Home » , , » Memperbaiki Hati

Memperbaiki Hati

Posted by Kajian On Line Hamba اللَّهِ SWT on Wednesday, April 11, 2018


Image result for memperbaiki hati
Rekapitulasi Kajian Online HA Ummi G3
Hari/Tgl: Senin, 26 Maret 2018
Materi: Memperbaiki Hati
NaraSumber: Ustadz Kaspin
Waktu: Ba'da Subuh
Editor: Sapta
======================



Memperbaiki Hati
Sumber : Hidayatullah


DALAM sebuah kisah sufi yang terkenal, tersebutlah sebuah kisah tentang seorang pemuda ahli ibadah dan seorang pecinta dunia. Suatu hari, si ahli ibadah memasuki hutan yang penuh dengan singa. Melihat kedatangan pemuda ahli ibadah tadi, singa-singa di hutan itu merasa senang dan menyambutnya.

Sementara itu, si pecinta dunia yang tatkala itu sedang berburu, baru saja memasuki hutan yang sama. Melihat kedatangan si pecinta dunia dan rombongannya, singa-singa itu mengaum siap menerkam sehingga membuat mereka merasa ketakutan.

Si ahli ibadah melihat kejadian itu dan dia berusaha menenangkan singa-singa tersebut.

Maka berkatalah si ahli ibadah kepada si pecinta dunia dan orang-orangnya setelah menenangkan singa-singa ini, “Kalian hanya memperbagus dan memperindah penampilan luar saja, maka kalian takut kepada singa. Adapun kami, kami selalu memperbaiki dan memperbagus batin kami, sehingga singa pun takut kepada kami.”
Kisah di atas memuat pelajaran penting tentang hati sebagai pusat kebaikan.

Hati adalah ibarat Raja yang punya hak veto dalam memerintah seluruh anggota jasmani menuju perbuatan baik atau jahat. Untuk merawat dan memperindah hati agar bercahaya, maka seseorang perlu terus-menerus mempertahankan dan mengamalkan kebaikan. Hati akan terus bersih, bening dan bercahaya jika kejahatan terus dihindari, jauh dari debu-debu dengki, riya`, takabbur, dan cobaan dijalani dengan ikhlas.
Memelihara hati bukanlah tugas yang sulit. Ini merupakan tugas yang wajib dilakukan setiap Muslim. Andaikata pun sulit atau mudah, itu harus dilakukan agar hati yang bersih berpendar dengan sinar kebaikan. Hati adalah wajahnya jiwa.

 Orang yang jiwanya baik, hatinya akan baik. Cara memperbaiki jiwa dengan memperbaiki hati.
Hati, dalam pandangan Imam Abdullah Al-Haddad adalah tempat penglihatan Allah.

Sebelum yang lain, Allah melihat hati seseorang terlebih dahulu. Di sisi berbeda, anggota lahir badan kita menjadi tempat perhatian sesama makhluk yang acap dipandang dengan pandangan kekaguman.

Dalam sebuah doanya, Rasulullah SAW mengatakan :
“Allahummaj`al Sariiratiy Khairan Min `Alaaniyatiy Waj`al `Alaaniyatiy Shaalihah.” (Ya Allah, jadikanlah keadaan batinku lebih baik dari keadaan lahirku dan jadikanlah keadaan lahirku baik).

Inilah salah satu doa yang sering dipanjatkan oleh Nabi kepada Allah. Di dalamnya terkandung permintaan agar menjadikan suasana hati lebih bagus ketimbang keadaan lahir.

Pertanyaanya, mengapa nabi menitikberatkan pada batin atau hati? Imam Abdullah menjawab: “Ketika hati baik, maka keadaan lahir akan mengikuti kebaikan itu pula. Ini merupakan sebuah kepastian.”

Keyakinan ini didasarkan pada peringatan sabda Nabi Muhammad SAW sendiri: “Di dalam jasad ada sekerat daging jika ia baik maka baiklah seluruh jasadnya dan jika ia rusak maka rusaklah seluruh jasadnya. Ketahuilah bahwa segumpal daging itu adalah hati.” (HR. Bukhari-Muslim)

Hati Sebagai Pusat Segalanya
Setiap orang pasti menyukai keindahan.

Banyak orang yang memandang keindahan sebagai sumber pujian. Ribuan kilometer pun akan ditempuh demi mencari suasana dan pemandangan yang indah. Uang berjuta-juta akan dirogoh untuk memperindah pakaian. Waktu akan disediakan demi membentuk tubuh yang indah.

Perhatikan bagaimana Rasulullah SAW yang meski pakaiannya tidak bertabur bintang penghargaan, tanda jasa dan pangkat, tapi tidak berkurang kemuliaannya sepanjang waktu.

Rasulullah SAW tidak menempuh ribuan kilo, merogoh harta demi singgasana dari emas yang gemerlap, ataupun memiliki rumah yang megah dan indah. Akan tetapi, penghargaan terhadap beliau tidak luntur dan menyusut ditelan masa. Beliau adalah orang yang sangat menjaga mutu keindahan dan kesucian hatinya. Kunci keindahan yang sesungguhnya adalah ketika kita mampu merawat serta memperhatikan kecantikan dan keindahan hati. Inilah pangkal kemuliaan sebenarnya.

Hati adalah penggerak, raja, poros, dan pusat segala ibadah. Hati yang thuma`ninah (tenang) akan dapat membuat orang ringan bangun malam, membaca Al-Qur`an, datang ke masjid, dan semua amal shalih lainnya. Hati bisa mengajak kepada kebaikan sekaligus di saat yang sama bisa mengajak kepada kejahatan.

Kita melihat tidak sedikit orang yang mempunyai anggapan bahwa melakukan maksiat tidaklah mengapa asal hati kita baik. Anggapan dan keyakinan seperti ini jelas merupakan kesalahan besar.

 Menurut Imam Abdullah, orang yang berpendirian semacam ini adalah pendusta besar. Lahir dan batin haruslah berimbang dan sama-sama baik. Seumpama makanan, ia akan diminati orang jika isi dan bungkusnya baik.

Kebaikan yang dibuat-buat juga harus dihindari. Ada orang yang berjalan membungkuk, mengenakan tasbih, pakaiannya pakaian orang saleh. Di balik semua ini, kita melihat dalam batinnya orang seperti ini tertanam cinta dunia mengakar kuat, keangkuhan, kebanggaan pada diri sendiri, serta kegilaan pada pujian. Menurut Imam Abdullah, orang semacam ini adalah orang yang berpaling dari Allah.

Dalam sebuah peristiwa, Sayidina Umar ra. melihat seorang yang berjalan di hadapannya dengan membungkuk sebagai bentuk ke-tawadhu-an. Melihat ini, Sayidina Umar berkata, “Takwa itu bukan dengan cara membungkukkan badanmu. Takwa itu ada di dalam hati.”

Bagaimana jika seseorang tidak mampu memperbaiki batin lebih dari keadaan lahirnya?

Menurut Imam Abdullah Al-Haddad, hendaknya ia menyamakan kebaikan lahir dan batin meski idealnya meningkatkan kebaikan batin lebih diutamakan dan disukai.

Orang yang memiliki hati yang bersih, tak pernah absen bersyukur kepada Allah, Penguasa jagat alam raya ini. Pribadinya menyimpan mutu dan pesona. Tak mudah jatuh dalam kesombongan dan kepongahan di kala merebut sesuatu namun tetap istiqamah tunduk pada Allah.

Orang yang  mempunyai hati yang baik akan terus bersikap rendah hati walaupun berpangkat tinggi dan harta melimpah.

Mari bersihkanlah hati ini, beningkanlah dari segala kotoran, isilah dengan sifat-sifat yang baik agar ia tetap terang benderang, bersinar dan bercahaya serta selalu cenderung kepada kebaikan dan takwa.*

================

TANYA JAWAB


Tanya: Bismillah, Saya Anne, ijin bertanya:
1. Bagaimana cara menyamakan kebaikan lahir dan batin?
2. Ketika kita malas ibadah, apakah berarti itu tanda hati sedang sakit?
Jazakallah khair abah
Jawab: Bunda Anne yg baik,
1. menyamakan kebaikan lahir dan batin caranya dengan ikhlash
2. iya


Tanya: Assalamualaikum, ustad ada yang berkata seperti ini biar tidak shalat yang penting hatinya baik, tidak ada gunanya shalat kalau sifat/hatinya buruk? Bagaimana kalau kita pernah diperlakukan yang kurang baik oleh seseorang sehingga ada rasa sakit hati yang tidak bisa hilang, bagaimana solusinya ustad?
Jawab; Bunda Nilfanti yg baik. Bungkus dan isi sama penting. Jiwa dan raga. Niat dan perilaku. Lahir dan batin. Kalau luarnya belum baik maka dalemnya juga sebenarnya bermasalah dan itu pribadi sipatnya. Kalau cukup dengan hati mengapa kalau makan dia nyuap ga niat doang? forigive and forget


Tanya: Ustadz bagaimana cara kita mengukur isi hati kita sendri, apakah sudah benar-benar baik, atau merasa baik. Kadang orang melihat kita baik, malah jadi ujub, merasa sudah jadi paling 'bener'. Apakah cukup dengan memperbanyak istighfar? Syukron pencerahannya ustadz.
Jawab: Bunda Lusi yang baik, ya banyak istighfar, ukur bayangan sendiri


Tanya: Ijin bertanya abah, apakah termasuk penyakit hati, jika hati kita selalu dalam kegelisahan takut Allah tidak peduli lagi dengan kita?
Jawab: Bunda desi yang baik, harus seimbang antara takut dan harap. Ia ibarat dua sayap.


Tanya: Ijin bertanya Abah, Apakah hati yang tidak baik, secara harfiah bisa menjadi penyebab fisik seseorang menjadi sakit? Misalnya jadi sakit liver dan sebagainya. Jazakallah khayr atas jawabannya Abah .
Jawab: Bunda Erlin yang baik, Memang banyak kasus demikian. Saya banyak dengar dan lihat begitu, sebab ketika kita sakit hati biasanya fisik juga drop...wallahualam.


Tanya:  Ijin bertanya juga, nyambung pertanyaan ini juga penyakit seperti kanker liver dll, apakah datangnya dari PENYAKIT HATI juga ya, Abah?
Jawab: Bunda indah yang baik. Bisa jadi demikian, jadilah pribadi yang husnudzhon dan ringan memaafkan.


Tanya: Caranya gimana ya abah agar pikiran kita selalu berhusnudzhon dengan orang lain secara mudah? Prakteknya kadang susah abah.
Jawab: Ya dicoba lah, kan selama ini suudzhon bisa terus hasil dari suudzhon begitu, kenapa ga coba husnudzhon hasilnya insya Allah lebih menentramkan.


Tanya: Assalamualaikum, ijin bertanya ustad, mengapa dan apa yang terjadi ada orang yang sholat rajin, rajin juga datang ke kajian-kajian tapi akhlaknya masih suka nyakitin org dan lain-lainl? dan pernah dengar, ketika di zaman sahabat ada yang sudah hafal al quran tapi akhirnya murtad, itu kenapa bisa begitu ya ustadz? syukron
Jawab: Wallahualam. Namun itu artinya kita jangan tertipu tampilan fisik.
Akhlaq cerminan hati. Demikian. Doakan saya ya.


Tanya: Tapi kok bisa ya gara-gara penyakit hati Sampai muncul penyakit macam-macam ya Abah?
Jawab: Iya, pikiran mempengaruhi perasaan dan perasaan akan direspon oleh jasad.
Contoh: Sekarang bayangkan rujak mangga muda plus nanas, ada sambel gula merah plus asam jawa. Bayangkan aja itu ada didepan mu, apa rasanya? Jadi ngiler, berasa ada d mulut. Rujaknya ada ga? Gak ada. Nah itu dia jasad merespon apapun yang dipikirkan ga peduli nyata atau tidak nyata. Mengkhayal aja ada bisa sampe ke puncak toh?


Tanya: Bah kenapa kalau saya lagi capek banyak kerjaan terus di tambah anak rewel jadinya hati saya mudah kesel dan tidak sabar. Biasa sabar hadapi anak jadi sedikit ketus. Dan setelah saya ketus ke anak saya nyesel banget. Apa ini juga penyakit hati bah? Adakah doa biar sll sabar?
Jawab: Coba baca surat albaqoroh full...niatkan ruqyah


Tanya: Bah tanya lagi yah, Apakah termasuk hati yang kotor bila awalnya mempercayai seseorang tapi setelah beberapa kali mempercayai selalu dan selalu di hancurkan karena dia berkhianat jadi lama-lama saya ragu kadang timbul curiga. Bagaimana cara membersihkan hati kita dari akibat hal tersebut bah? Jazakallah
Jawab: Ya itu waspada bukan kotor. Waspada agar kita siap bila terulang.


Tanya: Afwan abah borongan ,
1. Abah bagaimana menata hati kita, in syaa Allah sudah berbuat baik untuk sendiri dan orang lain namun jangan sampai timbul riya' di hati kita?
2. Apakah kalau kita posting di status wa tentang kegiatan yang kita lakukan dengan tujuan untuk mengajak kepada yang lain supaya mengikuti apa yang sudah dilakukan termasuk riya? karena kalau japri malah sungkan.
3. Abah mau tanya tapi diluar tema, mana yang lebih utama bagi perempuan sholat berjama'ah di masjid apa sholat sendiri di rumah, lalu mengenai pahalanya gimana abah? Wassalamualaikum
Jawab:
1. Ikhlas
2. Tanya hatimu
3. Dirumah


Tanya: Ijin tanya Abah. Bagaimana menjaga hati agar tidak suudzon dengan postingan orang lain. Rata-rata kalau yang posting mengenai ibadah haji/umroh/lagi tadarus itu kok malah jadi suudzon kalau niatnya hanya berbangga diri.
Jawab: Ya ucapkan alhamdulillah, terus berdoa deh. Jangan iri.


Tanya: Bertanya juga abah, hubungannya mimpi sama kejadian nyata apakah ada bah? kadang malam mimpi buruk paginya buruk juga bah, padahal sudah melakukan amalan sebelum tidur, tapi tetap saja bah, apa karena keadaan hati juga bah? pernah mimpi baik paginya dapat rizky bah, alhamdulillah kalau yang baik bah, kalau mimpi buruk itu bah jadi takut.
Jawab: Kalau di yakini kemungkinan memang bisa terjadi, karenanya ketika bangun dari mimpi buruk baca taawudz 3x kemudian meludah ke kiri 3x, tapi lihat dulu sebelum meludah jangan sampe kena muka suami. Mimpi buruk jangan diceritakan. Hikmahnya mungkin supaya kita lupa, kalau ingat terus kan bahaya.


Tanya: Salam Abah, Bismillah, perlu masukan Abah, saya warga pendatang di Jakarta ini. Qodarullah sejak 3 tahun kami di sini, dengan ijin Allah saya mendapatkan beberapa  amanah kegiatan baik dari warga dan beberapa institusi. Sampai hari ini amanah itu berusaha saya tunaikan dengan segala kelemahan dan keterbatasan saya sebagai manusia. Terkadang saat amanah-amanah itu datang bertubi-tubi, saya serahkan semua pengaturan urusan-urusan itu pada-Nya. Nah, Qodarullah si kecil anak saya sekarang sudah usia 4 tahun, saya merasakan ada hutang waktu yang harus saya bayar kepadanya. Lebih fokus untuk mendampinginya di usia saat ini. Yang mau saya sharingkan, dalam kondisi itu sempat terpikir untuk mengambil "cuti" sejenak untuk pengabdian ke masyarakat. Insyaa Allah jika misal Allah ijinkan, mungkin suatu saat saya akan kembali terjun ke masyarakat. Jadi judulnya ini antara amanah keluarga dan masyarakat. Afwan jika kepanjangan hehehe. Bagaimana menurut Abah? Jazaakallah khoir
Jawab: Fokus dirumah. Titik


Tanya: Tanya lagi ngeh bah, ini yang membuat saya bimbang juga abah, fokus dirumah atau kembali bekerja. Suami dan orangtua mengijinkan kembali bekerja abah, karena profesi saya bidan. Apakah ada syarat syar'i seorang wanita berkerja diluar bah?
Jawab: Buka dirumah


Tanya: Satu lagi ustadz, minta tips biar qonaah.
Jawab: Bersyukur. Ingat Mati. Dunia ga dibawa mati


*CLOSING

Dia: Apa yang lebih patah dari mencintai sendirian?

Saya: Tak ada yang patah dari mencintai sendiri. Cinta yang sendiri adalah sungai yang menuju laut. Tak pernah meminta airnya kembali, tak memohon untuk airnya jadi tawar lagi. Sungai ikhlas berserah. Sungai mengalir tak pernah nyerah. Jatuh cinta lebih dari sekedar pelukan dan ciuman. Cinta tumbuh menumbuh. Hidup menghidupi

Dia: Lantas bagaimana agar aku selamat dari kepatahan?

Saya: Sesuatu yang tak sanggup kau tahan akan merobohkanmu, sesuatu yang kau lepas akan diganti.

Dia: Jadi, agar tidak sekarat, jalan keluarnya hanya mengikhlaskan? Bagaimana bisa aku mengikhlaskan sesuatu yang nyata bukan milikku?

Saya: Ikhlas bukan batu. Tapi biji yang harus ditanam dan diberi waktu tumbuh. Sementara ikhlas tumbuh besar dan merindang sibuklah melangkah, meringankan tangan, bahwa memberikan kebaikan adalah jalan paling dekat kepada lupa.

Dia: Lalu bagaimana aku bisa menyibukkan diriku sedang dia adalah kesibukanku?. Bagaimana kutanam ikhlas dan sabar sedang tanahnya berasal dari kulit-kulit dirinya? Bagaimana ikhlas tumbuh besar sedang ruh-nya ada dalam setiap tunas keikhlasan itu?

Saya: Saya pikir kamu cukup pintar untuk tau. Bahwa angin tak bisa ditangkap pakai jaring. Berhentilah jadi penat untuk suatu yang sia-sia. Atau kamu memang mencintai rasa sakit. Melebihi cintamu kepada senyummu sendiri.

Dia: Aku mencintai rasa amarah yang ditempa api-api di kepala. Sebab itu Tuhan membentukku melalui batu; pada akhirnya jatuh cinta kepada dera-dera air, yang menghilangkan aku. Perlahan.

Saya: Semoga bahagia.



=================

Kita tutup dengan membacakan hamdalah..
Alhamdulillahirabbil'aalamiin

Doa Kafaratul Majelis:

 سبحانك اللهم وبحمدك أشهد ان لا إله إلا أنت أستغفرك وآتوب إليك

Subhanakallahumma wabihamdika asyhadu allaailaaha illa anta astaghfiruka wa atuubu ilaika

“Maha Suci Engkau ya Allah, dengan memuji-Mu aku bersaksi bahwa tiada sesembahan yang haq disembah melainkan diri-Mu, aku memohon pengampunan-Mu dan bertaubat kepada-Mu.”

Wassalamu'alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh


================
Website: www.hambaAllah.net
FanPage : Kajian On line-Hamba Allah
FB : Kajian On Line-Hamba Allah
Twitter: @kajianonline_HA
IG: @hambaAllah_official





Thanks for reading & sharing Kajian On Line Hamba اللَّهِ SWT

Previous
« Prev Post

0 komentar:

Post a Comment

Kajian On Line Hamba اللَّهِ SWT

Ketik Materi yang anda cari !!