangkan semua keluarga sudah terlalu mendukung untuk melakukan pernikahan?
J : memang rada sulit membedakan apa yang ada di hati, namun bisa ditelusuri latar belakang juga omongannya. Namun jika sudah sepakat semuanya ya laksana kan saja, sambil terus berdoa ya.


T : Boleh kah menikah dengan laki-laki karena melihat perjuangannya? Jauh-jauh dari luar pulau hanay untuk meminang, walaupun akhwatnya tahu, laki-lakinya ada sifat yang buruk?
J : Ya terserah yang mau nikah. Istikhoroh lebih baik insya Allah.


T : Ada pertanyaan titipan Ustadz, adakah do'a khusus supaya bisa berjodoh dengan calon ayah yang baik?
J : Tidak ada khusus demikian, namun buat lah doa sendiri yg diinginkan. Wallahualam


T : Bah, mau Tanya, bagaimana kalau calon sudah ada tapi anak-anak belum bisa terima, anak-anak tidak mau ada ayah baru, padahal sudah dijelaskan bahwa posisi alm ayahnya tidak akan pernah tergantikan. Ayah sambung bagi mereka bisa menjadi sahabat, kakak bagi mereka, solusinya bagaimana ya bah?
J : Yang mau nikah kan ibunya. Solusinya nikah aja.


T : Assalmualaikum abah Tanya. Bagaimana jika orangtua kita dulu kasih nama yang tidak sesuai agama, apakah boleh kita merubah sendiri, sedangkan orangtua kita tidak mengijinkannya, mereka bilang tidak menghormatinya, bagaimana menjelaskan ya bah?!
J :


T : Izin bertanya bah, bagaimanakah hukum bagi orangtua yang mampu tapi tidak melaksanakan aqiqah? dengan dalih karena itu hanya sunah, afwan.
J : Ya gapapa. Kan sunnah. Tapi ya rugi aja tidak dapat pahala.


T : Assalamualaikum mau tanya, kalau anak dikasih nama maryam bolehkah? Itu kan ada dalam alquran?!
J : Boleh.


T : Kalau sudah menikah dan terus-terusan ada konflik dan bahkan seperti pernikahan itu selalu diuji lewat kelakuan suami yang selalu menyulut konflik?
J : Ya tetap berjodoh. Kalau cerai berarti jodohnya sampai disitu.


T : Istrinya sudah tidak tahan lagi sama suaminya, tapi suaminya terus bertahan tidak mau cerai tapi sulit sekali merubah sifatnya? Cuma janji-janji aja. Bagaimana abah menghadapinya?
J : sabar dan syukur


T : Bukankah dalam sabar ada ikhtiar bah? Termasuk membela harga diri kita, masa diperlakukan gituh diam saja? mohon pencerahan bah.
J : Iya itu ikhtiarnya


T : Sabar bukan berarti diam sajah kan bah?
J : Ya tidak. Kalau sudah main fisik ya bisa menghindar. Atau lapor.


T : Abah mau nanya soal poligami boleh tidak? Kalau seorang wanita pada saat proses taaruf dengan pria, si pria nanya apakah mau dipoligami? Kemudian si wanita menolak apakah itu berarti si wanita belum siap menjadi istri? Menolak poligami di sini bukan tidak mengimani soal poligami, namun lebih ke tidak mau untuk dipoligami karean si wanita sadar untuk menjalankan poligami itu butuh keikhlasan yang luar biasa dan juga ilmu yang hebat.
J : Boleh saja, namun jika tidak jadi menikah resiko tanggung sendiri. Saran saya terima aja, karena poligami itu takdir, tidak semua yang mau itu mampu dan tidak semua yang mampu itu mau, adapun yang mau dan mampu belum tentu ada jodohnya. Ituh!


T : Kan ada abah, si calon istri ke-2 mau dipoligami, tapi istri pertama tidak mau terus jadinya nuntut cerai, kalau begitu apa si calon istri ke-2 bukannya malah jadi perusak rumah tangga orang ya abah?
J : Bukan. Itu suaminya yang belum beres. Wanita itu dipilih. Meskipun bisa memilih. Belum bisa mendidik istrinya gitu. Maaf, bagi wanita status "ungu" itu rada berat. Dicurigain mulu sama tetangga atau temen nya


T : Maaf bah, ada yang bilang istri pertama mendapat pahala amalan dari amalan istri kedua atau ketiga jika istri pertama ridho dipoligami, betulkah bah?
J : Insya Allah. Ini masalah kita hari ini, padahal ini masalah sudah ada solusinya sejak dulu. Tinggal mau apa tidak memakainya. Ya, ridho. Ikhlas ketika memberi dan ridho ketika menerima. Sabar dan syukur menjalaninya meskipun perasaan demikian insya Allah bisa dikendalikan. Kesedihan dan kebahagiaan ibarat ilalang dan bunga yang menghiasi sebuah taman.


T : Abah mau tanya, bagaimana menyikapi kesabaran yang naik turun sama anak-anak dirumah?
J : Ya ganti dengan kesyukuran. Berapa kah nilai anak kita? Anak adalah anugerah yang tak ternilai. Secara sederhana ada orang mungkin pernah memukul anak gegara ngarusak hape, namun adakah orang yg memukul hape gegara ngarusak anak? maka kontemplasi lagi, sebenarnya apa sih kita benar-benar inginkan dalam hidup ini?


T : Abah, pami tiasa mah sarannya, jangan seolah-olah wanita itu, mau tidak mau harus mau dipoligami. Tapi bagaimana caranya dari sudut pandang laki-laki upaya agar wanita tidak di poligami....kituuuu...
J : Ya terserah eyang saja saya mah. Itu kan hukumnya demikian eyang. Laki-laki boleh punya empat.


T : Saya banyak dapat curhatan dari wanita baik baik yang rindu kayang. Iya...pengin jalan-jalan gandengan, pengen nyender, dan sebagainya, tapi maksiat ya ustadz? boleh tidak? Saya jawab ya ga boleh. Haram. keinginan yg sederhana. tapi kalau sudah sendiri? kalau sudah sepuh mungkin tidak terlalu demikian.
J :


T : Boleh bertanya abah, jika seorang janda sholehah (insya ALLAH) mau menikah dengan seorang pemuda tapi ibunya sang pemuda tidak menyetujuinya. Apakah yang harus dilakukan pemuda itu? Bagaimana pernikahan mereka jika sang pemuda nekad menikah tanpa restu dari sang ibu?
J : Sebisa mungkin berusaha lah agar ibunya ridho. Insya Allah biasanya hati ibu akan meleleh juga jika anaknya kuat keinginannya. Saya ikut mendoakan. Semoga semuanya dimudahkan. Calon istri juga lakukanlah pendekatan.


T : Teman saya abah. Minta solusi ya abah. Mba ati dulu mau di cerai sama suaminya tapi dia tidak mau karena kasihan sama anak-anak. Sekarang mba ati kerja di hongkong, tapi jerih payah mba ati di habiskan oleh suaminya, bahkan sekarang sudah hampir 8 bulan missing komunikasi. Bahkan lebaran pun suami tidak ada kasih nafkah sama anak-anak yang di rumah. Mba ati tadi minta pendapat sama saya kalau mau gugat cerai. Bagaimana baiknya ya abah?
J : Boleh menggugat kalau begini karena sudah melanggar janji sighot taklik


//////////



TJ G-2

Tanya : Assalamualaikum Ustadz, Alhamdulillah saya sudah 10 tahun menikah, tapi yang mau saya tanyakan apakah kalau belum diberikan amanah memiliki momongan, itu bisa terkait dengan 6 kewajiban orangtua yang belum bisa dijalankan seperti yang dijelaskan diatas?
Jawab: Tidak terkait. Itu belum rezeki. Coba ikhtiar maksimal dengan berdoa dan minum herba.


Tanya: Ketika kita lahir orangtua kita belum mengaqikah kita apakah kta wajib mengakikah diri abah?
Jawab : Tidak, aqiqah hukumnya sunnah dan itu kewajiban orangtua sewaktu kita masih bayi.


Tanya: Ustadz, saya ingin sekali memberi ASI untuk anak saya, tapi yang keluar sedikit dan anak menangis karena masih lapar, apakah saya salah dengan memberikan susu formula?
Jawab : Tidak salah insya Allah itu juga baik namun upaya kan ASI-nya diperbanyak. Insya Allah nanti banyak.


Tanya: Assalamualaikum ustadz adakalanya orang bila marah bekata tidak baik sama anaknya apakah itu bisa mempengaruhi ridho Allah terhadap anak tersebut, dan bagaimana caranya supaya Allah jadi ridho setelah perkataan orang tua yang jelek terhadap anaknya. Syukron ustadz.
Jawab : Bu Tut yang baik, ya kadang demikian, maka mohon maaf kepada orangtua dan istighfar. Doakan ortunya. Perbaiki komunikasi dan hubungan dengan orangtua.


Tanya: Jikalau orangtua dulu kurang paham agama sehingga memberikan nama anak-anaknya sesuai dengan asal adat/sukunya sendiri bagaimana?
Jawab : Bu Ajeng yang baik... kalau artinya bagus tidak masalah. Kalau artinya kurang bagus maka sebaiknya di ganti nama.


Tanya: Assalamualaikum ustadz, saya pernah mendengar kalau orangtua ridho terhadap anak maka Alloh akan ridho, praktek nyata dari ridho terhadap anak itu seperti apa ustadz? Apakah dengan menerima segala kekurangan dan kelebihan anak?
Jawab : Bu Isma yang baik, ya demikian. Sebagai anak kita harus membahagiakan orang tua agar ridho.


Tanya: Ustadz tanya lagi, bagaimana dengan orang yang hingga akhir hayat tidak menikah, apakah ada keterangan hadis/kisah yang membahas bahwa yang tidak menikah adalah orang yang tidak di sukai alloh?
Jawab: Isma yang baik.. Ya itu takdir dia, insya Allah nanti menikah di surga kalau masuk surga.


Tanya: afwan... Saya jarang sekali memakai nama lengkap pemberian orangtua saya abah, karena belakangnya nama Christin... Jadi sering kebayang di batu nisan saya kelak ada nama christen-nya bah... Dosa tidak ustadz saya lebih senang nama singkat yang depan... Padahal masih kecil saya senang dengan nama christin pemberian orangtua.
Jawab : Liza yang baik... nama Christin artinya bagus ya. Insya Allah gapapa.

~~~~~~~~~~~
Kita tutup dengan membacakan hamdalah..
Alhamdulillahirabbil'aalamiin

Doa Kafaratul Majelis :

 سبحانك اللهم وبحمدك أشهد ان لا إله إلا أنت أستغفرك وآتوب إليك

Subhanakallahumma wabihamdika asyhadu allaailaaha illa anta astaghfiruka wa atuubu ilaika

“Maha Suci Engkau ya Allah, dengan memuji-Mu aku bersaksi bahwa tiada sesembahan yang haq disembah melainkan diri-Mu, aku memohon pengampunan-Mu dan bertaubat kepada-Mu.”

Wassalamu'alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh


================
Website: www.hambaAllah.net
FanPage : Kajian On line-Hamba Allah
FB : Kajian On Line-Hamba Allah
Twitter: @kajianonline_HA
IG: @hambaAllah_official

Thanks for reading & sharing Kajian On Line Hamba اللَّهِ SWT

Previous
« Prev Post

0 komentar:

Post a Comment

Ketik Materi yang anda cari !!