Home » , , » Tafakur ku Mengantarkan Syukur ku

Tafakur ku Mengantarkan Syukur ku

Posted by Kajian On Line Hamba اللَّهِ SWT on Friday, September 28, 2018


Hasil gambar untuk alam
Rekap Kajian Online HA Ummi G2 & G3
Hari/ Tgl: Senin, 6 & 13 Agustus 2018 
Materi: Tafakur ku Mengantarkan Syukur ku
Nara Sumber: Ustadzah Yeni
Waktu Kajian: 19.30-selesai
Editor: Sapta
•••••••••••••••••••••



Tafakur ku Mengantar Syukur ku


Sahabat Rahimahullah....

Saat pagi telah beranjak. Tampak asyik dua orang di sebuah musholla berbincang.
Seorang santri (S)
dan gurunya (U) .

S: Ustadz saya pernah membaca hadits begini , "Rasulullah saw. pernah bersabda, “Tafakkuruu fii khalqiLlahi wa laa tafakkaruu fiiLlahi, berpikirlah kamu tentang ciptaan Allah, dan janganlah kamu berpikir tentang Dzat Allah. (Hadits yang diriwayatkan oleh Abu Nu’aim dari Ibnu Abbas  hasan.)
Apa maksud dari hadits tersebut?

U: Guru sambil membenarkan letak kopyahnya berkata: "Hadits itu berbicara tentang salah satu ciri khas manusia yang membedakanya dari makhluk yang lain, bahwa manusia adalah makhluk yang berpikir."
Dengan kemampuan itulah manusia bisa meraih berbagai kemajuan, kemanfaatan, dan kebaikan. Namun, sejarah juga mencatat bahwa tidak sedikit manusia mengalami kesesatan dan kebinasaan akibat berpikir.

S : maaf Guru, apakah termasuk bencana yang sering melanda negeri kita? Itu juga akibat cara berpikir manusia?

U : (tersenyum) betul. Oleh karenanya Rasulullah saw. menghendaki kita, kaum muslimin, untuk punya budaya tafakur yang akan bisa mengantarkan kita kepada kemajuan, kemanfaatan, kebaikan, ketaatan, keimanan, dan ketundukan kepada Allah Ta’ala.

S : Bagaimana tafakur itu guru ?

U : Agar tafakur itu  sesuai tujuannya Rasulullah saw. memberi rambu-rambu agar kita tidak salah dalam bertafakur. Rasulullah saw. memerintahkan kita untuk bertafakur mengenai makhluk ciptaan Allah swt. Beliau melarang kita berpikir tentang Dzat Allah karena kita tidak akan mampu menjangkaunya, dan berpikir tentang Dzat Alllah bisa mengantarkan kita kepada kesesatan dan kebinasaan.

S : (manggut-manggut tampak berpikir keras).

Sahabat Rahimahullah....
Mengapa manusia perlu bertafakur?

FADHAAILUT TAFAKKURI (KEUTAMAAN TAFAKUR)

Setidaknya ada empat keutamaan tafakur, yaitu:

1. Allah memuji orang-orang yang senantiasa bertafakur dan berdzikir dalam setiap situasi dan kondisi dengan menceritakannya secara khusus dalam Al-Qur’an di surat Ali Imran ayat 190-191.

Sa’id Hawa dalam Al-Mustakhlash Fi Tazkiyatil Anfus halaman 93 berkata, “Dari ayat ini kita memahami bahwa kemampuan akal tidak akan terwujud kecuali dengan perpaduan antara dzikir dan pikir pada diri manusia. Apabila kita mengetahui bahwa kesempurnaan akal berarti kesempurnaan seorang manusia, maka kita bisa memahami peran penting dzikir dan pikir dalam menyucikan jiwa manusia. Oleh karena itu, para ahli suluk yang berupaya mendekatkan diri kepada Allah senantiasa memadukan antara dzikir dan pikir di awal perjalanannya menuju Allah. Sebagai contoh, di saat bertafakur tentang berbagai hal, mereka mengiringinya dengan tasbih, tahmid, takbir, dan tahlil.”

2. Tafakur termasuk amal yang terbaik dan bisa mengungguli ibadah. Ada atsar yang diriwayatkan oleh Ibnu Hibban berbunyi, Berpikir sesaat lebih utama daripada ibadah setahun.
Kenapa begitu? Karena, berpikir bisa memberi manfaat-manfaat yang tidak bisa dihasilkan oleh suatu ibadah yang dilakukan selama setahun.
3. Tafakur bisa mengantarkan kita kepada kemuliaan dunia dan akhirat. Ka’ab bin Malik berkata, Barangsiapa menghendaki kemuliaan akhirat, maka hendaknyalah ia memperbanyak tafakur

4. Tafakur adalah pangkal segala kebaikan. Ibnul Qayyim berkata,
Berpikir akan membuahkan pengetahuan, pengetahuan akan melahirkan perubahan keadaan yang terjadi pada hati, perubahan keadaan hati akan melahirkan kehendak, kehendak akan melahirkan amal perbuatan.

Sahabat Rahimahullah.....


NATAAIJUT TAFAKKURI (BUAH TAFAKUR)
1. Kita akan mengetahui hikmah dan tujuan penciptaan semua makhluk di langit dan bumi sehingga menambah keimanan dan rasa syukur.
2. Kita bisa membedakan mana yang bermanfaat sehingga bersemangat untuk meraihnya, mana yang berbahaya hingga berusaha mengindarinya.
3. Kita bisa memiliki keyakinan yang kuat mengenai sesuatu, dan menghindari diri dari sikap ikut-ikutan terhadap opini yang berkembang.

Katakanlah: “Sesungguhnya aku hendak memperingatkan kepadamu suatu hal saja, yaitu supaya kamu menghadap Allah (dengan ikhlas) berdua-dua atau sendiri-sendiri; kemudian kamu pikirkan (tentang Muhammad) tidak ada penyakit gila sedikitpun pada kawanmu itu. Dia tidak lain hanyalah pemberi peringatan bagi kamu sebelum (menghadapi) azab yang keras. (Saba: 46)
4. Kita bisa memperhatikan hak-hak diri kita untuk mendapatkan kebaikan, sehingga tidak hanya berusaha memperbaiki orang lain dan lupa pada diri sendiri.
Mengapa kamu suruh orang lain (mengerjakan) kebaktian, sedang kamu melupakan diri (kewajiban) mu sendiri, padahal kamu membaca Al-Kitab (Taurat)? Maka tidaklah kamu berpikir? (Al-Baqarah: 44)
5. Kita bisa memahami bahwa akhirat itu lebih utama, dan dunia hanya sarana untuk membangun kebahagiaan akhirat.
(Yusuf: 109); (Al-Qashash: 60). 
6. Kita bisa menghindari diri dari kebinasaan yang pernah menimpa orang-orang sebelum kita.
(QS. Muhammad: 10)
7. Bisa menghindari diri dari siksa neraka karena bisa memahami dan mengamalkan ajaran agama dan meninggalkan kemaksiatan dan dosa-dosa, terutama syirik.
Lihat (Al-Mulk: 10); (Al-Anbiyaa’ : 67)


DHAWABITHUT TAFAKKURI (BATASAN TAFAKUR)

Imam Al-Ghazali berkata, “Ketahuilah bahwa semua yang ada di alam semesta, selain Allah, adalah ciptaan dan karya Allah Ta’ala. Setiap atom dan partikel, apapun memiliki keajaiban dan keunikan yang menunjukkan kebijaksanaan, kekuasaan, dan keagungan Allah Ta’ala. Mendata semuanya adalah sesuatu yang mustahil, karena seandainya lautan adalah tinta untuk menuliskan semua itu niscaya akan habis sebelum menuliskan sepersepuluhnya saja dari semua ciptaan dan karya-Nya.”
Jadi, tafakur adalah ibadah yang bebas dan terlepas dari ikatan segala sesuatu kecuali satu ikatan saja, yaitu tafakur mengenai Dzat Allah.

Saat bertafakur sebenarnya seorang muslim sedang berusaha meningkatkan ketaatan, menghentikan kemaksiatan, menghancurkan sifat-sifat destruktif dan menumbuhkembangkan sifat-sifat konstruktif yang ada dalam dirinya. Berhasil tidaknya hal itu dicapai sangat dipengaruhi banyak faktor, di antaranya:

- Kedalaman ilmu
- Konsentrasi pikiran
- Kondiri emosional dan rasional
- Faktor lingkungan
- Tingkat pengetahuan tentang objek tafakur
- Teladan dan pergaulan
- Esensi sesuatu
- Faktor kebiasaan

Sahabat Rahimahullah...

MENGAPA KITA DILARANG TAFAKKUR MENGENAI DZAT ALLAH SWT

Setidaknya ada dua alasan, yaitu:

1. Kita tidak akan sanggup menjangkau kadar keagunganNya.

Allah swt. tidak terikat ruang dan waktu. Abdullah bin Mas’ud berkata, “Bagi Tuhanmu tidak ada malam, tidak pula siang. Cahaya seluruh langit dan bumi berasal dari cahaya wajah-Nya, dan Dia-lah cahaya langit dan bumi. Pada hari kiamat, ketika Allah datang untuk memberikan keputusan bumi akan tenang oleh cahayaNya. (Asy-syuuraa: 11)

Ibnu Abbas berkata, “Dzat Allah terhalang oleh tirai sifat-sifat-Nya, dan sifat-sifat-Nya terhalang oleh tirai karya-karya-Nya. Bagaimana kamu bisa membayangkan keindahan Dzat yang ditutupi dengan sifat-sifat kesempurnaan dan diselimunti oleh sifat-sifat keagungan dan kebesaran.”

2. Kita akan terjerumus dalam kesesatan dan kebinasan.

Memberlakukan sifat Sang Khalik terhadap makhluk ini adalah sikap ghulluw (berlebihan). Itulah yang terjadi di kalangan kaum Rafidhah terhadap Ali r.a. Sebaliknya, memberlakukan sifat makhluk terhadap Sang Khalik ini sikap taqshir (merendahkan). Perbuatan ini dilakukan oleh aliran sesat musyabihhah yang mengatakan Allah memiliki wajah yang sama dengan makhluk, kaki yang sama dengan kaki makhluk, dan seterusnya. Semoga kita bisa terselamatkan dari kesesatan yang seperti ini.

 Amiin


•••••••••
TANYA JAWAB


T: Ustadzah, tafakur apakah butuh ilmu, atau cuma dengan akal? seperti apa contoh taffakur yang setelah itu membawa perubahan ke dalam diri seseorang?
J: Bismillah saya coba jawab yaa ukhti sholihah. Tafakur tidak perlu ilmu khusus. Tafakur itu perenungan atas segala karunia yang Allah berikan agar hadir pada diri kita menjadi hamba-hamba yang bersyukur. Contohnya pada saat kita berjalan-jalan ke laut, pantai, atau ke panti jompo, rumah sakit, itu wasilah untuk kita tafakur merenungi diri atas karunia Allah


T: Assalammualaikum ustadzah. Maafkan saya yang fakir ilmu ingin bertanya, pengertian tafakur itu apa?
J: Tafakur itu perenungan mbak, bisa dengan melihat apa yang ada disekitar kita dan lain-lain


T: Apakah merenungi perjalanan hidup diri, tentang dosa-dosa, tentang takdir juga bisa disebut tafakur ya bunda?
J: Iya mbak asal membuat kita bersyukur, tidak menyalahkan takdir, keadaan apalagi menyalahkan Allah


T: Dan hasil dari tafakur Kita menjadi manusia yang lebih baik ya bunda? Aamiin allahumma aamiin
J: Iya mbak tujuan tafakur itu demikian, menjadi hamba yang lebih baik, hamba yang senantiasa bersyukur atas apapun.



•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•

Kita tutup dengan membacakan hamdalah..
Alhamdulillahirabbil'aalamiin

Doa Kafaratul Majelis:

 سبحانك اللهم وبحمدك أشهد ان لا إله إلا أنت أستغفرك وآتوب إليك

Subhanakallahumma wabihamdika asyhadu allaailaaha illa anta astaghfiruka wa atuubu ilaika

“Maha Suci Engkau ya Allah, dengan memuji-Mu aku bersaksi bahwa tiada sesembahan yang haq disembah melainkan diri-Mu, aku memohon pengampunan-Mu dan bertaubat kepada-Mu.”

Wassalamu'alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh


================
Website: www.hambaAllah.net
FanPage: Kajian On line-Hamba Allah
FB: Kajian On Line - Hamba Allah
Twitter: @kajianonline_HA
IG: @hambaAllah_official


Thanks for reading & sharing Kajian On Line Hamba اللَّهِ SWT

Previous
« Prev Post

0 komentar:

Post a Comment

Ketik Materi yang anda cari !!