Home » , » Menelaah Jalannya Para Pembawa Risalah

Menelaah Jalannya Para Pembawa Risalah

Posted by Kajian On Line Hamba اللَّهِ SWT on Tuesday, January 23, 2018



Image result for pengemban risalah dakwah
Rekap Kajian Online HA Ummi G-3
Hari/Tgl : Kamis, 28 Sept 2017
Materi  : Menelaah Jalanya Para Pembawa Risalah
NaraSumber  : Ustadzah Pipit
Waktu Kajian : 13.00-15.00 wib
Editor : Sapta


Bekal Utama Dalam Dakwah

Bekal merupakan sesuatu yang penting untuk dipersiapkan, tidak hanya bagi mereka yang hendak melakukan perjalanan, namun juga bagi para da’i yang hendak berkelana jauh di medan dakwah.
Sa’id bin Ali al Qahthani rahimahullah dalam bukunya al Hikmah fi al Da’wah Ilallah, menyebutkan beberapa perkara yang harus dimiliki oleh para da’i, sebagai bekal dalam berdakwah:

Pertama: Ilmu

Bekal utama yang harus dimiliki oleh setiap da’i adalah ilmu. Hal ini sebagaimana yang Allah sebutkan dalam surat Yusuf ayat ke-108,

 “Katakanlah (Muhammad), ‘Inilah jalan (agama) ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujah yang nyata (‘ala bashirah).”

Para mufassir sepakat bahwa yang dimaksud dengan lafal “ala bashirah” pada ayat tersebut adalah ilmu, yaitu pengetahuan agama yang lurus, sesuai dengan yang diajarkan Rasulullah dan para sahabatnya.

Tanpa berbekal ilmu agama, seorang da’i akan menyesatkan banyak orang, bagaimana mungkin ia bisa menyeru manusia ke jalan yang benar smentar dirinya sama sekali tidak mampu membedakan antar yang haq dan batil, antara sunnah dan bid’ah, atau antara yang halal, syubhat dan haram. Oleh karenanya, Rasulullah pernah bersabda bahwa salah satu penyebab rusaknya umat ini adalah disebabkan oleh umara’ (raja) dan ulama’, yaitu umara’ yang memerintahkan kepada kemungkaran dan ulama’ yang berfatwa dengan kesesatan.

Kedua: Keikhlasan

Ikhlas merupakan sifat yang harus dimiliki oleh setiap orang, terkhusus mereka yang telah berkomitmen mendakwahkan agama Allah. Sifat ikhlas pada diri seorang da’i akan memberikan dampak yang sangat besar, baik pada dirinya pribadi dan juga kaum Muslimin. Ia tidak akan pernah berkecil hati dengan hinaan, dan tidak pula akan bangga dengan pujian. Disamping itu, target dan tujuan dakwah juga akan dapat dicapai.

Bisa kita bayangkan, misionaris saja untuk menyebarkan ideologi agama mereka, harus tabah dan rela tinggal di daerah-daerah terpencil, seperti yang terjadi di pedalaman Irian Jaya. Maka apabila para da’i dan pejuang Islam tidak memiliki keikhlasan, sangatlah mustahil dapat melawan arus kristenisasi yang begitu masif lagi mengancam.
              
Ketiga: Akhlak

Sejarah mencatat, bahwa Rasulullah Muhammad adalah sosok da’i yang paling berakhlak. Karena akhlaknya, beliau disegani oleh teman maupun lawan. Bahkan, tidak sedikit orang yang kemudian menerima dakwahnya.
Abu Bakar As Shidiq menceritakan, bahwa dahulu di Madinah ada seorang Yahudi buta yang selalu meludahi Nabi ketika beliau melintasi rumahnya. Namun, keburukan tersebut Nabi balas dengan akhlak kebaikan, setiap hari Nabi datang ke rumahnya dan menyuapinya makanan. Hal itu terus beliau lakukan sampai Allah mewafatkannya. Datanglah kemudian Abu Bakar untuk merawat Yahudi tersebut, namun Yahudi buta itu berkata, “Celaka engkau, kau bukanlah yag biasanya menyuapiku, ia lebih lembut daripada engkau.” Abu Bakar baru paham bahwa selama ini Yahudi itu tidak tahu siapa yag kerap melayaninya. “Ketahuilah, sesungguhnya orang tersebut telah tiada, dia adalah Rasulullah yang kerap kau ludahi.” Mendengah hal itu, luluhlah hati si Yahudi, ia menangis, dan kemudian bersyahadat.
 Dengan demikian, sangatlah tepat apa yang dikatakan oleh Sufyan ats Tsauri,

لِسَانُ الْحَالِ أَصدَقُ مِنْ لِسَانِ الْمَقَالِ.

 “Nasihat yang disampaikan melalui perbuatan (akhlaq) terkadang lebih mengena dari nasihat yang melalui ucapan.”

Keempat: Tegas dalam Kebenaran

Ketegasan, alangkah pentingnya karakter ini disandang oleh para da’i. Terlebih kita hidup di zaman, di mana orang yang berpegang kepada agamanya seperti qabidhul jamr, menggenggam bara api, digenggam terasa panas tapi jika dilepaskan akan mati.
Ketegasan bisa diterapkan pada dua kondisi. Pertama, ketegasan dalam mengambil keputusan untuk konsisten di atas kebenaran. Meskipun harus berbeda dengan kebanyakan orang, atau bahkan menjadi sasaran olok-olokan. Karena alam pikir dan keberpihakan mayoritas belum condong kepada syariat. Kedua, ketegasan lebih dibutuhkan lagi untuk menolak kemaksiatan dan kebatilan. Padahal kebatilan sering datang dengan wajah menawan, menyenangkan dan menggiurkan. Banyak orang yang secara ilmu sudah paham tentang haramnya sesuatu, tapi ia tidak bisa meninggalkannya karena sungkan, takut menyinggung perasaan orang, atau khawatir penghargaan orang kepadanya menjadi berkurang. Maka dibutuhkan ketegasan yang mampu mengalahkan rasa takut atau sungkan untuk mengatakan ‘Tidak’ kepada kemaksiatan.

Kelima: Kesabaran

Sabar adalah sifat yang harus selalu dipelihara oleh setiap da’i. Sudah menjadi sunatullah bagi siapa saja yang mendakwahkan kebenaran, pastilah akan mendapat perlawanan dari orang-orang yang membela kebatilan. Al Quran telah banyak berkisah tentang kesabaran para Nabi dan Rasul dalam memperjuangkan agama tauhid. Mereka rela menanggung semua resiko dan bahaya yang mengancam nyawa.
Sangatlah menarik apa yang dipesankan Lukman al Hakim kepada anaknya, sebuah kata-kata yang menjadikan anaknya tidak pernah goyah dalam mendakwahkan kebenaran. Allah mengabadikan kata-kata tersebut dalam Al Quran,
 “Hai anakku, dirikanlah salat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah).” (Luqman: 17).


#Ust. Agung Pambudi
و الله المستعان




~~~~~~~~~~~

Kita tutup dengan membacakan hamdalah..
Alhamdulillahirabbil'aalamiin

Doa Kafaratul Majelis :

 سبحانك اللهم وبحمدك أشهد ان لا إله إلا أنت أستغفرك وآتوب إليك

Subhanakallahumma wabihamdika asyhadu allaailaaha illa anta astaghfiruka wa atuubu ilaika

“Maha Suci Engkau ya Allah, dengan memuji-Mu aku bersaksi bahwa tiada sesembahan yang haq disembah melainkan diri-Mu, aku memohon pengampunan-Mu dan bertaubat kepada-Mu.”

Wassalamu'alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh


================
Website: www.hambaAllah.net
FanPage : Kajian On line-Hamba Allah
FB : Kajian On Line-Hamba Allah
Twitter: @kajianonline_HA
IG: @hambaAllah_official

Thanks for reading & sharing Kajian On Line Hamba اللَّهِ SWT

Previous
« Prev Post

0 komentar:

Post a Comment

Ketik Materi yang anda cari !!