Home » , , » Tahapan-tahapan Perbersihan Jiwa (Tazkiyatun Nafs)

Tahapan-tahapan Perbersihan Jiwa (Tazkiyatun Nafs)

Posted by Kajian On Line Hamba اللَّهِ SWT on Friday, April 6, 2018


Image result for pembersihan jiwa
Rekapitulasi Kajian  Online HA Ummi G3
Hari/tanggal: Selasa 13 Maret 2018
Materi: Tahapan-tahapan perbersihan jiwa (tazkiyatun nafs)
Nara sumber: Ustadzah Lillah
Waktu: 08.00 s/d selesai
Editor: sapta
=====================


TAHAP-TAHAPAN PEMBERSIHAN JIWA (TAZKIYATUN NAFS)


Tentunya kita sudah sering mendengar hadist Rasul yang menyatakan, "Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap pemimpin dimintakan tanggung jawab atas kepemimpinannya itu." Jadi Allah akan meminta pertanggungjawabkan pada diri kita semua, karena setiap orang adalah pemimpin, minimal memimpin keluarga dan dirinya sendiri.

Jika kita membandingkan dengan hasil survey pada buku di atas, milyuner-milyuner (yang tentu juga merupakan seorang pemimpin, misalnya pemimpin perusahaan) yang sekuler (dan kemungkinan besar atheis) saja menempatkan nilai-nilai spiritual pada posisi penting dalam kehidupannya di dunia, apalagi kita yang tahu bahwa kita pasti diminta pertanggung jawabannya.

Allah berfirman:
"Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa ang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan." (QS. 66:6)

Abdullah bin Abbas menerangkan bahwa kata pelihara ini berarti "mendidik" diri dan keluarganya. Ingat doa yang diajarkan Rasul SAW:

"Ya Allah karuniakanlah pada jiwa ini ketakwaan kepada-Mu dan sucikanlah jiwaku, karena engkaulah pelindung dan pemiliknya."


Tahap Mensucikan Jiwa: At-Tathahharu, At-Takhaluq, Al-Iqtida'


1. At-Tathahharu

Artinya: Mengangkat dan membersihkan jiwa dari segala penyakitnya.

Pembersihan diri ini diawali dengan taubat. Taubat yaitu kembali pada pangkuan dan pelukan Allah, meninggalkan segala dosa dan maksiat serta berusaha untuk tidak melakukannya lagi. Dan kemudian memulai hari-hari anda dengan indah yang dihiasi dengan keimanan dan keta'atan. Diri anda akan terasa ringan dan "plong" apabila anda berhasil mengangkat penyakit-penyakit hati atau penyakit jiwa/batin.

Apa saja penyakit jiwa?

Kufur, Nifaq. Yaitu ingkar kepada Allah. Bila seseorang ditimpa bencana dan ancaman kematian, maka ia akan memohon kepada Allah dalam segala posisi saking takutnya, tetapi setelah bencana itu diangkat oleh Allah, ia lupa bahwa dengan kekuasaan Allahlah hal itu terjadi. Firman Allah:

“Dan apabila manusia ditimpa bahaya dia berdoa kepada Kami dalam keadaan berbaring, duduk atau berdiri, tetapi setelah Kami hilangkan bahaya itu daripadanya, dia (kembali) melalui (jalan yang sesat), seolah-olah dia tidak pernah berdoa kepada Kami untuk (menghilangkan) bahaya yang telah menimpanya. Begitulah orang-orang yang melampaui batas itu memandang baik apa yang selalu mereka kerjakan.” (QS 10:12)

Syirik & Riya’. Syirik : menyekutukan Allah dengan selain Allah. Riya’: syirik kecil, karena adanya pada diri manusia itu sendiri. Perumpamaan Rasul SAW : “Riya’ itu bagaikan semut hitam, di atas batu hitam, di dalam hutan belantara yang gelap pada waktu malam hari." Riya’ menyebabkan seluruh amal yang kita kerjakan karena Riya’ akan ditolak oleh Allah. Ingat salah satu doa yang diajarkan Rasulullah yang termuat dalam Al-Ma’tsurat:“Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari menyekutukan-Mu terhadap apa-apa yang aku ketahui. Dan ampunilah aku terhadap apa-apa yang tidak aku ketahui.”

Hubbud dunya, atau cinta dunia(wahn). Firman Allah:

 "Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan pada apa-apa yang diingini, yaitu wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas dan perak, kuda pilihan, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia; dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga)." (QS 3: 14).

Hasad (kedengkian). Orang yang hasad tidak senang bila orang lain mendapatkan rezeki, nikmat, dll dari Allah. Rasulullah menasehati kita, “Jauhi sifat hasad, karena tanpa terasa kebaikan amal kita habis seperti api menghabiskan sepotong kayu.” Ingat kisah seorang sahabat miskin (seorang buruh panggul) yang dikatakan Rasul SAW sebagai ahli syurga padahal ketika diselidiki oleh seorang sahabat lain amalan lainnya biasa saja. Ternyata rahasianya adalah bahwa tiap malam ia berdoa agar terhindar dari sifat hasad dan mendoakan orang lain yang berniat atau telah melakukan kezaliman atas dirinya untuk diampuni oleh Allah.

Ujub, yaitu kekaguman seseorang terhadap dirinya sendiri. Kekaguman itu bisa terhadap kekaguman fisiknya (narsisme), ilmu pengetahuan yang dimiliki, dan yang paling bahaya adalah terhadap amal perbuatannya sendiri. Yang disebut terakhir Allah menggambarkan dalam surat 49:17 bahwa orang yang ujub merasa telah memberikan ni’mat (rezeki, sedekah) kepada orang lain dan merasa bangga disebut sebagai yang menyedekahi. Dengan kata lain ia melakukan amal perbuatannya karena ingin dilihat orang lain. Silakan dicek pula surat 7: 44 (bacaan para penghuni surga ketika masuk surga).

Takabbur, atau sombong. Awal dari takabbur ini adalah sifat ujub. Bermula kagum pada diri sendiri kemudian ia merendahkan orang lain. Cukup banyak ayat yang menerangkan sifat takabbur ini. Lihat surat An-Nahl (16) : 22 – 25. Cara untuk menghilangkan sifat ini adalah banyak berdzikir (kagum pada Allah).

Ittiba’ul Hawa, atau selalu mengikuti hawa nafsu. Orang yang mengikuti hawa nafsu tidak mau dibatasi. Allah mengijinkan disalurkannya nafsu, tetapi semua ada batasnya. Oleh karena itu fungsi kajian Tazkiyatun Nafs ini adalah supaya nafsu tersalurkan sesuai porsinya.

Dan masih banyak lagi penyakit-penyakit hati yang nampak maupun tersirat dalam jiwa dan batih manusia, yang mengakar dalam hati insan.


2. At-Takhalluq

Yaitu memasukkan/menghiasi ke dalam jiwa itu segala sesuatu yang selayaknya berada di dalam jiwa. Ya, setelah jiwa dibersihkan dan disucikan dengan berbagai cara dengan usaha (juhud) dan sungguh-sungguh (ijtihad) dan latihan (riyadhah) baik dengan taubat, muhasabah, dan sebagainya. Kini, jiwa yang sudah mulai bersih dari noda penyakit hati/jiwa/batin itu dihiasi dengan sesuatu yang selayaknya ada di dalam jiwa, istilahnya kembali pada fitrah manusia dan selayaknya manusia dengan akhlaq-akhlaq baik (akhlaqul karimah) yang berhubungan dengan jiwa atau hati Baik itu husnudzhan, sabar, tawadhu'(rendah hati), jujur, amanah, tawakkal, sabar, tawadhu’, tadharru’, qana’ah, iffah, dan lain-lain sebagainya.


3. Al-Iqtida'

Yaitu meneladani perilaku yang bersumber dari nama-nama Allah (Asma’ul Husna) yang perilaku Rasul. Allah S.W.T mempunyai 99 nama (asmaul-husna), dari nama-nama yang baik itu dapat menjadi media kita untuk sadar atau was-was, atau bisa juga disebut media menambah iman kita. Diantaranya nama Allah itu yaitu Maha Adil, ya dengan nama ini kita tahu Allah itu maha adil, jadi apapun yang menimpa kita itu adalah adilnya Allah walau akal kita tidak sanggung melihat hikmahnya. Dengan ini kita akan terjauhi dari sifat Dzhan , yaitu berburuk sangka kepada Allah.

Kemudian menjadikan sifat-sifat pribadi yang karimah (akhlaqul karimah)-nya rasul pada kepribadian jiwa kita. Dengan mengamalkan sunnah-sunnah beliau dan menjauhi apa yang dijauhi oleh beliau.

Jalan Membersihkan Jiwa:
-      Shalat
-      Zakat, infaq
-      Puasa
-      Haji
-      Tilawah Al-Qur’an
-      Dzikir
-      Tafakkur
-      Mengingat Mati
-      Pendek Angan-angan
-      Muraqabah, Muhasabah, Mujahadah dan Mu’aqabah
-    Amar Ma’ruf Nahi Mungkar dan Jihad Pelayanan dan Tawadhu’ (merendahkan hati)
-    Mengetahui pintu-pintu masuk syetan ke dalam jiwa dan menutup jalan jalannya.
-      Mengetahui berbagai penyakit hati berikut cara melepaskannya.


==============

TANYA JAWAB


Tanya: ijin bertanya ustadzah , muroqobah dan muaqobah itu apa ya?
Jawab: Muroqobah itu merasakan pengawasan Allah, Muaqobah itu menghukum diri sendiri.
Seperti Umar bin Khattab yang menghibahkan kebunnya saat terlambat sholat.


Tanya: Ustadzah, sebagai wanita kalau membatasi pergaulan dengan tetangga tidak mengapa kah? Jadi sehari-hari hanya dirumah saja. Pengen dirumah saja ustadzah, menghindari pergosipan.
Jawab: Orang yang mau bergaul dan bersabar terhadap gangguan masyarakat jauh lebih baik dari orang yang tidak mau bergaul dan bersabar terhadap masyarakat. Itu hadits Rasulullah, bahwa setiap kita punya kewajiban bermasyarakat. Masalah ghibah, kembali kepada kebiasaan kita masing-masing.


Tanya: Menyambung tentang bertetangga: Ustadzah kami kan di sini perantauan, banyak warga sini yang tidak kami kenal. Sering bertemu pun saling diam. Anehnya, ketika mereka memiliki hajatan pernikahan atau khitanan kami diundang. Dosakah jika kami tidak datang? Terimakasih.
Jawab: Dalam Islam memenuhi undangan termasuk wajib. Adapun isi amplop, niatkan infaq insyaallah diganti langsung jika kita yakin. Kalau mereka mengundang tandanya mereka menghargai kita dan mengenal kita. Instrospeksi diri, bisa jadi kita yang terlalu menutup diri.


Tanya: ijin bertanya ustadzah, pernah dengar, katanya yang wajib datang ketika diundang itu hanya undangan nikah, kalau undangan lain katanya tidak wajib, benarkah ustadzah?
Jawab: Dalam haditsnya memang yang disebut adalah walimah. Namun secara adab juga menurut saya sebaiknya tetap berupaya memenuhi undangan sebagai bentuk penghargaan. Dalam Islam memenuhi undangan termasuk wajib. Kalau mereka mengundang tandanya mereka menghargai kita dan mengenal kita.


Tanya: Ijin bertanya ustadzah, tetangga-tetangga rutin mengadakan pengajian ibu-ibu setiap malam jumat, jika diundang boleh kah kita nolak, karena malas keluar malam, anak-anak pasti ngikut, kasihan kalau mereka harus tidur larut.
Jawab: Kalau ini ya luruskan niat, jangan karena malas. Tapi lebih karena keluar malam juga kurang baik untuk perempuan dan anak-anak


Tanya: Ijin bertanya, bagaimana jika ada undangan tahlilan, sedangkan meyakini bahwa tahlilan tidak diperbolehkan, apakah tetap datang dalam rangka menghargai atau tidak usah datang saja?
Jawab: Kembalikan ke keyakinan tentunya, karena ini kan memang tidak ada tuntunannya dalam Islam.


Tanya: Maaf Ustadzah, kalau kita tetep datang dengan niat silaturahmi dengan masyarakat bagaimana Umm? karena kebetulan dipercaya menjadi bu RT,  kalau tidak hadir malah akan menjadi gunjingan.
Jawab: Nah ini lain lagi, kembali luruskan niat. Meski sebenarnya sebagai Bu RT, sebagai yang dianggap pemimpin, menjadi tanggung jawab bunda untuk meluruskan sedikit demi sedikit. Berat ya, tapi itulah tanggung jawab pemimpin.



=========================

Kita tutup dengan membacakan hamdalah..
Alhamdulillahirabbil'aalamiin

Doa Kafaratul Majelis :

 سبحانك اللهم وبحمدك أشهد ان لا إله إلا أنت أستغفرك وآتوب إليك

Subhanakallahumma wabihamdika asyhadu allaailaaha illa anta astaghfiruka wa atuubu ilaika

“Maha Suci Engkau ya Allah, dengan memuji-Mu aku bersaksi bahwa tiada sesembahan yang haq disembah melainkan diri-Mu, aku memohon pengampunan-Mu dan bertaubat kepada-Mu.”

Wassalamu'alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh


================
Website: www.hambaAllah.net
FanPage : Kajian On line-Hamba Allah
FB : Kajian On Line-Hamba Allah
Twitter: @kajianonline_HA
IG: @hambaAllah_official

Thanks for reading & sharing Kajian On Line Hamba اللَّهِ SWT

Previous
« Prev Post

0 komentar:

Post a Comment

Ketik Materi yang anda cari !!