Home » , , , » Remaja Tanpa Krisis Identitas (Apa Mitos)?

Remaja Tanpa Krisis Identitas (Apa Mitos)?

Posted by Kajian On Line Hamba اللَّهِ SWT on Wednesday, May 2, 2018


Image result for krisis identitas remaja
Kajian Link Online HA Ummi G1-G6
Hari/Tgl: Rabu, 25 April 2018 
Materi: Remaja Tanpa Krisis Identitas (Apa Mitos)?
Nara Sumber: Ustadzah Malik
Waktu Kajian: 14.00 WIB - selesai
Editor: Sapta
➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖


Mitos besar itu adalah remaja merupakan masa krisis identitas. Kita manggut-manggut dan percaya, lalu memberi toleransi yang sebesar-besarnya terhadap berbagai perilaku yang tidak patut. Alasannya? Mitos lagi: remaja sedang mencari identitas diri. Lho, memangnya identitas mereka ketinggalan dimana? Jika hilang, apa sebabnya identitas diri mereka hilang begitu memasuki usia remaja? Jika mereka belum memiliki identitas diri yang jelas, pertanyaan serius yang perlu kita jawab adalah, “Apa saja yang kita kerjakan selama bertahun-tahun sehingga membiarkan anak-anak kita memasuki usia remaja tanpa memiliki identitas diri yang jelas?”


Apa akibat serius mempercayai mitos ini? 

Pertama, kita abai terhadap keharusan menyiapkan anak-anak kita agar memiliki identitas diri yang kuat semenjak usia kanak-kanak. Kita abai karena menganggap belum masanya, sehingga mereka benar-benar mengalami krisis identitas saat memasuki usia remaja. Mereka mengalami krisis karena kita memang mengabaikan tanggung-jawab untuk menumbuhkan, menyemai dan menguatkan. 

Kedua, tanpa identitas diri yang kuat, anak lebih mudah terpengaruh teman sebaya. Bukan bersibuk mengejar apa yang menjadi tujuannya karena ia memang belum memilikinya secara kuat. Ini pun menyisakan pertanyaan penting, yakni mengapa ada anak yang mudah terpengaruh oleh temannya, sementara yang lain justru menjadi sumber pengaruh. 

Ketiga, dalam kondisi tak memiliki identitas diri yang kuat, remaja cenderung mengidentifikasikan diri dengan sosok yang dianggap besar. Inilah idolatry (pemujaan, pengidolaan). Siapa yang mereka idolakan? Tergantung kemana media membawa mereka dan apa yang paling membekas dalam diri mereka. Dan hari ini, media sedang bergerak menjadikan artis, atlet dan siapa pun menjadi idola. Kita tak mengenal mereka, kita tak mengetahui akhlaknya (atau justru sudah sampai pada tingkat tidak mau tahu), tetapi media menggambarkan mereka sebagai sosok luar biasa, sehingga remaja dapat mengalami histeria karena memperoleh apa-apa yang berhubungan dengan idola. Rasanya, “sesuatu banget” (gue banget).

Masalahnya adalah, orang-orang yang mereka idolakan itutidak memberi arah hidup yang jelas. Kita hanya memperoleh info sepotong-potong. Dan masalah yang jauh lebih serius, sosok tersebut bahkan tidak memiliki integritas pribadi yang dapat diandalkan. Apatah lagi kalau kita bertanya tentang keteguhan iman dan kelurusan aqidah.

Jadi, ada dua hal penting yang perlu kita benahi dalam diri kita dalam masalah remaja. Pertama, mengoreksi diri sendiri agar tidak menganggap remeh persoalan-persoalan yang muncul pada para remaja sebagai kewajaran. Kaidah pentingnya, tidak akan muncul masalah jika tidak ada yang salah. Begitu kita mengabaikan, maka kita tidak cepat tanggap sehingga persoalan dapat berkembang sedemikian jauh. Kita menganggap biasa persoalan yang seharusnya diselesaikan segera. Kedua, menyiapkan anak-anak memasuki masa remaja semenjak mereka masih kanak-kanak. Ini bukan terutama dengan memberi keterampilan atau mengasah kecerdasan. Tetapi yang jauh lebih penting adalah:membangun orientasi hidup yang jelas, tujuan hidup yang kuat serta orientasi belajar. Lebih lengkap lagi jika semenjak awal anak diajak untuk mengenali diri sendiri dan menerima sepenuhnya kelebihan maupun kekurangannya.

Hanya membekali anak dengan keterampilan dan kemampuan akademik maupun kesenian, tidak menjadikan mereka memiliki arah hidup yang jelas. Mereka tak mempunyai pegangan yang kokoh. Boleh jadi mereka cerdas, tapi tanpa orientasi yang kuat memudahkan mereka mengalami krisis kepribadian (salah satunya krisis identitas) begitu mereka memasuki masa remaja atau bahkan sebelum itu. Nah, mari kita bertanya, siapakah yang salah jika remaja bermasalah sementara kita hanya bekali mereka dengan keterampilan dan pengetahuan saja saat kanak-kanak?

Mengenali dan menerima sepenuhnya kelebihan dan kekurangan ini sangat penting bagi anak agar tidak minder tatkala berada di tengah-tengah teman sebaya. Jika pengenalan diri ini disertai dengan empati (dan ini perlu kita tumbuhkan dalam diri mereka, bukan hanya berharap) anak akan lebih mudah menghargai orang lain, ringan hati memberi tahniah (ucapan selamat) saat ada teman yang meraih prestasi, dan ringan langkah membantu temannya yang lemah. Dalam lingkup kelas, ini memudahkan pembentukan iklim kelas yang positif (positive classroom climate) dimana yang cemerlang akan berkembang, sementara yang lemah akan memperoleh dukungan dari teman sekelas untuk mengatasi kelemahannya. Mereka merasa menjadi “satu keluarga”. Inilah yang agaknya kerap terlalaikan dari sekolah-sekolah kita.

Pertanyaannya, bukankah buku-buku psikologi modern menyatakan bahwa krisis identitas sebagai keniscayaan? Ya. Dan inilah akibat arogansi Amerika yang menganggap fakta di negerinya sebagai realitas yang berlaku untuk warga seluruh dunia. Padahal di banyak negara, terutama negeri-negeri timur, remaja tidak mengalami itu. Yang menarik kita perhatikan, remaja di Timur Tengah tak mengalami krisis identitas sampai negeri mereka mengadopsi model pendidikan ala Amerika. Lebih lanjut, silakan baca buku The 50 Great Myths in Popular Psychology.


Empat Sebab Kenakalan

Di luar masalah krisis identitas, bisa saja remaja maupun anak-anak melakukan perilaku yang tidak patut secara sengaja. Ada empat sebab anak bertindak demikian. Pertama, anak melakukan tindakan-tindakan tidak menyenangkan tersebut untuk memperoleh perhatian. Dalam hal ini, yang dapat kita lakukan adalah menunjukkan kepada mereka apa yang perlu mereka lakukan untuk memperoleh perhatian. Disamping itu, kita berusaha memberi perhatian yang memadai. Kedua, anak bertingkah karena motif kekuasaan, yakni mereka bertingkah untuk menunjukkan bahwa dirinya tidak dapat dipaksa. Anak semacam ini antara lain dapat “dikendalikan” antara lain dengan memberinya tanggung-jawab mengatur. Ketiga, anak bertingkah sebagai balas dendam. Tindakan dilakukan untuk maksud menyakiti hati (orangtua atau guru) dan bahkan sampai ke taraf ingin mempermalukan. Anak tak peduli resiko yang dihadapi. Keempat, anak bertingkah karena merasa dirinya tidak akan berhasil. Ia merasa pasti gagal. Maka, untuk menjadikan kegagalan (yang belum tentu menimpanya) sebagai hal yang wajar terjadi, ia justru nakal. Dalam hal ini, kenakalan terjadi untuk“menghindari kegagalan”.

Salah satu kunci untuk mengatasi masalah ini adalah dengan mengetahui secara tepat apa yang menjadikan anak melakukan kenakalan. Ada empat sebab, tetapi hanya ada satu yang benar-benar mendorong anak bertingkah tidak patut; apakah untuk mencari perhatian, kekuasaan, balas dendam atau menghindari kegagalan. Mengetahui sebabnya dengan pasti memudahkan kita mengambil langkah penanganan.

‘Alaa kulli haal, kitalah yang bertanggung-jawab mengantarkan anak-anak memasuki masa remaja dengan orientasi hidup yang jelas, tujuan hidup yang kuat serta orientasi belajar yang mantap. Jika anak-anak menampakkan gejala melakukan kenakalan, kita perlu berbenah agar anak tak salah arah.

Terakhir, Ada satu pertanyaan serius. Anak-anak kita telah tampak kehebatannya saat usia TK atau SD kelas bawah. Mereka sudah pandai membaca dan terampil berhitung, di saat teman-temannya yang di Jepang dan berbagai negara lain bahkan belum mampu mengeja. Tetapi, mengapa para remaja di Jepang mencapai kegilaannya belajar setelah memasuki SLTA dan terutama saat kuliah? Sementara anak-anak di negeri kita yang semata wayang ini justru memperoleh kemerdekaan sebesar-besarnya setelah lulus SLTA. Sekolah menjadi penjara, sehingga kelulusan mereka rayakan dengan hura-hura!

Oleh: Mohammad Fauzil Adhim

➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖

TANYA JAWAB


TJ – G1

Tanya: afwan ustadzah, pemerintah sekarang mulai mengubah sistem pendidikan nasionalnya sedikit-sedikit dengan mengedepankan nilai-nilai moral seperti di sistem pendidikan K13 dan nilai tidak lagi menjadi penentu kelulusan seorang siswa. Apakah harusnya kita sebagai orangtua mempunyai bekal yang sama namun disisi agamis agar program pendidikan pemerintah itu bisa seimbang didiri seorang anak? Namun sekali lagi "waktu" menjadi masalah terbesar karena anak sudah kelelahan sepulang sekolah ustadzah. Mohon pencerahannya, apakah yang harus kami orang tua lakukan? Jazakillahu khair.
Jawab: selaraskan program sekolah dengan rumah, pembiasaan ibadah dan akhlaq sinkronkan dengan sekolah misalnya sholat lima waktu dzuhur dan ashar tanggung jawab sekolah selebihnya dirumah orangtua yang mengontrol, sholat dhuha sabtu ahad tugas orangtua yang mengawasi selebihnya disekolah pun dengan pembiasaan akhlaq, ucap salam ketika berjumpa dengan siapa saja cium tangan kepada yang lebih tua tegur salam sapa dan lain-lain.

----------
TJ – G2

Tanya: Izin bertanya. Bagaimana caranya supaya mereka memiliki identitas diri yang jelas. Apakah untuk anak perempuan yang se-tingkat SMA dan SMP berbeda? Dan menumbuhkan kalau mereka sebenarnya harus punya mimpi-mimpi dan cita-cita yang tinggi. Jazakillah khoir.
Jawab: Pendidikan jati diri hendaknya dimulai sejak usia dini pisahkan tempat tidurnya dengan saudara laki-lakinya, pembiasaan menutup aurat dan bahwa mereka adalah muslim, sedangkan mimpin dan cita-cita adalah bagaimana mereka menjadi hamba Allah terbaik apapun profesi natinya, sejak dini bangun rasa ketauhidan kepada anak-anak.

Tanya: Izin bertanya, bagaimana mendidik anak usia balita sehingga pada waktu masuk remaja mereka tidak jenuh untuk belajar? Jazakillah
Jawab: anak usia balita belajarnya adalah bermain, biarkan mereka memahami kebaikan-kebaikan lewat bermain, kita selaku orangtua mengarahkan, tidak memaksakan untuk mengejar target-target kurikulum harus bisa baca bisa hitung dan lain-lain, biarkan matang sesuai usianya. Wallahu alam.

Tanya: Afwan mau nanya. Si bungsu dari 2 bersaudara, sekarang kelas 9. Tahun lalu jadi ketua OSIS. Dari SD hampir selalu jadi ketua kelas. Sepertinya dia agak sulit untuk diberikan kalimat perintah. Tapi bagaimana caranya untuk mengingatkan tentang tugas-tugas harian dan ibadahnya? Apa sudah bisa diajak berdiskusi dan menganalisis persoalan ?
Jawab: masa ini asyik sekali utk berdiskusi, bicarakan dan buka cara berfikirnya tentang ibadah mengapa harus ibadah, bagaimana Allah mencintainya, keinginan kita sampaikan bahagianya kita sampaikan. Minta ia untuk menceritakan keinginannya, kita cari titik temu bersama, buat komitmen bersama orangtua dan anak juga konsekuensi-konsekuensi yang disepakati bersama, jadikan ia proyek keluarga insyaAllah kita dan anak-anak kita akan memahami ritme hidup yang kita bersama inginkan.

----------
TJ – G3

Tanya: Assalamualaikum ustadzah izin bertanya. Sejak saya akrab dengan ipar saya, dimana hidupnya lebih kaya dan mewah, kami sering di undang untuk main kerumahnya. Nah sejak itu anak saya yang laki-laki berumur 5 tahun, selalu berbicara tentang kekayaan, orientasinya harta (beda dengan anak saya yang perempuan yang berumur 8 tahun). Anak laki-laki selalu bilang saya harus kaya ma, rumah tante cantik, rumah sultan jelek (ada rasa kurang bersyukur). Saya jadi takut dia jadi sosok yang ambisius dan gila harta. Apa ini hanya karena faktor umur, atau apa ya? karena si adik susah di arahkan beda dengan si kakak. Bagaimana ya ustadz cara mengarahkn dia agar tidak memiliki pikiran-pikiran seperti itu? Terimakasih ustdzah.
Jawab: anak 5 tahun belajarnya lebih mudah dengan yang nampak dan nyata, kembalikan semuanya adalah pemberian Allah. Bahwa Allah menyayangi semuanya karena itu harus disyukuri jadikan keluarga sepupunya sbg bahan belajar baginya, tentunya orgtua harus selalu berpositif thingking bahwa anak kita sdg belajar dan kita ortu harus menjadi fasilitator yg mengarahkan kpd kebaikan.wallahu alam

Tanya: Anne ijin bertanya. Bagaimana caranya mengajarkan kepada anak supaya mau berbagi? Misalnya mainan, buku dan lain-lain. Kadang ada egoism itu benda kepunyaan sendiri. Ketika ada yg ambil, main pukul aja.
Jawab: ibunda sayang mendidik anak adalah proses yang bisa jadi kita perlu stok sabar yang juga panjang. Aajarkan terus bagaimana berbagi, bermain bersama itu indah bacakan kisah-kisah keteladanan ambil hikmahnya dan minta dia bersikap jika tidak sesuai keinginan kita arahkan dengan kelembutan bukan perintah yang ia sendiri tak mengerti dan memahami. Wallahu alam.

Tanya: Ijin bertanya ustadz. Apakah beda perlakuan terhadap remaja laki-laki dan perempuan, karena anak saya yang sulung perempuan agak mudah diperingatkan dan adiknya laki-laki agak susah diingatkan?
Jawab: masing-masing anak kita punya karakter yang berbeda dan cara mlerlakukan yang berbeda, anak perempuan lebih halus perasaannya karenanya lebih mudah disentuh dengan kelembutan anak-anak laki-laki dominan logika, perlu argumen yang bisa dan mampu dicerna terhadap sesuatu. Saran bunda, komunikasi terus jangan ada mis diantara anggota keluarga. Berikan kenyamanan bagi mereka insyaAllah ia akan butuh dengan kita.

Tanya: Izin bertanya ustadzah, bagaimana menghadapi suami yang tidak mau shalat? Tidak bermaksud untuk menceritakan aib hanya ingin mencari solusi, sudah diingatkan dengan cara yang baik sampai cara yang kurang baik tapi masih begitu-begitu saja, selalu didoakan juga ustadzah tapi belum ada perubahan, hati kadang sedih, dongkol dan terkadang malah ingin pisah, mohon solusinya ustazah, terimakasih.
Jawab: tetap doakan suami, tetap santun dan berlapang dada. Boleh minta orang lain yang disegani suami untuk menasehati, ikhlaskan sabar berlapang dada ya.

----------
TJ – G4

Assalamualaykum ustadzah, bagaimana baiknya menyikapi remaja-remaja jaman sekarang yang sangat mengidolakan artis-artis korea dan kaum-kaum kafir lainnya sementara lupa akan kisah-kisah para sahabat dan salafus shalih. Apakah fenomena mengenai hal ini yang berdampak buruk bagi akhlak dan emosi kejiwaan anak remaja? Bagaimana seharusnya mendidik anak sejak dini di zaman globalisasi seperti sekarang, agar tidak terpengaruh budaya kaum-kaum kafir? Afwan pertanyaannya beranak pinak.
Jawab: teruslah berbuat sebisa dan semampumu untuk merangkul mereka lewat tulisan nasyrul fikroh lewat sosmed dan lainnya, atau membersamai mereka dalam kegiatan bermanfaat, perkuat hubungan dengan mereka dengan kesantunan dan akhlakul karimah. Wallahu’alam.

Tanya: Assalamu'alaikum ustadzah, bagaimana cara kita memberi nasehat ke anak supaya tidak berpacaran yang tidak menyebabkan anak trauma dan minder. Bagaimana pun juga kita sebagai orangtua apalagi punya anak perempuan takut kalau si anak tidak mau menikah dan menyalahkan orangtuanya karena tidak di ijinkan bergaul dengan teman lain jenis. Mohon pencerahan ustadzah. Terimakasih sebelumnya.
Jawab: waalaikumussalam, untuk bunda yang perlu dipahamkan bahwa jodoh Allah yang mengatur, bukan kita, orangtua atau anak sendiri, sekarang yang dilakukan adalah memantaskan diri untuk mendapatkan suami yang diidamkan, untuk sampainya kepada siapa Allah yang akan menemukannya dan tentunya dengan cara-cara yang dibenarkan Allah. Wallahu alam.

Tanya: Assalamu'alaikym ustadzah, bagaimana menyikapi anak laki-laki yang sudah mulai menyukai lawan jenis dan suka chatting, jazakillahu khair
Jawab: Alhamdulillah anak kita normal ya bu bersyukurlah, hanya saja perlu kita mengarahkan dengan cara yang mereka inginkan, sama seperti jawaban bunda untuk yang lainnya komunikasikan dengannya, menyukai boleh saja akan tetapi berpacaran berkholwat walaupun didunia maya adalah kesia-siaan dan pahamkan ke mereka cinta yang bagaimana yang diridhoi.

----------
TJ – G6

Tanya: ustadzah terus terang saya sebagai orang tua lebih mengkhawatirkan pergaulan anak jaman now. Jika anak dikerasin sedikit pasti berani memberontak, namun jika mendidik terlalu halus pasti ngelunjak. Bagaimana sebaiknya saya sebagai orangtua ya ustadzah? Dititipkan ke pondok pesantren pun tidak menjadi jaminan anak menjadi benar jika bukan karena kemauan si anak masuk pesantren?
Satu lagi ya bunda, bagaimana mendidik anak laki-laki yang baru baligh, untuk pergaulannya?
Jawab: komunikasikan dari hati kehati dengarkan kemauan mereka sampaikan kemauan kita bekerjasama cari titik temu bangun komitmen bersama cari win-win solution beri kepercayaan, untuk lingkungan kita harus pilihkan tapi tentunya dengan komunikasi yang baik dengan anak. Wallahu alam

Tanya: Assalamu'alaykum ustadzah, ijin bertanya. Anak perempuan yang beranjak dewasa dibatasi pergaulannya dilingkungan rumah, karena menjaga dari pergaulan kids jaman now, tapi dilingkungan sekolah seperti biasa saja ustadzah, apa tidak berdampak bagi mereka kedepannya?
Jawab: waalaikumussalam. 3 kompomen pendidikan sekolah rumah dan masyarakat hendaknya selaras dan saling membantu dalam mendidik anak-anak kita kalau berat sebelah tentu akan terjadi ketimpangan. So pilihkan lingkungan yang baik yang dapat membantu kita mencapai tujuan yang kota ingin komunikasi dan selaraskan antara rumah dan sekolah, demikian juga dengan lingkungan

Tanya: Assalamu'alaykum ustadzah ijin bertanya. Anak perempuan yang beranjak dewasa dibatasi pergaulannya dilingkungan rumah, karena menjaga dari pergaulan kids jaman now, tapi dilingkungan sekolah seperti biasa saja ustadzah, apa tidak berdampak bagi mereka kedepannya?
Dan apakah sistem tarik ulur dalam mendidik anak mutlak di lakukan apakah kita mesti sedikit keras, karena jika cendrung lembut anak terkesan tidak menurut pendapat orangtua, terkadang anak di anggap teman jadi dia dapat bercerita apa saja tentang kesehariannya, pergaulannya, sekolahnya? Jazakillah khairan bunda
Jawab: Selagi mampu dikomunikasikan dengan baik kenapa mesti dengan kekerasan bangun komunikasi bangun komitmen selaraskan, dengarkan apa yang menjadi keinginan mereka sampaikan keinginan kita, dimananya kita dapat bekerjasama.

Tanya: Bagaimana mendidik anak laki-laki yang baru baligh, untuk pergaulannya?
Jawab: terbuka dan komunikasi, pilihkan lingkungan sekolahnya pilihkan teman-temannya. Biasakan untuk terbuka dan berkomunikasi apapun yang dialami anak, buat ia nyaman dengan kita.

=================

Kita tutup dengan membacakan hamdalah..
Alhamdulillahirabbil'aalamiin

Doa Kafaratul Majelis:

 سبحانك اللهم وبحمدك أشهد ان لا إله إلا أنت أستغفرك وآتوب إليك

Subhanakallahumma wabihamdika asyhadu allaailaaha illa anta astaghfiruka wa atuubu ilaika

“Maha Suci Engkau ya Allah, dengan memuji-Mu aku bersaksi bahwa tiada sesembahan yang haq disembah melainkan diri-Mu, aku memohon pengampunan-Mu dan bertaubat kepada-Mu.”

Wassalamu'alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh


================
Website: www.hambaAllah.net
FanPage : Kajian On line-Hamba Allah
FB : Kajian On Line-Hamba Allah
Twitter: @kajianonline_HA
IG: @hambaAllah_official



Thanks for reading & sharing Kajian On Line Hamba اللَّهِ SWT

Previous
« Prev Post

0 komentar:

Post a Comment

Ketik Materi yang anda cari !!