Home » , » Kejarlah Ilmu yang Bermanfaat

Kejarlah Ilmu yang Bermanfaat

Posted by Kajian On Line Hamba اللَّهِ SWT on Wednesday, April 4, 2018


Image result for ilmu yang bermanfaat


REKAP KAJIAN ONLINE HAMBA ALLAH G4, G1
Hari/tgl: Senin, 5, 12 Maret 2018
Narsum: Ustzh. Pristia
Tema: Kejarlah Ilmu yang Bermanfaat
Waktu: 17.00
Admin: Sugi, Delia, Aini
Notulen: Laela
Editor : Sapta
➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖


Kejarlah Ilmu yang Bermanfaat

 “…niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (Al Mujaadilah:11)

Sebagai seorang hamba Allah yang memiliki iman dan sadar akan kewajibannya di dunia ini tentulah Kita menginginkan untuk selalu menuntut dan menambah ilmu pengetahuan. Namun ilmu Allah yang tersebar di jagat raya ini sungguh teramat luas. Tidak ada satu makhluk pun yang mampu menguasai ilmu Allah. Bahkan jikalau seluruh makhluk ciptaan Allah bersatu untuk memahami ilmu Allah mereka tidak akan mampu… Karena sebagai manusia, usia kita sangat terbatas maka perlu memilih dan memilah untuk meraih ilmu-ilmu yang baik dan benar-benar berguna bagi diri sendiri maupun orang lain… Kita berharap agar memperoleh ilmu yang benar-benar efektif, berdaya guna dan berhasil guna untuk kemaslahatan hidup di Dunia dan di Akhirat.

Rasulullah Shollallahu Alaihi Wa Sallam pernah memohon dalam doanya,  “Allaahumma inni a’uudzubika min ‘ilmin laa yanfa’u”. ‘Ya, Allah, aku berlindung kepada -Mu dari ilmu yang tidak bermanfaat.’

Mengapa Harus Ilmu Yang Bermanfaat?
Sekarang ini, di sekitar kita banyak sekali informasi dan berita yang tidak bernilai bagaikan sampah. Berbagai informasi seperti itu bisa dengan mudah didapat dari televisi, koran, majalah atau media online. Bahkan sekarang ini info melalaui laptop dan telpon genggam kita. Banyak sekali gossip, berita bohong (hoax), kisah-kisah seputar artis; pemain sinetron, pemain bola dan sebagainya nyaris tidak ada manfaatnya bagi kehidupan kita. Informasi ini bukan hanya melalaikan, namun dapat saja menyesatkan atau mendorong kita berpikir negatif atau pesimis sehingga kehilangan gairah mencari dan menegakkan kebenaran…

Banyak pula yang tanpa sadar menjadi pendukung parah ahli maksiat dan menolak kebenaran ajaran Islam dengan berbagai alasan. Rasulullah Shollallahu Alaihi Wa Sallam mengajarkan doa di atas supaya kita terhindar dari memperoleh ilmu yang tidak memberikan kemanfaatan bagi diri kita.

Alangkah pentingnya ilmu yang bermanfaat dalam hidup ini. Ilmu yang bermanfaat adalah yang digunakan untuk beramal dalam rangka mendekatkan diri atau beribadah kepada Allah, baik secara langsung atau tidak langsung. Jika belum dapat diamalkan setidaknya ilmu tersebut diajarkan kepada manusia agar kehidupan Sang Pengajar menjadi bernilai meskipun dia telah meninggalkan dunia.

Rasulullah Shollallahu Alaihi Wa Sallam bersabda, “Jika seseorang telah wafat, maka terputuslah amalnya kecuali tiga hal; sedekah yang pahalanya terus mengalir, ilmu yang dimanfaatkan (diamalkan dan diajarkan) , dan anak saleh yang mendoakannya.” (HR. Muslim)

Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa Allah Subhanahu Wa Ta’ala memberi wahyu kepada Nabi Dawud Alaihis Salaam. Firman-Nya, “Wahai, Dawud. Pelajarilah olehmu ilmu yang bermanfaat”. “Ya Rabbi.. apakah ilmu yang bermanfaat itu ?“ tanya Nabi Dawud. Allah menjawab, “Itulah ilmu yang bertujuan untuk mengetahui keluhuran, keagungan, kebesaran ,dan kesempurnaan kekuasaan-Ku atas segala sesuatu. Inilah yang mendekatkan engkau kepada-Ku.”

Dalam Islam, menuntut ilmu yang bermanfaat itu merupakan fardhu ain (kewajiban per individu) seperti halnya mendirik shalat lima waktu. Dalam menuntut ilmu ini semua orang terkena kewajiban untuk memperajarinya; lelaki atau perempuan, tua atau muda, kaya atau miskin, raja atau rakyat jelata tanpa kecuali – sebagaimana sabda Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wa Sallam “Tholabul ‘ilmi fariidhotun ‘alaa kulli muslim.” “Mencari ilmu itu fardhu (wajib) atas setiap orang Muslim.” (Riwayatkan Ahmad dan Ibnu Majah, hadits hasan).   

Alquran berulangkali menanamkan kesadaran kepada para pembacanya yaitu orang-orang beriman terhadap tingginya nilai ilmu pengetahuan dalam kehidupan ini. Firman Allah Azza wa Jalla, “Hai orang-orang beriman apabila dikatakan kepadamu: “Berlapang-lapanglah dalam majlis”, maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan: “Berdirilah kamu”, maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.”  (Al Mujaadilah:11)

Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wa Sallam dan para sahabat Beliau Radhiyallahu anhum sangat menghargai ilmu dan orang-orang yang mengajarkan ilmu. Nabi sendiri seorang pendidik yang setiap sahabat Beliau adalah murid-murid yang belajar tentang hidup dan kehidupan kepada Beliau secara langsung. Dalam sebuah Hadits yang diriwayatkan oleh Ar Rabi-i’,Rasulullah Shollallahu Alaihi Wa Sallam bersabda, “Tuntutlah ilmu. Sesungguhnya, menuntut ilmu adalah pendekatan diri kepada Allah Azza wa Jalla, sedangkan mengajarkannya kepada orang yang tidak mengetahuinya adalah shadaqah. Sesungguhnya ilmu pengetahuan adalah keindahan bagi ahlinya didunia dan akhirat.”

Tentang kewajiban menuntut ilmu yang bermanfaat ini, seorang ulama – Ibnu Qudamah -menjelaskan, Jika seorang anak sudah beranjak besar, maka pertama-tama yang harus dia pelajari adalah dua kalimah syahadat dan memahami maknanya, sekalipun pemahaman ini tidak harus dengan penela’ahan dan penyertaan dalil. Sebab Nabi Shollallahu Alaihi Wa Sallam hanya meminta pembenaran dari orang-orang Arab yang bodoh, tanpa menuntut mereka untuk mempelajari dalil.

Tapi yang pasti hal ini hanya dikaitkan dengan waktu alias temporal. Setelah itu dia tetap dituntut untuk menela’ah dan mengetahui dalil-dalilnya. Jika sudah tiba waktunya untuk mendirikan shalat, maka dia harus mempelajari cara bersuci dan shalat (fiqhut taharoh was sholah) .

Jika tiba bulan Ramadhan, dia harus mempelajari puasa (fiqhus siyam). Jika dia mempunyai harta benda dan waktunya sudah mencapai satu tahun, maka dia harus mempelajari zakat (fiqhuz zakat). Jika tiba musim haji dan memungkinkan baginya untuk pergi haji, maka dia harus mempelajari manasik haji dan hal-hal yang berkaitan dengan pelaksanaan haji.

Tentang hal-hal yang harus ditinggalkan, maka tergantung kondisinya. Sebab tidak mungkin orang yang buta bisa mempelajari apa yang tidak dia lihat, dan orang bisu tidak mungkin bisa mengucapkan apa yang memang tidak bisa ia ucapkan. Jika di suatu negara ada kebiasaan minum khamr dan mengenakan pakaian sutera (atau sekarang pakaian wanita super ketat, mini, pamer aurat) maka dia wajib mengetahui pengharaman dua hal itu.

Tentang keyakinan, maka harus diketahui dan dipelajari berdasarkan sentuhan rasa. Jika terbetik suatu perasaan yang meragukan makna-makna yang ditunjukkan dua kalimat syahadat, maka dia harus mengetahui apa yang membuatnya bisa mengusir keragu-raguan itu. Jika dia berada di suatu negeri yang banyak bid’ahnya, maka dia harus mencari mana yang haq, sebagaimana seorang pedagang yang di sekitarnya memasyarakat praktek riba, maka dia harus mempelajari bagaimana cara mewaspadai riba itu.

Anak itu juga harus mempelajari iman kepada hari berbangkit (qiyamat), surga dan neraka.

Dari keterangan Ibnu Qudamah jelaslah bahwa yang dimaksud dengan ilmu yang wajib (fardhu ‘ain) adalah ilmu yang memang berkait dengan diri kita sendiri yaitu tentang keyakinan, perbuatan -yang diperintahkan Allah, dan keharaman yang harus ditinggalkan.   Sedangkan yang termasuk fardhu kifayah  adalah setiap ilmu yang dibutuhkan untuk menjaga kelangsungan hidup di dunia, seperti: matematika, kimia, fisika, Ilmu kedokteran, ilmu pertanian, perdagangan, manajemen, kenegaraan, ilmu bahasa dan lain-lain. Sebab ilmu ini sangat penting dan diperlukan untuk menjaga kesehatan badan manusia atau pun keberlangsungan hidup bermasyarakat. Jika penduduk suatu negeri tidak ada yang mempelajari dan menguasai ilmu semacam ini, maka mereka semua adalah orang-orang yang berdosa.


==============

TANYA JAWAB

TJ G-4
Tanya: afwan ustadzah, bagaimana agar hati kita tidak condong ke ilmu yang mubadzir itu ustadzah karena sedikit ilmu yang manfaat yang kita peroleh mudah dirusak oleh ilmu yg mubadzir? afwan yang fakir ilmu ini ustadzah.
Jawab: Maka dari itu belajar berpikir positif akan apa kegunaan ilmu mubadzir tersebut? Bila kegunaannya tidaklah ada maka mengapa kita gunakan


Tanya: Assalamualaikum ustadzah, apakah yang dimaksud dengan berlapang lapanglah di majelis. Apakah boleh saat kita ke ajara majelis, jika booking tempat untuk teman. Misal kita sampai duluan, lalu kita booking kan tempat duduk untuk teman kita?
Jawab: Boleh


=========================

Kita tutup dengan membacakan hamdalah..
Alhamdulillahirabbil'aalamiin

Doa Kafaratul Majelis :

 سبحانك اللهم وبحمدك أشهد ان لا إله إلا أنت أستغفرك وآتوب إليك

Subhanakallahumma wabihamdika asyhadu allaailaaha illa anta astaghfiruka wa atuubu ilaika

“Maha Suci Engkau ya Allah, dengan memuji-Mu aku bersaksi bahwa tiada sesembahan yang haq disembah melainkan diri-Mu, aku memohon pengampunan-Mu dan bertaubat kepada-Mu.”

Wassalamu'alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh


================
Website: www.hambaAllah.net
FanPage : Kajian On line-Hamba Allah
FB : Kajian On Line-Hamba Allah
Twitter: @kajianonline_HA
IG: @hambaAllah_official





Thanks for reading & sharing Kajian On Line Hamba اللَّهِ SWT

Previous
« Prev Post

0 komentar:

Post a Comment

Kajian On Line Hamba اللَّهِ SWT

Ketik Materi yang anda cari !!