Home » , » TINGKATAN CINTA

TINGKATAN CINTA

Posted by Kajian On Line Hamba اللَّهِ SWT on Monday, January 22, 2018

 Kajian Online WA  Hamba الله SWT

Senin, 15 Januari 2018
Rekap Kajian Grup Bunda G2
Narasumber : Ustadzah Lilah
Tema : Kajian Umum
Editor : Rini Ismayanti



Dzat yang dengan Kebesaran-Nya, seluruh makhluk menyanjung dan mengagungkan-Nya...
Dzat yang dengan Keperkasaan-Nya, musuh-musuh dihinakan lagi diadzab-Nya...
Dzat yang dengan Kasih dan Sayang-Nya, kita semua mampu mengecap manisnya Islam dan indahnya ukhuwah di jalan-Nya, memadukan hati kita dalam kecintaan kepadaNya, yang mempertemukan kita dalam keta'atan kepadaNya, dan menghimpunkan kita untuk mengokohkan janji setia dalam membela agamaNya.

AlhamduliLlah... tsumma AlhamduliLlah...

Shalawat dan salam semoga tercurah kepada tauladan kita, Muhammad SAW. Yang memberi arah kepada para generasi penerus yang Rabbaniyyah bagaimana membangakitkan ummat yang telah mati, mempersatukan bangsa-bangsa yang tercerai berai, membimbing manusia yang tenggelam dalam lautan syahwat, membangun generasi yang tertidur lelap dan menuntun manusia yang berada dalam kegelapan menuju kejayaan, kemuliaan, dan kebahagiaan.

Amma ba'd...
Ukhti fillah sekalian. Agar ilmunya barokah, maka alangkah indahnya kita awali dengan lafadz Basmallah

Bismillahirrahmanirrahim...                  


ENAM TINGKATAN CINTA

Ini sebenarnya tulisan lawas beberapa tahun yang lalu (2012) dikutip dari buku karyanya Ibnul Qayyim Al-Jauziy. Dan ini mungkin versi revisinya.

Mengenai soalan cinta ini, Ibnul Qayyim sudah menuliskan sebuah buku unik dengan judul Raudhatul Muhibbin wa Nuzhatul Musytaqin atau versi terjemahannya Taman Orang-orang Jatuh Cinta dan Memendam Rindu. Pembaca benar-benar diajak untuk menyelami tentang cinta, rindu, keindahan dan segala problematikanya. Bagaimana keadaan orang yang jatuh cinta dan pembuktian dari cinta itu sendiri.
Ibnul Qayyim sendiri dikenal sebagai ulama yang ahli soal hati, tazkiyatun nafs, psikolog dan juga ahli fiqh, tidak ketinggalan juga dengan pengobatan thibbun nabawinya. Salah satu kitab karyanya yang saya ketahui seperti Zaadul Ma'ad. Kitab ini ditulis oleh Ibnul Qayyim ketika ia sedang bermusafir di atas untanya untuk menunaikan ibadah haji dari Damaskus ke Mekkah, berisi seputar sirah Nabawiyah yang tersusun dari beberapa jilid.

Tidak hanya itu, karya lain yang tak kalah asiknya seperti al Jawabul Kaafi, Madarijus Salikin, al Fawaaid dll. Karya-karya yang begitu sarat ilmu dan tata bahasa yang ‘nyastra’.
Mengenai topik pembahasan ini, ada kutipan menarik yang dapat dikutip dari bukunya beliau seperti:

“ Cinta tidak tumbuh karena alasan keindahan dan keelokan, sehingga jika ada keindahan dan keelokan tiada pula cinta. Tetapi cinta adalah kesucian jiwa dan kecocokan tabiatnya.”
“Cinta itu mensucikan akal, mengenyahkan kekhawatiran, memunculkan keberanian, mendorong berpenampilan rapi, membangkitkan selera makan, menjaga akhlak mulia, membangkitkan semangat, mengenakan wewangian, memperhatikan pergaulan yang baik, serta menjaga adab dan kepribadian. Tapi cinta juga merupakan ujian bagi orang-orang yang shaleh dan cobaan bagi ahli ibadah.”

Sebagaimana judul postingan ini, mari kita selami 6 tingkatan cinta menurut Ibnul Qayyim Al-Jauziy:

1. Tatayyum

Peringkat pertama adalah Tatayyum, tingkatan cinta yang paling tinggi dan merupakan hak Allah SWT,
"Dan diantara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman amat sangat cintanya kepada Allah. Dan jika seandainya orang-orang yang berbuat zalim itu* mengetahui ketika mereka melihat siksa (pada hari kiamat), bahwa kekuatan itu kepunyaan Allah semuanya, dan bahwa Allah amat berat siksaan-Nya (niscaya mereka menyesal)." (Qs.2:65)

Yang dimaksud dengan orang yang zalim di sini ialah orang-orang yang menyembah selain Allah.
Allahlah yang paling utama tiada tandingan tak ada bandingan. Posisinya tidak boleh digeser menjadi nomer dua atau bahkan tiga. Cinta kita kepada-Nya harus menjadi puncak dari segala cinta yang kita miliki.

2. 'Isyk

Peringkat kedua adalah 'Isyk yang hanya merupakan hak Rasulullah SAW. Cinta yang melahirkan sikap hormat, patuh, ingin selalu membelanya, ingin mengikutinya, mencontohnya, dll. Namun, bukan untuk menghambakan diri kepadanya. Kita mencintai Rasulullah dengan segenap konsekuensinya. Kita akan dengan bangga menjalankan sunnah-sunnahnya dan mengkuti petunjuknya dalam mengamalkan agama ini. Kita juga akan mencintai khidupannya yang luhur dan penuh amal shalih. Kita rindu berjumpa dengannya karena kemuliaan yanga ada pada diri beliau. Namun, kecintaan kita bukanlah menuntut pada diri beliau. Namun, kecintaan kita bukanlah menuntut sebuah penghambaan. Kecintaan menuntut sebuah amal yang bisa meneladani akhlaknya. Cinta kita kepada Rasulullah mendorong kita untuk membela agama ini dengan kekuatan yang kita miliki. Demikian juga membela sunnahnya bila sunnahnya diinjak-injak oleh orang lain.
Katakanlah: "Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu." Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (Qs.3:31)

3. Syauq

Peringkat ketiga adalah Syauq yaitu cinta antara mukmin dengan mukmin lainnya. Antara suami isteri, antara orang tua dan anak, yang membuahkan rasa mawaddah wa rahmah. Seorang suami harus mencintai isterinya dengan sepenuh hati. Demikian pula si isteri harus memberi cintanya kepada suaminya. Cinta yang tumbuh pada diri mereka akan menambah ketentraman hati dan ketenangan jiwa. Hidup akan lengkap, karena saling mengerti dan memahami. Manakala terjadi konflik atau perbedaan pendapat, akan mudah diselesaikan karena aspek cinta mereka yang begitu besar. Kadang boleh saja emosi meninggi, namun ia akan menjadi redam ketika cinta menjadi pertimbangan utama. Seorang ayah yang begitu perhatian kepada anaknya, mencurahkan cintanya kepada buah hatinya. Dia menyayangi nya dan rela bekerja siang dan malam untuk anak-anaknya. Selain karena ibadah kepada-Nya, dia melakukannya juga karena cinta.

4. Shababah

Peringkat ke empat adalah Shababah yaitu cinta sesama muslim yang melahirka ukhuwah Islamiyah. Cinta ini menuntut sebuah kesabaran untuk menerima perbedaan dan melihatnya sebagai sebuah hikmah yang berharga. Seperti kita ketahui saat ini sedikit perbedaan saja seringkali menimbulkan perpecahan. Berbeda takbiratul ihram, berbeda gerakan shalat, berbeda hari Idul Fitri atau Idul Adha kadang tidak disikapi secara dewasa. Sehingga masalah pun muncul dan membuat jurang pemisah yang teramat dalam antar pengikutnya. Belum lagi kalau kita lihat betapa banyaknya kelompok harakah Islamiyah yang bermunculan. BIla cinta ini ada, insya Allah segala perbedaan bisa disinergiskan. Tidak semua perbedaan harus dipaksa sama, tapi kadang hanya membutuhkan sedikit pengertian saja. Cinta ini harus dimunculkan sebagai sebentuk upaya untuk menciptakan kenyamanan hubungan dalam tubuh umat Islam.

5. 'Ithf

Peringkat kelima 'Ithf (simpati) yang ditujukan kepada sesama manusia. Rasa simpati ini melahirkan kecenderungan untuk menyelamatkan manusia, termasuk pula di dalamnya adalah berdakwah. Rasa ini seringkali muncul bila sisi kemanusian kita tersentuh. Di saat melhiat seorang anak kecil di sebuah gubuk dengan wajah penuh penderitaan, atau saat melihat korban musibah bencana alam berjatuhan, tentu saja mengetuk kepedulian kita yang terdalam. Sisi kemanusiaan kita menjadi tersentuh dan ingin menitikkan air mata. Hati kita tidak tega melihat sebuah penderitaan yang tak kunjung berakhir. Inilah bentuk simpati yang muncul dari hati yang paling dalam.

6. Intifa'

Peringkat ke-6 adalah cinta yang paling rendah dan sederhana, yaitu cinta atau keinginan selain kepada manusia: harta benda. Namun, seringkali keinginan ini sebatas intifa' (pendayagunaan/pemanfaatan). Cinta jenis ini pula yang sering menggelincirkan manusia. Karena sifat harta memang selalu melenakan. Namun, bila kita cerdas,banyaknya harta benda seharusnya tidak menjadikan kita terlena. Sebaliknya, ia hanya menjadi sarana untuk meraih cinta yang sebenarnya yaitu cinta kepada Allah ta'ala.
Inilah ke-enam tingkatan cinta menurut dokter hati Ibnul Qayyim Al-Jauziy. Memang jika sudah membahas soal cinta, selalu terngiang pada fikiran kita adalah cinta kepada seorang makhluk yang hendak dijadikan kekasih. Namun perlu disadari bahwa cinta tidak selamanya bermuara pada konsep seperti itu.

Soal cinta kepada lawan jenis, ada kutipan menarik dari salah satu karya Ibnul Qayyim juga yaitu Al Jawabul Kafi. Sebuah buku yang membahas masalah hati dan cinta. Disebutkan, apabila kita mencintai seseorang maka hilanglah semua aib-aibnya, yang tampak pada kita hanya hal-hal baik semata. Oleh karenanya dalam kitabnya Ibnul Qayyim menuliskan:
“Kecintaanku kepadamu menutup mataku
Namun ketika terlepas cintaku, semua aibmu menampakkan diri”


TANYA JAWAB

Q : Ijin bertanya ustadzah, saya punya teman non muslim (perempuan juga),
sdh berteman baik hampir 20th...kami sering saling mendoakan. Misal saat ulang tahun, lulus ujian, kerja, dll. Pertanyaan nya doa apa yang boleh dan tidak boleh diucapkan selain ucapan selamat atas hari raya nya?
A : Muamalah sesama manusia boleh apapun sepanjang tidak berkaitan dengan agama. Perbanyak doa Allah beri hidayah

Q : Bagaimana dengan ekspresi cinta kepada Rasulullah, 'isyq, dalam bentuk puji2an yang disenandungkan dalam syair-syair pujangga? Ada banyak syair yang ditulis dan dinyanyikan? Dulu cuma dikenal sholawat badar yang dinyanyikan utk menyambut Rasulullah dan sahabat yang pulang dari perang, dan sholawat ibrahimiyah. Mohon ( maaf klo salah )diberikan penjelasan
A : Boleh saja sepanjang kita paham isi syair tsb tidak mengkultuskan Rasulullah. Dan sebaiknya cukup disenandungkan sendiri

Q : Jika ada pertengkaran suami dan istri.karena mertua bagaimana bu??
Karena si istri selalu diusik sama mertuanya. Dan apakah klo ada kesalahan, orang tua (mertua) tidak perlu meminta maaf??
A : Diusiknya kenapa dulu? Jangan-jangan emang mantunya gak bisa ambil hati. Yang namanya mertua juga ortu kita. Posisinya adalah anak berbakti, bukan berantem. Hati-hati ah. Suami itu milik ibunya, maka tidak sepatutnya kita membenturkan anak dengann ibu, sehingga suami bingung harus memilih istri atau ibu. Ayo, rangkul mertua, jangan justru mencipta jarak.
Hei, itu anaknya kita terima sudah jadi orang sudah mapan.

Q : Diawalnya mertua tidak setuju dengan pernikahannya
A : Apalagi begitu. harus lebih kenceng lagi meraih cinta mertua. Biar suami selalu dapat ridho ortunya

Q : Bagaimana mendamaikan kakak ipar dengan kakak ipar yang sama-sama perempuan dengann cinta
A : Dekati satu persatu dan tanya duduk masalahnya apa? Kalau sudah dapat gambaran utuh masalah, ya pertemukan keduanya dan bahas dengann kepala dingin 

Alhamdulillah, kajian kita hari ini berjalan dengan lancar. Semoga ilmu yang kita dapatkan berkah dan bermanfaat. Aamiin....

Segala yang benar dari Allah semata, mohon maaf atas segala kekurangan. Baikalauah langsung saja kita tutup dengan istighfar masing-masing sebanyak-banyakanya dan do'a kafaratul majelis:



سبحانك اللهم وبحمدك أشهد ان لا إله إلا أنت أستغفرك وآتوب إليك

Subhanakallahumma wabihamdika asayahadu allaailaaha illa anta astaghfiruka wa atuubu ilaika

“Maha Suci Engakau ya Allah, dengan memuji-Mu aku bersaksi bahwa tiada sesembahan yang haq disembah melainkan diri-Mu, aku memohon pengampunan-Mu dan bertaubat kepada-Mu.”


Thanks for reading & sharing Kajian On Line Hamba اللَّهِ SWT

Previous
« Prev Post

0 komentar:

Post a Comment

Ketik Materi yang anda cari !!