Home » , , » SEGALANYA TENTANG KEMATIAN (BAG. 1)

SEGALANYA TENTANG KEMATIAN (BAG. 1)

Posted by Kajian On Line Hamba اللَّهِ SWT on Friday, January 26, 2018

Kajian Online WA  Hamba الله SWT

Rabu, 24 Januari 2018
Rekapan Grup Bunda G1 & Nanda
Narasumber : Ustadz Farid Nu’man
Tema : Kajian Umum



Dzat yang dengan Kebesaran-Nya, seluruh makhluk menyanjung dan mengagungakan-Nya...
Dzat yang dengan Keperkasaan-Nya, musuh-musuh dihinakan lagi diadzab-Nya...
Dzat yang dengan Kasih dan Sayang-Nya, kita semua mampu mengecap manisnya Islam dan indahanyaa ukhuwah di jalan-Nya, memadukan hati kita dalam kecintaan kepadaNya, yang mempertemukan kita dalam keta'atan kepadaNya, dan menghimpunkan kita untuk mengokohkan janji setia dalam membela agamaNya.

AlhamduliLlah... tsumma AlhamduliLlah...

Shalawat dan salam semoga tercurah kepada tauladan kita, Muhammad SAW. Yang memberi arah kepada para generasi penerus yang Rabbaniyyah bagaimana membangakitkan ummat yang telah mati, memepersatukan bangsa-bangsa yang tercerai berai, membimbing manusia yang tenggelam dalam lautan syahwat, membangun generasi yang tertidur lelap dan menuntun manusia yang berada dalam kegelapan menuju kejayaan, kemuliaan, dan kebahagiaan.

Amma ba'd...
Ukhti fillah sekalian. Agar ilmunya barokah, maka alangakah indahanyaa kita awali dengan lafadz Basamaallah

Bisamaillahirrahmanirrahim... 

Segalanya Tentang Kematian (Bag. 1)


1. Muqadimah

Setiap yang hidup akan mengalami kematian. Itulah ketetapan Allah atas semua makhlukNya, masing-masing makhluk ada jadwal kematiannya.  Kematian merupakan tanda dan etape berakhirnya dia bersama dunianya, keluarganya,  sanak saudaranya,   kawannya,   dan menemui kehidupan baru; alam barzakh. 

Allah berfirman:

كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ

  Setiap jiwa akan merasakan kematian. (QS. Ali ‘Imran: 185)

أَيْنَمَا تَكُونُوا يُدْرِكُكُمُ الْمَوْتُ وَلَوْ كُنْتُمْ فِي بُرُوجٍ مُشَيَّدَةٍ

Di mana saja kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, kendatipun kamu di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh ... (QS. An Nisa: 78)

كُلُّ مَنْ عَلَيْهَا فَانٍ وَيَبْقَى وَجْهُ رَبِّكَ ذُو الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ

Semua yang ada di bumi itu akan binasa. Dan tetap kekal Dzat Tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan. (QS. Ar Rahman: 26-27)

Dan masih banyak ayat lain yang senada. Ada pun dalam hadits Nabi , juga tidak sedikit yang membicarakan kematian, Di antaranya:

Dari Abu Hurairah Radhiallahu ‘Anhu, bahwa Nabi bersabda:

أكثروا ذكر هاذم اللذات يعني الموت

Perbanyaklah kalian mengingat pemutus segala kenikmatan, yaitu kematian.

(HR. At Tirmidzi No. 2307. Imam At Tirmidzi berkata: hasan. Ibnu Majah No. 4258)

Dari Ibnu Umar Radhiallahu ‘Anhuma:

أن رجلا قال للنبي صلى الله عليه وسلم أي المؤمنين أفضل قال أحسنهم خلقا قال فأي المؤمنين قال أكثرهم للموت ذكرا وأحسنهم له استعدادا أولئك الأكياس

Ada seorang laki-laki bertanya kepada Nabi : “Mu’min bagaimanakah yang paling utama?” Beliau bersabda: “Yang paling baik akhlaknya.” Dia bertanya lagi: “Mu’min bagaimanakah yang paling cerdas?” Beliau bersabda: “Yang paling banyak mengingat kematian dan paling baik persiapan untuk kematian, merekalah orang yang cerdas.”

(HR. Al Baihaqi, Syu’abul Iman No. 7627. Ibnu Majah No. 4259, Imam Al ‘Iraqiy bekata: sanadnya jayyid. Lihat Takhrijul Ihya No. 3236)

Dari Ibnu Umar Radhiallahu ‘Ahuma: “Rasulullah memegang pundakku dan bersabda:

كُنْ فِي الدُّنْيَا كَأَنَّكَ غَرِيبٌ أَوْ عَابِرُ سَبِيلٍ

Jadilah kau di dunia seolah orang asing atau sekedar lewat saja. (HR. Bukhari No. 6416)

 Sementara dalam lafaz Imam At Tirmidzi (No. 2333) dan Imam Ath Thabarani (Al Kabir No. 13538) ada tambahan:

 ..وعد نفسك في أهل القبور

..... dan anggaplah dirimu sebagai penghuni kubur.

Dan masih banyak lainnya ......

Pembicaraan manusia terhadap kematian sama tuanya dengan kehidupan itu sendiri. Oleh karena itu, semua agama dan peradaban membicarakannya. Ini menunjukkan  kebutuhan manusia terhadap mengingat kematian sangatlah penting. Saat ketamakan menguasai, nafsu mendominasi, obsesi tiada henti, mengerasnya hati, kesedihan yang menjadi-jadi .. mengingat kematianlah obat yang dapat menghentikan laju itu semua.

Imam Badruddin Al ‘Ainiy Rahimahullah menceritakan dari Imam Ibnu Baththal Rahimahullah:

قد حفر جماعة من الصالحين قبورهم قبل الموت بأيديهم ليتمثلوا حلول الموت فيه

Segolongan orang-orang shalih telah menggali kubur mereka sendiri sebelum kematian, agar mereka bisa mengumpamakan kematiannya sendiri di dalamnya. (‘Umdatul Qari, 12/256)

2. Jangan Berharap Kematian Hanya Karena Musibah Dunia

Tidak sedikit manusia yang ingin cepat-cepat mati karena musibah yang menimpanya, yang berawal dari putus asa karena kegetiran persoalan. Ingin cepat mati bukan karena rindu akhirat, rindu kepada Allah .. bukan itu.

 Harapan seperti ini terlarang, sebagaimana yang tertera dalam hadits berikut:

Dari Anas bin Malik Radhiallahu ‘Anhu, bahwa Nabi bersabda:

لَا يَتَمَنَّيَنَّ أَحَدُكُمُ الْمَوْتَ مِنْ ضُرٍّ أَصَابَهُ فَإِنْ كَانَ لَا بُدَّ فَاعِلًا فَلْيَقُلِ اللَّهُمَّ أَحْيِنِي مَا كَانَتِ الْحَيَاةُ خَيْرًا لِي وَتَوَفَّنِي إِذَا (مَا) كَانَتِ الْوَفَاةُ خَيْرًا لِي

Janganlah salah seorang kamu mengharapkan kematian hanya karena musibah yang menimpanya, kalau pun ingin melakukan itu,  katakanlah: “Ya Allah, hidupkanlah aku jika hidup itu memang baik bagiku, dan wafatkanlah aku jika wafat itu memang baik bagiku.” (HR. Al Bukhari No. 5671, Muslim No. 2680)

Al Hafizh Ibnu Hajar Rahimahullah mengatakan:

من ضر أصابهحمله جماعة من السلف على الضر الدنيوي فإن وجد الضر الأخروي بأن خشي فتنة في دينه لم يدخل في النهي

Perkataan “karena musibah yang menimpanya” maksudnya menurut tafsir segolongan ulama salaf adalah musibah duniawi, sedangkan jika dia mendapatkan musibah ukhrawi (akhirat) karena takut fitnah yang menimpa agamanya, maka itu tidak termasuk larangan dalam hadits ini.

(Imam Ibnu Hajar, Fathul Bari, 10/128)

Dalam hadits ini disebutkan jalan keluarnya, yaitu minta yang terbaik. Jika hidup itu baik bagi kita, maka tetaplah minta hidup, namun jika kematian lebih baik bagi kita, maka mintalah kematian.

3. Minta Husnul Khatimah

Bagaimana cara kita mati? Itu adalah rahasia Allah , Dia yang punya kehendak dan kuasa penuh atas cara dan bagaimana kematian kita. Tapi, walau demikian, kita diperbolehkan meminta kepada Allah untuk meminta kepadaNya cara mati yang baik, yaitu Husnul Khatimah.

Nabi    bersabda:

مَنْ سَأَلَ اللَّهَ الشَّهَادَةَ بِصِدْقٍ بَلَّغَهُ اللَّهُ مَنَازِلَ الشُّهَدَاءِ وَإِنْ مَاتَ عَلَى فِرَاشِهِ

Barang siapa yang berdoa kepada Allah meminta mati syahid dengan jujur, maka Allah akan sampaikan dia pada derajat syuhada walau dia mati di atas ranjangnya.
 (HR. Muslim No. 1909)

Umar Radhiallahu ‘Anhu berdoa:

اللَّهُمَّ ارْزُقْنِي شَهَادَةً فِي سَبِيلِكَ وَاجْعَلْ مَوْتِي فِي بَلَدِ رَسُولِكَ

Ya Allah, rezekikanlah aku mati syahid di jalanMu, dan jadikanlah kematianku di negeri RasulMu. (HR. Bukhari No. 1890)


TANYA JAWAB

Q : Apakah seseorang saat sakaratul maut itu tergantung amalan selama hidupnya? misal ?seseorang sebelum meninggal, sakit parah dan betahun-tahun. Apakah ini berkaitan dengan takdir Allah yang tidak bisa dirubah?
A : Tidak ada keterangan dalam Al Qur'an dan As Sunnah, bahwa perilaku seseorang akan menentukan bagaimana akhirnya. Yang ada adalah contoh-contoh yang dialami para shalihin sejak masa salaf. Ada yang wafatnya sdengan shalat, sdengan tilawah, ada yang sedang mengkaji fiqih, dst. Tapi, ini juga bukan kepastian, .. sebagian para nabi ada yang dibunuh musuh-musuhnya secara keji, bahkan sampai digergaji. Sebagian sahabat nabi ada yang dipancung seperti Al Husein, Ibnuz Zubeir, juga tabi'in seperti Said bin Jubeir. Kita tidak bisa dan tidak boleh mengatakan wafatnya mereka dengann cara tragis merupakan buruknya kehidupan mereka, na'udzubillah, tidak mungkin kita mengatakan seperti itu. Akhirnya, mati itu given, tapi bagaimana cara mati kita masih bisa minta kepada Allah dengan cara mati yang terbaik, dan Allah Ta'ala yang menentukan.

Q : Setahu yang saya paham,saat maut akan menjemput...Itu digoda jin ya ust.. ??? Untuk mengetahui hal tsb...Adakah ciri-ciri klo si calon mayit tsb diganggu...Agar orang-orang disekitarnya dapat membantu baca tilawah dan talqin ....Tilawah surat apa ya ust...Yang sebaik nya dibaca orang sekitarnya....?
A : Ya, ada riwayat dalam At Tadzkirah-nya Imam Al Qurthubi bahwa menjelang wafatnya manusia diganggu oleh syetan yang akan mengajak utk kafir. Tapi riwayat ini dha'if, lemah, tidak bisa dijadikan pegangan. Saat sakaratul maut, talqinkan sebagaimana yang sudah saya sebut dalam artikel, dan Sunnah menurut mayoritas ulama dibacakan Yasin untuk meringankan keluarnya ruh.

Dari Ma’qil bin Yasar Radhiallahu ‘Anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

اقْرَءُوا عَلَى مَوْتَاكُمْ يس

"Bacalah surat Yasin kepada orang yang menjelang wafat di antara kalian.”

(HR. Abu Daud  No. 3121, Ahmad No. 19416
Imam Ibnu Hibban No. 3002, Ibnu Majah No. 1448, dll)

Dengan dimasukannya hadits ini dalam kitab Shahih-nya Imam Ibnu Hibban, maka menurutnya hadits ini adalah shahih. Hal ini juga ditegaskan oleh Al Hafizh Ibnu Hajar Al Asqalani. (Bulughul Maram, Kitabul Janaiz, no. 437. Cet.1, Darul Kutub Al Islamiyah)

Syaikh Shalih Fauzan mengatakan ini sunnah. (Mulakhash Al Fiqhiy, 1/296)

Wallahu a'lam

Q : Bagaimana upaya memanajemen qolbu...yang kadang klo  kita mengingat kematian ..seolah-olah tidak peduli dengan urusan dunia, misal sudah ga tertarik beli baju..atau yang lainnya.... Tapi kadang kita lihat kalau jalan-jalan suka terbersit ingin ini itu lagi
A :Salah satu karakter agama Islam adalah tawazun, seimbang.

Allah Ta'ala berfirman:

أَلَّا تَطْغَوْا فِي الْمِيزَانِ


Janganlah kamu merusak keseimbangan itu. (QS. Ar-Rahman, Ayat 8)

Di antara tuntutan keseimbangan adalah seimbang antara ingatan kita kepada dunia dan akhirat. Semua dapat perhatian secara proporsional.

Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wa Sallam pernah menegur sahabatnya yang berlebihan dalam shalat malam dan puasa sampai melupakan hak keluarganya ..

فَلَا تَفْعَلْ صُمْ وَأَفْطِرْ وَقُمْ وَنَمْ فَإِنَّ لِجَسَدِكَ عَلَيْكَ حَقًّا وَإِنَّ لِعَيْنِكَ عَلَيْكَ حَقًّا وَإِنَّ لِزَوْجِكَ عَلَيْكَ حَقًّا وَإِنَّ لِزَوْرِكَ عَلَيْكَ حَقًّا

"Janganlah kamu lakukan itu, tetapi shaumlah dan berbukalah, shalat malamlah dan tidurlah, karena untuk jasadmu ada hak atasmu, matamu punya hak atasmu, isterimu punya hak atasmu dan isterimu punya hak atasmu... "

(Hr. Bukhari no. 1975)

Maka, saat kita melakukan pekerjaan duniawi profesional-lah. Saat kita lakukan aktifitas akhirat profesional-lah.

Demikian. Wallahu a'lam


Pertanyaan Group Nanda

Q : ustadz, datangnya kematian tidak memilih usia.. mohon berikan kami arahan agar kami kaum muda ini selalu mengingat kematian, meski banyak kasus kematian di usia muda akibat drug, kebut-kebutan atau penyakit..
jazakillah ustadz
A : Berkumpul lah dengan kawan yang dapat mengingatkan kita kepada Allah dan akhirat, agar obsesi dunia kita tidak mendominasi. Bacalah sirah, perjalanan hidup para shalihin, buku-buku para ulama, sahabat, dan tabi'in. Sisihkan waktu, walau hanya setengah jam .. memisahkan dr hiruk pikuk dunia .. matikan HP .. buka Al Qur'an, baca surat-surat tentang kiamat seperti Al Qari'ah, Al Haaqqah, ..  Ini penting untuk melembutkan dan melunakkan hati .. agar tidak keras, agar tidak membangkang kepada Allah ..

Q : Apakah benar anggapan bahwa usia yang belum baligh jika Allah putuskan meninggal tidak akan dihisab??
A : Sebagian ulama Ahlussunah mengatakan, bayi muslim, atau anak kecil yang belum tamyiz (belum Aqil baligh) jika wafat .. maka mereka masuk surga. Sebagian lagi mengatakan, mereka diuji dulu diakhirat jika lulus maka surga jika tidak maka neraka. Pendapat pertama lebih kuat, sebab akhirat bukanlah tempat ujian tapi tempat pembalasan.Wallahu a'lam

Q : Ustadz, apakah ciri-ciri meninggal khusnul khotimah selain saat terakhir mengucapkan talqin? apakah seseorang yang meninggalnya kelihatan bersih/tidak pucat juga khusnul khotimah?
A : Tanda - Tanda Husnul Khatimah
Tanda-tanda husnul khatimah diterangkan dalam beberapa hadits Nabi   , tentunya jika ada seorang muslim yang mengalami tanda-tanda ini kita berbaik sangka kepadanya dan kepada Allah bahwa dia telah husnul khatimah.

1.  Perjalanan Akhir Hidupnya Diisi dengan Amal Shalih

Jika seorang wafat dan di akhir-akhir hayatnya senantiasa diisi dengan kebaikan, baik ibadah ritual dan sosial, maka itu tanda husnul khatimah, tanda bahwa Allah memberikan taufiq kepadanya.  Walau bisa jadi dahulunya dia pernah menjalankan hidup penuh maksiat.

Dari Anas bin Malik Radhiallahu ‘Anhu, bahwa Rasulullah bersabda:

إذا أراد الله بعبد خيرا استعمله فقيل كيف يستعمله يا رسول الله ؟ قال يوفقه لعمل صالح قبل الموت

"Apabila Allah menghendaki kebaikan bagi seorang hamba, maka Dia akan menggunakannya." Lalu ditanyakanlah pada beliau, "Bagaimanakah Allah menggunakannya wahai Rasulullah?" beliau menjawab: "Dia akan memberinya taufiq untuk beramal shalih sebelum dijemput kematian."

(HR. At Tirmidzi No. 2142, Ibnu Hibban No.  341. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan: shahih sesuai syarat Bukhari dan Muslim)


2.  Orang Yang Hari-Harinya Diisi Dengan Husnuzhan (Prasangka Baik) Kepada Allah

Orang yang selalu berprasangka baik kepada Allah , sampai-sampai pada musibah yang menimpanya, termasuk penyakit yang menimpanya sampai membawa kematiannya, dia selalu berbaik sangka baik kepada Allah .
Dari Jabir Radhiallahu ‘Anhu, aku mendengar Rasulullah berkata sebelum wafatnya sebanyak tiga kali:

لا يموتن أحدكم إلا وهو يحسن الظن بالله

  Janganlah kalian mati kecuali dalam keadaan berprasangka baik kepada Allah..  (HR. Muslim No. 2877)

3.  Mengucapkan Syahadat Di Akhir Hayatnya

Dari Muadz bin Jabal Radhiallahu ‘Anhu, bahwa Nabi bersabda:

مَنْ كَانَ آخِرُ كَلاَمِهِ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ دَخَلَ الْجَنَّةَ

Barangsiapa yang akhir perkataannya LAA ILAAHA ILLALLAH maka dia masuk surga.

 (HR. Abu Daud No. 3118, shahih)

4.  Wafat di Malam atau Hari Jumat

Dari Abdullah bin Amr, bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَمُوتُ يَوْمَ الْجُمُعَةِ أَوْ لَيْلَةَ الْجُمُعَةِ إِلَّا وَقَاهُ اللَّهُ فِتْنَةَ الْقَبْرِ

Tidaklah seorang muslim yang wafat pada hari Jumat atau malam Jumat, melainkan Allah akan melindunginya dari fitnah kubur. (HR. At Tirmidzi No. 1073, Ahmad No. 6582, Ath Thahawi dalam Syarh Musykilul Aatsar No. 277)

Syaikh Al Albani Rahimahullah berkata tentang hadits ini: “Dikeluarkan oleh Ahmad (6582-6646) melalui dua jalan dari Abdullah bin Amr, dan oleh At Tirmidzi melalui salah satu dari dua jalur, dan hadits ini memiliki syawahid (beberapa penguat) dari jalur Anas, Jabir bin Abdullah, dan selain keduanya. Maka, hadits ini dengan kumpulan semua jalurnya adalah hasan atau shahih.” (Lihat Ahkamul Jazaiz, Hal. 35)

5.  Mati Syahid

Dari Abdullah bin ‘Amr Radhiallahu ‘Anhuma, bahwa Nab bersabda:

يغفر للشهيد كل ذنبٍ إلا الدين

Orang yang mati syahid semua dosanya diampuni kecuali hutangnya.

(HR. Muslim No. 1886)

6.  Keningnya berkeringat saat wafat

Nabi bersabda:

المؤمن يموت بعرق الجبين

  Seorang mu’min wafatnya dengan keringat yang keluar dari keningnya.

(HR.  At Tirmidzi  No. 982, Ibnu Hibban No. 3011. Syaikh Syu’aib Al Anauth mengatakan: Shahih, sesuai syarat Imam Bukhari)

Demikian. Wallahu a'lam

Q : Assalamualaikum ustadz, saya ingin bertanya. Bagaimana pendapat mati suri menurut islam dan bagaimana muslim harus menanggapi hal tersebut?
A : Wa'alaikumussalam wa Rahmatullah ...
Mati Suri Menurut Islam

Mati suri itu ada tidak?
Dalam Islam, kematian tidaklah benar-benar mati. Secara kedokteran bisa jadi seseorang sudah dianggap mati. Tapi, hakikatnya hanyalah perpindahan alam kehidupan saja. Sehingga dengan sangat mudah, Allah mengambil ruh lalu mengembalikannya.

Hal ini sama dengan tidur. Saat tidur ruh manusia dalam genggaman Allah , Dia mengembalikannya di saat manusia bangun. Sehingga, Mati Suri, memang sesuatu yang sangat rasional terjadi berdasarkan paradigma Islam dalam memandang kematian.  Lihat kisah Nabi 'Udzair, yang sudah menjadi tulang belulang, Allah kembalikan dirinya dengan mudah, baik jiwa dan raganya.

Ini pun sebenarnya sudah terjadi pada masa lalu. Ada kisah yang bisa menunjang hal ini, dengan sanad shahih.

Dahulu ada seorang laki-laki bernama Rabi'ah bin Hirasy. Ia pernah bersumpah tidak akan tertawa sebelum tahu apakah ia masuk surga atau neraka. Ketika meninggal dunia, ia baru tertawa.

Adiknya yang bernama Rib'i bin Hirasy bercerita:
Kami adalah empat bersaudara. Rabi'ah adalah saudara kami yang paling banyak puasa dan shalat di antara kami. Dia telah meninggal dunia terlebih dahulu. Saat ia meninggal, kami berada di dekatnya, sedangkan ia dalam keadaan terbaring dengan sehelai kain penutup di wajahnya. Kami mengutus salah seorang untuk membeli kain kafan.
Tiba-tiba ia menyingkap kain yang di wajahnya lalu mengatakan, "Assalamu'alaikum."
Kami semua menjawab, "Wa'alaikumsalam. Benarkah kamu telah mati? Mungkinkah orang mati bisa hidup lagi?"

Ia menjawab, "Ya, aku telah berjumpa dengan tuhanku setelah berpisah dengan kalian. Dia tidak marah padaku. Dia menyambutku dengan aroma wangi dan membawa pakaian dari Istabraq. Ketahuilah bahwa Rasulullah telah menungguku. Beliau ingin segera menyalatiku. Maka cepatkanlah pengurusan jenazahku."

Kejadian itu kemudian diceritakan kepada ‘Aisyah Radhiallahu ‘Anha. Beliau berkomentar, "Benar apa yang ia alami itu. Sungguh saya pernah mendengar Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: Akan ada seorang laki-laki dari umatku yang berbicara setelah kematiannya."

Hadits riwayat Abu Nu'aim dan Al Baihaqi dalam Dalailun Nubuwah, beliau mengatakan:

هَذَا إِسْنَادٌ صَحِيحٌ لَا يَشُكُّ حَدِيثِيٌّ فِي صِحَّتِهِ

"Ini adalah sanad yang shahih yang tidak diragukan lagi oleh ahli hadits."

 (Dalailun Nubuwah No. 2781, Imta’ul Asma, 12/217)

Wallahu A’lam

Q : Assalamu'alaikum ustadz, saya ingin bertanya apakah kita bisa mengetahui bagaimana cara matinya kita nanti?
A : Wa'alaikumussalam wa Rahmatullah .. Itu hal ghaib, kita tidak tahu. Tugas kita adalah beramal sebaik-baiknya agar akhir hidup kita baik.

Wallahu a'lam

Alhamdulillah, kajian kita hari ini berjalan dengan lancar. Semoga ilmu yang kita dapatkan berkah dan bermanfaat. Aamiin....

Segala yang benar dari Allah semata, mohon maaf atas segala kekurangan. Baikloah langsung saja kita tutup dengan istighfar masing-masing sebanyak-banyakanya dan do'a kafaratul majelis:


سبحانك اللهم وبحمدك أشهد ان لا إله إلا أنت أستغفرك وآتوب إليك

Subhanakallahumma wabihamdika asayahadu allaailaaha illa anta astaghfiruka wa atuubu ilaika

“Maha Suci Engakau ya Allah, dengan memuji-Mu aku bersaksi bahwa tiada sesembahan yang haq disembah melainkan diri-Mu, aku memohon pengampunan-Mu dan bertaubat kepada-Mu.”



Thanks for reading & sharing Kajian On Line Hamba اللَّهِ SWT

Previous
« Prev Post

0 komentar:

Post a Comment

Ketik Materi yang anda cari !!