Home » , , » BAHAGIANYA MERAYAKAN CINTA

BAHAGIANYA MERAYAKAN CINTA

Posted by Kajian On Line Hamba اللَّهِ SWT on Friday, January 26, 2018

 Kajian Online WA  Hamba الله SWT

Senin, 22 Januari 2018
Rekap Kajian Grup Bunda G2
Narasumber : Ustadzah Lilah
Tema : Kajian Umum



Dzat yang dengan Kebesaran-Nya, seluruh makhluk menyanjung dan mengagungkan-Nya...
Dzat yang dengan Keperkasaan-Nya, musuh-musuh dihinakan lagi diadzab-Nya...
Dzat yang dengan Kasih dan Sayang-Nya, kita semua mampu mengecap manisnya Islam dan indahnya ukhuwah di jalan-Nya, memadukan hati kita dalam kecintaan kepadaNya, yang mempertemukan kita dalam keta'atan kepadaNya, dan menghimpunkan kita untuk mengokohkan janji setia dalam membela agamaNya.

AlhamduliLlah... tsumma AlhamduliLlah...

Shalawat dan salam semoga tercurah kepada tauladan kita, Muhammad SAW. Yang memberi arah kepada para generasi penerus yang Rabbaniyyah bagaimana membangakitkan ummat yang telah mati, mempersatukan bangsa-bangsa yang tercerai berai, membimbing manusia yang tenggelam dalam lautan syahwat, membangun generasi yang tertidur lelap dan menuntun manusia yang berada dalam kegelapan menuju kejayaan, kemuliaan, dan kebahagiaan.

Amma ba'd...
Ukhti fillah sekalian. Agar ilmunya barokah, maka alangkah indahnya kita awali dengan lafadz Basmallah

Bismillahirrahmanirrahim...                  

BAHAGIANYA MERAYAKAN CINTA

Disaat apapun ,barakah  itu membawakan kebahagiaan.  Sebuah letupan kegembiraan di hati, kelapangan di dada, kejernihan di akal, dan rasa nikmat di jasad. Barakah itu memberi suasana lain dan mencurahkan  keceriaan musim semi, apapun masalah yang sedang membadai rumah tangga kita. Barakah itu membawakan senyum meski air mata menitik-nitik.  Barakah itu menyergapkan rindu di tengah kejengkelan. Barakah itu  menyediakan rengkuhan dan belaian lembut disaat  dada kita sesak oleh masalah.

Baarakallahu Laka, Bahagianya Merayakan Cinta.

Sesudah menikah, semoga barakah hidup kita semakin bertambah. Barakah mengasah rasa, menempa jiwa, memberikan sebuah dunia yang kadang tak tertembus penglihatan manusia biasa.

Suatu hari mungkin kita menyaksikan seorang lelali, ikut antri di warung pecel lele di daerah Monjali (Monumen Jogja Kembali). Mendung bergantung sore itu, dan warna hitam yang menyeruak di barat mlai mendekat. Dia, berkaos putih yang lehernya mulai geripis, di kepalanya ada pecis putih kecil, dan celananya beberapa senti di atas mata kaki. Sandal jepit swallow yang talinya hampir putus nyangkut di antara jempol dan jari kakinya. Seperti yang lain ia juga memesan, '' Pecel Lele Mas!'' 
''Berapa?'' tanya Mas penjual yang asyik menguleg sambal terasi sambil sesekali meraih sothil besar untuk membalik gorengan lele di wajan raksasa. Gemuruh bunyi kompor mengharuskan orang bicara sedikit keras. 
''Satu. Dibungkus...'' Perlahan tangannya merogoh saku celana, lalu duduk sembari menghitung uangnya. Malu-malu, tangannya dijorokkan sedikit ke bawah meja. Uang pecahan ratusan yang sudah disatukan dengan selotip bening per sepuluh keping, pas jumlahnya sesuai harga. 

'' Nggak makan sini aja Mas?? Takut keburu hujan ya?'' 
''hi hi, buat istri...'' 
''Oowh...'' 

selesai pesanannya dibungkus, bersamaan dengan bunyi keritik yang mulai menggambar titik-titik basah di tenda terpal milik Mas Pecel Lele. Agak berlari ia keluar, tapi melebatnya sang hujan jauh lebih cepat dari tapak-tapak kecilnya. 
Khawatir pecel lele untuk istri tercinta yang hanya dibungkus kertas akan berkuah, ia selipkan masuk ke perutnya. Bungkusan itu ia rengkuh erat dengan tangan kanan, tersembunyi di balik kaos putih yang mulai transparan disapu air. Tangan kirinya ke atas, mencoba melindungi kepalanya dari terpaan ganas hujan yang tercurah memukul-mukul. Saat itu ia sadar, ia ambil pecinya. Ia pakai juga untuk melapisi bungkusan pecel lele.huff, lumayan aman sekarang. Tapi 3 kilometer bukan jarak yang dekat untuk berjalan di tengah hujan bukan?? 

Apa perasaan anda melihat lelaki ini?kasihan. Iba. Miris. Sedih. 
Itukan Anda! 
Coba tanyakan pada lelaki itu, kalau anda bertemu. Oh, sungguh berbeda. Betapa berbunga hatinya. Dadanya dipenuhi heroisme sebagai suami baru yang penuh erjuangan untuk membelikan penyambung hayat istri tercinta. 
Jiwanya dipenuhi getaran kebanggaan, keharuan dan kegembiraan. Kebahagian seolah tak terbatas, menyelam begitu dalam di kebeningan matanya. Ia membayangkan senyum yang menantinya, bagai bayangan surga yang terus terhidupkan yang terus terhidupkan dirumah petak kontrakannya. 
Di tengah cipratan air dari mobil dan bus kota yang bersicepat, juga sandalnya yang putus lalu hilang ditelan lumpur becek, ia akan tersenyum. Senyum termanis yang di saksikan jagad. Seingatnya, ia belum pernah tersenyum semanis itu saat ia membujang,.. Subhaanallaah.. 

* Cerita ini bersumber dari kisah nyata yang dialami Ustad Mohammad Fauzil Adhim (penulis buku Kupinang Kau dengan Hamdallah) 

Saat mereka mendoakan, ''Barakallahu Laka...''  kubisikan kepadamu, ''Cintamu sehangat ciuman bidadari...'' 
Kau menjawab, ''Ada barakah di kala bidadari cemburu.'' 

Ketika mereka meminta lagi pada Allah, 
''Wa baarakallahu 'alaika...'' 
Lirikanmu menelisik hatiku, ''Dalam badai, dekap aku lebih erat!'' 
''Bersama barakah, masalah akan menguatkan jalinan, '' begitu kau yakinkan. 

Lalu mereka menutup, ''Wa jama'a bainakuma fii khaiir...'' 
Maka tangan kita saling berpaut dan jemarinya menyatu, 
''Genggam tanganku, rasakan kekuatan cinta!'' 

Pertama, Persiapan Ruhiyah (spiritual).

Ini menyangkut proses perbaikan kita dalam menata sikap mental agar lebih bertanggung jawab, lebih sabar dan dapat lebih mengendalikan ego. Tak lupa juga untuk meningkatkan kemampuan untuk bersabar dan bersyukur

Pernikahan yang setiap hari anggota rumahnya lebih sibuk di dalam kamar masing-masing, itu memang adem ayem kan?
Pernikahan yang setiap hari anggota rumahnya lebih memilih untuk memendam prasangka dan amarah, itu memang adem ayem kan?
Pernikahan yang ketika ada konflik, ketika pasangannya melakukan kesalahan, terus memilih untuk mengabaikan hal itu, itu memang adem ayem kan?
Pernikahan yang sering nonton bersama di ruang TV, namun jarang curhat dan berdiskusi, itu memang adem ayem kan?

Namun, apa iya hanya sekedar adem ayem saja yang kita incar? Karena, yang sering terjadi, pernikahan seperti ini harmonisnya semu. Karena, begitu banyak asumsi dan emosi terpendam yang justru menjadi bom waktu yang tertanam, dan tinggal tunggu waktu bom itu MELEDAK

Loh, kenapa?

Karena, emosi itu bagaikan per. Jika ditekan dan ditahan terus-menerus, maka tunggu saja, akan ada masanya dia MELEDAK…
Kita pasti pernah kan merasakan menahan amarah sampai tangan mengepal begitu keras dan bergetar-getar? Kepala memanas dan muka memerah?

Maka jangan heran, begitu banyak keluarga yang adem ayem, namun terlihat secara tiba-tiba KDRT, perselingkuhan, anak narkoba, atau perceraian terjadi. Bomnya terkesan meledak dan terkesan sangat tiba-tiba saat itu juga, padahal sumbunya sudah mulai menyala…

Maka berhati-hatilah, jangan sampai kita mendiamkan suatu masalah dalam rumahtangga kita dengan berharap sang waktu akan menyelesaikan segalanya. Atau, jangan sampai ketika pasangan kita mempermasalahkan sesuatu, kita menganggapnya lebay. Karena, kita tak tahu apakah pembiaran yang kita lakukan, bisa menjadi bom waktu dan meledak di kemudian hari?
Sebaiknya milikilah prinsip, selesaikan masalah atau konflik saat itu juga, jangan dibawa ke keesokan harinya. InsyaAllah, jika kita melakukan ini, maka kita sedang melangkah membentuk pernikahan yang BETUL-BETUL HARMONIS….

Karena pernikahan harmonis bukan berarti pernikahan yang tiada konflik sama sekali, namun pernikahan dimana suami dan istri mampu menghadapi konflik yang ada secara dewasa

Selamat membangun 

TANYA JAWAB

Q : Pernah mendengar cerita tentang suami istri yang dijodohkan, kemudian suaminya tidak suka. Istrinya disiksa, disuruh hamil tiap tahun, tidak boleh punya pembantu.. smp sang istri lumpuh kemudian wafat. Setiap suami saya nyebelin, saya selalu membandingkan dengan cerita diatas sehingga hilang marah saya, bersyukur suami saya nyebelin nya gak separah itu. Apakah ini termasuk menahan marah ustadzah?
A : Subhanallah....sampai ada ya yang begitu. Tidak takut menyiksa wanita yang justru akan jadi tanggungjawab nya di akhirat nanti. Betul bunda, insyaallah sudah bagian dari menahan amarah. Jika hanya masalah sepele, maafkan dan lapangkan. cukuplah ingat kebaikan suami selama ini dengan kita. Tapi jika masalahnya besar, tetap harus diselesaikan dan tidak hanya dipendam karena gak mau berantem. Masalah besar dalam rumah tangga adalah masalah tauhid.

Q : Ustadzah, saya kan LDR dengan suami. Bagaimana caranya agar bisa tetap menjaga kepercayaan terhadap suami? Dan bagaimana cara menjaga hati agar tidak cemburu buta sehingga berprasangka buruk terhadap suami?
A : Upayakan bersatu kembali karena dalam Islam, tidak baik LDR dalam waktu lama. Namun selama belum bisa, bagaimana kita bisa mempertahankan percaya pada suami, kita dulu yang harus bisa menjaga kepercayaan suami. Jauhi prasangka buruk karena Allah berbuat sesuai prasangka hambaNya. Perbaiki kualitas komunikasi. Banyak berdoa semoga Allah jaga rumah tangga bunda.

Q : Kupasan di atas betul sekali....Justru yang segala persoalan..masalah tak di bicakan...di obrolkan...karena kalau di bicarakan jawaban nya membuat ribut...Emosi yang terpendam karena takut kekerasan terjadi pada akhirnya kita jadi punya penyakit hati...dengan merasa tertekan...merasa dingkol..jengkel...Yang mau di tanyakan sebesar apa/masuk golongan dosa yang gimana kalau pasangan hidup kita masing-masing punya penyakit hati yang mempunyai alasan tertentu ustadzah???
Mohin penjelasan dan pencerahannya
A : Masalah terbesar dalam Rumah Tangga adalah hal-hal yang menyangkut tauhid. Hal-hal yang berhubungan dengan Allah. Jadi kalau hanya sekedar indisipliner dlm meletakkan barang, tidak mau bantu pekerjaan rumah tangga, maafkan dan berlapang dada saja. Lucu juga ya, sepasang suami istri yang adalah belahan jiwa, bisa punya penyakit hati di antara mereka. Bukankah harusnya mereka punya satu chemistry yang baik dalam menjalani biduk RT?

Q : Suami saya suka mengungkapkan isi hatinya dengan terus terang, baik dan buruk, apa saja. Saya justru memilih menahan diri untuk hal-hal yang tak baik. Milih kata-kata yang tepat untuk mengungkapkan, mikir dulu, nunggu kesempatan dulu.....supaya tak nambah dosa. Gmn sebaiknya?
A : Tiap orang punya karakter masing-masing dalam bersikap. Orang-orang ekstrovert cenderung blak2an dan mengekspresikan dirinya tanpa tedeng aling-aling. Sebaliknya org introvert. Jadi pahami pasangan dengan baik. Karena tidak asyik juga ya jika menuntut pasangan mirip dengan kita.
Pernikahan khan untuk saling melengkapi. Tapi jika memang merasa tidak nyaman, ya sampaikan baik-baik harapan kita.

Alhamdulillah, kajian kita hari ini berjalan dengan lancar. Semoga ilmu yang kita dapatkan berkah dan bermanfaat. Aamiin....

Segala yang benar dari Allah semata, mohon maaf atas segala kekurangan. Baikalauah langsung saja kita tutup dengan istighfar masing-masing sebanyak-banyakanya dan do'a kafaratul majelis:



سبحانك اللهم وبحمدك أشهد ان لا إله إلا أنت أستغفرك وآتوب إليك

Subhanakallahumma wabihamdika asayahadu allaailaaha illa anta astaghfiruka wa atuubu ilaika

“Maha Suci Engakau ya Allah, dengan memuji-Mu aku bersaksi bahwa tiada sesembahan yang haq disembah melainkan diri-Mu, aku memohon pengampunan-Mu dan bertaubat kepada-Mu.”


Thanks for reading & sharing Kajian On Line Hamba اللَّهِ SWT

Previous
« Prev Post

0 komentar:

Post a Comment

Ketik Materi yang anda cari !!