Home » , , » TANDA-TANDA CINTA KEPADA NABI

TANDA-TANDA CINTA KEPADA NABI

Posted by Kajian On Line Hamba اللَّهِ SWT on Wednesday, February 21, 2018


 Kajian Online WA  Hamba الله SWT

Selasa, 20 Februari 2018
Rekap Kajian Grup Bunda G2
Narasumber : Ustadz Kholid
Tema : Kajian Umum



Dzat yang dengan Kebesaran-Nya, seluruh makhluk menyanjung dan mengagungkan-Nya...
Dzat yang dengan Keperkasaan-Nya, musuh-musuh dihinakan lagi diadzab-Nya...
Dzat yang dengan Kasih dan Sayang-Nya, kita semua mampu mengecap manisnya Islam dan indahnya ukhuwah di jalan-Nya, memadukan hati kita dalam kecintaan kepadaNya, yang mempertemukan kita dalam keta'atan kepadaNya, dan menghimpunkan kita untuk mengokohkan janji setia dalam membela agamaNya.

AlhamduliLlah... tsumma AlhamduliLlah...

Shalawat dan salam semoga tercurah kepada tauladan kita, Muhammad SAW. Yang memberi arah kepada para generasi penerus yang Rabbaniyyah bagaimana membangakitkan ummat yang telah mati, mempersatukan bangsa-bangsa yang tercerai berai, membimbing manusia yang tenggelam dalam lautan syahwat, membangun generasi yang tertidur lelap dan menuntun manusia yang berada dalam kegelapan menuju kejayaan, kemuliaan, dan kebahagiaan.

Amma ba'd...
Ukhti fillah sekalian. Agar ilmunya barokah, maka alangkah indahnya kita awali dengan lafadz Basmallah

Bismillahirrahmanirrahim...                  

TANDA-TANDA CINTA KEPADA NABI

Allah menetapkan tanda dan bukti kecintaan kepada nabi dan mensyariatkannya agar orang dapat mengetahui kebenaran klaimnya, sebab setiap pengakuan harus ada pembuktiannya yang menunjukkan kebenaran pengakuan tersebut. lihatlah firman Allah :

Katakanlah:"Tunjukkan kebenaranmu jika kamu adalah orang-orang yang benar". (QS. al-Baqarah/2 :111)
Diantara tanda-tandanya adalah:

1. Mengikuti beliau (al-Ittiba’) dan mengikuti sunahnya

Mengikuti dan mencontoh Nabi serta berjalan diatas manhaj dan sunnahnya adalah tanda utama dalam cinta Nabi. Orang yang cinta nabi adalah orang yang semangat berpegang teguh dengan sunnahnya dan menghidupkannya serta mendahulukan hal tersebut dari hawa nafsu dan kelezatannya, sebagaimana dijelaskan dalam firman Allah :

قُلْ إِن كَانَ ءَابَآؤُكُمْ وَأَبْنَآؤُكُمْ وَإِخْوَانُكُمْ وَأَزْوَاجُكُمْ وَعَشِيرَتُكُمْ وَأَمْوَالٌ اقْتَرَفْتُمُوهَا وَتِجَارَةٌ تَخْشَوْنَ كَسَادَهَا وَمَسَاكِنُ تَرْضَوْنَهَآ أَحَبَّ إِلَيْكُم مِّنَ اللهِ وَرَسُولِهِ وَجِهَادٍ فِي سَبِيلِهِ فَتَرَبَّصُوا حَتَّى يَأْتِيَ اللهُ بِأَمْرِهِ وَاللهُ لاَيَهْدِي الْقَوْمَ الْفَاسِقِينَ
Katakanlah:"Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluarga, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai adalah lebih kamu cintai lebih daripada Allah dan Rasul-Nya dan (dari) berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya". Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik. (QS. at-taubah/9:24)

Ittiba’ kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam hukumnya adalah wajib sebagaimana dijelaskan dalam firmannya:

قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ
“Katakanlah: ‘Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintai kamu dan mengampuni dosa-dosamu. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.’” [Ali ‘Imran: 31]

Berkata Imam Ibnu Katsir rahimahullah (wafat th. 774 H): “Ayat ini adalah pemutus hukum bagi setiap orang yang mengaku mencintai Allah namun tidak mau menempuh jalan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka orang itu dusta dalam pengakuannya tersebut hingga ia mengikuti syari’at dan agama yang dibawa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam semua ucapan dan perbuatannya.” ( Tafsiir Ibni Katsiir (I/384))

Mengamalkan Sunnahnya, menghidupkan, dan mengajak kaum Muslimin untuk mengamalkannya, serta berjuang membela As-Sunnah dari orang-orang yang mengingkari As-Sunnah dan melecehkannya termasuk dalam kecintaan kepada Nabi.

Dr. Shalih bin Fauzan bin ‘Abdillah al-Fauzan menjelaskan dalam kitabnya: “Termasuk mengagungkan beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah mengagungkan Sunnahnya dan berkeyakinan tentang wajibnya mengamalkan Sunnah tersebut, dan meyakini bahwa Sunnah beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menduduki kedudukan kedua setelah Al-Qur-anul Karim dalam hal kewajiban mengagungkan dan mengamalkannya, sebab As-Sunnah merupakan wahyu dari Allah.
Karena itu tidak boleh membuat keragu-raguan di dalamnya, apalagi melecehkannya. Dan tidak boleh membicarakan keshahihan dan kedha’ifannya, baik dari segi jalan, sanad atau penjelasan makna-maknanya kecuali berdasarkan ilmu dan kehati-hatian. Pada zaman ini banyak orang-orang bodoh yang melecehkan Sunnah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, terutama dari kalangan anak-anak muda yang baru dalam tahap awal belajar. Mereka dengan mudahnya menshahihkan atau mendha’ifkan hadits-hadits, dan menilai cacat para perawi tanpa ilmu kecuali dari membaca beberapa buku. Sungguh hal tersebut berbahaya bagi mereka dan ummat. Karena itu hendaknya mereka bertaqwa kepada Allah dan menahan diri pada batasannya. ( Aqiidatut Tauhiid (hal 154)).

2. Mencintai Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengharuskan adanya pengagungan, memuliakan, meneladani beliau dan mendahulukan sabda beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam atas segala ucapan makhluk serta mengagungkan Sunnah-sunnahnya.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُقَدِّمُوا بَيْنَ يَدَيِ اللَّهِ وَرَسُولِهِ ۖ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ سَمِيعٌ عَلِيمٌ
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mendahului Allah dan Rasul-Nya dan bertaqwalah kepada Allah. Sesung-guhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” [Al-Hujuraat: 1]

3. Banyak menyebut beliau

Siapa yang mencintai sesuatu akan memperbanyak mengingatnya dan menyebutnya, sebab banyak mengingatnya adalah sebab kelanggengan cinta dan pertumbuhannya.

Ibnul Qayyim menyatakan: Shalawat adalah sebab kelanggengan cinta seseorang kepada Rasulullah, pertambahan dan berlipat gandanya. Ahal itu adalah salah satu ikatan imam yang tidak sempurna iman tanpanya; karena seorang hamba setiap kali memperbanyak menyebut kekasihnya dan mengingat kebaikan dan hal-hal yang membawanya untuk mencintainya, maka berlipat ganda kecintaannya dan bertambah rindu kepadanya serta mengalahkan semua yang ada dihatinya. Apabila berpaling dari mengingatnya, tidak mengingat beliau dan kebaikannya dengan hatinya maka berkurang kecintaan dari hatinya. Tidak ada yang lebih menyejukan mata seorang hama yang mencintai dari melihat kekasihnya. Tidak ada yang lebih sejuk dihatinya lebih dari mengingat dan menghadirikan kebaikan-kebaikannya. Apabila kuat hal ini dihatinya, maka lisahnya otomatis akan memuji dan menyebut kebaikannya dan jadilah pertambahan dan pengurangannya sesuai dengan pertambahan cinta dan pengurangannya di hati. (Jalaa’ al-Afhaam 248).

Mengingat Rasulullah dan jasa baiknya terhadap umat tentulah dengan cara-cara yang telah disyariatkan, seperti bersholawat, membaca sejarah perjuangan dan hidup beliau, membaca hadits-hadits beliau dan yang lainnya.

Hal ini merupakan bentuk penampakan kecintaan, penghormatan dan pemuliaan Nabi. Ini tentunya adalah tanda kecintaannya kepada beliau.

4. Bercita-cita untuk melihat dan rindu bertemu beliau.

Tanda ini disampaikan langsung oleh Rasulullah dalam sabdanya:
مِنْ أَشَدِّ أُمَّتِي لِي حُبًّا، نَاسٌ يَكُونُونَ بَعْدِي، يَوَدُّ أَحَدُهُمْ لَوْ رَآنِي بِأَهْلِهِ وَمَالِهِ
Diantara umatku yang paling besar cintanya kepadaku adalah orang yang hidup detelahku, salah seorang dari mereka berharap seandainya bertemu denganku dengan (mengorbankan) keluarga dan hartanya (HR Muslim). Dalam riwayat lainnya:
وَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ فِي يَدِهِ لَيَأْتِيَنَّ عَلَى أَحَدِكُمْ يَوْمٌ وَلَا يَرَانِي، ثُمَّ لَأَنْ يَرَانِي أَحَبُّ إِلَيْهِ مَنْ أَهْلِهِ وَمَالِهِ مَعَهُمْ
Demi Allah yang jiwa Muhammad di tanganNya Pasti akan datang atas salah seorang kalian satu waktu dan ia tidak melihatku kemudian melihatku itu lebih ia cintai dari keluarga dan hartanya bersama mereka. (HR Muslim).


TANYA JAWAB

Q : Tanya ustadz , yang no 4 itu berharap untuk terjadi di dunia (dalam bentuk mimpi) atau di akhirat ?
A : Dalam mimpi atau di akherat.   Maksudnya kerinduannya kepada nabi memgalahkan keluarga dan hartanya

Q : Ustadz maksud berkorban dengan keluarga itu seperti apa?
A : Dikorbankan keluarganya akan dilakukan bila bisa jumpa Nabi.
Esensinya adalah besarnya kerinduan kepada Nabi menunjukkan cintanya kepada beliau.

Q : Contoh pengorbanan seperti apa ustadz?
A : Artinya kalau memang keluarganya menghalanginya berjumpa Nabi

Q : Afwan ustadz, apabila di saat kita berdo'a dengan meminta kepada-Nya agar di pertemukan dengan Rosulallah di akhirat nanti,  disaat itu hati kita bergetar dan sampai menangis. Apakah ini salah satu tanda jika kita Cinta kepada pada beliau ustadz?
A : Ya..Termasuk tanda cinta kita kepadanya

Q : Kalau ada orang yang mengaku telah bermimpi bertemu dengan Rasulullah, itu mimpi yang  benar? Apakah ustadz pernah punya pengalaman bermimpi bertemu dengan Rasulullah ?
A : Benar apabila bentuk beliau sesuai dengan riwayat  yang disampaikan para ulama tentang bentuk fisiknya.  Sebab syeitan tidak bisa menyerupai bentuk fisik beliau.  Saya yang banyak dosa ini belum diberikan Allah taufiq untuk berjumpa beliau dalam mimpi tapi masih sangat berharap bisa berkumpul dengan beliau disyurga nanti

Q : Ustadz. Afwan Rosululloh salaullahu alaihi wassalam sangat mencintai kebersihan dan salah 1 sunnah beliau afwan mencukur bulu ketiak dan bulu kemaluan. Nah ustad, Kalo kita bersih tapi malas untuk mencukur apakah kita tidak mencintai beliau dan membangkang sunnahnya? Syukron ustadz jawabannya.
A : Mencukur bulu kemaluan dan mencabut bulu ketiak adalah sunah fithrah yg manusia sendiri menyukainya.  Sebab itu bisa membersihkan bagian tersebut .  Bagaimana bisa bersih tanpa menghilangkan bulu -  bulu tersebut?

Alhamdulillah, kajian kita hari ini berjalan dengan lancar. Semoga ilmu yang kita dapatkan berkah dan bermanfaat. Aamiin....

Segala yang benar dari Allah semata, mohon maaf atas segala kekurangan. Baikalauah langsung saja kita tutup dengan istighfar masing-masing sebanyak-banyakanya dan do'a kafaratul majelis:


سبحانك اللهم وبحمدك أشهد ان لا إله إلا أنت أستغفرك وآتوب إليك

Subhanakallahumma wabihamdika asayahadu allaailaaha illa anta astaghfiruka wa atuubu ilaika

“Maha Suci Engakau ya Allah, dengan memuji-Mu aku bersaksi bahwa tiada sesembahan yang haq disembah melainkan diri-Mu, aku memohon pengampunan-Mu dan bertaubat kepada-Mu.”


Thanks for reading & sharing Kajian On Line Hamba اللَّهِ SWT

Previous
« Prev Post

0 komentar:

Post a Comment

Ketik Materi yang anda cari !!