Home » , , » Menjemput Rizki dengan Bekerja

Menjemput Rizki dengan Bekerja

Posted by Kajian On Line Hamba اللَّهِ SWT on Thursday, April 5, 2018


Image result for rizki dengan bekerja
Rekap Kajian Online HA Ummi G-6
Hari/ Tgl : Senin 12 Maret 2018 
Materi: Menjemput Rizki dengan bekerja
NaraSumber: Ustadz Asyari
Waktu Kajian: bada Maghrib
Editor : Sapta
➖➖➖➖➖➖➖➖➖


MENJEMPUT RISKI DENGAN BEKERJA

Penghargaan tersebut tertuang dalam beberapa riwayat hadits berikut ini.

Akan Diampuni Dosanya Oleh Allah SWT.
Ibnu Abbas ra berkata, Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda, ‘Barang siapa yang merasakan keletihan pada sore hari, karena pekerjaan yang dilakukan oleh kedua tangannya, maka ia dapatkan dosanya diampuni oleh Allah SWT pada sore hari tersebut.” (HR. Imam Tabrani, dalam Al-Mu’jam Al-Ausath VII/ 289)


Dihapuskan Dosa Tertentu
Beberapa dosa tertentu juga akan dihapuskan dimana beberapa dosa itu tidak bisa dihapuskan dengan melaksanakan shalat, puasa dan juga shadaqah.

Abu Hurairah ra berkata, bahwa Rasulullah SAW bersabda, ‘Sesungguhnya diantara dosa-dosa itu terdapat suatu dosa yang tidak dapat diampuni dengan shalat, puasa, haji dan juga umrah.” Sahabat bertanya, “Apa yang bisa menghapuskannya wahai Rasulullah?”. Beliau menjawab, “Semangat dalam mencari rizki”. (HR. Thabrani, dalam Al-Mu’jam Al-Ausath I/38)


Mendapat Cinta Allah SWT
Ibnu Umar ra bersabda, ‘Sesungguhnya Allah SWT mencintai seorang mu’min yang bekerja dengan giat”. (HR. Imam Tabrani, dalam Al-Mu’jam Al-Aushth VII/380)


Lebih Baik Dari Meminta-Minta
Abu Hurairah r.a., ia berkata, Rasulullah Saw bersabda, “Sungguh, seandainya salah seorang di antara kalian mencari kayu bakar dan memikul ikatan kayu itu, maka itu lebih baik, daripada ia meminta-minta kepada seseorang, baik orang itu memberinya ataupun tidak.” (HR. Bukhari dan Muslim).


Meraih Sisi Allah Dengan Taat
Abu Zar dan Al-Hakim, “Sesungguhnya Ruhul Qudus membisikkan bahwa jiwa tidak akan wafat sebelum lengkap dan sempurna rezekinya. Karena itulah kamu harus bertakwa kepada Allah dan memperbaiki mata pencaharianmu. Jika datangnya rezeki itu terlambat maka jangan memburunya dengan bermaksiat karena apa yang ada di sisi Allah hanya bisa diraih dengan taat pada-Nya.”


Makan Dari Hasil Sendiri
Hadits riwayat Bukhari, “Tidak ada seseorang yang memakan satu makanan pun yang lebih baik dari makanan hasil usaha tangannya (bekerja) sendiri. Dan sesungguhnya Nabi Allah Daud as. memakan makanan dari hasil usahanya sendiri.” (HR. Bukhari)


Serupa Dengan Mujahid di Jalan Allah
Hadits riwayat Ahmad, “Sesungguhnya Allah menyukai hamba yang bekerja dan terampil. Siapa yang bersusah payah mencari nafkah untuk keluarganya maka ia serupa dengan seorang mujahid di jalan Allah.


MUSLIMDAILY.NET – Dalam mewujudkan nilai-nilai ibadah dalam bekerja yang dilakukan oleh setiap insan, diperlukan adab dan etika yang membingkainya, sehingga nilai-nilai luhur tersebut tidak hilang sia-sia.

Diantara adab dan etika bekerja dalam Islam adalah:

1.   Bekerja dengan ikhlas karena Allah Shubhanahu Wata’ala
Ini merupakan hal dan landasan terpenting bagi seorang yang bekerja. Artinya ketika bekerja, niatan utamanya adalah karena Allah. Ia sadar, bahwa bekerja adalah kewajiban dari Allah yang harus dilakukan oleh setiap hamba. Ia faham bahwa memberikan nafkah kepada diri dan keluarga adalah kewajiban dari Allah. Ia pun mengetahui, bahwa hanya dengan bekerjalah ia dapat menunaikan kewajiban-kewajiban Islam yang lainnya, seperti zakat, infak dan shodaqah. Sehingga ia selalu memulai aktivitas pekerjaannya dengan dzikir kepada Allah.

2.   Itqon, tekun dan sungguh-sungguh dalam bekerja
Implementasi dari keikhlasan dalam bekerja adalah itqon (profesional) dalam pekerjaannya. Ia sadar bahwa kehadiran tepat pada waktunya, menyelesaikan apa yang sudah menjadi kewajibannya secara tuntas. Dalam sebuah hadits, riwayat Aisyah ra, bahwa Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya Allah mencintai seorang hamba yang apabila ia bekerja, dia itqan (baca; menyempurnakan) dalam pekerjaannya.” (HR. Thabrani).

3.   Jujur dan amanah
Etika lain dari bekerja dalam Islam adalah jujur dan amanah. Karena pada hakekatnya pekerjaan yang dilakukannya tersebut merupakan amanah, baik secara duniawi dari atasannya atau pemilik usaha, maupun secara duniawi dari Allah yang akan dimintai pertanggung jawaban atas pekerjaan yang dilakukannya. Dalam hadits riwayat Imam Turmudzi : Dari Abu Said Al-Khudri ra, beliau berkata bahwa Rasulullah bersabda, “Pedagang yang jujur lagi dipercaya (amanah) akan bersama para nabi, shiddiqin dan syuhada’.

4.   Menjaga etika sebagai seorang muslim
Bekerja juga harus memperhatikan adab dan etika sebagai seorang muslim, seperti etika dalam berbicara, menegur, berpakaian, bergaul, makan, minum, berhadapan dengan customer, rapat, dan sebagainya. Bahkan akhlak atau etika ini merupakan ciri kesempurnaan iman seorang mukmin. Dalam sebuah hadits Rasulullah mengatakan, “Orang mu’min yang paling sempurna imannya adalah mereka yang paling baik akhlaknya.” (HR. Turmudzi).

5.   Tidak melanggar prinsip-prinsip syariah.
Aspek lain dalam etika bekerja dalam Islam adalah tidak boleh melanggar prinsip-prinsip syariah dalam pekerjaan yang dilakukannya. Tidak melanggar prinsip syariah ini dapat dibagi menjadi beberapa hal, Pertama dari sisi dzat atau substansi dari pekerjaannya, seperti memporduksi barang yang haram, menyebarluaskan kefasadan. Kedua dari sisi penunjang yang tidak terkait langsung dengan pekerjaan, seperti tidak menutup aurat, ikhtilat antara laki-laki dengan perempuan, membuat fitnah dalam persaingan dsb. Pelanggaran-pelanggaran terhadap prinsip syariah, selain mengakibatkan dosa dan menjadi tidak berkahnya harta, juga dapat menghilangkan pahala amal shaleh kita dalam bekerja. Allah berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, taatlah kepada Allah dan taatlah kepada Rasul-Nya dan janganlah kalian membatalkan amal perbuatan/ pekerjaan kalian.” (QS. 47 : 33).

6.   Menghindari syubhat
Dalam bekerja terkadang seseorang dihadapkan dengan adanya syubhat atau sesuatu yang meragukan dan samar antara kehalalan dengan keharamannya. Oleh karena itulah, kita diminta hati-hati dalam kesyubhatan ini. Dalam sebuah hadits Rasulullah bersabda, “Halal itu jelas dan haram itu jelas, dan diantara keduanya ada perkara-perkara yang syubhat. Maka barang siapa yang terjerumus dalam perkara yang syubhat, maka ia terjerumus pada yang diharamkan.” (HR. Muslim)

7.   Menjaga ukhuwah Islamiyah.
Aspek lain yang juga sangat penting diperhatikan adalah masalah ukhuwah islamiyah antara sesama muslim. Jangan sampai dalam bekerja atau berusaha melahirkan perpecahan di tengah-tengah kaum muslimin. Rasulullah sendiri mengemukakan tentang hal yang bersifat prefentif agar tidak merusak ukhuwah Islamiyah di kalangan kaum muslimin. Beliau mengemukakan, “Dan janganlah kalian menjual barang yang sudah dijual kepada saudara kalian” (HR. Muslim).


➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖

TANYA-JAWAB

Tanya: afwan ijin bertanya ustadz, bagaimana cara memanajemen hati bahwa bekerja itu harus tapi rezeki Allah yang mengatur, karena jika terlanjur giat umumnya sifat manusia yg terlalu giat bekerja nya keluar ustadz, sampai lupa waktu.
Jawab: Wassalam Harus yakin bahwa riski adalah anugerah dari allah  firman Allah SWT:
أَمَّنْ هَٰذَا الَّذِي يَرْزُقُكُمْ إِنْ أَمْسَكَ رِزْقَهُ ۚ

“Siapakah yang dapat memberi kamu rezeki jika Allah menahan rezeki” (Surah Al-Mulk, ayat)


Tanya: Ijin bertanya ustadz, di medsos itu banyak beredar tulisan semisal: “istri boros, rezeki suami malah melimpah, karena istri bahagia, doapun mengalir untuk suami”, Bagaimana menurut pandangan Islam tentang hal ini, ustadz?
Jawab: Saya kira salah dalam menjelaskan atau tidak sempurna, Bila istri mensyukuri atas kerja suami dan mendokan serta membelanjakan sesuai dengan syari maka Allah akan menambah rizki itu dengan melimpah


Tanya: Tanya lagi, ustadz, Maksud dari hadist ini apa ya, ustadz: "Dan janganlah kalian menjual barang yang sudah dijual kepada saudara kalian" Afwan, ustadz.
Jawab: Maksudnya kita tiak boleh menjual barang yang sudah menjadi hak milik orang lain karena kita sudah jual padanya. maksudnya saat sudah menjual pada seseorang walaupun belum bayar tidak boleh ita menjual ke yang lain .


Tanya: Izin bertanya ustadz. Bagaimana pandangan ustadz mengenai istri yang bekerja di luar rumah?
Jawab: wanita bekerja di luar rumah seizin suami, dan sesuai fitrah wanita boleh.


Tanya: Ustadz mau tanya agak jauh dr materi. Kalo seorang istri sering minta cerai tapi suami ndak mau menceraikan, dan akhirnya istri minta pisah ranjang dan suami menyetujui, hukumnya dalam islam apa?
Jawab: Wanita minta cerai tergantung pada akar masalahnya, apa alasannya, kalau alasan tidak syari misal hanya karena rizki yang kurang tidak boleh, tapi bila karena murtad atau sekurangnyayang ada di siqot taklik boleh.


Tanya: Assalamu'alaykum ustadz mau nanya, bila istri bekerja, terus secara bersamaan kegiatannya kebentur ama pekerjaan dirumah yang merupakan kewajiban si istri. Apa mesti duluin kewajiban memgurus rumah tangga tadi atau pekerjaannya?
Jawab: Wassalam  Wanita bekerja harus di sesuaikan dan di diskusikan dengan suami agar tidak tidak ada hak suami yang kurang, musyawarah dengan baik solusinya.


Tanya: Kalau pisah ranjang nya ustadz?
Jawab: Pisah ranjang itu adalah hukuman suami terhadap istri dan ada batas waktu, istri harus memenuhi kewajiabnnya. jadi tidak boleh karena hak suami biologis tidak terpenuhi


Tanya: siqod taklik itu apa Ustadz?
Jawab: siqot taklik yang ada di buku nikah dan di bacakan saat selesai aqad


Tanya: izin bertanya ustadz, jika istri bekerja, penghasilannya ada milik istri, bagaimana bila suami ingin tahu untuk apa saja, sedangkan uang belanja yang di beri suami terkadang kurang buat memenuhi kebutuhan. Apakah boleh suami meminta bantuan istrinya? tapi istri memilih untuk memenuhi kebutuhan pribadi saja dengan penghasilannya, dengan alasan suami wajib memenuhi kebutuhan rumah tangga?
Jawab: Memang benar wanita bekerja hasil milik istri, tapi bila membantu untuk kebutuhan karena penghasilan suami belum cukup adalah sedekah dan pahala yang besar bagi istri.


Tanya: Ustadz, haramkah mencari penghasilan dengan menjual barang beli 500 ribu dijual 700 ribu, sedangkan bayarnya 5x 5 bulan, tidak seperti kredit cuma hanya membantu meringankannya.
Jawab: Boleh halal


Tanya: Yang dinamakan haram kalau ambil untung banyak ya ustadz?
Jawab: Prinsipnya saling ridho boleh


Tanya: Berarti kredit itu boleh ya ustadz, karena kepepet orangnya, jadi mau tidak mau ridho.
Jawab: Kredit syariah boleh


Tanya: Ustadz, bagaimana yang harus dilakukan istri bila suami punya hutang pada saudaranya, sebenarnya istri punya uang untuk membayar tapi istri males bayar utang suami karna sebelumnya suami perhitungan sama istri dan penghasilan suami selama menikah istri tiak pernah dikasih tau.
Jawab: Afwan jadi sudah cerai ya? Kalau belum cerai sebaiknya dibantu bayar biar selesai


Tanya: Tanya lagi, bagaimana caranya kasih tahu suami supaya mau bekerja dengan giat dan tidak malas-malasan? Malas dalam arti selalu memilih-milih pekerjaan.
Jawab: Tugas istri menasehati suami jangan bosen dan kita doakan


Tanya: Ustadz nanya lagi, bolehkan kita sebagai pembeli protes pada penjual bila barang yang kita beli di campur dengan barang yang kualitas jelek, bagaimana jika penjualnya tidak menerima hal yang salah kita katakan salah?
Jawab: Bila kita mau beli dan barang di campur kita oleh tanya kenapa. Bila tidak syar'i jangan dibeli.


Tanya: Bismillaah, ustadz mau tanya, bagaimana bila kita tak mau bekerja untuk beberapa lama, karena untuk jangka waktu itu ada/ cukuplah untuk biaya hidup. Karena ingin belajar agama dulu, apakah itu tercela/ termasuk bermalas-malasan?
Jawab: Kalau niatnya untuk mendalami Islam misal di pesantren untuk hafidz, boleh , namun kalau sudah berkeluarga harus pertimbangan dengan suami.



=========================

Kita tutup dengan membacakan hamdalah..
Alhamdulillahirabbil'aalamiin

Doa Kafaratul Majelis :

 سبحانك اللهم وبحمدك أشهد ان لا إله إلا أنت أستغفرك وآتوب إليك

Subhanakallahumma wabihamdika asyhadu allaailaaha illa anta astaghfiruka wa atuubu ilaika

“Maha Suci Engkau ya Allah, dengan memuji-Mu aku bersaksi bahwa tiada sesembahan yang haq disembah melainkan diri-Mu, aku memohon pengampunan-Mu dan bertaubat kepada-Mu.”

Wassalamu'alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh


================
Website: www.hambaAllah.net
FanPage : Kajian On line-Hamba Allah
FB : Kajian On Line-Hamba Allah
Twitter: @kajianonline_HA
IG: @hambaAllah_official

Thanks for reading & sharing Kajian On Line Hamba اللَّهِ SWT

Previous
« Prev Post

0 komentar:

Post a Comment

Kajian On Line Hamba اللَّهِ SWT

Ketik Materi yang anda cari !!