KECEWA

Posted by Kajian On Line Hamba اللَّهِ SWT on Friday, September 21, 2018


Hasil gambar untuk kecewa
Rekap Kajian Link Online HA Ummi G1 - G6
Hari/Tgl: Selasa, 24 Juli 2018 
Materi: KECEWA
Nara Sumber: Ustadz Ryanda
Waktu Kajian: bada isya- Selesai
Editor: Sapta
➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖






Kecewa.. ketika amal dan ibadah yg kita lakukan tiada nilainya di hadapan Allah..
Kecewa.. ketika sholat seumur hidup namun tetap saja neraka yg kita dapat..
Kecewa.. ketika sedekah dan sabar kita lakukan, namun azab datang menyiksa di alam kubur..

Diri ini tentu bertanya-tanya mengapa justru azab, neraka, dan tiada pahala yang justru di dapat, padahal semua dilakukan dengan ikhlas dan sangat baik. Ya semua itu karena daging yang tak bertulang yang bernama lidah, yang dengannya kita mengatakan apapun yang kita suka. Padahal ukurannya kecil, kadang tak di anggap. Tapi dengannya, justru amalan kita sia-sia. Gugur begitu saja. Tak ada yang bersisa.  Justru dilempar ke neraka
karenanya.

Ya lidah, kadang kita sepelekan, padahal perkataan kita ini adalah cerminan dari akhlak kita sebagai seorang muslim, saat kita mengatakan sesuatu yang menyakiti perasaan saudara kita, atau yang menyinggung perasaan saudara kita. Namun, saat saudara kita tersinggung, bukannya kita mengucapkan maaf kepadanya, tetapi...mengejeknya dengan sebutan "baper".
Hanya segini kepekaan kita terhadap saudara kita? Padahal ga sadar, bahwa lisan itu yang menjatuhkan kita ke neraka. Justru lisan itu yang mengazab kita di alam kubur.

Lalu apakah ini hanya sekedar ancaman dari kajian saya? Tentu tidak, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ الْعَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ مِنْ رِضْوَانِ اللَّهِ لَا يُلْقِي لَهَا بَالًا يَرْفَعُهُ اللَّهُ بِهَا دَرَجَاتٍ وَإِنَّ الْعَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ مِنْ سَخَطِ اللَّهِ لَا يُلْقِي لَهَا بَالًا يَهْوِي بِهَا فِي جَهَنَّمَ

“Sesungguhnya ada seorang hamba benar-benar berbicara dengan satu kalimat yang termasuk keridhaan Allah, dia tidak menganggapnya penting; dengan sebab satu kalimat itu Allah menaikkannya beberapa derajat. Dan sesungguhnya ada seorang hamba benar-benar berbicara dengan satu kalimat yang termasuk kemurkaan Allah, dia tidak menganggapnya penting; dengan sebab satu kalimat itu dia terjungkal di dalam neraka Jahannam”. [HR al-Bukhâri, no. 6478].

 Ada yang bersedia menerima tempat tinggal di neraka jahannam?

Tapi itu kata rasulullah, perkataan rasulullah tidak mungkin dusta, sudah PASTI akan terjadi. Maka yang suka menyakiti saudaranya dengan lisannya, baik secara langsung, ataupun dengan menghibahinya. Maka ana pribadi mengucapkan selamat kepadanya. Atas sedekah amalannya selama ini pahalanya sepanjang hidupnya, akhirnya gugur karena lisannya menyakiti saudaranya.
Lalu saudara yang disakitinya, walau amalannya sedikit, namun terselamatkan karena? Ya karena lisan kita yang dahulu menyakiti saudara kita, sampai banyak orang yang menzaliminya, ikut membullynya.

Dalam kitab riyadus sholihin, Ana pernah baca, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengkhawatirkan umatnya.

عَنْ سُفْيَانَ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ الثَّقَفِيِّ قَالَ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ حَدِّثْنِي بِأَمْرٍ أَعْتَصِمُ بِهِ قَالَ قُلْ رَبِّيَ اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقِمْ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا أَخْوَفُ مَا تَخَافُ عَلَيَّ فَأَخَذَ بِلِسَانِ نَفْسِهِ ثُمَّ قَالَ هَذَا

“Dari Sufyan bin ‘Abdullah ats-Tsaqafi, ia berkata: “Aku berkata, wahai Rasulullah, katakan kepadaku dengan satu perkara yang aku akan berpegang dengannya!” Beliau menjawab: “Katakanlah, ‘Rabbku adalah Allah’, lalu istiqomahlah”. Aku berkata: “Wahai Rasulullah, apakah yang paling anda khawatirkan atasku?”. Beliau memegang lidah beliau sendiri, lalu bersabda: “Ini”.

Untuk jaminan kita masuk surga cukup dengan LAAILLAHA 'ILLALLAH dan istiqomahlah. Namun, yang membuat umat rasulullah terjungkir dan yang paling di khawatirkan oleh beliau adalah lidah. Ya lidah ini. Dimana apapun bisa terucap melalui lisan ini.

Kadang obrolan kita memang seru, tapi sayang, suka tak terkendali, bahkan jatuh-jatuhnya jadi ghibah, dari ghibah timbul fitnah, dari fitnah semua tertuju kepada yang di fitnah. Padahal yang di fitnah tidak mengerti apa-apa. Tapi apa kita yang menggibahi mikir sampai kesana? Mikir kah kalau MUNGKIN yang di ghibahi memiliki masalah yang lebih besar di bandingkan fitnah itu sendiri? Terus karena ghibah yang tidak SENGAJA itu, malah makin menzalimi dia. Makin membuat dia tertekan.

Kalau gara-gara ghibah itu, sampai-sampai dia berbuat jahat atau bunuh diri, apakah kita mau tau? Atau mau bantu? Atau tanggung jawab juga kah?
Ya ngga lah. Pasti bilangnya "ah itu dasar dianya saja yang kurang iman,".
Atau "ah gatau deh soal dia"
Tp INGAT Allah tidak pernah tidur, Allah tahu apa-apa yang di lakukan hambaNya. Ya memang orang yang di ghibahi itu juga masuk neraka karena mengakhiri hidupnya dengan demikian.

Namun.........
Jangan salah jika kalian merasa pede dengan banyaknya amalan kita...
Justru ga sadar kita tiba-tiba keseret keneraka JAHANNAM..
Terkadang karena mudahnya lidah ini mengucapkan kalimat-kalimat..
Justru membuat kita makin terancam karenanya..

Makin jauh denganNya
Makin jauh dengan jannahNya
Makin dekat dengan azabNya
Makin dekat dengan NerakaNya
Makin terlena dengan dunia
Makin terlena dengan lisannya

Ini semua kadang ga sadar kita ucapakan, namun tidak ada satupun yang tak luput dari pengawasan Allah azza wa jalla. Maka coba muhasabbah pada diri masing-masing kita ini. Apakah pernah kita melakukan semua ini? Jika pernah pada siapa? Jika dia masih hidup maka minta maaf lah kepadanya, Bantulah masalahnya agar terselesaikan, bukannya jadi bahan omongan. Kalau tidak bisa menyelesakan jangan malah di jadiin topik perbincangan.
Bukan malah nambahin beban. Diam jauh lebih baik,tTanpa menjudge orang itu dengan kalimat-kalimat yang mnyakitkan atau justru membuat orang lain jadi ikut memusuhi orang tersebut.

Beginilah kita KEBANYAKAN, Ana pun merasa demikian saat asik-asik ngobrol, padahal sudah di coba untuk ngobrolin tentang fiqih, tapi ada saja yang mancing atau mengait-ngaitkan dengan seseorang .

Imam asy -Syafi’i pernah berkata: “Jika seseorang menghendaki berbicara, maka sebelum berbicara hendaklah ia berfikir; jika jelas nampak maslahatnya, maka ia berbicara; dan jika ragu-ragu, maka tidak berbicara sampai jelas maslahatnya”

Nah masalahnya, pernah tidak kita saat akan mengetik/bicara itu mikir dulu jauh sebab dan akibatnya dari apa yang kita ucapkan atau tuliskan atau ketikkan ini? Barang siapa banyak pembicaraannya, banyak pula tergelincirnya. Dan barang siapa banyak tergelincirnya, banyak pula dosanya. Dan barang siapa banyak dosa-dosanya, neraka lebih pantas baginya

Umur bin alkhattab pernah mengatakan ini.. Diperkuat lagi Rasulallah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “kebanyakan kesalahan anak Adam ialah pada lidahnya”

Nah tuh masih mengelak???
Maka sebelum terlambat, perbaiki semampu kita, sebelum semuanya musnah begitu saja, sirna begitu saja. Akhirnya semua tenggelam kedalam neraka beserta amalan-amalan kita dan tubuh kita karena lisan kita.

Yaaa.. seginilah segelintir butiran tulisan saya. Semoga bisa di ambil hikmahnya. Mungkin selanjutnya bisa di kembangkan dengan pertanyaan.
Wallahu alam bishowab

Pesan: “Janganlah kalian menyakiti siapapun, jika suatu saat nanti kalian tak mau disakiti

Sekian

➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖

TANYA - JAWAB


TJ - G1

T: Ijin bertanya ustadz. Jika tulisan atau perkataan kita dibantah seseorang sampai pakai dalil segala, sedangkan jika kita tahu pun tidak akan membantah daripada terjadi pertengkaran. Tapi jika sampai dalil yang dia keluarkan salah apakah Kita masih wajib menjelaskan? sedangkan pasti kondisi emosional si pembantah pasti tidak mau kalah? Jazakillah khayir ustadz
J: Kita tahu bahwa debat itu hanya mendatangkan kemudharatan yang lebih besar. Bagi orang yang berdebat menang kalah sama saja sia-sia. Menang menjadi arang. Kalah menjadi abu. Lalu apa artinya perdebatan tersebut? Apa lagi sudah bahas-bahas dalil. Dalil yang dari jaman dahulu sudah ada. Buat apa di ributkan. Contoh yang sering diributkan. Orang yang sudah sholat di mesjid. Ada yang qunut. Terus di komen ga sunnah.. bidah. Terus orang yang berqunut bilang punya dalil. Dari imam syafii. Dan yang bilang qunut bidah juga punya dalil. Lalu mana yang benar mana yang salah?
Ga ada yang salah. Selama semua itu berdalil jelas dan bisa di pertanggungjawabkan maka silahkan amalkan. Selama tidak menyalahi aqidah kita sebagai seorang muslim. Buat apa kita ribut dengan qunut dan yang ga qunut. Sedangkan kita sadar banyak diluar sana saudara kita yang masih belum sholat di mesjid.

Lalu apakah kita mau di bentur-benturkan terus dengan persepsi-persepsi jaman sekarang ini? Semua itu harusnya kita bisa lebih luwes dalam menyikapi ikhtilafiyah dalam ibadah sunnah. Jalin lah persahabatn yang baik. Kita terlalu sibuk meributkan perbedaan kita, padahal diantara dia dan diri kita lebih banyak persamaaan yang lebih mempersatukan. Hindari debat, jangan di lawan. Senyumin saja. Yang penting apa yang kita lakukan tidak menjerumuskan kita ke neraka.

Allah SWT berfirman:

اِنَّمَا الْمُؤْمِنُوْنَ اِخْوَةٌ فَاَصْلِحُوْا بَيْنَ اَخَوَيْكُمْ وَاتَّقُوا اللّٰهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُوْنَ
innamal-mu`minuuna ikhwatun fa ashlihuu baina akhowaikum wattaqulloha la'allakum tur-hamuun

“Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara, karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu (yang berselisih) dan bertakwalah kepada Allah agar kamu mendapat rahmat."(QS. Al-Hujurat 49: Ayat 10)
* Via Al-Qur'an Indonesia http://quran-id.com
Wallahualam bishowab


T: Mohon ijin bertanya ustadz, sudah setahun saya dan anak-anak sakit hati dengan ucapan kakak ipar karena fitnahan kejinya sampai rumah tangga saya hampir berantakan dan sampai saat ini orangnya tidak merasa berdosa dengan akibat lisannya, mohon petunjuknya ustadz.
J: Innalillahi wa innaillahi rojiun. Semoga kaka ipar bunda Allah berikan hidayah agar terselamatkan dari api neraka atas perbuatannya tersebut. Menurut saya, Bunda masih sanggup untuk bersabar, Allah menguji hambaNya untuk melihat ukuran keimanan hambaNya, untuk menjadikan kita lebih baik lagi. Tak mengapa selama kita bersikap baik, maka percaya bahwa Allah akan menolong kita dari arah yang tak di sangka-sangka. Maka jangan khawatir. Anggap sebagai penggugur dosa setiap beliau menyakiti bunda dan keluarga. Baca surah al baqarah ayat 286. Semua pasti ada akhirnya. Tergantung sejauh mana kita bisa bersabar


=======
TJ - G2

T: Ustadz, bukankah mengolok lewat tulisan dosanya lebih berat daripada lisan ya? Kalau mentahzir/memfitnah lewat medsos yang menulis dapat dosa bertahun-tahun? Naudzubillahi min dzalik
J: Jaman dulu tidak seperti jaman now bunda, jaman dulu itu tidak ada ngetik-ngetik kaya kita sekarang gini. Orang banyak berucap kalimat yang menyakitin hati. Jadi di samakan hukumnya. Menulis dengan berbicara. Dosa menyakiti hati seorang muslim itu termasuk dosa yang besar. Lebih besar dari dosa riba.
Dan Allah SWT berfirman:

يٰۤاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِّنْ قَوْمٍ عَسٰۤى اَنْ يَّكُوْنُوْا خَيْرًا مِّنْهُمْ وَلَا نِسَآءٌ مِّنْ نِّسَآءٍ عَسٰۤى اَنْ يَّكُنَّ خَيْرًا مِّنْهُنَّ ۚ  وَلَا تَلْمِزُوْۤا اَنْفُسَكُمْ وَلَا تَنَابَزُوْا بِالْاَلْقَابِ ۗ  بِئْسَ الِاسْمُ الْفُسُوْقُ بَعْدَ الْاِيْمَانِ  ۚ  وَمَنْ لَّمْ يَتُبْ فَاُولٰٓئِكَ هُمُ الظّٰلِمُوْنَ
yaaa ayyuhallaziina aamanuu laa yaskhor qoumum ming qoumin 'asaaa ay yakuunuu khoirom min-hum wa laa nisaaa`um min nisaaa`in 'asaaa ay yakunna khoirom min-hunn, wa laa talmizuuu anfusakum wa laa tanaabazuu bil-alqoob, bi`sa lismul-fusuuqu ba'dal-iimaan, wa mal lam yatub fa ulaaa`ika humuzh-zhoolimuun

"Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain, (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olokkan) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olok), dan jangan pula perempuan-perempuan (mengolok-olokkan) perempuan lain, (karena) boleh jadi perempuan (yang diolok-olokkan) lebih baik dari perempuan (yang mengolok-olok). Janganlah kamu saling mencela satu sama lain, dan janganlah saling memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk (fasik) setelah beriman. Dan barang siapa tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim." (QS. Al-Hujurat 49: Ayat 11)
* Via Al-Qur'an Indonesia http://quran-id.com
Wallahualam bishowab


T: Bismillah. Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh ustadz. Afwan, apakah diperbolehkan kita menghindari seseorang yang sering menyakiti kita terutama dari lisannya demi menjaga hati agar tidak timbul madharat yang lebih parah lagi. Dalam artian disini, kita tidak ada niat until memutus silaturahim. Jazakallahu khoir atas jawabannya.
J: Wa'alaykumussalam warrahmatullahi wabbarakatuh.
Kalau masih bisa bertahan jangan di tinggalkan bunda, bersabarlah sejenak. Yakinlah Allah akan mengetuk pintu hatinya, melembutkan hatinya selama masih ada keimanan di dlm hatinya. Namun jika dirasa kalau di biarkan kita dekat dengannya. Malah mendatangkan banyak fitnah dan mudhorat, maka boleh di jaga jaraknya, bukan benar-benar dihindari, tapi di jaga saja, jangan terlalu sering berkumpul dengan beliau, perbanyak doa untuk beliau, agar bisa mnyelamatkannya dari bahaya lisan yang menyeret banyak wanita ke neraka. Wallahualam bishowab


T: Bila ada yang menghasut orangtua kita sehingga kemudian menjadi benci kepada kita atas kesalahan yang tidak kita lakukan apakah kita menjadi anak durhaka? Apakah orang tua kita tetap berdosa, padahal dia menyakiti hati anaknya karena hasutan orang lain, bukan atas kehendaknya?
J:  Pertanyaannya, apa yang kita lakukan selama ini kepada orangtua kita? Sehingga orangtua kita lebih percaya perkataan orang lain dibanding perkataan kita sebagai anaknya? ini perlu di luruskan. Durhaka saat kita menzalimi orangtua kita sendiri.
Orangtua tidak tertanggung dosa. Justru kitalah yang bermasalah. Kenapa orangtua kita bisa-bisanya dihasut orang lain? Bukan kah seharusnya orangtua kita percaya dengan kita sebagai anak? Kita harus bercermin dengan diri kita. Mungkin ada dosa yang terlupakan ada kesalahan dimasa lalu, atau mungkin selama kita hidup. Kita kurang dekat dengan orangtua kita. Karena sibuk dengan diri sndiri, sibuk mengurusi ibadah sendiri, sehingga melupakan amanah dalam al quran kepada kita.

Allah SWT berfirman:

يٰۤاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا قُوْۤا اَنْفُسَكُمْ وَاَهْلِيْكُمْ  نَارًا وَّقُوْدُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلٰٓئِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ  لَّا يَعْصُوْنَ اللّٰهَ مَاۤ اَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُوْنَ مَا يُؤْمَرُوْنَ
yaaa ayyuhallaziina aamanuu quuu anfusakum wa ahliikum naarow wa quuduhan-naasu wal-hijaarotu 'alaihaa malaaa`ikatun ghilaazhun syidaadul laa ya'shuunalloha maaa amarohum wa yaf'aluuna maa yu`maruun

"Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, dan keras, yang tidak durhaka kepada Allah terhadap apa yang Dia perintahkan kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan." (QS. At-Tahrim 66: Ayat 6)
* Via Al-Qur'an Indonesia http://quran-id.com
Wallahualam bishowab


T: Ustadz maaf, apakah saya berdosa, jika di mintain tolong untuk mencarikan tempat tinggal buat istri gelap tapi sah secara agama, cuma tidak di ketahui istri pertama, maaf mungkin pertanyaan di luar tema.
J: Dosa sih insya Allah tidak, tapi mengapa bunda sampai urusi urusan beliau? Apa lagi beliau ikhwan kan? Tidak usah bunda hindari saja. Nanti malah bunda ikut-ikut terkena fitnah. Memang poligami boleh tanpa sepengetahun istri pertama. Tapi bukan kah itu tidak baik dilakukan? Bukan kah pernikahan itu akan semakin baik terjalin karena komunikasi? Jadi kita ini mengincar nikah untuk memenuhi kewajiban atau sekedar mengejar-ngejar sunnah tapi hal wajib sebagai suaminya terabaikan?


T: Assalamualaikum ustadz. Maaf mau tanya. Jika kita pernah menyakiti orang lain dengan ucapan kita namun beliaunya sudah meninggal, bagaimana cara menebus dosanya ustadz?
J: Wa'alaykumussalam warrahmatullahi wabbarakatuh bunda, temui keluarganya, minta maaf kepada anak-anaknya, jika keluarganya kekurangan sesuatu penuhilah, bantu semampu kita. Kalau kita ga mampu
Mohon ampunan kepada Allah. Wallahualam bishowab

=======
TJ - G6

T: Mohon izin bertanya ustadz, kadang sudah berusaha meminimalkan perkataan, tapi tetep saja terbersit dan terucap kata yang mungkin membuat seseorang tersinggung sudah berusaha tidak baper, tapi kadang hati terluka juga dengan kata-kata yang terucap dari seseorang, bagaimana sebaiknya?
J: Ini dia kebnyakan kita sering bawel. Akhirnya lupa sama rem. Kalau seperti ini kita harus treatment diri kita sendiri, perbanyak istigfar berdzikir, agar hati kita bersih lisan kita terjaga dari kalimat-kalimat yang tidak baik, jgn lupa pula. Perbanyak berinteraksi dengan al quran. Tidak hanya sekedar baca. Tapi pahami isinya, baca perlahan. Dan jadikan diri sebgai akhlak seorang muslim yang sebenarnya. Sebagaimana Rasulullah mencontohkan kepada kita untuk menjunjung tinggi akhlak. Wallahualam bishowab.


T: Bagaimana menebus kesalahan kita pada orang yang kita tidak kenal? Misal kita cuma ikut mendengarkan ghibah teman-teman tentang seseorang yang sebenarnya tidak kita kenal tapi suka liat tiap hari. Eh kalau mendengarkan sama dengan mengghibah ga ya?
J: Mendengarkan, ngmongin, dosanya sama saja, bertaubat kepada Allah, minta maaf kepada orang tersebut. Hindari jika teman kita suka membicarakan orang lain. Alangkah baiknya kita alihkan pembicaraannya jika orang tersebut melakukan hal ghibah tersebut.
Apapun bentuhknya, ghibah itu kalau beritanya benar kita dosa. Kalau ceritanya tidak benar juga dosa. Jadi apa faedahnya untuk berghibah? Lebih baik kita bicarakan hal-hal yang baik. Bermanfaat buat kita semua. Wallahualam bishowab


T: Izin mau tanya Ustadz. Sudah berusaha menjaga tidak emosi, sudah Istiqhfar, waktu saya dimarahin dan difitnah oleh Saudara tertua yang itu bukan kesalahan saya, dan fitnah terhadap kami, lalu saya mengghibahnya dengan Suami, karena segala apapun yang saya rasakan apabila saya sakit hati saya selalu menceritakan kepada suami saya. Itu bagaimana Ustadz? Saya sakit hati dengan orang itu, lalu saya mengghibahnya.
J: Pertama kita harus paham. Ghibah itu apa sih?

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « أَتَدْرُونَ مَا الْغِيبَةُ ». قَالُوا اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ. قَالَ « ذِكْرُكَ أَخَاكَ بِمَا يَكْرَهُ ». قِيلَ أَفَرَأَيْتَ إِنْ كَانَ فِى أَخِى مَا أَقُولُ قَالَ « إِنْ كَانَ فِيهِ مَا تَقُولُ فَقَدِ اغْتَبْتَهُ وَإِنْ لَمْ يَكُنْ فِيهِ فَقَدْ بَهَتَّهُ »

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tahukah engkau apa itu ghibah?” Mereka menjawab, “Allah dan Rasul-Nya yang lebih tahu.” Ia berkata, “Engkau menyebutkan kejelekan saudaramu yang ia tidak suka untuk didengarkan orang lain.” Beliau ditanya, “Bagaimana jika yang disebutkan sesuai kenyataan?” Jawab Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Jika sesuai kenyataan berarti engkau telah mengghibahnya. Jika tidak sesuai, berarti engkau telah memfitnahnya.” (HR. Muslim no. 2589).

Jika dalam kasus bunda ini. Bunda tidak termasuk menghiibahi, tapi bunda lagi curhat. Lagi menumpahkan kesedihannya karena tidak mau melawan juga. Bagus cerita ke suami, ngobrol sama suami, agar bisa lebih tenang, agar bisa diselesaikan masalahnya dengan cara yang terbaik. Ghibah disebut ghibah. Saat kita menceritakan keburukan orang lain di keramaian. Atau lagi kumpul-kumpul ngomongin orang yang tidak ada. Cuma untuk bikin orang lain ikut benci dengan dia atau cuma sekedar obrolan kosong yang tidak bermanfaat. Kalau ngomonginnya untuk mencari solusi biar dia berubah maka tak mengapa. Yang masalah ngomongin dia untuk kepentingan kita pribadi. Hindari. Jauhi. Wallahualam bishowab


T: Suka ada ya orang yang memang wataknya dholim jadi pembicaraan orang lain karena suka menyakiti itu, jadi tiap hari itu, yang jadi tema pembicaraan semua pihak adalah orang itu, nah itu yang jadi susah, orang itu bikin dosa sama semua orang tapi jadi berkurang juga dosanya sama orang-orang yang dia sakiti ya?
J: Secara logika, kalau orang itu baik, tidak mungkin dia akan membicarakan kejahatan orang lain, kalau dia paham, dia tidak akan bicarain orang lain ikutin nafsu emosinya untuk membicarakan orang tersebut, padahal dia tahu itu ga akan mengubah apa-apa, dia tahu kalau ngeghibahin itu tidak akan buat dia jadi baik. Tapi masih juga di lakukan? Bukankah jadi terlihat jelas siapa yang terang-terangan jahat, dan siapa yang jahatnya sembunyi-sembunyi? Jadi jatuhnya sama saja. Si fulan melakukan kejahatan membuat fulan yang lain menghibahinya, yang menghibah juga jahat malah hanya diomongin saja. Tidak di tegur atau nasehati. Atau minimal diam. Kalau tidak suka ya keluar dari sana cari tempat yang baru. Jangan kita sampai gadai iman kita karena hawa nafsu kita ingin marah dan emosi. Wallahualam bishowab


T: Assalamualaikum Ustadz. Kalau orangtua kita suka bicara "pedas". Tau sih maksudnya baik. Tapi tetep sakit hati. Apakah orangtua kita juga dosa? Kan jarang orangtua minta maaf sama anaknya. Sebaiknya gimana ya ustadz?
J: Wa'alaykumussalam warrahmatullahi wabbarakatuh .
Mau sampai kapan pun ga ada org tua dosa ama anak, pedas bukan berarti benci. Itu caranya beliau melindungi dan sayang kepada anaknya, kitanya saja mungkin yang terlalu perasa, kita nuntut orangtua kita harus ngertiin kita, selama ini semenjak, kita dalam kandungan, sampai kita umur 5 tahun, orangtua kita paksa mengerti maunya kita, mau orangtua tersebut sibuk atau kesakitan, kita tidak mikirin, yang pnting apa yang kita mau terpenuhi, sedangkan giliran kita dewasa. Orangtua nasehati agar kita paham, kita malah tidak mau mengerti dengan keadaan orangtua kita, padahal hutang kita sangat banyak ke mereka, tidak akan mampu kita bayar walau bakti setahun dua tahun penuh. Mau sampai kapan pun. Mereka adalah orangtua kita yang harus kita muliakan. Tidak berkata kasar. Tetap beramah tamah kepada mereka.

Allah Ta’ala berfirman:

وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا ۚ إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِنْدَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلَاهُمَا فَلَا تَقُلْ لَهُمَا أُفٍّ وَلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَهُمَا قَوْلًا كَرِيمًا وَاخْفِضْ لَهُمَا جَنَاحَ الذُّلِّ مِنَ الرَّحْمَةِ وَقُلْ رَبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا

“Dan Rabb-mu telah memerintahkan agar kamu jangan beribadah melainkan hanya kepada-Nya dan hendaklah berbuat baik kepada ibu-bapak. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah engkau membentak keduanya, dan ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang baik. Dan RENDAHKANLAH dirimu terhadap keduanya dengan penuh kasih sayang dan ucapkanlah, ‘Ya Rabb-ku, sayangilah keduanya sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku pada waktu kecil.” [Al-Israa’ : 23-24]
Wallahualam bishowab


=======
TJ - G5

T: Bagaimana jika kita rajin sholat, baca qur'an, rajin sholat dhuha dan tahajud tapi terkadang tanpa sengaja atau tidak membicarakan seseorang/ ghibah apakah pahalanya bisa kita peroleh?
J: Ada hadist shahih yang menyampaikan perihal ini, saya lupa sanad hadistnya. Tapi ini shahih. Nanti saya carikan siapa yang meriwayatkannya

عن أبي هريرة رضي الله عنه قَالَ: قِيْلَ لِلنَّبِيِّ صلى الله عليه و سلم يَا رَسُوْلَ اللهِ إِنَّ فُلاَنَةً تَقُوْمُ اللَّيْلَ وَ تَصُوْمُ النَّهَارَ وَ تَفْعَلُ وَ تَصَدَّقُ وَ تُؤْذِي جِيْرَانَهَا بِلِسَانِهَا ؟ فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه و سلم: لاَ خَيْرَ فِيْهَا هِيَ مِنْ أَهْلِ النَّارِ قَالُوْا: وَ فُلاَنَةً تُصَلِّى اْلمَكْتُوْبَةَ وَ تَصَدَّقُ بِأَثْوَارٍ وَ لاَ تُؤْذِي أَحَدًا؟ فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه و سلم: هِيَ مِنْ أَهْلِ اْلجَنَّةِ

Dari Abu Hurairah radliyallahu anhu berkata, pernah ditanyakan kepada Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam, “Wahai Rosulullah, sesungguhnya si Fulanah suka sholat malam, shoum di siang hari, mengerjakan (berbagai kebaikan) dan bersedekah, hanya saja ia suka mengganggu para tetangganya dengan lisannya?”. Bersabda Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam, “Tiada kebaikan padanya, dia termasuk penghuni neraka”. Mereka bertanya lagi, “Sesungguhnya si Fulanah (yang lain) mengerjakan (hanya) sholat wajib dan bersedekah dengan sepotong keju, namun tidak pernah mengganggu seorangpun?”. Bersabda Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam, “Dia termasuk penghuni surga”. [HR al-Bukhoriy di dalam al-Adab al-Mufrod: 119, Ahmad: II/ 440, al-Hakim: 7384 dan Ibnu Hibban. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: shahih, lihat Shahiih al-Adab al-Mufrad: 88 dan Silsilah al-Ahaadiits ash-Shahiihah: 190].

Rasulullah shalallahu allaihi wassalam pernah ditanya seorang sahabat.
Ya rasulullah ada seorang wanita yang rajin ibadah, rajin puasa, rajin bersedekah, namun lisannya tidak terjaga dari menyakiti tetangganya. Dimanakah tempat wanita itu akan berakhir? Rasulullah menjawab singkat "fii naar (di neraka)". Lalu sahabat itu bertanya kembali, "ya rasulullah bagaimana dengan wanita yang sholatnya biasa-biasa saja, puasanya pun tidak ada yang istimewa, sedekahnya pun tidak seberapa, tapi lisannya terjaga tidak pernah menyakiti tetangganya, dimankah dia akan berakhir?" Rasulullah menjawab "fii jannah (di surga)"

Dari hadist ini bukankah jelas bahwasanya hal yang sia-sia kalau hubungan kita kepada Allah baik, tapi lisan kita sikap kita jahat kepada tetangga kita, sekalipun tetangga kita itu orang kafir. Ini saja pada tetangga, bagaimana dengan orang lain yang kita ghibahi? Sudah jelas bahwa ghibah itu mengikis iman mengikis pahala. Maka hindari jauhi jangan sekali-kali dekati. Atau kau tak akan pernah kembali. Wallahualam bishowab


T: Assalamualaikum. Mau tanya, bagaimana jika kita berkata tidak bermaksud menyakiti orang tersebut tapi ternyata orang tersebut tersinggung. Karena ada tipe orang yang sensitif. Syukron
J:  Wa'alaykumussalam warrahmatullahi wabbarakatuh. Kita menasehati dengan cara yang baik, jikalau tersinggung, kita jelaskan maksud kebaikan kita. Kalau masih begitu saja. Cukup sampai doakan saja. Biar Allah yang atur terbaik buat dia agar tersadar hatinya


=======
TJ - G3

T: Ijin bertanya ustadz. Jika kita curhat kepada guru (seperti dalam kajian ini) tentang keluarga atau kerabat atau sahabat, dan terkadang kita sebutkan ada kejelekannya, apakah itu termasuk ghibah? Mohon pencerahannya ustadz.
J: Ini sudah terjawab ya bunda, sama seperti diatas. Kalau tujuannya buat nyari solusi. Tidak ada masalah.





•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•

Kita tutup dengan membacakan hamdalah..
Alhamdulillahirabbil'aalamiin

Doa Kafaratul Majelis:

 سبحانك اللهم وبحمدك أشهد ان لا إله إلا أنت أستغفرك وآتوب إليك

Subhanakallahumma wabihamdika asyhadu allaailaaha illa anta astaghfiruka wa atuubu ilaika

“Maha Suci Engkau ya Allah, dengan memuji-Mu aku bersaksi bahwa tiada sesembahan yang haq disembah melainkan diri-Mu, aku memohon pengampunan-Mu dan bertaubat kepada-Mu.”

Wassalamu'alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh


================
Website: www.hambaAllah.net
FanPage: Kajian On line-Hamba Allah
FB: Kajian On Line - Hamba Allah
Twitter: @kajianonline_HA
IG: @hambaAllah_official


Thanks for reading & sharing Kajian On Line Hamba اللَّهِ SWT

Previous
« Prev Post

0 komentar:

Post a Comment

Ketik Materi yang anda cari !!