Home » , » H I J R A H

H I J R A H

Posted by Kajian On Line Hamba اللَّهِ SWT on Friday, January 19, 2018



Image result for hijrah
Rekap KOLHA Ummi G-1
Hari/Tgl : Senin 25 September 2017
Materi : "Hijrah"
Narasumber : Ustadzah Lillah
Waktu kajian: 08:00-11:00
Editor : Sapta
=================



HIJRAH

“Barangsiapa berhijrah di jalan Allah, niscaya mereka mendapati di muka bumi ini tempat hijrah yang luas dan rezki yang banyak. Barangsiapa keluar dari rumahnya dengan maksud berhijrah kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian kematian menimpanya (sebelum sampai ke tempat yang dituju), maka sungguh telah tetap pahalanya di sisi Allah. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang“ [QS An-Nisaa’(4):100]

Manakala kita akan berpindah dari suatu daerah ke daerah lain tentu mempunyai alasan dan pertimbangan yang berbeda-beda dalam prioritas, ada yang disebabkan keadaan ekonomi, karena keamanan dan kenyamanan atau karena perbedaan keyakinan, tetapi mempunyai tujuan yang hampir sama yaitu meraih harapan, agar hidup lebih baik. Jadi disana terkandung harapan, optimisme, tekad dan perjuangan. Dan perjuangan yang dilakukan untuk mewujudkan harapan agar keadaan menjadi lebih baik ini akan menjadi optimisme apabila telah dilengkapi dengan persiapan dan bekal yang memadai, baik bekal fisik (dan harta benda) maupun bekal mental, yaitu meneguhkan hati untuk meraih keberhasilan.

Ketika Nabi SAW dan para sahabat berhijrah dari Mekah ke Madinah mempunyai tujuan agar Islam dapat berkembang lebih baik, juga sebagai wujud kepatuhan kepada Allah SWT dan Rasul-NYA, dan di Madinah diyakini Islam akan berkembang pesat dan beroleh kemenangan. Nabi SAW dan para sahabat sudah mempersiapkan mental (=akidah) berupa gemblengan di Daarul Arqom. Para sahabat hasil tempaan ini bagaikan ‘pasukan elit’ bagi umat Islam, dan persiapan mental ini lebih utama dibanding yang lain.

“ ….. Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah taqwa dan bertaqwalah kepada-KU hai orang-orang yang berakal” [QS Al-Baqarah (2) : 197].

Berbekal mental ketaqwaan kepada Allah dan pertolongan serta janji Allah menimbulkan sikap optimis akan kemenangan di masa depan, sehingga para sahabat bertekad untuk berjuang bersungguh-sungguh untuk meraih tujuan itu.

“Janganlah kamu cemas, sesungguhnya Allah beserta kita” demikian sabda Nabi SAW kepada Abu Bakar r.a. disaat terkepung di gua Tsur saat akan berhijrah. “…Maka Allah menurunkan ketenangan-NYA kepada (Muhammad), dan membantunya dengan tentara yang kamu tidak melihatnya….” [QS At-Taubah (9) : 40].

“Selain Allah? Dapatkah mereka menolong kamu atau menolong diri mereka sendiri?” [QS As-Syu’araa’ (26): 93], juga QS Ar-Ruum (30) : 5 dan Al-Hasyr (59) : 8.

Oleh karena itu bersungguh-sungguh dan berbahagialah karena janji Allah itu pasti [QS Ali Imron (3) : 194]

Hakikatnya setiap saat manusia berhijrah, dari satu detik ke detik berikutnya, dari satu jam ke jam berikutnya, dari satu hari ke hari berikutnya, dari satu tahun ke tahun ke tahun berikutnya dan dari kehidupan dunia ke kehidupan akhirat.. Hijrah ini berpindah dari suatu keadaan menuju keadaan yang harus lebih baik, dan dengan bekal yang paling utama yaitu taqwa, merugi orang yang hari ini sama dengan hari kemarin, dan celakalah orang yang hari kemarin malah lebih baik dari hari ini. Kita berlomba dengan waktu menuju garis akhir (finish) kita.

“Demi masa, sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakam amal shaleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran” [QS Al-‘Ashr (103) : 1-3].

Ayo, kita hijrah dengan dimulai dari hal-hal yang kecil tetapi terus menerus, misal : berinfaq 500 rupiah setiap hari, atau mengurangi menonton sinetron di televisi 1 jam setiap hari, membersihkan sampah di jalan di depan rumah kita, ataupun membaca dan mengkaji Qur’an sehalaman sehari. Dimulai sedikit demi sedikit tetapi terus-menerus sehingga menjadi kebiasaan (didawamkan). Insya Allah, Allah SWT akan menolong hamba-NYA yang berusaha semakin baik, membukakan kemudahan bagi hamba-NYA yang berusaha ‘mendekat’.


~~~~~~~~~~

TANYA JAWAB


T : Assalamualaikum bunda lillah, mohon pencerahannya, saat kita hijrah banyak sekali ujiannya, misalnya pake khimar panjang, atau baju berwarna gelap ada saja yang nyinyir dengan bertanya, aliran apaan tuh? atau hijrah misalnya yang asalnya suka keluar rumah sekarang mendadak tidak dan memilih tinggal di rumah. Banyak sekali yang aneh dengan sikap kita. Bagaimana menghadapi mereka dan bagaimana supaya kita tetap istiqomah. Mohon penjelasannya, syukron.
J : Ucapin di hati kata-kata jendral, "Emang gue pikirin...."
Sepanjang hijrah itu menuju kebaikan, sesuai dengan syariat Allah...tidak usah takut. Kita hidup bukan karena omongan orang. Tapi yang utama adalah, sampaikan terlebih dahulu nilai-nilai kebaikan kepada orang terdekat. Pasangan, anak, orangtua...Sounding dulu ke mereka. Sehingga saat kita hijrah, ada pendukung yang setia bersama kita.


T : Izin tanya ustadzah, Misalkan kita gabung dengan satu organisasi atau oke lah partai misalnya.. dengan niat agar bisa berkontribusi lebih baik untuk kepentingan rakyat. Ternyata yang baru ini tidak lebih baik dari yang lama. Nah bagaimana tuh ustadzah, niat hijrahnya  atau resign dari dua-duanya?
J : Istikharah. Karena tidak ada partai/organisasi/jamaah yang sempurna. Mana yang paling banyak maslahat, ambil.


T : Assalamualaikum ustadzah, izin bertanya. Semenjak saya menikah, saya dan suami sama-sama berhijrah, suami mulai memanjangkan jenggot dan saya mulai berpakaian gamis sesuai syariat Islam, saya tinggal di keluarga suami yang notabene mereka terbiasa dengan hal ini. Sedangkan di keluarga saya sendiri menganggap saya dan suami aneh. Saya juga jadi tidak enak sendiri sama keluarga saya. Kalau saya ngasih tahu yang bener dikiranya sok alim dan selalu menghubung-hubungkan dengan gaya saya sebelum berhijrah. kan jadi sedih kalau ingat masa lalu yang kelam. Bagaimana sikap kita terhadap keluarga kita yang menganggap aneh tentang hijrah kita?
J : Tidak papa. Yang penting tetap jaga silaturahim dengan baik. Tunjukkan hijrah kita bukan hanya di pakaian atau penampilan. Tapi juga dengan akhlak yang santun, kedermawanan, makin empati dan lain-lain. Perbanyak doa, satu saat mereka mengerti.


T : Izin tanya lagi ustadzah.  Penetapan tahun baru hijriah berdasarkan hijrahnya Rosul ke madinah, drmana mulai penetapannya? karena ada juga yang menyatakan hijrah pertama rosul dimulai pada bulan Robi'ul awwal.
J : Penetapan kalender Hijriyah terjadi di masa Amirul Mukminin Umar bin Khattab. Para sahabat yang diajak musyawarah oleh Umar bin Khatthab, mereka menyimpulkan bahwa kejadian yang bisa dijadikan acuan tahun dalam kalender ada empat: tahun kelahiran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, tahun ketika diutus sebagai rasul, tahun ketika hijrah, dan tahun ketika beliau wafat. Namun ternyata, pada tahun kelahiran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan tahun ketika beliau diutus, tidak lepas dari perdebatan dalam penentuan tahun peristiwa itu. Mereka juga menolak jika tahun kematian sebagai acuannya, karena ini akan menimbulkan kesedihan bagi kaum muslimin. Sehingga yang tersisa adalah tahun hijrah beliau. Mereka berhijrah di bulan Rabiul awwal, namun tekad untuk hijrah terjadi di bulan Muharram.


T : Ustadzah mau bertanya. Saat ini banyak yang suka ngotak-ngotakin antara kajian sunnah dan tidak sunnah. Ada ustadz sunnah dan tidak sunnah. Saya masuk di group info kajian sunnah di medan. Niatnya biar dapat info kajian jadi bisa datang. Tetapi, kalau ada yang share info kajian yang kata mereka tidak sunnah mereka agak marah. Agak tidak enak aja sebenarnya di hati bacanya.
Contohnya ada akhwat yang ngeshare jadwal roadshow ustadz abdul somad di medan. Terus adminnya agak marah. Katanya yang di share di sini hanya kajian sunnah saja. Apa kah kita harus menegur atau membiarkan yang seperti itu ustadzah? Merasa seolah-olah hanya mereka yg paling sunnah. Maaf pertanyaannya kurang mengenakkan.
J : Tidak perlu ditegur. Ahsan tinggalkan saja grup tersebut. Percuma, mereka merasa lebih benar dan lebih baik.



~~~~~~~~~~~

Kita tutup dengan membacakan hamdalah..
Alhamdulillahirabbil'aalamiin

Doa Kafaratul Majelis :

 سبحانك اللهم وبحمدك أشهد ان لا إله إلا أنت أستغفرك وآتوب إليك

Subhanakallahumma wabihamdika asyhadu allaailaaha illa anta astaghfiruka wa atuubu ilaika

“Maha Suci Engkau ya Allah, dengan memuji-Mu aku bersaksi bahwa tiada sesembahan yang haq disembah melainkan diri-Mu, aku memohon pengampunan-Mu dan bertaubat kepada-Mu.”

Wassalamu'alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh


================
Website: www.hambaAllah.net
FanPage : Kajian On line-Hamba Allah
FB : Kajian On Line-Hamba Allah
Twitter: @kajianonline_HA
IG: @hambaAllah_official

Thanks for reading & sharing Kajian On Line Hamba اللَّهِ SWT

Previous
« Prev Post

0 komentar:

Post a Comment

Ketik Materi yang anda cari !!