Dosa-dosa Istri Yang Terlupakan

Posted by Kajian On Line Hamba اللَّهِ SWT on Friday, January 5, 2018



Image result for dosa istri
Kajian Online Hamba Allah Ummi G-3
Hari/Tgl : Senin 11 September 2017
Materi : Dosa-dosa Istri Yang Terlupakan
Narasumber : Ustadz Cipto
Waktu kajian : Ba'da  ashar -  selesai
Editor : Sapta
➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖

MATERI

Dengan dalil dari Al-Ma'arij 70:13

وَفَصِيلَتِهِ ٱلَّتِى تُـْٔوِيهِ
“dan keluarga yang melindunginya (di dunia),”

Juga dalam At-Tahrim 66:6

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ قُوٓا۟ أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا ٱلنَّاسُ وَٱلْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَٰٓئِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَّا يَعْصُونَ ٱللَّهَ مَآ أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ

“Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, dan keras, yang tidak durhaka kepada Allah terhadap apa yang Dia perintahkan kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.”


Nah kali ini bahasan diskusi kita seputar diri masing-masing personel keluarga, atas masukan dari berbagai pihak (admin) tentang kesalahan-kesalahan istri yang berpotensi menjadi dosa.

Dari artikel dan dari berbagai sumber kesalahan seorang istri sebagai berikut :


1. Menuntut keluarga yang ideal dan sempurna

Sebelum menikah, seorang wanita membayangkan pernikahan yang begitu indah, kehidupan yang sangat romantis sebagaimana ia baca dalam novel maupun ia saksikan dalam sinetron-sinetron.
Ia memiliki gambaran yang sangat ideal dari sebuah pernikahan. Kelelahan yang sangat, cape, masalah keuangan, dan segudang problematika di dalam sebuah keluarga luput dari gambaran nya. Ia hanya membayangkan yang indah-indah dan enak-enak dalam sebuah perkawinan.
Akhirnya, ketika ia harus menghadapi semua itu, ia tidak siap. Ia kurang bisa menerima keadaan, hal ini terjadi berlarut-larut, ia selalu saja menuntut suaminya agar keluarga yang mereka bina sesuai dengan gambaran ideal yang senantiasa ia impikan sejak muda.
Seorang wanita yang hendak menikah, alangkah baiknya jika ia melihat lembaga perkawinan dengan pemahaman yang utuh, tidak sepotong-potong, romantika keluarga beserta problematika yang ada di dalamnya.


2. Nusyus (tidak taat kepada suami)

Nusyus adalah sikap membangkang, tidak patuh dan tidak taat kepada suami. Wanita yang melakukan nusyus adalah wanita yang melawan suami, melanggar perintahnya, tidak taat kepadanya, dan tidak ridha pada kedudukan yang Allah Subhanahu wa Ta’ala telah tetapkan untuknya.

Nusyus memiliki beberapa bentuk, diantaranya adalah:
1. Menolak ajakan suami ketika mengajaknya ke tempat tidur, dengan terang-terangan maupun secara samar.
2. Mengkhianati suami, misalnya dengan menjalin hubungan gelap dengan pria lain.
3. Memasukkan seseorang yang tidak disenangi suami ke dalam rumah
4. Lalai dalam melayani suami
5. Mubazir dan menghambur-hamburkan uang pada yang bukan tempatnya
6. Menyakiti suami dengan tutur kata yang buruk, mencela, dan mengejeknya
7. Keluar rumah tanpa izin suami
8. Menyebarkan dan mencela rahasia-rahasia suami.

Seorang istri shalihah akan senantiasa menempatkan ketaatan kepada suami di atas segala-galanya. Tentu saja bukan ketaatan dalam kedurhakaan kepada Allah, karena tidak ada ketaatan dalam maksiat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Ia akan taat kapan pun, dalam situasi apapun, senang maupun susah, lapang maupun sempit, suka ataupun duka. Ketaatan istri seperti ini sangat besar pengaruhnya dalam menumbuhkan cinta dan memelihara kesetiaan suami.


3. Tidak menyukai keluarga suami

Terkadang seorang istri menginginkan agar seluruh perhatian dan kasih sayang sang suami hanya tercurah pada dirinya. Tak boleh sedikit pun waktu dan perhatian diberikan kepada selainnya. Termasuk juga kepada orang tua suami. Padahal, di satu sisi, suami harus berbakti dan memuliakan orang tuanya, terlebih ibunya.

Salah satu bentuknya adalah cemburu terhadap ibu mertuanya. Ia menganggap ibu mertua sebagai pesaing utama dalam mendapatkan cinta, perhatian, dan kasih sayang suami. Terkadang, sebagian istri berani menghina dan melecehkan orang tua suami, bahkan ia tak jarang berusaha merayu suami untuk berbuat durhaka kepada orang tuanya. Terkadang istri sengaja mencari-cari kesalahan dan kelemahan orang tua dan keluarga suami, atau membesar-besarkan suatu masalah, bahkan tak segan untuk memfitnah keluarga suami.
Ada juga seorang istri yang menuntut suaminya agar lebih menyukai keluarga istri, ia berusaha menjauhkan suami dari keluarganya dengan berbagai cara.

Ikatan pernikahan bukan hanya menyatukan dua insan dalam sebuah lembaga pernikahan, namun juga ‘pernikahan antar keluarga’. Kedua orang tua suami adalah orang tua istri, keluarga suami adalah keluarga istri, demikian sebaliknya. Menjalin hubungan baik dengan keluarga suami merupakan salah satu keharmonisan keluarga. Suami akan merasa tenang dan bahagia jika istrinya mampu memposisikan dirinya dalam kelurga suami. Hal ini akan menambah cinta dan kasih sayang suami.


4. Tidak menjaga penampilan

Terkadang, seorang istri berhias, berdandan, dan mengenakan pakaian yang indah hanya ketika ia keluar rumah, ketika hendak bepergian, menghadiri undangan, ke kantor, mengunjungi saudara maupun teman-temannya, pergi ke tempat perbelanjaan, atau ketika ada acara lainnya di luar rumah. Keadaan ini sungguh berbalik ketika ia di depan suaminya. Ia tidak peduli dengan tubuhnya yang kotor, cukup hanya mengenakan pakaian seadanya: terkadang kotor, lusuh, dan berbau, rambutnya kusut masai, ia juga hanya mencukupkan dengan aroma dapur yang menyengat.
Jika keadaan ini terus menerus dipelihara oleh istri, jangan heran jika suami tidak betah di rumah, ia lebih suka menghabiskan waktunya di luar ketimbang di rumah. Semestinya, berhiasnya dia lebih ditujukan kepada suami Janganlah keindahan yang telah dianugerahkan oleh Allah diberikan kepada orang lain, padahal suami nya di rumah lebih berhak untuk itu.


5. Kurang berterima kasih

Tidak jarang, seorang suami tidak mampu memenuhi keinginan sang istri. Apa yang diberikan suami jauh dari apa yang ia harapkan. Ia tidak puas dengan apa yang diberikan suami, meskipun suaminya sudah berusaha secara maksimal untuk memenuhi kebutuhan keluarga dan keinginan-keinginan istrinya.
Istri kurang bahkan tidak memiliki rasa terima kasih kepada suaminya. Ia tidak bersyukur atas karunia Allah yang diberikan kepadanya lewat suaminya. Ia senantiasa merasa sempit dan kekurangan. Sifat qona’ah dan ridho terhadap apa yang diberikan Allah kepadanya sangat jauh dari dirinya.
Seorang istri yang shalihah tentunya mampu memahami keterbatasan kemampuan suami. Ia tidak akan membebani suami dengan sesuatu yang tidak mampu dilakukan suami. Ia akan berterima kasih dan mensyukuri apa yang telah diberikan suami. Ia bersyukur atas nikmat yang dikaruniakan Allah kepadanya, dengan bersyukur, insya Allah, nikmat Allah akan bertambah.

“Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya adzab-Ku sangat pedih.”


6. Mengingkari kebaikan suami

“Wanita merupakan mayoritas penduduk neraka.”

Demikian disampaikan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam setelah shalat gerhana ketika terjadi gerhana matahari.
Ajaib !! wanita sangat dimuliakan di mata Islam, bahkan seorang ibu memperoleh hak untuk dihormati tiga kali lebih besar ketimbang ayah. Sosok yang dimuliakan, namun malah menjadi penghuni mayoritas neraka. Bagaimana ini terjadi?

Karena kekufuran mereka,” jawab Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam ketika para sabahat bertanya mengapa hal itu bisa terjadi. Apakah mereka mengingkari Allah?
Bukan, mereka tidak mengingkari Allah, tapi mereka mengingkari suami dan kebaikan-kebaikan yang telah diperbuat suaminya. Andaikata seorang suami berbuat kebaikan sepanjang masa, kemudian seorang istri melihat sesuatu yang tidak disenanginya dari seorang suami, maka si istri akan mengatakan bahwa ia tidak melihat kebaikan sedikitpun dari suaminya. Demikian penjelasan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dalam hadits yang diriwayatkan Bukhari (5197).

Mengingkari suami dan kebaikan-kebaikan yang telah dilakukan suami!!
Inilah penyebab banyaknya kaum wanita berada di dalam neraka. Mari kita lihat diri setiap kita, kita saling introspeksi , apa dan bagaimana yang telah kita lakukan kepada suami-suami kita?
Jika kita terbebas dari yang demikian, alhamdulillah. Itulah yang kita harapkan. Berita gembira untukmu wahai saudariku.

Namun jika tidak, kita (sering) mengingkari suami, mengingkari kebaikan-kebaikannya,  maka berhati-hatilah dengan apa yang telah disinyalir oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Bertobat,  satu-satunya pilihan utuk terhindar dari pedihnya siksa neraka. Selama matahari belum terbit dari barat, atau nafas telah ada di kerongkongan,  masih ada waktu untuk bertobat. Tapi mengapa mesti nanti? Mengapa mesti menunggu sakaratul maut?

Janganlah engkau katakan besok dan besok wahai saudariku; kejarlah ajalmu,  bukankah engkau tidak tahu kapan engkau akan menemui Robb mu?

“Tidaklah seorang isteri yang menyakiti suaminya di dunia, melainkan isterinya (di akhirat kelak): bidadari yang menjadi pasangan suaminya (berkata): “Jangan engkau menyakitinya, kelak kamu dimurkai Allah, seorang suami begimu hanyalah seorang tamu yang bisa segera berpisah dengan kamu menuju kami.” (HR. At Tirmidzi, hasan)

Wahai saudariku, mari kita lihat, apa yang telah kita lakukan selama ini , jangan pernah bosan dan henti untuk introspeksi diri,  jangan sampai apa yang kita lakukan tanpa kita sadari membawa kita kepada neraka, yang kedahsyatannya tentu sudah Engkau ketahui.
Jika suatu saat, muncul sesuatu yang tidak kita sukai dari suami; janganlah kita mengingkari dan melupakan semua kebaikan yang telah suami kita lakukan.

“Maka lihatlah kedudukanmu di sisinya. Sesungguhnya suamimu adalah surga dan nerakamu.” (HR.Ahmad)


7. Mengungkit-ungkit kebaikan

Setiap orang tentunya memiliki kebaikan, tak terkecuali seorang istri. Yang jadi masalah adalah jika seorang istri menyebut kebaikan-kebaikannya di depan suami dalam rangka mengungkit-ungkit kebaikannya semata.

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima).” [Al Baqarah: 264]

Abu Dzar radhiyallahu ‘Anhu meriwayatkan, bahwasanya Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, “Ada tiga kelompok manusia dimana Allah tidak akan berbicara dan tak akan memandang mereka pada hari kiamat. Dia tidak mensucikan mereka dan untuk mereka adzab yang pedih.” Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakannya sebanyak tiga kali.” Lalu Abu Dzar bertanya, “Siapakah mereka yang rugi itu, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Orang yang menjulurkan kain sarungnya ke bawah mata kaki (isbal), orang yang suka mengungkit-ungkit kebaikannya dan orang yang suka bersumpah palsu ketika menjual. ” [HR. Muslim]


8. Sibuk di luar rumah

Seorang istri terkadang memiliki banyak kesibukan di luar rumah. Kesibukan ini tidak ada salahnya, asalkan mendapat izin suami dan tidak sampai mengabaikan tugas dan tanggung jawabnya.
Jangan sampai aktivitas tersebut melalaikan tanggung jawab nya sebagai seorang istri. Jangan sampai amanah yang sudah dipikulnya terabaikan.
Ketika suami pulang dari mencari nafkah, ia mendapati rumah belum beres, cucian masih menumpuk, hidangan belum siap, anak-anak belum mandi, dan lain sebagainya. Jika hni terjadi terus menerus, bisa jadi suami tidak betah di rumah, ia lebih suka menghabiskan waktunya di luar atau di kantor.


9. Cemburu buta

Cemburu merupakan tabiat wanita, ia merupakan suatu ekspresi cinta. Dalam batas-batas tertentu, dapat dikatakan wajar bila seorang istri merasa cemburu dan memendam rasa curiga kepada suami yang jarang berada di rumah. Namun jika rasa cemburu ini berlebihan, melampaui batas, tidak mendasar, dan hanya berasal dari praduga; maka rasa cemburu ini dapat berubah menjadi cemburu yang tercela.
Cemburu yang disyariatkan adalah cemburunya istri terhadap suami karena kemaksiatan yang dilakukannya, misalnya: berzina, mengurangi hak-hak nya, menzhaliminya, atau lebih mendahulukan istri lain ketimbang dirinya. Jika terdapat tanda-tanda yang membenarkan hal ini, maka ini adalah cemburu yang terpuji. Jika hanya dugaan belaka tanpa fakta dan bukti, maka ini adalah cemburu yang tercela.
Jika kecurigaan istri berlebihan, tidak berdasar pada fakta dan bukti, cemburu buta, hal ini tentunya akan mengundang kekesalan dan kejengkelan suami. Ia tidak akan pernah merasa nyaman ketika ada di rumah. Bahkan, tidak menutup kemungkinan, kejengkelannya akan dilampiaskan dengan cara melakukan apa yang disangkakan istri kepada dirinya.


10. Kurang menjaga perasaan suami

Kepekaan suami maupun istri terhadap perasaan pasangannya sangat diperlukan untuk menghindari terjadinya konflik, kesalahpahaman, dan ketersinggungan. Seorang istri hendaknya senantiasa berhati-hati dalam setiap ucapan dan perbuatannya agar tidak menyakiti perasaan suami, ia mampu menjaga lisannya dari kebiasaan mencaci, berkata keras, dan mengkritik dengan cara memojokkan. Istri selalu berusaha untuk menampakkan wajah yang ramah, menyenangkan, tidak bermuka masam, dan menyejukkan ketika dipandang suaminya.


Demikian beberapa kesalahan-kesalahan istri yang terkadang dilakukan kepada suami yang seyogyanya kita hindari agar suami semakin sayang pada setiap istri. Semoga keluarga kita menjadi keluarga yang sakinah, mawadah, warohmah.
amin…

~~~~~~
Artikel ini dapat dilihat pada link sbb :
Eramuslim.com - Media Islam Rujukan


Diantara tujuan pembahasan ini adalah tuk menumbuhkan kesadaran para istri.... sisi lain pihak suami pun punya kesalahan-kesalahan yang juga berpotensi dosa... namun karena forum ini banyak para umahat maka kita bahas agar jadi bahan introspeksi diri.


=============
TANYA JAWAB


T : Saya mau bertanya ustadz, kalau seorang istri memberi saran yang bagus tapi tidak diindahkan oleh suami, karena suami lebih memilih saran dari teman-temannya itu bagaimana?
J : Sifat saran itu ya masukan mau dipakai atau tidak terserah yang menjalankan. Kaidahnya tak perlu memaksakan saran atau kehendak kita, penyertaan argumentasi dan dalil penting namun tetap keputusan pada yang melaksanakan


T : Terkadang masalah penampilan juga ustadz, mau pergi undangan nih, saya sudah siap, tapi Beliau pengennya saya memakai jilbab yang saya  kurang nyaman, sehingga timbul lah percekcokan bagaimana mensiasatinya ustadz?
J : Ahsan dituruti, cari cara untuk menyamankan diri, sudah kerasa khan kalau tidak nurut malah terjadi cekcok, ketidaknyamanannya malah berujung panjang, jadi mengalahlah, niatkan untuk menurut dan taat kepada suami agar Allah ridho.


T : Materinya sangat bagus, sebagai seorang istri pasti punya banyak kekurangan, lalu bagaimana ketika kita berusaha untuk menjadi istri yang taat tetapi tidak berbanding lurus dengan perlakuan suami, misalnya dalam beribadah, ketika suami masih sering lalai dalam beribadah sehingga menimbulkan kedongkolan dalam hati, bukankah suami punya kewajiban untuk mengajari istri dalam masalah agama, atau bagaimana ya ustad? Jadi bingung?!
J : Naam terus perbaiki diri lebih baik....terkadang perubahan sikap suami adalah dari ketaatan kita. Saya pribadi bahkan sering menyampaikan, saya akan tunduk pada wanita yang taat padamu dalam kebaikan tentunya. Komunikasi dan fiqh dakwah keluarga perlu dipelajari, bersabar dengan kelakuan suami bunda bisa jadi sebuah wasilah terbukanya hidayah pada suami kita, titik penting hal ini adalah komunikasi.
Kumpul keluarga dan tarbiyah islamiyah keluarga harus diperhatikan, mendidik anak kadang bisa jadi bagian untuk melibatkan dan merubah suami menjadi lebih, ajak anak-anak untuk belajar pada ayahnya, insya Allah ayah yang baik akan bersiap-siap dan belajar.


T : Saya mau bertanya ustadz, bolehkah seorang istri menolak ajakan suami untuk tinggal dengan mertua dikarenakan istri tidak nyaman dengan sifat mertua dan disana banyak ipar laki-laki?
J : Laa.....ikut selama tidak ada kemaksiyatan wajib ikut... tinggal pengaturan teknis.... dan ahsan komunikasikan dengan baik kepada suami terkait ketidak nyamanan, cari juga solusi jangan hanya menuntut ya, tapi prinsip dasar wajib nurut selama tidak dalam bermaksiyat kepada Allah.


T : Anne ijin bertanya ustadz, bolehkan penghasilan istri disedekahkan atau dibelanjakan tanpa sepengetahuan suami, misalnya membelikan orang tua baju? Dan terkait kalau istri bekerja bagaimana supaya menjaga batas sehingga suami tidak curiga atau sebaliknya? Terima kasih.
J : Penghasilan istri adalah harta milik istri, pengaturannya menjadi hak penuh istri dan harus terpahamkan dan ter-komunikasi-kan dengan baik kepada suami. Karena itu hak istri tak ada batas hanya ahsan dikomunikasikan.


T : Ijin bertanya ustadz. Apakah boleh kalau suami  memberi apa-apa terhadap keluarganya secara sembunyi-sembunyi? Ketika ditanya kenapa bagitu jawabnya tidak enak sama istrinya. (permintaan keluarganya banyak ustadz), Itu bagaimana ya ustadz?
J : Kalau ke ibu atau orangtua wajib dahulukan, istri perlu bantu suami dalam berbakti kepada orangtuanya. Adapun ke keluarganya yg lain tidak menjadi kewajiban hanya bersifat infak atau sedekah.... tidak harus dipenuhi semua.... sampaikan dan komunikasikan dengan baik.


T : Ijin bertanya ustadz, jika kita sedekah tanpa bertanya pada suami dosa tidak? Dan apakah benar dalam islam tidak ada harta gono gini, kalau iya rugi dong istri yang di cerai jika penyebab perceraian adalah perselingkuhan, enak di istri muda dong ustadz? Sekian dan terimakasih untuk waktu dan jawabannya ustadz.
J : Kalau harta yang disedekahkam adalah harta milik istri silahkan... termasuk pemberian atau nafkah yang diberikan sama suami untuk istri menjadi hak penuh istri mengeluarkannya. Ada materi lain sebenernya perihal nafkah ini.... maybe next kita bahas ya.
Memang bukan gono gini sih....Harta istri baik sebelum atau sesudah menikah adalah menjadi hak penuh istri. Adapun jika istri bekerja itupun syarat dan ketentuan berlaku sebenernya. Hasil pekerjaan istri untuk membantu mencukupi kebutuhan keluarga adalah bagian dari sedekah istri dan amal sholehnya membantu suami.... pun tidak untuk kebutuhan keluarga itu haknya.... islam mengatur tentang hak dan kewajiban ini kok, hanya sering diistilahkan gono gini dan sering tidak pas.


T : Afwan ustadz, bagaimana hukumnya bila suami melarang istri tarbiyah? (Menuntut ilmu syar'i?)
J : Tanya saja dasarnya kenapa melarang..... secara umum.... itu hak suami. Perlu latihan komunikasi.... atau bisa jadi suaminya juga tidak tarbiyah.... coba diajak lah.


T : Kalau istri yang merasa tersinggung dengan perkataan suami terus istrinya melayani segala keperluannya tapi dengan mendiamkan (tanpa bicara)...itu juga dosa ya ustadz?
J : Manusiawi kok bunda... tapi tetap ada batasnya ya.... tetap layani dengan baik sebaik mungkin.... jadi teringat rasulullah dan bunda aisyah, kalau marah rasulullah bisa mengenali aisyah sedang marah.... bunda aisyah kalau marah "demi Allah tuhannya ibrahim", tak apa berdiam diri agar suami juga tau.


T : afwan ijin bertanya ustadz, seorang suami tiap bulan menyumbang uang lumayan, banyak untuk membangun rumah peninggalan orang tuanya. Kedua orang tuanya sudah meninggal.  Dan dia bersama saudara-saudara berencana, makin memperbagus rumah tersebut, padahal tidak punya tabungan sama sekali untuk masa depan pendidikan anak-anaknya. Bagaimana hal ini, menurut islam? Syukron
J : Ahsan berbakti kepada orang tua memang perlu di dorong terutama oleh seorang istri kepada suaminya, karena insya Allah kelak para istri dan bunda juga akan beroleh hal yg sama dari putra-putrinya. Adapun terkait teknis berbakti ada berbagai cara.... termasuk merawat penginggalan orangtua, tapi itu bukan perkara yang terlalu urgent.... masih bisa diatur prioritasnya. Juga terkait dengan kesiapan dan kesanggupan kalau sudah berjanji.
Nah ttg pendidikan anak dan dananya, ini pun bisa jadi sebuah hal yang prioritas dan perlu pengaturan.... ahsan jangan dibentur-benturkan.... yang diperlukan adalah pengaturan dan prinsip tawazun..... ingatkan saja kepada suami terkait kesanggupan dan juga ada kewajiban lain yang juga harus ditanggung.... jadi jangan di feit a compli atau di tabrakan dua hal kebaikan.... wallahu alam



~~~~~~~~~~~
Kita tutup dengan membacakan hamdalah..
Alhamdulillahirabbil'aalamiin

Doa Kafaratul Majelis :

 سبحانك اللهم وبحمدك أشهد ان لا إله إلا أنت أستغفرك وآتوب إليك

Subhanakallahumma wabihamdika asyhadu allaailaaha illa anta astaghfiruka wa atuubu ilaika

“Maha Suci Engkau ya Allah, dengan memuji-Mu aku bersaksi bahwa tiada sesembahan yang haq disembah melainkan diri-Mu, aku memohon pengampunan-Mu dan bertaubat kepada-Mu.”

Wassalamu'alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh


================
Website: www.hambaAllah.net
FanPage : Kajian On line-Hamba Allah
FB : Kajian On Line-Hamba Allah
Twitter: @kajianonline_HA
IG: @hambaAllah_official

Thanks for reading & sharing Kajian On Line Hamba اللَّهِ SWT

Previous
« Prev Post

0 comments:

Post a Comment

Ketik Materi yang anda cari !!